Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Februari 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 129)




Musikal 129

Sesekali Dave melirik pada penumpang di sebelahnya. Begitu ia kembali ke kamar, tiba-tiba saja Adrian sudah tidak ada lagi di sana. Ketika ia menanyakan keberadaan Adrian, jawaban Fi terdengar rancu. Dave berspekulasi kalau sudah terjadi sesuatu di antara mereka.
Sampai sekarang. Adrian tidak tahu kemana dan Fi susah sekali diajak bicara. Dave pun hanya bisa menyetir dalam kebisuan. Hingga mereka sampai di rumah sakit.
Pintu bangsal terbuka. Kali ini mereka disambut dengan wajah cerah dari Tifa. Ia tidak sedang terlihat sakit, malah seperti siap menjadi sosok sutradara kembali.
“Oh, kalian baru tiba? Tadi Adrian sudah lebih dulu kemari.”
“Eh, dia sudah kemari?” Dave bertukar pandang dengan Fi. Keduanya sama-sama terlihat bingung.
“Ya, tapi sudah pergi lagi. Katanya ada urusan penting. Gak tahu deh kemana,” Tifa tersenyum pada Fi. “Duduklah, konferensi pers tadi pasti melelahkan, iya’kan?”
Fi hanya tersenyum masam. Namun, ia tetap pada tempat berdiri. Melihat kecanggungan itu, Dave pun bernisiatif untuk meninggalkan kedua orang ini. Pintu  kembali tertutup dan ketegangan mulai terasa.
“Anda puas?” ujar Fi dengan nada pedas.
“Wah, kasar sekali,” jawab Tifa dengan tenang seraya melemaskan sendi-sendi jemarinya. “Padahal saya baru saja akan memuji kerja bagusmu tadi.”
Fi menatap Tifa dengan mata berkaca-kaca, “Saya sudah melepaskan apa yang seharusnya saya miliki. Hanya itu yang saya dapatkan sebagai balasan?”
“Sepertinya kamu sudah mulai berani ya sekarang?” senyuman manis Tifa seketika berubah menjadi tatapan pembunuh berdarah dingin. “Dengar, saya ingin kamu tahu diri. Sekarang coba jelaskan siapa yang rela melepaskan? Asal kamu tahu, sedari awal kamu memang tidak memiliki apa pun. Bahkan tempat di mana kamu berdiri sekarang tidak pantas kamu pijak.”
Fi tertawa sarkastik, “Wah, wah, jadi inikah wujud asli seorang Latifa Kusuma Ningsih? Hanya seorang antagonis yang berbalut dengan senyuman manis tokoh yang terluka?”
“Baru tahu, ya?” Tifa balas tawa sarkastik. “Tapi kamu salah. Saya tidak pernah bersikap manis hanya untuk menutupi seperti apa diri saya. Ah sudahlah, ironi di antara kita tidak akan selesai. Saya tahu, kamu adalah tandingan yang hebat kalau soal sarkas.”
Tifa menarik napas, “Saya hanya ingin kamu paham posisi kamu saat ini, Fi. Jadi, setelah pertunjukkan ini berakhir, saya harap kamu segera menghilang. Setidaknya kamu tidak menampakkan diri di hadapan saya maupun Adrian. Saya memang tidak menyukaimu, tapi saya bukan orang jahat. Saya tidak akan mengganggu kehidupanmu selagi kamu tidak melanggar apa permintaan saya.”
“Apa ini ancaman?”
“Bukan, tapi permintaan memaksa karena kamu tahu’kan kalau saya ini bukan orang yang pemaaf.”
Dua kali. Dua kali Fi merasa terpojok. Ia diperlakukan oleh sepasang tante-keponakan. Tampaknya mereka berdua kompak sekali sebagai keluarga. Kompak untuk menghancurkan hidupnya.
Namun, ia tak mau terlihat rapuh di depan orang ini. Sedikit saja ia terlihat sedih, maka tawa iblis orang ini akan menyerangnya.
“Tapi Anda perlu tahu satu hal, Mama saya tidak ingin terlibat dalam permasalahan ini. Dia juga korban. Sama seperti kita.”
Fi membalikkan tubuhnya. Tanpa permisi ia langsung meninggalkan Tifa. Pintu bangsal terbuka dan kembali tertutup. Namun, dendam antara Fi dan Tifa belum selesai sampai di situ. Masih ada amarah yang belum termuntahkan.
ooOoo
Pintu bangsal kembali terbuka. Kali ini menampakkan sosok July dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Matanya beradu pandang dengan sang anak. Sama seperti sang ibu, berjuta makna bergumul pada sepasang bola mata itu.
July menarik kursi lalu memindahkan acara televisi yang menayangkan berita panas mengenai konferensi pers tadi pagi. Sepertinya semua acara infotaiment berebut untuk menayangkan berita itu lebih dulu. Jenuh dengan segala pemberitaan, July pun mematikan TV.
“ Kenapa tidak dimaafkan saja sih?”
July dan Tifa kembali bertemu pandang.
“Gadis itu, maksud Ibu.”
Tifa memalingkan wajahnya, “Apa itu cukup untuk membalaskan dendam Kakak?”
“Sekali pun terbalaskan, tidak akan menghidupkan Laksmi kembali,” nada bicara July berubah tegas. “Yang ada kamu akan menderita karena dendammu itu sendiri.”
Tifa menggigit pipi bagian dalam.
“Kamu boleh tidak melupakan, tapi cobalah untuk memaafkan. Gadis itu tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini bahkan seharusnya kamu tidak perlu dendam padanya.”
Tifa masih membatu. Kesal dengan sikap anaknya, July pun bangkit dan beranjak pergi.
“Terserah kamu saja, Tif. Capek bicara sama kamu kalau sudah menyangkut masalah ini. Ibu harap kamu masih memiliki sedikit hati nurani.”
Pintu kembali berdebam. Bersamaan dengan itu, setitik cairan asin meleleh di pipi Tifa. Sudah sejak tadi matanya terasa panas, akhirnya kantung matanya tak sanggup lagi menahan semua cairan itu. Untuk pertama kalinya ia meneteskan air mata setelah semua kemelut ini menerjangnya.
Tifa memeluk lututnya. Ia hanya berharap tidak ada yang melihatnya saat itu.

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 128)




Musikal 128

Jantung Fi berdegup kencang. Kepalan tangannya bahkan lebih dingin dari sebongkah es. Sebentar lagi konferensi pers akan dimulai dan ia sama sekali tidak diberikan teks untuk diucapkan di depan wartawan.
Dan yang lebih penting, ia belum ada kontak dengan Adrian. Lantas apa yang harus ia ucapkan nanti?
Ia menapakkan kakinya di lobi hotel. Sesuai perjanjian, mereka akan melakukan konferensi pers di hotel tempat ia menginap. Ia masih menguasai dirinya saat ia bertemu dengan Dave. Namun, ia langsung membatu begitu ia bertatap muka dengan Adrian.
“Ha—hai,” sapa Fi kaku. Kecanggungan semakin terasa karena Adrian hanya membalas dengan anggukan saja.
“Oke, kalian sudah siap?” ujar Dave seraya menepuk bahu keduanya.
Fi menatap Adrian. Lelaki itu mengangguk lagi. Ia pun mengikuti anggukan Adrian.
“Dengar, aku harap kalian sudah mengatur dengan bijak apa yang akan kalian katakan nanti karena apa pun jawaban kalian akan menentukan kelanjutan pementasan ini.”
Adrian dan Fi mengangguk lagi.
“Bagus. Ayo, temui mereka!”
Dave membimbing keduanya menuju tempat wartawan berkumpul. Kedatangan mereka disambut dengan kilatan blitz kamera. Cahaya-cahaya itu begitu menyilaukan. Begitu Fi duduk di kursinya, ia memejamkan mata seraya merapal mantra.
‘Aku seorang aktris. Aku seorang aktris. Aku pasti bisa karena aku seorang aktris.’
“Selamat pagi, rekan-rekan wartawan,” Dave memulai acara itu. “Terima kasih sudah bersedia datang. Sekarang rekan-rekan dipersilakan untuk bertanya kepada Fi dan juga Adrian.”
“Dari Harian X. Kami ingin mendengar penjelasan tentang skandal video yang beredar kemarin. Apakah itu sungguhan atau hanya settingan belaka?”
Fi membuka matanya tepat setelah pertanyaan itu selesai diucapkan oleh sang wartawan. Di saat yang sama, Adrian tengah berdeham untuk melonggarkan tenggorokannya. Sepertinya ia masih ragu jika jawabannya bisa memengaruhi wartawan.
“Ya, itu benar.”
Jawaban Fi membuat semua wartawan memfokuskan diri padanya. Adrian hanya melirik Fi sekilas. Ia juga terkejut dengan jawaban Fi, tapi ia tidak boleh menampakkan ekspresinya.
“Jadi, benar kalau kalian punya hubungan darah?”
“Bukannya kalian baru saja mengumumkan tentang hubungan kalian sebagai sepasang kekasih?”
“Apa ternyata kalian baru mengetahui kalau kalian adalah saudara kandung?”
“Ya, maksud saya semua ini benar-benar di-setting supaya terlihat seperti asli,” jawab Fi tenang. Namun, lagi-lagi jawabannya mengundang banyak pertanyaan dari wartawan.
“Jadi, ini setting-an atau memang sungguhan?”
Fi berdeham seraya membetulkan posisi duduknya, “Jadi begini, semuanya. Kita semua tahu kalau pementasan ini dipimpin oleh seorang sutradara terkenal, Latifa Kusuma Ningsih. Beliau bukan orang biasa yang mau membuat pertunjukkan yang juga biasa-biasa saja. Untuk membuat sesuatu yang luar biasa, tentu beliau akan menguji orang-orang yang terlibat di dalamnya.
“Dalam ujian itu, kami—maksudnya, saya dan Adrian—mendapatkan tugas untuk benar-benar menjiwai peran kami di atas panggung. Oleh karena itu, kami berdua berusaha untuk berakting menjadi sepasang kekasih di luar panggung. Sepertinya pengakuan Adrian tempo hari berhasil dipercayai oleh semua orang, termasuk rekan-rekan sekalian.
“Dan tentang skandal video, itu juga bagian dari ujian. Akting saya dan Adrian diuji dengan cara demikian. Semua itu sudah diatur, bahkan Mama saya juga hadir di sana agar rencana berjalan mulus. Kami diharuskan berakting seperti kakak-adik yang terpisah, tapi dipertemukan sebagai sepasang kekasih.
“Semua itu murni hanya ujian semata. Sayangnya, kami lupa memperkirakan kalau tempat yang kami pilih terlalu banyak orang dan ternyata ada orang jahil yang merekam semua itu. Orang itu juga dengan baik hatinya menyebarkan di media sosial sehingga muncullah kehebohan seperti ini.
“Untuk itu kami menggelar konferensi pers hari ini. Kami hanya ingin meluruskan stigma miring tentang pementasan kami. Kami tidak ingin pementasan ini jadi gagal hanya karena perbuatan seseorang yang tidak bertanggung jawab. Kami juga ingin menyampaikan permintaan maaf karena telah menimbulkan kehebohan seperti ini.”
Dave tertegun. Jawaban yang sempurna, ekspresi yang tenang, serta sikap yang sangat wajar. Dave benar-benar angkat topi untuk gadis itu. Ia memang pantas mendapatkan peran utama. Tidak. Ia justru tidak lagi pantas di panggung sekecil ini. Broadway adalah tempat terbaik untuknya.
Dave mengalihkan pandangannya pada Adrian. Pemuda itu juga masih dengan sikap tenangnya. Sungguh, padahal mereka berdualah yang ada dalam kumparan masalah itu. Namun, semuanya seolah-olah hanya sandiwara. Hanya sandiwara. Begitu tirai ditutup, mereka bubar jalan.
“Lalu bagaimana sebenarnya hubungan kalian berdua?”
“Kami hanya rekan satu panggung.”
Giliran Fi yang melirik Adrian. Kali ini ialah yang harus menyembunyikan rasa kecewanya atas jawaban Adrian.
ooOoo
“Kerja bagus, anak-anak!”
Konferensi pers telah selesai. Selanjutnya mereka tinggal menunggu kelanjutan berita yang akan tersebar. Namun, Dave yakin kalau semua akan berjalan kembali seperti sebelumnya berkat jawaban Fi yang sangat bijak. Ia kembali memberikan tepukan di bahu keduanya.
“Kalian bisa istirahat sebentar. Aku ada urusan di bawah. Kalian tetap di kamar saja dan setelah itu kita akan pergi ke tempat Fi.”
Sepeninggal Dave, ternyata keadaan justru kembali memanas. Tiba-tiba saja Adrian memutar bahu Fi dengan kasar. Andai saja Fi tidak berpegangan pada kepala kursi, ia pasti sudah terpelanting.
“Apa-apaan kamu!”
“Kamu yang apa-apan?” bentak Adrian. Fi langsung membungkam mulutnya. Ia menatap Adrian nanar. Pemuda itu tak pernah sekasar itu padanya.
“Apa maksudmu hanya settingan? Jadi, maksudmu hubungan kita hanya sebatas pendongkrak popularitas?”
“Ap—astaga…” Fi meremas rambutnya. “Adrian, aku baru saja menyelamatkan nama baik semua orang. Kamu pikir aku punya ide lain supaya masalah ini selesai? Lagi pula siapa yang bilang hubungan kita hanya sebatas rekan di atas panggung?”
“Hoo, jadi kamu mau menyalahkan aku?”
Mulut Fi ternganga. Ia tak menyangka Adrian akan salah paham sampai sejauh ini. Tidakkah pemuda ini seharusnya berterima kasih karena nama baiknya, tantenya, bahkan pementasan mereka terselamatkan oleh akting Fi yang sempurna? Lantas kenapa fakta ini diputarbalikkan dan membuat Fi sebagai tersangka?
“Aku serius padamu, Fi. Kenapa kamu harus berkata demikian?”
“Aku hanya terpaksa, Adrian. Kamu pikir aku mempermaikan perasaanmu selama ini?”
Adrian memejamkan matanya. Ketika kelopak indah itu terbuka, sorot matanya berubah tajam.
“Kamu benar-benar pantas menjadi anaknya. Ibu dan anak sama-sama perusak hubungan?”
Fi terkesiap. Ia tak terima dikatakan demikian.
“Jangan bawa-bawa Mamaku. Kamu tahu apa tentang kejadian sebenarnya?”
“Aku sangat tahu,” suara Adrian memelan, tapi dengan nada menusuk. “Hanya kamu yang tidak tahu bagaimana runtuhnya keluargaku ketika menemukan ibuku tewas di tergantung di kamar. Aku tahu dan kamu yang tidak tahu.”
“Ya, aku tidak tahu. Mamaku juga tidak tahu. Dia tidak tahu kalau dia menikah dengan laki-laki yang salah!”
Saat Fi balas menyentaknya, Adrian hampir saja mendaratkan sebuah tamparan di wajah gadis itu. Namun, terlalu banyak malaikat yang mencegah itu terjadi. Sehingga tangannya yang terkepal gemetar menahan amarah.
“Baiklah, baiklah, kalau itu memang versimu. Kamu memang tidak pernah bersalah, Fi. Teruslah seperti itu, maka semua dunia akan menjadi milikmu.”
Adrian mendesah panjang.
“Ternyata kita memang lebih baik jadi rekan sepanggung. Bukan saudara, juga bukan kekasih.”
Adrian melangkah keluar dengan membawa semua perasaan kecewanya. Sulit untuk memasang wajah baik-baik saja sehingga langkah kakinya berpacu lebih cepat. Mungkin semakin cepat ia pergi, semakin cepat pula perasaan sakit itu hilang.
Kaki Fi sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya. Tangannya masih memegang kepala kursi, tapi badannya terlanjur merosot ke lantai. Sama seperti Adrian, sulit rasanya menahan lelehan cairan asin yang sudah memenuhi kantung matanya. Sekali lagi ia menangis. Menangisi cintanya yang telah kandas.
Kali ini tak ada jalan untuk kembali.

Sabtu, 04 Februari 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 127)




Musikal 127

Hana menghempaskan tubuhnya di sofa. Akhirnya pekerjaan di sekolah selesai. Sayangnya, masih banyak pekerjaan lain yang menunggunya. Meski ia sudah sampai di rumah, tapi pikirannya masih terkurung dalam ruangan kepala sekolah tadi.
Ia tak pernah selelah ini sebelumnya. Bukan, bukan fisiknya yang lelah, tapi otaknya yang lelah akibat memikirkan kelanjutan dari pementasan ini. Entah kenapa ia merasa perjalanan pementasan ini justru akan semakin memburuk. Hana takut kalau itu benar-benar terjadi. Namun, kata-kata Dave tadi juga ikut membayangi benaknya.
Kita serahkan saja pada kedua pemeran utama kita
Benarkah itu? Bisakah mereka? Seberapa besar efek yang akan ditimbulkan setelah konferensi pers nanti? Berkali-kali Hana memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nanti.
Hanya saja sekeras apa pun Hana memikirkan spekulasinya, hal itu tidak akan berpengaruh langsung padanya. Ia lupa siapa yang akan menanggung semua akibat dari peristiwa ini atau bisa dibilang yang akan merasakan langsung. Ya, seseorang yang sekarang sedang terbaring di ranjang pesakitan.
Hana melirik ponselnya, kemudian matanya beralih pada jam di dinding. Mungkin belum terlalu larut untuk menelepon orang itu. Segera Hana pun menghubungi orang tersebut.
“Halo?”
Hana tersentak karena nada suara orang tersebut tidak terdengar seperti orang sakit, “Ah, hei. Belum tidur?”
Sebentar lagi. Pengaruh obatnya selalu membuatku mual. Aku jadi susah tidur.
Hana menarik napas panjang. Ada jeda yang cukup lama sebelum ia melanjutkan percakapan.
“Bagaimana keadaanmu?”
Kembali hening.
Tidak begitu baik kurasa. Terlalu banyak masalah yang harus aku selesaikan sementara aku terbaring tak berdaya di sini.
Hana kembali menarik napas panjang, “Apa rencana B-mu itu akan berhasil?”
Itu tergantung jawaban mereka besok.
Hening lagi.
“Tapi yaah… apa pun yang terjadi besok, kamu jangan mati dulu. Kalau tidak, aku akan mengejarmu sampai ke alam baka.”
Terdengar tawa lepas dari ujung telepon. Hana tak bisa menahan senyumnya  karena jika orang yang ada di ujung telepon ini masih bisa tertawa berarti situasi masih terkendali.
“Cepatlah sehat dan selesaikan semua hutangmu itu.”
Aku tahu. Aku tidak akan pergi lagi… seperti dulu.
Seperti dulu. Entah kenapa dua kata itu terdengar seperti alunan musik sedih saat Tifa mengucapkannya dengan nada ragu. Hana buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya, Tif. Kamu tahu bagaimana Dave menghadapi para petinggi itu? Ya ampun, aku….”
ooOoo
Tifa baru bisa berbaring tenang setelah kembali dari kamar kecil. Perutnya seakan tak mau terisi apa pun. Meski hanya sedikit air, tapi perutnya terus menolak.
Ponselnya berdering ketika ia mencoba memicingkan mata. Nama ‘Hana’ yang terpampang di layar seperti memberi angin segar padanya.
“Halo?”
Ah, hei. Belum tidur?
Tifa nyengir. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas dan dia sedang menelepon orang sakit, tapi masih bertanya sudah tidur apa belum. Tifa merasa teman-temannya sudah tak waras.
“Sebentar lagi. Pengaruh obatnya selalu membuatku mual. Aku jadi susah tidur.”
Terdengar helaan napas Hana disusul dengan kebisuan di antara pembicaraan mereka. Tifa menduga Hana sedang berpikir-pikir tentang hal apa yang harus mereka bicarakan tanpa menyinggung perasaannya.
Bagaimana keadaanmu?”
Bagaimana keadaannya, Tifa sendiri tidak tahu. Di satu sisi tubuhnya memaksa untuk beristirahat, tapi di sisi lain semangatnya masih membara untuk melakukan ini-itu.
“Tidak begitu baik kurasa. Terlalu banyak masalah yang harus aku selesaikan sementara aku terbaring tak berdaya di sini.
Apa rencana B-mu itu akan berhasil?”
“Itu tergantung jawaban mereka besok.”
Nada suaranya yang terdengar ragu membuat jeda yang cukup panjang. Ya, tentu saja ada keraguan yang menyelip di hati Tifa kala ia memikirkan hari esok.
Tapi yaah… apa pun yang terjadi besok, kamu jangan mati dulu. Kalau tidak, aku akan mengejarmu sampai ke alam baka.”
Ini baru namanya teman. Teman yang datang menghibur ketika kita sedang dalam masalah. Teman bukanlah orang yang datang menabur garam ketika kita terluka. Dan Tifa tak bisa menahan tawanya.
Cepatlah sehat dan selesaikan semua hutangmu itu.”
Hutang. Ya, hutangnya pada seseorang. Hutangnya pada orang banyak. Hutang yang datang dari masa lalu. Hana benar, ia belum boleh menyerah sekarang. Ia belum melunasi hutangnya.
“Aku tahu. Aku tidak akan pergi lagi… seperti dulu.
Dua kata terakhir terasa berat diucapkan oleh Tifa. Dua kata terakhir memang ikrar janji yang diteguhkan Tifa selama ini. Ikrar yang membawanya lepas dari bayang-bayang kelam masa lalu.
Tapi seperti yang dikatakan Tifa, Hana memang temannya yang paling baik. Wanita itu tak lagi membahas masalah yang sedang mereka hadapi, tapi langsung mengalihkan ke topik lain. Sepertinya Hana tahu persis, jika pembicaraan tadi diteruskan maka Tifa akan terbawa dalam stres-nya. Saat ini Tifa harus jauh-jauh dari stres bila ingin penyakitnya cepat sembuh.
Lagi-lagi tawa Tifa membahana. Cerita Hana mengenai peforma Dave ketika menghadiri rapat para petinggi yayasan membuat perutnya tergelitik hebat. Bisa-bisanya Dave melawa di tengah masalah yang sedang membelit mereka.
Sepertinya ini sudah sangat larut. Tidurlah! Sampai jumpa lagi.”
“Heh, sepertinya kamu tahu diri,” Tifa terkekeh. Tak lama dari itu sambungan telepon mereka terputus.
Kini Tifa berada dalam keheningannya lagi. Besok. Ya, besok. Dave sudah memberitahunya kalau mereka akan menjalankan rencana B. Itu artinya semua kelanjutan cerita ini berada di tangan Adrian dan Fi.
Ingin rasanya Tifa menahan kelopak matanya. Sayang, kebutuhan biologis ternyata lebih kuat. Akhirnya ia jatuh dalam lelapnya mimpi. Namun, ada harapan yang terucap untuk hari setelah sang surya menampakkan dirinya nanti.
‘Tolong, biarkan tirai panggung itu terbuka untukku lagi. Hanya sekali. Sekali ini saja.”


Author’s Note:
Kira-kira di ending Tifa bakalan bertahan atau nggak??? Hmm… Author juga masih lempar koin nih, hahaha