Total Tayangan Halaman

Jumat, 25 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 103)




Musikal 103

Alarm ponsel Tifa menjerit. Pertanda bahwa jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan. Tifa perlahan menggeliat malas. Namun, pagi ini tubuhnya sulit digerakkan, seperti ada benda yang sedang memeluknya erat.
Tifa membuka matanya. Seketika matanya melebar dua kali lipat saat menyadari bukan sebuah benda yang memeluknya, tapi seseorang. Tifa mencoba mengingat-ingat siapa orang ini. Rasanya terakhir ia menghabiskan waktu bersama Dave.
Tifa perlahan mendongak dan ia mendapati wajah Dave yang masih terlelap. Jantungnya langsung berdegup keras. Jadi, semalaman ia bermimpi dalam dekapan lelaki itu dan beralaskan dadanya yang bidang.
“ Sudah puas memandangi wajahku?”
Sontak, Tifa melepaskan diri. Dave hanya terkejut sedikit, lalu ia merenggangkan tubuhnya sambil menguap.
“ Kita tidak melakukan apa pun jika kamu butuh penjelasan.”
Tifa tersenyum sinis, “ Wah, hebat juga kamu bisa tahan dari godaan iblis.”
“ Itu usaha yang berat tahu,” Dave terkekeh, lalu ia kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Tifa. “ Tapi aku lebih tergoda dengan wajahmu yang baru bangun tidur ini.”
Tifa memicingkan matanya. Sebisa mungkin ia tidak menatap mata biru itu. Kemudian ia menarik wajahnya menjauh.
“ Aku duluan!” seru Tifa seraya melompati Dave dan langsung berlari ke arah kamar mandi. “ Kamu cuci muka di bak cuci piring aja, Dave.”
Tawa Dave pecah. Matanya mengawasi Tifa yang ada di balik pintu kamar mandi. Wanita itu memang masih menghindarinya, tapi tidak lagi dengan rasa trauma seperti semalam. Tidak apa, bagi Dave selama ia masih bisa di sisi wanita itu ia merasa sudah cukup.
“ Loh, belum cuci muka, Dave?” ternyata tak butuh waktu lama bagi Tifa untuk keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut yang dicepol asal-asalan.
“ Mana ada orang cuci muka di bak cuci piring, Tif.”
Giliran Tifa yang terkekeh, “ Ya udah, giliran kamu sana.”
Dave pun beranjak menuju kamar mandi, sementara Tifa sibuk membersihkan sisa-sisa makanan mereka semalam. Dave kaget karena Tifa sudah menyiapkan peralatan mandi untuknya. Mulai dari sikat gigi, handuk, bahkan sampai pisau cukur. Semuanya baru dan itulah yang membuatnya keheranan.
“ Mau kopi, Dave?” tanya Tifa ketika Dave sudah selesai membersihkan diri.
“ Boleh,” ujar Dave seraya duduk di kursi mini bar. “ Hei, Tif. Ada yang mau aku tanyakan.”
“ Hmm?” Tifa menyahut seraya menuangkan kopi ke dalam gelas.
“ Apa ada laki-laki yang pernah menginap di sini?”
Tawa Tifa pecah, “ Ahh, pasti karena pisau cukur itu ya,” Tifa menyodorkan kopi pada Dave. “ Untuk Adrian. Kupikir kalau dia sudah melihat suasana apartemenku yang baru dia mau menginap. Waktu itu sudah pernah kuajak, tapi dia menolak. Alasannya sih karena waktu itu aku cuma punya satu sofa.”
“ Hoo….” Dave tersenyum saat menyeruput kopinya. Senang rasanya kalau prasangka buruknya tidak terbukti.
“ Lalu kita mau sarapan apa pagi ini?”
Alis Dave terangkat, “ Kamu bisa masak?”
“ Waah, kamu meragukanku,” raut wajah Tifa berubah sinis seraya bersedekap. “Aku punya dua menu andalan. Kamu tinggal pilih. Roti dan selai, atau selai dan roti?”
Seketika Dave tertawa sampai terbatuk-batuk. Bukannya tersinggung, Tifa justru ikut tertawa.
“ Astaga, menu macam apa itu?”
“ Baiklah, baiklah, aku memang tidak bisa membuat sesuatu selain kopi,” Tifa mengangkat tangannya tanda menyerah. “ Tapi kupikir kita bisa mengolah sesuatu dengan isi kulkasku.”
Tifa membuka kulkasnya. Dave pun mengekorinya. Ia cukup takjub saat melihat kulkas Tifa yang penuh dengan bahan makanan.
“ Hebat juga kamu bisa pilih bahan mentah sebanyak ini.”
“ Itu berarti kerja si Sarti sangat bagus.”
“ Sarti?”
“ Asisten rumah tanggaku. Dia yang masak serta beres-beres,” Tifa kembali terkekeh. “ Kamu pikir aku punya waktu untuk itu semua?”
“ Cih, seharusnya sudah kuduga,” Dave menarik Tifa menjauhi kulkas, lalu mendorong wanita itu agar duduk di kursi mini bar. “ Kamu duduk saja, biar aku yang buat sarapan.”
“ Memangnya bisa?”
“ Duduk dan lihat saja,” sahut Dave sambil sibuk membuka-buka laci kabinet. Wajahnya terlihat cerah saat menemukan celemek yang tersimpan di salah satu laci kabinet. Sambil memasang celemek, ia melontarkan pertanyaan, “ Biasanya kamu sarapan apa?”
“ Hm, aku? Oh, kalau aku biasanya western untuk sarapan. Perutku suka bermasalah kalau diisi makanan yang berat-berat seperti nasi.”
“ Kalau begitu tidak sulit,” gumam Dave. Selanjutnya dengan cekatan ia mengeluarkan satu persatu bahan makanan yang akan ia masak. Mulai dari roti, fillet tuna, tomat, selada, dan bumbu-bumbu lainnya.
Tifa tak sadar kalau bibirnya melengkungkan senyum saat melihat Dave yang cekatan memasak. Lama tak bertemu, ternyata laki-laki ini justru lebih keren saat berurusan dengan Teflon dan celemek.
“ Kayaknya enak tuh,” Tifa mengendus-endus aroma fillet tuna. “ Kamu jago masak juga, Dave?”
“ Aku juga hidup sendiri, Tif. Tapi aku ini mandiri, bukannya sok praktis kayak kamu.”
Tifa terkekeh. Tak lama kemudian dua porsi sandwich tuna tersaji untuknya. Sandwich itu terlihat begitu menggiurkan. Tifa jadi tak sabar untuk mencicipinya.
“ Enak?” tanya Dave ketika Tifa sudah menghabiskan seperempat roti isi itu tanpa bicara.
Tifa mengacungkan jempolnya, “ Waah, kalau kamu ngelamar jadi pengganti Sarti, aku pasti terima.”
“ Daripada jadi ART, mending jadi suami kamu aja,” Dave berkata dengan santai seraya melahap sandwich.
Mendengar itu Tifa langsung tersedak. Ia menghabiskan separuh kopinya, lalu mengisinya kembali.
“ Lho, kenapa? Memangnya aku kurang apa? Aku tampan, mapan, dan jago masak. Kamu benar-benar rugi kalau sampai menolakku.”
Tifa tertawa sinis, “ Kamu pikir nikah segampang itu? Lagi pula kamu pikir ibuku akan merestui?”
So pasti. Dia sudah lama mengenalku dan aku yakin dia juga sangat ingin menikahkan anaknya yang sudah lama jomblo ini. Apa lagi calonnya adalah laki-laki bermutu sepertiku.”
“ Sial,” gerutu Tifa. “ Lalu orang tuamu?”
“ Oh, ayolah. Mom and Dad adalah orang tua dengan pikiran maju. Mereka tidak pernah mengatur-atur kehidupan asmaraku. Asalkan aku tetap mengurusi perusahaan. Lagi pula calonnya juga bukan orang sembarangan.”
Skamat. Sepertinya tadi Tifa salah melontarkan pertanyaan.
“ Ngomong-ngomong soal pernikahan, apa kamu gak ngerasa kalau suasana yang kita rasakan sekarang seperti pengantin baru?”
Benar juga. Tifa baru sadar sekarang. Mereka baru saja tidur bersama, meski hanya benar-benar tidur. Kemudian saling menyiapkan sarapan, lalu makan bersama. Tifa juga baru ingat kalau tadi ia menawarkan kopi untuk Dave. Itu persis seperti sikap seorang istri pada suaminya. Tidakkah semua itu terasa romantis?
Lamunan Tifa buyar saat jemari Dave menyentuh sudut bibirnya. Sepertinya ada mayones yang menempel di sana. Tak hanya itu, Dave membersihkan mayones yang berpindah di jemarinya dengan mulutnya. Entah kenapa sikap Dave barusan terasa begitu seksi di mata Tifa.
 “ Kok melamun?”
Tifa meletakkan sandwich di atas piring seraya mendesah berat, “ Aku bisa kena serangan jantung kalau lama-lama dekat kamu, Dave.”
“ Heee, jadi aku membuatmu berdebar-debar,” Dave terkekeh seraya memangku wajahnya dengan sebelah tangannya. Matanya kini fokus menatap Tifa.
Kali ini Tifa tak bisa menghindar. Laki-laki itu berhasil mendapati wajahnya yang sedang merona. Tifa pikir laki-laki itu akan menertawainya, ternyata tidak. Tifa justru mendapatkan laki-laki itu sedang menggodanya dengan sebuah senyuman.
“ Aku bohong, Tif. Semalam aku memang melakukan sesuatu.”
Tifa terkesiap, “ Melakukan apa?”
Tiba-tiba saja Dave berdiri. Dari seberang meja mini bar, ia kembali mendaratkan kecupan panjang di dahi wanita itu. Kali ini Tifa tak sempat melawan, lebih tepatnya tak bisa. Gerakan Dave terlalu mendadak, tapi sangat lembut. Benar-benar terasa romantis.
Tifa bisa merasakan gerakan bibir Dave yang menuruni batang hidungnya. Tifa belum siap jika harus mempertemukan bibirnya dengan bibir Dave, tapi ia juga tidak bisa melawan hasratnya. Perlakuan Dave berhasil memantikkan gejolak rindu yang ia pendam. Kali ini ia tak bisa memungkiri kalau dia memang merindukan sentuhan laki-laki itu.
“ Oh, God!”
Suara itu mengejutkan keduanya. Tifa cepat-cepat menarik diri. Ia lebih terkejut lagi saat mendapati keponakannya berdiri kaku di sana.
“ Adrian, kamu― ah, ehem, kenapa kamu bisa masuk ke sini?”
“ Memangnya Tante pikir siapa lagi yang tahu kata sandi pintu masuk?” Adrian tersenyum sinis, lalu dengan santainya duduk di sebelah Tifa. “ Pagi, Om.”
“ Hai, Adrian,” Dave ikut-ikutan salah tingkah. “ Sarapan?”
“ Ah, tadi udah di rumah. Hm, tapi kopi boleh juga.”
Dave langsung menuangkan kopi untuk Adrian, “ Apa kabar? Bagaimana keadaan Tante July? Sepertinya aku belum sempat mengunjunginya. Sampaikan salamku untuknya”
“ Aku baik. Nenek juga baik,” Adrian menerima kopi dari Dave. “ Akan aku sampaikan. Dia pasti senang mendengar kabar kalau Om ada di sini.”
Tifa mendengus sebal. Keponakannya telah berhasil menangkap basah dirinya. Lihat saja dari tatapan matanya yang penuh dengan nada mengejek.
“ Kami memang tidur bersama, ah, maksud Tante, Dave nginep di sini,” Tifa berdecak kesal karena salah memilih kata. “ Tapi kami tidak melakukan apa-apa.”
“ Ah, ya, ya, ya, apa pun itu sebenarnya aku tidak butuh konfirmasi,” Adrian terkekeh. “ Tapi aku butuh penjelasan sejak kapan apartemen Tante jadi berubah gini?”
“ Kamu gak perlu tahu, tapi yang penting sesuai request kamu’kan?”
Adrian tersenyum usil, “ Ahh, senang masih menjadi nomor satu di hatimu.”
“ Ya sudah, sekarang katakan apa tujuanmu kemari?”
Adrian meletakkan cangkir kopinya. Raut wajahnya terlihat serius sekarang.
“ Ada yang mau kubicarakan. Soal Papa.”
Tubuh Tifa langsung menegang. Matanya melirik Dave.
“ Rahasia?”
“ Hmm, kupikir tak masalah kalau Om Dave ikut mendengar.”
Dave beradu pandang dengan Tifa, lalu dengan kembali duduk di kursinya. Sementara Adrian sebisa mungkin menghidari tatapan serius Tifa. Ujung-ujung jarinya memainkan pegangan cangkir kopi agar rasa gugupnya sedikit hilang.
“ Beberapa hari yang lalu, waktu Tante ke Jakarta, Papa datang ke rumah.”
Mata Dave menangkap reaksi Tifa yang langsung menegang.
“ Hmm, yaah, dia mengajukan sebuah permintaan yang menurutku tidak masuk akal.”
“ Dia mengajakmu tinggal bersama?” potong Tifa.
“ Oh, bukan. Dia tidak mungkin seberani itu. Ini hanya permintaan yang tidak masuk akal saja,” Adrian berdeham supaya Tantenya tidak semakin tegang. “ Dia mengajakku makan siang.”
 Alis Tifa terangkat sebelah, “ Hanya itu?”
“ Bersama keluarganya.”
Ekspresi Tifa berubah cepat. Namun, kali ini justru terlihat datar. Tidak terbaca apakah ia akan menolak atau menerima.
“ Aku ke sini untuk minta pendapat Tante,” ujar Adrian takut-takut.
“ Kamu ke sini cuma mau tanya apa pendapat Tante? Kamu seperti tidak tahu bagaimana Tantemu ini,” Tifa menghela napas panjang. “ Apa pun yang berhubungan dengan si brengsek itu sudah pasti Tante akan blokir.”
“ Masalahnya ada sama Nenek, Tan. Dia… dia sudah berbeda pendapat dengan kita.”
“ Makanya Tante tidak pernah akur dengan Nenekmu,” Tifa kembali menarik napas panjang, lalu ia menatap Adrian. “ Dan kamu jadi ragu karena itu?”
Adrian mengangguk pelan.
“ Kamu sendiri maunya gimana?”
“ Sebenarnya aku gak mau, tapi apa yang diomongin sama Nenek ada benarnya juga. Aku sudah memikirkannya beberapa hari ini dan….”
“ Dan kupikir aku akan menemuinya kali ini.”
Tifa menatap Adrian beberapa saat, lalu kembali menyuapkan roti lapisnya, “Kalau itu maumu, seharusnya kamu gak usah ke sini.”
“ Tapi aku ingin Tante menemaniku,” ujar Adrian cepat.
Spontan, Tifa langsung tersedak saat mendengar kata-kata Adrian. Ia menegak separuh kopi hangatnya agar irisan tuna itu masuk ke lambungnya dengan sempurna.
“ Astagaaa, kamu mau bikin perang dunia?”
Adrian mendesah berat, “ Aku ngerti maksud, Tante, tapi aku juga punya perkiraan sendiri. Kupikir Papa akan menggunakan segala rayuan mautnya supaya aku bisa tinggal bersamanya. Tante tahu sendiri kalau ada kemungkinan Nenek akan menyetujui permintaan Papa. Kalau sudah begitu akan selalu ada kemungkinan Papa menemuiku lagi. Dengan hadirnya Tante di sana, mungkin akan dia tidak akan berani.”
“ Iya, tapi Tante gak bisa tahan lama-lama dekat dia, apalagi sama keluarganya. Bisa-bisa Tante menghabisi mereka dengan satu tendangan putar.”
“ Jangan lupa jambakan sampai botak,” sahut Adrian sambil terkekeh.
“ Naah, itu tahu,” Tifa ikut-ikutan terkekeh seraya menyesap pelan kopinya. “Makanya jangan ajak Tante.”
“ Duuh, Tanteee. Kalau bukan sama Tante sama siapa lagi?”
“ Ehem, boleh aku ikut bicara?” Dave tiba-tiba menyela seraya mengangkat tangan. “ Begini, bukan aku bermaksud ikut campur, tapi karena aku sudah ikut dengar, kupikir aku punya sebuah ide.”
Perhatian Adrian dan Tifa pun langsung fokus pada pria ini.
“ Bagaimana kalau aku ikut bersama kalian? Yaah, bisa dikatakan aku akan meredam amukan Tantemu ini supaya tidak meledak di sana. Kita akan atur skenario supaya seolah-olah kamu memang berencana datang sendiri. Aku dan Tantemu menyusul kemudian. Kita pura-pura kebetulan bertemu dan kami bergabung dengan kalian. Kami tidak akan lama, tapi kami akan segera menarikmu pergi. Dengan begitu, Papa dan Tantemu tidak saling mengeluarkan jurus.”
Tifa dan Adrian bertukar pandang. Mereka saling berdiskusi lewat tatapan.
“ Hmm, jalan cerita yang menarik dan mudah dilaksanakan,” Adrian bertepuk tangan. “ Gak heran nama Om melegenda di Love Musical.”
“ Adrian benar. Aku yang sutradara aja gak kepikiran sampai kesitu.”
“ Kalian berdua ini kalau sudah urusan sindir-menyindir pasti kompak,” keluhan Dave disambut tawa Tifa dan Adrian. “ Hei, aku serius!”
“ Iya, iya, kami setuju dengan idemu,” Tifa mengakhiri tawanya. “ Trims, Dave. Ngomong-ngomong, Keponakan. Bilang sama si brengsek itu kalau makan siangnya diganti dengan pertemuan sore ini saja.”
Adrian terperanjat, “ Eh, cepat banget? Apa gak keburu-buru tuh?”
“ Semakin cepat semakin baik. Lagi pula kebetulan kita tidak latihan hari ini. Kalau ditunda-tunda akan semakin lama. Dan juga, mumpung Tante dan Om Dave ada di sini,” Tifa menatap Dave. “ Bagaimana, Dave?”
Dave mengangkat bahu, “ Terserah kalian saja.”
Adrian menyesap kopinya lagi, “ Ya, baiklah kalau begitu.”
“ Bagus, sekarang segera hubungi si brengsek itu. Bawa saja mobil Tante lagi. Biar Tante dijemput Om Dave lagi di sini,” Tifa melempar tatapan sinis pada Dave. “Berpakaian yang rapi, Dave.  Anggap kita berkencan hari ini.”
Dave balas tersenyum sinis.
“ Kenapa gak kencan beneran aja sih?” sahut Adrian jahil. “ Kalian tuh cocok, tahu!”
Tifa menatap Adrian sebal. Sebaliknya, Dave justru bersorak senang.
“ Jadi, kamu setuju, Adrian?”
“ Kupikir tidak ada yang lebih cocok dari Om Dave. Aku 100% untukmu, Om.”
“ Nah, nah, kamu dengar sendiri’kan, Tif? Keponakanmu sendiri sudah memberikan restu. Kurang apa lagi coba?” Dave terkekeh. “ Hei, Adrian. Bantu bujukin Tantemu ini dong. Susah banget terima lamaran Om.”
Adrian tersentak, “ Eh, jadi sudah pernah dilamar?”
“ Berulang-ulang,” sahut Dave seraya memutar bola matanya. “ Tapi Tantemu ini keukeuh banget masih pengen melajang.”
Adrian menggeleng-gelengkan kepala dengan mulut berdecak. Sementara Dave terlihat seperti orang yang baru saja dianiaya. Kekesalan Tifa pun merambat sampai ke ubun-ubun. Sepertinya kata ‘kencan’ itu berakibat fatal untuknya.
“ Kalian membicarakan aku seolah-olah aku ini sedang tidak ada saja. Hoo, bagus yaa. Sekarang kalian sudah bersekongkol,” Tifa beranjak dari kursinya. “ Sudah, jangan banyak bicara lagi! Cepat bersiap! Kita banyak kerjaan.”
Tifa pun menghilang dari balik pintu kamar. Adrian kembali menatap Dave.
“ Om, yakin mau nikah sama nenek sihir?”
Dave mengangkat bahu, “ Mau bagaimana lagi? Aku udah kena peletnya sih.”
Keduanya pun kompak tertawa.
 

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 102)




Musikal 102

Sesi latihan hari ini telah usai. Setelah mengevaluasi masing-masing anggota, Tifa pun membubarkan lingkaran. Kemudian ia menyapa Adrian seraya melemparkan kunci mobilnya. Seperti sudah paham dengan maksud tantenya, Adrian segera menuju mobil oranye tersebut.
Hari ini pasangan tante-keponakan itu sengaja pergi dengan satu mobil. Tifa masih terlalu lelah untuk menyetir sendiri. Oleh karena itu, ia menyuruh Adrian menunggu di parkiran apartemennya, lalu menjadi supir pribadinya hari itu.
“ Apa ada yang terjadi selama aku pergi?”
“ Banyak,” sahut Adrian ketika mereka sedang dalam perjalanan. “ Tapi kalau kuceritakan Tante bisa ketiduran.”
Tifa menguap lebar, “ Yang penting saja.”
“ Juga banyak,” Adrian menyahut usil.
Mendengar jawaban iseng itu, Tifa menjadi sewot, “ Baiklah, lalu apa dari semua kejadian penting itu ada hubungannya dengan jawabanmu di konferensi pers kemarin?”
Adrian melirik Tifa, “ Maksud Tante, tentang hubunganku dan Fi? Menurut Tante itu kejadian penting?”
“ Tante gak bakal ikut campur urusanmu, tapi Tante berhak tahu,” ujar Tifa seraya menurunkan sandaran kursinya. “ Biasanya kamu cerita-cerita.”
Adrian menghela napas panjang, “ Ya, kami memang pacaran, dan kejadiannya sudah lama. Aku nembak dia setelah audisi pemeran pertama.”
“ Wah, udah lama juga. Kenapa gak cerita-cerita?”
“ Tante gak nanya-nanya.”
Tifa mendengus pelan. Jawaban iseng keponakannya membuat tekanan darahnya naik.
“ Memangnya apa sih yang kamu suka dari dia? Masih bocah ingusan juga.”
Kali ini Adrian melempar tatapan sebal pada tantenya. Buru-buru Tifa mengangkat tangannya seraya menyeringai usil.
“ Tante berhak tahu toh. Tante cuma gak kepingin kamu menyesal nantinya. Kalian’kan baru saling kenal.”
“ Mungkin banyak orang yang gak suka dia. Entah karena popularitasnya, bakatnya, atau wajahnya. Tapi di mataku Fi adalah gadis yang baik. Lagi pula kami bukan baru kenal, tapi baru bertemu lagi.”
“ Hoo, ketemu dimana?”
“ Jakarta. Waktu aku ikut sanggar teater, dan dia sudah jadi anggota lama di sana. Kami berteman cukup akrab, sampai akhirnya dia jadi artis dan aku sibuk pentas ke luar negeri.”
Tifa mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian ia tak berkomentar lagi. Matanya sudah hampir terlelap.
“ Tante gak suka dia?”
Pertanyaan Adrian berhasil membuat Tifa terjaga, “ Hmm, masalah suka atau tidak, Tante yakin itu tidak akan memengaruhimu. ‘kan sudah Tante bilang, Tante cuma mau tahu, tidak berniat mencampuri urusan kalian. Tapi yah, kamu harus tahu suatu rahasia tentang Love Musical.”
Adrian melirik Tifa sekilas, “ Apa?”
“ Dari dulu sampai sekarang, semua anggota Love Musical tahu tentang kutukan cinta klub teater kita. Kutukan itu akan menimpa siapa saja yang berpacaran dengan pemeran utama Love Musical.”
“ Hah, maksud Tante kalau jadi pemeran utama gak boleh pacaran gitu?”
“ Bukanya gak boleh, tapi gak boleh pacaran dengan anggota Love Musical lainnya. Jadi, kalau seseorang sedang ditunjuk sebagai pemeran utama, maka dia gak boleh pacaran dengan sesama anggota. Dan kalau melanggar, maka kisah cintanya akan berakhir dengan kesedihan.”
Tifa menatap Adrian, “ Dan jangan lupa, kalau kamu dan Fi sama-sama pemeran utama.”
Tawa Adrian seketika pecah, “ Apa-apaan tuh? Astaga, Tante. Bertahun-tahun tinggal di Amerika masih aja percaya sama yang namanya kutukan. Paling-paling itu cuma rumor buatan anak SMA terus dipercaya luas.”
“ Tante juga awalnya gak percaya. Sampai Mamamu dan Tante sendiri yang mengalaminya.”
Tawa Adrian langsung lenyap. Ia kembali melirik Tantenya.
“ Mungkin itu hanya paranoid yang tercipta akibat sugesti. Aku tetap gak percaya. Lagi pula yang menjalani hubungan saat ini adalah aku dan Fi, bukan Tante atau pun Mama, apalagi kutukan aneh itu.”
Sanggahan Adrian membuat kepala Tifa berdenyut. Dalam tiga hari ini ia hanya mendapatkan jatah tidur selama dua jam. Kemudian ia harus mengurusi seabrek urusan Love Musical yang panjang, dan sekarang entah kenapa keponakannya yang penurut itu tiba-tiba jadi bandel. Kepala Tifa seakan mau pecah.
Namun, ia juga ingin menyangkal apa yang ia katakan tadi. Soal kutukan itu. Ia juga tak mau hal itu terulang lagi. Terutama pada keponakan tersayangnya.
ooOoo
Hari-hari yang menyerap semua tenaganya. Baru saja mendarat di Palembang, Tifa langsung memacu langkahnya ke gedung teater. Sudah dipastikan, mana ada latihan yang hanya duduk-duduk saja. Paling tidak ia harus turun-naik panggung.
Perhatiannya masih tersita dengan kegiatan konferensi pers di keesokkan harinya. Mengatur sana-sini, belum lagi ia harus benar-benar menjaga ucapannya supaya para wartawan itu tidak ambigu dalam menulis berita. Ia harus melakukannya karena salah-salah bicara ia bisa menghancurkan nama besar orang-orang yang terlibat di dalamnya. Beberapa nama sudah sangat akrab di telinga orang awam, kalau sampai ia salah bicara, bisa-bisa pertunjukkan itu batal selamanya.
Setelah konferensi pers, kegiatan mereka dilanjutkan dengan sesi photoshoot. Walau hanya beberapa gambar yang akan digunakan, tapi persiapannya memerlukan banyak waktu dan tenaga. Sampai sesi pemotretan selesai Tifa belum mendapatkan jatah tidurnya sedetik pun.
Tifa baru bisa meluruskan pinggangnya ketika sang fotografer sudah menyerahkan master foto-foto itu ke bagian percetakan poster. Untuk urusan yang satu ini Tifa masih memiliki waktu beberapa hari sampai poster-poster itu selesai. Dan Tifa menggunakan dua jam sebelum latihan untuk menenangkan syaraf-syarafnya. Ia bahkan tidak tidur di rumah, melainkan di gedung teater. Kemudian ia kembali terjaga saat Riani membangunkannya. Ia pun harus segera kembali bersemangat melatih para anggotanya.
Dan di sinilah ia sekarang. Ia bersyukur Adrian mau mengantarkannya. Ia biarkan saja Adrian membawa mobilnya ke rumah ibunya. Malam ini ia mau hibernasi.
Tubuhnya sudah terbalut hot pants yang tenggelam oleh kaus untuk laki-laki ukuran jumbo. Ia berencana untuk makan yang manis-manis sebelum tidur. Baru saja mengeluarkan puding dari kulkas, tiba-tiba bel pintunya berbunyi. Dengan malas Tifa menyeret langkahnya untuk menekan interkom. Namun, kening Tifa mengkerut saat layar interkom itu menampilkan tamu yang datang.
Pizza delivery!”
Tifa melengos, “ Saya gak pesan pizza.” ‘ Lagi pula aku sukanya martabak’.
“ Dengan martabak cokelat-keju.”
Si pengantar pizza itu mengangkat wajahnya. Terlihat jelas dari layar interkom bagaimana birunya iris mata laki-laki itu. Tifa mendesah berat. Mau tak mau ia membukakan pintunya. Ia menyambut si pengantar pizza  dengan senyuman sinis.
“ Kamu sudah dipecat jadi presdir? Sejak kapan kamu banting setir jadi pengantar pizza, Dave?”
“ Hanya untukmu,” Dave tersenyum seraya memamerkan sebuah kotak pembungkus DVD. “ Dengan esktra Johnny Deep dan kentang goreng?”
“ Yah, kupikir aku terpaksa harus membiarkanmu masuk.”
 Senyum Dave mengembang. Dengan santainya, ia menaruh kotak pizza dan martabak itu di tangan Tifa. Ia melenggang masuk sambil membuka topi pengantar pizza.
“ Hei, sejak kapan tuan rumah jadi pembantu, heh?”
Dave terkekeh. Ia tak peduli. Ia malah langsung melompat ke atas sofa yang ada di dekat mini bar. Matanya terlihat menjelajah isi apartemen Tifa.
Flat-mu bagus. Aku kira bakalan berakhir dengan satu sofa dan meja.”
“ Memang begitu awalnya,” sahut Tifa sambil menyusun makanan di atas meja mini bar. “ Tapi ada seorang pria yang selalu mengomeliku tentang isi apartemen ini. Makanya waktu aku ke Jakarta kemarin, aku mengutus seorang arsitek yang masih kenalanku untuk merubah tempat ini. Aku tidak suka yang ribet-ribet, tapi yang penting orang itu berhenti mengomeliku.”
“ Pria?” kepala Dave langsung berputar pada Tifa. “ Pria mana yang sanggup mengubah pendirianmu?”
“ Siapa lagi kalau bukan keponakanku tersayang,” Tifa tertawa seraya menjilati jemarinya yang terkena lelehan keju martabak. “ Kamu pikir ada berapa pria yang ada di dalam kehidupanku?”
Dave berjalan mendekati mini bar, lalu membantu Tifa menyusun makanan, “Mana kutahu. Belasan tahun kita gak ketemu, siapa tahu ada pria yang… yaah, kamu ngerti maksud aku’kan?”
Tifa menatap Dave. Mata keduanya bertemu, lalu Tifa tersenyum.
“ Nggak,” Tifa langsung ngoyor menuju mesin espresso. “ Kamu bawa ini ke meja. Biar aku yang ambil minum. Kamu mau kopi, Dave?”
“ Sudah terlalu larut untuk minum kopi, Tif. Air biasa saja.”
Setelah semua siap, Dave pun menyetel film yang ia bawa. Fokus Tifa pun terbagi dua. Ketampanan Johnny Deep dan martabak yang ia pegang. Ia sampai tidak sadar kalau dari tadi ada sepasang mata yang memerhatikannya dengan intens. Hingga ia kepalanya terasa panas, barulah ia menoleh.
“ Apa? Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?”
Dave tersenyum sinis, “ Coba lihat dirimu! Apa menurutmu tidak terlalu seksi menyambut pria dengan pakaian seperti itu?”
“ Hoo, jadi pikiran kotormu bangkit hanya karena melihat wanita mengenakan kaus laki-laki?”
“ Kalau bukan aku bagaimana? Bisa saja ada tukang pizza asli yang tiba-tiba menyerangmu karena melihat pakaianmu yang seperti ini.”
“ Kalau begitu si tukang pizza itu salah sasaran,” Tifa terkekeh sambil menyuapkan kentang goreng. “ Siapa suruh nyerang macan.”
Dave kembali terkikik, tapi ia tersenyum menggoda, “ Tapi kamu lebih cantik kayak gini.”
Tifa hanya melirik Dave sesaat. Kemudian ia kembali fokus pada filmnya.
“ Boleh aku tanya satu hal, Tif?”
Tifa kembali meliriknya.
“ Kenapa kamu belum mengubah keputusanmu untuk tidak menikah?”
Tifa tak langsung menjawab. Ya, Dave adalah orang kedua yang tahu alasannya melajang selain ibunya. Harusnya Dave tak usah bertanya lagi karena ia pernah menjawab pertanyaan itu.
“ Aku trauma dengan apa yang terjadi dengan Kak Laksmi. Tidakkah kamu bosan menanyakan hal itu terus?”
“ Ya, aku tahu. Aku tahu apa yang terjadi dengan Kak Laksmi, tapi tidakkah kamu juga berpikir apa yang dialami Kak Laksmi tidak akan terjadi pada setiap orang?”
“ Kak Laksmi dikhianati lalu bunuh diri! Dan selama perjalanan hidupku, aku sudah bertemu banyak pria. Mereka semua sama saja!”
Tifa mengginggit kentang gorengnya dengan brutal. Entah kenapa ia selalu sewot kalau sudah disinggung soal kakaknya.
“ Lalu apa Ayahmu juga begitu?”
“ Ayahku pengecualian.”
“ Lalu Adrian?”
“ Akan aku buat dia tidak seperti itu.”
“ Dan aku?”
Refleks, aktivitas Tifa mengunyah kentang terhenti. Ia tak bisa menjawab cepat seperti tadi. Ada banyak poin yang harus dia pikirkan sebelum melontarkan jawaban.
Dave menyeringai, “ Kamu tidak bisa jawab’kan?”
“ Itu karena aku tidak mengenalmu yang sekarang.”
“ Tidak ada yang namanya Dave yang dulu atau Dave yang sekarang. Aku tetaplah David Mitchell Blackwell, bocah kecil yang kamu kenal 20 tahun lalu, pemuda yang pernah menjadi kekasihmu, dan pria tampan yang ada di sebelahmu sekarang.”
Tifa menoleh. Ia sempat tersentak kaget. Sejak kapan wajah Dave sedekat ini. Sulit bagi Tifa untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Wajah Dave mendominasi jarak pandangnya. Kalau sudah begini, Tifa terpaksa mengamati wajah laki-laki ini dengan seksama.
Memang benar, tak ada yang berubah. Sinar mata bocah laki-laki yang berkenalan dengannya dulu masih ada. Senyuman hangat yang selalu mengatakan cinta padanya juga masih terhampar di sana. Rahangnya yang keras, serta guratan-guratan kedewasaan hanya menambah daya tarik laki-laki ini saja.
Semua masih sama. Namun, apakah perasaannya juga masih sama? Pertanyaan itu bergelut di pikiran Tifa.
“ Jika kamu mempertanyakan bagaimana perasaanku padamu sekarang, maka jawabannya iya. Aku masih mencintaimu sama seperti dulu.”
Dave kembali memajukan wajahnya. Tifa pun terpaksa sedikit memalingkan wajah. Jika tidak, iya yakin bibir menawan itu akan mendarat di bibirnya.
“ Kenapa kamu begitu menginginkanku?”
“ Bukan hanya sampai tahap ingin, tapi aku benar-benar butuh. Bukan membutuhkan seperti barang. Hanya saja hidup tanpamu membuat semua hidupku hampa. Kamu tahu, saat kamu menghilang dulu aku juga kehilangan sebagian diriku. Sekarang aku sudah menemukanmu dan aku tidak mau melepaskamu lagi.”
Tifa kembali terhisap dalam rayuan iris safir itu. Begitu kuat, sampai-sampai ia tak kuasa menolak saat jemari Dave sudah membelai pipinya. Nyaris saja. Hanya beberapa detik lagi, ia dan Dave dipastikan saling berciuman. Namun, Tifa tak mau menyerah. Ia bangkit dari sofa, lalu menuju mini bar. Ia mengambil jarak yang cukup supaya Dave tidak menyerangnya lagi.
“ Aku sudah berubah Dave. Hidupku sudah berubah sejak aku kehilangan apa yang aku cintai. Aku bukan Tifa yang kamu kenal lagi.”
“ Tapi kamu tidak pernah kehilangan aku. Kamu mencintaiku’kan?”
Tifa berbalik. Pipinya memanas dan ia tak mau kalau Dave menangkap wajahnya yang bersemu merah. Di sisi lain, Dave yang tak kunjung melihat Tifa berbalik, akhirnya memilih untuk kembali duduk santai di sofa.
“ Kembalilah. Duduk sini!”
Tifa masih membatu.
“ Aku ke sini cuma mau nonton denganmu, bukan punggung-punggungan seperti ini.”
Akhirnya, Tifa menyerah. Ia kembali duduk di sebelah Dave. Namun, ia mengambil jarak yang cukup jauh.
“ Aku tidak akan melakukannya lagi, tapi aku akan tetap pada pendirianku.”
Ketika Tifa meliriknya, mata mereka bertemu. Namun, Tifa tak berkomentar apa pun. Ia hanya kembali menonton dengan posisi memeluk lutut.
Hingga perjalanan film itu sampai di tengah acara, Tifa pun mengatakan sesuatu yang ingin ia katakan dari dulu.
“ Aku takut, Dave.”
Dave menatap Tifa. Wanita itu membenamkan kepalanya di kedua lutut.
“ Aku hanya takut. Takut semuanya akan berubah dari apa yang aku rencanakan. Lebih dari itu, aku takut kalau nantinya semua berubah menjadi akhir yang mengerikan.”
Dave menatapnya beberapa saat. Melihat Tifa yang tidak ada reaksi, Dave pun berinisiatif untuk mendekati. Tangannya terayun ragu ketika akan menyentuh pucuk kepala wanita itu. Ia memastikan sekali lagi kalau wanita ini tidak akan berontak. Akhirnya, sentuhan lembut itu ia sapukan di sana dan Tifa sama sekali tidak menolak.
Saat wanita itu mengangkat wajahnya, tatapannya terlihat berkaca-kaca. Bibirnya bergetar seperti orang yang akan menangis.
“ Maafkan aku, Dave. Tapi… untuk sekarang aku tak bisa….”
Dave menghela napas panjang. Ia pun memberanikan diri untuk merengkuh wanita itu dalam pelukannya. Kali ini tak ada perlawanan sama sekali. Dave justru merasakan ada titik air yang menembus kemejanya. Ia tahu gadis itu pasti sedang menangisi dirinya sendiri.
“ Sudah, tidak apa,” ujar Dave seraya mengusap lembut kepala Tifa. “ Tapi kamu harus tahu kalau aku benar-benar mengharapkanmu.”
Tifa hanya mengangguk pelan. Kemudian tak terdengar apa-apa lagi. Hanya desahan napas teratur. Tifa terlalu lelah dengan semua pekerjaannya yang menyita waktu, energi, serta perasaannya. Ia sangat lelah dan sekarang ia menemukan tempat ternyaman untuk melepas lelah. Tifa tak sadar kalau ia membuka pintu mimpinya dalam pelukan Dave.
Bahkan Dave sendiri tak percaya kalau Tifa tertidur dalam posisi seperti ini. Dave mengamati lamat-lamat wajah Tifa. Tergambar jelas kelelahan yang melanda raga dan jiwa wanita itu. Kemudian, ada setitik sisa air mata di pipi wanita itu dan Dave segera menghapusnya. Ia berpikir untuk membawa wanita itu ke kamar tidur, tapi hasrat terpendamnya lebih dulu menguasai batas moral. Mungkin tak ada salahnya membiarkan Tifa terlelap dalam pelukannya. Biar saja ia mendapatkan jurus-jurus aikido kalau wanita itu terbangun. Biar saja malaikat mencatat dosa besarnya, karena rasa rindu telah mengalahkan segalanya.
Perlahan ia hirup aroma rambut Tifa yang masih setengah basah. Aroma sampo yang wanita itu gunakan bagai candu yang tak bisa Dave lepaskan. Iblis dalam diri Dave menginginkan sesuatu yang lebih, tapi kali ini akal sehatnya berhasil pegang kendali. Dave berjanji hanya memeluknya saja sampai wanita itu terbangun.
“ Semoga aku hadir dalam mimpimu. Selamat malam.”
Dave mendaratkan kecupan panjang di kening Tifa.

Author’s note:
Tidaaaak… Author juga ikutan bapeeer….
Oh ya, ada mau konfirmasi dikit. Dave sama Tifa memang pisah selama 13 tahun, tapi 7 tahun sebelumnya mereka pernah ketemu. Hmm, nanti akan dijelaskan di musikal-musikal selanjutnya.