Musikal 82
 |
| (Wenda, Nadia, Alexi, Ririn, Adrian, Fi) |
|
Hari masih pagi. Embun bahkan masih menempel di ujung
dedaunan. Mentari belum terlihat, tetapi suasana di kelas terasa panas.
Perseteruan yang samar antara Fi-Ririn-Wenda memengaruhi aura di sekitar
mereka.
“ Panas amat yak,”
ujar Ben seraya mengipas-ngipaskan kerah bajunya. “ Padahal di luar matahari
gak terang-terang amat.”
“ Mungkin mau hujan,”
sahut Anjani.
Kepala Ben
mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.
“ Astagaaa, aku belum
buat PR matematika!”
“ Aku juga belum,”
sahut Kemal. “ Santai aja kali. Pelajarannya’kan setelah istirahat.”
“ Iya sih, tapi pas
istirahat aku disuruh Ibu Gloria buat ambil kopian surat izin karantina. Duuh…
kalau mesti ke kantor guru dulu pasti gak bakalan sempat.”
Ben baru saja melirik
Anjani, tapi gadis itu dengan cepat mengangkat tangannya.
“ Jangan minta aku!
Aku juga belum selesai dua nomor terakhir.”
“ Aku sudah,” ujar
Wenda santai. “ Tapi aku kasih pilihan. Suruh aku ambil kopian itu atau kalian
boleh salin jawaban PR-ku. Hanya boleh minta satu.”
“ Tegaaa deeeeh,”
desah Ben. “ Cuma ambil kopian doang kok, Wen. Gak bakal bikin kamu mati kok.”
Namun, Wenda tetap
menggeleng angkuh, “ No!”
Ben mengerutkan
bibirnya. Matanya mencari ke sana ke sini agar bisa menemukan relawan yang mau
menggantikan tugasnya. Lalu terlihat sosok manis yang tak banyak mulut sedang
tenggelam dalam bukunya. Ben menjentikkan jemarinya. Ia yakin kalau gadis itu
sudah menyelesaikan PR dan mau membantunya. Ben pun segera menghampiri Ririn.
“ Hei, Rin. Sibuk
gak?” Ben memulai basa-basinya. “ Ngomong-ngomong kamu udah buat PR matematika
belum?”
Ririn mengalihkan
matanya dari lembaran buku, “ Kalau PR aku sudah sih. Memang kenapa?”
“ Aku boleh gak minta
tolong? Tolong ambilkan kopian surat izin karantina di kantor guru dong.
Soalnya aku belum buat PR dan aku mau ngejar waktu untuk buat PR.”
“ Harus sekarang?”
tanya Ririn dengan alis terangkat.
“ Oh, nggak,” Ben
melambaikan tangannya. “ Pas istirahat aja, bisa kan?”
Ririn mengangguk
sambil tersenyum. Ben pun mengepalkan tinjunya ke udara.
“ Thank’s banget, Rin. Aku gak tahu lagi
kalau gak ada kamu.”
Ririn terkekeh, “
Biasa aja kali.”
Saat bel istirahat
berbunyi, Ben segera memberi kode pada Ririn. Gadis itu masih dengan tawa
kecilnya langsung mengiyakan. Sementara Ben masih berkutat pada PR matematika
yang kunjung ia selesaikan.
Ririn bertemu dengan Santi,
salah satu seniornya di LM. Dia adalah ketua kelompok untuk anggota LM kelas
11. Tampaknya seniornya itu baru saja
bertemu dengan Gloria di kantor.
“ Mau ambil surat
izin, Rin?” sapa Santi. “ Bukannya ini tugasnya Ben?”
Ririn mengangkat
bahu, “ Dia lagi buat PR.”
“ Cih, dasar malas,”
Santi terkekeh sinis. “ Oh ya, suratnya kurang. Jadi, Bu Gloria nyuruh aku
fotokopi sendiri di ruang tata usaha. Kamu temenin aku ya.”
Ririn mengangguk.
Mereka berdua pun akhirnya menuju ruang tata usaha yang agak di tidak jauh dari
tempat parkir. Ketika mereka melintasi lapangan parkir, mereka tak sengaja
melihat sebuah mobil yang baru saja terparkir. Si pemilik mobil turun dengan
ponsel yang masih menempel di telinga. Ririn dan Santi menatap heran pada si
pemilik mobil yang sudah sangat tak asing di mata mereka.
“ Itu Adrian’kan?
Ngapain dia ke sini sekarang? Latihan’kan nanti sore.”
Pertanyaan yang sama
suka menggerayangi kepala Ririn. Namun, dari ekspresi laki-laki itu terlihat
sangat bingung dan cemas. Ririn menebak-nebak apa yang membuat Adrian terlihat
aneh seperti itu.
Ririn langsung
kembali setelah kopian itu sudah ia dapatkan. Ben berterima kasih saat Ririn
membawa setumpuk kertas yang akan ia bagikan. Namun, gadis itu seperti tak
mengindahkan kata-kata Ben. Matanya hanya tertuju pada kursi Fi yang kosong.
Gadis itu langsung kembali berlari ke luar.
“ Eh, Rin. suratnya―”
Namun, teriakan Ben
tak digubrisnya. Sebelum Ririn sampai di kelas ia sempat melihat sosok Adrian
lagi. Kali ini ia melihat Adrian sedang bersama sedang seorang gadis. Kalau
dari di belakang, Ririn menduga perempuan itu adalah Fi. Sayang, ia tak bisa
segera memastikannya karena ada setumpuk surat di tangannya. Saat ia sampai di
kelas, batinnya benar-benar yakin kalau perempuan tadi adalah Fi. Terbukti
dengan bangku yang ditempati Fi kosong dan ketika itu bel masuk sudah
berdering. Jadi, tidak mungkin kalau Fi masih keliaran, kecuali kalau Fi memang
benar-benar bersama Adrian.
Dugaan Ririn tidak
meleset. Kali ini Ririn mendapati Adrian dan Fi sedang membicarakan sesuatu di
dekat toilet pria. Toilet pria letaknya agak di belakang. kalau melihat dari
pemilihan tempat, sepertinya pembicaraan kedua orang itu begitu serius dan
rahasia.
“ Kalau begitu kamu
sendiri yang bilang ke dia!” Fi berbicara dengan nada yang kasar.
“ Tapi, Fi, aku pikir
itu bukan keputusan yang tepat. Lagi pula untuk apa kita katakan pada dia?”
“ Aku berpikir ini
adalah keputusan yang sangat tepat. Cepat atau lambat dia akan tahu hubungan
kita.”
Deg. Jantung Ririn
berdegup kencang. Otak Ririn berpikir keras menafsirkan kata “hubungan” yang
baru saja dikatakan oleh Fi.
Di sisi lain Adrian
justru membisu seribu bahasa. Kata-kata Fi sepertinya begitu mendominasi
pikiran laki-laki itu. Kemudian terdengar helaan napas yang panjang dari
Adrian.
“ Baiklah, jika ini
akan membuatmu merasa lebih baik. Akan aku katakan padanya kalau kita memang
pacaran.”
Jantung Ririn
tertohok tombak patah hati yang begitu mendalam. Terlalu dalam, sampai ia
merasa sesak di dadanya. Napasnya tercekat, lambungnya mulas, dan kepalanya
berputar-putar. Meski begitu ia harus segera beranjak dari tempat itu. Sedikit
saja lebih lama di sana, bisa-bisa ia pingsan.
Ia berlari
sekencang-kencangnya. Ia tak menentukan kemana arah tujuan yang jelas ia ingin
menghilangkan sakit yang menggerogoti hatinya. Pandangannya mengabur akibat air
mata yang jatuh tanpa ia minta. Saat kakinya benar-benar tak mau lagi
berkompromi untuk membawanya menjauh, ia baru sadar kalau langkah-langkah berat
itu membawanya tepat di muka gedung teater.
Ririn tak mengerti
kenapa ia harus merasa sepedih ini. Tak ada yang menyakitinya. Namun, kenyataan
justru mengoyakkan semua harapan yang pernah ia mimpikan. Belum, bahkan ia
belum pernah benar-benar memimpikannya.
Terdengar langit
menabuhkan genderang guruh. Rinai hujan mulai turun seiring gemuruh yang
bertalu-talu. Hujan yang seharusnya menjadi keberkahan justru dibenci Ririn
saat ini.
Tuhan seperti sedang
menyiramkan air garam pada lukanya.
ooOoo
Fi melihat ponselnya berdering ratusan kali sejak
terakhir kali ia mengirim sms pada Adrian. Peneleponnya pun tak usah ditebak
siapa. Bosan merasa seperti sedang diuntit, akhirnya Fi mengangkat telepon itu.
“ Fi, astagaaa! Apa kamu mau membuatku gila?
Semalaman aku telepon kamu, tapi kenapa baru sekarang kamu angkat?”
“ Oh, bukannya kamu
yang buat aku gila? Sudahlah, aku sedang malas membicarakan alasanku.”
“ Oke, oke, aku tahu kalau itu salahku.
Sekarang aku minta kamu berhenti bersikap seperti ini. Aku benar-benar minta
maaf padamu.”
“ Lakukan
permintaanku lalu aku bisa memaafkanmu.”
Adrian terdengar
mendesah panjang, “ Baiklah, aku turuti
asal kamu mau maafin aku.”
“ Kalau gitu datang
ke sekolah saat jam istirahat. Di sana baru aku akan kasih tahu apa mauku.”
“ Oke, aku akan ke sana.”
Fi tersenyum puas. Ia
melangkah ringan saat menuju ke sekolah. Hatinya tak pernah seriang ini
sebelumnya. Mungkin karena ia membayangkan bagaimana ekspresi Ririn saat Adrian
mengatakan yang sebenarnya.
Ya, ia berencana
untuk memaksa Adrian agar mengatakan hubungan mereka pada gadis itu. Dengan
begitu Fi yakin kalau Ririn tidak akan mengharapkan Adrian lagi. Ia tahu kalau
kelemahan gadis itu adalah saat diberi tekanan.
Adrian kembali
meneleponnya ketika bel istirahat baru saja berdering. Senyum sinis Fi kembali
mengembang.
“ Aku sudah sampai, Fi. Kamu mau ketemuan
dimana? Aku masih di tempat parkir”
“ Temui aku di
belakang toilet pria. Kalau kamu dari tempat parkir, lurus saja ke kanan sampai
habis koridor.”
Setelah menutup
telepon, Fi bergegas menuju tempat janjian mereka. Di belakang toilet mungkin
bukan tempat yang baik, tapi tempat yang bagus untuk membicarakan sesuatu yang
serius dan rahasia.
“ Wah, cepat juga
kamu sampainya,” sapa Fi ketika ia sudah bertemu dengan Adrian.
Adrian menghela napas
panjang, “ Aku datang untuk menebus kesalahanku. Aku harap setelah aku
melakukannya kamu berhenti mencurigaiku seperti ini.”
“ Aku harap juga
begitu,” Fi tersenyum sinis. “ Kamu tenang saja, aku gak bakal minta yang
aneh-aneh.”
“ Memangnya apa yang
mau kamu minta?”
“ Sederhana saja, aku
cuma minta kamu ngomong langsung sama Ririn kalau kita itu sudah pacaran.
Dengan begitu dia gak bakal dekat-dekat dengan kamu lagi dan juga tatapan
matanya itu yang terlalu terang saat melihatmu.”
Adrian terkesiap, “
Tapi’kan aku gak selingkuh, Fi. Buat apa aku harus melakukan hal itu?”
“ Kenapa, kamu gak
bisa atau gak mau?” nada bicara Fi terdengar emosi. “ Kalau begitu kamu sendiri
yang bilang ke dia!”
“ Tapi, Fi, aku pikir
itu bukan keputusan yang tepat. Lagi pula untuk apa kita katakan pada dia?”
“ Aku berpikir ini
adalah keputusan yang sangat tepat. Cepat atau lambat dia akan tahu hubungan
kita.”
Adrian terhenyak. Ya,
kata-kata Fi memang tidak salah, mereka memang pacaran dan kenapa tidak mau
membuktikannya. Entah kenapa ada rasa yang memberatkan Adrian untuk mengakuinya
sendiri di depan Ririn. Seolah-olah ia akan melakukan pengakuan dosa. Namun,
jika ia bisa kehilangan gadis ini bila tak mau melakukannya.
Pilihan yang sulit.
Adrian pun mendesah panjang.
“ Baiklah, jika ini akan membuatmu merasa
lebih baik. Akan aku katakan padanya kalau kita memang pacaran.”
Fi menatap mata
Adrian dalam-dalam. Ada keseriusan terpancar pada sinar matanya. Emosinya pun
melunak. Perlahan ia meraih tangan Adrian yang tergantung bebas dari gravitasi.
“ Maaf, tapi aku… aku
hanya tidak bisa menahan rasa cemburuku. Dalam pikiranku hanya terpikirkan cara
ini. Aku hanya tidak ingin kamu memandang dia dengan cara yang sama ketika kamu
memandangku.”
Adrian mengangguk
pelan. Ia membalas genggaman tangan gadis itu. Perlahan senyumnya mengembang.
“ Gak apa. Maaf aku
yang sudah terlalu ceroboh melakukannya. Jujur, aku tidak punya perasaan apa
pun sama dia. Aku cuma menganggap dia seperti adikku sendiri. Mungkin kamu
keliru mengartikan semua itu.”
Sebenanrya Fi masih
tidak terima Adrian menganggap Ririn istimewa, meski hanya sebatas kakak-adik.
Namun, ia tak mau merusak momen ini dengan amarahnya. Toh, nantinya juga Adrian yang akan mengatakan sendiri pada gadis
itu. Untuk sekarang ia bisa tenang menjalani hubungan mereka.
Angin berderu
kencang. Langin mulai bergemuruh. Pertanda hujan itu pun membuat Fi dan Adrian
harus memisahkan diri. Lagi pula waktu istirahat sudah berlalu sepuluh menit
yang lalu. Dengan langkah yang ringan Fi pun kembali ke kelas.
ooOoo
Ririn merasa bahunya diputar paksa. Ia pikir orang
yang menarik bahunya itu adalah Adrian. Mungkin saja Adrian dan Fi melihatnya
yang tidak sengaja menguping. Lantas Adrian menyusulnya dan akan mengatakan apa
yang diminta oleh Fi. Jika benar itu Adrian, maka Ririn sudah siap-siap
mengambil seribu langkah.
Ternyata orang itu
adalah Alexi.
Ririn terpana dengan
kehadiran laki-laki itu. Dengan seragam yang basah serta kacamata yang dipenuhi
titik-titik hujan, laki-laki itu sanggup menemukannya di sini. Padahal Ririn
sendiri baru sadar ia berada di depan gedung teater beberapa saat yang lalu.
Dari ekspresi Alexi
yang tampak cemas, harusnya Ririn tahu siapa orang yang paling
mengkhawatirkannya. Ia juga harusnya tahu siapa orang yang selalu ada di saat
ia butuhkan. Bukan Adrian yang ia harapkan, tapi hanya sosok Alexi yang selalu
tersenyum padanya.
“ Kamu gak apa-apa?
Kenapa kamu hujan-hujanan di sini?”
“ Ka—kamu…”
tenggorokan Ririn terasa serat. Sulit baginya untuk meneruskan kaliamatnya.
“ Mungkin kamu gak
lihat aku, tapi aku tadi kita berpapasan waktu kamu lari-lari keluar kelas. Gak
tahu kenapa, tapi aku langsung ikutin kamu sampai di sini,” terang Alexi yang
sepertinya sudah tahu apa yang akan dikatakan Ririn.
“ Ja—jadi, kamu sudah
tahu?”
Alexi terdiam
beberapa saat, lalu mengangguk pelan. Di saat itulah air mata Ririn kembali
meleleh. Rasa sesak itu kembali bersarang di dadanya.
Hujan turun semakin
deras. Namun, Alexi tahu di mana perbedaan antara tetesan hujan dan air mata
gadis itu. Ia mencoba menghapus lelehan cairan asin yang mengalir dari sudut
mata gadis itu.
Meski air hujan
membasahi sekujur tubuh laki-laki itu, tapi tangannya terasa hangat saat
menyentuh pipi Ririn. Ia bisa merasakan sentuhan jemari yang kurus dan panjang.
Sungguh khas jari-jari seorang pianis. Bukan sentuhan biasa, ada sebuah sensasi
yang menggetarkan hatinya sehingga rasa sesak itu perlahan mengabur.
Alexi ingin menyentuh
pucuk kepala gadis itu. Ia merasa sebuah sentuhan lembut lagi akan membuat
gadis itu merasa lebih baik.
Namun, sayang ketika
beberapa senti lagi tangan Alexi menyentuh kepalanya, mata Ririn bertemu dengan
sosok Wenda yang ada di belakang laki-laki. Jarak Wenda cukup jauh dan mungkin
Alexi sendiri tak menyadari, tapi Ririn sangat yakin ada sinar cemburu memancar
dari tatapan gadis itu. Ririn pun buru-buru menarik dirinya. Ia tahu Alexi akan
kaget dengan reaksinya.
“ Aku sudah baikan.
Kamu kembalilah, nanti masuk angin. Aku juga akan kembali ke kelas.”
Tangan Alexi masih
menggantung di udara. Ia tak bisa mencegah Ririn meninggalkannya. Ia tak tahu
kenapa gadis itu langsung pergi begitu saja. Apakah ia sudah melakukan sesuatu
yang melanggar batas? Hatinya terus-terusan bertanya.
ooOoo
Ben menggerutu gara-gara Ririn mengabaikannya. Tak
hanya Ben, tapi Wenda juga bertanya-tanya kenapa Ririn terlihat begitu melesat
keluar begitu cepat. Penasaran dengan apa yang akan Ririn buru, Wenda pun
ikut-ikutan melangkah keluar.
Di saat itulah ia
melihat Alexi yang berpapasan dengan Ririn. Kedua orang itu tak saling sapa,
tapi tanpa pikir panjang Alexi langsung menyusul gadis itu. Napas Wenda
tercekat, ia pun tak ragu-ragu lagi melangkahkan kakinya. Sengaja atau tidak,
tapi mereka bertiga terlibat adegan kejar-kejaran.
Langkah Wenda
terhenti saat ia berhenti di depan toilet pria. Ia ragu apakah ia harus
mengikuti Alexi ke sana. Ia berpikir mungkin saja Alexi hanya mau ke toilet,
bukan mengejar Ririn. Namun, ia melihat Ririn berbalik dan disusul Alexi. Wenda
dengan cepat bersembunyi, tapi langkahnya sigap mengikuti kemana pun kedua
orang itu pergi.
Ia merasa heran
kenapa Ririn mengarahkan langkahnya menuju gedung teater. Hujan mulai turun,
hal itu sempat membuatnya tertinggal cukup jauh dari kedua orang itu. Ketika ia
sampai, ternyata ia datang di saat yang tidak tepat.
Adegan yang ia
saksikan adalah ketika Alexi menyeka air mata gadis itu. Lebatnya hujan tak
membuat emosinya mereda. Ia bahkan sempat membuat kutukan agar kedua orang itu
tersambar petir.
Tiba-tiba matanya
bertemu dengan mata Ririn. Gadis itu terkesiap. Seolah merasakan kemarahan
Wenda yang membara, gadis itu langsung menghindari sentuhan Alexi berikutnya.
Tanpa banyak bicara, gadis itu langsung meninggalkan Alexi.
Wenda menyembunyikan
dirinya dari Alexi, tapi ia justru berpapasan dengan Ririn. Jutaan emosi tengah
mengusai si gadis ikal itu. Namun, Wenda hanya menatapnya dengan tatapan datar.
“ Aku tahu kamu tidak
suka, tapi tolong jangan ajak aku berdebat. Aku lelah sekali.”
Wenda dilewatinya
begitu saja dan ia tidak suka.
“ Kamu tidak akan
ingkar janji’kan?”
Langkah Ririn
terhenti. Gadis itu menoleh sedikit.
“ Asal kamu tahu, aku
lelah dianggap penganggu hubungan orang. Jadi, kamu tenang saja. Aku akan
menepati janjiku.”
Ririn mempercepat
langkahnya. Hujan pun semakin deras. Wenda juga tak mau berlama-lama di tempat itu.
Ia tak mau dirinya masuk angin dan yang lebih ia hindari adalah pertemuannya
dengan Alexi saat itu.
Gemuruh semakin
berkuasa atas langit. Benang merah antara Fi, Adrian, Ririn, Alexi, serta Wenda
semakin terasa panas. Masing-masing ingin memutuskan benang merah yang melilit
kisah mereka. Namun, semakin ditarik maka mereka semakin terlilit. Jalinan
benang merah itu tak berhenti sampai di sini.
Auhtor's Note:
Merasa makin baper?? :D
please comment and share