Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Mei 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 155)




Musikal 155

“Apa itu benar, Hana? Apa itu benar?”
Hana hanya mengangguk pelan. Gloria tahu Hana tak pernah berbohong, makanya ia tak bisa menahan air matanya. Hana hanya bisa memeluk Gloria untuk meredakan emosinya.
Tifa masuk ruang ICU.
Masih berbekas di ingatan Hana bagaimana Dave mengucapkan kalimat itu dengan nada hampir terisak. Ketika ia mendapat kabar itu, ia tak sadar kalau ponselnya meluncur bebas menuju gravitasi. Bunyi dentingan antara tubuh ponsel dan lantai itulah yang menyadarkannya. Bersamaan dengan itu air matanya langsung mengalir. Secepat kilat ia mengabari Gloria dan Riani.
Hana ingin menangis kembali. Namun, melihat ekspresi Gloria yang semakin emosional, ia terpaksa menahannya. Ia sempat mengalihkan perhatiannya pada Riani. Wanita itu tak mengatakan apa pun dan ekspresinya juga sulit ditebak.
“Sudahlah, menangis tidak akan menyelesaikan masalah,” Hana berusaha menguatkan Gloria.
“Aku tahu, hanya saja…” Gloria kembali tersedu. “Lalu bagaimana dengan pementasan kita?”
‘Terima kasih, Han. Aku sangat mengandalkanmu’
Entah kenapa kata-kata beberapa waktu yang lalu teringat olehnya saat ini. kata-kata itu pula yang membawanya pada kata-kata yang pernah Tifa ucapkan 13 tahun yang lalu.
‘Kalau ada kamu semuanya pasti lancar…’
Hana menarik napas dalam-dalam. Ingatan itu membuatnya seperti bumerang. Kembali ke masa lalu.
“Aku akan memikirkan caranya.”
Dan kalimat 13 tahun lalu itu kembali terulang.
‘Terima kasih, Han. Aku sangat mengandalkanmu’
ooOoo
Dokter Edo keluar dari ruang ICU dengan wajah muram. Ia tahu tak pantas memasang wajah sesuai dengan keadaan pasien. Namun, ia tahu kalau jawaban yang akan ia berikan juga tak akan disukai oleh keluarga pasien.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya pria bermata biru yang langsung menyergap dirinya.
Dokter Edo menarik napas panjang. Ia sebenarnya benci mengatakan drama ini.
“Ada pembuluh darahnya pecah, sehingga mengalami pendarahan yang parah. Kami sudah berhasil menghentikan pendarahannya, tapi…”
“Tapi?” potong si pemuda yang satunya.
“Tapi pendarahan tadi juga memengaruhi asupan oksigen ke otaknya. Sehingga saat ini pasien masih dalam keadaan tak sadarkan diri.”
“Maksudnya?” tanya si mata biru.
“Tifa dalam keadaan koma.”
July hanya bisa terhenyak di kursinya. Dave terlihat nanar. Kepalanya kosong. Satu-satunya orang yang terlihat emosi adalah Adrian. Ia berteriak sekuat tenaga sampai-sampai semua orang kaget kemudian ia menangis dengan raungan seperti bayi.
“Tenanglah, Adrian!”
Untuk pertama kalinya Dave membentak seseorang. Dave tak tahu apakah ia harus menyesal atau tidak karena sudah berlaku kasar. Ia berusaha menahan emosinya, tapi melihat Adrian yang kehilangan titik sadar membuat tekanan darahnya naik.
“Apa aku bisa tenang, Om? Apa Om gak dengar tadi bagaimana keadaan tante? Sekarang Om menyuruhku tenang?”
“Tangisanmu hanya akan merepotkan semua orang! Berhentilah jadi anak-anak!”
“Setidaknya aku menunjukkan bagaimana perasaanku saat ini. Bukan kayak Om yang sepertinya tidak peduli dengan tante saat ini!”
Sekali lagi Adrian berhasil membuat tekanan darah Dave di atas 180. Dengan kasar Dave menarik kerah baju pemuda itu.
“Jaga mulutmu, bocah!”
“Berhentilah, kalian berdua!” seru July. Ia menarik napas dalam-dalam. Air matanya mengalir dan suaranya terdengar serak.
“Meskipun kalian berdua saling bunuh, tidak satu pun dari nyawa kalian yang bisa menyelamatkan Tifa saat ini. Lebih baik kalian berdoa atau setidaknya kalian diam!”
Kata-kata July berhasil meredam emosi keduanya. Tangan Dave yang tadinya mencengkram kuat baju Dave, berubah menjadi pelukan. Di saat itu tangis Adrian kembali pecah.
“Maaf, aku terlalu emosi,” ujar Dave.
“A—aku takut, Om. Sangat takut…” Adrian berkata sambil sesegukan. “Aku sangat takut kehilangan dia.”
‘Begitu pun aku,’ batin Dave.
ooOoo
Ririn heran kenapa hari ini mereka tidak ada latihan. Sejak Tifa keluar masuk rumah sakit, latihan mereka sering tertunda. Sampai saat ini Oom-nya belum memberi kabar. Ia ikut-ikutan menyimpan rasa cemas.
Sisi baiknya, sekarang ia bisa fokus belajar. Ia bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa harus begadang. Sisa waktu yang ada bisa ia pergunakan untuk menghabiskan novel-novel epiknya.
Di tengah konsentrasi membuat PR, ponselnya berdering. Awalnya ia malas untuk menghiraukan telepon itu. Ia juga heran kenapa nama Adrian bisa muncul di layar ponselnya.
“Halo?”
“Bisa keluar sekarang? Aku menunggu di luar.”
Ririn tersentak. Namun, ia tetap melangkah keluar. Benar saja pemuda itu sedang menunggunya di luar pagar. Ririn menyapanya dengan senyuman, tapi pemuda itu terlihat sangat kuyu. Entah dimana aura pangeran yang selalu meradiasi dirinya.
“Hei, ada apa?”
Tanpa tendeng aling-aling, Adrian lansung memeluknya. Ririn kaget bukan kepalang. Ia berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Adrian semakin kuat. Ririn menyerah saat terdengar isakan pemuda itu.
“Tanteku koma…”
Napas Ririn ikut tertahan. Koma? Itu artinya mereka tak tahu sampai batas mana Tifa akan bertahan.
“Se—sejak kapan?”
“Tadi pagi,” Adrian melepaskan pelukannya. “Dan Dokter juga belum tahu sampai kapan.”
“Kamu baik-baik saja?”
Adrian menggeleng lemah. Pemuda itu menghapus air matanya, tapi tetap saja wajah pucatnya tak bisa hilang.
“Ada sesuatu yang bisa kubantu?”
“Tidak. Aku hanya mengambil baju ganti untuk nenek sekaligus memberitahu kalau ada kemungkinan Oom-mu tidak akan pulang untuk sementara waktu.”
Ririn mengangguk pelan, “Aku mengerti. Akan kusampaikan pada orang tuaku.”
Tak ada percakapan lanjutan. Hanya terdengar napas Adrian yang tak teratur.
“Kamu akan kembali ke sana sekarang?” Ririn melihat Adrian mengangguk. “Pakai apa?”
“Taksi,” jawab Adrian dengan lidah kelu.
Ririn mendesah pelan, “Kalau kamu butuh sesuatu beri tahu aku. Aku pasti akan segera membantumu.”
“Tidak apa. Aku hanya butuh tempat berbagi dan aku tidak tahu harus kemana.”
Hampir saja Ririn menyebut nama Fi, tapi kalau sampai ia keceplosan bisa-bisa pemuda ia tambah emosional. Ia hanya bisa memberi pemuda itu senyuman kecil.
“Aku berdoa untuk tantemu dan… kamu yang sabar ya.”
Adrian mengangguk, “Boleh aku memelukmu lagi?”
Rasanya Ririn sangat berdosa jika menolak permintaan itu saat ini. Ketika Ririn menganggukkan kepalanya, dekapan Adrian terasa begitu gelisah. Pemuda ini butuh semacam penenang hati. Permasalahan yang dialami pemuda ini berakar ke mana-mana dan sangat susah dicabut. Baru kali ini Ririn melihat sang pangeran tumbang.
“Aku takut kehilangan dia, Rin. Aku sudah kehilangan ibuku dan juga Fi. Jangan sampai dia juga pergi.”
Air mata Ririn seakan ingin tumpah saat mendengar kalimat terakhir pemuda itu. Empatinya membuat dekapan itu semakin erat. Namun, Ririn tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Ia hanya bisa menepuk pelan punggung pemuda itu.

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 154)




Musikal 154

Bukan kali pertama bagi Tifa mengalami bangun pagi seperti ini. Sebelumnya terjadi di apartemen dan sekarang di rumah sakit. Hanya saja kali ini ia tidak terbangun dalam dekapan Dave, tetapi laki-laki itu tertidur sambil memeluk tangannya. Tifa heran bagaimana bisa lelaki itu tidur dengan posisi yang bisa membuat pinggang pegal? Semalam suntuk hanya agar genggaman mereka tidak terlepas.
Tifa menggigit bibirnya. Ia tidak akan lupa kejadian senja itu. Kala bibir mereka bersentuhan bagai dua kutub magnet yang saling bertemu. Ia sendiri sampai heran kenapa ia bisa begitu terlena. Padahal selama ini ia mati-matian agar tidak masuk dalam pesona lelaki itu. Mungkinkah karena suasana atau sihir misterius dari sepasang mata biru itu. Tidak, sudah berapa kali Tifa terjebak dalam situasi yang sama dan selama itu pula ia bertahan.
Mungkin karena perasaannya yang tersampaikan…
Bahkan sampai saat ini ia masih terbawa perasaan. Jemarinya yang bebas dari genggaman Dave, justru gatal sekali ingin menyentuh pucuk kepala lelaki itu. Tifa tak bisa menahan hasratnya. Tak hanya pucuk kepala, tapi jari-jari Tifa semakin menjelajahi wajah lelaki itu.
“Tertangkap kau!”
Tifa tersentak. Meski Dave baru bangun tidur, tapi genggaman tangannya sangat kuat. Tifa tak bisa melepaskan tangan nakalnya dan sekarang ia tertangkap basah. Ah, sial. Andai dia bisa menahan bisikan setan yang nakal.
“Jadi, seperti inikah caramu menyapaku di pagi hari?”
“Bisa kamu lepaskan tanganku?”
“Asal kita bisa mengulangi apa yang terjadi kemarin.”
Tifa berdecak kesal, “Jangan bercanda! Darahnya akan mengalir di selang tahu.”
Dave tersenyum jahil. Ia memang melepaskan tangan Tifa, tapi ia juga berhasil mendaratkan kecupan kecil di kening wanita itu. Tifa merengut, tapi sekali lagi senyuman jahil itu kembali meredakan amarahnya.
“Bibir kamu itu suka parkir sembarangan ya?” omel Tifa.
“Bukan, tapi dia sudah tahu di mana tempat parkir yang tepat.”
Bibir Tifa kembali mengkerut. Namun, Dave menanggapi ekspresi cemberut Tifa seperti sinar mentari pagi. Ia mengacak-acak rambut wanita itu dan meninggalkannya ke kamar mandi. Hal itu membuat Tifa semakin kesal.
Tepat setelah Dave masuk ke kamar mandi, pintu kamarnya terbuka. Tifa mengira kalau itu ibunya, ternyata yang datang adalah Adrian. Wajahnya terlihat segar, seperti baru habis mandi.
“Tante sendirian aja?”
“Orang yang menungguku sedang di kamar mandi,” sahut Tifa sambil berusaha menegakkan tubuhnya. Melihat tantenya berusaha bangun, Adrian langsung menyambut. “Pagi sekali datangnya?”
“Ada yang mau aku diskusikan soal pementasan,” ujar Adrian.
Tak berapa lama kemudian, Dave keluar dari kamar mandi. Melihat Tifa yang bersiap turun dari ranjang, ia buru-buru membantu meski Adrian saja sudah cukup.
“Aku bisa sendiri,” Tifa menepis tangan Adrian dan Dave. “Kalau Hana melihat kalian seperti ini lagi bisa-bisa dia pingsan.”
Akhirnya Tifa ke kamar mandi seorang diri. Adrian dan Dave hanya bisa mengelus dada.
“Benar-benar keras kepala,” gerutu Dave. “Eh, tumben sepagi ini kamu sudah datang?”
“Tiba-tiba ingin saja,” Adrian tersenyum lalu ia tersentak saat melihat Tifa muncul.
“Hei, kalian aku—“
Kata-kata Tifa menggantung selamanya karena pada detik berikutnya pemandangan di sekitar menggelap. Gravitasi terasa lebih berat dan semakin menghisapnya. Bersamaan dengan itu nyeri di perutnya semakin terasa. Semua itu tak berlangsung lama karena hal terakhir yang bisa ia lakukan adalah mendengar Adrian dan Dave meneriakkan namanya.
Kedua pria itu terserang kepanikkan tinggi. Dave langsung memangku kepala Tifa sementara Adrian berusaha menyadarkannya.
“Tante, Tante…. Sadar, Tante!”
“Panggil suster, Adrian! Cepat!”
Adrian meraih tombol pemanggil perawat terdekat. Saking paniknya ia bahkan tak sadar kalau menekan tombol itu sekuat tenaga. Setelah itu ia membantu Dave membopong Tifa ke tempat tidur. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan. Padahal baru saja mereka berbincang santai, tapi sekarang mereka mendapat morning shock.
Petugas medis langsung bergerak cepat. Mereka segera memasang berbagai macam selang ke tubuh Tifa. Adrian dan Dave bisa merasakan detik-detik penuh ketegangan.
“Cepat hubungin Dokter Edo! Bawa pasien ke ruang ICU!”
Komando dari suster kepala itu menyadarkan Dave. ICU? Tentu saja ruang itu teruntuk orang-orang yang mempunyai harapan hidup tipis. Itu artinya Tifa sedang berjuang untuk hidup matinya.
“Tunggu, Suster! Sebenarnya apa yang terjadi?”
Di tengah kesibukannya, suster itu tak bisa mengabaikan keingintahuan Dave. Ia mendesah cepat agar nada bicaranya terdengar tidak tegang.
“Kami belum bisa memastikannya. Hanya dokter yang boleh membuat diagnosis, tapi untuk saat ini pasien dalam keadaan darurat.”
“Segawat apa, Suster?”
“Kami belum tahu. Ada baiknya sekarang wali pasien ikut menemani ke ruang ICU. Supaya segera mendapat kabar dari dokter.”
Meski pikiran Dave sedang kacau, ia harus tetap tenang. Jika ia panik maka tak akan ada yang bisa berpikir jernih. Ia yakin saat ini Adrian juga merasakan hal yang sama.
“Kamu saja yang ikut ke sana. Biar Om yang urus di sini. Segera hubungi nenekmu!”
Adrian hanya mengangguk sekali untuk menuruti semua perintah itu. Pagi hari yang tenang itu berubah menjadi kode merah pertanda bahaya.



Minggu, 07 Mei 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 153)




Musikal 153

Dave baru saja kembali dari rumah. Isi tasnya penuh dengan baju bersih dan beberapa perlengkapan menginap. Bahkan ada beberapa barang pesanan Tifa. Ia akan menginap tiga malam di rumah sakit menggantikan July.
“Oh, kamu sudah datang, Dave?” ujar July sambil menaruh majalah di atas meja. “Cepat betul. Tante kira kamu akan datang nanti malam.”
“Supaya Tante bisa istirahat lebih cepat,” jawab Dave. “Mau kupanggilkan taksi?”
“Tidak usah. Tante bisa sendiri. Titip Tifa ya.”
Dave mengangguk. Ia lalu mengantar July sampai ke depan pintu. Tiba-tiba saja July menggenggam tangannya sangat erat.
“Tante bersyukur ada kamu di sini. Terima kasih.”
Dave membalas genggaman July seraya tersenyum hangat, “Aku yang seharusnya senang bisa mendampingin Tifa di saat seperti ini. Terima kasih sudah mempercayakanku.”
“Rasanya kalau dia sudah sehat nanti ingin Tante kawinkan kalian berdua. Sayang, Tante sudah berjanji untuk membebaskannya dari pernikahan.”
Dave terkekeh, “Itu urusan lain. Akan kubuat dia bertekuk lutut padaku nanti.”
July tersenyum lalu ia pamit. Setelah menutup pintu Dave duduk ke sisi Tifa. Dave menumpukan dagu pada kepalan tangannya, sedangkan matanya seperti tak bosan memandangi wajah tenang Tifa ketika tidur.
“Kalau udah tidur aja kayak bidadari,” ujar Dave dengan nada mengeluh. “Coba kalau udah bangun…”
“Kalau udah bangun kenapa?”
Dave terlonjak. Ia tak menyangka kalau Tifa mendengar semua perkataannya.
“Jadi, kamu pura-pura tidur? Sejak kapan kamu bangun?”
“Sejak kalian berisik,” ujar Tifa. “Jadi, kenapa kalau aku sudah bangun? Kamu gak suka kalau aku udah bangkit kembali?”
Dave terkekeh, tapi ia tak berniat menjawab.
“Ditanya malah gak jawab,” gerutu Tifa. “Terus sekarang kamu yang mau nunggu aku? Ibu sudah pulang?”
“Bukannya kamu tadi dengar semua?” Dave balik bertanya.
Bibir Tifa kembali mengekerut. Ia mencoba menegakkan badannya. Spontan Dave menghampiri wanita itu.
“Cuma mau ke kamar mandi kok,” kilah Tifa.
“Ya, pelan-pelan atuh.”
Ketika Tifa berhasil duduk, di detik itu pula helaian rambutnya berguguran hingga membuat bantalnya penuh dengan rambut. Entah kenapa baik Tifa maupun Dave sama-sama bergeming. Dave bisa menangkap kesedihan yang tersirat di mata Tifa ketika gadis itu memandangi rambutnya yang rontok.
“Nanti kalau sudah pulang, kita potong saja ya,” Dave tersenyum menenangkan. “Jadi’kan ke kamar mandinya?”
Tifa mengangguk pelan. Ia pun memalingkan wajahnya dari bantal dan segera menuju kamar mandi. Begitu pintu kamar mandi tertutup, buru-buru Dave membersihkan bantal Tifa. Ia tak mau wanitanya itu kembali bersedih.
Namun Dave tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Tifa di dalam kubikel itu. Alih-alih buang air, ia justru memandangi tubuhnya di depan kaca wastafel. Banyak perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Kulitnya terasa kering bahkan ia bisa memperkirakan kalau massa tubuhnya juga ikut menyusut. Sekali lagi ia menyisir rambut dengan jemarinya. Seketika ratusan helai rambutnya terjun menuju gravitasi.
Hatinya sesak. Ia sudah tak sanggup menahan semua rasa sakit. Tangannya bergetar saat menggenggam pinggiran wastafel. Matanya mulai terasa pedih dan meluncurkan cairan asin di kedua belah pipinya.
‘Kenapa sekarang? Sedikit saja. Aku hanya perlu waktu sedikit saja, tapi kumohon jangan sekarang…’
“Tif, masih lama?”
Terdengar gedoran pintu, tapi Tifa masih terisak. Ketukkan pintu semakin kuat.
“Tif, jawab! Kamu baik-baik aja’kan?”
Tifa buru-buru menghapus air matanya lalu membuka pintu. Ia tahu meski skuat tenaga ia menyembunyikan tangisnya, Dave pasti akan mengetahuinya. Ia juga tahu Dave akan panik seperti sekarang.
“Tif, ka—kamu…”
“Secara fisik aku baik-baik saja, tapi tidak perasaanku saat ini. Jadi, tolong jangan tanya lagi.”
Dave menghela napas panjang. Ia menggenggam lembut kedua bahu Tifa.
“Ada yang bisa kubantu?”
“Bisa bawa aku ke tempat yang tenang?”
Dave berpikir cepat untuk mencari tempat yang dimaksud Tifa. Mumpung masih sore, ia pikir dokter tidak akan melarangnya.
“Tunggu sebentar,” Dave melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya pada Tifa. “Mau pakai kursi roda.”
Tifa hanya mengangguk. Seperti gerakan kilat, Dave langsung membuat Tifa duduk di kursi roda. Mereka meninggalkan kamar sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan perawat.
Dave mengajak Tifa menikmati angin sore di atap rumah sakit. Untungnya Dave tahu lift mana yang menuju tempat itu. Ia berharap perasaan Tifa sedikit berubah. Namun dari air mukanya, wanita itu tetap digenangi kesedihan.
“Aku bisa sendiri,” ujarnya saat mencoba mendekati pagar pembatas.
Semilir angin yang sejuk menemani mereka. Sapuannya menyentuh pipi Tifa yang mulai dibanjiri air mata. Pertama kalinya bagi Dave melihat Tifa menangis setelah 13 tahun lamanya.
“Aku akan selalu ada ketika kamu butuh aku, Tif,” ujar Dave sambil menggenggam jemari Tifa.
“Tiba-tiba aku takut mati, Dave.”
“Tidak! Kamu jangan bilang seperti itu! Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu cuma sakit bukannya mau mati?”
“Aku tahu!” isaknya. “Tapi memikirkan semua yang belum terselesaikan membuatku semakin sakit. Kenapa hidupku tidak adil seperti ini? Bukan maksudku memperparah keadaan, tapi kenapa semua kesalahan seolah berasal dariku?”
Dave menarik Tifa ke dalam pelukannya. Ia tak peduli dengan Tifa yang terkejut karena sudah di dalam dekapannya.
“Juga tidak adil padaku, Tif. Kenapa Tuhan tidak membagi sedikit saja beban itu padaku? Aku ada di sini, tapi aku tidak bisa membantu. Bukankah aku yang terlihat paling bodoh?”
Tangis Tifa semakin kencang. Tiga belas tahun ia menyembunyikan rasa sakitnya dan akhirnya tumpah dalam dekapan lelaki itu. Tifa mengeratkan jemarinya pada punggung lelaki itu. Jangan, jangan sampai lelaki ini juga harus menanggung bebannya bahkan sedikit pun.
“Kita berjuang bersama, ya?” ujar Dave dengan suara parau menahan tangis.
Tifa mengangguk pelan. Dave membelai pelan pucuk kepala gadis itu dan mendarat kecupan kecil di sana.
Tepat di saat mentari menyingsing, pandangan keduanya saling beradu. Dave mendaratkan kecupan lagi pada mata kanannya, sedangkan ibu jari lelaki itu mengusap air mata di mata kirinya. Suasana terasa semakin hangat dan mereka sama-sama tak mau melepaskan momen itu meski hanya sedetik.
Akhirnya setelah 13 tahun menunggu, untuk pertama kalinya kedua bibir itu kembali saling menyentuh. Dave memperdalam ciumannya dan Tifa membalasnya penuh gairah. Semakin panas saat jemari Tifa meremas helaian rambut Dave. Lelaki itu seolah mendaratkan kerinduannya bertubi-bertubi di bibir Tifa.
“Aku mencintaimu.”
Dua kata itu menjadi penutup ciuman panas tersebut. Dave membisikkan dengan nada yang sangat rendah dan penuh harap. Namun Tifa tak mampu membalasnya. Ia hanya menatap Dave dengan air mata yang kembali mengalir dan kembali memeluk pria itu.
‘Andai aku bisa mencintaimu kembali….’