Musikal 169
“Wah, kayaknya ada yang kena pajak jadian nih.”
Kemal berkacak pinggang sementara Wenda dan Ben hanya
menahan tawa. Wajah Andani ikut-ikutan memerah. Mungkin cerita Ben dan Wenda
sudah menyebar dari semalam, dan mungkin keduanya sendiri yang bercerita.
Sementara Andani tidak sengaja terpergok Kemal sedang berpegangan tangan dengan
Jiro. Kontan saja laki-laki ini heboh. Dia berteriak ke penjuru kelas mengenai
hasil temuannya. Seketika kelas menjadi ikutan heboh bahkan kabar ini melebihi
berita Ben dan Wenda.
“Pokoknya jangan ajak-ajak aku aja,” ujar Anjani.
“Kalo kemarin syukuran kita patungan, sekarang kamu sendiri yang bayar.”
Andani merengut, “Yaah, kok kamu kejam, Jane?”
“Lah, yang jadian’kan kamu bukan aku,” Anjani
meleletkan lidahnya.
“Duuh, jangan bully
aku dong.”
Mereka semua tertawa.
“Ngomong-ngomong, kenapa pas banget kalian lagi
ngumpul sih?” ujar Andani. “Mau ada apa?”
“Ah, ya,” Ben berdeham seraya membetulkan posisi
duduknya. “Aku mengumpulkan kalian untuk membahas kelanjutan Love Musical.”
Telunjuk Ririn terlihat sedang menghitung-hitung
jumlah orang yang diajak berkumpul, “Hanya tujuh orang?”
“Aku hanya mengajak orang-orang terdekat dulu. Soalnya
cuma kalian yang bisa aku percaya.”
Ririn mengangguk-anggukan kepalanya, begitu pula yang
lain.
“Jadi, apa yang mau kamu bahas?” tanya Alexi.
“Yah, kalian tahu kalau sekarang pementasan kita
sedang digantung. Kita tidak tahu bagaimana kondisi Miss Tifa saat ini dan sekali pun Miss Tifa pulih, kita juga tidak tahu apakah beliau tetap akan
melanjutkan pementasan ini.
“Dan sekarang aku mengumpulkan kalian untuk bertanya,
apakah kalian tetap ingin pementasan ini berlanjut? Jika iya, maka aku minta
bantuan kalian untuk meyakinkan yang lain supaya tetap berada di dalam klub
ini. Kita juga harus kembali berlatih karena kita sudah banyak waktu yang
terbuang.”
Ben mendesah panjang, “Tapi jika tidak, maka silakan
tinggalkan kumpulan ini.”
“Kamu sendiri maunya gimana, Ben?” ujar Alexi.
“Aku… aku tetap ingin melanjutkan,” Ben mengangguk
mantap. “Ya, aku masih tetap ingin di sini.”
Jawaban Ben terdengar mantap dan itu membuat Alexi
tersenyum, “Kalau begitu aku juga ikut bersamamu.”
Tiba-tiba tangan Kemal melingkar di bahu Ben, “Kita
pasangan duet yang tak terpisahkan. Walaupun kamu sudah sama Wenda, but I’ll go wherever you will go.”
“Apaan sih, Mal?” Wenda meninju lengan Kemal hingga
pemuda itu tertawa. “Terlepas aku pacarmu, aku juga masih ingin di sini.”
“Aku juga!” seru Anjani sambil mengangkat tangan.
“Aku ikut,” sahut Ririn.
“Aku juga masih ingin pementasan ini diteruskan,”
sahut Andani. “Meskipun aku bukan lagi bagian dari kalian.”
“Kamu tetap bagian dari kita kok,” sambung Ririn yang
disambut senyuman Andani.
Ben mendesah lega, “Makasih ya, teman-teman. Kalau
kalian setuju, nanti biar aku yang bicara dengan Kak Santi supaya dia bisa
mengajak kakak-kakak kelas XI”
“Aku juga bakal bantu,” sahut Andani. “Yaah,
hitung-hitung aku sekarang sudah punya koneksi dekat dengan anak kelas XI.”
“Cieee, mentang-mentang yang baru jadian,” Ririn
menggodanya sambil menyikut lengan gadis itu.
“Oke, oke, makasih ya, An,” ujar Ben sambil tertawa.
“Apa kami juga bisa ikut bergabung?”
Sumber suara yang tak terduga. Ketika mereka semua
menoleh, mereka mendapati Priyanka dan Fi mencoba bergabung. Suasana akrab itu
berubah dingin kala Priyanka bertukar pandang dengan Wenda dan Fi bertatapan
dengan Ririn.
“Aku tahu di antara kita memiliki masalah pribadi. Aku
juga bukan mau membela diri, tapi bisakah kita singkirkan dulu perasaan
masing-masing? Bukankah kita semua mempunyai tujuan yang sama untuk pementasan
ini?”
Nada suara Fi yang tegas membuat suasana semakin
dingin. Tapi tak ada yang salah dengan kata-katanya. Tak ada yang berani
menyangkal.
“Kamu benar. Terima kasih sudah mau bergabung,” Ben
akhirnya menengahi.
Ririn mencoba tersenyum, “Ya, benar. Aku setuju dengan
Fi.
Fi menatap Ririn. Mencoba mencari kepalsuan dari
jawaban gadis itu. Namun, ia tak berhasil menemukan. Fi pun membalas
senyumannya.
“Gimana nih, Wen?” Kemal menggodanya karena ia sadar
perubahan wajah Wenda ketika Priyanka bergabung dengan mereka.
“Apaan sih, Mal?” Wenda merengut seraya membuang muka.
“Aku’kan sudah bilang setuju dari tadi.”
“Yaah, kirain mau berubah pikiran gitu,” Kemal
bersiul-siul.
“Udah, udah, gak usah saling sindir,” lerai Ben.
“Benar kata Fi, kita singkirkan dulu semua masalah pribadi karena saat ini kita
harus sama-sama. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih karena kalian sudah mau
bergabung. Hmm, besok baru kita mulai rencana kita.”
Kali ini semua orang mengangguk setuju.
ooOoo
“Iih, gitu ya. Mau jadian gak cerita-cerita sama aku dulu. Ya udah deh,
kita gak usah temenan lagi.”
Ririn pura-pura merajuk. Setelah bel pulang sekolah
berbunyi, Ririn buru-buru menarik Andani untuk meminta penjelasan. Ia sengaja
menyudutkan Andani agar gadis itu memelas-melas.
“Yaah, jangan dooong. Maaf yaah, nanti aku beliin kamu
es krim.”
“Huh, aku masih dilarang makan es krim,” Ririn melipat
tangannya di dada seraya membuang muka.
“Hmm, cokelat deh?”
Senyum Ririn mengembang, “Oke, sepakat!”
Andani tertawa. Ia tak meyangka sangat mudah membujuk
temannya.
“Tapi kenapa kamu cepat-cepat nerima dia? Padahal
waktu ditembak kemarin kamu malah diam saja?”
“Sebelumnya aku udah banyak mikir. Aku juga sempat
curhat sama Jane dan dia bilang sih terima aja. Terus aku juga sempat bertanya
sama Hiro Senpai dan akhirnya cerita
masa lalunya yang semakin buat aku yakin untuk menerima dia.”
“Tapi kamu tetap pakai hati’kan? Bukan karena dukungan
sana-sini?”
“Iya dong, Ririn sayang!” jawab Andani gemas. “Kamu
tuh kapan jadiannya?”
“Hah, jadian sama siapa?”
Bahu Andani terangkat, “Terserah, mau sama Adrian kek,
sama Kemal kek, atau…”
“Atau siapa?”
“Siapa aja boleeeh,” sahut Andani yang membuat Ririn
mencubit pipinya.
“Aku lagi gak mau jadian sama siapa-siapa. Fokus
pementasan dulu.”
“Masa?” sahut Andani dengn nada menggoda. “Kalau ada
yang nembak gimana?”
“Siapa yang mau nembak memangnya?”
“Siapaaa ajaaa,” tawa Andani pun pecah. “Tentara juga
boleh.”
Kali ini Ririn mencubit perutnya hingga gadis itu
berteriak kencang.