Musikal 155
“Apa itu benar, Hana? Apa itu benar?”
Hana hanya mengangguk
pelan. Gloria tahu Hana tak pernah berbohong, makanya ia tak bisa menahan air
matanya. Hana hanya bisa memeluk Gloria untuk meredakan emosinya.
Tifa masuk ruang ICU.
Masih berbekas di
ingatan Hana bagaimana Dave mengucapkan kalimat itu dengan nada hampir terisak.
Ketika ia mendapat kabar itu, ia tak sadar kalau ponselnya meluncur bebas
menuju gravitasi. Bunyi dentingan antara tubuh ponsel dan lantai itulah yang
menyadarkannya. Bersamaan dengan itu air matanya langsung mengalir. Secepat
kilat ia mengabari Gloria dan Riani.
Hana ingin menangis
kembali. Namun, melihat ekspresi Gloria yang semakin emosional, ia terpaksa
menahannya. Ia sempat mengalihkan perhatiannya pada Riani. Wanita itu tak
mengatakan apa pun dan ekspresinya juga sulit ditebak.
“Sudahlah, menangis
tidak akan menyelesaikan masalah,” Hana berusaha menguatkan Gloria.
“Aku tahu, hanya
saja…” Gloria kembali tersedu. “Lalu bagaimana dengan pementasan kita?”
‘Terima kasih, Han. Aku sangat mengandalkanmu’
Entah kenapa
kata-kata beberapa waktu yang lalu teringat olehnya saat ini. kata-kata itu
pula yang membawanya pada kata-kata yang pernah Tifa ucapkan 13 tahun yang
lalu.
‘Kalau ada kamu semuanya pasti lancar…’
Hana menarik napas
dalam-dalam. Ingatan itu membuatnya seperti bumerang. Kembali ke masa lalu.
“Aku akan memikirkan
caranya.”
Dan kalimat 13 tahun
lalu itu kembali terulang.
‘Terima kasih, Han. Aku sangat mengandalkanmu’
ooOoo
Dokter Edo keluar dari ruang ICU dengan wajah muram.
Ia tahu tak pantas memasang wajah sesuai dengan keadaan pasien. Namun, ia tahu
kalau jawaban yang akan ia berikan juga tak akan disukai oleh keluarga pasien.
“Bagaimana
keadaannya, Dok?” tanya pria bermata biru yang langsung menyergap dirinya.
Dokter Edo menarik
napas panjang. Ia sebenarnya benci mengatakan drama ini.
“Ada pembuluh
darahnya pecah, sehingga mengalami pendarahan yang parah. Kami sudah berhasil
menghentikan pendarahannya, tapi…”
“Tapi?” potong si
pemuda yang satunya.
“Tapi pendarahan tadi
juga memengaruhi asupan oksigen ke otaknya. Sehingga saat ini pasien masih
dalam keadaan tak sadarkan diri.”
“Maksudnya?” tanya si
mata biru.
“Tifa dalam keadaan
koma.”
July hanya bisa
terhenyak di kursinya. Dave terlihat nanar. Kepalanya kosong. Satu-satunya
orang yang terlihat emosi adalah Adrian. Ia berteriak sekuat tenaga sampai-sampai
semua orang kaget kemudian ia menangis dengan raungan seperti bayi.
“Tenanglah, Adrian!”
Untuk pertama kalinya
Dave membentak seseorang. Dave tak tahu apakah ia harus menyesal atau tidak
karena sudah berlaku kasar. Ia berusaha menahan emosinya, tapi melihat Adrian
yang kehilangan titik sadar membuat tekanan darahnya naik.
“Apa aku bisa tenang,
Om? Apa Om gak dengar tadi bagaimana keadaan tante? Sekarang Om menyuruhku
tenang?”
“Tangisanmu hanya
akan merepotkan semua orang! Berhentilah jadi anak-anak!”
“Setidaknya aku
menunjukkan bagaimana perasaanku saat ini. Bukan kayak Om yang sepertinya tidak
peduli dengan tante saat ini!”
Sekali lagi Adrian
berhasil membuat tekanan darah Dave di atas 180. Dengan kasar Dave menarik
kerah baju pemuda itu.
“Jaga mulutmu,
bocah!”
“Berhentilah, kalian
berdua!” seru July. Ia menarik napas dalam-dalam. Air matanya mengalir dan
suaranya terdengar serak.
“Meskipun kalian
berdua saling bunuh, tidak satu pun dari nyawa kalian yang bisa menyelamatkan
Tifa saat ini. Lebih baik kalian berdoa atau setidaknya kalian diam!”
Kata-kata July
berhasil meredam emosi keduanya. Tangan Dave yang tadinya mencengkram kuat baju
Dave, berubah menjadi pelukan. Di saat itu tangis Adrian kembali pecah.
“Maaf, aku terlalu
emosi,” ujar Dave.
“A—aku takut, Om.
Sangat takut…” Adrian berkata sambil sesegukan. “Aku sangat takut kehilangan
dia.”
‘Begitu pun aku,’ batin Dave.
ooOoo
Ririn heran kenapa hari ini mereka tidak ada latihan.
Sejak Tifa keluar masuk rumah sakit, latihan mereka sering tertunda. Sampai
saat ini Oom-nya belum memberi kabar. Ia ikut-ikutan menyimpan rasa cemas.
Sisi baiknya,
sekarang ia bisa fokus belajar. Ia bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa
harus begadang. Sisa waktu yang ada bisa ia pergunakan untuk menghabiskan
novel-novel epiknya.
Di tengah konsentrasi
membuat PR, ponselnya berdering. Awalnya ia malas untuk menghiraukan telepon
itu. Ia juga heran kenapa nama Adrian bisa muncul di layar ponselnya.
“Halo?”
“Bisa keluar sekarang? Aku menunggu di luar.”
Ririn tersentak.
Namun, ia tetap melangkah keluar. Benar saja pemuda itu sedang menunggunya di
luar pagar. Ririn menyapanya dengan senyuman, tapi pemuda itu terlihat sangat
kuyu. Entah dimana aura pangeran yang selalu meradiasi dirinya.
“Hei, ada apa?”
Tanpa tendeng
aling-aling, Adrian lansung memeluknya. Ririn kaget bukan kepalang. Ia berusaha
melepaskan diri, tapi pelukan Adrian semakin kuat. Ririn menyerah saat
terdengar isakan pemuda itu.
“Tanteku koma…”
Napas Ririn ikut
tertahan. Koma? Itu artinya mereka
tak tahu sampai batas mana Tifa akan bertahan.
“Se—sejak kapan?”
“Tadi pagi,” Adrian
melepaskan pelukannya. “Dan Dokter juga belum tahu sampai kapan.”
“Kamu baik-baik
saja?”
Adrian menggeleng
lemah. Pemuda itu menghapus air matanya, tapi tetap saja wajah pucatnya tak
bisa hilang.
“Ada sesuatu yang
bisa kubantu?”
“Tidak. Aku hanya
mengambil baju ganti untuk nenek sekaligus memberitahu kalau ada kemungkinan
Oom-mu tidak akan pulang untuk sementara waktu.”
Ririn mengangguk
pelan, “Aku mengerti. Akan kusampaikan pada orang tuaku.”
Tak ada percakapan
lanjutan. Hanya terdengar napas Adrian yang tak teratur.
“Kamu akan kembali ke
sana sekarang?” Ririn melihat Adrian mengangguk. “Pakai apa?”
“Taksi,” jawab Adrian
dengan lidah kelu.
Ririn mendesah pelan,
“Kalau kamu butuh sesuatu beri tahu aku. Aku pasti akan segera membantumu.”
“Tidak apa. Aku hanya
butuh tempat berbagi dan aku tidak tahu harus kemana.”
Hampir saja Ririn
menyebut nama Fi, tapi kalau sampai ia keceplosan bisa-bisa pemuda ia tambah
emosional. Ia hanya bisa memberi pemuda itu senyuman kecil.
“Aku berdoa untuk
tantemu dan… kamu yang sabar ya.”
Adrian mengangguk,
“Boleh aku memelukmu lagi?”
Rasanya Ririn sangat
berdosa jika menolak permintaan itu saat ini. Ketika Ririn menganggukkan
kepalanya, dekapan Adrian terasa begitu gelisah. Pemuda ini butuh semacam
penenang hati. Permasalahan yang dialami pemuda ini berakar ke mana-mana dan
sangat susah dicabut. Baru kali ini Ririn melihat sang pangeran tumbang.
“Aku takut kehilangan
dia, Rin. Aku sudah kehilangan ibuku dan juga Fi. Jangan sampai dia juga pergi.”
Air mata Ririn seakan
ingin tumpah saat mendengar kalimat terakhir pemuda itu. Empatinya membuat dekapan
itu semakin erat. Namun, Ririn tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Ia hanya bisa
menepuk pelan punggung pemuda itu.