Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 50)



Musikal 50



Ririn hanya bisa menatap Andani lewat jendela bus. Gadis itu seperti buronan yang tengah digelandang polisi ke dalam mobil. Hingga suara Riani berhasil menyita perhatiannya.

“ Baiklah, saya akan menjadi pamong bus satu. Seperti yang kita lihat tadi, Andani tampaknya akan menyusul kita bersama Miss Tifa. Kalian tenang saja, dia akan berlatih bersama kita besok. Nah, sekarang kita akan segera berangkat.”

Bus mulai melaju. Bergerak meninggalkan gedung teater, gerbang sekolah, dan seterusnya. Ririn menghela napas. Matanya kembali beralih pada pemandangan di luar jendela. Langit tampak mendung. Padahal ia berharap cuaca akan cerah saat ia dan teman-temannya berangkat. Sudah mendung, tanpa Andani pula. Sepertinya perjalanan kali ini ada kelabu sekali.

“ Menurutmu Andani akan dibawa Miss Tifa kemana?”

Suara itu berasal dari laki-laki yang selalu menggunakan kacamata tebal. Ririn hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu.

“ Kursi di sebelahmu kosong. Boleh aku yang isi?”

Ya, kenapa tidak. Ririn justru lebih senang ketimbang Kemal yang duduk di sebelahnya. Soalnya begitu bus mulai jalan, laki-laki itu sudah curi-curi pandang pada kursi Andani yang kosong. Bisa-bisa ia tidak konsentrasi dengan “The Maze Runner” yang sedang ia baca.

“ Kenapa gak nonton filmnya aja? Ceritanya’kan sama aja.”

Ririn merasa kalau Alexi sedang memperhatikan sampul bukunya, ia pun tersenyum, “ Aku lebih suka membuktikan kebenaran lewat membaca karena film adaptasi kadang sering mengecewakan.”

“ Aku bahkan gak tahu kalau ‘The Maze Runner’ itu film adaptasi,” Alexi terkekeh seraya mengeluarkan iPod-nya. “ Mau mendengarkan musik?”

“ Boleh juga,” ujar Ririn seraya memasang sebelah headset di telinganya. “ Mari kita dengar seberapa keren musikmu.”

Love is feeling…

Ririn tertegun saat bait pertama lagu itu bergetar di telinganya. Ia menatap laki-laki yang sedang tersenyum penuh kemenangan padanya.

“ Wah, aku gak nyangka kamu suka yang beginian juga.”

“ Yaah, dulu beberapa anak gadis memintaku untuk meng-cover lagu ini dengan pianoku. Aku terpaksa menyimpan dan mendengarkannya berulang-ulang. Menurutku lagu ini bagus juga. Dari segi lirik, vokal, dan komposisinya.”

Bahu Ririn kembali mengangkat bahu, “ Tapi kenapa kamu memutar lagu ini untukku? Apa wajahku ini terlihat seperti K-Popers?”

Tiba-tiba Alexi menatap Ririn dengan seksama. Ririn terpaksa memundurkan wajahnya, karena mata laki-laki itu sangat intens menatapnya. Detik berikutnya laki-laki itu menarik wajahnya, kemudian tertawa.

“ Kurasa tidak, tapi aku yakin kalau gadis yang kursinya sedang aku duduki sekarang memang iya. Kalian berteman dan aku juga yakin bahwa tidak mungkin kamu tidak diajaknya nonton drama Korea bersama. Lagi pula lagu ini merupakan soundtrack dari drama yang cukup terkenal.”

Giliran Ririn yang tertawa, “ Okee, sekarang siapa yang sedang main detektif-detektifan?”

“ Kita sudahi saja permainan ini,” ujar Alexi yang masih tertawa. “ Ngomong-ngomong kamu tidak melanjutkan membaca?”

Benar juga. Ternyata duduk di sebelah Alexi jusru lebih mengganggu konsetrasinya. Ririn pun memutuskan untuk tidak melanjutkan bacaannya. Ia kembali menatap jendela yang ternyata sudah dihiasi oleh titik-titik air. Rupanya gerimis sudah bergeriliya di luar sana.

Entah kenapa suasana seperti ini membuat Ririn terbawa suasana. Gerimis dan lagu romantis. Bus yang melaju cepat, serta pemandangan yang basah. Ririn seperti terserap dalam video klip Korea romantis.

Bukan Lee Min Hoo atau Kim Woo Bin, tapi hanya ditemani oleh seorang remaja pria teman sekelasnya dan ia  sudah terlelap dengan bantal leher yang nyaman. Tanpa Ririn sadari kali ini ialah yang justru memperhatikan wajah laki-laki itu dengan intens.

Ternyata ia memiliki hidung yang mancung dengan bibir tipis. Ririn tak pernah tahu karena laki-laki itu selalu menutupinya dengan masker N95. Kulitnya juga sudah kembali memutih seperti sedia kala. Jujur Ririn akui, kalau pemutihan kulit Alexi lebih cepat dari kulitnya. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Ririn untuk memutihkan kulit dan butuh waktu seharian untuk menggelapkannya kembali. Selain itu, seputih-putih kulitnya, kulit Alexi dua kali lipat lebih putih darinya.

Dan Ririn sangat penasaran dengan mata di balik lensa yang begitu tebal itu. Ingin rasanya ia menarik kacamata itu diam-diam. Hanya sebentar, hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Bagaimana bentuk matanya dan juga seberapa besar minus laki-laki itu sehingga ia tak pernah absen menggunakan kacamata yang tebalnya seperti pantat botol.

‘ Astaga, apa yang sudah aku pikirkan?’

Ririn langsung memalingkan wajahnya. Ia malu sekali dengan imajinasinya yang sudah terlalu liar. Ia mendengus kesal. Untung saja laki-laki itu sudah terbang jauh ke alam mimpi.

Naui sojunghan saram sarangeul allyeojun saram geudaeimnida.
O~ naui meori soge bakhin saram gieok soge saneun saram geudaemnida
Geudae hanaimnida
Geudael saranghamnida
Naega itji motal sarangiyeo haengbokhaetdeon sarangiyeo
Love is love is love is love is feeling

Ririn tak pernah tahu kalau Alexi tak benar-benar tidur. Ada seulas seringai usil tergurat di wajah Alexi. Ia tahu apa saja yang sudah gadis itu lakukan dan Alexi sangat menikmatinya.

Love is feeling….


Author's Note:
Kyaaah... ini musikal kedua kesukaan Author. 
Oh ya, PENGUMUMAN: Update minggu depan edisi spin off yah, jadi kita keluar jalur sejenak. 
Tetap pantengin LOVE MUSICAL Extraordinary... *hot kiss*


Please comment and share
 

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 49)



Musikal 49


Semua anggota LM sudah berkumpul di halaman gedung teater mereka. Dua buah bus pariwisata sengaja disewa untuk perjalanan ini. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan. Namun, Tifa si tokoh utama belum juga muncul.

“ Anak-anak, kalian semua berbaris rapi dan mulai berhitung!” Gloria maju mengambil alih posisi Tifa.

Semua anggota langsung berbaris dan berhitung. Semuanya lengkap, hanya minus Anjani.

“ Baiklah semuanya, kalian akan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu akan naik bis nomor satu, sedangkan kelompok dua akan naik bis nomor dua. Setiap kelompok akan ditunjuk seorang pemimpin. Tugas pemimpin adalah memastikan semua anggotanya lengkap setiap sebelum atau sesudah naik bus. Untuk kelompok satu akan dipimpin oleh Ben, dan kelompok dua dipimpin oleh Santi. Kedua ketua kelompok kemari.”

Ben dan kakak kelasnya—Santi menerima daftar nama kelompok masing-masing. Gloria memerintahkan kedua ketua kelompok untuk membagi kelompoknya.

“ Nah, sekarang kalian silakan masuk ke dalam bus. Pilihlah pasangan duduk kalian sesuka hati. Ingat, tetap tertib!”

Satu persatu anggota LM mulai masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, Mini Cooper oranye milik Tifa tiba. Si pemilik terlihat buru-buru begitu turun dari mobil.

“ Andani mana?”

“ Mungkin sudah di dalam bus,” jawab Riani. “ Kalau tidak salah bus satu.”

Tifa langsung meloncat masuk ke dalam bus. Benar, ternyata gadis itu ada di dalam bus satu dan sudah duduk manis bersama Ririn.

“ Andani, kamu ikut saya!”

Andani bertukar pandang dengan Ririn, dan semua pasang mata bergantian menatap Andani dan juga Tifa. Mereka semua heran dengan perintah Tifa. Namun, mau tak mau Andani langsung turun tanpa diperintah dua kali.

“ Ikut saya ke bandara sekarang!”

Andani tercengang. Untuk apa mereka ke bandara sekarang?

“ Kamu gak mau mengantar saudarimu pergi. Mungkin kalian gak akan ketemu dalam waktu yang lama loh.”

Ucapan Tifa ada benarnya. Mereka dari subuh sibuk dengan keberangkatan masing-masing. Anjani memilih pergi dengan taksi ketimbang diantar bareng dengan Andani. Padahal jadwal penerbangannya pukul sepuluh.

“ Tapi kalau saya pergi sekarang, saya gak jadi pergi bersama yang lain dong, Miss?”

Tifa tesenyum, “ Kamu gak usah khawatir. Sekarang kamu mau ketemu sama saudari kamu atau nggak?”

Tentu saja Andani mau. Tanpa berpikir dua kali ia langsung mengangguk setuju. Meski ia tidak yakin Anjani masih mau melihatnya lagi atau tidak.

Good!” Tifa tertawa senang, lalu berteriak pada kedua sahabatnya. “ Glo, Ri, aku pinjam anak ini yaaa!”

Gloria mengacungkan ibu jarinya, “ Asal bawa kembali!”

Setelah mendapat persetujuan, Tifa langsung mengajak Andani masuk ke dalam mobilnya. Kali ini giliran Andani-lah yang merasakan naik mobil ala Vin Diesel abal-abal.

“ Cih, padahal dia sendiri yang bilang kalau tidak ada yang boleh bawa kendaraan pribadi. Ahh, sudahlah. Ayo, Glo!”

ooOoo

Anjani menghela napas panjang. Bahkan di saat seperti ini orang tuanya sama sekali tidak menyusul ke bandara. Meski ia mengatakan bisa pergi sendiri, bukan berarti ia tidak mau ditunggui sebelum berangkat. Sepertinya orang-orang selalu menyalahartikan perkataannya.

Belum lagi masalahnya dengan Andani. Semalam ia benar-benar kelepasan. Tapi ia tak mau disalahkan sepenuhnya. Toh Andani duluan yang memulai, makanya dari dulu ia suka menghindar kalau saudarinya itu bertanya mengenai masalah di antara mereka berdua, karena ia bisa kelepasan dan akhirnya malah menghancurkan semuanya. Ia memang tak menyukai Andani, tapi ia juga tak mau menyakiti gadis itu. Sayang, semuanya telah terjadi.

Jam sudah menunjukkan pukul 09.30. Anjani harus segera masuk boarding room. Baru saja ia mau menggeret tasnya, tiba-tiba saja ia melihat seorang wanita dengan jumpsuit putih berjalan ke arahnya. Wanita itu membuka tersenyum seraya membuka kacamatanya.

Miss Tifa? Miss, sedang apa di sini? Bukannya Miss harus ikut rombongan.”

“ Ya, benar, tapi rasanya tidak adil kalau kamu berangkat sendirian,” ujar Tifa. “Makanya kami datang ke sini untuk mengantarmu.”

Alis Anjani sedikit terangkat. Ia merasa heran dengan kata ‘kami’ yang diucapkan Tifa. Padahal wanita itu datang sendirian tapi kenapa menyebut dirinya dengan kata ganti orang kedua jamak.

Tifa sedikit bergeser. Ternyata di belakangnya sudah ada Andani yang mengekor. Anjani cukup kaget melihat saudarinya-lah yang justru datang untuk mengantar. Sejenak ia merasa heran melihat wajah Andani yang tampak pucat.

“ Saat saya ajak dia untuk mengantarmu dia bilang setuju. Nah, ada baiknya kalian ngobrol sebentar sebelum pesawatnya berangkat.”

Tifa memberikan kesempatan untuk keduanya saling bertukar sapa. Namun, mereka justru terlihat sangat kaku.

“ An, kok kamu pucat? Kamu baik-baik aja?”

Andani berdeham, “ Sebelumnya baik, tapi setelah naik mobil Miss Tifa aku jadi kurang baik. Brrr… aku gak mau naik dua kali.”

Tifa hampir tertawa terbahak-bahak. Ia ingat bagaimana reaksi gadis itu saat naik di mobilnya.

“ Umm, Jane. Tentang yang semalam―”

“ Oh, please. Aku memang jujur, tapi maaf kalau sudah menyakitimu. Aku selalu tahan untuk bilang itu karena aku merasa kamu bakal sedih kalau mendengarnya.”

“ Kurasa itu ide yang terbaik,” Andani tersenyum kecil. “ Selama ini aku selalu merasa kalau kamu itu seperti tengah berakting di depanku. Pura-pura gak ada masalah, pura-pura gak marah, tapi sebenarnya kamu menyimpan rapi semua emosi kamu. Memang menyakitkan, tapi itulah dirimu. Aku senang kamu bisa jujur pada dirimu sendiri.”

Anjani menarik napas panjang, “ Kamu… kamu gak benci sama aku?”

“ Siapa bilang?” Andani mengangkat bahunya. “ Aku bahkan ingin menamparmu.”

Sudut bibir Anjani tertarik. Mereka tersenyum kemudian tertawa.

“ Baiklah, semoga sukses dengan perlombaanmu,” ujar Andani seraya mengulurkan tangan.

“ Kamu juga. Semoga pementasannya sukses.”

Keduanya hanya berjabat tangan. Sejujurnya Anjani bingung ia harus memeluk saudarinya atau jabat tangan ini sudah mewakili segalanya. Padahal mereka akan berpisah dalam kurun waktu yang lama.

Good luck for you, dan jangan sampai tereleminasi ya,” ujar Tifa.

Anjani tersenyum, “ Sure. Aku juga berharap pementasan kalian dihadiri satu juta penonton.”

Tifa tertawa lepas. Momen yang hangat itu segera usai kala waktu keberangkatan Anjani semakin dekat. Gadis itu pun mengucapkan salam terakhirnya.

“ Aku pergi dulu. Salam buat yang lain.”

Anjani melambai kaku pada saudarinya. Meski begitu Andani tetap membalasnya dengan lambaian hangatnya. Begitu sosok Anjani lenyap, ada seringai usil terukir di wajah Tifa. Ia melirik Andani yang ada di sebelahnya.

“ Maaf, Andani, tapi sepertinya kamu harus naik mobilku untuk yang kedua kalinya.”



 please comment and share

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 48)



Musikal 48


Bagi rapor baru saja selesai. Sesuai dengan perkiraan yang mendapat rangking satu di kelas Love Musical adalah Ririn, sedangkan runner up-nya adalah Alexi. Hal yang tidak diduga justru datang dari si juara tiga. Siapa sangka pemegang estafet berikutnya adalah Kemal. Si Casanova yang lebih suka menghapal nomor ponsel gadis cantik ketimbang belajar, justru mendapatkan selisih nilai yang tak jauh dari Alexi. Ketiga sahabatnya—Anjani, Ben, dan Wenda—bahkan tidak menyangka kalau Kemal bisa dapat juara. Seusai pembagian rapor mereka bertiga melakukan puja kepada Kemal.

Tepat setelah pembagian rapor, mereka juga diperintahkan untuk segera berkumpuk di gedung teater. Sebagian besar berpendapat mereka dikumpulkan untuk membicarakan tentang perjalanan mereka besok. Sang sutradara tak mengatakan mereka akan diajak pergi kemana.

“ Selamat siang, semuanya. Selamat atas pembagian rapor kalian. Ah ya, saya harap nilai kalian tidak ada yang anjlok ya,” Tifa memulai pidatonya.

“ Baiklah, mungkin kalian sudah menebak kalau kalian dikumpulkan di sini untuk membicarakan masalah pelatihan kita besok. Intinya kalian siapkan saja baju ganti dan peralatan pribadi lainnya untuk lima hari ke depan. Besok kalian semua berkumpul di sekolah pukul delapan pagi. Kami sudah siapkan bis untuk perjalanan kita besok.

“ Kalian dilarang membawa kendaraan pribadi dan juga tidak ada yang membawa anggota keluarga atau teman atau pacar kalian,” Tifa melirik Gloria dan Riani sambil tersenyum. “ Masalah logistik dan yang lainnya sudah kami siapkan. Ingat, perjalanan ini bukan untuk darmawisata, tapi untuk latihan berat. Siapkan fisik dan mental kalian. Saya juga berharap kalian sudah berkemas dari jauh-jauh hari. Nah, sampai di sini ada yang mau ditanyakan?”

Orang pertama yang mengangkat tangannya adalah Ben, “ Miss, sebenarnya arah tujuan kita ini kemana ya? Dan berapa lama waktu perjalanan kita?”

“ Sekitar enam jam, tapi tenang saja kalian pasti menyukai tempatnya,” Tifa tersenyum manis. “ Kita ke Lampung.”

Semua anggota LM terkejut. Mereka tidak menyangka kalau perjalanan mereka akan sejauh itu.

“ Oh ya, ada satu pengumuman lagi,” Tifa berdeham. “ Anjani, kemarilah.”

Anjani merasa semua mata tertuju padanya saat ia berdiri di samping Tifa. Ia sudah tahu akan diperlakukan demikian, oleh karena itu ia tidak merasa gugup.

“Akan ada kabar buruk dan kabar baik yang akan kalian dengar dari salah satu teman kalian ini,” Tifa menatap Anjani. “ Kamu yang katakan atau saya yang katakan?”

Mi—miss aja yang sampaikan pada mereka.”

Tifa mengangguk, lalu pandangannya kembali kepada para muridnya, “ Akan saya mulai dari kabar buruk terlebih dahulu. Kabar buruknya adalah Anjani tidak akan ikut dalam perjalanan kita dan dia juga akan berhenti dari Love Musical.”

Andani adalah orang yang pertama dan paling terkejut mendengar kabar ini. Kali ini setiap pasang mata justru beralih dan bertanya-tanya padanya.

“ Alasan Anjani berhenti adalah kabar baik yang akan saya sampaikan. Minggu lalu Anjani lolos seleksi tahap awal di sebuah ajang pencarian bakat menyanyi. Teman kalian ini berhasil mendapatkan golden ticket dan akan terbang ke Jakarta besok pagi.”

Keriuhan kembali terdengar. Rasa kaget dan kagum bertumpah ruah dalam ruangan tersebut. Tifa membisikkan pada Anjani untuk mengucapkan salam terakhir supaya mereka tenang.

“ Ehem, ehem, semuanya. Ada yang mau aku sampaikan,” ujar Anjani sambil membetulkan posisi berdirinya. “Pertama aku mau minta maaf, terutama kepada ketiga sahabatku, Wenda, Ben, dan Kemal. Aku sudah ikut audisi tanpa bilang-bilang pada siapapun. Aku tahu tindakanku ini salah, tapi aku punya alasan tersendiri. Waktu aku mendaftar, aku merasa takut. Aku takut tidak lolos. Makanya aku menyimpan rahasia ini sendirian. Selain itu, aku juga masih terdaftar sebagai anggota Love Musical. Aku juga takut kalau Miss Tifa, Bu Riani, dan Bu Gloria menjadi tidak senang denganku. Untuk itu aku juga minta maaf.

“ Karena aku akan meninggalkan kalian sementara waktu, aku juga akan meminta maaf. Maaf karena meninggalkan kalian tiba-tiba. Maaf karena harus melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Aku juga minta maaf untuk semua kesalahan dan kekhilafanku selama aku bergabung di tim Love Musical ini.

“ Tapi aku juga berterima kasih kepada kalian semua. Kalian sudah mengisi hari-hariku dengan penuh warna dan kejutan. Aku mendapat banyak pengalaman dari kalian semua. Untuk ketiga tentor Love Musical juga aku mengucapkan banyak terima kasih. Berkat kalian aku mendapatkan banyak pelajaran beharga.

“ Akhir kata aku ucapkan, sampai jumpa semuanya. Aku harap pertunjukkan kalian sukses, dan aku juga berharap kalian akan mendukungku di ajang pencarian bakat ini. Semangat!”

Anjani menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suasana hening pun dengan cepat  mengganti keriuhan yang baru saja terjadi. Orang pertama yang memecahkan keheningan itu adalah Wenda. Ia berlari dan langsung memeluk Anjani. Matanya basah, dan bicaranya sesegukkan. Tak ada yang tahu ia menangis karena apa, mungkin karena haru atau sedih. Namun, apa yang dilakukan Wenda diikuti oleh Ben, lalu Kemal, dan kemudian menular ke semua anggota LM. Mereka bergantian memeluk Anjani, mengucapkan selamat, semangat, dan salam perpisahan.

Lucunya, di tengah suasana haru tersebut, Andani justru membatu di tempatnya berdiri. Memandangi Anjani yang sedang dikerumuni anggota LM. Tak ada rona haru atau sedih terpancar di wajahnya. Ia hanya menatap datar pada kerumunan itu.

“ Waaah, apakah kamu ini musuh gadis itu?”

Andani tersentak oleh suara itu. Bahasa Indonesia yang putus-putus dengan logat Jepang yang kental. Entah itu Jiro atau Hiro, tapi salah satu dari Hasegawa bersaudara itu berhasil memecahkan lamunan Andani.

Jawaban Andani hanya gelengan kepalanya.

“ Ooh, berarti kamu adalah saudaranya.”

Ucapan si laki-laki Jepang itu berhasil membuatnya kembali tersentak. Ia memang pernah berkenalan dengan si kembar Hasegawa ini, tapi ia tak pernah merasa seakrab itu sampai-sampai harus menyebutkan kalau ia mempunyai saudara bernama Anjani yang juga anggota LM. Lagi pula laki-laki ini baru saja bertanya, tapi kenapa ia langsung menjawab tepat pada sasarannya.

Laki-laki itu tersenyum pada Andani, “ Hanya ada dua alasan kenapa seseorang bisa menatap orang lain dengan tatapan seperti itu. Pertama, ia adalah musuh orang itu. Kedua, dia adalah saudara dari orang itu.”

“ Memangnya ada apa dengan caraku menatapnya?”

“ Komplikasi. Campuran antara kaget, cemburu, dan kesal. Hmm, itu yang bisa aku tangkap dari tatapanmu.”

“ Kamu terlalu sok tahu.”

Ia tertawa, “ Aku bukan sok tahu, tapi aku tahu.”

Andani mendengus kesal, “ Kamu memang sok tahu, Jiro.

Gadis itu berbalik dan pergi. Laki-laki yang dipanggil Andani dengan nama Jiro itu kembali tertawa, lalu melirik name tag yang ada di dada kanannya.

“ Padahal aku sudah pakai name tag-nya Hiro. Hmm, mereka memang tidak bisa ditipu.”

ooOoo

Si kembar Bramastya malam ini sibuk mengecek barang-barang yang sudah mereka kemas. Bedanya, Andani hanya untuk lima hari, sementara Anjani untuk berhari-hari. Bawaan Anjani tentu lebih banyak dari saudarinya. Setelah melakukan pengecekkan, keduanya berkumpul di ruang keluarga. Di sana mereka mendapat banyak nasehat dari kedua orang tuanya, terutama Anjani. Hanya saja kali ini Anjani tidak mendapatkan teguran atau omelan yang biasa ia terima. Ia justru mendapat banyak pujian dari kedua orang tuanya karena kepergiannya kali ini akan membawa harum nama keluarganya.

Andani mempercepat langkahnya. Ia menghadang tepat di depan pintu kamar saudarinya. Anjani yang berniat masuk ke kamar terpaksa mengurungkan niatnya.

“ Mau apa lagi, An?”

“ Jawab pertanyaan aku, Jane. Kenapa aku jadi orang terakhir yang tahu kalau kamu lulus audisi?”

“ Nggak juga, buktinya kamu tahu bareng teman-teman LM’kan.”

Andani melipat kedua tangannya di depan dada, “ Lantas kenapa kamu gak bilang secara pribadi sama aku? Kamu bilang sama Mama dan Papa, tapi kenapa gak sama aku? Jane, aku ini saudara kamu, kenapa aku jadi orang terakhir yang gak tahu apa-apa?”

“ Kamu gak usah hiperbolis, itu cuma masalah sepele,” Anjani mencoba mendobrak barikade saudarinya. “ An, please. Aku mau ngecek barang-barang aku lagi, dan aku juga capek. Aku mau istirahat. Perjalanan aku lebih jauh daripada kamu, An.”

Andani memperkuat pertahanannya, “ Jawab dulu, Jane. Aku gak bakal biarin kamu masuk sampai kamu jawab pertanyaan aku. Kamu selalu aja menghindar di balik pintu ini.”

“ An, minggir! Aku bakal marah sama kamu.”

“ Gak mau!”

Anjani mendengus kesal, “ An, jangan sampai aku lepas kendali. Kamu bakalan menyesal nantinya.”

“ Kenapa, Jane? Kenapa?”

Amarah Anjani sudah sampai ke pucuk kepalanya. Sepertinya kemarahan yang selama ini ia pendam akan meluap semuanya.

“ Tahu kenapa, An? Karena aku benci kamu! Selama ini aku selalu menekan perasaanku sama kamu! Aku capek dan aku benci selalu dibanding-bandingin sama kamu! Sekarang aku mau pergi dan selamanya gak mau hidup terus dalam bayang-bayang seorang Andani. Aku ini Anjani!”

Andani terhenyak. Baru kali ini ia melihat Anjani begitu murka. Ia merasa saudarinya ini sudah melepaskan segala emosinya. Andani menjadi gamang. Ia senang sudah mengetahui isi hati saudarinya, tapi di sisi lain ia juga sedih, ternyata selama ini saudarinya itu tak pernah menyukainya.

“ Sudah dengar’kan? Sekarang minggir, aku capek, mau istirahat.”

Anjani menggeser tubuh saudarinya ke samping. Tanpa mengindahkan perasaan Andani, ia membanting pintu begitu ia sudah masuk di kamar. Anjani menghela napas panjang seraya bersandar di balik pintu.

‘ Maaf, An…’


please comment and share