Musikal 116
Jam pulang mereka
dipercepat. Pukul lima mereka sudah diperbolehkan pulang. Priyanka pun
mengambil kesempatan langka ini untuk menunaikan niatnya. Ia memacu motornya
agar cepat sampai di rumah Fi.
Sesampainya
di sana, Priyanka merasakan rumah itu sangat sepi. Ia tahu kalau Fi hanya
tinggal berdua dengan ibunya, sementara ayahnya sering keluar kota. Namun,
ketika terakhir kali ke sini (sebelum insiden Wenda), suasananya seperti ini.
Priyanka merasa kalau ia sekarang sedang berkunjung ke pemakaman.
Pintu
itu terbuka setelah Priyanka menyelesaikan ketukan ketiga. Ia melebarkan senyum
ketika ibunda Fi menyambutnya. Wanita itu membalas ramah, hanya saja ada raut
wajahnya sulit dijelaskan saat itu. Ada hal yang sedang berusaha ia simpan.
“
Sore, Tante. Fi-nya ada?”
Wanita
itu tampak ragu ketika akan menjawab pertanyaan Priyanka. Masih dengan
senyumannya, Priyanka mencoba meleburkan keraguan wanita itu.
“
Saya hanya cuma pengen tahu kenapa Fi hari ini alpa. Dia juga gak latihan hari
ini. Saya pikir dia sakit, makanya saya mampir ke sini.”
“ Ah
ya, dia memang sedang tidak enak badan,” jawab wanita itu yang Priyanka yakini
itu hanya pengalihan semata. “ Maaf, Tante lupa mau kirim surat. Nanti Tante
akan telepon wali kelas kalian.”
“
Hoo, gitu. Apa saya bisa ketemu Fi?”
“
Maaf, tapi tampaknya Fi masih butuh istirahat,” wanita itu menyahut cepat.
Priyanka
mengangguk, “ Ohh, gitu. Oke deh Tante, kalau gitu aku pamit. Sampaikan saja
salam saya sama Fi.”
“
Terima kasih ya, Ka.”
Pintu
itu kembali tertutup. Kemudian terdengar helaan napas berat dari Priyanka.
Mungkin Fi benar-benar tak ingin ditemui oleh siapa pun. Sikap ibunya juga
seperti sangat sensitif dengan kunjungan orang lain. Priyanka membayangkan
bagaimana kondisi Fi di balik pintu yang tertutup itu. Gadis itu pasti sedang
menangisi dirinya dan nasibnya. Priyanka mendesah lagi. Kenapa gadis itu harus
diuji seperti ini? Rasanya ini bukan ujian, tapi seperti hukuman.
Priyanka
terus-terusan memikirkan Fi, bahkan meski dia sudah di atas motor. Ia sedikit
menyesali sikap Fi yang terlalu tertutup pada orang. Andai dia mau berbagi
padanya, mungkin beban gadis itu akan sedikit berkurang. Ia mungkin masih
dirasa asing oleh Fi, tapi ia bukan orang yang suka membocorkan rahasia orang
lain.
Terlalu
lama memikirkan Fi, membuat Priyanka tak fokus pada motornya. Ia hampir saja
menabrak seekor kucing lalu buru-buru ia membanting stangnya ke sembarang arah.
Akibatnya, motor itu oleng lalu ia terjatuh, dan motornya masuk ke selokan.
Sejenak
Priyanka masih syok. Untung ia segera menguasai dirinya. Perlahan ia bangkit
dan merasakan nyeri di pergelangan kakinya. Ia membuka helm, memungut tas, lalu
menarik napas dalam-dalam. Perhatiannya beralih pada motornya yang bagian
depannya terperosot ke dalam parit.
Priyanka
menarik napas dalam-dalam. Ia masih bersyukur karena ia tak jatuh dengan posisi
di bawah motor. Ia tak bisa membanyangkan kalau dengan kakinya yang sakit ia
harus mengangkatt motor dari tubuhnya. Namun, yang jadi masalahnya satu,
bagaimana ia menarik motor ini? Jatuhnya lumayan dalam dan sekarang tenaganya
seperti terserap habis.
Dengan
langkah pincang-pincang, ia mencoba menarik motornya. Tak ada perubahan.
Tangannya masih gemetar dan ia benar-benar kehilangan tenaga.
“
Kenapa, Mbak? Boleh dibantu?”
Priyanka
bersyukur mendengar suara orang yang berniat membantunya. Ia membalikkan
badannya sambil tersenyum memelas. Namun, senyumnya sedikit memudar ketika
orang baik itu ternyata adalah orang yang sangat familiar.
“
Kemal?”
“
Priyanka?” pria Arab itu tak kalah kaget. “ Oh hai, eh, kamu baik-baik aja? Aku
lihat dari kejauhan kamu kecelakaan tunggal ya?”
“
I—iya semacam itulah,” Priyanka menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. “Aku
sedikit melamun dan hampir menabrak kucing. Kucingnya selamat, tapi akunya yang
mental.”
“
Makanya jangan melamun,” Kemal terkekeh. “ Mundur gih, aku mau narik motornya.”
Ia
menuruti kata-kata Kemal. Tak butuh waktu lama, laki-laki itu berhasil menarik
motor Priyanka keluar. Ia cukup kagum dengan Kemal yang terlihat sangat kuat
saat menarik motor itu.
Kemal
mencoba menstater motor itu. Berhasil hidup, tapi alisnya berkerut ragu.
“
Kita bawa ke bengkel dulu aja, Ka. Mesinnya sih oke, tapi gak tahu yang
lainnya. Takutnya nanti malah jadi masalah baru buat kamu.”
Priyanka
hanya bisa mengangguk lemah. Hanya saja ia tak tahu dimana letak bengkel
terdekat. Tiba-tiba saja kakinya kembali berdenyut dan membuatnya meringis.
“
Ada yang luka atau yang sakit?”
“
Ngg, kayaknya kakiku deh,” Priyanka kembali meringis.
“
Rumahku tinggal 100 meter dari sini. Kita ke mampir dulu biar lihat luka kamu
seberapa parah.”
“
Rumah kamu di komplek ini?” Priyanka terlihat kaget dan disahut dengan anggukan
Kemal. Ia pun ikut mengangguk, “ Oke deh, kayaknya aku memang butuh pertolongan
pertama.”
Kemal
tersenyum, “ Berikan itu!”
“
Apa?” tanya Priyanka dengan kening berkerut. Ia tak mengerti maksud Kemal, tapi
tiba-tiba saja ranselnya ditarik oleh laki-laki itu. Ia tak sempat mengelak
ketika ransel itu berpindah ke punggung Kemal.
“ Come on!”
Kemal
menyetarakan langkahnya dengan Priyanka yang tertatih-tatih karena luka di
kakinya. Di sisi lain, Priyanka merasa tambah tidak enak karena Kemal sudah
membawakan motornya dan juga tasnya. Ia berharap laki-laki itu tidak meminta
imbalan yang aneh-aneh nantinya.
“
Ngomong-ngomong ngapain kamu ke sini?” tanya Kemal memecah kesunyian.
“
Ah, ke—ke rumah Fi,” Priyanka tergagap menjawab pertanyaan Kemal. Kemudian ia
buru-buru menambahkan, “ Dia di komplek sebelah, tapi aku lewat ke sini untuk
mengambil jalan pintas.”
Kemal
hanya ber-“Oh” saja. Kemudian sunyi kembali. Sampai akhirnya mereka sampai.
Kemal menyilakannya masuk. Tak lama kemudian ia kembali dengan kotak P3K di
tangannya lalu duduk di samping Priyanka.
“
Berikan itu!”
Priyanka
belum sempat mencerna benda “itu” yang dimaksud, tapi Kemal sudah lebih dulu
meraih kakinya. Dengan cepat Priyanka membetulkan letak roknya agar tak
tersingkap dan menjadi tontonan laki-laki itu.
Begitu
Kemal menarik kaus kaki yang gadis itu kenakan, terlihat baret besar melintang
di pergelangan kakinya. Sebagian meninggalkan noda darah pada kaus kaki itu.
Namun, Kemal belum menorehkan obat setetes pun, yang ada ia malah memijat-mijat
kedua pergelangan kaki gadis itu. Hampir saja Priyanka menanggapinya sebagai
pelecehan seksual, tapi ia buru-buru bertanya.
“
Ada yang sakit? Maksudku nyeri ketika ditekan?”
Priyanka
tersentak lalu buru-buru merasakan tekanan pada kakinya, “ Ka—kayaknya gak
ada.”
Kemal
mengangguk, “ Baguslah, kayaknya cuma luka luar saja.”
Dengan
cekatan laki-laki itu mengompres luka Priyanka. Gadis itu meringis saat lapisan
epidermis yang terluka itu tersentuh obat. Namun, dengan lembut Kemal
memberikan tiupan agar obat itu terasa dingin.
Ada
rasa yang menggelitik hati Priyanka kala laki-laki itu memperlakukannya seperti
drama picisan yang ada di layar TV. Tanpa terasa kakinya sudah dibalut perban
dan praktik dokter Kemal pun berakhir. Perlahan kakinya diturunkan dari
pangkuan Kemal.
“
Motormu titip saja di sini dulu. Di depan komplek ada bengkel, tapi gak mungkin
kamu bisa membawanya sekarang,” ujar Kemal sambil merapikan obat-obatnya.
“Kebetulan Bang Rafi bentar lagi pulang, nanti aku minta tolong dia aja.”
Priyanka
mengangguk kecil. Detik kemudian ia dikejutkan oleh tingkah Kemal yang
tiba-tiba memukul keningnya sendiri.
“ Astaga,
aku lupa kasih kamu minum!”
Priyanka
dengan cepat melambaikan tangannya, “ Gak usah. Kayaknya aku udah terlalu
banyak ngerepotin kamu.”
“
Gak boleh gitu,” ujar Kemal seraya beranjak dari kursi. “ Gadis cantik yang datang
ke rumahku harus diperlakukan baik. Tunggu bentar yah!”
Kemal
pun berlalu. Tak lama, setelah itu Kemal datang dengan nampan berisi secangkir
teh dan beberapa biskuit.
“
Sori, Mamaku gak buat kue hari ini.”
Priyanka
hanya tersenyum maklum. Ia pun meneguk teh hangat yang disajikan. Tampaknya
tenggorokannya memang harus dibasahi. Tanpa sengaja matanya teralih pada
pergelangan kaki yang terbalut perban.
“ Eh
ya, jadi gimana kabar Fi?”
“
Dia cuma gak enak badan dan mamanya lupa kasih kabar,” jawab Priyanka tanpa
mengalihkan pandangan dari kakinya. Ia seperti teringat sesuatu.
Kemal
mengangguk paham. Ia merasa Priyanka tak suka diajak bicara olehnya, tapi ia
tak mau berdiam dalam sunyi.
“
Eh, ngomong-ngomong—”
“
Orang tuaku….”
“
Maaf?” kening Kemal berkerut saat mendengar Priyanka mengatakan sesuatu yang
tak sesuai dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan.
Dengan
tenang Priyanka menaruh cangkir pada tatakan lalu pandangannya beralih pada
Kemal.
“
Waktu itu kamu pernah tanya’kan kenapa dulu aku memakai cara curang untuk
menyingkirkan Wenda. Jawabanya karena orang tuaku.”
Bibir
Kemal terkatup rapat. Ia menatap Priyanka yang sedang menarik napas panjang.
“
Aku tahu Wenda sangat hebat, tapi orang tuaku tak mengenal kata kekalahan. Ia
terus memaksaku untuk menjadi yang nomor satu. Mereka tahu aku berbakat menari,
makanya mereka berusaha agar aku tak kalah. Sayangnya mereka tak tahu kalau
Wenda lebih berbakat. Aku paling benci kalau aku harus berhadapan dengan Wenda
karena dia hebat dan karena dia satu-satunya sahabatku.
“
Tekanan yang kurasakan semakin besar. Sampai akhirnya aku mulai berpikir untuk
menggunakan cara yang salah. Waktu itu hanya dalam pikiranku saja, tapi Erick
datang dengan segala bujuk rayunya. Aku yang tak tahan lagi dengan semua
tekanan itu akhirnya menuruti apa kehendak iblis dalam hatiku. Aku mengiyakan
syarat yang diajukan Erick dan laki-laki itu langsung mengeksekusiknya.
Kemudian aku terpilih menjadi si nomor satu dan orang tuaku bangga.”
Priyanka
menarik napas panjang. Matanya kembali beralih pada pergelangan kakinya.
“
Mungkin ini terdengar seperti kebohongan, tapi waktu aku melihat Wenda yang
terbaring lemah di rumah sakit, aku menangis sekuat-kuatnya. Ingin rasanya aku
memotong kakiku saat itu dan menyerahkannya pada Wenda. Gadis itu lebih pantas
menerima segalanya daripada aku. Tapi yang membuatku tenang karena aku tahu
hukumanku akan segera datang. Yah, Erick bagaikan malaikat pencabut nyawa
ketika memperlakukanku. Aku terima saja karena aku tahu bagaimana karma bila
menerima tawaran iblis.”
Kemudian
keduanya sama-sama diam seribu bahasa. Terjadi kesunyian yang panjang di antara
mereka.
“
Tapi tetap saja perbuatan si brengsek itu tidak bisa dibenarkan,” Kemal kembali
memecahkan kesunyian. “ Mana ada laki-laki yang memukul wanita. Itu perbuatan
yang lebih rendah dari hewan. Eh, tapi kamu belum diapa-apain sama dia’kan?”
Priyanka
menggeleng cepat. Kemudian mereka kembali dihinggapi kesunyian yang panjang.
Sampai sebuah guratan senyum kecil menghiasi wajah gadis itu.
“ Tapi terima kasih atas pertolonganmu waktu
itu. Kamu juga masih mempercayaiku setelah itu. Dan juga terima kasih untuk
hari ini.”
Mereka
saling bertukar pandang. Biasanya Priyanka buru-buru mengalihkan matanya bila mereka
bertatapan seperti ini. Namun, kali ini ia membiarkan retinanya menangkap
bayangan pemuda itu selama mungkin. Baru kali ini warna yang diberikan irisnya
memberikan gambaran yang begitu tampan.
“
Boleh aku minta sesuatu darimu?”
Priyanka
terlonjak kaget. Sontak ia langsung membuat jarak dari pemuda itu. Matanya
menatap curiga.
“
A—apa?”
Kemal
mengadahkan tangannya, “ Kunci motor. Kamu pikir aku bisa membawa motor itu
tanpa kuncinya?”
Jelas
sekali Priyanka terlihat salah tingkah, tapi setidaknya ia bersyukur. Pikiran
negatifnya mengenai pemuda ini tidak terjadi. Ia pun merogoh kunci yang ia
simpan di kantung seragam lalu memberikannya pada laki-laki ini.
“
Ayo, kuantar kamu pulang!”
ooOoo
Fi membuka matanya
perlahan. Ada seperti tamu yang datang berkunjung. Namun, ia tak tertarik untuk
mencari tahu siapa orang yang datang. Ia kembali membenamkan kepalanya ke
bantal. Mencoba menghilangkan kenangan terakhir yang terasa sangat buruk.
Ia
bermimpi lalu terbangun, kenangan itu masih tak berubah. Ia kembali bermimpi
dan terbangun lagi, tapi tetap saja tak ada yang bisa diubah. Sebuah fakta
menyakitkan yang ternyata menjadi takdir hidupnya.
Ia
memiliki ikatan darah dengan Adrian.
Fi
memelas, berharap andai Tuhan membuat semua ini menjadi mimpi buruknya saja, tapi
tidak, bahkan dalam mimpinya saja ia masih dihantui kenyataan itu. Tak ada yang
bisa ia lakukan ketika matanya terjaga. Air matanya sudah mongering dan ia tak
tahu apakah harus meneteskan darah untuk mengganti air matanya.
Suara
motor. Fi terkesiap. Meski suasana hatinya masih berantakan, tapi ia bisa
memastikan kalau suara tamu itu adalah suara wanita. Telinganya sempat
menangkap pertanyaan mengenai keadaan dirinya. Kemudian terdengar suara motor.
Fi menduga kalau tamu yang datang adalah Priyanka. Ya, siapa lagi orang yang
peduli padanya saat ini. Lagi pula Priyanka adalah satu-satunya teman ketika ia
berada di sini.
Fi
terlonjak dari kasurnya dan buru-buru menyambar pintu. Ia ingin bertemu dengan
Priyanka. Entah kenapa ada sebuah keinginan untuk menemuinya. Ia butuh bicara.
Mungkin gadis itu tidak bisa memberi solusi, tapi setidaknya ia bisa meluapkan
semua perasaannya pada gadis itu.
Begitu
pintu terbuka, sosok ibunya sudah berada di sana. Wajahnya masih terlihat kusut
seperti sebelumnya. Fi menghela napas. Setelah kejadian di kafe kemarin, ia tak
bicara sepatah kata pun dengan ibunya. Sudah seharian ia mengurung diri di
kamar. Percuma saja kedua orang tuanya membujuk. Pintu itu tak pernah
dibukanya.
Dan
sekarang terbuka.
“
Mana Priyanka?”
“
Sudah pulang,” ibunya menunggingkan sebuah senyum. “ Fi… kamu sudah mau keluar?
Kita bicara dulu atau kamu mau makan dulu? Dari kemarin kamu sama sekali gak
makan, Nak.”
“
Gak, aku mau ketemu Priyanka!”
Fi
mencoba menerobos ibunya, tapi wanita itu berhasil menahan, “ Fi, Mama mohon,
jangan seperti ini! Bukan salah Mama kalau kalian ternyata―”
“
Ternyata apa?” wajah Fi kembali beringas. “ Ternyata aku dan Adrian bersaudara?
Aku lebih baik melihat Adrian menikahi perempuan lain ketimbang dia jadi
saudaraku!”
“
Tapi tak ada yang menginginkan ini, bukan?” suara ibunya melunak. “ Bukan
salahmu atau salah Adrian. Kalian hanya berada waktu yang salah.”
“
Ya,” sahut Fi dengan suara bergetar. “ Tapi semua itu berawal dari kesalahan
Mama dan Papa.”
Ucapan
Fi membuat ibunya terdiam. Fi bisa merasakan tangan ibunya bergetar saat
melepaskan genggamannya.
“
Belasan tahun yang lalu, Mama dan Papa sudah melakukan sebuah dosa besar yang
membuat hidup Adrian menderita. Dosa itu melahirkan aku. Dan sekarang Adrian
justru mencintai hasil dari dosa besar kalian. Ma, apakah ini tidak terlalu
kejam?”
Suara
Fi pecah ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Air mata kembali
menggenangi wajahnya. Lututnya terasa lemas, ia pun bersimpuh di lantai. Ibunya
pun tak kalah emosional. Ia meraih tubuh anaknya yang sedang menangis hebat.
Kedua ibu dan anak ini sama-sama menangisi takdir mereka.
“
Maafkan, Mama, Nak….”