Total Tayangan Halaman

Minggu, 30 Juli 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 169)




Musikal 169

“Wah, kayaknya ada yang kena pajak jadian nih.”
Kemal berkacak pinggang sementara Wenda dan Ben hanya menahan tawa. Wajah Andani ikut-ikutan memerah. Mungkin cerita Ben dan Wenda sudah menyebar dari semalam, dan mungkin keduanya sendiri yang bercerita. Sementara Andani tidak sengaja terpergok Kemal sedang berpegangan tangan dengan Jiro. Kontan saja laki-laki ini heboh. Dia berteriak ke penjuru kelas mengenai hasil temuannya. Seketika kelas menjadi ikutan heboh bahkan kabar ini melebihi berita Ben dan Wenda.
“Pokoknya jangan ajak-ajak aku aja,” ujar Anjani. “Kalo kemarin syukuran kita patungan, sekarang kamu sendiri yang bayar.”
Andani merengut, “Yaah, kok kamu kejam, Jane?”
“Lah, yang jadian’kan kamu bukan aku,” Anjani meleletkan lidahnya.
“Duuh, jangan bully aku dong.”
Mereka semua tertawa.
“Ngomong-ngomong, kenapa pas banget kalian lagi ngumpul sih?” ujar Andani. “Mau ada apa?”
“Ah, ya,” Ben berdeham seraya membetulkan posisi duduknya. “Aku mengumpulkan kalian untuk membahas kelanjutan Love Musical.”
Telunjuk Ririn terlihat sedang menghitung-hitung jumlah orang yang diajak berkumpul, “Hanya tujuh orang?”
“Aku hanya mengajak orang-orang terdekat dulu. Soalnya cuma kalian yang bisa aku percaya.”
Ririn mengangguk-anggukan kepalanya, begitu pula yang lain.
“Jadi, apa yang mau kamu bahas?” tanya Alexi.
“Yah, kalian tahu kalau sekarang pementasan kita sedang digantung. Kita tidak tahu bagaimana kondisi Miss Tifa saat ini dan sekali pun Miss Tifa pulih, kita juga tidak tahu apakah beliau tetap akan melanjutkan pementasan ini.
“Dan sekarang aku mengumpulkan kalian untuk bertanya, apakah kalian tetap ingin pementasan ini berlanjut? Jika iya, maka aku minta bantuan kalian untuk meyakinkan yang lain supaya tetap berada di dalam klub ini. Kita juga harus kembali berlatih karena kita sudah banyak waktu yang terbuang.”
Ben mendesah panjang, “Tapi jika tidak, maka silakan tinggalkan kumpulan ini.”
“Kamu sendiri maunya gimana, Ben?” ujar Alexi.
“Aku… aku tetap ingin melanjutkan,” Ben mengangguk mantap. “Ya, aku masih tetap ingin di sini.”
Jawaban Ben terdengar mantap dan itu membuat Alexi tersenyum, “Kalau begitu aku juga ikut bersamamu.”
Tiba-tiba tangan Kemal melingkar di bahu Ben, “Kita pasangan duet yang tak terpisahkan. Walaupun kamu sudah sama Wenda, but I’ll go wherever you will go.”
“Apaan sih, Mal?” Wenda meninju lengan Kemal hingga pemuda itu tertawa. “Terlepas aku pacarmu, aku juga masih ingin di sini.”
“Aku juga!” seru Anjani sambil mengangkat tangan.
“Aku ikut,” sahut Ririn.
“Aku juga masih ingin pementasan ini diteruskan,” sahut Andani. “Meskipun aku bukan lagi bagian dari kalian.”
“Kamu tetap bagian dari kita kok,” sambung Ririn yang disambut senyuman Andani.
Ben mendesah lega, “Makasih ya, teman-teman. Kalau kalian setuju, nanti biar aku yang bicara dengan Kak Santi supaya dia bisa mengajak kakak-kakak kelas XI”
“Aku juga bakal bantu,” sahut Andani. “Yaah, hitung-hitung aku sekarang sudah punya koneksi dekat dengan anak kelas XI.”
“Cieee, mentang-mentang yang baru jadian,” Ririn menggodanya sambil menyikut lengan gadis itu.
“Oke, oke, makasih ya, An,” ujar Ben sambil tertawa.
“Apa kami juga bisa ikut bergabung?”
Sumber suara yang tak terduga. Ketika mereka semua menoleh, mereka mendapati Priyanka dan Fi mencoba bergabung. Suasana akrab itu berubah dingin kala Priyanka bertukar pandang dengan Wenda dan Fi bertatapan dengan Ririn.
“Aku tahu di antara kita memiliki masalah pribadi. Aku juga bukan mau membela diri, tapi bisakah kita singkirkan dulu perasaan masing-masing? Bukankah kita semua mempunyai tujuan yang sama untuk pementasan ini?”
Nada suara Fi yang tegas membuat suasana semakin dingin. Tapi tak ada yang salah dengan kata-katanya. Tak ada yang berani menyangkal.
“Kamu benar. Terima kasih sudah mau bergabung,” Ben akhirnya menengahi.
Ririn mencoba tersenyum, “Ya, benar. Aku setuju dengan Fi.
Fi menatap Ririn. Mencoba mencari kepalsuan dari jawaban gadis itu. Namun, ia tak berhasil menemukan. Fi pun membalas senyumannya.
“Gimana nih, Wen?” Kemal menggodanya karena ia sadar perubahan wajah Wenda ketika Priyanka bergabung dengan mereka.
“Apaan sih, Mal?” Wenda merengut seraya membuang muka. “Aku’kan sudah bilang setuju dari tadi.”
“Yaah, kirain mau berubah pikiran gitu,” Kemal bersiul-siul.
“Udah, udah, gak usah saling sindir,” lerai Ben. “Benar kata Fi, kita singkirkan dulu semua masalah pribadi karena saat ini kita harus sama-sama. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih karena kalian sudah mau bergabung. Hmm, besok baru kita mulai rencana kita.”
Kali ini semua orang mengangguk setuju.
ooOoo
“Iih, gitu ya. Mau jadian gak cerita-cerita sama aku dulu. Ya udah deh, kita gak usah temenan lagi.”
Ririn pura-pura merajuk. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Ririn buru-buru menarik Andani untuk meminta penjelasan. Ia sengaja menyudutkan Andani agar gadis itu memelas-melas.
“Yaah, jangan dooong. Maaf yaah, nanti aku beliin kamu es krim.”
“Huh, aku masih dilarang makan es krim,” Ririn melipat tangannya di dada seraya membuang muka.
“Hmm, cokelat deh?”
Senyum Ririn mengembang, “Oke, sepakat!”
Andani tertawa. Ia tak meyangka sangat mudah membujuk temannya.
“Tapi kenapa kamu cepat-cepat nerima dia? Padahal waktu ditembak kemarin kamu malah diam saja?”
“Sebelumnya aku udah banyak mikir. Aku juga sempat curhat sama Jane dan dia bilang sih terima aja. Terus aku juga sempat bertanya sama Hiro Senpai dan akhirnya cerita masa lalunya yang semakin buat aku yakin untuk menerima dia.”
“Tapi kamu tetap pakai hati’kan? Bukan karena dukungan sana-sini?”
“Iya dong, Ririn sayang!” jawab Andani gemas. “Kamu tuh kapan jadiannya?”
“Hah, jadian sama siapa?”
Bahu Andani terangkat, “Terserah, mau sama Adrian kek, sama Kemal kek, atau…”
“Atau siapa?”
“Siapa aja boleeeh,” sahut Andani yang membuat Ririn mencubit pipinya.
“Aku lagi gak mau jadian sama siapa-siapa. Fokus pementasan dulu.”
“Masa?” sahut Andani dengn nada menggoda. “Kalau ada yang nembak gimana?”
“Siapa yang mau nembak memangnya?”
“Siapaaa ajaaa,” tawa Andani pun pecah. “Tentara juga boleh.”
Kali ini Ririn mencubit perutnya hingga gadis itu berteriak kencang.


LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 168)




Musikal 168

“Kamu mencariku?”
Andani menoleh. Senyumnya langsung mengembang saat sosok pemuda berdarah Jepang menghampirinya. Ia yakin kalau sekarang si pemuda tidak sedang menukar papan namanya.
“Ah, aku mau balikin tablet Senpai.”
Hiro menerima kembali tablet miliknya. Namun, ia merasa aneh dengan gadis ini.
“Yakin cuma karena ini?”
“Ahh, ketahuan, ya,” Andani terkekeh. “Hmm, yaah… sebenarnya aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya padaku.”
Hiro tersentak, “Maksudmu?”
“Ngg… Senpai… apakah Senpai memiliki perasaan khusus padaku? Melebihi batas pertemanan?”
Lama Hiro mengartikan kata-kata Andani di kepalanya, “Apa kamu suka sama aku?”
“Oh, nggak, nggak!” sahut Andani cepat. Ia bahkan sampai melambaikan tangan agar Hiro tak semakin salah paham. “Aku bertanya seperti itu karena aku ingin memastikan saja perasaanmu. Aku hanya tidak ingin ada pertengkarang di antara kalian berdua.”
“Kami?” lipatan di kening Hiro semakin menumpuk. “Tunggu dulu, semakin lama aku semakin tidak mengerti apa maksudmu.”
Andani berdeham, “Ji—Jiro Senpai bilang, Hiro Senpai suka padaku. Tapi beberapa hari yang lalu Jiro Senpai menyatakan perasaannya padaku.”
Akhirnya Hiro mengerti benang merah dari teka-teki Andani. Seketika tawanya meledak bahkan ia sampai meneteskan air mata.
“Ma—maaf,” ujarnya seraya meredakan tawanya. “Jadi begini, memang benar aku bilang begitu pada Jiro, tapi sebenarnya itu bohong. Aku hanya ingin memancing Jiro supaya cepat-cepat mengaku padamu.”
“Tapi untuk apa?” giliran Andani yang terkena kebingungan.
“Karena waktu kami tak banyak. Kalau kami sudah keburu pulang, akan sulit untuk bertemu denganmu lagi. Dan Jiro bukan tipe yang mudah berpindah ke lain hati. Selain itu, aku juga ingin membuat Jiro bahagia.”
Andani bergeming.
“Jadi, apa kamu sudah menentukan jawabannya?”
Kepala Andani menggeleng pelan, “Aku masih meragukan saudaramu. Maksudku, aku tidak yakin dia benar-benar mau pacaran. Aku cuma takut dia akan mempermainkanku saja.”
“Aku mengerti keraguanmu,” Hiro tersenyum bijak. “Tapi aku bisa menjamin kalau saudaraku itu bukan orang yang tega mempermainkan perasaan seorang gadis.”
ooOoo
Australia, 1 tahun yang lalu
Jiro hanya tersenyum tipis pada si gadis pirang yang baru saja meminta maaf padanya. Gadis itu padahal baru saja menyatakan perasaannya. Namun, ternyata si gadis salah mengajak lawan bicaranya. Ia berniat mengatakan perasaannya pada Hiro, tapi yang ia temui adalah Jiro. Tentu saja gadis itu sangat malu dan ia segera menghilang dari hadapan Jiro. Setelah itu Jiro tak tahu apakah gadis itu sudah menayatakan perasaan pada kembarannya. Namun, ketika ia menceritakannya pada Hiro, saudaranya itu cukup kaget. Ia sendiri baru tahu.
“Tapi kenapa kamu jadi kesal seperti itu?” tanya Hiro.
“Tidak apa. Aku hanya tidak mengerti kenapa orang-orang masih susah membedakan kita padahal kita sudah cukup lama mengenal mereka.”
“Kamu benci karena kita terlahir begitu mirip?”
“Bukan begitu. Maksudku kalau memang gadis itu menyukaimu, harusnya dia bisa membedakan kita. Bukannya kalau suka pada seseorang kita harus mengetahui orang itu secara keseluruhan. Kalau membedakan kita berdua saja dia tidak bisa, nantinya dia sendiri yang susah’kan?”
Hiro hanya mengangguk setuju.
“Ngomong-ngomong kamu punya tipe gadis sendiri, Hiro?”
Hiro tersentak. Ia tak menyangka kalau saudaranya itu tiba-tiba menanyakan hal seperti itu.
“Hmm, tipe gadis, yaa?” Hiro menggaruk-garuk ujung dagunya. “Aku sih lebih suka gadis Asia. Menurutku mereka lebih pengertian dan tidak terlalu suka pesta seperti perempuan bule. Aku juga suka pada gadis yang feminim, suka pakai rok, dan berambut panjang. Kalau bisa sih, aku mau punya pacar yang suaranya indah.”
“Wah, banyak juga syaratnya,” Jiro terkekeh dan disahut oleh saudaranya.
“Kalau JIro?”
“Eh, aku, ya?” Jiro mendengus pendek. “Ah, sederhana saja. Aku cuma mau dengan gadis yang bisa membedakan kita berdua dengan sekali lihat.”
“Hm, berarti kembar, ya? Soalnya cuma orang-orang kembar yang bisa membedakan kembar yang lain.”
“Kembar, ya, hmm,” JIro membeo sambil berpikir. “Yah, terserah. Kembar juga boleh. Siapa tahu dia bisa mengerti perasaanku.”
Dan begitulah. Tahun demi tahun berganti. Hingga mereka dipertemukan dengan Tifa yang membawa mereka datang ke Negara yang cukup sering mereka kunjungi. Nama Tifa tidaklah asing di telinga mereka. Sebelumnya mereka juga pernah bekerja sama, tapi saat itu belum ada perbincangan serius antara mereka. Kali ini wanita itu memberikan tawaran yang tak biasa. Hiro dan Jiro tidak bisa menolak karena meski aneh, tapi tawaran ini sangat menarik.
Pertemuan dengan anggota Love Musical menjadi lembar baru dalam hidup mereka. Di sisi lain, Jiro merasa telah menemukan apa yang selama ini dia cari.
Gadis yang bisa membedakan mereka dengan sekali pandang.
Sayangnya, gadis itu justru lebih condong pada kriteria yang pernah Hiro sebutkan. Meski ia sudah berusaha untuk melakukan pendekatan pada gadis itu bahkan ketika gadis itu mengalami musibah, tapi tetap saja JIro merasa kalau kedekatan Hiro dengan gadis itu melebihi dirinya. Perasaan Hiro menjadi statis. Ia tak ingin mundur, tapi ia juga terlalu takut untuk maju.
Sebagai anggota sel yang pernah membelah dua, Hiro bisa membaca gelagat saudaranya. Pada suatu waktu, Hiro pernah menanyakan perihal perasaan kembarannya.
“Jiro suka sama Andani-chan?”
“Tidak juga. Bukannya dia lebih mirip dengan tipenya Hiro,” jawab pemuda itu datar.
Ternyata benar dugaan Hiro. Dia tahu kalau Jiro stagnan karena tidak mau harus berebut gadis ini dengannya. Namun, Jiro tak pernah menanyakan bagaimana perasaan Hiro sebenarnya. Andani memang tipenya, tapi bukan berarti dia harus suka.
“Tapi, yah, memang sayang kalau pacaran sekarang,” pancing Hiro. “Nantinya juga kita akan kembali. Entah ke Aussie atau ke Tokyo.”
Kata-kata Hiro seolah berdengung di kepalanya. Berbagai dilema muncul. Namun, ia tak bisa melepaskan pandangannya pada gadis bersuara emas yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
“Yah, kalau memang kesempatan itu untukku, aku akan menjaganya.”
Hiro melirik saudaranya. Baru kali ini ia mendengar sumpah yang sangat manis.
ooOoo
Andani menunggu di halaman belakang gedung teater. Bel istirahat sebentar lagi habis dan orang yang ia tunggu belum juga muncul. Jika bel sampai berbunyi lebih dulu, ia bersumpah akan meninggalkan orang ini.
Dia selalu mencoba minggat dari sekolah. Tunggu saja di belakang gedung teater.’
Begitulah informasi yang didapat dari Hiro. Entah kenapa Andani tergugah setelah mendengar cerita tersebut. Jiro memang selalu membuat hatinya ragu, tapi Hiro bukanlah pembohong ulung. Jika ia bisa percaya pada kata-kata Hiro, itu artinya ia juga meyakinkan hatinya pada pemuda yang tempo hari menyatakan perasaan padanya.
“Andani-chanI?”
Lamunan Andani terbuyar. Sosok yang dari kemarin memenuhi pikirannya muncul. Jantungnya berdegup keras dan lidahnya berubah kelu. Entah kemana menguapnya semua keberanian yang susah payah ia kumpulkan.
Se—Senpai, mau minggat?”
“Bukan urusanmu,” Jiro tersenyum sinis. “Kamu mau apa di sini?”
“Aku mau bertemu denganmu.”
Jiro terperanjat, “Loh, ada apa?”
“Tentang perasaan Senpai waktu itu.”
“Bukannya aku kasih waktu sampai pementasan usai?” Kali ini senyuman Jiro melembut. “Tidak usah terburu-buru.”
“Aku tidak yakin bisa sampai pementasan selesai. Memangnya Senpai mau kalau kita hanya melewati waktu yang sebentar?”
“Ki—kita?” dahi Jiro berlipat. Ia hanya ingin memastikan kalau kata-kata Andani itu bukan dengungan lalat.
“Kupikir kita bisa menjalaninya bersama. Sebenarnya aku ingin mengenal Senpai dulu, tapi itu akan memakan waktu yang lama. Makanya kupikir lebih baik mengenal Senpai lebih jauh lagi setelah kita bersama.”
“Pacaran?”
Saat Andani mengangguk tersipu, Jiro tak bisa menahan perasaannya. Seperti ada letusan gunung api yang memuntahkan semua isi perut bumi. Bergemuruh dan ia tak bisa menahannya. Ia bahkan tak sadar telah memeluk Andani sangat erat.
Se—senpai, kita masih di sekolah!”
“Oh, maaf,” Jiro melepaskan pelukannya. “A—aku terlalu senang. Aku tidak menyangka kalau kamu akan menerimanya secepat itu.”
“Aku juga. Eh, maksudku, berterima kasihlah pada saudaramu karena dialah yang meyakinkanku untuk menerimamu sekarang.”
“Eh, Hiro?” Jiro tersentak kaget.
Andani mengangguk, “Dia bilang kalau selama ini dia cuma mau memanas-manasimu saja. Supaya Senpai cepat-cepat menyataka perasaannya padaku.”
“Jadi, dia bohong?” Andani mengangguk lagi dan perasaan kesal langsung menyergapi Jiro. “Ahh, sialan dia. Aku harus berhutang maaf dan terima kasih.”
Andani tersenyum geli, “Senpai, jadi minggatnya?”
“Kupikir tidak,” ia tersenyum manja. “Masa aku mau melewatkmu hari ini.”
“Kalau begitu ayo kembali. Barusan bel berbunyi’kan?”
“Ehem, asal kamu mau pegang tanganku.”
Andani baru tahu kalau Jiro sangat manja. Namun, melihat wajah polosnya, Andani tak tega untuk mengabaikan uluran tangan itu. Seperti ada voltase listrik saat kulit mereka perlahan bersentuhan, tapi entah kenapa masing-masing tak ada yang mau melepaskan. Wajah Andani merona sementara debaran jantung Jiro semakin tak terkontrol. Mereka berjalan malu-malu dengan jemari yang saling bertaut.
Tampak dari jauh Hiro mengawasi mereka. Ia hanya tersenyum tipis. Sesaat kemudian ia mendesah panjang.
Kali ini biarlah kamu yang bahagia…’

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 167)




Musikal 167

Ben tak langsung pulang ke rumah setelah itu. Ia lebih suka menghabiskan harinya di rumah Wenda. Awalnya ia bersama Kemal, tapi panggilan darurat mengharuskan Kemal pulang lebih dulu. Lalu di sinilah Ben sekarang, tanpa ada niatan untuk segera beranjak.
“Setelah dengar cerita Andani tadi, rasanya aku bersalah banget ya nuduh Miss Tifa kayak gitu. Mereka benar, kita sekarang menghakiminya tanpa melihat jasa-jasa yang dulu pernah dia lakukan demi kita.”
Wenda tersenyum kecil. Baru kali ini ia mendengar keluhan frustasi Ben. Laki-laki yang terkenal tenang itu ternyata bisa goyah juga.
“Kamu gak salah kok. Kita semua berpikir begitu, tapi sekarang kita sudah menyadari. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”
Ben mendesah berat.
“Oh, ayolah, ketua,” Wenda meninju pelan bahu Ben. “Kamu harus semangat dong. Tugas kita makin berat loh. Kita harus meyakinkan anak-anak supaya mereka mau kembali latihan. Ingat, seorang ketua yang goyah tidak akan membawa kembali teman-temannya!”
Kali ini tarikan napas Ben terdengar dalam dan panjang. Ia menganggukkan kepalanya.
“Ya, aku harus kuat,” ia tersenyum pada Wenda. “Thank’s ya.”
Wenda mengangguk lalu keduanya tenggelam dalam kesunyian.
“Hmm, kayaknya aku pulang dulu deh. Udah malam dan besok aku harus memulai misi. Salam buat mamamu ya.”
Wenda kembali mengangguk seraya mengantar Ben sampai di depan pagar. Ketika Ben hampir saja memasukkan perseneling, Wenda buru-buru menahannya.
“Ada apa, Wen?” ujar Ben seraya membuka kaca helmnya.
“Ng… itu… tentang pernyataanmu waktu itu.”
Suara Wenda yang mencicit memaksa Ben untuk mematikan mesin motornya. Ia tak melepas helm, tapi memandang gadis ini dengan tanda tanya.
“Hmm, aku sudah memikirkannya. Hmm, kupikir… tidak ada salahnya untuk menjalani dulu bersamamu.”
Ben tersentak. Ia melepas helmnya seraya turun dari motor.
“Ka—kamu serius, Wen? Aku gak salah dengar’kan?”
Wenda menggeleng pelan, “Aku sudah berpikir masak-masak dan sebelum hatiku berkata lain, kuputuskan untuk mengatakannya sekarang.”
Ben berusaha menahan agar ia tak berloncatan seperti supoter bola. Namun, ekspresi wajahnya tak bisa menipu. Ia terlihat begitu senang.
“Ya ampun, Wen. Aku bahkan sudah ikhlas kalau seandainya kamu gak nerima aku.”
Wenda berdeham. Ada senyuman usil menyeringai,  “Ohh, jadi kamu mau tetap kita temenan aja, gitu?”
“Yah, yah, jangan dong!” Ben langsung panik. Ia langsung meraih tangan Wenda dan menggenggamnya. “Kita baru jadian beberapa menit yang lalu, masa langsung bubar? Tapi, eh, kita beneran jadian’kan?”
Sekali lagi Wenda mengangguk mantap, “Ya, kita jadian.” Ia dapat mendengar Ben kata ‘yesss’ mendesis dari bibir Ben.
“Hmm, aku jadi gak mau pulang, tapi aku harus pulang,” Ben mencubit pipi Wenda seraya mengedipkan mata. “Aku pulang dulu ya, Beb.”
Kali ini Wenda harus menahan tawanya ketika Ben mengubah nama panggilannya. Ia tak bisa berkata-kata dan hanya melambaikan tangan ketika motor Ben meraung di jalanan.
ooOoo
Wenda juga masih tak percaya kalau ia mengatakan keputusannya saat itu. Meski sebelumnya ia terlihat tenang, tapi jantungnya tak bisa bersandiwara. Entah kenapa Ben tak menyadarinya, tapi ia berani bersumpah kalau degupan jantungnya bahkan lebih keras daripada dentuman nuklir Korea Utara.
Sejak pertama Ben mengatakan isi hatinya dan setelah ciuman pertama mereka, Wenda berdusta jika ia tak memikirkan Ben sama sekali. Belum lagi bujukan Anjani dan Kemal yang semakin menggoyahkan hatinya.
Memang tak ada yang salah dengan Ben. Dia tampan, punya banyak bakat, selalu bisa diandalkan, dan terlebih dia mempunyai perhatian padanya. Hanya saja terlalu banyak waktu yang dihabiskan dalam lingkaran persahabatan membuatWenda meragu untuk mengubah status mereka. Ia takut Ben akan berubah. Ia takut akan bertengkar seperti sepasang kekasih dan akhirnya mereka akan berpisah.
Intinya Wenda takut kehilangan sosok Ben. Dia memang serakah.
Tapi semakin lama dipikirkan, justru semakin menggantung. Ben tak lagi mengumbar-umbar perasaannya. Anjani dan Kemal juga tak lagi mendesak. Belum lagi banyak permasalahan yang mereka hadapi, membuat jarak antara mereka berdua semakin melebar. Sikap manis yang selalu Ben tunjukkan semakin lama semakin pudar. Mungkin karena pemuda itu kehilangan rasa percaya diri mengenai balasan untuk perasaannya. Wenda mengerti semua itu dan sebelum semua itu menjadi hambar, ia membulatkan tekadnya untuk membalas perasaan Ben.
Wenda juga telah memperhitungkan risiko yang akan timbul jika persahabatan mereka akan berubah jalur. Namun, ia tepis semua keraguan itu. Percuma jika hanya terus berpikir dan tanpa melakukan aksi karena tak ada orang yang bertahan dengan perasaan yang terus-menerus digantung. Oleh karena itu, ia memberanikan diri untuk selangkah lebih maju.
Lebih baik terus mendapatkannya dengan cara yang berbeda daripada harus benar-benar kehilangan, bukan?
ooOoo
Jika Wenda sudah mendapatkan jawaban pasti, maka lain halnya dengan Andani. Sampai saat ini ia masih belum bisa menjawab pernyataan Jiro tempo hari. Lebih tepatnya ia belum memastikan kalau dirinya benar-benar jatuh cinta pada pemuda Jepang itu.
Sebenarnya keadaan Andani dan Wenda tak jauh berbeda. Mereka tiba-tiba mendapat pernyataan cinta dari orang terdekat mereka, kemudian karena berbagai alasan orang tersebut justru menjaga jarak. Namun, Wenda sedikit beruntung. Setidaknya ia sudah mengenal baik-buruk Ben lebih lama. Selain itu, Wenda dan Ben selalu bersama karena mereka satu kelas. Keadaan berbeda itu yang dirasakan Andani. Ia baru mengenal Jiro ketika pemuda itu beserta saudaranya bergabung dalam Love Musical. Mereka tak terlalu banyak mengobrol selain membicarakan masalah latihan. Setelah itu Andani vakum karena sakitnya dan pembicaraan mereka tidak berkembang hingga Jiro menyatakan perasaannya. Perasaan Andani mulai terombang-ambing.
Apakah lebih baik ditolak saja? Toh ia tak kenal ini, tapi rasa bersalah pasti akn menghantuinya. Tidak ada yang salah dengan pemuda itu. Ia pemuda yang baik meski jahilnya keterlaluan. Dan sebenarnya Jiro sudah sering menunjukkan sikap sukanya pada, hanya saja Andani suka menghindar. Jiro memang suka usil, makanya Andani tidak pernah menganggapnya serius.
Lalu  haruskah ia menerima pemuda itu? Kalau demikian berarti permasalahan kembali ke poin pertama. Ia tak kenal Jiro. Dia memang tahu cerita Jiro dan Hiro di balik layar, tapi selebihnya ia tak tahu. Seandainya terjadi sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu pemuda itu, Andani pasti tidak tahu harus melakukan apa. Lalu jika mengesampingkan poin awal, masih ada yang memberatkan Andani untuk menerima pemuda itu. Setelah pementasan berakhir bukankah pemuda itu akan kembali ke Negara asalnya. Lantas bagaimana hubungan mereka? LDR tanpa kepastian?
Bingung berpikiran sendirian, ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Anjani. Ternyata saudarinya itu baru saja akan mengetuk pintu kamarnya. Mereka sama-sama terkejut. Namun, Anjani lebih dulu mengambil alih obrolan.
“Aku baru mau nyamperin kamu. Ada hot news!”
Andani terpaksa menunda curahan hatinya.
“Tahu gak? Wenda sama Ben udah jadian!”
“Eh, kapan?” Andani tak bisa tak terkejut mendengar berita ini.
“Barusan. Fiuuh, usaha aku dan Kemal gak sia-sia.”
Andani hanya mengangguk-angguk. Ternyata kembarannya dapat membaca keadaan.
“Kamu tadi kayaknya mau ke kamar aku. Ada yang mau kamu omongin?”
Tarikan napas Andani terdengar panjang dan berat, “Sebenarnya aku cerita tentang Jiro Senpai.”
“Kamu masih bingung mau jawab apa?”
Andani mengangguk sementara Anjani tertawa geli.
“Kayaknya pertimbangan kamu banyak banget deh. Memangnya apa sih bikin kamu berat terima Jiro Senpai?”
“Intinya sih aku gak terlalu kenal dengan dia. Lagi pula kalau seandainya kami pacaran nanti, pasti kami LDR. Masa baru pacaran langsung pisah?”
Kepala Anjani mengangguk-angguk. Keningnya berkerut tanda berpikir.
“Daripada kelamaan mikir, kenapa kamu gak coba jalanin dulu aja? Kalau memang dia serius, hubungan kalian bakalan awet-awet aja kok, mau sejauh apa pun jarak kalian.”
“Tapi masa hubungan dimulai dari coba-coba? Memangnya minyak kayu putih?”
Tawa Anjani pecah, “Ya ampuuun, An. Aku bilang jalani, bukan coba-coba. Biarkan semuanya mengalir. Jangan mikir yang terlalu jauh. Nikmati saja waktu kebersamaan kalian setelah itu terserah waktu yang menjawab.”
Andani kembali mendesah panjang, tapi kali ini ia merasa kejanggalan dalam hatinya sedikit terbuka. Kata-kata saudaranya akan ia ingat baik-baik.