Musikal 129
Sesekali Dave melirik
pada penumpang di sebelahnya. Begitu ia kembali ke kamar, tiba-tiba saja Adrian
sudah tidak ada lagi di sana. Ketika ia menanyakan keberadaan Adrian, jawaban
Fi terdengar rancu. Dave berspekulasi kalau sudah terjadi sesuatu di antara
mereka.
Sampai
sekarang. Adrian tidak tahu kemana dan Fi susah sekali diajak bicara. Dave pun
hanya bisa menyetir dalam kebisuan. Hingga mereka sampai di rumah sakit.
Pintu
bangsal terbuka. Kali ini mereka disambut dengan wajah cerah dari Tifa. Ia
tidak sedang terlihat sakit, malah seperti siap menjadi sosok sutradara
kembali.
“Oh,
kalian baru tiba? Tadi Adrian sudah lebih dulu kemari.”
“Eh,
dia sudah kemari?” Dave bertukar pandang dengan Fi. Keduanya sama-sama terlihat
bingung.
“Ya,
tapi sudah pergi lagi. Katanya ada urusan penting. Gak tahu deh kemana,” Tifa
tersenyum pada Fi. “Duduklah, konferensi pers tadi pasti melelahkan, iya’kan?”
Fi
hanya tersenyum masam. Namun, ia tetap pada tempat berdiri. Melihat
kecanggungan itu, Dave pun bernisiatif untuk meninggalkan kedua orang ini.
Pintu kembali tertutup dan ketegangan
mulai terasa.
“Anda
puas?” ujar Fi dengan nada pedas.
“Wah,
kasar sekali,” jawab Tifa dengan tenang seraya melemaskan sendi-sendi
jemarinya. “Padahal saya baru saja akan memuji kerja bagusmu tadi.”
Fi
menatap Tifa dengan mata berkaca-kaca, “Saya sudah melepaskan apa yang
seharusnya saya miliki. Hanya itu yang saya dapatkan sebagai balasan?”
“Sepertinya
kamu sudah mulai berani ya sekarang?” senyuman manis Tifa seketika berubah
menjadi tatapan pembunuh berdarah dingin. “Dengar, saya ingin kamu tahu diri.
Sekarang coba jelaskan siapa yang rela melepaskan? Asal kamu tahu, sedari awal
kamu memang tidak memiliki apa pun. Bahkan tempat di mana kamu berdiri sekarang
tidak pantas kamu pijak.”
Fi
tertawa sarkastik, “Wah, wah, jadi inikah wujud asli seorang Latifa Kusuma
Ningsih? Hanya seorang antagonis yang berbalut dengan senyuman manis tokoh yang
terluka?”
“Baru
tahu, ya?” Tifa balas tawa sarkastik. “Tapi kamu salah. Saya tidak pernah
bersikap manis hanya untuk menutupi seperti apa diri saya. Ah sudahlah, ironi
di antara kita tidak akan selesai. Saya tahu, kamu adalah tandingan yang hebat
kalau soal sarkas.”
Tifa
menarik napas, “Saya hanya ingin kamu paham posisi kamu saat ini, Fi. Jadi,
setelah pertunjukkan ini berakhir, saya harap kamu segera menghilang.
Setidaknya kamu tidak menampakkan diri di hadapan saya maupun Adrian. Saya
memang tidak menyukaimu, tapi saya bukan orang jahat. Saya tidak akan
mengganggu kehidupanmu selagi kamu tidak melanggar apa permintaan saya.”
“Apa
ini ancaman?”
“Bukan,
tapi permintaan memaksa karena kamu tahu’kan kalau saya ini bukan orang yang
pemaaf.”
Dua
kali. Dua kali Fi merasa terpojok. Ia diperlakukan oleh sepasang
tante-keponakan. Tampaknya mereka berdua kompak sekali sebagai keluarga. Kompak
untuk menghancurkan hidupnya.
Namun,
ia tak mau terlihat rapuh di depan orang ini. Sedikit saja ia terlihat sedih,
maka tawa iblis orang ini akan menyerangnya.
“Tapi
Anda perlu tahu satu hal, Mama saya tidak ingin terlibat dalam permasalahan
ini. Dia juga korban. Sama seperti kita.”
Fi
membalikkan tubuhnya. Tanpa permisi ia langsung meninggalkan Tifa. Pintu
bangsal terbuka dan kembali tertutup. Namun, dendam antara Fi dan Tifa belum
selesai sampai di situ. Masih ada amarah yang belum termuntahkan.
ooOoo
Pintu bangsal kembali
terbuka. Kali ini menampakkan sosok July dengan ekspresi wajah yang sulit
diartikan. Matanya beradu pandang dengan sang anak. Sama seperti sang ibu,
berjuta makna bergumul pada sepasang bola mata itu.
July
menarik kursi lalu memindahkan acara televisi yang menayangkan berita panas
mengenai konferensi pers tadi pagi. Sepertinya semua acara infotaiment berebut
untuk menayangkan berita itu lebih dulu. Jenuh dengan segala pemberitaan, July
pun mematikan TV.
“ Kenapa
tidak dimaafkan saja sih?”
July
dan Tifa kembali bertemu pandang.
“Gadis
itu, maksud Ibu.”
Tifa
memalingkan wajahnya, “Apa itu cukup untuk membalaskan dendam Kakak?”
“Sekali
pun terbalaskan, tidak akan menghidupkan Laksmi kembali,” nada bicara July berubah
tegas. “Yang ada kamu akan menderita karena dendammu itu sendiri.”
Tifa
menggigit pipi bagian dalam.
“Kamu
boleh tidak melupakan, tapi cobalah untuk memaafkan. Gadis itu tidak ada
sangkut pautnya dengan hal ini bahkan seharusnya kamu tidak perlu dendam
padanya.”
Tifa
masih membatu. Kesal dengan sikap anaknya, July pun bangkit dan beranjak pergi.
“Terserah
kamu saja, Tif. Capek bicara sama kamu kalau sudah menyangkut masalah ini. Ibu
harap kamu masih memiliki sedikit hati nurani.”
Pintu
kembali berdebam. Bersamaan dengan itu, setitik cairan asin meleleh di pipi
Tifa. Sudah sejak tadi matanya terasa panas, akhirnya kantung matanya tak
sanggup lagi menahan semua cairan itu. Untuk pertama kalinya ia meneteskan air
mata setelah semua kemelut ini menerjangnya.
Tifa
memeluk lututnya. Ia hanya berharap tidak ada yang melihatnya saat itu.