Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

Author's Note



To my Readers...


waduuuh... ini Author ngapain sih manjang-manjangin tali kelambu pake note satu halaman?
hahahaha
tapi buat Readers-ku, aku cuma mau ngucapin terima kasih
terima kasih sudah bersama selama hampir dua tahun ini
terima kasih juga selalu sabar menanti
dan juga maaf
maaf karena kelamaan posting
maaf bikin kalian gemes sama alur ceritanya
maaf juga karena mungkin ending-nya tidak seperti yang diharapkan
sebenarnya ada hal yang membuat Author mengubah ending, tapi ya sudahlah
yang jelas sampai di sini dulu perjumpaan kita 
Author mau rehat dulu
semoga kita akan bertemu di kisah baru
*Author kangen Alexi dan Adrian huhhuhu*
sampai jumpa Readers.....

Regards

Fhanee La Mariposa


 

LOVE MUSICAL Extraordinary (Epilog)




Epilog

Tepuk tangan meriah menutup pertunjukkan itu. Tak semewah pementasan Broadway, tapi hatinya lebih bangga bisa menyelesaikan. Senyumnya lebih lebar. Seakan-akan ini adalah pementasan terakhirnya.
Para pemain memberikan salam terakhirnya. Perlahan tirai menutup dan menjadi tanda berakhirnya pementasan itu. Suasana di bali panggung kembali sibuk.
Ia berhasil menampar balik keadaan.
‘Aku masih berdiri’
Pertunjukkan telah berakhir, tapi perjuangan masih panjang. Generasi yang baru akan membawa mimpi-mimpi membumbung lebih jauh melampaui angannya. Akhirnya, ia bisa menutup matanya dengan tenang.
‘Kak, aku berhasil’


Tamat



LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 210)





Musikal 210




Sebuah titik balik dari satu kali kesempatan hidup. Memakai gaun putih dengan riasan paling cantik di dunia. Ribuan ucapan selamat mengalir. Akan tetapi, pada akhirnya hanyalah rasa gugup yang menemani. Beribu canda tak akan bisa mengalihkan perhatian. Mungkin tangis haru justru lebih cocok di saat ini.
Ini adalah hari pernikahannya. Butuh bertahun-tahun untuk meyakinkan kalau ia akan bersedia menerima sebuah lamaran. Dari seorang pria yang juga butuh waktu hingga tahunan untuk terus berusaha dan bertahan. Untuk bisa berada di momen seperti ini adalah akhir manis dari perjuangan pada perasaan masing-masing.
“Jelek. Tante jelek deh kalau lagi gugup”.
Ririn meninju perut Adrian, “Jangan pernah mengejek seorang pengantin wanita di hari pernikahannya. Tabu tahu!”
“Itulah, Rin. Terkadang aku merasa dia ini bukan keponakanku,” Tifa mengoceh kesal. “Sudah sana, pergi ke tempat Dave! Lihat, apakah persiapan di sana sudah selesai?”
Adrian terkekeh, “Om Dave sangat mencintaimu. Kalau kalian sudah menikah nanti, aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk menggoda Tante seperti ini. Front pembela Latifa Kusuma Ningsih akan bertambah”.
Tifa tersenyum seraya merentangkan tangan, “Kemarilah”.
Perasaan rindu meluap-luap ketika Adrian memeluk Tifa. Padahal tantenya hanya menikah, bukan pergi jauh. Entah kenapa rasanya ia lebih berat melepaskan daripada neneknya.
“Aku lebih mencintai Tante daripada dia”.
“Itu tak akan tergantikan,” janji Tifa.
Di tengah perasaan haru itu, seorang petugas EO menghampiri. Wajahnya tampak berseri.
“Janji suci sudah selesai. Selamat, Anda sudah resmi menjadi nyonya Blackwell”.
Adrian dan Ririn serempak memeluk Tifa. Senyum Tifa melebar, ia berusaha menahan tangis harunya.
“Ayo bersiap-siap, kita akan keluar sebentar lagi”.
Adrian melenggangkan tangannya. Tifa menyambut dengan semangat lalu ia menoleh ke belakang. Ririn mengacungkan sinyal ‘oke’ dengan jarinya. Gadis itu akan menjadi pembawa gaunnya dan ia akan berjalan didampingi oleh Adrian.
Mereka keluar dari kamar rias. Alunan musik romantis mengiringi langkah mereka. Semua mata mengarah pada tiap langkahnya. Adrian mengantarkan hingga di depan sang pemujanya. Untuk pertama kalinya Dave menyentuh Tifa sebagai miliknya utuh. Tak ada yang pelukis terkenal yang bisa meniru indahnya pemandangan ini dan tak seorang penulis pun yang sanggup mendefinisikan rasa bahagianya.
Kini mereka menyatu dalam suatu ikatan pernikahan.
July hanya bisa mengusap air mata harunya. Adrian, Ririn, serta para tamu membalas dengan tepukan meriah. Ternyata kebahagiaan itu juga menular. Ada momen merah jambu yang menyelimuti hari itu.
ooOoo
Pesta kembali berlanjut. Semua terasa meriah, tapi kekeluargaan lebih terasa. Hal itu karena Tifa sengaja memadukan konsep pesta barat dengan outdoor party. Ia memang tak suka dengan konsep kedaerahan yang membatasi antara tamu dan mempelai. Ia ingin berbincang dan menari bersama karena ini adalah pestanya. Semua orang harus bahagia bersamanya.
Hal itu juga diperkuat dengan persetujuan keluarga Dave yang memang berasal dari Inggris. Mereka justru akan bingung jika harus mengurus ini-itu yang tak terbiasa dengan kultur mereka. Meski July sempat mengomel karena Tifa sama sekali meninggalkan budaya, tapi karena konsepnya yang mewah dan tidak ribet, akhirnya ia mengalah.
Dansa pertama dibuka oleh kedua mempelai. Dave dan Tifa menampilkan dansa romantis yang membuat semua orang iri. Tanpa ragu Adrian mengajak neneknya untuk ikut berdansa. Hal itu mengundang tawa semua orang. Namun, keduanya seolah tak peduli. July justru menunjukkan kebolehan waltz-nya. Tawa sindiran itu berubah menjadi tepuk tangan kagum. Siapa sangka tarian seorang nenek justru mencuri perhatian.
Beberapa pasangan lain ikut berdansa. Seperti Riani, Gloria, dan Hana. Tentunya mereka bersama pasangan masing-masing. Para anak muda juga tak mau kalah. Ben dan Wenda, serta Kemal dan Priyanka. Fi yang datang bersama Rafi juga tak malu-malu menunjukkan kemesraan mereka.
“Uuh, mereka semua dansa,” keluh Andani. “Aku jadi iri”.
“Kamu gak sendiri, An,” Ririn terkekeh. “Ada aku dan Jane”.
Anjani justru tak berminat untuk bergabung dalam tarian itu. Musik berubah. Tiba-tiba hentakan musik lebih bersemangat. Dansa romantis itu berganti menjadi tarian penuh semangat.
Dari pintu masuk, terlihat beberapa tamu yang datang. Andani seperti tersengat lebah saat melihat sosok Mori tersenyum padanya. Ia tak bisa mengucek mata karena terhalang maskara tebal, tapi saat ia membelalakan mata ia jadi yakin kalau sosok yang ia lihat adala Jiro. Kali ini ia tak peduli dengan heels 17 cm-nya, ia berlari dan melompat dalam pelukan pemuda itu. Ia tak mau melepaskan sedetik pun, bahkan Hiro yang menyapanya harus merasakan rasanya diabaikan.
“Wah, sungguh kejutan kalian ada di sini. Bukannya kalian sibuk di sana?” sapa Ririn.
Hisashiburi, minna,” Hiro menggeleng-geleng saat melihat cara Jiro membujuk Andani yang merajuk. “Ahh, gak heran kenapa Jiro tergila-gila padanya”.
“Bagaimana caranya kalian bisa kemari?” tanya Anjani.
“Segala upaya,” Hiro terkekeh. “Aku mau memberi salam pada Miss Tifa dan Davu-san. Setelah itu aku juga mau berdansa. Ada yang mau menemaniku?”
“Anjani sedang free kok,” Ririn dengan usilnya mendorong Anjani hingga gadis itu hampir terjungkal. “Gomen, Senpai. Aku mau menikmati makanan enak”.
“Hei, Rin—aku—”
Hiro dengan senang hati menarik Anjani agar bersamanya. Ririn hanya tertawa melihat bagaimana Anjani harus menahan malunya ketika diajak Hiro menari. Namun, Hiro meyakinkannya kalau tak akan ada yang memperhatikan. Di sini semua orang sedang berpesta, bahkan kedatangan mereka tak ada yang mengacuhkan.
Ririn mengabaikan tawa ceria dari orang-orang yang sedang menari. Ia tak punya partner. Sebelumnya Adrian berjanji untuk mengajaknya berdansa, tapi sepertinya ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menari bersama tantenya.
Ia kembali menatap pintu masuk. Tak ada. Benar-benar tak ada yang datang lagi. Padahal begitu melihat kedatangan Hasegawa bersaudara, ia berharap kalau Alexi juga bersama mereka. Akan tetapi, ia baru ingat kalau Alexi di Korea dan duo Hasegawa itu di Australia. Dua Negara, dua benua. Australia cukup dekat dengan Indonesia, tapi Korea perlu waktu setengah hari agar bisa sampai.
Desah napas terdengar lebih berat. Di saat semua orang berkumpul bersama orang terkasih, ia justru merasa kesepian. Tak bermaksud egois, tapi ia juga ingin merasakan kebahagian itu. Sayang, ia harus bertahan dengan kesabaran. Penantiannya pasti akan dibayar mahal.
Do you miss me?”
Satu detik. Dua detik. Tiga….
Ririn berbalik. Di saat itulah waktu terasa terhenti. Hanya gurat senyum pemuda itu yang bergerak perlahan. Ririn ingin memastikan bahwa sekarang ia tidak sedang bermimpi. Musik kembali bermain, orang-orang kembali melenggokan tubuh, dan angin yang menyisir helaian rambut, ketika itulah ia baru sadar kalau sosok di hadapannya ini bukan khayalan. Penantiannya telah kembali. Ririn membalas senyumannya.
Yeah, I miss you”.

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 209)





Musikal 209


Tiga bulan kemudian

Untuk pertama kalinya SMA Chandra Kirana menerima siswa laki-laki. Rasanya sedikit aneh ketika melihat seragam bercelana berkeliaran di sekolah. Wajah-wajah baru mulai menghiasi sekolah. Para anggota LM pun beranjak menjadi kakak kelas.
Dengan berkacak pinggang, Fi menyambut kedatangan Andani, Priyanka, dan Ririn. Ketiga gadis itu sudah berupaya datang secepat mungkin hingga napas mereka terengah-engah. Namun, masih saja terlambat.
“Dari mana saja, sih? Aku sendirian nungguin stand”.
“Kan kita sudah bilang kalau kita ngurusin klub kita dulu,” sahut Andani. “Aku baru minta izin sama klub padus, Ririn baru balik dari klub Koran, dan Priyanka juga dari klub balet”.
“Oh, jadi karena Cuma aku yang gak ikut klub lain kalian tega ninggalin aku sendirian? Sisanya mana lagi?”
“Kenyataannya memang gitu,” Ririn terkekeh. “Lagian kamu ketuanya, kan?”
Fi meniup ujung-ujung poninya dengan kesal. Rasanya sedikit menyesal menerima pengukuhan ketua LM beberapa waktu lalu. Love Musical kini menjadi klub tetap di sekolah tersebut. Selain itu, klub ini juga menerima anggota dari SMA Panji Semirang. Sebelumnya pernah diadakan voting mengenai siapa yang akan memegang tampuk ketua klub. Mereka menyarankan agar ketuanya berasal dari SMA Chandra Kirana karena gedung teater ada di sana. Anggota yang lain juga mengusulkan supaya mencari ketua yang tidak terlibat dengan klub lain. Hal ini bertujuan untuk tidak terganggunya konsentrasi ketua saat mengurus klub. Selain itu, sifat disiplin dan tegas juga harus dimiliki si calon ketua.
Mereka menemukan kombinasi lengkap itu pada diri Fi. Fi sempat menolak karena ia mengira pikir kalau ini adalah upaya orang-orang untuk menjatuhkan dirinya. Akan tetapi, setelah mendengar penjelas panjang lebar, ia pun bersedia menjadi pemimpin Love Musical.
‘Awas saja waktu latihan nanti. Aku bantai kalian semua. Jangan main-main dengan jabatan ketua, ya’.
“Iya deh, Fi, sorry,” Priyanka tersenyum seraya meraih flyer klub mereka. “Kayaknya sudah banyak yang ngambil, ya?”
“Ada beberapa. Rata-rata yang datang adalah penonton kita kemarin. Pementasan kemarin sepertinya menjadi ajang promosi yang baik,” sahut Fi .
Keempat gadis ini pun disibukkan dengan kegiatan promosi. Di sela-sela aktivitas mereka, Priyanka kembali membuka obrolan.
“Eh, pernikahan Miss Tifa dan Pak Dave minggu depan, kan? Bagaimana persiapannya?”
“Sudah rampung. Tinggal menunggu hari H saja,” sahut Ririn. “Miss Tifa orangnya gak mau ribet. Jadi, hanya buat acara yang sederhana saja”.
“Kupikir akan jadi royal wedding. Oom-mu kan orangnya glamor,” Priyanka terkekeh. “Dan kamu yang jadi bridesmaid-nya?”
The nephew and the niece. What a good couple,” sahut Fi sambil membereskan flyer yang beterbangan oleh angin. “Dia jadi groomsmen-nya, kan?”
“Ah, i—iya,” Ririn menyahut terbata. Suasana berubah canggung.
Fi mendesah panjang, “Oh, sudahlah. Gak usah canggung gitu kalau sedang bahas dia. Aku udah move on kok”.
“Benar, lagian gebetan Fi—”
Fi membekap cepat mulut Priyanka agar tidak ember. Mungkin teman-temannya sudah merasakan kedekatan Fi dengan Rafi. Hanya saja ia belum mau jadi bahan pembicaraan. Pertengkaran mereka terhenti saat seorang gadis mengawasi mereka dari jauh.
“Hei, kamu!” panggil Andani. “Tertarik dengan duani teater? Ayo, ke sini”.
Gadis berkuncir itu malu-malu mendekati stand. Fi dan Priyanka pun menghentikan pertengkaran mereka.
“Selamat datang di Love Musical. Aku Andani dari tim musik. Boleh tahu siapa namamu”.
“Na—namaku Nayla. Aku siswa baru. Kemarin aku menonton pertunjukkan kalian dan itu sangat menakjubkan”.
“Wah, kami merasa tersanjung,” sahut Priyanka. “Apa kamu tertarik untuk bergabung dengan kami?”
“I—iya, tapi aku tidak berbakat apa pun. Aku tidak bisa berakting, suaraku pas-pasan, dan badanku juga kaku. Apa orang sepertiku bisa masuk klub ini?”
Akhirnya Fi buka suara, “Dengar, gadis manis. Kami tidak memerlukan orang berbakat di sini. Kami mencari orang yang punya tekad kuat dan mau bekerja keras. Kamu bukan sekumpulan orang yang akan tampil di Broadway, tapi kami bisa membimbingmu menuju ke sana”.
“Tidak ada orang yang tidak memiliki bakat,” Ririn ikut menimpali. “Hanya saja kamu gak tahu sampai kamu menekuninya”.
“Itu benar,” sahut Andani dengan senyum yang lebar. “Jadi, bagaimana? Tertarik?”
Wajah gadis itu berubah cerah. Ia mengangguk mantap.
“Kalau begitu silakan isi formulirnya,” Andani menyerahkan selembar kerta bserta pena.
Priyanka merangkul Fi dan Ririn, “Wow, nice words, girls! Apa jadinya jika Ririn dan Fi bersatu? Langit pun runtuh”.
“Lebaaay,” Fi melepaskan tangan Priyanka yang langsung disahut tawa Ririn.
Gadis bernama Nayla itu tampak bingung lalu diserahkannya kembali formulir itu pada Andani, “Kak, maksud poin kedelapan ini apa, ya?”
Andani juga ikut bingung sekaligus kaget saat membacanya. Ia langsung menyerahkan formulir pada ketiga temannya.
“Pemeran utama dilarang pacaran dengan sesama anggota Love Musical?” Priyanka tertawa sarkastis. “Syarat gila macam apa ini?”
Ririn menyahut, “Lebih tepatnya siapa yang menulis ini?”
Tatapan langsung mengarah pada Fi. Gadis itu hanya mengangkat bahu dengan ekspresi polos.
Well, mitos itu memang ada. Aku cuma gak mau kejadian berulang”.
Ketiga gadis ini hanya bisa mengelus dada.
“Diisi saja dulu. Itu hanya masalah teknis saja,” lerai Andani.
Gadis itu mengangguk. Ia berterima kasih setelah membubuhkan tana tangan pada formulir itu.
“Baiklah, nanti kami hubungi jika latihan sudah dimulai. Sampai jumpa lagi, Nayla”.
Gadis itu pun berlalu dan keempat gadis ini kembali bergosip.
“Ngomong-ngomong, apa cowok-cowok oriental kalian akan datang di pesta nanti?” ujar Priyanka.
“Alexi?” Ririn menggeleng. “Ada resital di sekolahnya. Lagi pula dia kan masih murid baru, aku pikir tidak semudah itu meminta izin cuti”.
“Ya, sama,” sahut Andani lemas. “Dia harus latihan untuk mini konser musim panas ini”.
Priyanka mendesah berat, “Kalian memang cewek-cewek tangguh. Hebat sekali bisa saling menjaga perasaan dengan jarak sejauh itu. Kalau aku, pisah sekolah saja sudah sangat terbebani”.
“Wah, wah, wah, aku benar-benar gak percaya loh kalau sekarang Kemal mau serius sama kamu,” ujar Andani. “Padahal dulu dia sukanya sama—aww!”
Ririn tak mengindahkan Andani yang mengaduh karena injakan kakinya. Andani dan Priyaka memang mirip kalau soal mulut ember.
“Berhentilah bergosip!” omel Fi seraya menyerahkan setumpuk flyer. “Sana, pergi promosi!”
Ririn, Andani, dan Priyanka hanya bisa mengulum senyum. Ternyata mereka telah memilih seorang diktator titisan Latifa Kusuma Ningsih.