Musikal 139
Begitu Adrian sampai
di backstage, ternyata di sana sudah
ramai. Glori, Riani, dan beberapa murid yang lain membantu Fi untuk mengangkat
tubuh Tifa. Adrian langsung histeris. Sepertinya ia masih trauma akan kejadian
tempo hari.
“Tante,
Tante, Tante bangun!”
Gloria
kewalahan memisahkan Adrian dari Tifa. Tubuh Adrian yang besar serta emosinya
yang labil membuat Gloria harus meminta beberapa murid lelaki untuk
membantunya.
“Adrian,
tenangkan dirimu dulu!” seru Gloria. “Astaga, dimana Dave saat dibutuhkan?”
“Om
Dave sedang keluar kota,” sahut Ririn seraya mengeluarkan ponselnya. “Kita
telepon ambulans saja.”
Tiba-tiba
Fi langsung menahan gerakan tangan Ririn yang baru akan menekan nomor ambulans.
Wajahnya tampak panik.
“Jangan
panggil ambulans! Kita cari bantuan yang lain saja.”
“Tidak
ada waktu lagi, Fi!” balas Ririn sambil mencoba melepaskan cengkraman Fi.
“Kita
tidak bisa panggil ambulans!”
“Kenapa
tidak? Sekarang saat yang genting!”
Fi
dan Ririn masih saling tarik-tarikan ponsel sampai akhirnya emosi Fi meluap dan
ponsel itu berhasil didapatkan olehnya.
“KUBILANG
JANGAN!”
Ponsel
itu terlempar jauh. Terdengar bunyi ‘krek’ ketika ponsel itu mendarat. Tak
hanya Ririn, tapi semua orang di sana kaget saat menyadari layar ponsel itu
retak seribu. Suasana berubah hening. Mereka tak menyangka Fi akan berbuat
senekat itu. Kini giliran emosi Ririn yang meluap. Dengan segenap amarahnya ia
dorong tubuh Fi hingga gadis itu terjungkal ke belakang.
“Kamu
apa-apaan sih!”
Saat
Ririn berbalik untuk mengambil ponselnya, secepat kilat Fi menangkap
pergelangan kakinya. Ririn terkejut melihat Fi yang sedang bersimpuh.
“Kumohon…
jangan panggil ambulans. Adrian memiliki fobia dengan suara sirine ambulans.”
Amarah
yang tadi membakar sampai ke ubun-ubun seketika membeku. Mata Ririn bergerak
perlahan menatap Adrian. Lelaki yang tadi histeris melihat tantenya pingsan
kini ikut-ikutan terhenyak. Semua orang kembali bergeming dalam kebisuan. Fakta
terakhir yang Fi katakan membuat semua orang terjebak dalam paradoksal situasi.
“Mo—Mori
san…” akhirnya Hiro memecah kebisuan.
“Ki—kita bisa minta antar Mori san.”
“Ah,
benar,” sahut Riani. “Hiro, tolong ya.”
Hiro
mengangguk dan segera menelepon Mori. Tak ada yang bergerak dari posisi
masing-masing sampai Mori datang menjemput dan Gloria memerintahkan beberapa
siswa untuk membantu membawa Tifa ke dalam mobil. Adrian dan Gloria ikut pergi,
sementara Riani menginstruksikan siswa untuk segera pulang karena latihan tak
mungkin dilanjutkan. Satu per satu siswa pun meninggalkan gedung teater.
Alexi
memungut ponsel yang sempat terabaikan. Ia mencoba menyalakannya dan ternyata
masih hidup. Alexi mendesah pendek lalu ia memberikannya pada Ririn.
“Hanya
layarnya, tapi aku belum cek semuanya.”
Ririn
menerima ponsel itu seraya tersenyum tipis sebagai pengganti ucapan terima
kasih, lalu mendekati Fi yang masih bergeming pada posisinya ketika ia
terjatuh.
“Maaf,
aku tidak tahu,” ujar Ririn seraya menjulurkan tangannya. “Seharusnya kamu
bilang dari awal. Jadi, aku tidak perlu mendorongmu seperti tadi.”
Fi
menggeleng pelan, “Tidak. Bukan salahmu. Kamu tidak perlu minta maaf.”
Tangan
Ririn masih tergantung di udara, tapi Fi masih mengabaikan bantuan gadis itu.
Merasa situasi bisa menjadi tegang kembali, Alexi pun berinisatif untuk melerai
keduanya.
“Kita
duluan saja,” Alexi menyingsingkan tangan Ririn. “Mungkin dia butuh waktu untuk
sendiri.”
Ririn
mendesah berat. Ada yang mengganjal di hatinya saat melihat Fi yang masih
tertunduk lesu. Bagaimana pun juga ia bersalah atas insiden tadi. Ririn
menyesali perbuatannya yang terlalu keras. Baru kali ini ia tak bisa menahan
amarahnya.
Namun
Alexi benar. Tak ada gunanya membujuk Fi saat ini. Lebih baik membiarkan gadis
itu sendirian. Mungkin itu jauh lebih berguna. Saat keduanya keluar dari
gedung, ternyata teman-teman mereka sudah menunggu di luar.
“Hei,
Rin. Kamu baik-baik saja?” tanya Kemal.
Ririn
hanya mengangguk.
“Kupikir
Fi cukup keterlaluan sampai membuang Hp-mu sampai rusak seperti itu,” sahut
Anjani. “Kenapa dia tidak katakan saja dari awal? Jadinya’kan gak perlu kayak
tadi.”
“Tapi
aku juga salah kok,” Ririn tersenyum kecut. “Aku gak seharusnya dorong dia
kuat-kuat.”
“Aku
setuju dengan, Jane,” ucap Wenda. “Wajar aja kamu emosi kayak tadi. Huff, masih
untung kamu cuma dorong dia. Mungkin kalau aku jadi kamu, sudah aku tampar
dia.”
“Memangnya
ada ya, fobia sirine ambulans?” ujar Anjani. “Atau jangan-jangan cuma
buat-buatan dia aja.”
“Sudahlah,
ada baiknya kita pulang saja,” lerai Ben. “Gak usah bahas-bahas masalah itu
lagi. Lebih bagus kalau kita khawatir dengan kondisi Miss Tifa. Itu jauh lebih penting daripada kita membicarakan
masalah sepele kayak tadi.”
“Apa
kalian bisa berhenti membicarkan hal buruk tentang Fi?”
Mereka
semua kaget dengan kehadiran Priyanka yang tanpa disadari. Melihat kedatangan
Priyanka, mood Wenda berubah menjadi
jelek. Sepertinya ia masih belum bisa berdamai dengan gadis itu.
“Loh,
kami’kan cuma bicara fakta. Lagian kamu juga lihat tadi.”
Priyanka
menghela napas, “Aku tahu kalian semua tidak menyukai Fi. Dia memang
menyebalkan, tapi dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Dia bukan orang jahat.
Jadi, kalian gak perlu menghakiminya seperti itu.”
“Idiih,
siapa juga yang main hakim sendiri?” Wenda membalas dengan nada jutek. “Ya
udah, urus aja ‘teman anehmu’ itu. Kita juga udah mau pulang. Yuk, Jane!”
Wenda
melenggang kesal. Diikuti Anjani dan juga Ririn. Priyanka hanya menggigit bibir
melihat kepergian ketiga temannya itu. Ia pun berniat menyusul Fi, tapi Kemal
mencegahnya lebih dulu.
“Ada
baiknya kamu biarkan Fi di dalam. Sepertinya dia butuh sendiri.”
“Tapi…”
“Kalau
kamu khawatir, tunggu saja sampai jam delapan. Kalau kamu gak bisa hubungi dia
lewat dari jam delapan, kamu bisa hubungi aku, Kemal, atau Al buat bantu cari
dia.”
“Eh,
serius? Aku pikir kalian berpihak dengan mereka,” ujar Priyanka. Mereka yang
dimaksud Priyanka tentu saja Wenda, Anjani, dan juga Ririn.
“Tidak.
Kami netral,” sahut Alexi.
Priyanka
mendesah lega, “Syukurlah, masih ada yang mau berpikiran sama sepertiku.
Bukannya aku mau membela karena dia temanku, tapi karena apa yang dilakukan Fi
juga tidak salah. Dia hanya mau menyelamatkan Adrian, bukan mau buat
kerusuhan.”
“Kita
ngerti kok,” sahut Ben. “Cuma yaaah… biasalah para gadis. Cepat baperan.”
Priyanka
tersenyum geli.
“Kita
pulang dan tunggu saja,” tutup Alexi.
Akhirnya
Priyanka hanya bisa mengikuti saran ketiga lelaki itu. Ia hanya berharap kalau Fi
akan baik-baik saja seperti yang dikatakan Ben dan semoga esok hari bisa lebih baik
lagi.