Total Tayangan Halaman

Sabtu, 31 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 116)




Musikal 116

Jam pulang mereka dipercepat. Pukul lima mereka sudah diperbolehkan pulang. Priyanka pun mengambil kesempatan langka ini untuk menunaikan niatnya. Ia memacu motornya agar cepat sampai di rumah Fi.
Sesampainya di sana, Priyanka merasakan rumah itu sangat sepi. Ia tahu kalau Fi hanya tinggal berdua dengan ibunya, sementara ayahnya sering keluar kota. Namun, ketika terakhir kali ke sini (sebelum insiden Wenda), suasananya seperti ini. Priyanka merasa kalau ia sekarang sedang berkunjung ke pemakaman.
Pintu itu terbuka setelah Priyanka menyelesaikan ketukan ketiga. Ia melebarkan senyum ketika ibunda Fi menyambutnya. Wanita itu membalas ramah, hanya saja ada raut wajahnya sulit dijelaskan saat itu. Ada hal yang sedang berusaha ia simpan.
“ Sore, Tante. Fi-nya ada?”
Wanita itu tampak ragu ketika akan menjawab pertanyaan Priyanka. Masih dengan senyumannya, Priyanka mencoba meleburkan keraguan wanita itu.
“ Saya hanya cuma pengen tahu kenapa Fi hari ini alpa. Dia juga gak latihan hari ini. Saya pikir dia sakit, makanya saya mampir ke sini.”
“ Ah ya, dia memang sedang tidak enak badan,” jawab wanita itu yang Priyanka yakini itu hanya pengalihan semata. “ Maaf, Tante lupa mau kirim surat. Nanti Tante akan telepon wali kelas kalian.”
“ Hoo, gitu. Apa saya bisa ketemu Fi?”
“ Maaf, tapi tampaknya Fi masih butuh istirahat,” wanita itu menyahut cepat.
Priyanka mengangguk, “ Ohh, gitu. Oke deh Tante, kalau gitu aku pamit. Sampaikan saja salam saya sama Fi.”
“ Terima kasih ya, Ka.”
Pintu itu kembali tertutup. Kemudian terdengar helaan napas berat dari Priyanka. Mungkin Fi benar-benar tak ingin ditemui oleh siapa pun. Sikap ibunya juga seperti sangat sensitif dengan kunjungan orang lain. Priyanka membayangkan bagaimana kondisi Fi di balik pintu yang tertutup itu. Gadis itu pasti sedang menangisi dirinya dan nasibnya. Priyanka mendesah lagi. Kenapa gadis itu harus diuji seperti ini? Rasanya ini bukan ujian, tapi seperti hukuman.
Priyanka terus-terusan memikirkan Fi, bahkan meski dia sudah di atas motor. Ia sedikit menyesali sikap Fi yang terlalu tertutup pada orang. Andai dia mau berbagi padanya, mungkin beban gadis itu akan sedikit berkurang. Ia mungkin masih dirasa asing oleh Fi, tapi ia bukan orang yang suka membocorkan rahasia orang lain.
Terlalu lama memikirkan Fi, membuat Priyanka tak fokus pada motornya. Ia hampir saja menabrak seekor kucing lalu buru-buru ia membanting stangnya ke sembarang arah. Akibatnya, motor itu oleng lalu ia terjatuh, dan motornya masuk ke selokan.
Sejenak Priyanka masih syok. Untung ia segera menguasai dirinya. Perlahan ia bangkit dan merasakan nyeri di pergelangan kakinya. Ia membuka helm, memungut tas, lalu menarik napas dalam-dalam. Perhatiannya beralih pada motornya yang bagian depannya terperosot ke dalam parit.
Priyanka menarik napas dalam-dalam. Ia masih bersyukur karena ia tak jatuh dengan posisi di bawah motor. Ia tak bisa membanyangkan kalau dengan kakinya yang sakit ia harus mengangkatt motor dari tubuhnya. Namun, yang jadi masalahnya satu, bagaimana ia menarik motor ini? Jatuhnya lumayan dalam dan sekarang tenaganya seperti terserap habis.
Dengan langkah pincang-pincang, ia mencoba menarik motornya. Tak ada perubahan. Tangannya masih gemetar dan ia benar-benar kehilangan tenaga.
“ Kenapa, Mbak? Boleh dibantu?”
Priyanka bersyukur mendengar suara orang yang berniat membantunya. Ia membalikkan badannya sambil tersenyum memelas. Namun, senyumnya sedikit memudar ketika orang baik itu ternyata adalah orang yang sangat familiar.
“ Kemal?”
“ Priyanka?” pria Arab itu tak kalah kaget. “ Oh hai, eh, kamu baik-baik aja? Aku lihat dari kejauhan kamu kecelakaan tunggal ya?”
“ I—iya semacam itulah,” Priyanka menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. “Aku sedikit melamun dan hampir menabrak kucing. Kucingnya selamat, tapi akunya yang mental.”
“ Makanya jangan melamun,” Kemal terkekeh. “ Mundur gih, aku mau narik motornya.”
Ia menuruti kata-kata Kemal. Tak butuh waktu lama, laki-laki itu berhasil menarik motor Priyanka keluar. Ia cukup kagum dengan Kemal yang terlihat sangat kuat saat menarik motor itu.
Kemal mencoba menstater motor itu. Berhasil hidup, tapi alisnya berkerut ragu.
“ Kita bawa ke bengkel dulu aja, Ka. Mesinnya sih oke, tapi gak tahu yang lainnya. Takutnya nanti malah jadi masalah baru buat kamu.”
Priyanka hanya bisa mengangguk lemah. Hanya saja ia tak tahu dimana letak bengkel terdekat. Tiba-tiba saja kakinya kembali berdenyut dan membuatnya meringis.
“ Ada yang luka atau yang sakit?”
“ Ngg, kayaknya kakiku deh,” Priyanka kembali meringis.
“ Rumahku tinggal 100 meter dari sini. Kita ke mampir dulu biar lihat luka kamu seberapa parah.”
“ Rumah kamu di komplek ini?” Priyanka terlihat kaget dan disahut dengan anggukan Kemal. Ia pun ikut mengangguk, “ Oke deh, kayaknya aku memang butuh pertolongan pertama.”
Kemal tersenyum, “ Berikan itu!”
“ Apa?” tanya Priyanka dengan kening berkerut. Ia tak mengerti maksud Kemal, tapi tiba-tiba saja ranselnya ditarik oleh laki-laki itu. Ia tak sempat mengelak ketika ransel itu berpindah ke punggung Kemal.
Come on!”
Kemal menyetarakan langkahnya dengan Priyanka yang tertatih-tatih karena luka di kakinya. Di sisi lain, Priyanka merasa tambah tidak enak karena Kemal sudah membawakan motornya dan juga tasnya. Ia berharap laki-laki itu tidak meminta imbalan yang aneh-aneh nantinya.
“ Ngomong-ngomong ngapain kamu ke sini?” tanya Kemal memecah kesunyian.
“ Ah, ke—ke rumah Fi,” Priyanka tergagap menjawab pertanyaan Kemal. Kemudian ia buru-buru menambahkan, “ Dia di komplek sebelah, tapi aku lewat ke sini untuk mengambil jalan pintas.”
Kemal hanya ber-“Oh” saja. Kemudian sunyi kembali. Sampai akhirnya mereka sampai. Kemal menyilakannya masuk. Tak lama kemudian ia kembali dengan kotak P3K di tangannya lalu duduk di samping Priyanka.
“ Berikan itu!”
Priyanka belum sempat mencerna benda “itu” yang dimaksud, tapi Kemal sudah lebih dulu meraih kakinya. Dengan cepat Priyanka membetulkan letak roknya agar tak tersingkap dan menjadi tontonan laki-laki itu.
Begitu Kemal menarik kaus kaki yang gadis itu kenakan, terlihat baret besar melintang di pergelangan kakinya. Sebagian meninggalkan noda darah pada kaus kaki itu. Namun, Kemal belum menorehkan obat setetes pun, yang ada ia malah memijat-mijat kedua pergelangan kaki gadis itu. Hampir saja Priyanka menanggapinya sebagai pelecehan seksual, tapi ia buru-buru bertanya.
“ Ada yang sakit? Maksudku nyeri ketika ditekan?”
Priyanka tersentak lalu buru-buru merasakan tekanan pada kakinya, “ Ka—kayaknya gak ada.”
Kemal mengangguk, “ Baguslah, kayaknya cuma luka luar saja.”
Dengan cekatan laki-laki itu mengompres luka Priyanka. Gadis itu meringis saat lapisan epidermis yang terluka itu tersentuh obat. Namun, dengan lembut Kemal memberikan tiupan agar obat itu terasa dingin.
Ada rasa yang menggelitik hati Priyanka kala laki-laki itu memperlakukannya seperti drama picisan yang ada di layar TV. Tanpa terasa kakinya sudah dibalut perban dan praktik dokter Kemal pun berakhir. Perlahan kakinya diturunkan dari pangkuan Kemal.
“ Motormu titip saja di sini dulu. Di depan komplek ada bengkel, tapi gak mungkin kamu bisa membawanya sekarang,” ujar Kemal sambil merapikan obat-obatnya. “Kebetulan Bang Rafi bentar lagi pulang, nanti aku minta tolong dia aja.”
Priyanka mengangguk kecil. Detik kemudian ia dikejutkan oleh tingkah Kemal yang tiba-tiba memukul keningnya sendiri.
“ Astaga, aku lupa kasih kamu minum!”
Priyanka dengan cepat melambaikan tangannya, “ Gak usah. Kayaknya aku udah terlalu banyak ngerepotin kamu.”
“ Gak boleh gitu,” ujar Kemal seraya beranjak dari kursi. “ Gadis cantik yang datang ke rumahku harus diperlakukan baik. Tunggu bentar yah!”
Kemal pun berlalu. Tak lama, setelah itu Kemal datang dengan nampan berisi secangkir teh dan beberapa biskuit.
“ Sori, Mamaku gak buat kue hari ini.”
Priyanka hanya tersenyum maklum. Ia pun meneguk teh hangat yang disajikan. Tampaknya tenggorokannya memang harus dibasahi. Tanpa sengaja matanya teralih pada pergelangan kaki yang terbalut perban.
“ Eh ya, jadi gimana kabar Fi?”
“ Dia cuma gak enak badan dan mamanya lupa kasih kabar,” jawab Priyanka tanpa mengalihkan pandangan dari kakinya. Ia seperti teringat sesuatu.
Kemal mengangguk paham. Ia merasa Priyanka tak suka diajak bicara olehnya, tapi ia tak mau berdiam dalam sunyi.
“ Eh, ngomong-ngomong—”
“ Orang tuaku….”
“ Maaf?” kening Kemal berkerut saat mendengar Priyanka mengatakan sesuatu yang tak sesuai dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan.
Dengan tenang Priyanka menaruh cangkir pada tatakan lalu pandangannya beralih pada Kemal.
“ Waktu itu kamu pernah tanya’kan kenapa dulu aku memakai cara curang untuk menyingkirkan Wenda. Jawabanya karena orang tuaku.”
Bibir Kemal terkatup rapat. Ia menatap Priyanka yang sedang menarik napas panjang.
“ Aku tahu Wenda sangat hebat, tapi orang tuaku tak mengenal kata kekalahan. Ia terus memaksaku untuk menjadi yang nomor satu. Mereka tahu aku berbakat menari, makanya mereka berusaha agar aku tak kalah. Sayangnya mereka tak tahu kalau Wenda lebih berbakat. Aku paling benci kalau aku harus berhadapan dengan Wenda karena dia hebat dan karena dia satu-satunya sahabatku.
“ Tekanan yang kurasakan semakin besar. Sampai akhirnya aku mulai berpikir untuk menggunakan cara yang salah. Waktu itu hanya dalam pikiranku saja, tapi Erick datang dengan segala bujuk rayunya. Aku yang tak tahan lagi dengan semua tekanan itu akhirnya menuruti apa kehendak iblis dalam hatiku. Aku mengiyakan syarat yang diajukan Erick dan laki-laki itu langsung mengeksekusiknya. Kemudian aku terpilih menjadi si nomor satu dan orang tuaku bangga.”
Priyanka menarik napas panjang. Matanya kembali beralih pada pergelangan kakinya.
“ Mungkin ini terdengar seperti kebohongan, tapi waktu aku melihat Wenda yang terbaring lemah di rumah sakit, aku menangis sekuat-kuatnya. Ingin rasanya aku memotong kakiku saat itu dan menyerahkannya pada Wenda. Gadis itu lebih pantas menerima segalanya daripada aku. Tapi yang membuatku tenang karena aku tahu hukumanku akan segera datang. Yah, Erick bagaikan malaikat pencabut nyawa ketika memperlakukanku. Aku terima saja karena aku tahu bagaimana karma bila menerima tawaran iblis.”
Kemudian keduanya sama-sama diam seribu bahasa. Terjadi kesunyian yang panjang di antara mereka.
“ Tapi tetap saja perbuatan si brengsek itu tidak bisa dibenarkan,” Kemal kembali memecahkan kesunyian. “ Mana ada laki-laki yang memukul wanita. Itu perbuatan yang lebih rendah dari hewan. Eh, tapi kamu belum diapa-apain sama dia’kan?”
Priyanka menggeleng cepat. Kemudian mereka kembali dihinggapi kesunyian yang panjang. Sampai sebuah guratan senyum kecil menghiasi wajah gadis itu.
 “ Tapi terima kasih atas pertolonganmu waktu itu. Kamu juga masih mempercayaiku setelah itu. Dan juga terima kasih untuk hari ini.”
Mereka saling bertukar pandang. Biasanya Priyanka buru-buru mengalihkan matanya bila mereka bertatapan seperti ini. Namun, kali ini ia membiarkan retinanya menangkap bayangan pemuda itu selama mungkin. Baru kali ini warna yang diberikan irisnya memberikan gambaran yang begitu tampan.
“ Boleh aku minta sesuatu darimu?”
Priyanka terlonjak kaget. Sontak ia langsung membuat jarak dari pemuda itu. Matanya menatap curiga.
“ A—apa?”
Kemal mengadahkan tangannya, “ Kunci motor. Kamu pikir aku bisa membawa motor itu tanpa kuncinya?”
Jelas sekali Priyanka terlihat salah tingkah, tapi setidaknya ia bersyukur. Pikiran negatifnya mengenai pemuda ini tidak terjadi. Ia pun merogoh kunci yang ia simpan di kantung seragam lalu memberikannya pada laki-laki ini.
“ Ayo, kuantar kamu pulang!”
ooOoo

Fi membuka matanya perlahan. Ada seperti tamu yang datang berkunjung. Namun, ia tak tertarik untuk mencari tahu siapa orang yang datang. Ia kembali membenamkan kepalanya ke bantal. Mencoba menghilangkan kenangan terakhir yang terasa sangat buruk.
Ia bermimpi lalu terbangun, kenangan itu masih tak berubah. Ia kembali bermimpi dan terbangun lagi, tapi tetap saja tak ada yang bisa diubah. Sebuah fakta menyakitkan yang ternyata menjadi takdir hidupnya.
Ia memiliki ikatan darah dengan Adrian.
Fi memelas, berharap andai Tuhan membuat semua ini menjadi mimpi buruknya saja, tapi tidak, bahkan dalam mimpinya saja ia masih dihantui kenyataan itu. Tak ada yang bisa ia lakukan ketika matanya terjaga. Air matanya sudah mongering dan ia tak tahu apakah harus meneteskan darah untuk mengganti air matanya.
Suara motor. Fi terkesiap. Meski suasana hatinya masih berantakan, tapi ia bisa memastikan kalau suara tamu itu adalah suara wanita. Telinganya sempat menangkap pertanyaan mengenai keadaan dirinya. Kemudian terdengar suara motor. Fi menduga kalau tamu yang datang adalah Priyanka. Ya, siapa lagi orang yang peduli padanya saat ini. Lagi pula Priyanka adalah satu-satunya teman ketika ia berada di sini.
Fi terlonjak dari kasurnya dan buru-buru menyambar pintu. Ia ingin bertemu dengan Priyanka. Entah kenapa ada sebuah keinginan untuk menemuinya. Ia butuh bicara. Mungkin gadis itu tidak bisa memberi solusi, tapi setidaknya ia bisa meluapkan semua perasaannya pada gadis itu.
Begitu pintu terbuka, sosok ibunya sudah berada di sana. Wajahnya masih terlihat kusut seperti sebelumnya. Fi menghela napas. Setelah kejadian di kafe kemarin, ia tak bicara sepatah kata pun dengan ibunya. Sudah seharian ia mengurung diri di kamar. Percuma saja kedua orang tuanya membujuk. Pintu itu tak pernah dibukanya.
Dan sekarang terbuka.
“ Mana Priyanka?”
“ Sudah pulang,” ibunya menunggingkan sebuah senyum. “ Fi… kamu sudah mau keluar? Kita bicara dulu atau kamu mau makan dulu? Dari kemarin kamu sama sekali gak makan, Nak.”
“ Gak, aku mau ketemu Priyanka!”
Fi mencoba menerobos ibunya, tapi wanita itu berhasil menahan, “ Fi, Mama mohon, jangan seperti ini! Bukan salah Mama kalau kalian ternyata―”
“ Ternyata apa?” wajah Fi kembali beringas. “ Ternyata aku dan Adrian bersaudara? Aku lebih baik melihat Adrian menikahi perempuan lain ketimbang dia jadi saudaraku!”
“ Tapi tak ada yang menginginkan ini, bukan?” suara ibunya melunak. “ Bukan salahmu atau salah Adrian. Kalian hanya berada waktu yang salah.”
“ Ya,” sahut Fi dengan suara bergetar. “ Tapi semua itu berawal dari kesalahan Mama dan Papa.”
Ucapan Fi membuat ibunya terdiam. Fi bisa merasakan tangan ibunya bergetar saat melepaskan genggamannya.
“ Belasan tahun yang lalu, Mama dan Papa sudah melakukan sebuah dosa besar yang membuat hidup Adrian menderita. Dosa itu melahirkan aku. Dan sekarang Adrian justru mencintai hasil dari dosa besar kalian. Ma, apakah ini tidak terlalu kejam?”
Suara Fi pecah ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Air mata kembali menggenangi wajahnya. Lututnya terasa lemas, ia pun bersimpuh di lantai. Ibunya pun tak kalah emosional. Ia meraih tubuh anaknya yang sedang menangis hebat. Kedua ibu dan anak ini sama-sama menangisi takdir mereka.
“ Maafkan, Mama, Nak….”

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 115)




Musikal 115

Langkah Ririn terhenti saat ia tak sengaja berpapasan dengan sosok Alexi yang baru saja memarkir sepedanya. Entah kenapa bibirnya terkatup rapat sementara pupilnya berkeliaran seperti sedang menyembunyikan dosa besar. Padahal Alexi hanya menatapnya dengan cara yang biasa dan bahkan belum mengatakan apa-apa.
“ Pagi,” ujar Alexi.
Ririn menelan ludahnya dengan susah payah, “ Pa—pagi.”
Ia berusaha tersenyum, tapi Alexi hanya menanggapinya dengan datar. Hal itu membuat nyali Ririn ciut. Jemarinya otomatis menggaruk ujung hidungnya. Alexi akhirnya mendesah panjang.
“ Jangan bersikap aneh atau nanti semua orang tahu apa yang terjadi kemarin.”
Ririn memberanikan diri menatap mata pemuda itu secara langsung, “ Aku tahu. Hanya saja… hanya saja auramu membuatku gugup.”
“ Apa menurutmu aku ini Miss Tifa atau sejenis hewan buas?” Alexi terkekeh. “Kenapa kamu harus gugup sama aku? Apa aku sedang memelototimu?”
“ Ti—tidak,” Ririn tersenyum geli. Suasana yang menegangkan pun mulai mencair.
Tak lama berselang, ada tiga motor yang datang berbarengan. Kedua insan ini pun sengaja menunda niat untuk langsung ke kelas karena mereka akan berbarengan ke sana dengan para penunggang kuda besi itu. Tepat seperti dugaan keduanya, wajah para penunggang itu adalah teman-teman sekelas mereka. Siapa lagi kalau bukan Ben, Kemal, Wenda, dan si kembar Bramastya.
“ Waktu yang pas sekali!” ujar Ben setelah merkea saling bertukar sapa. “ Aku punya pengumuman untuk kalian.”
Semua orang memperhatikan Ben.
“ Aku dapat kabar kalau Miss Tifa masuk rumah sakit. Adrian dan Pak Dave sepertinya tidak akan datang lalu Bu Riani, Bu Gloria, dan Bu Hana juga akan datang menjenguk siang ini. Jadi, kita tidak akan latihan hari ini.”
“ Oh, yeey!” Kemal merentangkan tangannya ke atas. “ Aku bisa kencan buta hari ini!”
“ Kencan buta gundulmu!” omel Ben seraya meninju lengan Kemal. “ Kegiatan kita hari ini diganti dengan membuat properti. Ingat, jangan ada yang mencoba kabur karena aku dan Kak Santi akan mengawasi kalian semua!”
Kemal menunjukkan wajah kekecewaannya. Hal itu memancing tawa teman-temannya.
“ Tapi kira-kira apa ya yang membuat Miss Tifa masuk rumah sakit? Bukannya dia selalu sehat?” ujar Andani.
“ Aku tidak tahu, tapi menurutku dia kelelahan,” jawab Ben. “ Tahu sendiri’kan jam terbangnya sangat tinggi.”
“ Semoga bukan karena kecelakaan,” sambung Anjani seraya membetulkan tali ranselnya. “ Dan semoga lekas sembuh.”
Ririn dan Alexi bertukar pandang. Ada sedikit kelegaan di wajah mereka karena teman-temannya tidak tahu apa yang menyebabkan Tifa masuk rumah sakit.
“ Kalau begitu ayo kita ke kelas!” ajak Wenda. Namun, baru beberapa langkah tangannya tak sengaja meraba bagian retseliting tasnya, wajahnya seketika menegang. “Astaga, dimana kuncinya?”
Langkah teman-temannya terhenti. Perhatian mereka tertuju pada Wenda.
“ Kunci apa?” tanya Kemal.
“ Kunci motorku. Ya ampun, dimana ya?”
“ Tasmu?” sahut Anjani.
Wenda menggeleng, “ Aku ingat aku belum memasukkannya dalam tas. Aduh, apa masih di motor ya.”
Ia langsung berbalik ke tempat parkir. Namun, baru saja ia hampir saja menabrak seseorang saat membalikkan tubuhnya. Di saat yang sama, orang yang hampir ditabraknya menyodorkan sebuah kunci yang dihiasi dengan gantungan kunci bertuliskan “EXO”.
“ Aku menemukannya tergantung di motormu.”
Ucapan terima kasih itu tergantung di lidah Wenda saat menyadari siapa yang memberikan kunci motornya. Tangannya ragu-ragu saat menerima kunci dari tangan Priyanka.
Melihat kedua gadis itu sama-sama bergeming, Kemal pun beringsut menjadi penengah di antara keduanya.
“ Nah, pahlawan sudah datang. Kenapa tidak ucapkan terima kasih saja?”
Wenda menarik napas lalu menatap Priyanka ragu, “ Te—terima kasih.”
“ Sama-sama,” jawab Priyanka tak kalah ragu.
Kemal berdeham seraya merangkulkan tangannya di pundak kedua gadis itu, “Yap, kasus terpecahkan. Waktunya kita ke kelas bersama-sama.”
Bahu Wenda menepis tangan Kemal, “ Jangan sentuh aku!” kemudian Wenda melenggang pergi lebih dulu.
Priyanka juga menyingkirkan tangan Kemal tapi dengan cara yang lebih sopan, “Kamu juga jangan taruh tangan seenaknya,” ujarnya seraya melangkah pergi.
Kemudian Ben datang dan menaruh lengan Kemal di pundaknya, “ Jangan kecewa, kamu masih bisa meletakannya di pundakku.”
Ekspresi Kemal yang seperti baru saja dicampakkan oleh dua orang gadis langsung berubah menjadi tatapan nafsu yang ia lemparkan pada Ben.
“ Kamu memang satu-satunya. Ayo beb, kita pergi bersama.”
“ Dasar gila,” Anjani tak dapat menahan tawanya yang kemudian disusul oleh tawa Andani.
Mereka pun melangkah bersama. Sekali lagi Ririn dan Alexi saling bertukar pandang. Kali ini ekspresi lega itu lebih terpancar dari keduanya. Yah, setidaknya masih ada angin tenang di sini.
ooOoo
Santi dan Ben mengawasi teman-temannya yang bergotong-royong membuat set panggung dan properti lainnya. Mereka berdua lalu membandingkan daftar hadir dari masing-masing kelompok.
“ Anak kelas 11 semuanya masuk. Bagaimana denganmu?” tanya Santi.
“ Hanya Fi, tapi memang dari tadi dia memang tidak masuk.”
“ Sakit?”
Ben mengangkat bahu, “ Entahlah, tidak ada surat izin atau kabar lainnya. Daftar hadirnya di kelas juga ditulis alpa.”
“ Hmm, sesuatu sekali,” ujar Santi sambil bertopang dagu. “ Menurutmu apa suatu kebetulan kalau dua pemeran utama kita sama-sama tidak hadir?”
“ Mana kutahu,” Ben mengangkat bahunya lagi. “ Sudahlah, kita sekarang bantu mereka. Bisa-bisa kita disebut diktator kalau hanya ngerumpi di sini.”
Kedua pemimpin kelas itu bergabung dengan teman-teman mereka. Tanpa mereka sadari kalau percakapan mereka tadi terdengar jelas oleh Ririn. Namun, Ririn tak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya mendengarkan, tapi tetap fokus pada kawat-kawat yang sedang ia potong. Tak hanya Ririn, ternyata Priyanka juga menangkap pembicaraan Ben dan Santi. Ia pun mengambil posisi duduk di sebelah Ririn seraya mencolek lengan gadis itu.
“ Jadi, bagaimana kemarin?” bisiknya.
Gerakan tangan Ririn terhenti. kepalanya menoleh kesana-kemari untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka. Dengan tangan yang masih fokus pada kawat, ia balas berbisik.
“ Adrian sempat menghilang, tapi kami sudah menemukannya.”
“ Kami?” alis Priyanka saling bertaut. “ Maksudmu ada orang lain selain kita yang tahu tentang ini?”
Ririn mengangguk kecil, “ Alexi, Hiro dan Jiro-senpai, dan supirnya juga. Aku keceplosan, tapi mereka janji tidak akan membeberkan masalah ini.”
Priyanka menarik napas panjang lalu mengambil sebuah kawat dan memotongnya dengan tang, “ Menurutmu ini ada hubungannya dengan sakitnya Miss Tifa?”
“ Ya, Miss Tifa terlalu lelah dan stres akibat kejadian ini. Semalam dokter bilang dia terkena tukak lambung. Setahuku tukak lambung itu akibat dari makanan yang tidak sehat dan stres juga salah satu pemicunya.”
Tak ada sahutan lagi dari Priyanka. Kesunyian di antara hanya diisi dengan bunyi-bunyi kawat yang patah karena gigitan tang.
“ Kasihan Fi,” akhirnya Priyanka membuka suara kembali. “ Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku ada di posisinya.”
Ririn diam seribu bahasa.
“ Oh ya, aku dengar dari yang lain, besok kita akan menjenguk Miss Tifa ke rumah sakit. Kamu sudah diberi tahu?”
Kepala Ririn menggeleng, tapi ada seulas senyum di wajahnya.
“ Tapi sebelum itu aku mau ke rumah Fi dulu. Aku ingin tahu keadaannya.”
Mata Ririn otomatis mengarah pada Priyanka. Ternyata gadis ini punya sifat yang sangat baik. Dulu dia pernah dibuang oleh Fi, tapi sekarang justru gadis ini yang ingin ada di sisi orang yang sekarang ikut terbuang. Harusnya Fi beruntung punya teman seperti dia.
“ Apa?” Priyanka kaget saat ia sadar kalau mata Ririn terus-terusan mengarah padanya.
“ Ah tidak, aku hanya berpikir kalau Fi beruntung punya teman sepertimu.”
Ririn mengembalikan perhatian pada pekerjaannya. Kemudian terdengar helaan napas Priyanka.
“ Aku pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Fi dan waktu itu aku masih ditolong oleh orang yang baik hati. Kupikir sudah saatnya aku berubah jadi orang yang baik hati itu.”
“ Siapa orang yang baik hati itu?”
Priyanka menatap Ririn, tapi gadis itu membalas dengan tatapan penuh tanda tanya. Sepertinya ia benar-benar tak mengerti dengan kode pragmatik yang Priyanka katakan. Melihat hal itu Priyanka terkekeh seraya mengetuk kepala Ririn dengan sebuah kawat.
“ Lupakan saja. Aku tidak akan beri tahu kamu.”
Pipi Ririn mengembung cemberut. Sebal karena Priyanka mengetuk kepalanya dengan kawat dan terlebih karena Priyanka tak menjawab pertanyaannya. Ia paling kesal kalau seseorang tidak langsung menjawab pertanyaannya.
Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Priyanka. Namun, sebisa mungkin ia tak menampakkan senyumannya itu.
‘Dasar lugu. Orang itu tentu saja kamu, Rin.’