Total Tayangan Halaman

Jumat, 28 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extaordinary (Musikal 93)




Musikal 93

Bel pulang sudah berbunyi. Semua siswa bergegas merapikan alat tulis agar lekas pulang. Suasana mulai riuh. Keributan itu berasal dari suara-suara siswa yang mulai merencakan kegiatan sepulang sekolah atau membahas pelajaran yang kurang menyenangkan. Suara-suara itu mulai meredam seiring dengan langkah kaki mereka yang berangsur-angsur meninggalkan kelas.
Namun, itu tidak terjadi dengan Alexi. Laki-laki itu tetap bergeming di tempat duduknya meski seisi kelas sudah hampir meninggalkannya. Seperti sudah saling memberi kode, Wenda juga tidak beranjak. Mereka berdua sengaja menunggu sampai kelas benar-benar kosong.
Ririn merasa heran kala melewati bangku Alexi, tapi si empunya belum berniat pulang. Tak sengaja ketika ia memperhatikan laki-laki itu, laki-laki itu membalas tatapannya. Senyuman yang tergurat di wajah laki-laki itu seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Mata Ririn refleks mengerling pada Wenda. Ia pun mengerti apa maksudnya. Ririn membalas senyuman itu dengan anggukan kecil.
Kelas pun akhirnya benar-benar bebas kosong. Menyisakan Alexi dan Wenda yang masih terpaku di tempat duduk. Alexi melirik pintu kelas yang terbuka lebar, lalu ia beranjak dan menutup rapat pintu itu.
“ Aku… aku tidak tahu harus dimulai dari mana,” ujar Alexi dengan posisi masih menghadap pintu.
“ Mungkin bisa kamu ceritakan mulai dari alasan kalian berpelukan malam itu,” jawab Wenda tanpa melirik Alexi.
Alexi berbalik cepat, “ Nadia yang memelukku. Aku sama sekali tidak tahu kalau dia akan melakukan itu.”
Wenda mengangkat bahunya; tidak peduli.
Terdengar desahan panjang dari Alexi, “ Sudah kukatakan waktu itu. Kalau aku memang pernah menyukai Nadia dan menyatakan perasaanku padanya, lalu ditolak. Aku juga mengaku kalau Nadia itu masih saudara jauhku.”
Alexi duduk di meja yang paling dekat dengan pintu. Ia menatap Wenda yang masih terlihat tidak mengacuhkannya.
“ Aku tidak bohong. Nadia memang anak dari salah satu kerabat ibuku. Saat di Bandung dulu, aku dan dia bertetangga. Kami berteman sejak kecil dan mungkin karena pertemanan itu aku jadi menaruh perhatian padanya. Selain itu, kami juga sama-sama bercita-cita menjadi seorang pianis.
“ Nadia memang lebih tua beberapa tahun dariku, jadi wajar jika aku hanya dianggapnya sebagai adik. Makanya saat dia menolakku dia bilang kalau kami sebaiknya tetap menjadi teman atau saudara saja. Saat itu aku memang patah hati, tapi aku tetap bisa menerima.”
Helaan napas Alexi mulai terdengar berat. Hal itu mulai memancing perhatian Wenda.
“ Tapi kejadian yang membuatku lebih sakit hati adalah setelah itu. Aku baru tahu alasan kenapa Nadia waktu itu menolakku. Bukan karena usiaku atau hubungan persaudaraan kami, tapi karena ayahku.
“ Dari awal ayahku memang tidak terlalu menyukai keluarga dari pihak ibuku. Apa lagi sejak melihatku berakrab-akraban dengan Nadia. Dia tahu kalau aku menyukai Nadia. Makanya dia bergegas menyusun rencana supaya aku terpisah dengan Nadia. Dia memberikan beasiswa pada Nadia di Jakarta dan Nadia waktu itu mau-mau saja. Ironinya, sebelum Nadia pergi, dia bilang padaku kalau dia juga punya perasaan yang sama denganku, tapi dia tidak bisa menolak kesempatan ini.
“ Aku marah. Benar-benar marah. Marah pada ayahku yang sudah menyusun skenario picisan ini. Juga marah pada Nadia, kenapa dia lebih memilih kesempatan itu daripada aku. Kalau memang dia menyukaiku seharusnya dia bisa mempertahankan perasaannya.
“ Akhirnya, setelah aku tamat SMP, aku pindah ke Palembang. Masuk ke sekolah kalian dan memulai hidup baru. Aku mencoba melupakan semua amarahku sampai aku bertemu dia lagi. Kali ini aku menyusun skenario supaya aku bisa balas dendam padanya. Aku tahu saat ini dia sudah sukses dan pasti akan memintaku kembali. Aku hanya ingin dia tahu rasanya dicampakkan.
“ Tapi ternyata dia datang ke sini pun atas perintah ayahku. Aku benar-benar kecewa dengannya saat itu. Harusnya aku tidak usah berhubungan dengannya lagi. Harusnya aku mengabaikannya saja. Tidak usah berniat balas dendam yang akhirnya justru menjadi bumerang bagiku dan malah menyakitimu.”
Alexi kemudian beranjak dan menuju tempat duduk Wenda. Gadis itu terkejut saat melihat Alexi tiba-tiba menundukkan tubuhnya.
“ Maaf, aku sudah mempermainkan perasaanmu. Maaf, aku melibatkanmu dalam permainanku. Maaf, karena aku tidak bisa menerima perasaanmu. Dan juga maaf, karena mempermalukanmu malam itu. Jujur, aku hanya tidak ingin menyakitimu lebih lama lagi.”
Wenda merasakan ada sebilah melati menancap di dadanya ketika ia melihat laki-laki meminta maaf seperti orang yang akan dihukum mati. Laki-laki itu bahkan tak mengangkat kepalanya sampai Wenda mengatakan sesuatu.
“ Hei, Alexi. Aku…” Wenda menarik napas panjang. “ Sudahlah, tidak usah menunduk seperti itu lagi. Aku jadi merasa tidak enak.”
Alexi perlahan mengangkat wajahnya. Masih ada raut kekesalan di wajah gadis itu.
“ Aku… aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu sekarang. Aku masih merasa kesal karena kamu menolakku, tapi… mungkin harapanku padamu juga terlalu tinggi. Aku benar-benar tulus menyukaimu.”
“ Aku tahu,” Alexi mengangguk kecil. “ Kamu gadis yang baik, Wen. Aku yakin ada banyak laki-laki lain yang jauh lebih menghargai perasaanmu.”
“ Tidak bisakah laki-laki itu kamu saja?” tanya Wenda penuh harap.
Alexi kembali menundukkan kepalanya, lalu menggeleng pelan.
“ Maaf….”
Mata Wenda terasa panas. Hampir saja ia meneteskan air mata karena pedihnya penolakan itu. Namun, ia masih berusaha menahan supaya ia tidak terlihat patah hati.
“ Baiklah, sepertinya aku memang tidak bisa meruntuhkan perasaanmu. Kamu memang tidak ada empati pada orang lain, Al. Begini saja, kalau ada orang yang bertanya ada apa dengan hubungan kita, bilang saja kalau kamu yang menembakku, tapi aku justru menolakmu. Aku tidak mau reputasiku hancur gara-gara semua orang tahu bahwa akulah yang menyatakan perasaan padamu. Dengan begitu aku anggap kita impas.”
Alexi menarik napas panjang, “ Baik, jika itu yang kamu mau.”
“ Jadi, tetaplah di sini sampai aku pergi. Buatlah seolah-olah kamu baru saja menerima penolakan.”
Wenda beranjak seraya mencangklong ranselnya. Ketika di ambang pintu ia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Laki-laki itu belum bergerak dari tempat dia berdiri. Keadaan terlihat benar-benar paradoks dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Wenda bergegas meninggalkan kelas. Ia mempercepat langkahnya. Semakin cepat, bahkan ia sekarang setengah berlari. Namun, ketika ia berada di tikungan lorong, ia merasa ada yang menarik tubuhnya.
Orang itu mendekapnya erat. Sangat erat sampai Wenda tak bisa melepaskan diri. Tak hanya erat, tapi pelukan itu juga terasa hangat. Terlalu hangat sampai-sampai membuat Wenda tak mampu menahan air matanya yang sudah mengambang di pelupuk matanya.
Di dalam pelukan itu Wenda menangis sejadi-jadinya. Menangisi perasaanya yang sudah hancur. Perasaan yang ia bangun dengan tulus itu telah pupus.

Author's Note:
Yang dari kemarin sempet ilfeel sama Alexi, hohoho.... Author harap postingan kal ini membuat rasa itu terobati
ciawww
 

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 92)




Musikal 92

Ririn merapatkan jaketnya. Tak lupa memasang masker di wajahnya. Hari ini adalah hari perdananya masuk sekolah pascasakit. Demamnya sudah reda, tapi batuk dan bersinnya masih setia menempeli tubuhnya. Mamanya berpesan agar dia jangan terlalu banyak terpapar angin dan polusi, makanya sebelum pergi ia dibekali jaket dan masker.
Saat ia akan memasuki gerbang sekolah, ia dikejutkan dengan sebuah sepeda yang berhenti mendadak di hadapannya. Ririn menatap sosok pengendara sepeda itu. Seharusnya tanpa melihat siapa, ia juga sudah tahu kalau orang itu adalah Alexi.
Alexi membuka maskernya, lalu tersenyum. Mau tidak mau Ririn juga membuka maskernya juga dan membalas senyuman itu.
Long time no see.
Ririn hanya menjawab dengan tersenyum lagi.
Alexi tak bertanya lagi. Mereka hanya saling bertukar pandang. Seolah bertukar banyak kata-kata lewat tatapan mereka. Orang-orang di sekitar mereka sibuk berlalu-lalang, tapi waktu sengaja berhenti hanya untuk mereka berdua.
“ Senang melihatmu kembali.”
Meski tidak ditekankan, tapi kata ‘kembali’ yang diucapkan Alexi terasa ambigu di telinga Ririn. Kembali ke sekolah atau ‘kembali’ dalam maksud lain?
Ririn buru-buru menghapus opini kedua. Tiba-tiba saja ia merasa malu telah memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya terbawa perasaan.
“ Mau ke kelas bareng?” tawar Ririn.
“ Tentu, mana mungkin bisa aku tolak.”
Tampaknya Alexi sudah membuat mantra baru.
ooOoo
“ Udah masuk, Wen?”
Wenda hanya melirik sebal pada Ben yang menegurnya.
“ Kalo orang negur dibales kali,” sahut Kemal seraya bersandar di atas meja.
“ Kalian berdua cuma mau ngeledek aku, iya’kan?”
Ben dan Kemal saling bertukar pandang. Mereka berdua tampak keheranan. Tak lama kemudian Anjani datang. Perhatian mereka pun teralih pada gadis itu.
“ Yo, Jane,” sapa Ben.
Anjani membalas dengan senyuman tipis. Namun, saat matanya bertemu dengan Wenda, ia langsung melengos. Sepertinya ia masih kesal gara-gara kejadian kemarin. Anjani bukanlah Andani yang bisa meredam emosi. Ia sama saja seperti Wenda, sama-sama cepat panas kalau sedang berselisih dan tidak mau mengalah. Mungkin karena masih memendam api emosi, Anjani sengaja melewatkan tempat duduknya dan memilih duduk di barisan belakang.
Kemal baru saja mau berseru kalau Anjani salah tempat duduk, tapi ia urungkan. Sepertinya ia paham dengan gelagat kedua gadis yang sedang bersiteru.
“ Kayaknya kita gak usah tegur sana-sini, Ben,” bisik Kemal. “ Suasana panas banget.”
Ben mendesah panjang. Namun, ia pun bersungut-sungut kembali ke tempat duduknya.
Melihat Anjani tidak duduk di sampingnya, Wenda pun jadi semakin kesal. Ia pun bergegas meninggalkan tempat duduknya. Ben dan Kemal hanya bisa mengikuti Wenda lewat lirikan mata.
Sayangnya, begitu Wenda sampai di ambang pintu ia bertemu dengan dua orang yang sedang ia tidak ingin temui. Siapa lagi kalau bukan Alexi dan Ririn.
ooOoo
Alexi tak lagi duduk di atas pedalnya, ia justru memilih untuk menenteng sepedanya dan berjalan bersisian dengan si gadis ikal. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak ngobrol seakrab ini.
“ Kita jadi kembar ya.”
Ririn menatap Alexi heran. Laki-laki itu menunjuk-nunjuk masker yang menempel di wajahnya. Mengerti dengan lelucon itu, Ririn jadi tertawa.
“ Sudah lama tak mendengar tawamu.”
Tawa Ririn seketika padam. Ia buru-buru menaikkan masker agar menutupi rona di wajahnya.
Tak ada percakapan lagi. Mereka berdua hanya terus berjalan menuju tempat parkir. Alexi meminta Ririn menunggu sebentar karena ia ingin mengunci sepedanya.
“ Hei, emm… aku sudah dengar cerita sebenarnya,” Ririn terbatuk saat akan melanjutkan kalimatnya, lalu menurunkan maskernya. “ Antara kamu dan Wenda.”
Tangan Alexi yang sedang cekatan mengunci sepedanya seketika terhenti. Perhatiannya kini terfokus pada si gadis ikal.
“ Aku gak marah, tapi yaa… aku memang sempat salah paham sama kalian.”
Alexi kembali menyelesaikan pekerjaannya. Setelah ia selesai mengunci sepedanya, ia berdiri di hadapan gadis ini.
“ Lalu?”
“ Hmm, sebenarnya sebelum itu Wenda pernah cerita sama aku kalau dia memang suka sama kamu. Dia bilang mau pendekatan sama kamu dan yaah… dia pengen lebih serius sama kamu, makanya aku agak menghindar akhir-akhir ini.”
Ada senyuman aneh tergurat di wajah Alexi dan itu membuat Ririn keheranan.
“ Kok muka kamu gitu?”
“ Habisnya kamu aneh banget deh. Masa kamu rela menghindar dari aku gara-gara Wenda suka sama aku?”
“ Yaaa… yaa… aku cuma mau bantuin dia aja kok,” Ririn menggaruk-garuk kepalanya. “ Kupikir dia merasa sedikit terganggu dengan kedekatan kita.”
Alexi tertawa sakartis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Kamu polos banget sih,” ujar Alexi seraya berjalan melewati Ririn.
Ririn tak berkomentar apa pun, ia hanya mengikuti langkah Alexi. Tiba-tiba saja langkah Alexi berhenti dan berbalik.
“ Tapi semua sudah berakhir dan kita bisa seperti dulu lagi’kan?”
Ririn menatap Alexi cukup lama. Kemudian ia mengangguk mantap.
“ Oh ya, aku juga dengar kamu sudah menolak Wenda. Menurutmu apa itu tidak terlalu kejam?”
“ Kupikir aku memang harus kejam sekarang,” Alexi menarik napas panjang. “Daripada aku menggantungkan perasaannya terus-menerus. Menurutmu mana yang lebih kejam?”
Ririn mengangkat bahunya ragu-ragu, “ Yaaah, aku tidak bisa menyalahkanmu juga sih.”
Alexi tersenyum tipis. Mereka pun sama-sama kembali menuju kelas.
“ Ngomong-ngomong bagaimana kabar gadis cantik yang waktu itu? Eh, siapa namanya? Nadia, ya?”
“ Ya, dia sudah kembali ke Bandung kemarin,” Alexi tersenyum jahil. “ Kenapa, kamu cemburu juga sama dia?”
“ Cemburu? Sama dia?” giliran Ririn yang tertawa sakartis. “ Dia gak pantas aku cemburui. Aku gak kenal dia dan…”
Alis Alexi sedikit tertarik ke atas, “ Dan?”
“ Dan aku gak punya sisi lebih yang bisa aku bandingkan supaya aku bisa cemburu sama dia.”
Ririn mengucapkannya dalam satu helaan napas. Seketika gurat senyum jahil di wajah Alexi menghilang seraya berganti dengan seulas senyuman hangat. Merasa dirinya diperhatikan, Ririn kembali menaikkan maskernya.
“ Kita lupakan saja,” ujar Alexi.
Ririn mengangguk sambil menurunkan kembali maskernya, “ Ya, kita lupakan saja.”
Keduanya sampai di ambang kelas. Langkah keduanya terhenti saat ada seorang gadis hampir menabrak mereka. Gadis itu terkejut, keduanya pun demikian. Suasana pagi itu seketika berubah tegang.
ooOoo
Ririn tak bisa mengelak dari tatapan Wenda. Badannya seketika kaku. Ia hanya berani melirik Alexi, tapi laki-laki itu sama tegangnya. Mungkin mereka semua belum siap untuk saling bertemu pagi ini.
“ Ririn!”
Suara Priyanka terdengar riang. Gadis itu terlihat baru datang dan dengan lincahnya langsung menggamit lengannya.
“ Udah sehat kamu? Eh ya, aku tebak kamu belum buat PR Bahasa Indonesia’kan? Aku juga belum. Buat bareng yuk.”
Tanpa menghiraukan keberadaan Alexi dan Wenda, Priyanka langsung menarik Ririn bersamanya. Entah sengaja atau tidak, tapi Ririn sangat bersyukur dengan kehadiran gadis ini. Setidaknya ia terlepas dari suasana yang kaku seperti tadi.
“ Makasih, Ka,” bisik Ririn.
Priyanka mengedipkan sebelah matanya. Ririn pun bernapas lega. Ternyata Priyanka memang sengaja melakukannya.
“ Hai, Rin. Udah sehat nih?” sapa Ben.
“ Ini berangsur membaik,” jawab Ririn sambil tersenyum.
“ Waaah, akhirnya, Mal. Ada juga yang balas sapaanku dengan senyuman manis.”
Kemal dan Ben tertawa. Mata Ririn bergantian mengamati kedua laki-laki itu. Namun, perhatiannya tiba-tiba tertuju pada sebuah tas yang ditaruh paksa pada bangku di sebelahnya. Saat Ririn menoleh, ia mendapati Anjani sudah menduduki bangku itu.
“ Boleh kan aku duduk di sini?”
Bagaimana mungkin Ririn bisa menolak, toh orangnya saja sudah duduk di sana. Meski diliputi rasa bingung, tapi Ririn hanya menganggukkan kepalanya.
Sementara suasana di luar kelas masih terasa canggung. Mereka bingung, apakah mau bicara atau saling melewatkan saja. Kejadian kemarin membuat keduanya seperti orang asing yang baru saling berkenalan.
“ Kupikir kita memang harus bicara lagi,” ujar Alexi yang memulai percakapan. “Masalah di antara kita harus dibicarakan sampai selesai.”
“ Kamu mau bicara sekarang? Di sini?”
Baik Wenda, maupun Alexi sama-sama mendengar suara bel masuk berbunyi. Keduanya tampak paham bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“ Kita punya banyak waktu saat pulang sekolah nanti,” ujar Alexi.
“ Kenapa tidak saat istirahat saja?” desak Wenda,
“ Mungkin pembicaraan kita akan berakhir dengan tidak mengenakkan. Aku tidak mau kosentrasi belajarmu hilang setelah istirahat nanti.”
Alexi langsung melewati gadis itu dan masuk ke kelas. Merasa dirinya baru saja diabaikan, emosi Wenda pun kembali memuncak. Sayang, ia tak bisa melampiaskannya sekarang. Ia pun menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk menahan semuanya sampai bel pulang berbunyi.

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 91)




Musikal 91

Dave mengetuk-ngetuk naskah yang ia pegang. Ia merasa ada kejanggalan yang tertuang dalam ketikan panjang itu. Seperti ada adegan yang terlewatkan dan belum pernah mereka bawa latihan.
Adegan itu adalah adegan di mana Adrian alias Antony sedang merasa galau dengan perasaannya setelah bertemu Nayu di dalam pesta. Di saat itu Priyanka muncul membawakan balet solonya. Ia akan berperan seperti iblis yang membelokkan perasaan Adrian. Ia tak akan bicara sepatah kata pun, tapi akan merayu Antony dengan tariannya. Di sisi lain, Anjani juga akan muncul dengan nyanyian seriosanya. Ia akan duduk manis di sudut panggung. Sama seperti Priyanka, ia juga akan berperan sebagai iblis yang menggoda hati Antony. Mereka berdua akan bersifat tak kasat mata selama adegan itu berlangsung.
“ Kenapa adegan ini kita selalu tunda? Padahal kita sudah masuk adegan pesta dansa dan seharusnya adegan ini sudah digarap sejak lama.”
Dave pun mengajak Gloria dan Riani berunding sebelum sesi latihan dimulai.
“ Adegan ini sudah lama digarap. Hanya saja kami tidak pernah latihan campuran untuk adegan ini,” sahut Gloria.
“ Gloria benar, Dave,” ujar Riani. “ Aku sudah melatih Priyanka sejak lama. Anjani dan tim musik pun sudah Gloria persiapkan dengan matang.”
“ Masalahnya ada pada Tifa,” ujar Gloria sambil bersedekap. “ Latihan selama ini hanya terfokus pada latihan akting keponakanmu. Kami berdua hanya menurut saja apa yang dikatakan sutradara.”
Dave menghela napas panjang, “ Baiklah, kalau begitu. Hari ini kita garap adegan ini saja. Toh, keponakanku juga masih izin sakit. Lagi pula latihan sebentar pasti langsung selesai. Apalagi kalian bilang sudah lama menggarap masing-masing pemeran.”
Gloria dan Riani mengangguk. Mereka pun membubarkan diri.
“ Oh ya, bagaimana kabar Marinda?” tanya Riani sebelum kembali ke ruang guru.
“ Aku belum sempat ke sana, tapi kata kakak iparku kondisinya sudah mulai membaik. Mungkin besok baru bisa sekolah.”
Riani mengangguk, “ Kuharap dia cepat kembali. Perannya sangat esensial. Salam buat keponakan manismu itu.”
Gantian Dave yang mengangguk.
“ Oh iya, mumpung kamu oom-nya aku pengen bilang soal keponakan kamu,” Riani berdeham. “ Soal aktingnya.”
“ Ahh, itu. Ya, ya, ya, aku mengerti. Tifa sudah memeringatkan dan aku sudah melihatnya.”
“ Kupikir kamu perlu bicara dengannya, Dave.”
“ Sudah, tapi dia masih sulit mengerti dengan apa yang kumaksud. Kupikir dia bukannya tidak mengerti, tapi yaaah… ehem, gimana yah bilangnya.”
“ Dia belum pengalaman masalah cinta,” sahut Gloria yang tiba-tiba muncul dari samping Dave seraya membolak-balik naskah, lalu ia menatap Dave dan Riani bergantian. “ Benar begitu’kan?”
Riani terlihat seperti salah tingkah saat mata Gloria mengarah padanya. Wanita itu seperti mengetahui apa isi benaknya.
“ Ah, ya, begitulah. Keponakanku itu seperti gadis kuno saja. Di zaman sekarang masa dia belum pernah punya pengalaman seperti itu. Yaah, walaupun belum pernah pacaran, setidaknya dia pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta.”
“ Itu tandanya anak baik,” Gloria tersenyum sinis pada Dave. “ Memangnya seperti oom-nya yang… ah, gak jadi.”
“ Apa?” raut wajah Dave terlihat sangat ingin tahu.
Gloria terkekeh, “ Ada deeeh.”
ooOoo
Latihan pun dimulai. Sebelum pemanasan dimulai Dave memberikan taklimat kepada semua anggota tim, khususnya Adrian, Priyanka, Anjani, dan tim musik. Dave memberitahu mereka bahwa latihan hari ini dikhusukan untuk adegan musikal saja. 
Setelah pemanasan, Priyanka sibuk dengan sepatu baletnya. Ia sedikit gugup karena Dave tiba-tiba mengumumkan bahwa penampilan solonya akan ditampilkan hari ini. Tak hanya dia, perasaan Riani pun ikut tak menentu. Sedari tadi ia sibuk mengingatkan hal-hal yang harus dilakukan oleh Priyanka.
“ Pokoknya lakukan saja seperti latihan kita,” ujar Riani. “ Ingat, jangan sampai tanganmu menyentuh Adrian.”
Priyanka mengangguk. Tak lama kemudian Dave pun memberikan aba-aba padanya agar segera bersiap di atas panggung. Dave memberi kode pada tim musik. Ketiga Musai itu langsung memainkan musik. Anjani masuk lebih dulu, disusul dengan kemunculan Priyanka. Saat Anjani memulai adegan dengan suara mautnya, Priyanka pun mulai merayu Adrian yang sedang menjadi Antony.
Tarian Priyanka benar-benar memabukkan. Ia seolah-olah sedang menarik tokoh Antony itu pada jurang penuh dosa. Belum lagi suara Anjani yang diiringi alunan musik dari Alexi, Hiro, dan Jiro. Suasana terkesan mistik, tapi menggoda.
Adegan itu ditutup setelah Anjani menyelesaikan lagunya. Bersamaan dengan itu Priyanka pun menghilang ke sudut kiri panggung. Tokoh Antony pun tersadar dari iblis yang menggoda hatinya.
Para anggota yang menonton baru tersadar adegan itu berakhir ketika Dave meneriakkan kata “cut”. Hanya dua setengah menit, tapi adegan barusan benar-benar menyerap perhatian penonton. Mereka seperti dibawa pada suasana mistis yang menggetarkan bulu roma.
“ Oke, cukup dulu. Sekarang kembali ke tim masing-masing.”
Priyanka meminta izin untuk membasahi tenggorokannya yang dahaga. Ia menarik napas dalam-dalam setelah menghabiskan setengah dari air minumnya. Adegan solonya itu benar-benar menghabiskan tenaganya.
“ Tadi itu bagus. Aku tidak mengerti kenapa dulu kamu masih memakai cara curang untuk menyingkirkan Wenda.”
Priyanka menoleh dan mendapati orang yang menegurnya adalah Kemal. Laki-laki itu melemparkan senyuman yang sulit ia artikan. Priyanka baru saja mau menjawab, tapi laki-laki itu sudah keburu kembali ke kelompoknya. Ia perhatikan laki-laki itu sejenak. Namun, perhatiannya tersita saat Riani memanggil namanya. Ia harus segera bergegas kembali ke timnya.
Namun, Priyanka tak tahu kalau Kemal membalas tatapannya saat ia matanya berpaling.

Auhtor’s Note:
Salahkan suara Yamada Ryosuke dan petikan gitar Okamoto Keito sehingga adegan ini terasa manis.