Total Tayangan Halaman

Minggu, 18 Juni 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 161)




Musikal 161

Tepuk tangan membahana mengakhiri pertunjukkan mereka. Degupan tegang masih menguasai semua pemain berserta para kru, termasuk Tifa. Meski saat itu masih menduduki jabatan sebagai asisten dua sutradara, tapi tetap saja perasaan berdebar itu membuatnya seolah-olah menjadi sutradara yang memegang langsung pementasan barusan.
Mereka semua patut berbahagia karena usaha mati-matian mereka selama tiga bulan terakhir berbuah manis. Pementasan mereka berlangsung dengan baik tanpa ada kesalahan sedikit pun. Sore pun menjelang, saatnya mereka merayakan keberhasilan.
“Senang rasanya pementasan terakhir kami berlangsung lancar. Terima kasih atas kerja samanya. Kami harap kalian tetap mempertahankan prestasi yang telah kami buat.”
Rasanya sedih juga saat Satrio sang ketua klub mendeklarasikan demisionernya. Begitu juga dengan beberapa senior yang lain. Hal ini karena mereka harus fokus pada ujian kelulusan.
“Tapi kami tetap senang dan merasa aman karena banyak generasi-generasi yang pastinya bisa melampaui kami. Oleh karena itu, saya mewakili semua senior kelas XII menitipkan kuasa ini pada adik-adik kelas sebelas dan sepuluh. Kami harap tanggung jawab ini bisa kalian emban dengan baik.
“Dan sekarang waktunya berpesta!!!”
Pidato terakhir Satrio ditutup dengan konser musik abal-abal ala klub teater. Suasana pun berubah bising. Namun, semua orang bersuka cita.
Diam-diam Tifa meninggalkan keramaian. Ia memilih untuk bersantai di dekat lapangan basket yang ada di belakang sekolah. Sebenarnya lapangan tersebut sudah jarang digunakan karena sudah tua dan lapangan yang baru sudah dibangun di halaman tengah. Namun, lapangan tersebut lebih sering digunakan klub teater latihan karena tempat itu sangat rimbun. Banyak pohon angsana yang menyejukkan tempat itu dan bila sudah musim berbunga, maka halaman tersebut akan dipenuhi kelopak angsana yang berguguran.
“Ngapain nyepi di sini? Udah sore, kalau kesambet gimana coba?”
Tifa tersentak. Ia tak menyangka kalau sosok bermata biru ini ternyata mengikutinya dan ia sama sekali tak sadar, “Dave? Kenapa kamu ngikutin aku ke sini?”
“Habisnya kamu mencurigakan. Ngapain coba nyepi di sini kalau semua orang sedang kumpul di dalam atau jangan-jangan kamu fobia sama keramaian ya?”
Tawa Tifa pecah, “Nggaklah, enak aja,” kemudian ia mendesah panjang. “Yah, aku cuma sedang berpikir tentang kata-kata Kak Satrio tadi.”
“Tentang apa?” Dave menempatkan dirinya duduk di sebelah Tifa.
“Tentang masa depan klub. Setelah ini kita akan terlibat langsung’kan? Ahh, rasanya aku masih kurang belajar dengan mereka dan juga aku merasa gugup. Padahal kegiatan klub selanjutnya juga masih lama, tapi rasanya tanggung jawab itu membuat jantungku gak berhenti berdebar."
Dave tersenyum, “Kamu bersemangat sekali.”
“Yap, karena inilah saatnya untukku!” seru Tifa sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia mengepalkan tangannya ke udara dengan wajah penuh semangat. Hal itu membuat Dave tertawa. Namun, ketika kepalan tangan itu diturunkan, wajahnya berubah lembut. Terutama saat matanya berpindah pada Dave.
“Dan juga saat untukmu.”
“Aku?” tanya Dave sambil menunjuk dadanya.
“Itu…” wajah Tifa bersemu merah. “Pernyataan perasaan kamu waktu itu. Aku’kan sudah janji kalau akan kujawab setelah pementasan.”
“Eh, eh, a—aku malah lupa,” Dave tertawa patah-patah. Ia menggaruk kepalanya menghilangkan rasa gugup. “Habisnya waktu itu kamu bilang kalau kamu masih trauma dengan kejadian kakakmu. Jadi, aku tidak akan memaksamu. Selama kita masih berteman baik itu sudah cukup.”
Tifa menggigit bibir bawahnya, “Tapi itu gak adil. Aku’kan sudah janji.”
Well, oke,” Dave menghela napas pendek. “Jadi, bagaimana jawabanmu?”
Kepala Tifa tertunduk seolah menyembunyikan rona wajahnya. Kemudian ia tersenyum kecil.
“Aku menerimanya.”
“Apa?” Dave melompat bangun. “Coba bilang sekali lagi!”
Malu-malu Tifa menatap Dave, “Ya, aku menerima perasaanmu.”
Dave menatap Tifa tak percaya, “Oh my God. I can’t believe this!”
Tifa hanya tersenyum kecil.
“Terus kita pacaran’kan? Gimana ayahmu?”
“Nanti aku akan bicara padanya dan ibu juga. Aku akan berusaha meyakinkan mereka kalau kita akan baik-baik saja.”
Dave masih menatap Tifa dengan takjub. Cukup lama, sampai Tifa berpikir kalau Dave-lah yang sedang kesambet.
“Dave…”
“Boleh aku memegang tanganmu?”
Tifa tersentak, tapi kemudian ia mengangguk malu-malu. Awalnya Tifa berpikir kalau Dave hanya menggenggam satu tangannya, tetapi pemuda ia malah mendekap tangannya di dada pemuda itu. Tifa bisa merasakan detakan yang tak beraturan di balik tulang rusuk pemuda itu. Ia tak menyangka kalau pemuda ini juga gugup sama seperti dirinya. Dave mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
“Aku janji aku akan menjagamu. Sampai kapan pun.”
Tak ada yang bisa Tifa katakan. Ia hanya memberi anggukan yang disertai senyuman manis. Dave membalas senyuman itu. Tak lama angin berhembus lembut. Menerbangkan kelopak angsana yang berguguran. Warna kuning cerah ikut menghiasi perasaan kedua insan ini dan semburat jingga mentari yang akan tenggelam berusaha menutupi rona merah pada wajah keduanya.
Sebuah kenangan indah yang sulit untuk dilupakan.
ooOoo
Menurutmu apa aku bisa melupakan itu?
Dave hanya bisa menatap sedih pada Tifa yang masih terbaring dengan alat bantu. Sudah lima hari wanitanya itu tertidur. Tak ada perubahan yang pasti dan hal ini semakin membuatnya resah.
“Aku ingat semua itu, Tif. Kuning, jingga, dan merah muda. Semua itu ada pada sosokmu yang malu-malu itu.”
Dave seolah-olah berbicara dengan sosok yang terbaring itu meski tak ada respon sedikit pun.
“Apa kamu mengingatnya, Tif? Aku penasaran dengan memorimu. Apakah kamu melupakan janji itu? Apakah kamu masih mengingatku?”
Perlahan Dave menggenggam tangan Tifa.
“Aku masih menjagamu sampai sekarang. Tak peduli sampai mana pun kamu pergi, aku akan selalu menemukanmu. Kita tidak bisa terpisahkan.”
Dave mendesah panjang.
“Kecuali kalau kamu berencana untuk tidak bangun lagi….”
Tiba-tiba Dave terisak. Genggaman tangannya bergetar. Perlahan air matanya mengalir.
“Jangan, Tif. Jangan tinggalkan aku lagi. Jika kamu pergi kali ini, aku benar-benar tak bisa menemukanmu lagi dan aku tak tahu harus bagaimana.”
Dave mengecup pelan genggaman tangan itu.
“Bukalah matamu, Tif. Aku menunggumu di sini. Masih menunggumu….”
Senja menjelang. Rona jingga matahari tenggelam menghiasi ruangan itu. Berkasnya yang lain menghampiri wajah Tifa yang masih tertidur. Ini seperti mengembalikan kenangan yang pernah terjadi, tetapi dalam bentuk yang paradoks.
Dave masih menggenggam tangan Tifa. Sayang, wanita itu tak bisa tersenyum seperti dulu.

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 160)




Musikal 160

Langkah Tifa melompat-lompat menghindari genangan air. Palembang baru saja diguyur hujan lebat sehingga lubang-lubang kecil  langsung terisi air. Untungnya hujan tak berlangsung lama jadi tidak membuat jalan-jalan kecil terendam air.
Langit masih menyisakan gerimis kecil. Namun, itu tak menyurutkan Tifa untuk sampai ke tempat tujuan. Ia bahkan menolak nasihat ibunya untuk membawa payung. Alasannya payung akan memperlambat gerakannya.
Selain genangan air, ia juga menghindari seorang pria yang menggunakan payung biru. Anehnya, pria itu justru menahan lengan Tifa agar tak langsung melewatinya. Tifa kaget dan berusaha melepaskan diri. Pemuda itu mengangkat payung yang menutupi wajahnya. Rasa terkejut Tifa ternyata berlanjut saat ia berpapasan dengan pria itu.
“Dave?”
“Yo!” sahutnya seraya melambaikan tangan. “Ngapain kamu di sini? Mau nguntit rumah aku ya?”
Tifa tersentak, “Eh, rumah kamu?”
“Iya, kok kamu tahu aku tinggal di sini?”
“Bu—bukan kok. Aku juga gak tahu kalau kamu tinggal di komplek ini. Aku ke sini mau mengunjungi kakakku.”
“Eh, kakakmu yang cantik itu? Dia tinggal di sini juga?”
Tifa mengangguk ragu.
“Jadi, kamu mau ke rumahnya? Keberatan kalau aku ikut mengantar?”
Tifa mengigit bibirnya. Ia berpikir cukup lama.
“Asal kamu janij kalau kamu gak bakal komentar aneh-aneh.”
Untuk apa juga ia komentar aneh-aneh, benak Dave. Namun, ia mengangguk segera.
Rumah Kakaknya Tifa ternyata cukup jauh, bahkan dari rumah Dave. Terletak di sudut belakang komplek. Sepanjang perjalanan Tifa tak banyak bicara. Ia seperti sedang menyimpan sesuatu dalam pikirannya.
Baru saja Tifa membuka pagar, mereka langsung disambut oleh seorang bocah laki-laki. Ia berseru riang sambil memeluk Tifa. Kalau dilihat dari postur tubuhnya kemungkinan anak ini masih berumur empat atau lima tahun.
“Tante Tifa hari ini bawa apa?”
“Bawa pie apel. Kamu suka’kan?”
Bocah itu mengangguk semangat lalu sorot matanya berubah asing saat bertemu pandang. Ia menarik-narik ujung baju Tifa.
“Tante, Tante, itu siapa?”
Tifa meiirik Dave ragu, “Ini teman Tante. Namanya Dave. Salam dulu gih.”
Dengan patuh bocah itu menyalami Dave, “Halo, Om. Namaku Adrian.”
Dave tersenyum seraya mengacak pucuk kepala bocah itu, “Wah, pintar. Kamu umurnya berapa?"
“Tahun ini aku ulang tahun yang kelima, Om.”
“Mamamu mana?” potong Tifa sebelum Dave melanjukan percakapan dengan Adrian.
“Lagi nonton TV. Yuk, Tante, kita ikutan nonton sambil makan kue.”
Adrian menarik baju Tifa agar mengikutinya. Mengingat apa yang dikatakan Tifa sebelumnya, Dave tak memberanikan dirinya untuk ikut masuk.
“Yuk, ikut ke dalam,” ajak Tifa sambil tersenyum.
Rumah itu tak terlalu mewah, tetapi semua perabot tersusun rapi. Dave bisa merasakan kalau kakaknya Tifa adalah tipikal ibu rumah tangga yang rajin. Mereka bertemu dengan sang kakak di ruang tengah. Benar yang dikatakan bocah itu kalau ibunya sedang asyik menonton televisi.
“Ibuuu, ada Tante Tifa!”
Wanita itu tersentak, tetapi terlihat senang dengan kedatangan Tifa. Ada yang berubah setelah limat tahun Dave tak melihatnya. Wajahnya wanita itu masih seperti dulu, tapi entah kenapa banyak sekali garis-garis halus menghiasi wajahnya. Padahal ia yakin saat ini kakaknya Tifa itu masih berusia 20-an. Namun, semua orang mengira kalau wanita itu sudah memasuki pertengahan usia 30-an. Selain itu, tubuhnya juga sangat kurus.
“Wah, senang kamu datang, Tif,” ujarnya sambil memeluk Tifa lalu matanya bertemu dengan Dave. “Pacar kamu, Tif?”
Tifa buru-buru mendorong kakaknya, “Bu—bukan, enak aja! Ini Dave, Kak. Sepupunya Kak Armandi. Ingat gak?”
Lipatan di kening Laksmi menandakan ia sedang mencoba mengingat sosok pemuda tampan di hadapannya. Sampai akhirnya ia mengingat kenangan masa lalunya.
“Ah ya, David’kan? Ya ampuuun, kamu gedenya ganteng bangeeet!”
Dave terkekeh, “Makasih, Kak. Kak Laksmi apa kabar?”
“Yah, pokoknya sibuk ngurusin anak dan keluarga,” Laksmi tertawa kecil.
Dave hanya balas tersenyum. Jawaban yang ambigu. Lagi-lagi ada kesan menutupi baik dari Tifa atau pun kakaknya.
Suasana dibuat sehangat mungkin dan mungkin yang hanya merasakan kehangatan itu hanyalah bocah bernama Adrian. Dia terus saja melahap pie apelnya sambil sesekali mengajak Tifa bercanda. Selebihnya Dave merasakan kepura-puraan yang digunakan kedua kakak beradik ini untuk menutupi sebuah keadaan.
Sampai akhirnya mereka pamit. Dave menawarkan diri untuk mengantar Tifa sampai ke depan komplek. Tifa tak menolak, tapi juga tak  membuka percakapan. Sampai keduanya melewati sebuah minimarket komplek.
“Beli minum dulu yuk. Kayaknya aku kurang minum di sana tadi.”
Dave mengiyakan dan sekali lagi Tifa tak berkeberatan ketika ditraktir. Kemudian keduanya mengambil tempat di bangku yang disediakan di depan minimarket tersebut.
“Pasti kamu ngerasa aneh banget tadi’kan?” Tifa akhirnya membuka suara. “Maaf, mungkin Kakakku terkejut kalau kamu datang.”
“Apa kedatanganku menganggu?”
“Nggak kok, cuma yaah… kakakku memang agak sensitive kalau bertemu dengan orang baru.”
Dave hanya mengangguk pelan.
Tifa mendesah panjang, “Kamu pernah tanya’kan kenapa Kakakku tidak melanjutkan kariernya? Alasannya adalah anak kecil tadi.”
“Maksud kamu karena Kakakmu sudah lebih dulu menikah?”
“Bukan, tapi karena kakakku lebih dulu mendapatkan Adrian.”
Dave tersentak, “Eh, maksudmu kakakmu hamil duluan?” Detik berikutnya Dave menyesal telah menanyakan pertanyaan tersebut, “Ah, maaf. Aku tidak—“
“Tidak apa. Memang kenyataannya seperti itu,” Tifa mendesah panjang. “Makanya kakakku berhenti dan lebih memilih mengurung diri dengan alasan mengurus Adrian. Sebenarnya aku tahu kalau kakakku masih ada keinginan untuk kembali ke dunia teater, tapi dia sudah merasa malu.”
“Lalu ayahnya? Maksudku ayah si Adrian, apa dia bertanggung jawab?”
Tifa mengangguk kecil, “Aku cuma tidak menyangka saja kalau kakakku melakukannya dengan kakak sepupuku sendiri.”
“Tapi bukannya kakakmu dulu pacarannya dengan Kak Armandi?”
“Begitulah, aku juga tidak mengerti kenapa Kak Laksmi mau dengan orang itu, tapi setidaknya orang itu mau bertanggung jawab,” ujar Tifa. “Setidaknya nama Adrian tetap mendapat nama Kusuma Nugraha.”
“Nama keluargamu?”
“Ya, kalau laki-laki akan mendapat nama Kusuma Nugraha dan kalau perempuan Kusuma Ningsih. Kebetulan Kak Ican itu dari keluarga ayahku.”
Dave mendesah pendek, “Lalu kenapa kamu menceritakan ini padaku?”
“Tidak tahu,” Tifa menggeleng pelan. “Mungkin karena kamu sudah melihat semuanya dan mungkin juga karena pernyataan cintamu waktu itu.”
Dave kembali tersentak, “Apa hubungannya?”
“Yaah, sejak kejadian kakakku, ayah jadi lebih protektif padaku. Beliau berpesan untuk tidak terlalu dekat dengan laki-laki apalagi sampai ke tahap pacaran. Beliau takut apa yang terjadi pada Kak Laksmi terjadi juga padaku.”
Dave mengangguk paham. Akhirnya ia mengerti kenapa gadis ini sulit dimengerti ketika berbicara cinta. Kenapa gadis ini selalu menghindar ketika ditanya mengenai perasaan. Trauma keluarganya ternyata berpengaruh besar pada kehidupan gadis ini.
“Kalau begitu tidak usah dipikirkan,” Dave menepuk bahu Tifa. “Aku menyukaimu supaya bisa melihatmu bahagia bersamaku. Aku tidak mau ada tekanan dalam hubungan kita berdua. Kalau saat ini kamu tidak bisa, tidak apa-apa. Aku harap kita akan tetap dekat seperti saat ini.
“Dan kalau seandainya kamu berubah pikiran, kamu jangan takut. Aku menyukaimu agar aku bisa menjagamu. Aku tidak akan merusakmu seperti laki-laki lain dan kamu bisa adukan pada ayahmu seandainya itu terjadi.”
Tifa tersenyum geli, “Terima kasih. Terima kasih dua kali.”
Kening Dave berkerut, “Kenapa dua kali?”
“Karena yang pertama kamu sudah bersabar menghadapi orang seperti aku. Kemudian aku juga berterima kasih karena kamu mau mendengar ceritaku. Rasanya sedikit lega sudah berbagi pada orang lain, tapi aku minta kamu rahasiakan hal ini. Tolong, jangan ceritakan pada siapa pun.”
“Aku mengerti,” Dave menepuk dadanya. “Kamu bisa mengandalkanku.”
Tifa kembali tertawa seraya bangkit, “Ah, sudah sore. Aku harus segera kembali. Nanti ibuku malah ngomel-ngomel. Sampai jumpa, Dave.”
“Hei, Tif!”
Tifa terpaksa memutar langkahnya karena panggilan itu. Ia mendapati Dave tersenyum padanya.
“Kalau ada masalah ceritakan saja padaku. Aku senang bila kamu mau berbagi.”
Tifa tidak bisa tidak tersenyum. Dave menawarkan sebuah kenyamanan yang selama ini ia tak miliki. Rasanya ia harus memikirkan ulang tentang peryataan cinta waktu itu.


Minggu, 11 Juni 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 159)




Musikal 159

Hari yang paling ditunggu akhirnya datang juga. Kali ini Tifa memastikan dirinya tidak terlambat untuk datang perkenalan anggota baru klub teater. Ia beserta Hana dan Gloria bergegas menuju gedung teater seusai jam sekolah.
Namun yang tak pernah ia duga adalah pertemuannya kembali dengan sosok pangeran beriris safir. Tifa tak bisa tak tersenyum saat bertatapan langsung dengan pemuda itu.
“Kamu di sini juga? Mau ikut klub teater?”
Dave mengangguk dengan seringai jahil menghiasi wajahnya.
Tifa tertawa sinis, “Memangnya kamu bisa akting?”
“Wah, kamu meremehkanku. Lihat saja nanti, aku pasti langsung dapat peran utama.”
Tawa sinis Tifa masih menghiasi, “Oh ya, kenalkan ini teman sekelasku. Gloria dan Hana.”
Tangan Dave sempat tertahan saat bersalaman dengan Hana, “Hei, apa benar kalian ini berteman?”
“Tentu,” Dave tersenyum, “Teman lama.”
Hana melirik heran pada Tifa, “Hebat juga relasimu, Tif.”
Tifa hanya terkekeh dan mengajak teman-temannya masuk.
ooOoo
Klub drama sekolah mereka bernama Love Musical. Dinamakan demikian karena pementasan mereka bernuansa musikal dan selalu saja dalam perjalanannya ada kisah cinta yang menjadi bumbu-bumbu unik. Definisi yang harus diingat bila nanti ada siswa lain yang bertanya mengenai pemilihan nama.
Love Musical terdiri atas empat divisi. Divisi pertama adalah divisi akting, yaitu divisi yang berisi aktor dan aktris. Lalu ada divisi musik yang meliputi vokalis dan alat musik. Selanjutnya ada divisi tari yang tentu saja berisi para penari. Divisi terakhir disebut divisi artistik. Divisi ini adalah satu-satunya yang tidak akan pernah muncul di atas panggung, tapi pekerjaan mereka menentukan berhasil atau tidaknya pementasan. Divisi artistik meliputi sutradara, tim artistik, tim make up dan kostum, serta tim marketing.
Setelah pengarahan selesai, mereka langsung diminta untuk bergabung dalam divisi masing-masing. Dave dan Hana bergabung dalam divisi akting, Gloria berada dalam divisi musik, dan terakhir Tifa memilih divisi artistik. Keempatnya berpisah sesuai dengan bakat masing-masing.
Tifa kembali mendapatkan teman baru dalam timnya. Seorang gadis cantik dengan wajah agak oriental. Tatapan gadis itu mengingatkannya pada tatapan Hana. Sinis dan menusuk. Namun, Tifa berhasil menggodanya dan mereka pun menjalin pertemanan. Gadis itu bernama Tri Kurniati. Meski mereka satu divisi, tetapi Tri memilih untuk berada di dalam tim make up dan kostum, sedangkan Tifa berada dalam tim sutradara.
“Tahun ini kita kedapatan aktor ganteng.”
“Percuma ganteng kalau gak kuat tahan cobaan. Apalagi pas karantina satu.”
Para senior yang saling bergunjing itu tertawa. Tifa yang lagi-lagi tak sengaja menguping jadi bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan karantina satu. Kedengarannya berat sekali.
ooOoo
Ternyata memang berat.
Tiga bulan sejak latihan pertama, mereka langsung merasakan karantina. Hanya empat hari dan tempat karantina mereka bukan di sekolah, melainkan jauh di luar Palembang. Klub drama mereka menyewa sebuah vila yang selalu menjadi tempat mereka karantina. Vila itu ada di Lampung dan pemiliknya disapa Pak Wisnu. Sudah menjadi tradisi Love Musical  untuk melaksanakan latihan karantina pertama di tempat ini.
Tidak main-main latihan mereka bak tes militer. Mereka dibangunkan pukul empat pagi dan hanya diberi waktu setengah jam untuk membersihkan diri, setelah itu mereka langsung berlari mengelilingi vila. Suasana Lampung yang terkenal dingin serta rasa kantuk yang berat membuat banyak anggota banyak roboh. Namun, seperti tak mengenal ampun, mereka tetap melanjutkan sesi latihan sampai akhir.
Semua orang lelah. Semua orang sudah sampai batas untuk tak mengeluh. Hingga puncaknya pada hari keempat mereka justru mendapatkan kejutan. Mereka diajak berlibur di sebuah pantai dan malamnya mereka bersantai di depan api unggun.
Kemarahan yang akan meledak dari setiap anggota baru langsung padam saat melihat birunya air laut. Ternyata selalu ada hadiah di balik kerja keras. Jadi begitulah yang dimaksud dengan seleksi alam. Sebenarnya latihan kemarin dimaksudkan untuk melihat anggota mana saja yang bisa bertahan karena bekerja dalam kelompok dalam waktu yang lama bukanlah perkara gampang. Siapa yang bisa bertahan dalam seleksi alam maka dia yang akan medapat peran.
“Kak Laksmi gak pernah cerita soal ini sama aku,” ujar Tifa. “Kupikir ini sengaja dirahasiakan.”
Dave hanya tersenyum simpul.
“Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu bawa aku ke sini? Bukannya semua orang berkumpul di bawah?”
Memang benar. Ketika semua orang asik menikmati senda gurau di hadapan api unggun, Dave mengajak Tifa untuk menikmati di tempat lain. Di teras atas vila tersebut memang menyuguhkan pemandangan langit yang indah. Tifa terkesima dengan keindahan itu, tapi ia tak melupakan alasan pemuda ini hanya mengajaknya saja.
“Membicarakan hal pribadi mungkin. Entahlah, tapi aku cuma mau menikmati suasana di sini.”
“Jawaban yang aneh,” ujar Tifa sambil bersedekap di pagar pembatas balkon.
“…bersamamu.”
Tifa menoleh cepat.
“Aku ingin menikmatinya hanya bersamamu.”
Tifa bengong sesaat lalu ia tertawa, “Kedengarannya kamu seperti om-om mesum.”
“Aku serius tahu!” Dave berdecak kesal.
“Iya, iya deh. Terus kenapa harus sama aku?” ujar Tifa yang masih tertawa.
Dave mengabaikan tawa mengejek Tifa dan berkata cepat, “Karena aku cuma mau tanya apa kamu sudah punya pacar atau belum?”
Tifa tersentak, “Kamu bilang apa barusan?”
“Aku tanya apa kamu sudah punya pacar atau belum?”
Tiba-tiba saja pertanyaan Dave jauh lebih sulit daripada tugas logaritma. Tifa mulai merasa serba salah.
“Ke—kenapa kamu tanya itu?”
“Karena aku mau kamu jadi pacar aku.”
Tubuh Tifa mengejang. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Padahal sebelumnya Dave tak pernah menunjukkan perhatian lebih yang mengisyaratkan kalau dia menyukai Tifa. Selain itu, Tifa tak pernah berpikir untuk mencari pacar sekarang karena kepalanya sudah penuh dengan kegiatan pementasan.
“Jadi, bagaimana? Apa aku diterima?
“Eh, ta—tapi—“
“Tapi kamu sudah punya pacar?” potong Dave yang membuat Tifa semakin gugup.
“Bu—bukan itu…”
“Lalu kenapa?”
Tifa menarik napas panjang, “Begini, Dave. Aku kaget dengan pernyataanmu barusan. Jujur aku gak siap jawab dan gak siap menjalani hubungan. Maksudku—“
“Jadi, aku ditolak?”
“Uuh, dengar dulu!” Tifa mulai gerah karena kata-katanya selalu dipotong. “Maksudku, beri aku waktu.”
“Baiklah, besok? Tiga hari lagi? Atau minggu depan?”
Bahu Tifa melorot cepat, “Tidak secepat itu.”
“Terus kenapa? Kalau memang kamu gak mau, jangan mengulur-ulur waktu. Jangan buat aku menggantung gak jelas.”
“Maksudku begini, kita memang sudah pernah kenal dulu, tapi itu dulu. Aku gak kenal kamu yang sekarang dan kamu pun gak tahu bagaimana aku. Aku cuma ingin punya lebih banyak waktu untuk saling mengenal supaya apa pun keputusan nanti tidak akan merugikan kita berdua. Kamu ngerti’kan maksudku?”
Dave terdiam cukup lama. Kemudian terdengar helaan napas panjang.
“Baiklah, tapi sampai kapan?”
“Pementasan. Setelah pementasan selesai, aku pasti akan kasih kamu jawaban.”
Dave mengangguk pelan, “Kuharap kamu kasih jawaban yang baik.”
Tifa tersenyum.
“Satu hal lagi! Sampai pementasan selesai, jangan biarkan ada lelaki lain yang menikung, oke?”
Masih dengan senyumannya, Tifa menepuk bahu Dave lembut.
“Tenang saja, aku punya janji sekuat macan.”