Musikal 93
Bel pulang sudah berbunyi. Semua siswa bergegas
merapikan alat tulis agar lekas pulang. Suasana mulai riuh. Keributan itu
berasal dari suara-suara siswa yang mulai merencakan kegiatan sepulang sekolah
atau membahas pelajaran yang kurang menyenangkan. Suara-suara itu mulai meredam
seiring dengan langkah kaki mereka yang berangsur-angsur meninggalkan kelas.
Namun, itu tidak
terjadi dengan Alexi. Laki-laki itu tetap bergeming di tempat duduknya meski
seisi kelas sudah hampir meninggalkannya. Seperti sudah saling memberi kode,
Wenda juga tidak beranjak. Mereka berdua sengaja menunggu sampai kelas
benar-benar kosong.
Ririn merasa heran
kala melewati bangku Alexi, tapi si empunya belum berniat pulang. Tak sengaja
ketika ia memperhatikan laki-laki itu, laki-laki itu membalas tatapannya.
Senyuman yang tergurat di wajah laki-laki itu seolah mengatakan bahwa semua
akan baik-baik saja. Mata Ririn refleks mengerling pada Wenda. Ia pun mengerti
apa maksudnya. Ririn membalas senyuman itu dengan anggukan kecil.
Kelas pun akhirnya benar-benar
bebas kosong. Menyisakan Alexi dan Wenda yang masih terpaku di tempat duduk.
Alexi melirik pintu kelas yang terbuka lebar, lalu ia beranjak dan menutup
rapat pintu itu.
“ Aku… aku tidak tahu
harus dimulai dari mana,” ujar Alexi dengan posisi masih menghadap pintu.
“ Mungkin bisa kamu
ceritakan mulai dari alasan kalian berpelukan malam itu,” jawab Wenda tanpa
melirik Alexi.
Alexi berbalik cepat,
“ Nadia yang memelukku. Aku sama sekali tidak tahu kalau dia akan melakukan
itu.”
Wenda mengangkat
bahunya; tidak peduli.
Terdengar desahan
panjang dari Alexi, “ Sudah kukatakan waktu itu. Kalau aku memang pernah
menyukai Nadia dan menyatakan perasaanku padanya, lalu ditolak. Aku juga
mengaku kalau Nadia itu masih saudara jauhku.”
Alexi duduk di meja
yang paling dekat dengan pintu. Ia menatap Wenda yang masih terlihat tidak
mengacuhkannya.
“ Aku tidak bohong.
Nadia memang anak dari salah satu kerabat ibuku. Saat di Bandung dulu, aku dan
dia bertetangga. Kami berteman sejak kecil dan mungkin karena pertemanan itu
aku jadi menaruh perhatian padanya. Selain itu, kami juga sama-sama
bercita-cita menjadi seorang pianis.
“ Nadia memang lebih
tua beberapa tahun dariku, jadi wajar jika aku hanya dianggapnya sebagai adik.
Makanya saat dia menolakku dia bilang kalau kami sebaiknya tetap menjadi teman
atau saudara saja. Saat itu aku memang patah hati, tapi aku tetap bisa
menerima.”
Helaan napas Alexi
mulai terdengar berat. Hal itu mulai memancing perhatian Wenda.
“ Tapi kejadian yang
membuatku lebih sakit hati adalah setelah itu. Aku baru tahu alasan kenapa
Nadia waktu itu menolakku. Bukan karena usiaku atau hubungan persaudaraan kami,
tapi karena ayahku.
“ Dari awal ayahku
memang tidak terlalu menyukai keluarga dari pihak ibuku. Apa lagi sejak
melihatku berakrab-akraban dengan Nadia. Dia tahu kalau aku menyukai Nadia.
Makanya dia bergegas menyusun rencana supaya aku terpisah dengan Nadia. Dia
memberikan beasiswa pada Nadia di Jakarta dan Nadia waktu itu mau-mau saja.
Ironinya, sebelum Nadia pergi, dia bilang padaku kalau dia juga punya perasaan
yang sama denganku, tapi dia tidak bisa menolak kesempatan ini.
“ Aku marah.
Benar-benar marah. Marah pada ayahku yang sudah menyusun skenario picisan ini.
Juga marah pada Nadia, kenapa dia lebih memilih kesempatan itu daripada aku.
Kalau memang dia menyukaiku seharusnya dia bisa mempertahankan perasaannya.
“ Akhirnya, setelah
aku tamat SMP, aku pindah ke Palembang. Masuk ke sekolah kalian dan memulai
hidup baru. Aku mencoba melupakan semua amarahku sampai aku bertemu dia lagi.
Kali ini aku menyusun skenario supaya aku bisa balas dendam padanya. Aku tahu
saat ini dia sudah sukses dan pasti akan memintaku kembali. Aku hanya ingin dia
tahu rasanya dicampakkan.
“ Tapi ternyata dia
datang ke sini pun atas perintah ayahku. Aku benar-benar kecewa dengannya saat
itu. Harusnya aku tidak usah berhubungan dengannya lagi. Harusnya aku
mengabaikannya saja. Tidak usah berniat balas dendam yang akhirnya justru
menjadi bumerang bagiku dan malah menyakitimu.”
Alexi kemudian
beranjak dan menuju tempat duduk Wenda. Gadis itu terkejut saat melihat Alexi
tiba-tiba menundukkan tubuhnya.
“ Maaf, aku sudah
mempermainkan perasaanmu. Maaf, aku melibatkanmu dalam permainanku. Maaf,
karena aku tidak bisa menerima perasaanmu. Dan juga maaf, karena
mempermalukanmu malam itu. Jujur, aku hanya tidak ingin menyakitimu lebih lama
lagi.”
Wenda merasakan ada
sebilah melati menancap di dadanya ketika ia melihat laki-laki meminta maaf
seperti orang yang akan dihukum mati. Laki-laki itu bahkan tak mengangkat
kepalanya sampai Wenda mengatakan sesuatu.
“ Hei, Alexi. Aku…”
Wenda menarik napas panjang. “ Sudahlah, tidak usah menunduk seperti itu lagi.
Aku jadi merasa tidak enak.”
Alexi perlahan
mengangkat wajahnya. Masih ada raut kekesalan di wajah gadis itu.
“ Aku… aku tidak tahu
apakah aku bisa memaafkanmu sekarang. Aku masih merasa kesal karena kamu
menolakku, tapi… mungkin harapanku padamu juga terlalu tinggi. Aku benar-benar
tulus menyukaimu.”
“ Aku tahu,” Alexi
mengangguk kecil. “ Kamu gadis yang baik, Wen. Aku yakin ada banyak laki-laki
lain yang jauh lebih menghargai perasaanmu.”
“ Tidak bisakah
laki-laki itu kamu saja?” tanya Wenda penuh harap.
Alexi kembali
menundukkan kepalanya, lalu menggeleng pelan.
“ Maaf….”
Mata Wenda terasa
panas. Hampir saja ia meneteskan air mata karena pedihnya penolakan itu. Namun,
ia masih berusaha menahan supaya ia tidak terlihat patah hati.
“ Baiklah, sepertinya
aku memang tidak bisa meruntuhkan perasaanmu. Kamu memang tidak ada empati pada
orang lain, Al. Begini saja, kalau ada orang yang bertanya ada apa dengan
hubungan kita, bilang saja kalau kamu yang menembakku, tapi aku justru
menolakmu. Aku tidak mau reputasiku hancur gara-gara semua orang tahu bahwa
akulah yang menyatakan perasaan padamu. Dengan begitu aku anggap kita impas.”
Alexi menarik napas
panjang, “ Baik, jika itu yang kamu mau.”
“ Jadi, tetaplah di
sini sampai aku pergi. Buatlah seolah-olah kamu baru saja menerima penolakan.”
Wenda beranjak seraya
mencangklong ranselnya. Ketika di ambang pintu ia menyempatkan diri untuk
menoleh ke belakang. Laki-laki itu belum bergerak dari tempat dia berdiri.
Keadaan terlihat benar-benar paradoks dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Wenda bergegas
meninggalkan kelas. Ia mempercepat langkahnya. Semakin cepat, bahkan ia
sekarang setengah berlari. Namun, ketika ia berada di tikungan lorong, ia
merasa ada yang menarik tubuhnya.
Orang itu mendekapnya
erat. Sangat erat sampai Wenda tak bisa melepaskan diri. Tak hanya erat, tapi
pelukan itu juga terasa hangat. Terlalu hangat sampai-sampai membuat Wenda tak
mampu menahan air matanya yang sudah mengambang di pelupuk matanya.
Di dalam pelukan itu
Wenda menangis sejadi-jadinya. Menangisi perasaanya yang sudah hancur. Perasaan
yang ia bangun dengan tulus itu telah pupus.
Author's Note:
Yang dari kemarin sempet ilfeel sama Alexi, hohoho.... Author harap postingan kal ini membuat rasa itu terobati
ciawww