Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Mei 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 29)



Musikal 29


Lima belas menit berlalu. Kelima juri pun kembali dari tempat perundingannya. Fi dan Ririn diminta untuk berdiri di depan teman-temannya. Mereka berdua menunggu hasil perundingan dengan jantung yang dag dig dug. Begitu pun teman-teman mereka. Seketika ruangan terasa senyap.

“ Sebenarnya mereka berdua memiliki bakat yang hebat. Kita semua mengakui hal tersebut,” ujar Tifa membuka hasil pengumumannya. “ Tapi pemeran utama hanya ada satu.”

“ Dan dia adalah….”

Tifa sengaja mengulur waktu untuk melihat ekspresi orang-orang yang ada di sana. Perasaan gugup tak hanya menjalari kedua peserta, tetapi juga penonton yang lain. Semakin lama Tifa mengulur waktu, perasaan mereka semakin tak jelas.

“ Selamat kepada… Firdayanti. Kamu terpilih sebagai pemeran utama!”

Dewi Fortuna saat itu benar-benar berada di pihak Fi. Ia meloncat kegirangan saat namanya disebut sebagai pemeran utama. Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada juri sekaligus mentornya nanti. Lalu ia alihkan pandangannya pada Priyanka. Gadis itu juga bersorak riang.

Di sisi lain awan mendung menyelimuti perasaan Ririn. Ia tak berani mengangkat wajahnya lagi. Ia merasa malu. Malu pada teman-temannya dan juga malu kepada dirinya sendiri. padahal tadi ia sudah sangat percaya diri, apalagi ketika Adrian juga ikut berdansa bersamanya. Sayang ternyata harapannya musnah. Rasa percaya diri itu justru menelannya ke dalam jurang penuh cacian.

“ Kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Suara itu. Suara yang selalu memberikannya semangat. Perlahan-lahan Ririn mengangkat wajahnya. Ternyata benar, suara itu berasal dari laki-laki yang selalu menggunakan kacamata tebal. Senyuman tulus darinya seperti menyiram dahaga Ririn setelah kehausan yang panjang.

Belum sempat Ririn membalas kata-kata itu, ia langsung diserbu oleh Andani. Sahabatnya itu memeluknya dengan rentetetan kalimatnya.

“ Huaaa… kamu hebat kok, Rin. Kamu jangan sedih karena kalah, tapi kamu boleh nangis kok.”

Ririn sebenarnya mau tertawa. Bagaimana mungkin ia bisa menangis, sementara Andani duluan yang sudah berurai air mata.

“ Aku setuju. Kamu beneran hebat kok,” ujar Anjani. “ Tapi ternyata keputusan berbeda dari yang diharapkan.”

“ Padahal si Adrian tadi sudah ikutan dansa,” sahut Ben. “ Apa itu gak menambah nilai bonus ya buat Ririn?”

“ Mungkin juri punya penilaian sendiri,” ujar Wenda, lalu ia mengulurkan tangannya. “ Yah, setidaknya kamu sudah berhasil mengerjakan PRmu. Aku akui kamu tadi sangat memukau.”

Ririn menyambut tangan Wenda, “ Terima kasih.”

“ Hanya dapat pemeran kedua. Kamu tetap bagian dari Love Musical kok,” ujar Kemal.

Ririn tersenyum. Ia pandangi teman-temannya satu persatu, “ Semuanya, terima kasih ya. Yaah, sebenarnya aku malu karena tidak bisa memenuhi harapan kalian. Padahal kalian sudah bekerja keras membantuku,” Ririn lalu menghapus air mata Andani. “ An, udah dong. Aku yang kalah, masa kamu yang nangis bombay.”

“ Ha—habisnya kamu sih…” Andani ikut menghapus air matanya sambil sesegukan.

“ Gimana kalau kita sekarang jalan-jalan atau makan? Hitung-hitung buat menghibur Ririn. Lagi pula kita sudah dapat dispensasi belajar’kan?” ujar Ben. “ Gimana?”

Mereka pun langsung menyetujui usulan Ben. Seperti telah melupakan kesedihannya, Ririn pun langsung ikut menentukan tempat mereka hang out.

“ Eh, teman-teman kalian duluan aja ya. Aku mau ganti baju dulu,” ujar Ririn.

Ririn pun segera memisahkan diri. Namun, ia ragu saat akan melewati pintu keluar, karena di sana Fi, Priyanka, dan Adrian sedang bercakap-cakap. Sayang, pintu keluar cuma satu. Akhirnya mau tak mau ia harus melewati ketiga orang itu.

“ Hei, wanita penggoda!”

Tak hanya Ririn, tapi Fi pun ikut kaget saat Adrian memanggil Ririn dengan sebutan itu. Fi langsung memasang tatapan sinisnya ketika Adrian menghampiri gadis itu

“ Ma—maksud  kamu, aku?” tanya Ririn sambil menunjuk hidungnya.

“ Siapa lagi yang berhasil menggodaku berdansa?” ujar Adrian sambil terkekeh. “Kamu tadi memang luar biasa. Kalau sampai aku tak berdansa denganmu tadi, rasa-rasanya aku akan menjadi manusia paling merugi di dunia ini.”

‘ Sekarang siapa menggoda siapa coba?’ Ririn berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. “ A—aku anggap itu pujian.”

Adrian kembali tertawa, “ Jujur aku pilih kamu tadi. Sayang, hasil voting berkata lain.”

Sekali lagi, Fi dan Ririn sama-sama terkejut. Benarkah demikian?

Ririn mulai merasakan kalau Fi sedang mengintimidasi melalui tatapannya. Ia pun buru-buru meminta diri. Bahaya kalau Fi sampai memandanginya terus-menerus dengan cara seperti itu.

ooOoo

Niatan awal Ririn memang ingin berganti baju. Namun, sebenarnya ia ingin menyendiri sejenak. Ia tak bisa menenangkan perasaannya bila terus menerus di tengah keramaian. Hatinya sedang campur aduk dan ia butuh bernapas sendirian.

Bohong kalau ia tak bersedih. Bohong kalau ia tak kecewa. Bohong kalau ia baik-baik saja.

Air mata Ririn jatuh setelah ia mengambil satu tarikan napas yang panjang. Kekecewaan dan kesedihan sepertinya tak pantas untuk sebuah hasil yang ia perjuangkan. Padahal ia sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan peran utama ini. Ia pikir semua berjalan mulus, tapi ia harus menelan pil pahit ini.

Di tengah-tengah rasa sedih yang menderanya, tiba-tiba saja ada selembar handuk sengaja dilempar untuk menutupi kepalanya. Ririn dengan cepat menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik handuk tersebut. Lagi-lagi perbuatan si laki-laki berkacamata tebal itu.

Ririn berusaha menghapus air matanya. Namun, laki-laki itu justru menepuk-nepuk kepalanya yang tertutup handuk. Dari nada bicaranya, Ririn tahu laki-laki ini sedang tersenyum.

“ Bisa repot kalau ada salah satu dari teman-temanmu melihat kamu menangis di sini. Makanya aku tutup pakai handuk.”

“ Da—darimana kamu tahu kalau aku nangis di sini?”

Alexi menghela napas. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Ririn dengan jawaban yang seharusnya.

“ Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau dua.”

Alexi tersenyum saat melihat handuk di kepala Ririn terangguk-angguk.

“ Ya sudah, kalau bisa sekarang nangisnya dipercepat. Teman-temanmu sudah menunggu di sana.”

Ririn mengangkat handuk itu dari kepalanya. Air matanya sudah kering. Ia pun bisa memberikan senyumannya yang paling tulus pada laki-laki itu.

“ Al, terima kasih banyak.”

ooOoo

Tidak terasa hari sudah semakin sore. Ririn dan teman-temannya menghabiskan waktu di game center dan makan-makan di salah satu restoran cepat saji. Ketika matahari mulai tergelincir, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

‘ Ini saat yang tepat.’

Ketika mereka berangkat Ririn dibonceng Kemal, sedangkan Andani bersama kembarannya. Kedua gadis ini sama-sama tidak membawa kendaraan pribadi. Makanya ketika pulang, mereka menaiki kendaraan yang sama.

Kemal dan Ririn tiba di parkiran paling akhir. Ia sengaja menahan Kemal lebih lama supaya ia bisa mengatakan hal penting pada laki-laki itu. Hal penting itu tentu saja pernyataan cinta Kemal beberapa hari yang lalu.

“ Hmm, Kemal. Aku mau jawab pernyataan cinta kamu waktu itu.”

Kemal mengurungkan niatanya untuk memakai helm. Perasaannya langsung tidak enak. Ia tahu apa jawaban gadis itu. Sesuai perjanjian, mereka akan berpacaran kalau Ririn berhasil mendapatkan peran utama. Namun, semua orang tahu bagaimana hasilnya.

“ Iya, aku tahu,” ujar Kemal terkekeh. “ Tapi kamu tadi beneran gak berniat kalah’kan?”

Ririn menggeleng cepat. Hal itu membuat Kemal kembali tertawa.

“ Kamu begitu mempesona Adrian. Bagaimana mungkin kamu sengaja kalah. Yaah, kurasa memang kita tidak berjodoh. Hmm, tapi kalau kamu memang suka sama aku, gak apa-apa kok kalau kita melanggar perjanjian.”

Ririn menggeleng pelan, lalu ia tersenyum, “ Ini bukan masalah perjanjian, tapi masalah prinsip.

“ Kemal, aku tahu kalau kamu mudah jatuh cinta pada setiap wanita meski itu hanya pandangan pertama. Sayangnya, aku nggak bisa kayak gitu. Meski kamu bilang kamu akan buat aku jatuh cinta sama kamu, tapi aku merasa itu nggak akan berhasil.

“ Jujur aja, aku gak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Menurutku cinta itu butuh proses. Aku percaya cinta itu enggak lahir dari hubungan yang serba gampang.”

Kemal mendesah panjang. Ia kembali tertawa sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

“ Wah, wah, baru kali ini aku ditolak dengan kalimat sepanjang itu. Berapa lama kamu menyusun kata-katamu itu?”

“ Ah, nggak. Aku mengutip itu dari Yamada Ryosuke.”

“ Apa Yamada Ryosuke itu seorang filsuf?”

Ririn menggeleng sambil tersenyum geli, “ Bukan, dia cuma member sebuah boyband.”

Tawa Kemal meledak, “ Astaga, aku dikalahkan oleh seorang pria lembut,” kemudian ia memasang helm dan menstarter motornya. “ Rin, maaf ya. Aku lagi patah hati sama kamu. Jadi, kamu pulang sendiri aja. Daaah…”

Napas Ririn tercekat. Ia tak tahu kalau Kemal bisa setega itu. Patah hati sih boleh saja, tapi pikirkan juga nasib anak gadis orang. Sekarang sudah gelap, angkot akan sulit didapat, dan bagaimana Ririn akan pulang? Kemal ternyata orangnya sadis juga.

Dengan helaan napas berat, Ririn menyusuri parkiran mall itu. Ia harus segera bergegas agar masih bisa mendapat angkot. Namun, ada keberuntungan kecil yang diberikan Tuhan hari itu. Ternyata masih ada seseorang yang menunggunya di depan pintu keluar dari parkiran tersebut.

Tidak pakai motor, hanya sebuah sepeda. Ririn kaget bercampur bingung. Bagaimana mungkin laki-laki itu tahu kalau ia masih ada di parkiran? Lalu apakah laki-laki itu mendengar semua percakapannya dengan Kemal? Cepat-cepat Ririn mengesampingkan semua dugaannya itu. Ia pun segera menghampiri laki-laki berkacamata tebal yang sedang tersenyum padanya.

“ Ha—hai, kakamu masih di sini?”

Tanpa mengurangi kadar senyumannya, laki-laki itu memberikan kode agar Ririn segera naik di sepedanya. Ririn tak bertanya ataupun membantah. Segera setelah ia mendudukkan pantatnya, sepeda itu meluncur menembus langit malam Palembang.

“ Hari yang berat ya?” tanya Alexi tiba-tiba.

Ririn tak bisa menjawab. Satu kata saja keluar dari bibirnya, ia pastikan air matanya ikut jatuh. Ia pun hanya bisa mengangguk, meski ia tahu Alexi tak bisa mendengarnya.

“ Bersandar saja bila itu bisa sedikit meringankan bebanmu.”

Ririn tak bisa lebih bersyukur lagi karena telah dipertemukan dengan laki-laki itu. Ia seperti malaikat penolong yang Tuhan turunkan dari surga. Semua kegalauannya hari ini bisa terselesaikan hanya dengan bersandar di punggung pria ini.

‘ Aku berhutang padamu, Al….’


Insipirated by Hey Say Jump “Aki, Hare, Boku ni Kaze ga Fuita”


Author's Note:
Jiaaah... selamat buat Fi yang lulus seleksi pemeran utama. Author tolong ditraktir yah...
Buat yang patah hati jangan sedih yah. Ingat, patah tumbuh hilang berganti *author digebukin Kemal*
Well, author mau curhat dikit boleh yaaa... Dalam pembuatan musikal 29 ini author sampai galau loooh... abisnya selama pembuatan author dengerin lagunya Hey Say Jump yang judulnya "Aki, Hare, Boku ni Kaze ga Fuita". Berasaaa musim gugur di hati, tapi di luar musim asep, wkwkwkwk, soalnya pembuatan part ini udah setahun yang lalu bertepatan dengan kabut asap yang melanda Palembang.
Jujur aja ini musikal kesenengan author, kalau lagi buntu ide biasanya author suka balik baca part ini. Hoaaalah... author juga mau lah boncengan ala-ala dorama gitu... eaaaak *galau mode on*
Oh iya, kalimat Ririn waktu nolak Kemal itu emang bener dikutip dari Yamada Ryosuke kok. Auhtor pernah baca trivia dia dan ucapannya menyentuh banget. *peluk erat Yama-chan*
Okeee... sampai di sini dulu curhat author, maaf panjangnya melebihi postingannya dan maaf postingan minggu ini rada error, soalnya asisten author yang melakukannya *bungkuk dalem-dalem*
So, tetap pantengin Love Musical Extraordinary minggu depan!!!!

Please comment and share

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 28)



Musikal 28



Audisi kedua pun akhirnya tiba. Semua anggota Love Musical baik dari SMA Chandra Kirana maupun SMA Panji Semirang diberikan dispensasi belajar hari itu. Selain karena sang Kepala Sekolah turut menjadi juri, Tifa ingin agar kedua peserta bisa mempersiapkan dirinya dengan baik, dan tidak diribetkan dengan urusan sekolah. Untunglah Hana mengiyakan permintaannya ini.

Para anggota Love Musical sudah memenuhi ruangan klub balet. Mereka juga mau menyaksikan siapa yang akan menjadi pemeran utama dalam pementasan ini. Satu persatu juri sudah duduk di tempatnya masing-masing. Selain Riani, Gloria, Tifa, dan Adrian, kedatangan Hana sebagai juri ternyata cukup mengejutkan anggota Love Musical. Mereka bertanya-tanya alasan kenapa Hana ditempatkan sebagai juri tambahan untuk audisi kedua.

Pukul sembilan acara itu dimulai. Ririn dan Fi mengambil undian untuk menentukan nomor urut tampil. Ternyata Fi akan tampil lebih dulu, dan Ririn setelahnya. Fi segera bersiap di hadapan para juri, sementara Ririn kembali bergabung dengan teman-temannya.

Tifa memberi kode pada Fi agar segera menampilkan tarian terbaiknya. Fi mengangguk, dan tak lama kemudian musik pun mengalun. Fi mengawali tariannya dengan senyuman penuh rasa percaya diri.

‘Terlalu sempurna,’ batin Tifa.

Fi memang tampil maksimal hari itu. Ia bahkan mempersiapkan kostum persis seperti gadis-gadis eropa di abad 19. Musik yang dipilih juga musik klasik yang entah apa namanya. Sangat sesuai dengan balet kontemporer yang ia tampilkan. Fi menampilkan kesempurnaan pada pertunjukkannya pagi itu.

Tifa menilik satu persatu rekannya sebagai juri. Mereka semua terkesima dengan penampilan Fi. Lalu ia mengedarkan pandangannya kepada para penonton. Ekspresi mereka sama, kagum dan terpukau. Namun, itu tak membuat gairahnya naik.

‘Terlalu sempurna itu membosankan.’

Tepuk tangan penonton mengakhiri penampilan Fi. Gadis itu menundukkan kepala sebagai simbolis salam. Mau tak mau Tifa harus memberikan tepuk tangannya. Bagaimana pun penampilan Fi memang bagus, meski tak sesuai dengan seleranya.

Di deretan bangku penonton ada seseorang yang sedang tersenyum jumawa. Priyanka memberikan appalause yang paling keras ketika Fi menyelesaikan tariannya. Ternyata semua mentoringnya selama ini berhasil. Fi berhasil memikat penonton hari ini. sebagai gurunya ia merasa bangga atas pencapaian muridnya.

Di sisi lain, ada seorang penonton yang menyaksikan penampilan Fi dengan tegang. Penonton sekaligus peserta terakhir itu tak lain adalah Ririn. Penampilan Fi yang begitu memukau membuatnya sangat gugup. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana tidak, Fi tak hanya memanjakan penonton dengan tariannya, tapi juga lengkap dengan kostum dan make up yang cantik. Sementara ia hanya memakai tank top dan legging hitam yang saat ini masih tertutup oleh jaketnya. Ia menyesal kenapa ia tak mencari kostum terlebih dahulu sebelum tampil.

Tiba-tiba ia merasa kedua tangannya digenggam. Refleks ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ternyata Ben dan Kemal merasakan kekhawatiran gadis itu. Mereka membagi semangat lewat genggaman tangan itu.

“ Jangan cemas!” bisik Kemal.

“ Kita bantai mereka!” Ben berbisik dengan nada berapi-api.

Ririn terkekeh. Lalu ia menghembuskan napas yang panjang. Kata-kata Ben dan Kemal berhasil membuat semangatnya kembali berkobar. Tak lama kemudian, namanya pun dipanggil. Ia beserta Ben dan Kemal pun beranjak ke hadapan para juri. Sebelum ia bangkit dari tempat duduk, seseorang yang di belakangnya dengan menepuk pundaknya sekaligus berbisik.

“ Aku dan yang lain akan selalu mendukungmu.”

Ririn menyempatkan menoleh ke arah sumber suara. Ternyata suara bisikan itu berasal dari laki-laki yang setia dengan kacamata buram serta sisiran rapinya. Di samping laki-laki itu duduk Andani, kemudian Anjani, dan terakhir adalah Wenda. Mereka terlihat khawatir dan gugup, tapi senyuman hangat mereka seolah menyalurkan semangat yang mereka miliki. Seperti Ben dan Kemal, mereka juga percaya dengan kemampuan yang Ririn miliki. Mereka sudah memberikan banyak bantuan selama ini. Oleh karena itu, Ririn tak mau mengecewakan mereka. Ia menginginkan peran ini.

Namun, ia tak bisa mencegah bahwa ia tersanjung dengan semua dukungan dari teman-temannya. Ia tak bisa menahan senyumannya.

“ Eh, memangnya boleh bawa asisten?” bisik Riani pada Tifa saat Ririn beserta Kemal dan Ben sudah siap di hadapan mereka.

“ Rasanya aku tidak menuliskannya dalam peraturanku,” ujar Tifa sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala. “ Aku juga tidak melarangnya, yang penting hasilnya bagus.”

Riani hanya menganggukkan kepalanya. Pandangannya kini kembali fokus pada peserta yang akan segera tampil ini. seingatnya ketiga orang di depannya ini ketika audisi pertama tak ada yang menampilkan bakat menari. Fi juga sebenarnya, tapi entah kenapa Riani justru lebih meragukan peserta kedua ini.

Benar saja. Tak ada yang istimewa dari pesona awal dari gadis ini. Ia tak mengenakan kostum mewah seperti peserta sebelumnya. Ketika ia membuka jaketnya, ternyata tubuhnya hanya terbalut tank top dan legging hitam. Meski Riani harus akui kalau heels gladiator yang dikenakan gadis itu cukup keren, tapi masih tetap kalah dengan penampilan Fi. Kedua pendampingnya pun demikian. Mereka berdua hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana panjang yang warnanya sama-sama hitam. Pun dengan musik yang digunakan hanyalah lagu yang sudah sering terdengar di telinga semua orang. Entah kenapa gadis itu justru memilih lagu “Unconditional” milik Katy Perry. Tidak seperti Fi yang khusus menggunakan lagu klasik yang indah.

Namun, semua argumen Riani terbantahkan ketika gadis itu memulai tariannya. Di awal lagu ia memang menari solo, tapi tariannya itu seolah-olah memanggil Ben untuk berdansa dengannya. Ben menyambutnya, kemudian keduanya berdansa dengan penuh gairah.

Ternyata dansa keduanya justru seperti memancing Kemal untuk merebut Ririn. Kemal melakukannya. Sama seperti yang ia lakukan pada Ben, Ririn sama sekali tak mengurangi gairahnya ketika berdansa dengan Kemal.

Seolah tak terima, Ben mencoba merebut Ririn kembali. Namun, Kemal tak mau kehilangan kesempatan untuk berdansa. Mereka seolah saling mencuri kesempatan untuk berdansa dengan gadis itu. Seperti wanita yang penuh pesona, Ririn mengambil kesempatan itu untuk berdansa dengan keduanya. Ia benar-benar menampilkan sosok wanita penggodanya lewat dansa itu.

‘ Jadi begitu alurnya’, pikir Riani. ‘Gadis ini boleh juga.’

Mendekati puncak lagu, Ririn memilih untuk berdansa dengan Ben. Di sinilah ia mempraktekkan semua perintah yang Wenda pesankan dari jauh-jauh hari.

Berciuman dengan gestur tubuh…

 Keduanya saling terpaut. Mereka menciptakan jarak hanya beberapa senti. Tak peduli dengan desahan napas mereka yang saling memburu, tapi keduanya sama-sama tak mau melepaskan tatapan mereka. Ben menatap tajam, sementara Ririn mengeluarkan aura yang penuh hasrat lewat matanya. Mereka terpaku selama beberapa detik, sebelum akhirnya mereka saling melepaskan diri.

Baik juri maupun penonton, mereka semua sama-sama melepaskan napas yang sempat tertahan. Mereka sangat tegang menyaksikan dansa antara Ben dan Ririn. Semua berpikir mereka berdua akan berciuman. Bagaimana tidak, sejak awal ia berdansa, Ririn seolah menebar pesona pada Ben dan Kemal. Semua setuju kalau Ririn tidak pantas disebut bagus, tapi dia seksi sekaliii.

Setelah adegan klimaks di puncak lagu, seharusnya Ririn melanjutkan tarian solonya. Namun, ada hal yang mengganggu pertunjukkan itu. Tidak merusak acara, tapi justru mengejutkan semua orang.

Tifa tersenyum saat kursi di sebelahnya bergerak. Ekor matanya mengikuti pergerakan orang tersebut. Ia menarik napas panjang.

‘ Ini baru seru. Kejutan yang aku tunggu ternyata datang juga.’

Orang yang duduk di samping Tifa adalah Adrian. Hal yang mengejutkan itu juga perbuatan Adrian. Entah mengapa tiba-tiba laki-laki itu menyeruak di antara dansa Ririn dan Ben, kemudian merebut gadis itu. Mereka pun berdansa hingga akhir lagu.

Melihat hal itu, Ben dan Kemal langsung mundur teratur. Ririn sudah mendapatkan tokoh utamanya. Itu berarati tugas mereka sudah selesai. Ada rasa bangga di hati mereka karena telah membuat Adrian terpukau dan berdansa dengan gadis itu.

“ Tarian yang penuh feromon,” komentar Gloria.

Tifa terkekeh, “ Feromon hanya ada pada serangga jantan, Glo.”

Gloria tahu itu, tapi ia tak tahu bagaimana menggambarkan gairah yang terpancar dari dansa gadis itu. Ketika bersama Adrian, gadis itu hanya berdansa waltz biasa. Meski begitu, Gloria menganggap bahwa ini adalah simbol kemenangan mutlak untuk Ririn.

Ketika semua orang larut dalam perasaan kagum, Fi justru tenggelam dalam perasaan iri dan cemburu. Ia iri Ririn bisa menari sedemikian seksinya. Ia juga cemburu karena Adrian bisa terpancing oleh gadis itu. Bagaimana mungkin pesona gadis itu bisa menjerat sang pangeran.

Priyanka pun merasakan hal yang serupa, hanya saja sedikit berbeda. Jika Fi cemburu pada gadis itu, Priyanka justru iri pada sang pelatih. Sejak awal Ririn menari, Priyanka memerhatikan seringai kemenangan yang terukir di wajah Wenda. Gadis itu sangat puas dengan hasil yang diberikan muridnya. Disitulah letak rasa iri Priyanka. Ia iri karena Wenda telah melampaui dirinya.

Standing applause diberikan penonton untuk penampilan Ririn yang telah memanaskan suasana. Bahkan Adrian yang tadi berdansa bersamanya ikut memberikan tepuk tangan. Ririn tersenyum gugup sambil berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Bersama Kemal dan Ben, gadis itu pun menutup penampilan mereka dengan memberi salam.

“ Baiklah, audisi ini akan kami tahan sejenak untuk kami, para juri, berunding,” ujar Tifa sambil menegakkan tubuhnya. Kemudian ia beserta keempat juri lainnya pergi meninggalkan ruangan.

ooOoo

‘ Siip, tinggal satu putaran lagi…’

Ririn sudah merasa menyelesaikan tugas berat yang diperintahkan Wenda. Sekarang ia tinggal menyelesaikan tarian terakhirnya hingga lagu ini berakhir. Memang seperti itulah alur cerita yang mereka buat. Ririn seolah-olah menjadi wanita yang berhasil menggoda Kemal dan Ben, hingga mereka saling memperbutkan dirinya untuk berdansa. Di dalam cerita itu, meski Ririn sudah berhasil menggoda Ben dan Kemal, tapi sebenarnya dansa itu ditujukan pada Adrian. Ririn menggoda Ben dan Kemal untuk membuktikkan bahwa dirinya adalah wanita hebat yang pantas untuk diperebutkan.

Semua itu hanya cerita. Ririn tak benar-benar bermaksud menggoda siapapun. Namun, siapa sangka, ternyata Adrian benar-benar tergoda untuk berdansa dengannya. Setelah ia memisahkan diri dari Ben, ia bersiap untuk melakukan tarian solonya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik pinggangnya hingga ia jatuh dalam pelukan orang tersebut. Ririn pikir orang itu adalah Kemal, tapi ternyata justru Adrian.

Pikiran Ririn blank seketika. Ia tak tahu harus melakukan apa ketika Adrian sudah ada di depannya. Ia bahkan lupa dengan segala tarian yang harus ia tunjukkan. Untunglah, Adrian pandai membawa Ririn dalam langkah-langkah dansanya. Hingga tepuk tangan dari penonton membuat Ririn kembali sadar ke alam pikirnya.

“ Kamu memang benar-benar berhasil menggodaku.”

Sial. Bisikan Adrian terdengar begitu seksi di telinga Ririn. Pikiran gadis itu kembali melayang. Kalau saja Ben dan Kemal tidak menggamit tangannya, mungkin sampai matahari terbenam ia akan terpaku di tempatnya.

Adrian telah mempesonanya.

Ririn merasa ada debaran aneh di jantungnya saat laki-laki itu memandu langkahnya dalam berdansa. Kemudian bisikkan laki-laki itu yang membuat jantungnya kembali bekerja ekstra. Heran, padahal ia melakukan kontak mata yang menggairahkan dengan Ben, tapi ia tak merasakan apa-apa ketika bersama pria itu. Beberapa hari yang lalu ia juga baru saja ditembak Kemal, dan lagi-lagi Ririn tak merasakan hal menakjubkan. Hanya dua menit waktu yang dibutuhkan Adrian untuk memporak-porandakan seluruh kerja sistem syarafnya.

Ririn terpesona pada sang pangeran.


please comment and share