Total Tayangan Halaman

Jumat, 30 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 83)




Musikal 83

“ Katanya mau Love Musical dulu? Kok tiba-tiba ngajak latihan sama aku sekarang?”
“ Hujan, Nad. Jadi dibatalkan.”
Nadia mengangguk. Kemudian ia pun mengajak Alexi untuk segera berlatih. Tidak seperti kemarin, latihan kali ini justru terasa berat bagi Nadia. Padahal tak ada Wenda yang mengawasi mereka, tapi kenapa Alexi merasa begitu tertekan. Nadia bahkan harus mengingatkan masalah tempo Alexi yang tak beraturan.
“ Berhenti! Aku gak bisa main kalau kamu kayak gini terus.”
Alexi mengusap wajahnya, lalu dengan satu tarikan ia turunkan jari-jarinya melewati rambut.
“ Maaf, Nad.”
“ Ada masalah di sekolah? Ahh, jangan-jangan kamu berantem sama pacarmu ya?”
Alexi menggeleng. Desahan napasnya terdengar berat.
“ Aku seperti sedang melakukan dosa besar dan sekarang aku sedang menerima penghakiman.”
“ Dosa besar?” alis Nadia terangkat. “ Memangnya kamu salah apa, Al?”
Alexi kembali menggeleng, “ Aku juga gak tahu, Nad. Entah kenapa di saat aku harus berada di sisi orang itu, orang itu justru menolakku. Rasanya aku frustasi banget, Nad.”
“ Pacarmu?”
Alexi lagi-lagi hanya menggeleng. Nadia menunggu Alexi kembali mengatakan sesuatu, tapi Alexi justru diam seribu bahasa.
“ Lalu apakah dia adalah gadis yang kamu cari itu?”
Nadia bisa merasakan kalau Alexi meliriknya sesaat. Giliran Nadia yang mendesah berat. Kalau sudah begini jangankan latihan, diajak bicara pun percuma saja. Nadia paham betul sifat si kacamata ini.
Akhirnya, Nadia menyalakan musik dari ponselnya. Sebuah iringan lembut yang ingin mengantarkan siapa pun pendengarnya untuk berdansa.
“ Kamu gak mau berdansa denganku?”
Mood Alexi benar-benar tidak bagus untuk diajak berdansa. Namun, yang terjadi justru sebuah kalimat mantra meluncur bebas dari bibir Alexi.
“ Kamu tahu’kan kalau aku tidak bisa menolakmu.”
Senyum Nadia mengembang. Kalimat itu sudah seperti mantra. Acapkali Nadia meminta sesuatu pada Alexi, laki-laki itu pasti akan merapalkannya.
Alexi memang jarang berdansa, tapi ia mampu membimbing Nadia dalam tariannya. Hanya saja kali ini ia tak bisa menatap langsung mata gadis itu.
“ Kamu cepat bertambah tinggi ya. Sekarang kita hampir sepantaran.”
“ Aku minta maaf soal kebohonganku. Sebenarnya aku menginap di hari Sabtu, bukan Jumat.”
“ Aku mengerti. Pasti karena pacarmu itu’kan?”
Alexi mengangguk kaku.
“ Baguslah kalau begitu. Malam ini kita berdansa saja. Latihannya bisa besok malam, gimana?”
Alexi kembali menatap Nadia sekilas.
“ Kamu tahu’kan kalau aku tidak bisa menolakmu.”
ooOoo
Ririn beruntung karena hujan deras yang kunjung reda sampai sore, latihan mereka untuk hari itu dibatalkan. Dengan begitu ia bisa cepat pulang. Menghabiskan waktu istirahat singkatnya dan mungkin dengan menumpahkan semua kekesalannya hari itu di kamar sendirian.
Benar saja, begitu pipinya menempel di bantal, ia tak bisa mengontrol air matanya. Semua emosinya tertumpah begitu saja. Belum pernah ia menangis sehebat ini.
‘ Jadi, ini yang dinamakan patah hati? Kalau memang sesakit ini lebih baik aku tidak usah jatuh cinta selamanya.’
Mungkin karena terlalu lelah dan banyak berpikir, ia tak sadar kalau sudah jatuh terlelap. Ingatan buruknya mengenai kejadian di sekolah membuatnya kembali memimpikan kejadian itu. Bahkan lebih buruk, di dalam mimpinya ia bertemu Adrian. Di samping laki-laki itu, Fi terlihat menggelayut manja. Dengan sinisnya Adrian mengatakan bahwa ia sekarang sudah berpacaran dengan Fi dan ia meminta pada Ririn agar menjauh selamanya.
Ririn terbangun. Ia menoleh ke sana kemari, seolah-olah mencari kebenaran atas apa yang ia lihat. Ia mendesah lega karena apa yang ia lihat tadi hanya mimpi. Ririn mengusap-usap wajahnya, lalu beranjak meninggalkan ranjang. Ia perhatikan perubahan wajahnya. Matanya sembab dan memerah. Ada pula sisa air mata yang mengering di sekitar pipi. Rambutnya juga awut-awutan.
Ririn mendesah panjang. Sekarang ia baru mengerti kenapa Zainuddin sampai sakit keras ketika ditinggal Hayati menikah. Juga kenapa Syamsuddin rela mati menjual harga dirinya pada Belanda setelah tahu kalau Siti Nurbaya menikah dengan Datuk Maringgih. Semua jawabannya hanya satu, yaitu patah hati.
Sekarang ialah yang berada di posisi orang-orang itu. Patah hati memang menyakitkan. Wajar saja kalau ada yang sampai bunuh diri seperti di berita-berita yang pernah ia anggap picisan.
Bisakah ia bangkit. Entahlah, ia sendiri tak yakin. Satu hal yang ia harus lakukan saat ini, yaitu mandi dan menenangkan pikirannya di dengan air dingin.
Ririn melewatkan sesi makan malamnya dan memilih kembali ke kamar. Nafsu makannya sudah hilang sejak tadi, yang ia butuhkan sekarang adalah ketenangan. Mungkin tidur adalah pilihan terbaik. Sebelum tidur ia meminta agar hari perasaannya lebih baik di hari esok.
Biarlah malam ini menjadi malam yang sangat dingin.

please comment and share

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 82)



Musikal 82
 
(Wenda, Nadia, Alexi, Ririn, Adrian, Fi)

Hari masih pagi. Embun bahkan masih menempel di ujung dedaunan. Mentari belum terlihat, tetapi suasana di kelas terasa panas. Perseteruan yang samar antara Fi-Ririn-Wenda memengaruhi aura di sekitar mereka.
“ Panas amat yak,” ujar Ben seraya mengipas-ngipaskan kerah bajunya. “ Padahal di luar matahari gak terang-terang amat.”
“ Mungkin mau hujan,” sahut Anjani.
Kepala Ben mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.
“ Astagaaa, aku belum buat PR matematika!”
“ Aku juga belum,” sahut Kemal. “ Santai aja kali. Pelajarannya’kan setelah istirahat.”
“ Iya sih, tapi pas istirahat aku disuruh Ibu Gloria buat ambil kopian surat izin karantina. Duuh… kalau mesti ke kantor guru dulu pasti gak bakalan sempat.”
Ben baru saja melirik Anjani, tapi gadis itu dengan cepat mengangkat tangannya.
“ Jangan minta aku! Aku juga belum selesai dua nomor terakhir.”
“ Aku sudah,” ujar Wenda santai. “ Tapi aku kasih pilihan. Suruh aku ambil kopian itu atau kalian boleh salin jawaban PR-ku. Hanya boleh minta satu.”
“ Tegaaa deeeeh,” desah Ben. “ Cuma ambil kopian doang kok, Wen. Gak bakal bikin kamu mati kok.”
Namun, Wenda tetap menggeleng angkuh, “ No!”
Ben mengerutkan bibirnya. Matanya mencari ke sana ke sini agar bisa menemukan relawan yang mau menggantikan tugasnya. Lalu terlihat sosok manis yang tak banyak mulut sedang tenggelam dalam bukunya. Ben menjentikkan jemarinya. Ia yakin kalau gadis itu sudah menyelesaikan PR dan mau membantunya. Ben pun segera menghampiri Ririn.
“ Hei, Rin. Sibuk gak?” Ben memulai basa-basinya. “ Ngomong-ngomong kamu udah buat PR matematika belum?”
Ririn mengalihkan matanya dari lembaran buku, “ Kalau PR aku sudah sih. Memang kenapa?”
“ Aku boleh gak minta tolong? Tolong ambilkan kopian surat izin karantina di kantor guru dong. Soalnya aku belum buat PR dan aku mau ngejar waktu untuk buat PR.”
“ Harus sekarang?” tanya Ririn dengan alis terangkat.
“ Oh, nggak,” Ben melambaikan tangannya. “ Pas istirahat aja, bisa kan?”
Ririn mengangguk sambil tersenyum. Ben pun mengepalkan tinjunya ke udara.
Thank’s banget, Rin. Aku gak tahu lagi kalau gak ada kamu.”
Ririn terkekeh, “ Biasa aja kali.”
Saat bel istirahat berbunyi, Ben segera memberi kode pada Ririn. Gadis itu masih dengan tawa kecilnya langsung mengiyakan. Sementara Ben masih berkutat pada PR matematika yang kunjung ia selesaikan.
Ririn bertemu dengan Santi, salah satu seniornya di LM. Dia adalah ketua kelompok untuk anggota LM kelas 11.  Tampaknya seniornya itu baru saja bertemu dengan Gloria di kantor.
“ Mau ambil surat izin, Rin?” sapa Santi. “ Bukannya ini tugasnya Ben?”
Ririn mengangkat bahu, “ Dia lagi buat PR.”
“ Cih, dasar malas,” Santi terkekeh sinis. “ Oh ya, suratnya kurang. Jadi, Bu Gloria nyuruh aku fotokopi sendiri di ruang tata usaha. Kamu temenin aku ya.”
Ririn mengangguk. Mereka berdua pun akhirnya menuju ruang tata usaha yang agak di tidak jauh dari tempat parkir. Ketika mereka melintasi lapangan parkir, mereka tak sengaja melihat sebuah mobil yang baru saja terparkir. Si pemilik mobil turun dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Ririn dan Santi menatap heran pada si pemilik mobil yang sudah sangat tak asing di mata mereka.
“ Itu Adrian’kan? Ngapain dia ke sini sekarang? Latihan’kan nanti sore.”
Pertanyaan yang sama suka menggerayangi kepala Ririn. Namun, dari ekspresi laki-laki itu terlihat sangat bingung dan cemas. Ririn menebak-nebak apa yang membuat Adrian terlihat aneh seperti itu.
Ririn langsung kembali setelah kopian itu sudah ia dapatkan. Ben berterima kasih saat Ririn membawa setumpuk kertas yang akan ia bagikan. Namun, gadis itu seperti tak mengindahkan kata-kata Ben. Matanya hanya tertuju pada kursi Fi yang kosong. Gadis itu langsung kembali berlari ke luar.
“ Eh, Rin. suratnya―”
Namun, teriakan Ben tak digubrisnya. Sebelum Ririn sampai di kelas ia sempat melihat sosok Adrian lagi. Kali ini ia melihat Adrian sedang bersama sedang seorang gadis. Kalau dari di belakang, Ririn menduga perempuan itu adalah Fi. Sayang, ia tak bisa segera memastikannya karena ada setumpuk surat di tangannya. Saat ia sampai di kelas, batinnya benar-benar yakin kalau perempuan tadi adalah Fi. Terbukti dengan bangku yang ditempati Fi kosong dan ketika itu bel masuk sudah berdering. Jadi, tidak mungkin kalau Fi masih keliaran, kecuali kalau Fi memang benar-benar bersama Adrian.
Dugaan Ririn tidak meleset. Kali ini Ririn mendapati Adrian dan Fi sedang membicarakan sesuatu di dekat toilet pria. Toilet pria letaknya agak di belakang. kalau melihat dari pemilihan tempat, sepertinya pembicaraan kedua orang itu begitu serius dan rahasia.
“ Kalau begitu kamu sendiri yang bilang ke dia!” Fi berbicara dengan nada yang kasar.
“ Tapi, Fi, aku pikir itu bukan keputusan yang tepat. Lagi pula untuk apa kita katakan pada dia?”
“ Aku berpikir ini adalah keputusan yang sangat tepat. Cepat atau lambat dia akan tahu hubungan kita.”
Deg. Jantung Ririn berdegup kencang. Otak Ririn berpikir keras menafsirkan kata “hubungan” yang baru saja dikatakan oleh Fi.
Di sisi lain Adrian justru membisu seribu bahasa. Kata-kata Fi sepertinya begitu mendominasi pikiran laki-laki itu. Kemudian terdengar helaan napas yang panjang dari Adrian.
“ Baiklah, jika ini akan membuatmu merasa lebih baik. Akan aku katakan padanya kalau kita memang pacaran.”
Jantung Ririn tertohok tombak patah hati yang begitu mendalam. Terlalu dalam, sampai ia merasa sesak di dadanya. Napasnya tercekat, lambungnya mulas, dan kepalanya berputar-putar. Meski begitu ia harus segera beranjak dari tempat itu. Sedikit saja lebih lama di sana, bisa-bisa ia pingsan.
Ia berlari sekencang-kencangnya. Ia tak menentukan kemana arah tujuan yang jelas ia ingin menghilangkan sakit yang menggerogoti hatinya. Pandangannya mengabur akibat air mata yang jatuh tanpa ia minta. Saat kakinya benar-benar tak mau lagi berkompromi untuk membawanya menjauh, ia baru sadar kalau langkah-langkah berat itu membawanya tepat di muka gedung teater.
Ririn tak mengerti kenapa ia harus merasa sepedih ini. Tak ada yang menyakitinya. Namun, kenyataan justru mengoyakkan semua harapan yang pernah ia mimpikan. Belum, bahkan ia belum pernah benar-benar memimpikannya.
Terdengar langit menabuhkan genderang guruh. Rinai hujan mulai turun seiring gemuruh yang bertalu-talu. Hujan yang seharusnya menjadi keberkahan justru dibenci Ririn saat ini.
Tuhan seperti sedang menyiramkan air garam pada lukanya.
ooOoo
Fi melihat ponselnya berdering ratusan kali sejak terakhir kali ia mengirim sms pada Adrian. Peneleponnya pun tak usah ditebak siapa. Bosan merasa seperti sedang diuntit, akhirnya Fi mengangkat telepon itu.
Fi, astagaaa! Apa kamu mau membuatku gila? Semalaman aku telepon kamu, tapi kenapa baru sekarang kamu angkat?”
“ Oh, bukannya kamu yang buat aku gila? Sudahlah, aku sedang malas membicarakan alasanku.”
Oke, oke, aku tahu kalau itu salahku. Sekarang aku minta kamu berhenti bersikap seperti ini. Aku benar-benar minta maaf padamu.
“ Lakukan permintaanku lalu aku bisa memaafkanmu.”
Adrian terdengar mendesah panjang, “ Baiklah, aku turuti asal kamu mau maafin aku.”
“ Kalau gitu datang ke sekolah saat jam istirahat. Di sana baru aku akan kasih tahu apa mauku.”
Oke, aku akan ke sana.
Fi tersenyum puas. Ia melangkah ringan saat menuju ke sekolah. Hatinya tak pernah seriang ini sebelumnya. Mungkin karena ia membayangkan bagaimana ekspresi Ririn saat Adrian mengatakan yang sebenarnya.
Ya, ia berencana untuk memaksa Adrian agar mengatakan hubungan mereka pada gadis itu. Dengan begitu Fi yakin kalau Ririn tidak akan mengharapkan Adrian lagi. Ia tahu kalau kelemahan gadis itu adalah saat diberi tekanan.
Adrian kembali meneleponnya ketika bel istirahat baru saja berdering. Senyum sinis Fi kembali mengembang.
Aku sudah sampai, Fi. Kamu mau ketemuan dimana? Aku masih di tempat parkir
“ Temui aku di belakang toilet pria. Kalau kamu dari tempat parkir, lurus saja ke kanan sampai habis koridor.”
Setelah menutup telepon, Fi bergegas menuju tempat janjian mereka. Di belakang toilet mungkin bukan tempat yang baik, tapi tempat yang bagus untuk membicarakan sesuatu yang serius dan rahasia.
“ Wah, cepat juga kamu sampainya,” sapa Fi ketika ia sudah bertemu dengan Adrian.
Adrian menghela napas panjang, “ Aku datang untuk menebus kesalahanku. Aku harap setelah aku melakukannya kamu berhenti mencurigaiku seperti ini.”
“ Aku harap juga begitu,” Fi tersenyum sinis. “ Kamu tenang saja, aku gak bakal minta yang aneh-aneh.”
“ Memangnya apa yang mau kamu minta?”
“ Sederhana saja, aku cuma minta kamu ngomong langsung sama Ririn kalau kita itu sudah pacaran. Dengan begitu dia gak bakal dekat-dekat dengan kamu lagi dan juga tatapan matanya itu yang terlalu terang saat melihatmu.”
Adrian terkesiap, “ Tapi’kan aku gak selingkuh, Fi. Buat apa aku harus melakukan hal itu?”
“ Kenapa, kamu gak bisa atau gak mau?” nada bicara Fi terdengar emosi. “ Kalau begitu kamu sendiri yang bilang ke dia!”
“ Tapi, Fi, aku pikir itu bukan keputusan yang tepat. Lagi pula untuk apa kita katakan pada dia?”
“ Aku berpikir ini adalah keputusan yang sangat tepat. Cepat atau lambat dia akan tahu hubungan kita.”
Adrian terhenyak. Ya, kata-kata Fi memang tidak salah, mereka memang pacaran dan kenapa tidak mau membuktikannya. Entah kenapa ada rasa yang memberatkan Adrian untuk mengakuinya sendiri di depan Ririn. Seolah-olah ia akan melakukan pengakuan dosa. Namun, jika ia bisa kehilangan gadis ini bila tak mau melakukannya.
Pilihan yang sulit. Adrian pun mendesah panjang.
 “ Baiklah, jika ini akan membuatmu merasa lebih baik. Akan aku katakan padanya kalau kita memang pacaran.”
Fi menatap mata Adrian dalam-dalam. Ada keseriusan terpancar pada sinar matanya. Emosinya pun melunak. Perlahan ia meraih tangan Adrian yang tergantung bebas dari gravitasi.
“ Maaf, tapi aku… aku hanya tidak bisa menahan rasa cemburuku. Dalam pikiranku hanya terpikirkan cara ini. Aku hanya tidak ingin kamu memandang dia dengan cara yang sama ketika kamu memandangku.”
Adrian mengangguk pelan. Ia membalas genggaman tangan gadis itu. Perlahan senyumnya mengembang.
“ Gak apa. Maaf aku yang sudah terlalu ceroboh melakukannya. Jujur, aku tidak punya perasaan apa pun sama dia. Aku cuma menganggap dia seperti adikku sendiri. Mungkin kamu keliru mengartikan semua itu.”
Sebenanrya Fi masih tidak terima Adrian menganggap Ririn istimewa, meski hanya sebatas kakak-adik. Namun, ia tak mau merusak momen ini dengan amarahnya. Toh, nantinya juga Adrian yang akan mengatakan sendiri pada gadis itu. Untuk sekarang ia bisa tenang menjalani hubungan mereka.
Angin berderu kencang. Langin mulai bergemuruh. Pertanda hujan itu pun membuat Fi dan Adrian harus memisahkan diri. Lagi pula waktu istirahat sudah berlalu sepuluh menit yang lalu. Dengan langkah yang ringan Fi pun kembali ke kelas.
ooOoo
Ririn merasa bahunya diputar paksa. Ia pikir orang yang menarik bahunya itu adalah Adrian. Mungkin saja Adrian dan Fi melihatnya yang tidak sengaja menguping. Lantas Adrian menyusulnya dan akan mengatakan apa yang diminta oleh Fi. Jika benar itu Adrian, maka Ririn sudah siap-siap mengambil seribu langkah.
Ternyata orang itu adalah Alexi.
Ririn terpana dengan kehadiran laki-laki itu. Dengan seragam yang basah serta kacamata yang dipenuhi titik-titik hujan, laki-laki itu sanggup menemukannya di sini. Padahal Ririn sendiri baru sadar ia berada di depan gedung teater beberapa saat yang lalu.
Dari ekspresi Alexi yang tampak cemas, harusnya Ririn tahu siapa orang yang paling mengkhawatirkannya. Ia juga harusnya tahu siapa orang yang selalu ada di saat ia butuhkan. Bukan Adrian yang ia harapkan, tapi hanya sosok Alexi yang selalu tersenyum padanya.
“ Kamu gak apa-apa? Kenapa kamu hujan-hujanan di sini?”
“ Ka—kamu…” tenggorokan Ririn terasa serat. Sulit baginya untuk meneruskan kaliamatnya.
“ Mungkin kamu gak lihat aku, tapi aku tadi kita berpapasan waktu kamu lari-lari keluar kelas. Gak tahu kenapa, tapi aku langsung ikutin kamu sampai di sini,” terang Alexi yang sepertinya sudah tahu apa yang akan dikatakan Ririn.
“ Ja—jadi, kamu sudah tahu?”
Alexi terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan. Di saat itulah air mata Ririn kembali meleleh. Rasa sesak itu kembali bersarang di dadanya.
Hujan turun semakin deras. Namun, Alexi tahu di mana perbedaan antara tetesan hujan dan air mata gadis itu. Ia mencoba menghapus lelehan cairan asin yang mengalir dari sudut mata gadis itu.
Meski air hujan membasahi sekujur tubuh laki-laki itu, tapi tangannya terasa hangat saat menyentuh pipi Ririn. Ia bisa merasakan sentuhan jemari yang kurus dan panjang. Sungguh khas jari-jari seorang pianis. Bukan sentuhan biasa, ada sebuah sensasi yang menggetarkan hatinya sehingga rasa sesak itu perlahan mengabur.
Alexi ingin menyentuh pucuk kepala gadis itu. Ia merasa sebuah sentuhan lembut lagi akan membuat gadis itu merasa lebih baik.
Namun, sayang ketika beberapa senti lagi tangan Alexi menyentuh kepalanya, mata Ririn bertemu dengan sosok Wenda yang ada di belakang laki-laki. Jarak Wenda cukup jauh dan mungkin Alexi sendiri tak menyadari, tapi Ririn sangat yakin ada sinar cemburu memancar dari tatapan gadis itu. Ririn pun buru-buru menarik dirinya. Ia tahu Alexi akan kaget dengan reaksinya.
“ Aku sudah baikan. Kamu kembalilah, nanti masuk angin. Aku juga akan kembali ke kelas.”
Tangan Alexi masih menggantung di udara. Ia tak bisa mencegah Ririn meninggalkannya. Ia tak tahu kenapa gadis itu langsung pergi begitu saja. Apakah ia sudah melakukan sesuatu yang melanggar batas? Hatinya terus-terusan bertanya.
ooOoo
Ben menggerutu gara-gara Ririn mengabaikannya. Tak hanya Ben, tapi Wenda juga bertanya-tanya kenapa Ririn terlihat begitu melesat keluar begitu cepat. Penasaran dengan apa yang akan Ririn buru, Wenda pun ikut-ikutan melangkah keluar.
Di saat itulah ia melihat Alexi yang berpapasan dengan Ririn. Kedua orang itu tak saling sapa, tapi tanpa pikir panjang Alexi langsung menyusul gadis itu. Napas Wenda tercekat, ia pun tak ragu-ragu lagi melangkahkan kakinya. Sengaja atau tidak, tapi mereka bertiga terlibat adegan kejar-kejaran.
Langkah Wenda terhenti saat ia berhenti di depan toilet pria. Ia ragu apakah ia harus mengikuti Alexi ke sana. Ia berpikir mungkin saja Alexi hanya mau ke toilet, bukan mengejar Ririn. Namun, ia melihat Ririn berbalik dan disusul Alexi. Wenda dengan cepat bersembunyi, tapi langkahnya sigap mengikuti kemana pun kedua orang itu pergi.
Ia merasa heran kenapa Ririn mengarahkan langkahnya menuju gedung teater. Hujan mulai turun, hal itu sempat membuatnya tertinggal cukup jauh dari kedua orang itu. Ketika ia sampai, ternyata ia datang di saat yang tidak tepat.
Adegan yang ia saksikan adalah ketika Alexi menyeka air mata gadis itu. Lebatnya hujan tak membuat emosinya mereda. Ia bahkan sempat membuat kutukan agar kedua orang itu tersambar petir.
Tiba-tiba matanya bertemu dengan mata Ririn. Gadis itu terkesiap. Seolah merasakan kemarahan Wenda yang membara, gadis itu langsung menghindari sentuhan Alexi berikutnya. Tanpa banyak bicara, gadis itu langsung meninggalkan Alexi.
Wenda menyembunyikan dirinya dari Alexi, tapi ia justru berpapasan dengan Ririn. Jutaan emosi tengah mengusai si gadis ikal itu. Namun, Wenda hanya menatapnya dengan tatapan datar.
“ Aku tahu kamu tidak suka, tapi tolong jangan ajak aku berdebat. Aku lelah sekali.”
Wenda dilewatinya begitu saja dan ia tidak suka.
“ Kamu tidak akan ingkar janji’kan?”
Langkah Ririn terhenti. Gadis itu menoleh sedikit.
“ Asal kamu tahu, aku lelah dianggap penganggu hubungan orang. Jadi, kamu tenang saja. Aku akan menepati janjiku.”
Ririn mempercepat langkahnya. Hujan pun semakin deras. Wenda juga tak mau berlama-lama di tempat itu. Ia tak mau dirinya masuk angin dan yang lebih ia hindari adalah pertemuannya dengan Alexi saat itu.
Gemuruh semakin berkuasa atas langit. Benang merah antara Fi, Adrian, Ririn, Alexi, serta Wenda semakin terasa panas. Masing-masing ingin memutuskan benang merah yang melilit kisah mereka. Namun, semakin ditarik maka mereka semakin terlilit. Jalinan benang merah itu tak berhenti sampai di sini.

Auhtor's Note:
Merasa makin baper?? :D

please comment and share 

Sabtu, 24 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 81)




Musikal 81


 
Ketika Wenda sedang menikmati alunan piano Alexi-Nadia, di saat yang bersamaan Ririn sedang sibuk mencatat semua hasil wawancara siang ini. Ia menawarkan diri sebagai notulen Dela saat mewawancarai seorang DJ radio. Ia bahkan tak bergabung dengan teman-temannya yang asyik mengagumi si DJ ini. Mungkin karena sudah tak lama menyalurkan hobi menulisnya, kini ia tenggelam pada setiap goresan tinta yang ia buat.
“ Oke, sampai di sini dulu, Kak,” Dela mengakhiri sesi wawancaranya. “ Terakhir, aku bisa minta foto close up Kakak gak? Untuk headline di Koran nanti.”
“ Gak masalah,” ujar sang DJ.
Tanpa diminta, Ririn langsung mengambil alih sebagai juru foto. Setelah beberapa kali berpose, gadis itu memberikan anggukan sebagai tanda sesi foto telah selesai. Namun, ternyata tak sepenuhnya selesai. Teman-temannya yang lain sedang membujuk-bujuk Dela dan Mirna agar diperbolehkan berfoto bersama sang DJ.
“ Issh, dasar alay,” gerutu Dela pada anggotanya. Kemudian ia kembali tersenyum pada sang DJ. “ Kak, anggota kami pengen minta foto bareng. Boleh gak?”
DJ itu tertawa, “ Boleh, boleh kok. Ayo sini, siapa yang mau foto?”
Mereka pun berebutan untuk mendapatkan posisi paling dekat dengan sang DJ. Dela dan Mirna menggeleng-geleng malu. Sementara itu Ririn masih setia sebagai juru kamera dan sekarang kamera di tangannya bertambah. Mulai dari kamera milik klub, sampai kamera dari ponsel pribadi. Meskipun awalnya Dela dan Mirna sempat mengomeli anggotanya, tapi ujung-ujungnya mereka juga meminta foto.
“ Rin, kamu gak mau foto bareng?” ujar Mirna. “ Sayang loh, jarang-jarang kita bisa foto-foto sesuka hati.”
“ Kalau ditawarin mana mau, Mir,” Dela langsung menarik tangan Ririn supaya berdiri di sampingnya, lalu kembali tersenyum pada sang DJ. “ Satu kali lagi ya, Kak. Rin, ayo senyum!”
DJ tampan itu kembali berpose. Mirna pun langsung membidik kamera ponselnya. Mau tak mau, Ririn melebarkan senyumannya. Benar kata Dela, kapan lagi berfoto sesuka hati.
Hari sudah sore ketika sesi wawancara dan foto-foto selesai. Namun, acara mereka belum selesai. Mereka sepakat untuk nongkrong dulu di sebuah mall yang tak jauh dari studio radio. Menghabiskan waktu petang dengan makan-makan dan bertukar cerita.
Sore yang panjang. Setelah kenyang makan, mereka berputar-putar mengunjungi satu toko ke toko yang lain. Sial bagi Ririn, ketika semua teman-temannya dengan riang menikmati bubble tea, ia hanya bisa menelan ludah. Meskipun sekarang tak ada yang mengawasinya, entah kenapa kata-kata Tifa tentang aturan makanan selalu terngiang-ngiang di telinganya.
“ Kenapa, Rin? Uang kamu habis?” tanya Dela sambil menyesap matcha bubble-nya. Melihat Ririn hanya menggeleng pelan, ia pun langsung merogoh dompetnya. “ Eh, tolong beliin buat Ririn dong.”
“ Eh, gak usah, Kak Dela!” seru Ririn sebelum salah satu temannya memesan sebuah es krim. “ Aku bukannya gak ada uang, tapi memang lagi gak boleh.”
Dela menatap Ririn bingung, begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Sampai Mirna memberikan penjelasan bantuan.
“ Oh ya, aku ingat. Kalau gak salah pemain teater itu ada aturan makannya kalau udah mau pentas. Mereka dilarang makan-makanan yang dingin, berminyak, dan terlalu pedas. Begitu’kan, Rin?”
“ Iyaaa, gitu deh,” Ririn menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “ Aku sih kepengen banget dari tadi, tapi yaaah… apalah dayaku, hahaha.”
“ Yah, bilang dong dari tadi,” sahut Dela. Ia sedikit menyingkirkan gelas matcha-nya dari hadapan Ririn. “ Kita jadi gak enak.”
“ Ah, gak apa kok. Santai aja,” Ririn tersenyum. Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tak asing lagi. Mata mereka bertemu dan orang itu langsung melempar senyum padanya. Ririn tak bisa menghindar lagi saat orang itu menghampirinya.
“ Sedang menikmati waktu tanpa latihan?”
Ririn mengangguk kaku. Tubuhnya merasa berat saat tatapan teman-temannya mengarah padanya.
“ Teman-temanmu?”
Ririn kembali mengangguk. Tatapan teman-temannya semakin tajam. Namun, Ririn tak menyalahkan mereka. Salahkan pemuda berambut pirang yang tiba-tiba datang menghampirinya. Berbincang dengan nada akrab, seolah-olah sudah bersahabat sejak lama. Wajahnya yang tampan dan auranya bak pangeran, menambah sangat cocok dengan warna rambutnya yang mencolok.
“ Adrian Kusuma Nugraha?”
Suara Mirna membuat teman-temannya yang lain histeris. Adrian pun langsung disebut layaknya artis ibukota yang sedang naik daun. Beberapa orang dibuat menoleh oleh kehebohan mereka. Namun, menyadari bahwa Adrian bukanlah artis sinetron yang suka wara-wiri di infotaiment, orang-orang yang melihat mereka kembali berlalu.
“ Waah, akhirnya kami bisa ketemu Adrian Kusuma Nugraha langsung,” ujar Mirna. “ Sebenarnya kami sudah lama mau mewawancarai Kakak, tapi sepertinya latihan kalian padat sekali.”
“ Kalau begitu datang kapan saja,” jawab Adrian penuh wibawa. “ Kami pasti menerima dengan tangan terbuka.”
Adrian memamerkan senyuman sejuta dolar. Ririn bisa merasakan efek dari senyuman itu membuat teman-temannya mabuk kepayang. Untunglah Ririn sudah terbiasa dengan senyuman itu. Walau dalam hatinya terkadang masih mengharap andaikan senyuman itu hanya miliknya.
“ Ngomong-ngomong acara kalian sudah selesai? Kalau sudah, aku minta izin menculik gadis ini.”
Ririn bahkan tak sempat terkejut. Tahu-tahu Adrian sudah menariknya tepat di sisi laki-laki itu.
“ Yaah, kalau mau nyulik jangan Ririn aja dong,” ujar Dela sambil tertawa. “ Kita-kita juga rela kok diculik sama pangeran.”
Adrian balas tertawa, “ Maaf ya, tapi kudaku gak cukup untuk menampung kalian semua. Jadi, apa aku diperbolehkan?”
Mirna mengangkat tangannya, “ Ampun, Pangeran. Silakan, bawa putri yang tersesat ini.”
“ Kak Mirna, apaan sih?” Ririn mengerutkan bibirnya. Wajahnya merah padam saat tawa teman-temannya pecah.
“ Kalau begitu terima kasih, nona yang baik hati,” Adrian kembali tersenyum. “Kebaikanmu akan kubalas suatu saat nanti.”
Ririn memutar bola matanya. Ia merasa jengah dengan drama picisan berbau kuda, putri, pangeran, dan adegan culik-menculik. Belum sempat ia protes, Adrian langsung menariknya menjauh. Ia hanya bisa meliha teman-temannya melambaikan tangan dengan tawa usil.
ooOoo
“ Aku bisa pulang sendiri.”
“ Ini sudah malam. Lagian siapa yang akan mengantarmu pulang?”
“ Kak Mirna dijemput sama Mamanya. Jalan ke rumah kami searah. Dia bisa nurunin aku di depan gerbang komplek.”
 “ Ayolah, lebih baik mana? Di depan gerbang komplek apa gerbang rumah?”
Adrian melirik Ririn. Gadis itu memang sedang merajuk, tapi ia tetap patuh mengenakan sabuk pengaman selama Adrian menghidupkan mesin mobil. Perlahan mobil itu pun meninggalkan lapangan parkir.
“ Padahal aku baru saja mau bersenang-senang.”
Ekor mata Adrian kembali menangkap ekspresi Ririn yang sedang kesal. Bibirnya kembali menunggingkan senyum, tapi ia tak menjawab sepatah kata pun.
“ Kita mau kemana?” Ririn terkesiap saat Adrian membelokkan mobilnya berlawanan arah dari jalan yang seharusnya.
“ Kan aku mau culik kamu. Masa kita mau pulang ke rumah?” Adrian terkekeh, tapi ia buru-buru menjawab kembali saat gadis itu melotot padanya. “ Eh, jangan marah gitu dong. Kamu bilang’kan mau bersenang-senang. Naah, kita refreshing dulu aja.”
Ririn melipat tangannya di depan dada. Bibirnya manyun ke depan. Perasaannya kini semakin kacau.
“ Aku tahu kamu lagi tertekan. Aku bisa lihat wajahmu yang selalu stres kalau sudah di atas panggung. Kebetulan ketemu kamu sekarang, aku pengen ngajak kamu jalan-jalan.”
Adrian hanya membelokkan sedikit mobilnya dari simpang lampu merah Angkatan 45. Mereka sampai di angkringan yang berderet di sepanjang jalan Demang Lebar Daun. Ririn tak mengerti kenapa Adrian mengajaknya ke tempat yang ramai seperti ini. Kalau memang ingin menenangkan pikiran seharusnya laki-laki itu mengajaknya ke tempat yang tenang, bukan daerah yang padat dengan penjual gorengan dan cemilan malam.
Laki-laki itu sudah menghilang sejak sepuluh menit yang lalu dan ia menyuruh Ririn menunggu di luar mobil. Dasar aneh, gerutu Ririn dalam hati. Sambil menunggu Adrian, Ririn sibuk memainkan game di ponselnya. Tiba-tiba secangkir minuman hangat hadir di hadapannya. Saat Ririn mengangkat wajah, matanya bertemu dengan sosok Adrian yang tersenyum padanya.
“ Tadi kayaknya kamu ngiler banget lihat bubble tea punya teman-teman kamu.”
“ Ini apa?” tanya Ririn sambil menyimpan ponsel di saku kemejanya.
“ Teh susu hangat. Gak pake es.”
Ririn tertawa seraya menerima gelas plastik itu, “ Kalo hangat mana ada yang pake es. Dasar aneh.”
“Akhirnya ketawa juga,” ujar Adrian sambil ikut bersandar di sebelah Ririn.
Gerakan Adrian barusan terlihat slow motion di mata Ririn. Saat Adrian menunjukkan sisi hangatnya disitulah laki-laki itu terlihat sangat keren. Ririn bahkan harus memalingkan wajahnya agar rona merah di wajahnya tak terbaca oleh Adrian.
“ Jadi aktris itu memang gak gampang. Apalagi kalau orang itu memang dari awal orang itu bukan yang berasal dari kalangan dunia panggung,” Adrian menyesap teh susunya. “ Ayah dan Oom-mu memang pernah terjun di dunia pementasan, tapi mereka tak pernah memperkenalkanmu pada seluk-beluknya. Wajar saja kalau semua ini masih terasa asing bagimu.
“ Tapi meski kamu sudah paham, kamu juga harus tetap bekerja keras. Tekanan seperti ini hanya awalnya saja karena nantinya akan banyak rintangan yang lebih berat yang kamu harus hadapi. Suatu hari nanti kamu akan berkata kalau hal ini hanyalah masalah kecil yang gak perlu jadi beban pikiran.”
Ririn mendesah panjang, “ Sudah sering aku dengar nasihat seperti ini. Aku sudah bosan, yang aku butuhkan sekarang adalah solusinya bagaimana aku menyelesaikan tekanan ini? Ahh, atau mungkin aku ini memang tidak berbakat.”
Adrian tersenyum kecil, “ Tanteku memiliki intuisi yang kuat untuk orang-orang ia yakini akan menyukseskan pertunjukkannya. Dia gak mungkin memilihmu dan meletakkanmu di tim akting kalau dia yakin kamu gak ada bakat. Kamu hanya belum yakin dengan bakatmu. Kamu juga belum tahu bagaimana memaksimalkan bakatmu itu.
“ Lagipula meski Einstein bilang kesuksesan berasal dari 99% usaha, tapi bakat tetap harus ada walau hanya 1% bukan. Jadi, jangan pernah bilang kamu itu gak punya bakat.”
Ririn menarik napas panjang. Uap teh susu yang tercampur polusi udara Palembang meresap masuk ke dalam paru-parunya. Aroma itu sama dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Adrian. Menyesakkan, tetapi hangat dan manis.
“ Menurutmu usahaku belum cukup keras?”
“ Kalau itu aku gak tahu, tapi kalau menurutku kamu belum menaruh hatimu sepenuhnya pada panggung ini. Aku rasa kamu masih terjebak dalam duniamu yang sebelumnya. Jiwa kamu masih mau melarikan diri; kembali dalam comfortzone. Seperti tadi.”
Ya, Ririn tahu. Sejujurnya ia masih tak terima dirinya diterima di bagian tim akting. Andai saja Tifa tidak memindahkannya atau sekalian saja ia tidak usah diterima, mungkin hidupnya tidak akan jungkir balik seperti ini. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai panggung sepenuh hati kalau ia saja belum bisa mengusir rasa terkejut dari pikirannya?
Ririn memberanikan diri memandang Adrian. Laki-laki itu terlihat sedang menikmati minumannya. Mungkin Alexi selalu muncul saat ia butuh bantuan, tapi laki-laki ini akan datang saat pikirannya mulai teralih dari panggung dan segala hal yang berbau pementasan. Lelaki ini selalu memberinya harapan. Harapan untuk tak berputus asa serta harapan untuk bisa bersamanya.
Belum lagi dengan segala kesempurnaan yang ada pada dirinya. Ririn benar-benar tak bisa mengalihkan padangannya. Rasa sukanya terhadap laki-laki ini sudah mendobrak zona kakak-adik yang sudah mereka buat.
‘ Apa aku katakan saja ya?’
“ Sudah merasa lebih baik?”
Pertanyaan Adrian membuat Ririn terkesiap, “ I—iya, a—aku akan berusaha lagi. Terima kasih.”
“ Sama-sama,” untuk kesekian kalinya Adrian memamerkan senyumnya.
Ririn ragu-ragu menatap Adrian lagi. Ternyata laki-laki itu juga sedang memperhatikannya. Mereka berpandang-pandangan beberapa saat, sampai ponsel Adrian memberitahukan bahwa ada pesan masuk.
[ Aku gak suka kalau kamu menatap cewek lain!]
[ From: Fi]
Adrian kaget bukan kepalang. Matanya langsung mencari-cari dimana sosok Fi berada. Sudah berapa lama gadis itu memperhatikannya? Ia benar-benar tak mau gadis itu salah paham.
“ Ada apa?” Ririn merasa aneh melihat Adrian yang tiba-tiba seperti baru saja tersengat lebah.
“ Gak apa-apa. Sudah malam kita pulang saja,” Adrian buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Meski Ririn masih bingung kenapa Adrian terburu-buru seperti itu. Namun, ia tetap tak mengeluarkan satu pertanyaan pun. Mobil mereka sudah meninggalkan angkringan, tapi pikiran Adrian masih terpaku pada pesan singkat itu.
ooOoo
“ Mama senang kamu mau nemenin Mama, sayang. Bener kamu gak latihan hari ini?”
“ Iya, Ma. Latihanku besok kok,” ujar Fi sambil memasukkan belanjaan mamanya ke dalam bagasi taksi. “ Lagian masa melewatkan acara belanja sama Mama. ‘Kan lumayan bisa ditraktir.”
“ Bisa aja kamu,” ujar sang Mama sambil tertawa.
Taksi mereka melewati seputaran jalan Demang Lebar Daun. Ia terkena macet di depan salah satu rumah sakit swasta. Fi memilih memandangi jalanan malam sembari menunggu macet berakhir. Untungnya Fi tidak mengalami kemacetan total. Taksinya masih bisa melaju meski hanya dengan jarak pendek-pendek.
Taksi mereka kembali berhenti. Di saat itulah Fi menangkap jelas sosok Adrian bersama seorang gadis yang tak asing di matanya. Ririn. Satu-satunya gadis yang menjadi saingannya di atas maupun di balik panggung. Fi memergoki mereka sedang saling bertukar pandang. Fi tak bisa membedakan itu tatapan jenis apa, tapi yang jelas ia tak suka kalau kedua orang itu terlalu dekat.
Fi baru saja mau keluar, tapi taksinya sudah melaju lebih dulu. Ia menahan amarah dalam hati. Kalau saja ia tak pergi bersama mamanya, mungkin ia sudah mendamprat gadis itu habis-habisan. Ia meraih ponselnya dan dengan tangan gemetar mengirimkan pesan singkat berisi peringatan untuk Adrian.
Ia tak sabar menunggu hari esok.

Author's Note:
Naaaah loooh.... perangnya pecah minggu depan. Badainya terulang lagi...yihaaaa.... pas banget sama fanart-nya. Thank's berat buat EKA MARINDA *pelukcium*
Minggu depan edisi galau

please comment and share