menyebalkan...
lagi-lagi aku dibuat menunggu
menunggu untuk sebuah perasaan yang entah bisa kumiliki atau tidak
tampaknya aku mulai jatuh cinta padanya
salahku... kenapa dulu aku berani bermain api
hingga aku sekarang terjebak dalam neraka cinta
yang terus berkobar-kobar dan akhirnya membakar diriku
lalu, dimana aku sekarang?
ahh... tak perlu kau tahu
sudah jelas kini aku berada dalam lumpur penantian
akan cinta yang terus membakar lumpur nista itu
Total Tayangan Halaman
Sabtu, 01 Juni 2013
Rabu, 24 April 2013
my fanfic : BETWEEN
Title : BETWEEN
Pairing
: -
Cast
: Ryosuke Yamada as Yamada Ryosuke
Yuto
Nakajima as Nakajima Yuto
Haruna as (OC)
Rin as (OC)
Cross Gender :-
Genre : romance, angst
Rating : PG-15
Length
: oneshot
Language : Indonesian
Author
: FHA
- FB Link : https://www.facebook.com/tiffaniwitharza- Twitter : @fhanee_La
- Site Link :-
- Phone Number : 082372679697
- Umur : -
- Address : Jl. MP. Mangkunegara, Komplek Vila Kenten Blok F4, RT27, RW001, Palembang, Sumatera Selatan
- Ichiban : Inoo Kei
- Reason join this project : Saya suka menulis, saya suka fanfiction, dan yang lebih penting saya suka HEY SAY JUMP
Disclaimer : HEY
SAY JUMP it’s not mine, I just own this story
Summary : Yamada Ryosuke adalah seorang siswa SMA
yang sudah memiliki kekasih bernama Haruna. Sayangnya, diam-diam ia menjalin
hubungan lain dengan teman di sekolahnya, Rin. Mereka sudah cukup lama menjalin
kisah. Meski begitu, ia tetap saja merasa gamang karena telah menduakan cinta
kekasihnya. Dan semua masalah itu ia ceritakan pada Nakajima Yuto, selaku
sahabat baik. Yuto pun menyarankan agar Ryosuke segera mengambil keputusan. Ryosuke
tahu, ini adalah hal yang sulit dilakukan, tapi bagaimana pun juga ia harus
segera memutuskan perasaanya. Karena pilihannya hanya satu, menyakiti salah
seorang sekarang, atau justru nantinya akan menyakiti keduanya.
A/N : Saya sangat tertarik dengan lomba ini. Jujur
aja, saya gak terlalu mengharapkan hadiahnya, tapi saya cuma ingin semua orang
membaca tulisan saya. Oh ya, blog saya juga masih sepi, soalnya buru-buru
dibuat cuma untuk lomba ini. Maklum, saya bukan manusia blog. At least, enjoy
my fanfic^^
=Cerita=
Hari semakin dingin. Aku memacu
langkahku agar lebih cepat. Ada seseorang yang sedang menungguku di tengah
turunnya salju ini. aku memang harus bergegas, tapi entah mengapa kakiku terasa
membeku sehingga semakin lama semakin melambat.
Dia masih menungguku …
Kuhembuskan napasku kuat – kuat.
Sosok yang menungguku sedari tadi masih berdiri setia di tempat pertemuan kami.
Aku kembali berlari untuk meminimalisir keterlambatanku.
Suara dari gesekan sepatuku dengan
tanah yng berlapis salju menarik perhatiannya. Ia tahu orang yang sedang
tergesa – gesa itu aku. Bisa kulihat, ia tersenyum ke arah ku dan berjalan
menghampiri.
“Maaf …”
Senyumnya masih mengenbang. Ia
menepuk –nepuk pundakku yang tertunduk untuk mengabil napas.
“Kau boleh marah padaku”.
“Bukannya kau sudah bilang kau akan
terlambat? Jadi, untuk apa aku marah?”
Ahh…untuk yang satu ini dia memang
yang paling mengerti aku. Kedewasaannya meluluhkan segala rasa bersalahku.
“Arigatou”.
(terima kasih)
“Daijobu.
Jaa, ikemasho”. (Tidak
apa-apa. Ayo, kita pergi)
Dan kami pun berjalan berdua dibawah
salju yang berjatuhan. Dingin? Kurasa tidak. Dengan adanya dia disampingku, aku
merasa justru sangat hangat.
Aku cukup kaget saat ia menyentuh
tanganku. Ternyata realitas memang mangallahkan perasaan. Tangannya benar–benar
dingin dan itulah yang membuatku sangat kaget.
Kuputuskan untuk menggenggam
tangannya dan memasukkannya di saku bajuku. Kulihat ada rona erah menjalari
pipinya dan aku tak dapat menahan senyum.
“Yama–chan, tidak lelah ?”
Yama–chan ? Ah, aku selalu suka
dengan caranya menyebut namaku.
“Kalau Yama-chan lelah, kita bisa
berhenti”
Aku merasa ada yang aneh dengan
kata–katanya. Entah itu makna denotatif atau konotatif.
“Tidak. Aku tidak lelah”
Senyumnya semakin mengembang.
Kurasakan genggamannya semakin erat. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.
ooOoo
“ Siapa suruh punya pacar dua?”.
Aku melirik sebal ke arah Yuto.
Sedari tadi dia sibuk dengan tabletnya. Kupikir dia tidak memperhatikan cerita
tentang kencanku dengan Haruna dan Rin kemarin. Ternyata hanya mata dan jarinya
saja yang fokus pada Angry Bird itu,
sementara telinga orang ini justru terpusat pada kata-kataku.
Tapi, kuakui kata-katanya…
Aku memang sedang mendua…
“ Untungnya Haruna itu lugu dan Rin
sangat sabar” lanjut Yuto. “ Kau beruntung sekali, Yamada”.
Sekali lagi, kulirikkan kekesalanku padanya.
Cih, orang ini suka bicara sembarangan saja. Asal dia tahu, selingkuh itu
menyebalkan!
Bukannya aku pria brengsek. Aku
pernah berjanji pada diriku sendiri utnuk tidak mencoba-coba yang namanya
selingkuh. Janji ini terucap saat aku menyatakan cintaku pada Haruna.
Ya, Haruna adalah gadis pertama yang
membuatku jatuh cinta. Dia gadis yang bawel, cengeng, dan kekanak-kanakan. Dari
semua kekurangan yang ia miliki, justru itulah yang membuatku menyukainya.
Sehari saja saja tak mendengar celotehannya, maka aku bisa uring-uringan pada
hari itu. Sementara Rin, dia adalah sahabatku dari SMP. Sejujurnya ia gadis
yang memiliki segala kelebihan. Dia cantik, pintar, dan dewasa. Dibandingkan
dengan Haruna, semua laki-laki pasti langsung memilih Rin.
Masalahnya sekarang adalah Haruna
menyukaiku, aku menyukai Haruna, tapi Rin juga menyukaiku. Ini tidak akan jadi
dilema apabila Rin tidak menyatakan cintanya padaku ketika hujan turun di bulan
April lalu. Dia memintaku untuk jadi kekasihnya.
Aku? Tentu saja aku menolak, karena
saat ini aku sudah bersama Haruna. Selain itu, aku juga tidak memiliki perasaan
yang istimewa padanya. Sayangnya, keteguhanku ternyata luluh seketika tatkala
hujan yang turun tak mampu menutupi air matanya.
‘
hanya kau yang bisa mengerti aku, Yama-chan. Kumohon untuk sekali ini saja, aku
ingin memilikimu’.
Setelah itu ia memelukku, seraya
berkata ‘ aku tahu ini berat bagimu, tapi
aku bisa bersabar. Tak masalah jika kau hanya menganggapku sebagai yang kedua’.
Disitulah kegamanganku. Aku tak mau mengkhianati
Haruna, tapi di sisi lain aku akan melukai Rin jika aku menolaknya. Namun,
dekapannya semakin erat. Seolah tak mau melepaskanku. Pikiranku sangat kalut
kala itu. Hingga akhirnya kata ‘ya’ meluncur bebas dari bibirku.
Segala kerepotan pun mucul setelah
itu. Aku dan Rin harus bisa menyembunyikan hubungan ini dari siapa pun,
terutama Haruna. Kami tak pernah menunjukkan bahwa ada hubungan spesial pada
siapapun (masalah Yuto akan kujelaskan nanti). Bahkan aku jarang menelpon,
mengiriminya sms atau email. Kami selalu berhubungan lewat media chatting, karena dengan begitu
jejak-jejak hubungan kami tidak terendus oleh siapapun. Itu pun kulakukan
setelah aku mengucapkan ‘selamat tidur’ pada Haruna dan biasanya sudah
menginjak tengah malam. Selain itu, hal yang wajib kulakukan adalah membagi
jadwal untuk kencan. Rin selalu kebagian waktu malam, karena dari pagi hingga
sore aku bersama Haruna. Itu juga kulakukan agar tak ada yang melihat kami.
Makanya terkadang aku sering terlambat
ketika datang kencan atau sudah ketiduran ketika kami sedang chatting. Untungnya yang dikatakan Yuto
itu benar, Rin benar-benar sabar. Ia sangat tahu posisinya sebagai wanita nomor
dua. Sebenarnya aku tak tega melihatnya selalu terabaikan olehku, tapi mau
bagaimana lagi keadaan sangat menjepitku.
Aku menghela napas panjang. Susahnya
punya pacar lebih….
“ Jadi, apa yang akan kau lakukan
sekarang?”, suara Yuto membuyarkan semua lalu lintas otakku. Kulihat dia sudah
menyingkirkan tablet itu dan berbicara sambil menatapku. “ Kau tidak mungkin
selamanya bersembunyi’kan? Sehebat-hebatnya dirimu menyembunyikan semua ini,
suatu saat Haruna atau orang lain selain aku juga akan tahu”.
“ Sejujurnya aku juga lelah, tapi
aku juga bingung. Aku bisa menyakiti salah satu dari mereka atau mungkin justru
keduanya bila aku mengambil keputusan. Jadi, kupikir lebih baik terus seperti
ini. Aku tahu ini beresiko, tapi sekali lagi kutekankan aku benar-benar
bingung”.
Yuto membisu. Wajahnya tengadah pada
langit yang biru di atas sana. Kemudian kembali menatapku. “ Hey, bukankah kau
harus bertemu Haruna sekarang?”.
Ah, benar juga. Aku ada janji
bertemu dengannya. Ogah-ogahan aku bangkit posisi berbaringku. Kukenakan blazer
yang sedari tadi menjadi bantal tidurku. Tanpa banyak bicara, kutinggalkan Yuto
yang kembali menatap langit.
Aku menghampiri seorang gadis yang
sedang menikmati Pocky di halaman
sekolah. Ia menyambutku dengan wajah yang masam. Ada apa dengannya? Apa dia
sedang merajuk gara-gara aku telat sesaat. Masalahnya dia mematahkan Pocky itu dengan cara yang kasar.
“ Ahh, maaf ya. Kau tidak salah kok,
Ryo-chan. Aku memang sedang kesal, tapi bukan padamu”, ujar Haruna seraya
menarik lagi batang Pocky dan
memasukkannya ke mulut. “ Kau tahu, aku sedang kesal dengan namanya Okamoto
Keito itu. Tega-teganya dia menduakan temanku. Padahal mereka sudah cukup lama
berpacaran. Parahnya lagi, selingkuhannya itu juga temannya temanku.
Urrrrghhh….”.
Deg, jantungku berdegup kencang.
Kulihat ekspresi Haruna, gadis itu terlihat sangat marah. Andai dia tahu kalau
aku juga….
“ Untung saja si Okamoto itu beda
sekolah dengan kita. Kalau tidak….”, traak, Haruna mematahkan batang Pocky itu, kemudian meremasnya menjadi
serpihan-serpihan halus. Sekali lagi jantungku berdebar lebih cepat. Lalu ia
menatapku dengan tatapan yang mengerikan. “ Hey, Ryo-chan. Kalau kau sampai
selingkuh juga, akan kuremukkan kau seperti ini”.
Aku menelan ludahku. Gila, betapa
mengerikannya Haruna bila dia sampai tahu apa saja yang sudah kulakukan selama
ini. Aku mengehela napas. Kulirik lagi wajahnya, masih terlihat nada
mengancam di sana. Tiba-tiba saja tawa
gadis itu pecah.
“ Aku hanya bercanda kok, Ryo-chan”,
ujarnya di sela tawa yang berderai. “ Aku tahu kok, Ryo-chan tidak akan
melakukan hal itu. Aku percaya padamu”.
Kutarik napas dalam-dalam. Maafkan aku, Haruna…
“ Tapi Ryo-chan juga jangan sampai
melakukan hal itu ya”, Haruna menyandarkan kepalanya di bahuku. Senyum
lembutnya mengembang. “ Kalau sampai kau selingkuh, aku tidak tahu lagi apa
yang harus kulakukan. Aku akan sangat sedih”.
Tampaknya aku lebih tenang kalau
Haruna meremukkanku seperti tadi, dari pada melihatnya bersedih ia tahu kalau
aku telah menduakannya. Yang seperti inilah membuatku merasa sangat berdosa
saat aku bersama Rin.
Tapi aku pun tak sanggup melepas
Rin…
ooOoo
Wajah Rin terlihat sangat senang
saat kuajak kencan. Baru kali ini aku menjadwalkan khusus untuk berdua saja
dengannya. Yah, sebenarnya ini bisa disebut ada udang di balik batu. Ada hal
yang harus kubicarakan berdua dengannya.
“ Kau tampak senang sekali”, kataku
sambil menyuapkan strawberry parfait.
Rin mengembangkan senyumnya. “ Apa
lagi yang bisa membuatku bahagia selain bisa seharian bersamamu, Yama-chan”,
jawabnya. “ Sudah delapan bulan kita bersama, baru kali ini kita benar-benar
kencan”.
Delapan bulan ya? Aku baru sadar
kalau ini sudah memasuki bulan Desember. Dan aku juga tidak sadar kalau sudah
selama itu aku berpacaran dengan Rin.
“ Hmm, Rin. Keberatankah jika aku
tanya sesuatu padamu?”. Kulihat Rin mengangguk dengan sebuah sendok yang masih
menyangkut di bibirnya. Aku menarik napas dalam-dalam. Ayo pecundang, kau harus
bisa!
“ Aku hanya bingung… Aku….”,
lagi-lagi keberanianku menciut. Dan sekarang Rin terlihat penasaran dengan
kalimatku yang terputus-putus. Baka!
“ Sebenarnya… apa yang kau lihat dariku…
sehingga kau tetap memintaku menjadi kekasihmu?”.
Fiuuh, kukatakan juga. Tapi
masalahnya sekarang justru Rin yang terlihat kehilangan kata-kata. Senyumannya
yang sumringah perlahan memudar.
“ Karena kau memang pantas untuk
dicintai, Yama-chan”.
Aku tersentak. Rin mengangkat
wajahnya yang ia tundukkan. Mata sendunya menatapku dengan seulas senyuman yang
sangat sulit untuk kuartikan.
“ Kau dan aku tahu bagaimana
kehidupanku ketika SMP. Aku hanyalah seorang yang tak berarti sehingga semua
orang mengacuhkanku. Tapi berkat keangkuhan dan wajahku yang cantik menurut
mereka, aku sukses menjadi korban pem-bully-an
mereka. Aku tak punya siapa-siapa dan tak ada yang mau menjadi temanku. Tapi
kau justru mengulurkan tangan lengkap dengan senyuman hangat itu. Senyuman yang
sampai saat ini tak bisa kulupakan.
“ Aku berusaha untuk mengatakan
semua perasaanku, tapi sayang Haruna lebih beruntung dariku. Padahal aku yang
lebih dulu mengenalmu, aku yang lebih dulu mencintaimu, dan aku yang selalu
mempunyai kelebihan dari pada dia”.
Aku terhenyak di kursiku. Untuk
seterusnya aku tak berani untuk membalas tatapan gadis itu. Jawaban Rin sungguh
di luar dugaan. Aku tak pernah menyadari bahwa kebaikan yang dulu kulakukan
cuma-cuma ternyata berbuah perasaan terpendam.
“ Apa kau menyesal dengan
jawabanku?”.
Suara Rin menyentakkan lamunanku.
Aku mencoba menatapnya, sekali lagi aku runtuh. Aku bisa melihat tumpukan
dosaku yang selama ini telah menyakitinya.
“ Kalau begitu bolehkah aku bertanya
balik padamu?”, aku belum sempat mengatakan kata sepakat, tapi dia langsung
meluncurkan pertanyaanya. “ Bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku?”.
Inilah yang menjadi tujuanku
mengajaknya ke sini. Aku ingin sekali mengutarakan perasaanku padanya.
Perasaanku yang sesungguhnya dan juga ikut terpendam selama aku bersamanya. Dan
semua ini atas saran Yuto. Satu-satunya manusia yang tahu semua skandal yang
kulakukan ini. Dari awal aku berpacaran dengan Rin aku memang sudah membuka
semua rahasia itu padanya, karena hanya dia yang bisa kuajak bicara sekaligus
penjaga rahasia yang kuandalkan.
Hingga kemarin malam aku
mengutarakan semua kegundahanku padanya, tapi sialnya laki-laki itu hanya
memberiku sebuah kalimat yang membingungkan.
Lebih
baik kau sakiti salah satu, tapi hanya sekarang. Dari pada keduanya harus kau
sakiti dan kalian harus menanggung kepedihan itu dalam waktu yang lama…
Wahai Nakajima Yuto, tak bisakah kau
memberikan wejangan yang lebih sulit diartikan dari pada ini?????
“ Maaf, Rin. Tapi sampai saat ini
yang kucintai hanya Haruna”.
Aku menghela napas. Tampaknya aku
sudah bisa mengartikan pesan singkat Yuto malam itu dan aku memilih untuk
menghancurkan harapan seorang gadis yang sudah ia pendam untuk waktu yang lama.
Dan aku sudah bisa menebak bagaimana
ekpresi Rin saat aku menyatakan pengakuanku. Dia terlihat terkejut, marah, tak
percaya, dan terakhir emosi sedih terpancar dari kerlingan matanya.
“ Tapi kenapa….”, suara Rin
terdengar bergetar. “ Aku memiliki yang Haruna tak miliki. Aku juga mencintaimu
seperti Haruna mencintaimu. Dan aku sudah lebih dulu mencintaimu…
“ Yama-chan, apa kurang dariku?”.
“ Tidak ada”, desisku.
“ Lalu?”.
Ya, tidak ada. Kau sempurna Rin. Dan
kau berhak mendapatkan kesempurnaan seutuhnya. Tiba-tiba sebersit wajah Haruna
melayang di benakku. Aku pun menghela napas. Semua kenangan tentang
kebersamaanku dengan Haruna menjadi dopping
untuk menghadapi emosi Rin yang siap meledak. Kukumpulkan semua keberanian
untuk menatap mata dan menjatuhkan vonis untuknya.
“ Rin, aku tidak tahu bagaimana
perasaanmu padaku. Aku juga tidak tahu seberapa besar cintamu padaku. Tapi ini
bukan tentang siapa yang lebih dulu mencintaiku, masalahnya terletak pada siapa
yang kucintai. Nyatanya aku hanya bisa mencintai satu Haruna. Maaf, aku tak
bisa menyisakan satu ruang untukmu, Rin”.
Kulihat Rin memalingkan wajahnya. Ia
tampak menahan air matanya agar tidak meleleh.
“ Mungkin kau akan marah, sedih, dan
juga patah hati denganku. Tapi percayalah hanya sekarang saja, karena jika
kuteruskan justru kau yang terus tersakiti. Bagaimana pun juga kau adalah orang
yang menyayangiku dan aku tak mau jika orang yang menyayangiku itu terluka.
Baik kau ataupun Haruna, aku tak mau menyakiti kalian lebih dari ini.
“ Rin, percayalah, aku bukan yang
terbaik untukmu. Tak mungkin cinta sejatimu itu kau dapatkan dari hasil
perselingkuhan. Aku yakin, di luar sana―”
“ Masih banyak pria yang
mencintaiku. Ya, aku sudah tahu kata-kata itu akan kau ucapkan, Yama-chan”.
Aku pun bungkam. Oh tidak, gadis ini
benar-benar menahan air matanya. Aku lebih suka kalau dia menangis, memaki,
atau mungkin menumpahkan parfait ini
di kepalaku. Diamnya Rin membuat aku salah tingkah.
“ Jika memang kau ingin mengakhiri
hubungan ini, aku ingin kau melakukan satu permintaan terakhirku”, Rin kemudian
menatapku dalam-dalam. “ Aku ingin kau menciumku sebagai tanda perpisahan
kita”.
Ciuman? Aku benar-benar bingung
sekarang. Apakah aku harus melakukannya? Kulihat Rin hanya menatapku tanpa
ekpresi, tapi kembali bayangan Haruna melintas di pikiranku. Tuhaaan… hilangkan
dilema ini sejenak saja….
Lebih
baik kau sakiti salah satu, tapi hanya sekarang. Dari pada keduanya harus kau
sakiti dan kalian harus menanggung kepedihan itu dalam waktu yang lama…
“ Maaf, Rin. Aku tetap tidak bisa
mengabulkannya”.
Jawaban yang tegas dan mantap, serta
membuat hatiku tenang seketika. Meskipun ekpresi kekecewaan itu kembali
menutupi wajah cantik Rin.
“ Ya sudahlah, kalau sudah begini
aku bisa apa”, jawab Rin diiringi tawa sakartisnya. “ Akan lebih baik kalau kau
tinggalkan aku sekarang. Aku tak ingin kau melihat aku patah hati dan
menangis”.
Kupandangi wajahnya lagi, tapi ia
justru memalingkan matanya.
“ Pergilah. Temui Haruna, dan
sampaikan salamku padanya”.
Aku menghela napas. Perlahan aku
beranjak dari tempat dudukku. Meski langkahku terasa agak berat, tapi perasaanku
justru sangat ringan. Aku merasa telah melakukan hal yang tepat. Untuk semua
ini aku sangat berterima kasih pada Yuto yang sudah memberikan pencerahan
untukku. Aku tahu aku berhutang padanya.
Kutolehkan sekali lagi pandanganku
pada Rin sebelum aku benar-benar meninggalkan kedai es krim itu. Gadis itu
menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya terlihat bergetar. Ia pasti
sedang menangis hebat. Maafkan aku, Rin. Aku benar-benar minta maaf. Aku
berjanji ini untuk yang pertama dan terakhir aku menyakitimu.
Setelah benar-benar angkat kaki dari
tempat itu, kurasakan ponselku berbunyi. Nama Haruna tertera dalam panggilan
masuk. Aku agak mempercepat langkahku. Kalau-kalau Rin masih bisa melihatku
menerima panggilan dari Haruna.
“ Hai”, sapaku singkat.
“ Hai, Ryo-chan. Kau sedang apa? Apa
aku menganggumu?”.
“ Tidak. Ada apa?”.
Ada jeda sejenak sebelum Haruna
melanjutkan kata-katanya. “ Entahlah, aku seperti merasakan sesuatu tentangmu
dan aku agak terganggu. Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja aku sangat
rindu padamu”.
Kau
mendapat firasat, sayangku.
Aku hanya tersenyum. Langsung menutup ponselku tanpa membalas kata-katanya. Aku
yakin jauh di seberang sana, ia pasti sedang mengomel. Sayangnya ia tak tahu
kalau saat ini kupacu langkahku dengan cepat agar segera tiba di hadapanmu.
Aku
juga merindukanmu, Haruna…
Writer Desire: selesai juga cerita singkat ini. tadinya
sih pengen dibuat seri, tapi waktunya gak cukup, jadi dipadatkan menjadi
oneshot. Tapi terima kasih untuk para juri yang sudah meluangkan waktunya untuk
membaca fanfic sederhana ini. Dan terima kasih juga untuk pembaca yang lain. Semoga
ceritanya berkesan di hati kalian semua…. *sembah sujud*
Langganan:
Postingan (Atom)
