Total Tayangan Halaman

Sabtu, 21 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 124)




Musikal 124

Dave menghentikan mobilnya di depan pintu masuk rumah sakit. Ia hanya menurunkan Adrian dan Fi. Kemudian ia bergegas untuk pergi ke tempat lain.
“Kalian langsung temui Tifa. Saya masih ada urusan lain. Ingat, jangan sampai ada orang yang memperhatikan kalian!”
Setelah mobil Dave berlalu, Adrian dan Fi langsung menuju kamar Tifa. Suasana canggung menyelimuti ketika mereka berjalan berdua. Koridor bangsal yang sepi pun membuat kecanggungan itu semakin terasa.
“Apa sudah ada wartawan yang menemuimu?”
Fi tersentak saat Adrian lebih dulu menyapanya. Suara tedengar gemetar saat menjawab.
“Be—belum, tapi kuharap tidak ada ada.”
Keadaan kembali sunyi.
“Ba—bagaimana keadaanmu?”
“Tidak begitu baik,” kemudian Adrian terdiam beberaa saat. “Apalagi setelah kejadian itu.”
Fi mengurungkan niatnya untuk bercakap-cakap lagi. Mereka pun akhirnya sampai di bangsal Tifa. ternyata wanita itu seorang diri di kamar tanpa ada yang menemani.
“Dimana Nenek?”
“Tante suruh dia keluar dulu,” Tifa membetulkan posisi duduknya. “Aku sudah tahu apa yang terjadi. Sayang, aku tidak bisa bebrbuat banyak karena sebentar lagi kemoterapiku akan dimulai.”
Kemoterapi? Fi terkejut saat mendengar kata itu terlintar dari bibir Tifa.
“Tunggu! Apa maksud Miss kemoterapi? Memangnya anda sakit apa?”
Tifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malas rasanya menjelaskan penyakitnya berulang-ulang.
“Kanker perut, stadium dua lanjutan.”
Sejenak Fi merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia menoleh cepat pada Adrian, tapi pemuda itu justru membuang pandangannya. Sama seperti Tifa, malas rasanya kalau harus menjelaskan situasi ini berulang-ulang.
“Sidahlah, Fi. Bukan itu yang harus kamu cemaskan sekarang, tapi masalah kalian berdua sendiri,” tegas Tifa. “Dengar, aku sudah mengatur jadwal konferensi pers besok siang. Kenpaa besok? Karena kita harus lihat dulu perkembangan kabar ini. jika memang sampai membahayakan pementasan kita, maka konferensi per situ harus dilaksanakan. Jika tidak, maka kita biarkan saja berita ini. Anggap saja ini hanya gosip belaka
“Untuk saat ini kalian harus bersembunyi dulu dari kejaran media. Carilah temoat yang aman. Untuk Adrian, aku sarankan kamu menginap dulu di rmah Dave. Jangan di sini, karena itu akan membuat kabar [penyakitku ikut tersebar. Dan untukmu Fi, aku harap kamu bisa menginap di salah satu rumah temanmu.”
“Apa yang harus kami katakan pada konferensi pers nanti?” tanya Adrian.
“Ah, maaf. Tante belum berpikir sampai ke sana, tapi kalian ini aktor’kan, pemeran utama pula. Tante yakin kalan bisa berimprovisasi di depan wartawan nanti.”
Tak sengaja Fi dan Adrian beradu pandang. Mereka seolah mencari jawaban di wajah mereka masing-masing. Di tengah keheningan itu tiba-tiba pintu bangsal di ketuk. Kemudian muncullah seorang perawat.
“Nona Latifa. Lima belas menit lagi kita akan mulai kemoterapinya. Harap segera bersiap.”
Setelah mengiyakan perkataan perawat itu, Tifa pun kembali membicarakan masalah mereka.
“Baiklah, persiapan akan dilakukan oleh Dave. Kalian tunggu saja kabar darinya. Ingat, jangan pernah angkat Hp kalian kecuali itu dari orang tua atau Dave, atau jika perlu ganti saja nomor dan beritahu orang-orang yang penting saja.
“Dan terakhir, semoga berhasil.”
Pintu bangsal kembali terbuka. Kali ini ada beberapa perawat yang masuk dengan sebuah troli yang penuh obat-obatan. Tampaknya mereka akan segera menyiapkan sesi kemoterapi tersebut. Fi dan Adrian pun diminta menunggu di luar.
“Adrian? Bagaimana Tantemu?”
Perhatian Adrian dan Fi teralih oleh kedatangan seorang wanita tua. Adrian senang melihat kedatangan wanita yang ternyata adalah neneknya.
“Sebentar lagi kemoterapinya dimulai. Kami disuruh menunggu di luar.”
July mengangguk lalu matanya beralih pada sosok Fi yang dari tadi hanya diam. Entah kenapa tatapan July seolah ingin menelisik wajah Fi lebih dalam. Fi pun jadi salah tingkah dibuatnya.
“Kamu anaknya Ican’kan?”
Baik Fi maupun Adrian, keduanya sama-sama terkejut. Mereka tak mengerti kenapa July bisa tahu meski hanya sekali lihat.
“Saya ingin bicara denganmu.” Matanya mengerling pada Adrian. “Kamu tunggu di sini ya. Kalau ada apa-apa, hubungi Nenek.”
Adrian terlihat ragu, tapi ia tak bisa menolak. Ia pun merelakan Fi pergi bersama neneknya.
ooOoo
Tentu saja Fi tidak bisa menolak permintaan itu. Jantungnya berdegup kencang. Otaknya berpikir keras. Mencoba menerka-nerka apa yang akan mereka bicarakan. Apa dia akan dihakimi lagi, seperti Tifa menghakiminya? Atau dia akan dipermalukan di depan umum, seperti saat ini? Namun, apa pun itu Fi sudah menyiapkan diri. Toh semua orang sudah tahu aib-nya.
July mengajaknya berbincang di kafetaria. Tak ada tanda-tanda emosi yang akan meledak dari wanita ini. ia bahkan menawari Fi untuk memesan teh hangat. Namun, tenangnya sikap July semakin memperbesar prasangka buruk di benak Fi.
“Bagaimana kabarmu? Dan ibumu juga?”
“Ti—tidak begitu baik,” Fi menelan ludahnya dengan susah payah. “Ada banyak yang terjadi belakangan ini, tapi Mama saya baik-baik saja.”
July menarik napas panjang, “Sudah lama sekali saya tidak melihat kalian. Pertama dan terakhir adalah ketika namamu berubah.”
Fi tersentak, “Na—nama saya diubah?”
“Ya, apa Selvi tidak memberitahumu?” Sudut bibir July tertarik sedikit saat melihat Fi menggelengkan kepalanya. “ Hmm, wajar Selvi tak memberitahumu karena itu adalah permintaan egois saya dulu.”
Fi merasa ada satu rahasia lagi akan terkuak. Jantungnya berpacu semakin cepat.
“Waktu kami tahu kalau Ican ternyata sudah menikah dan mempunyai anak, kami semua marah. Apalagi ketika Ican membawa Selvi dan kamu yang masih bayi ke rumah. Di saat itu saya tidak bisa menahan amarah saya. Makanya saya memutuskan melarang Ican menggunakan nama belakang yang sama dengan keluarga kami yang lainnya.”
“Maksudnya?” tanya Fi dengan bibir tergigit.
“Mungkin kamu tidak tahu, tapi Ican dan Laksmi serta Tifa adalah sepupu. Ican memiliki nama belakang ‘Kusuma Nugraha’ sama seperti Adrian. Menurut garis keturunan ayah Tifa, untuk anak laki-laki diberi nama belakang ‘Kusuma Nugraha’ dan yang perempuan adalah ‘Kusuma Ningsih’. Makanya sebelum kami mengetahui kalau kamu juga anak Ican, nama aslimu adalah Firdayanti Kusuma Ningsih.
“Tapi kami semua tidak menerima hal itu. Bagi kami, kamu hanyalah anak hasil perbuatan gelap antara orang tuamu. Apalagi waktu itu kami masih berkabung atas kematian Laksmi. Waktu itu juga Ican mengatakan ada kemungkinan kalau Laksmi bunuh diri akibat stres setelah mengetahui kalau Ican dan Selvi berselingkuh. Makanya saya tidak mengizinkan nama ‘Kusuma Ningsih’ melekat pada namamu.”
Tiba-tiba saja Fi menjadi geram mendengar penjelasan itu. Darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.
“Tapi Mama saya tidak melakukannya dengan sengaja! Dia juga tidak mau jadi perusak rumah tangga orang!”
July menarik napas, “Tenanglah, saya hanya membicarakan masa lalu. Saat ini saya tidak akan menyalahkan siapa pun.”
Fi membuang wajahnya.
“Saat itu memang saat-saat yang panas. Tidak ada yang tahu siapa yang benar siapa yang salah. Semua saling menyalahkan dan mendendam. Tapi seiring waktu berlalu, saya mulai berpikir kalau tetap menyalahkan kalian tidak akan membuat Laksmi hidup kembali. Keadaan juga tidak akan menjadi lebih baik. Makanya saya mencoba memaafkan apa yang sudah terjadi, meski sulit merelakan Laksmi pergi dengan cara seperti itu.
“Tidak apa. Saya sudah menerima kamu dan ibumu dalam keluarga saya. Sayang, kejadian ini sungguh di luar kuasa saya. Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi padamu dan Adrian. Saya tahu, kamu dan Adrian pasti banyak mengalami masalah.”
Mata Fi terasa panas. Lelehan air sudah memenuhi kantung air matanya.
“Dan masalah Tifa, saya harap kamu mengerti. Kehilangan kakak dan ayah dalam waktu berdekatan tentu akan merubah watak seseorang. Meski saya tidak menyukai sifat pendendamnya, tapi saya juga tidak bisa menyalahkannya. Saya juga akan berusaha membujuk Tifa agar tidak terlalu membenci kalian lagi.”
Terdengar kaki kursi berderak. Fi tak terlalu mengindahkan July yang sudah beranjak. Kepalanya terlalu berkelut dengan permasalahan dan hatinya masih bergumul dalam emosi. Tanpa sadar air matanya meleleh menuju gravitasi. Ia baru menyadari ketika July menepuk lembut bahunya.
“Kuatkan dirimu. Masih banyak hal yang masih harus kamu hadapi,” July lalu tersenyum lembut. “Ngomong-ngomong, kamu boleh memanggilku Nenek.”
Kalimat terakhir July bagaikan angin segar di musim panas. Begitu menyejukkan sampai-sampai Fi tak kuasa melepas isaknya. Ternyata Tuhan masih mengirimkannya orang baik ketika seluruh dunia memusuhinya.
“Te—terima kasih, Nek.”

LOVE MUSICAL Extraodiinary (Musikal 123)




Musikal 123

“ Kita dalam masalah besar!”
Hana mendesah panjang. Ia dan kedua temannya sedang berkumpul di ruang kepala sekolah guna membahas masalah yang baru saja menerpa mereka. Hana benar-benar tak menduga kalau akan ada bencana besar seperti ini. Belum hilang rasa terkejut mereka karena Tifa terkena kanker, sekarang kabar mengejutkan membuat jantung mereka serasa berhenti berdetak.
Gloria mondar-mandir gelisah, sementara Riani meski tak bersuara, tapi raut wajahnya terlihat tidak tenang.
“ Apa Tifa tahu soal ini?” ujar Riani.
“ Pasti tahu,” sahut Gloria sambil menggigit ujung ibu jarinya. “Hei, apa menurut kalian ini ada hubungannya dengan penyakit Tifa? Maksudku Tifa jadi anfal gara-gara kejadian itu?”
“Bisa jadi, tapi bukan itu masalahnya sekarang,” ujar Hana seraya menarik napas panjang. “Dengar, aku tidak yakin pementasan ini masih bisa berjalan. Setelah skandal ini tersebar, masyarakat akan memandang negatif terhadap pementasan kita, sekolah kita, belum lagi nama baik orang-orang yang terlibat dalam pementasan ini. Tapi yang paling menderita di sini pasti orang-orang yang terkait dalam skandal itu. Coba kalian pikir apa yang akan terjadi pada Fi, Adrian, juga Tifa setelah skandal ini tersebar?”
 “ Aku tidak yakin mereka akan bertahan,” ucap Gloria.
“Benar. Kalau kita, tidak akan jadi masalah bila pementasan ini batal, tapi bagi mereka skandal ini benar-benar merusak nama baik mereka. Mereka publik figur. Sangat sulit untuk mendapatkan kembali imej baik di mata masyarakat. Terutama Tifa. Pementasan ini adalah harga mati untuknya.”
Gloria tak menyahut lagi. Dalam benaknya, ia memosisikan dirinya sebagai Tifa dan ternyata itu sangat sulit.
“Untuk itulah aku memanggil kalian berdua kemari. Mungkin saja kita bisa menemukan jalan keluar untuk masalah ini,” Hana memecahkan kebisuan. “Kita tahu sendiri’kan saat ini kondisi Tifa membuatnya tidak bisa diandalkan. Seandainya dia tidak mengalami kondisi buruk juga, mungkin kita tidak terlalu risau saat skandal ini tersebar.
“ Aku mengerti bila kalian masih kesal atas sikap Tifa kemarin, tapi kuharap kalian bisa menyingkirkan perasaan itu dulu. Ini bukan masalah pribadi, tapi menyangkut kepentingan banyak orang. Jika ide kalian berhasil, akan ada banyak hal bisa kita selamatkan. Setelah masalah ini selesai, aku serahkan Tifa pada kalian. Asal kalian tahu saja, aku juga ingin menggantung Tifa dengan tanganku sendiri.”
Tak ada jawaban. Keheningan menyelimuti mereka cukup lama.
“Aku tidak bisa mengambil langkah besar, tapi mungkin kita harus meliburkan latihan untuk sementara waktu. Dengan begitu anggota yang lain tidak akan punya kesempatan untuk membicarakan masalah ini. Selain itu, mereka juga tidak akan mem-bully Fi atau Adrian ketika latihan,” ujar Riani. “Aku tidak punya ide yang bisa menyelamatkan semua orang atau sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah ini, tapi aku harap ini bisa memperkecil masalah yang ada.”
Hana mengangguk setuju, “Itu juga bagus, Ri. Sebelum pulang, aku minta kalian mengabarkan pada mereka. Tidak hanya latihan harian, tapi juga latihan menginap. Kita liburkan selama dua minggu, atau paling tidak sampai Tifa selesai kemo.”
Gloria terkesiap, “Eh, Tifa mau kemo?”
“ Ya, tadi saat aku mau membicarakan masalah ini pada Dave, dia bilang kalau Tifa dijadwalkan kemo hari ini,” Hana mendesah panjang kembali. “Perempuan itu benar-benar dalam masalah sekarang.”
Akhirnya Gloria menempelkan pantatnya di kursi. Ekspresinya yang gelisah berubah menjadi seperti orang pesakitan.
“Masalah ini terlalu banyak untuknya. Sepertinya aku terlalu egois saat menyiramnya dengan kopi kemarin.”
“Tidak, Glo. Sekali-sekali dia memang harus diberi pelajaran,” Hana menyunggingkan senyuman sinis. Ia lalu melirik arlojinya. “Pukul satu nanti aku akan ada rapat dengan para petinggi yayasan. Kupikir mereka akan membahas masalah ini. Jadi, bila ada hal yang merugikan untuk pementasan ini, aku akan sekuat tenaga untuk membela perempuan itu.”
“Maksudmu, para dewan akan membatalkan pertunjukkan ini?” tanya Riani.
“Bisa jadi, tapi aku akan berusaha untuk mempetahankannya. Karena aku tahu kalau perempuan itu sangat menginginkan pementasan ini.”
“Sebenarnya bukan hanya dia,” ujar Gloria pelan. “Tapi aku juga merasa senang bisa kembali ke dunia ini lagi. Berat rasanya bila pementasan ini batal setelah apa yang kita alami selama ini. Aku tidak mau Love Musical bubar lagi seperti dulu.”
“Ya, aku juga sama,” sahut Riani.
Hana hanya mengangguk pelan. Matanya beralih pada pemandangan di luar jendela. Cuaca terlihat mendung. Sama mendungnya dengan suasana di dalam ruangan ini.
‘Aku juga ingin bertahan….’
ooOoo

Ben mengumumkan bahwa mereka tidak akan latihan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Seisi kelas langsung riuh redam. Mereka mempertanyakan alasan liburan mendadak itu. Namun, Ben hanya menjawab tidak tahu karenan memang ia tidak diberi tahu apa yang terjadi.
Bel pulang memadamkan keriuhan itu. Masing-masing dari mereka memilih segera pulang dan menikmati liburan, meski sebagian yang lain masih mendesak penjelasan dari Ben. Di tengah keributan itu, Kemal mencoba menyelinap ke bangku Priyanka. Untung dia bergerak cepat karena Priyanka sudah menyandang tasnya untuk pulang.
“ Ah, hei! Tunggu sebentar!” Kemal mencenggat Priyanka yang baru saja beranjak. “Tadi mau kuberikan pas istirahat, tapi aku cariin kamu hilang.”
Kemal meletakkan kunci motor di meja Priyanka. Gadis itu terlihat kaget, tapi senyumnya mengembang lebar.
“Oh, cepat juga. Terima kasih ya,” Priyanka meraih kunci motornya. “Kalau gitu aku duluan.”
“ Eh, tunggu sebentar,” Kemal kembali menahan gadis itu. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Errr, ini soal… temanmu.”
Priyanka berdeham, “Ah, maaf. Aku tidak mau membahas masalah itu.”
“Begini, aku tidak mau bergosip. Aku hanya ingin tahu kebenaran. Yah, kalau bisa aku mau meluruskan jika ada orang-orang yang berkomentar ini tentangnya. Jadi, kupikir kamu tahu sesuatu tentang dia.”
Priyanka menunduk lalu menggelengkan kepalanya. Kemudian kembali menatap Kemal.
“Maaf, tapi aku… aku benar-benar tak bisa menjelaskan. Emm, aku duluan. Terima kasih motornya.”
Priyanka pun berlalu. Menyisakan Kemal yang penuh tanda tanya. Di sisi lain, Ririn juga sedang bergegas pulang karena ia tak sedang tak ingin pulang bareng Andani. Sahabatnya yang satu itu sedang asyik membicarakan aib temannya sendiri dan Ririn risih akan hal itu.
“Mau pulang bareng?”
Ririn menoleh ke belakang. Ia baru saja melewati bangku Alexi dan si pemilik bangku ternyata baru saja mencangklong tasnya. Pemuda itu tersenyum dan Ririn membalasnya dengan anggukan.
“Hari ini terlalu bising ya. Untung kita cepat pulang.”
Ririn mengangguk. Keduanya berjalan berdampingan di koridor. Gadis itu memberanikan diri melirik pemuda di sampingnya.
“Kamu kemana waktu istirahat tadi?”
“Oh, aku berkumpul dengan Jiro Senpai dan Hiro Senpai. Kami baru saja membuat perkumpulan ‘orang-orang yang tahu masalah ini’,” Alexi tersenyum usil. “Kamu juga boleh ikut kok.”
“Tapi aku gak suka bergosip, meski aku tahu kebenarannya.”
Alexi tertawa kecil. Mereka berdua pun sampai di parkiran. Alexi melepas kunci sepedanya, kemudian memberi kode pada Ririn untuk duduk di sadel belakang.
“Ngomong-ngomong, kamu tahu kabar terkini soal Fi?” tanya Alexi setelah sepedanya meluncur.
“Tadi pagi aku bertemu dengannya. Ternyata dia belum tahu kalau skandalnya sudah tersebar. Untung Om-ku cepat datang dan segera membawa Fi pergi. Om-ku bilang, itu adalah misi penyelamatan Fi dari Miss Tifa,” jawab Ririn. Kemudian nada suaranya terdengar ragu. “Ada Adrian juga di dalam mobil itu.”
Alexi membisu sejenak.
“Kamu mencemaskannya? Adrian maksudku.”
“Kita semua mencemaskan mereka, bukan?”
“Ada lebih banyak orang yang lebih suka berbicara hal-hal buruk ketimbang mencemaskan mereka. Ada juga yang hanya sekadar ingin tahu. Tapi yaah, tetap ada yang mencemaskan mereka. Aku hanya ingin memastikan kamu ada di posisi mana.”
Ririn mendengus kesal. Kenapa Alexi seolah-olah menuduhnya? Bukan, bukan menuduhnya akan jadi penggosip, tapi menuduh seperti ia sedang berselingkuh dengan Adrian. Hei, tunggu dulu! Ia tidak akan pernah jadi selingkuhan Adrian dan juga, Alexi bukan pacarnya. Jadi, kenapa laki-laki ini harus diberikan penegasan?
“Bisa kita akhiri saja pembicaraan ini? Aku benar-benar tidak ingin membicarakannya lagi?”
Alexi pun menutup mulutnya. Hingga Ririn sampai di depan rumahnya tak satu patah kata pun keluar dari bibir mereka berdua. Tampaknya tak hanya dunia luar yang panas, tetapi di sini juga ikut-ikutan perang dingin.
“Ayahmu ada di rumah?” kalimat pertama itu meluncur setelah Ririn turun dari sadelnya.
“Eh, tidak,” Ririn tak menyangka kalau Alexi akan menanyakan mengenai ayahnya. “Dia sedang tugas di Pagaralam. Ada apa?”
“Yah, kupikir kalau ada aku harus memberikan salam padanya,” Alexi tersenyum sambil memutar sepedanya. “Baiklah, kalau begitu sampai nanti.”
Ririn menatap punggung Alexi sampai bayangannya menghilang. Semenjak hari itu, sikap Alexi selalu berubah-ubah. Terkadang ia menunjukkan sikap manisnya, tapi kalau sudah membicarakan tentang Adrian, ia langsung berubah menjadi sangat protektif. Mencecar dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan atau akan membisu seolah tidak mengacuhkan orang yang ada di sekitarnya.
Ririn tak mau terbawa perasaan. Namun, jika boleh, Ririn akan mengatakan kalau Alexi seperti sedang cemburu padanya. Pemuda itu cemburu karena perhatian Ririn lebih fokus pada Adrian sekarang. Kalau memang iya, lantas kenapa? Alexi tak patut cemburut. Faktanya, dari dulu Ririn memang menyukai Adrian dan Alexi juga bukan pacarnya. Ingin rasanya Ririn mengatakan hal itu sekeras mungkin pada Alexi.
Sekali lagi, Ririn tak mau terbawa perasaan. Akhirnya ia memilih untuk beristirahat di rumah dan menyimpan perasaan kesalnya.


Sabtu, 14 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 122)




Musikal 122

Ririn tak sengaja berpapasan dengan Fi saat ia baru akan masuk pintu gerbang sekolah. Mata mereka bertemu ketika Fi baru saja turun dari mobil. Hanya saja ia merasa risih dengan cara Ririn menatapnya pagi itu.
“ Apa?” tanyanya ketus.
Ririn masih termangu. Namun, saat sadar Fi melewatinya, ia buru-buru mencegah kepergian gadis itu.
“ Ada apa sih?”
Kebiasaan Ririn menggaruk ujung hidungnya kembali kumat, “ Ahh, Fi. Apa sebaiknya kamu gak usah masuk sekolah dulu?”
Fi menatapnya heran, “ Memangnya apa alasan kamu melarang aku masuk sekolah?”
Mendengar jawaban Fi, giliran Ririn yang menatapnya heran.
“ Lho, kamu memangnya gak baca berita? Nonton gosip pagi mungkin?”
“ Semalam Hp-ku kumatikan dan baru sadar kalau memang habis baterei. Nih, baru saja di-charge di mobil,” Fi menunjukkan layar ponselnya yang sedang dalam proses booting. “ Aku gak langganan Koran dan aku juga gak suka nonton gosip di TV. Jadi, apa ada hubungannya antara semua itu dengan larangan aku gak boleh masuk sekolah?”
Ririn menarik napas panjang. Terlihat rasa takut dan ragu dari tatapan matanya.
“ Dengar, Fi. Keributan di kafe waktu itu, ternyata direkam seseorang dan semalam orang iseng itu sudah menyebarkannya. Semua orang heboh karena skandal video itu.”
Tubuh Fi mengejang, matanya terbelalak. Seketika ia mengguncang-guncang bahu Ririn.
“ Siapa? Siapa orang yang merekamnya?”
“ A—aku gak tahu, Fi,” Ririn menjawab dengan gugup. “ Tapi aku berani sumpah kalau bukan aku yang melakukannya. Aku juga berani jamin kalau Priyanka, Alexi, Hiro dan Jiro senpai juga tidak terlibat.”
Tangannya Fi mencengkram bahu Ririn lebih kuat. Di saat yang sama, ponselnya baru saja aktif dengan sempurna. Di saat itu pula puluhan pesan masuk. Disusul dengan deringan telepon yang tak putus-putus.
Tak perlu dilihat, Fi sudah tahu siapa yang akan kerepotan bila ada skandal yang menyangkut dirinya tersebar luas. Kalau bukan pihak manajemennya, pasti orang-orang dari media. Mereka adalah orang-orang yang sensitive walau hanya masalah kecil, apalagi skandal besar seperti ini.
“ Fi… teleponmu….”
Ponsel yang ada di tangannya tak ayal berubah bagaikan bongkahan es yang mampu membuatnya menggigil. Ia melirik layar ponselnya dengan takut. Setelah memastikan nama yang tertera berasal dari pihak manajemen, barulah ia memberanikan diri mengangkat deringan itu.
Seperti yang ia duga, setelah sapaan halo, sederet pertanyaan langsung dilayangkan kepadanya. Tentu saja mengenai skandal video itu. Bagaimana yang sebenarnya terjadi, siapa yang merekam, dan masih banyak lagi.
Fi merasa pusing. Dunia telah berputar lebih cepat dari biasa. Tubuhnya limbung dan jika tak ada Ririn di sana, mungkin ia sudah terkapar pingsan.
“ Fi, kamu baik-baik saja?”
Ririn tak bisa menebak ekspresi gadis itu. Perasaan marah, bingung, dan sedih semuanya tergambar di sana. Fi tak menjawab pertanyaannya. Hanya terdengar desah napasnya yang pendek-pendek.
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Si pemilik mobil itu turun dan menghampiri keduanya. Ririn cukup kaget saat mengetahui kalau si pemilik mobil adalah pamannya sendiri.
“ Om, sedang apa di sini?”
“ Om di sini untuk membawa Fi,” Dave kemudian menatap Fi. “ Fi, keadaannmu dalam gawat. Kamu ikut saya dan tidak usah sekolah hari ini. Akan ada banyak pers di luar sana dan akan menyusahkan semua orang kalau kamu masih di sini.”
Fi masih bergeming, sedangkan Ririn terlihat bingung.
“ Ini perintah langsung dari Tifa,” ujar Dave.
Mendengar nama itu amarah Fi langsung meledak, “ Kenapa? Kenapa aku harus menurutinya? Kenapa semua orang harus menuruti kehendaknya? Hanya karena dia seorang sutradara, bukan berarti aku harus selalu tunduk padanya.”
“ Masuklah, Fi. Kita tidak punya banyak waktu.”
Kaca mobil Dave tiba-tiba turun lalu tampaklah seorang pemuda dari dalam mobil. Baik Fi maupun Ririn, mereka sama-sama terkejut saat melihat sosok Adrian dari balik kaca mobil.
Ririn berdeham, “ Kupikir kamu harus ikut, Fi. Mungkin Miss Tifa sudah punya rencana untuk meredakan situasi ini.”
Perasaan Fi semakin kacau balau saat matanya bertemu pandang dengan Adrian. Kenapa semua masalah menumpuk jadi satu dalam tempo yang sangat singkat. Mau tak mau akhirnya ia digiring Dave masuk ke mobil. Saat ini ia memang sama sekali tak punya pilihan untuk menghindar.
“ Rin, kamu sekolah saja baik-baik. Jangan bicarakan apa pun mengenai kasus ini! Demi nama baik kita semua.”
Ririn mengangguk pelan. Kemudian mobil itu pun perlahan meninggalkannya. Hanya kepulan asap sisa pembakaran yang masih di sana. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Hatinya berdebar-debar membayangkan bagaimana reaksi teman-temannya pagi ini.
ooOoo
Benar saja, semua pembicaraan pagi ini heboh oleh skandal video itu. Saat Ririn melangkahkan ke kelas, pembicaraan pun masih sama, bahkan lebih heboh. Ia tak berniat menyapa siapa pun karena ia pasti akan terlibat pembicaraan itu. Bahkan ia hanya bertukar pandang dengan Priyanka, meski gadis itu juga tak berniat membicarakannya.
“ Sudah nonton video Fi dengan Adrian?”
“ Ya, ampuuun. Aku tidak menyangka kalau mereka ternyata bersaudara.”
“ Ihh, padahal kemarin sombong sekali saat mereka mengumumkan tentang hubungan mereka.”
“ Hahaha, rasakan! Dasar sombong!”
Suasana terasa bising dan panas. Caci maki terdengar di sana-sini. Tawa penuh cibiran tak kalah membahana membahana. Ririn hanya berharap sesi belajar hari ini dimulai lebih cepat dan berakhir lebih lama, supaya orang-orang itu bisa mengalihkan pembicaraan mereka.
Bel istirahat berbunyi. Pembicaraan menyebalkan itu kembali terulang. Semua orang membicarakannya, termasuk Andani. Gadis itu terlihat sangat bersemangat saat membicarakan perihal skandal video itu. Ririn jadi malas untuk mengajak Andani ke kantin. Ia melirik bangku Alexi, tapi si pemilik bangku sudah lebih dulu meninggalkan kelas lalu disusul Priyanka. Sepertinya kedua orang itu tidak mau terlibat dalam pembicaraan menyebalkan ini karena sedikit saja informasi itu bocor maka gosip langsung merebak bak virus.
Akhirnya Ririn mengikuti langkah kedua orang itu. Namun, ia bingung mau ke mana ia pergi. Ia memutuskan untuk perpustakaan. Baru saja beberapa langkah meninggalkan kelasnya, ia langsung disambut oleh teman-teman dari kelas terdahulunya.
“ Hei, Rin. Lama gak ketemu. Mau ke mana?”
“ Ke perpustakaan. Kalian mau ke kantin?”
“ Iya. Eh, Rin. Kita-kita mau pada tahu dong soal skandal video itu.”
Ririn mendesah berat. Lagi-lagi itu.
“ Iya nih, Rin. Itu video beneran gak sih? Terus Fi dan Pangeran Adrian itu beneran kakak-adik?”
Dan masih banyak lagi. Ririn terlalu panik sampai-sampai ia lupa menggaruk ujung hidungnya. Pertanyaan itu terlalu mendesaknya sehingga sulit baginya untuk tetap tutup mulut.
“ Ya ampun, Rin. Di sini kamu! Ditungguin dari tadi!”
“Kak Dela….”
Seniornya yang manis ini tanpa babibu langsung menarik Ririn dari kerumunan. Kehadiran Dela seperti penganggu yang merusak acara interograsi. Namun, bagi Ririn, Dela justru menjadi malaikat penyelamat.
“Maaf ya, gadis-gadis. Nih anak sudah aku tungguin dari tadi. Kalau kalian mau bicara sama dia, nanti ya setela pembicaraan kami selesai.”
Terdengar nada-nada kecewa ketika Dela membawa Ririn pergi. Ririn sama sekali tidak menoleh ke belakang. Ia takut kalau teman-temannya berniat mencegahnya pergi. Ia juga tidak bertanya ke mana Dela akan membawanya pergi. Namun, hatinya menjadi tenang saat mereka sampai di depan pintu dengan plang bertuliskan ‘KLUB KORAN’.
“Gak ada tempat yang aman, hm?” ujar Dela seraya mendorong pintu tersebut.
Tak ada yang berubah dari tempat itu. Suasana tetap tenang. Hanya terdengar suara ketikan keyboard, printer yang berderit, suara kertas yang dibolak-balik, dan sedikit tertutupi dengan alunan musik pop lembut. Aroma tinta yang baru menempel di kertas bercampur dengan bau khas buku-buku lama menambah kesan menenangkan dalam ruangan itu. Tidak ada keramaian, tidak ada skandal video, dan tidak ada ocehan-ocehan yang penuh dengan nada saling tuduh.
Ririn selalu merindukan tempat ini.
“ Hai, Rin!” sapa Mirna yang pertama kali menyadari kehadiran mereka. Matanya mengerling jahil pada Dela. “Kamu kayak kepanasan gitu, Del. Di luar panas ya?”
“Gak tahu ah!” dumal Dela seraya menyambar sebuah komik dan membuka halamannya dengan kasar. “Yang jelas bikin budeg.”
Mirna tertawa, “Eh, duduk, Rin. Tuh ada marshmellow bawaan Sulis. Dimakan gih.”
Ririn mengambil tempat di sebelah Dela. Kemudian gadis bernama Sulis itu mendekati Ririn dengan satu eksemplar Koran yang baru terbit.
“Nih, Rin. Koran kita udah jadi. Bahasannya tentang pementasan kamu. Coba deh kamu baca.”
Ririn membaca sekilas headline pada lembaran Koran itu. Hatinya senang karena tak satu pun berita yang memuat gosip tak jelas.
“ Rencananya besok baru mau kita sebarin,” sahut Mirna. “Semoga berita-berita positif di sini bisa meredam gosip yang lagi beredar sekarang.”
Ririn mendesah berat, “Kalian juga tahu?”
“Tentu saja, tapi kami bukan seperti mereka yang di luar sana. Ini klub Koran bukan geng rumpi. Kita membahas fakta bukan gosip.”
Jempol Ririn teracung untuk Mirna. Senang rasanya menemukan oasis di tengah-tengah Sahara yang tandus.
“Oh iya, Rin. Aku mau tanya soal mitos Love Musical,” ujar Sulis.
“Mitos yang mana ya?” tanya Ririn.
“ Itu loh, mitos yang bilang kalau sedang jadi pemeran utama Love Musical, dia gak boleh pacaran dengan sesama anggota. Kalau dilanggar nanti kisah cintanya bakalan berakhir tragis.”
Napas Ririn tercekat di tenggorokan. Oom-nya pernah mengatakan hal itu dan ia sempat tidak memercayainya. Sayangnya, mitos itu seolah terbukti pada hari ini.
“Maksud kamu, itu ada hubungannya dengan kejadian hari ini, Lis?” sahut Mirna. “Eh, kita’kan sudah janji kalau gak bakal bahas-bahas masalah itu? Apalagi di depan Ririn.”
“ Aku bukan mau bahas masalah itu, Kak,” bela Sulis. “ Aku cuma mau nanya soal mitos itu aja. Soalnya bukan kali ini aja kejadian. Bahkan katanya―”
PUK! Kemudian terdengar suara Sulis mengaduh. Ternyata Dela dengan sengaja memotong kata-kata Sulis dengan memukul kepala gadis itu dengan punggung komik.
“ Sulis… dengar gak kata Mirna tadi? Kita ini cuma bicara fakta dan bukan gosip. Dan mitos termasuk gosip, paham?”
Sulis merengut lalu mengomel pada Dela. Pembicaraan seputar mitos pun berhenti, tapi semua fakta yang berkaitan dengan mitos itu masih berputar di kepala Ririn. Entah kenapa korelasi antara semua kejadian yang ada dengan mitos tersebut membuat bulu kuduknya merinding. Tiba-tiba saja ada paranoid yang menghantui Ririn ketika ia membayangkan apa yang akan terjadi nanti.