Musikal
161
Tepuk tangan membahana
mengakhiri pertunjukkan mereka. Degupan tegang masih menguasai semua pemain
berserta para kru, termasuk Tifa. Meski saat itu masih menduduki jabatan
sebagai asisten dua sutradara, tapi tetap saja perasaan berdebar itu membuatnya
seolah-olah menjadi sutradara yang memegang langsung pementasan barusan.
Mereka semua patut berbahagia karena usaha mati-matian mereka selama
tiga bulan terakhir berbuah manis. Pementasan mereka berlangsung dengan baik tanpa
ada kesalahan sedikit pun. Sore pun menjelang, saatnya mereka merayakan
keberhasilan.
“Senang rasanya pementasan terakhir kami berlangsung lancar. Terima
kasih atas kerja samanya. Kami harap kalian tetap mempertahankan prestasi yang
telah kami buat.”
Rasanya sedih juga saat Satrio sang ketua klub mendeklarasikan
demisionernya. Begitu juga dengan beberapa senior yang lain. Hal ini karena
mereka harus fokus pada ujian kelulusan.
“Tapi kami tetap senang dan merasa aman karena banyak generasi-generasi
yang pastinya bisa melampaui kami. Oleh karena itu, saya mewakili semua senior
kelas XII menitipkan kuasa ini pada adik-adik kelas sebelas dan sepuluh. Kami
harap tanggung jawab ini bisa kalian emban dengan baik.
“Dan sekarang waktunya berpesta!!!”
Pidato terakhir Satrio ditutup dengan konser musik abal-abal ala klub
teater. Suasana pun berubah bising. Namun, semua orang bersuka cita.
Diam-diam Tifa meninggalkan keramaian. Ia memilih untuk bersantai di
dekat lapangan basket yang ada di belakang sekolah. Sebenarnya lapangan
tersebut sudah jarang digunakan karena sudah tua dan lapangan yang baru sudah
dibangun di halaman tengah. Namun, lapangan tersebut lebih sering digunakan
klub teater latihan karena tempat itu sangat rimbun. Banyak pohon angsana yang
menyejukkan tempat itu dan bila sudah musim berbunga, maka halaman tersebut
akan dipenuhi kelopak angsana yang berguguran.
“Ngapain nyepi di sini? Udah sore, kalau kesambet gimana coba?”
Tifa tersentak. Ia tak menyangka kalau sosok bermata biru ini ternyata
mengikutinya dan ia sama sekali tak sadar, “Dave? Kenapa kamu ngikutin aku ke
sini?”
“Habisnya kamu mencurigakan. Ngapain coba nyepi di sini kalau semua
orang sedang kumpul di dalam atau jangan-jangan kamu fobia sama keramaian ya?”
Tawa Tifa pecah, “Nggaklah, enak aja,” kemudian ia mendesah panjang.
“Yah, aku cuma sedang berpikir tentang kata-kata Kak Satrio tadi.”
“Tentang apa?” Dave menempatkan dirinya duduk di sebelah Tifa.
“Tentang masa depan klub. Setelah ini kita akan terlibat langsung’kan?
Ahh, rasanya aku masih kurang belajar dengan mereka dan juga aku merasa gugup.
Padahal kegiatan klub selanjutnya juga masih lama, tapi rasanya tanggung jawab
itu membuat jantungku gak berhenti berdebar."
Dave tersenyum, “Kamu bersemangat sekali.”
“Yap, karena inilah saatnya untukku!” seru Tifa sambil bangkit dari
tempat duduknya. Ia mengepalkan tangannya ke udara dengan wajah penuh semangat.
Hal itu membuat Dave tertawa. Namun, ketika kepalan tangan itu diturunkan,
wajahnya berubah lembut. Terutama saat matanya berpindah pada Dave.
“Dan juga saat untukmu.”
“Aku?” tanya Dave sambil menunjuk dadanya.
“Itu…” wajah Tifa bersemu merah. “Pernyataan perasaan kamu waktu itu.
Aku’kan sudah janji kalau akan kujawab setelah pementasan.”
“Eh, eh, a—aku malah lupa,” Dave tertawa patah-patah. Ia menggaruk
kepalanya menghilangkan rasa gugup. “Habisnya waktu itu kamu bilang kalau kamu
masih trauma dengan kejadian kakakmu. Jadi, aku tidak akan memaksamu. Selama
kita masih berteman baik itu sudah cukup.”
Tifa menggigit bibir bawahnya, “Tapi itu gak adil. Aku’kan sudah janji.”
“Well, oke,” Dave menghela
napas pendek. “Jadi, bagaimana jawabanmu?”
Kepala Tifa tertunduk seolah menyembunyikan rona wajahnya. Kemudian ia
tersenyum kecil.
“Aku menerimanya.”
“Apa?” Dave melompat bangun. “Coba bilang sekali lagi!”
Malu-malu Tifa menatap Dave, “Ya, aku menerima perasaanmu.”
Dave menatap Tifa tak percaya, “Oh
my God. I can’t believe this!”
Tifa hanya tersenyum kecil.
“Terus kita pacaran’kan? Gimana ayahmu?”
“Nanti aku akan bicara padanya dan ibu juga. Aku akan berusaha
meyakinkan mereka kalau kita akan baik-baik saja.”
Dave masih menatap Tifa dengan takjub. Cukup lama, sampai Tifa berpikir
kalau Dave-lah yang sedang kesambet.
“Dave…”
“Boleh aku memegang tanganmu?”
Tifa tersentak, tapi kemudian ia mengangguk malu-malu. Awalnya Tifa
berpikir kalau Dave hanya menggenggam satu tangannya, tetapi pemuda ia malah
mendekap tangannya di dada pemuda itu. Tifa bisa merasakan detakan yang tak
beraturan di balik tulang rusuk pemuda itu. Ia tak menyangka kalau pemuda ini
juga gugup sama seperti dirinya. Dave mengambil napas dalam-dalam untuk
menenangkan dirinya.
“Aku janji aku akan menjagamu. Sampai kapan pun.”
Tak ada yang bisa Tifa katakan. Ia hanya memberi anggukan yang disertai
senyuman manis. Dave membalas senyuman itu. Tak lama angin berhembus lembut.
Menerbangkan kelopak angsana yang berguguran. Warna kuning cerah ikut menghiasi
perasaan kedua insan ini dan semburat jingga mentari yang akan tenggelam
berusaha menutupi rona merah pada wajah keduanya.
Sebuah kenangan indah yang sulit untuk dilupakan.
ooOoo
Menurutmu apa aku bisa melupakan itu?
Dave hanya bisa menatap sedih pada Tifa yang masih terbaring dengan alat
bantu. Sudah lima hari wanitanya itu tertidur. Tak ada perubahan yang pasti dan
hal ini semakin membuatnya resah.
“Aku ingat semua itu, Tif. Kuning, jingga, dan merah muda. Semua itu ada
pada sosokmu yang malu-malu itu.”
Dave seolah-olah berbicara dengan sosok yang terbaring itu meski tak ada
respon sedikit pun.
“Apa kamu mengingatnya, Tif? Aku penasaran dengan memorimu. Apakah kamu
melupakan janji itu? Apakah kamu masih mengingatku?”
Perlahan Dave menggenggam tangan Tifa.
“Aku masih menjagamu sampai sekarang. Tak peduli sampai mana pun kamu
pergi, aku akan selalu menemukanmu. Kita tidak bisa terpisahkan.”
Dave mendesah panjang.
“Kecuali kalau kamu berencana untuk tidak bangun lagi….”
Tiba-tiba Dave terisak. Genggaman tangannya bergetar. Perlahan air
matanya mengalir.
“Jangan, Tif. Jangan tinggalkan aku lagi. Jika kamu pergi kali ini, aku
benar-benar tak bisa menemukanmu lagi dan aku tak tahu harus bagaimana.”
Dave mengecup pelan genggaman tangan itu.
“Bukalah matamu, Tif. Aku menunggumu di sini. Masih menunggumu….”
Senja menjelang. Rona jingga matahari tenggelam menghiasi ruangan itu.
Berkasnya yang lain menghampiri wajah Tifa yang masih tertidur. Ini seperti
mengembalikan kenangan yang pernah terjadi, tetapi dalam bentuk yang paradoks.
Dave masih menggenggam tangan Tifa. Sayang, wanita itu tak bisa
tersenyum seperti dulu.