Total Tayangan Halaman

Minggu, 28 Agustus 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 71)




Musikal 71

Ririn kaget saat Priyanka memencetkan klakson. Ia menoleh dan mendapati Priyanka membuka kaca helm. Gadis itu memberikan isyarat supaya Ririn mau menunggunya. Ririn tersenyum dan dengan sabar menunggu Priyanka memarkir motor.
“ Pagi!” sapa Ririn ketika Priyanka menghampiri.
“ Hai, pagi juga,” balas Priyanka seraya mencangklong ransel. “ Eh, kemarin operasinya Andani’kan? Gimana keadaannya?”
“ Operasinya lancar dan sekarang dia sudah lebih baik. Hanya saja dia harus puasa bicara dulu.”
“ Syukurlah, aku senang mendengarnya. Hmm, sebenarnya kemarin aku mau ikut menjenguk, tapi yaaah… kamu tahu sendiri’kan.”
Ririn tersenyum kecil, “ Aku mengerti. Ngomong-ngomong, kamu mau jenguk dia hari ini? Kebetulan hari ini latihan kita diganti besok.”
“ Apa boleh? Aku mau aja, tapi Andani bakal ngusir aku gak?”
“ Ya ampun, gak apalah,” Ririn terkekeh. “ Aku mengerti posisimu saat ini, tapi kamu’kan gak pernah punya masalah sama Andani.”
Priyanka mengangguk pelan, “ Iya juga sih. Oh ya, nanti kita mau bawain apa? Andani lebih suka buah atau roti?”
“ Hmm, aku sih rencananya mau beliin Andani block note yang bisa dikalungin. Dia’kan lagi puasa bicara, jadi block note-nya bisa dipakai buat bicara sama orang lain.”
“ Wah, ide bagus! Eh, gimana kalau papan magnet aja? Mungkin lebih lucu.”
“ Boleh juga tuh,” Ririn mengangguk semangat. “ Ya udah, nanti pulang sekolah kita mampir dulu ke toko buku.”
ooOoo
Bel pergantian jam baru saja berbunyi. Beberapa anak yang merasa penat, mulai mencuri-curi waktu untuk mampir ke kantin atau toilet. Tak jauh berbeda dengan yang dirasakan oleh salah satu dari kembar Hasegawa, Jiro.
Pelajaran fisika baru saja usai dan langsung marathon dengan matematika membuat kepalanya terasa berasap. Ia sudah dibatas kemampuannya. Segera keluar atau kepalanya benar-benar akan meledak.
“ Mau kemana?” tegur Hiro saat melihat Jiro beranjak dari kursi.
“ Cuma keluar sebentar. Pusing di kelas terus.”
“ Jangan lama-lama loh. Sebentar lagi gurunya datang. Janji?”
Jiro mengangguk sambil tersenyum, “ Janji!”
Hiro pun membiarkan kembarannya pergi. Sayang, ia tak tahu kalau jiro menyilangkan jari saat bersumpah di hadapannya.
Kini Jiro pun bebas mau pergi kemana. Biar saja tasnya tinggal di kelas, nanti juga Hiro akan mengurusnya. Jiro berjalan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan guru kalau dia membolos. Usahanya berhasil dan ia pun sampai di jalan rahasia yang pernah mereka gunakan tempo hari. Dengan lincah Jiro pun berhasil memanjat tangga yang menghubungkannya dengan dunia luar sekolah.
Jiro sedikit menyesal saat ia sadar kalau ia tak punya rencana mau pergi kemana. Ia pun baru memikirkan arah tujuannya sambil melangkahkan kakinya menuju halte bis.
Tiba-tiba Jiro menjentikkan jarinya, “ Aha, ke tempat itu saja!”
ooOoo
Lagi-lagi Andani berduaan saja dengan ponselnya. Kedua orang tuanya sedang keluar sebentar. Kondisi Andani yang tidak mengkhawatirkan membuat orang tuanya tidak terlalu cemas untuk meninggalkan Andani sendirian.
Pintu kamarnya terbuka. Andani cuek saja dan tetap fokus pada ponselnya. Perhatiannya tersita saat ia mendengar sebuah kursi ditarik ke dekat ranjangnya. Matanya terbelalak ketika melihat siapa yang duduk di kursi itu.
“ Yo, apa kabar?”
Andani hampir saja lupa kalau ia sedang tidak diperbolehkan bicara, apa lagi berteriak. Kedatangan Jiro yang tiba-tiba membuat Andani ingin memekik. Buru-buru ia mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Sedang apa di sini?
Jiro tersenyum saat membaca tulisan Andani, “ Aku hanya bosan belajar dan aku tidak punya tempat tujuan lain. Jadi, aku ke sini saja.”
Kamu bolos ya?
“ Sudah jadi kebiasaanku. Cuma demi Hiro aku agak mengeremnya. Hmm, kupikir nanti dia akan mengomel-ngomel.”
Andani tak lagi mengetik pesan. Ia hanya mendengus kesal.
“ Jadi, bagaimana hubunganmu dengan saudarimu itu?”
Andani mengendikkan bahunya seraya tersenyum tipis.
“ Waah, sepertinya mulai membaik ya,” Jiro kembali tersenyum. “ Saudarimu hebat! Dia rela mundur dari kontes itu demi dirimu. Padahal untuk masuk deretan finalis tetap bukanlah hal yang mudah.”
Begitulah, aku pun terharu melihat perjuangannya. Aku senang dia ada di sini. Tak ada hadiah terindah selain kehadirannya.
Jiro menangkap wajah Andani yang berseri-seri saat mengetikkan pesan itu. Andani bahkan sampai heran kenapa Jiro menatapnya dengan cara yang demikian.
Kamu kenapa?
Jiro menggeleng pelan, “ Tidak apa-apa. Hanya saja sesaat aku teringat wajah Hiro saat melihat ekspresimu tadi.”
Andani tak bertanya, tapi memberinya tatapan heran. Jiro merasa canggung saat tatapan Andani seolah menginterograsinya. Sambil membenarkan cara duduknya, ia pun akhirnya buka suara.
“ Sebenarnya bukan cerita yang menyenangkan. Aku juga ragu untuk menceritakan hal ini padamu. Lagi pula ini hanya cerita masa lalu antara aku dan Hiro”
Ceritakan saja.
Jiro menarik napas panjang. Ia seperti tengah menyiapkan dirinya untuk menceritakan masa lalu.
“ Tak banyak orang tahu kalau sebenarnya aku dan Hiro dulu punya hubungan yang kurang baik. Memakan waktu yang cukup lama untuk saling memaafkan. Bahkan butuh kejadian yang luar biasa supaya kami bisa akrab seperti sekarang.”
Tapi kalian terlihat sangat akrab.
“ Benar, tapi dulu tidak. Semua itu gara-gara hobiku yang dilarang oleh orang tua kami. Ayah kami seorang komposer dan ibu kami seorang pianis. Tentu saja mereka menginginkan anak-anaknya menjadi seorang pemusik juga. Sayang, aku justru lebih suka sepak bola ketimbang bermain cello. Orang tua kami sangat menentang hobiku, tapi aku juga melawan lebih sengit. Oleh sebab itu, mereka sangat tidak menyukaiku. Meski begitu mereka tetap berusaha untuk mendorongku terjun ke dunia musik dengan cara membanding-bandingkanku dengan Hiro. Sayang, cara mereka justru membuatku membenci saudaraku sendiri.
“ Aku tahu Hiro sudah berusaha baik padaku, tapi entah kenapa semakin baik Hiro padaku maka semakin besar pula kebencianku padanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama pamanku yang ada di Kobe. Aku ingin lepas dari orang tuaku dan hidup mandiri. Selain itu, aku tidak ingin membenci Hiro lebih dalam lagi.
“ Hidup di tempat pamanku ternyata jauh lebih sulit. Aku harus membantu paman supaya aku bisa makan. Terkadang aku harus merelakan waktu sekolah dan liburku hanya untuk membantu paman. Kehidupanku memang keras, tapi aku menemukan kebebasanku di sana. Di siang hari aku bisa bermain sepak bola sepuasnya dan malamnya aku tidak perlu mendengar ocehan orang tuaku, yang terpenting adalah aku menjadi diriku sendiri tanpa perlu dibandingkan dengan siapa pun, termasuk Hiro.
“ Ternyata pamanku mempunyai darah musik juga. Dia mengajariku bermain gitar dan memperkenalkan aku pada dunia perkusi. Meski aku sudah menjauhi dunia musik, tapi tetap saja aku tak bisa lepas dari dunia itu. Lama kelamaan aku justru melupakan sepak bola dan bergabung pada pemain perkusi jalanan. Ternyata aku memang ditakdirkan untuk menjadi pemusik, meski beraliran kontemporer bukan klasik seperti orang tuaku dan Hiro.
“ Kukatakan sebelumnya bahwa aku memang menemukan kebebasanku, tapi tak bisa kupungkiri kalau aku juga sering merasa kesepian. Aku butuh teman bercerita dan berbagi. Semua itu tak bisa kulakukan pada pamanku atau teman-temanku yang lain. Entah kenapa semakin lama aku justru lebih sering memikirkan Hiro. Sampai suatu hari Hiro meneleponku. Dia bilang akan datang mengunjungiku. Saat ia mengatakan hal itu tiba-tiba saja hatiku terasa sedikit senang.
“ Tapi kedatangannya tak kunjung tiba. Kupikir dia membatalkannya secara sepihak. Hingga ayah menelepon dan mengatakan bahwa Hiro mengalami kecelakaan. Tanpa pikir panjang aku segera menuju rumah sakit tempat Hiro dirawat. Ketika aku sampai di sana ternyata Hiro sudah terbaring koma.
“ Berhari-hari kami menungguinya di rumah sakit, tapi Hiro tak juga membuka matanya. Tiap kali aku melihat wajah Hiro yang tertidur, dalam sekejap aku merasa hampa. Aku seperti merasa kehilangan separuh dari hidupku. Mungkin memang aku mendapatkan apa yang aku mau, tapi ternyata aku hilangan apa yang aku butuhkan.
“ Aku sangat membutuhkan Hiro.”
Jiro kembali menghela napas panjang. Suaranya terdengar bergetar saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Di sisi lain, Andani pun seperti terhisap dalam cerita Jiro. Matanya mulai berkaca-kaca.
“ Di saat itulah aku memanjatkan doa. Aku tak meminta banyak, yang kuinginkan hanyalah satu kali kesempatan agar Hiro bisa bersama kami semua. Aku tak peduli jika harus kembali pada orang tuaku dan meninggalkan semua kesenangan yang aku miliki saat itu. Aku meminta dengan sangat, sampai-sampai aku menangis.
“ Ternyata Tuhan memang menyanyangi umatnya. Dengan belas kasihnya ia beri kesempatan Hiro untuk kembali membuka matanya. Tidak ada kebahagiaan yang abadi selain bisa melihat Hiro lepas dari komanya. Aku benar-benar bersyukur. Sangat-sangat bersyukur.
“ Dan aku menepati janjiku. Aku kembali ke rumah orang tua kami dan kembali ke dunia musik klasik. Semuanya semata-mata agar aku tidak berpisah lagi dari Hiro. Cukup sekali saja aku hampir kehilangan dia. Di lain kesempatan, mungkin Tuhan tak akan sebaik ini padaku.”
Jiro mengakhiri ceritanya. Di saat yang bersamaan tangis Andani pecah. Laki-laki itu pun jadi kalang kabut.
“ Hei, hei, hei, ceritanya’kan berakhir bahagia. Kenapa kamu malah menangis?”
Terlalu mengharukan! T_T Aku jadi teringat dengan Anjani.
Jiro tersenyum tipis, “ Kamu benar. Aku pun teringat padanya karena aku pernah berada di posisi saudarimu itu. Aku tahu betul bagaimana rasanya menunggu saudaranya di ruang operasi. Makanya aku terharu melihat pengorbanannya yang begitu besar.”
Apa aku terlalu jahat karena telah membunuh mimpinya?
“ Tidak, kamu gak jahat kok. Orang-orang seperti kami ini memang harus mengorbankan sesuatu agar bisa  menyadari kebaikan hari dari orang lain. Seperti kamu dan Hiro.”
Andani masih terlihat sesegukan, tapi seulas senyum tipis mulai menghiasi wajahnya. Jiro terkekeh melihat ekspresi yang paradoks pada wajah gadis ini. Ia mengeluarkan saputangannya, lalu menghapus air mata serta ingus gadis ini.
“ Kamu jelek banget kalau nangis,” Jiro kembali tertawa. Tak pelak ia mendapatkan pukulan kecil dari Andani.
Pintu bangsal dibuka dengan kasar. Terdengar suara ribut dari orang yang baru masuk. Kemudian terdengar nada menyindir dari tamu tersebut.
“ Wah, wah, lihat ini! Sekarang siapa yang kita dapati membolos, huh?”
ooOoo
Adrian membanting pintu mobil Tifa dengan kasar. Sejak dari tempat parkir ia tak berhenti mengoceh pada tantenya. Namun, Tifa dengan santainya menutup telinga seraya bersenandung aneh.
“ Aku harap gak ada lagi yang masuk rumah sakit! Bisa-bisa aku duluan yang masuk rumah sakit gara-gara Tante!”
Tifa masih menutup telinganya. Amarah Adrian sudah sampai ke ubun-ubun. Ia menarik paksa tangan tantenya.
“ Woiii, Tante, denger gak?”
“ Ihh, punya keponakan satu aja bawelnya minta ampun! Sama banget kayak neneknya!” sergah Tifa.
“ Tante itu yang minta ampun!” tuding Adrian. “ Nyetir udah kayak orang kesurupan. Kalau tadi sampai kenapa-kenapa, gimana coba?”
“ Aarrgh, kamu kayak anak gadis aja sih! Masa gak pernah naik mobil ngebut!”
“ Dasar, Tante sinting!”
“ Kamu tuh yang berisik!”
Adrian bukan orang yang suka mengeluarkan kata-kata kasar, tapi tantenya ini selalu saja bisa memancing amarahnya. Mereka berdua berniat menjenguk Andani di rumah sakit. Supaya praktis, Adrian pergi bersama Tifa. Sayang, ia lupa kalau Tifa adalah penyetir yang sangat-sangat buruk. Selama perjalanan jantungnya terus berdegup kencang. Makanya begitu sampai ia luapkan segala emosinya yang tertahan selama perjalanan.
Perdebatan sengit antara tante dan keponakan ini terus berlanjut. Tifa masih merecoki Adrian seraya membuka pintu bangsal. Ia dorong pintu itu dengan kasar. Namun, percekcokkan mereka terhenti saat melihat sosok Jiro sedang menghapus air mata Andani.
“ Wah, wah, lihat ini! Sekarang siapa yang kita dapati membolos, huh?”
Jiro dan Andani terlihat terkejut dengan kedatangan tamu mereka. Tifa maju dengan berang dan langsung menjewer Jiro tanpa ampun.
“ Hei, bocah tengik! Dengar ya, keberadaanmu di sini banyak menghabiskan uangku! Kalau kamu bolos-bolosan seperti ini,  aku bisa bangkrut sia-sia, tahu!”
Jiro mengaduh kesakitan. Berkali-kali ia minta ampun, tapi Tifa tak peduli. Andani panik. Ia ingin menghentikan aksi Tifa, tapi ia tak dilarang berteriak. Untungnya Adrian segera bertindak cepat untuk melerai kebrutalan tantenya.
“ Tante, stop, stop! Dia mana mungkin bisa mendengarmu kalau kamu menjewernya seperti itu!”
“ Aku tidak peduli! Bocah ini memang susah sekali dinasihati. Aku sudah tahu dia ini sering bolos. Makanya aku beri dia pelajaran!”
Erangan Jiro semakin kuat. Namun, Tifa tak peduli. Ia malah menceramahi Jiro dengan kerugian-kerugian yang akan ia alami kalau Jiro terus-terusan membolos.
“ Ada ribut-ribut apa ini?”
Tifa benar-benar menghentikan keburutalannya saat melihat Anjani datang. Ia mengedarkan tatapan heran pada semua orang yang ada di sana. Tatapannya lebih intens saat menatap Anjani. Seolah-olah Anjani itu adalah sosok mahluk asing yang tiba-tiba muncul.
“ Astaga, kepalaku pusing. Aku butuh kopi dingin,” Tifa menunjuk Anjani dan Adrian bergantian. “ Kamu ikut saya dan kamu beri sesuatu yang dingin untuk si begundal yang di sana!”
Tifa menyeret Anjani untuk meninggalkan kamar. Sementara ketiga orang itu masih terbengong-bengong dengan perintah Tifa. Sampai akhirnya erangan Jiro menyadarkan mereka.
“ Kamu baik-baik saja?” tanya Adrian.
Jiro mendengus kesal, “ Kamu harusnya rasakan apa yang aku rasakan sekarang! Baru kamu tahu apakah aku baik-baik saja atau tidak.”
Adrian menahan tawa ketika mendengar jawaban Jiro, “ Ahh, baik, baik, akan kucarikan sesuatu yang dingin untuk telingamu.”
ooOoo
“ Jadi, katakan kenapa kamu bisa di sini?”
Tifa memungut kopi kaleng yang baru saja keluar dari vending machine. Anjani menunda jawabannya sampai Tifa menyesap kopi. Gadis itu menunggu Tifa dengan sabar. Gadis itu menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
“ Alasan yang sangat sentimental, Miss. Saya kembali karena mendengar kabar Andani akan operasi. Pikiran saya langsung tidak fokus. Setiap saat saya selalu memikirkan Andani, Andani, dan hanya Andani. Saya pikir percuma ada di sana kalau pikiran saya di sini. Makanya, saya ambil resiko itu hanya untuk pulang.”
Tifa melirik Anjani dengan tatapan sinis, “ Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang Andani?”
Anjani termenung lama. Sampai saat ini ia memang belum pernah mengungkapkan alasan yang konkret mengenai alasannya pulang. ‘Hanya memikirkan Andani’ itu masih kata umum yang bisa saja menjadi alasan yang ia buat-buat.
‘ Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang Andani?’
“ Hal pertama yang saya pikirkan tentang Andani adalah saya membayangkan Andani ada di ruang operasi. Sendirian. Sedangkan saat itu saya sedang dikelilingi oleh banyak orang. Hari-hari saya dipenuhi tawa, sedangkan Andani mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi tajamnya pisau operasi. Saya sedang mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi di saat yang bersamaan Andani akan kehilangan hal yang paling berharga, yaitu suara emasnya. Andani tanpa suara emasnya bukanlah Andani. Dia hanya seorang gadis biasa dengan masa depan yang kosong.”
 Anjani menghapus titik air yang muncul di sudut matanya. Ia kembali menarik napas panjang.
“ Saya rasa saya akan menjadi orang yang paling jahat jika saya meneruskan kontes itu. Saya gak mau jadi orang jahat karena saya sadar siapa saya. Saya adalah satu-satunya saudara Andani.”
 Tifa menatap Anjani sambil tersenyum. Tanpa sadar Anjani sudah berada di pelukan sang sutradara. Ia merasa pundaknya ditepuk pelan. Ini kali keduanya ia dipeluk hangat oleh seseorang yang biasanya terlihat seperti singa betina jika sudah ada di panggung. Anjani sangat menyukai momen seperti ini. Bahkan ibunya belum bisa menggantikan pelukan hangat seperti ini.
“ Kamu bukan orang pertama yang melakukan hal gila seperti ini,” ujar Tifa. “ Tapi kamu berbeda. Selamat, kamu sudah jadi dewasa sekarang!”
Anjani ingin tahu siapa orang pertama yang Tifa maksud. Namun, ia urungkan karena Tifa sudah lebih dulu mengajaknya kembali. Entah siapa yang dimaksudkan Tifa, tapi Anjani senang karena keputusannya adalah hal yang paling tepat yang pernah ia lakukan.
ooOoo
Suasana sore itu terasa lebih menyenangkan ketika Ririn datang menyambanginya. Meski ia terkejut karena Ririn datang bersama Priyanka, tapi itu tak mengganggu sorenya yang menyenangkan. Ia dan Ririn sudah berjanji tidak ikut campur dalam masalah Wenda-Priyanka, jadi mereka tetap menikmati kebersamaaan itu.
“ Papan ini usulnya Priyanka, tapi muka G-Dragon yang ada di belakangnya itu usulku,” Ririn terkekeh saat menunjuk wajah rapper Korea itu.
Andani balas tersenyum. Ia menunjuk-nunjuk papan magnet itu, seolah-olah meminta izin untuk membuka bungkusannya.
“ Iya, silakan,” jawab Priyanka yang langsung mengerti maksud Andani.
Kata pertama yang ditulis Andani pada papan itu adalah “terima kasih”, lalu ia pamerkan pada Priyanka dan Ririn.
“ Sama-sama,” jawab keduanya serentak, disusul tawa renyah dari mereka.
“ Ah ya, tapi aku kaget loh lihat Jiro-Senpai dan Kak Adrian ada di sini,” ujar Ririn kemudian.
“ Kalau aku datangnya sama Tante, tapi tadi dia lagi bicara sama kembarannya cewek ini,” jawab Adrian. “ Tapi aku gak tahu kenapa tuan samurai ini ada di sini.”
Jiro terkekeh mendengar dirinya disebut tuan samurai. Di sisi lain Priyanka terlihat bingung dengan jawaban Adrian. Ia pun berbisik pada Ririn.
“ Memangnya Anjani ada di sini? Bukanya dia―”
“ Iya, dia memang pulang,” potong Ririn. “ Ceritanya panjang, tapi alasannya cuma satu, yaitu Andani.”
Priyanka mengangguk paham. Ceritanya mungkin akan sangat panjang, tapi kalau sudah menyangkut Andani, Priyanka tahu rasanya.
Tak lama Anjani dan Tifa kembali. Gadis itu langsung bertukar sapa dengan kedua temannya yang baru saja datang. Jiro buru-buru menyorongkan kursi yang duduki kepada Tifa. Ia tak mau telinganya dijewer untuk yang kedua kalinya. Baru saja Tifa menempelkan pantatnya di kursi, tiba-tiba Andani memberikan papan magnetnya pada Tifa. Kening Tifa berkerut saat membaca tulisan yang tertulis di sana.
Tifa menatap Andani untuk meyakinkan apa yang gadis itu tulis. Andani mengangguk sambil tersenyum. Tifa menarik napas panjang seraya menatap kembali papan tersebut.
Tifa berdeham, “ Anjani, apa kamu berminat menjadi vokalis utama tim musik Love Musikal? Kebetulan kami sangat membutuhkan vokalis baru.”
Tak hanya Anjani, tapi semua orang kaget mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Tifa.
“ Ta—tapi saya tidak, eh, ehem, maksud saya, saya kembali ke sini tidak bertujuan untuk menjadi vokalis utama.”
“ Jangan terlalu percaya diri dulu. Saya tidak akan langsung menerimamu. Kamu tetap akan kami audisi lagi.”
“ Tapi saya tidak mengajukan diri untuk ikut audisi Love Musical lagi, Miss.”
“ Sayangnya saya menerima rekomendasi ini. Pokoknya saya tunggu hari Sabtu sore sebelum latihan malam!” Tifa menyerahkan papan tersebut pada Anjani seraya berlalu. “ Keponakan, ayo kita pulang!”
Adrian tak langsung mengikuti tantenya pulang, tapi ia memilih untuk ikut nimbrung membaca papan Andani. Mereka semua terkejut saat melihat tulisan Andani pada papan itu.
Saya merekomendasikan Anjani Bramastya untuk menggantikan posisi saya sebagai vokalis utama tim musik Love Musical.
-Andani Bramastya-


Auhtor's Note:
Papan tulis magnet sih rata-rata kecil. Tulisan yang kita buat pun terkadang jadi acak-kadut. Tapi di sini aku buat seolah-olah papan magnetnya rada gede dan masih bisa ditenteng ke mana-mana. Hanya untuk keperluan cerita....

please comment and share 

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 70)




Musikal 70


Perlahan Andani membuka matanya. Seberkas cahaya menerpa kelopak matanya yang masih berat. Baru kali ini ia merasa amat mengantuk setelah bangun tidur. Bayangan pertama yang jatuh di retinanya adalah senyuman dari saudari kembarnya.
“ Pagi!”
Andani mau membalas salam itu, tapi begitu ia membuka mulutnya ia merasa tenggorokannya amat sakit. Sulit sekali mengeluarkan suara meskipun hanya mengucapkan satu huruf vokal.
“ Woow, nanti dulu. Kamu harus puasa bicara sampai beberapa hari. Pita suaramu jelas belum sembuh benar.”
Kata-kata Anjani membuatnya tersadar. Ia baru ingat kalau ia baru saja selesai operasi pita suara. Pantas ia mengantuk sekali. Mungkin karena efek obat bius yang masih tersisa.
“ Untungnya kamu bisa menggunakan ini. Gunakan ini kalau kamu mau mengatakan sesuatu,” Anjani menyerahkan ponsel pink milik Andani. “ Ngomong-ngomong, kamu kedatangan banyak tamu hari ini.”
Andani mengikuti arah mata Anjani yang menunjuk jendela. Ia bisa melihat Ririn serta Hasegawa bersaudara melambaikan tangan padanya. Meski masih lemah, Andani masih sempat membalas dengan senyuman.
“ Oh ya, An. Dokter bilang kamu harus kentut dulu supaya sisa obat bius kamu hilang. Jadi, aku mau keluar dulu ya, soalnya aku gak mau keracuna gas ammonia di sini.”
Andani memberengut saat Anjani tertawa. Namun, ia tak sepenuhnya marah. Ia pun membiarkan saudarinya itu keluar menemui teman-temannya.
Ia bersyukur karena kehadiran saudarinya itu benar-benar bukan mimpinya saja.
ooOoo
“ Jane!”
Wenda tak peduli kalau mereka sedang di rumah sakit. Ia berlari sekencang mungkin supaya ia cepat sampai dan melihat jelas gadis berambut shaggy itu. Ia ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar sahabatnya.
“ Jane, ini beneran kamu?”
Gadis itu tersenyum, “ Yes, I’m back!”
“ Iya, tapi―”
“ Tapi kenapa kamu di sini?” sahut Kemal yang baru muncul. “ Seharusnya kamu ada di studio untuk malam gala.”
“ Yaah, aku tahu ini aneh, tapi aku di sini untuk Andani,” gadis itu mengangkat bahu. “ Kupikir saudariku lebih penting daripada malam gala.”
“ Gak masuk akal!” seru Wenda. “ Kamu udah berusaha keras supaya bisa masuk 12 finalis tetap, tapi kenapa kamu harus pulang dengan cara yang seperti ini?”
“ Masuk akal kok, Wen,” ujar Ben kalem. “ Semua akan terjadi bila ada cinta.”
Kemal dan Alexi kompak menertawai jawaban Ben. Tumben-tumben sekali laki-laki itu bicara soal cinta.
“ Memang gak masuk akal dan terdengar konyol, tapi apa yang dibilang Ben itu memang benar. Aku terlalu mencintai saudariku.”
Wenda terhenyak. Kalau sudah begini ia tidak bisa membantah lagi. Ia berbalik kagum dengan keputusan Anjani yang sangat berani. Jika ia ada di posisi Anjani, mungkin ia tidak akan mengambil pemikiran seperti itu.
“ Ooh, aku terharu dengarnya. Sini aku peluk kamu.”
Kedua sahabat itu saling berpelukan. Namun, ketika Kemal dan Ben ikut bergabung, Wenda dengan cepat mengusir keduanya.
“ Gak usah peluk-peluk. Kalian cuma mau ngukur ukuran dada kami’kan?”
Mereka semua tertawa.
“ Oh ya, Jane. Gimana kabar Andani?” ujar Alexi saat tawa mereda.
“ Operasinya lancar dan sekarang dia sudah sadar,” jawab Anjani. “ Tapi maaf ya, kalian belum bisa menjenguknya. Kata dokter dia harus istirahat dulu. Kalau kalian mau lihat langsung, bisa lewat jendela itu kok.”
“ Syukurlah kalau begitu,” Alexi tersenyum. “ Hmm, mungkin aku mau melihatnya sebentar. Kalian mau ikut?”
ooOoo
“ Setelah ini apa rencana kamu, Jane?”
“ Kembali ke sekolah tentunya. Besok aku langsung akan mengurusnya.”
“ Keputusan yang sulit, ya?” ujar Kemal seraya meraih soda kaleng dari vending machine. “ Tapi kamu kembali di masa sulit.”
Anjani hanya melempar tatapan bingung pada Kemal yang sedang menikmati minumannya.
“ Andani operasi dan Wenda yang masih terpuruk gara-gara masalahnya kemarin. Untung kamu kembali sekarang karena mereka sangat membutuhkan dirimu.”
“ Wah, aku terdengar seperti pahlawan saja,” Anjani terkekeh pelan.
“ Tak perlu menjadi pahlawan untuk melakukan tindakan heroik, bukan?”
Kemal bersandar pada mesin minuman. Ia melemparkan senyuman menawannya seraya mengedipkan mata. Tentu saja tawa Anjani mengeras melihatnya.
“ Yap, lagi pula kami kesepian tanpamu, Jane,” Ben tiba-tiba muncul seraya mengalungkan tangannya di pundak Anjani. “ Kami bangga kamu bisa masuk tv, tapi kami lebih senang kalau kamu di sini.”
Anjani menepis tangan Ben, “ Jangan buat aku terharu. Perasaanku sudah cukup campur aduk hari ini.”
Ben dan Kemal tertawa.
“ Oh, di sini kalian!” seru Alexi. Di belakangnya mengekor Hiro, Jiro, Ririn, serta Wenda. “ Kami mau pamit dulu.”
“ Sudah mau pulang, ya? Wah, terima kasih ya sudah mau datang. Aku dan Andani sangat senang kalian di sini.”
Wenda memeluk Anjani, “ Nanti malam aku telepon. Kamu yang kuat ya, Jane.”
“ Salam buat Andani dan orang tuamu,” ujar Ririn.
Anjani mengangguk lalu menyalami teman-temannya. Mereka pun berpisah setelah berpamitan. Saat menuju halaman parkir Alexi mendekati Ririn.
“ Rin, kamu pulang dengan siapa?”
Tiba-tiba Jiro langsung menarik bahu Ririn, “ Tentu saja dengan kami.”
Kebingungan jelas terpancar di wajah Alexi. Ririn pun hanya membalasnya dengan senyuman maklum.
“ Yah, mereka yang membawaku ke sini. Kupikir mereka yang harus memulangkanku kembali.”
“ Jawaban yang diplomatis, Ojo-chan,” Hiro menyahut. “ Ikemashou!”
Ririn tak dapat mengelak saat ia ditarik oleh kembar Hasegawa ini. Kini tinggalah Alexi yang menatapnya dengan tatapan bengong.
“ Kenapa mereka hanya mengajak Ririn?” keluh Alexi. “ Padahal hari ini aku tidak bawa sepeda.”
Mau tak mau Alexi harus berjalan kaki dan mencari angkot. Baru saja sampai di gerbang rumah sakit, ia dikejutkan oleh suara klakson motor. Pengemudi motor itu membuka helm dan tersenyum padanya. Alexi balas tersenyum pada pengemudi motor yang ternyata adalah Wenda.
“ Sepedamu mana, Al?”
“ Di kostan. Aku lupa di mana aku menaruh kunci rantai sepedaku. Makanya hari ini aku jalan kaki.”
Wenda baru ingat kalau saat pergi tadi laki-laki ini minta dibonceng Ben. Ternyata laki-laki ini bisa berbuat konyol juga. Wenda tersenyum lalu melempar helm ekstra pada Alexi.
“ Kamu bisa bawa motor?”
Alexi mengangguk, “ Tapi arah rumah kita sepertinya berlawanan.”
“ Udah gak usah banyak mulut!” ujar Wenda seraya turun dari motornya. “ Yuk ah, nanti keburu gelap.”
Matic hijau itu melaju menembus jalan Jendral Sudirman. Haluan mereka terlebih dulu menuju kostan Alexi. Matahari mulai meredup dan angin terasa lebih sejuk. Hembusan angin yang menerpa mereka membuat Wenda dapat mencium aroma khas laki-laki yang membawa motornya ini. Aroma sisa body spray yang masih melekat di tubuh Alexi membuat jantung Wenda bergemuruh. Wenda sempat menebak-nebak jenis wewangian apa yang membuatnya betah berlama-lama dibonceng oleh laki-laki ini. Mungkin musk, citrus, atau mint? Entahlah, tapi yang jelas Wenda sangat menyukainya.
Sayang, kesenangan itu tak berlangsung lama. Ketika sudah mendekati kostan Alexi tiba-tiba motor itu berhenti. Alexi dan Wenda sama-sama kaget. Untungnya Alexi masih sempat menepikan motornya.
“ Kok berhenti mendadak, Al?”
“ Gak tahu nih, Wen. Kayaknya motor kamu mogok.”
Wenda buru-buru turun dari motornya. Ia sempat khawatir dengan keadaan motornya. Baru beberapa bulan yang lalu motornya masuk bengkel, masa sekarang harus ke bengkel lagi.
“ Duuh, ini motor kenapa lagi sih? Jangan bilang harus ke bengkel lagi!”
Alexi berusaha menenangkan Wenda. Ia berinisatif untuk memeriksa tangki bensin. Benar saja, ternyata Wenda harus mengisi bahan bakar motornya.
“ Ya ampun, aku lupa mau isi bensin,” Wenda menepuk keningnya. “ Duuh, pom bensin kayaknya masih jauh deh. Gimana yah?”
“ Gimana kalau kamu beli bensin eceran dulu, nanti kalau ketemu pom bensin baru isi lagi deh. Seingatku sih di depan ada yang jual bensin eceran.”
Wenda menyetujui rencana Alexi. Memang itu adalah satu-satu ide yang paling cemerlang, tapi dalam pelaksanaannya mereka harus mendorong motor itu sampai ke penjual bensin eceran. Pekerjaan yang melelahkan. Untung ia pulang dengan Alexi. Namun, begitu ia mau membantu Alexi mendorong, laki-laki itu justru melarangnya.
“ Aku bisa sendiri kok. Gimana kalau kamu duduk aja dan biarkan aku yang dorong.”
What? Udah gila ya? Dorong motornya aja udah berat, apalagi ditambah aku? Yaah, aku memang gak gendut sih, tapi tetap aja buat kamu tambah susah dorongnya.”
“ Udah gak apa-apa. Duduk gih! Nanti kamu capek loh.”
Wenda masih menolak, tapi sepertinya Alexi tak akan mendorong sampai Wenda benar-benar duduk di jok. Dengan berat hati Wenda pun menuruti permintaan laki-laki itu.
Orang-orang yang melihat kelakukan mereka mulai berbisik-bisik. Mereka pasti menuduh Wenda sebagai gadis yang super tega. Membiarkan pacarnya susah payah mendorong motor, sementara ia enak-enakkan duduk. Sebenarnya Wenda pun merasa tidak enak, tapi di sisi lain ia justru terkesima dengan perlakuan lembut Alexi. Baru kali ini ia diperlakukan bak seorang putri. Tak hanya sekali, tapi mungkin ini yang termanis.
Mereka pun akhirnya menemukan penjual bensin eceran. Untunglah jaraknya tidak jauh, sehingga tenaga Alexi tak terlalu terkuras habis. Selagi menunggu motornya diisi, tak sengaja Wenda kembali mencium aroma Alexi. Kali ini bercampur dengan sedikit keringat. Wajar saja kalau Alexi berkeringat setelah mendorong beban seberat itu. Namun, aroma ini justru lebih disukai Wenda. Ia begitu menikmati sampai-sampai ia tak sadar motornya sudah selesai diisi.
“ Hei, Wen. Kamu kenapa?”
Wenda terkesiap, “ Eh—eh, enggak kok. Udah selesai’kan?”
Alexi mengangguk. Setelah selesai membayar, mereka pun segera meluncur ke kostan Alexi. Dengan sedikit menambah kecepatan, mereka pun akhirnya sampai.
“ Huff, makasih ya atas tumpangannya, Wen.”
Wenda menggeleng, “ Nggak, aku yang makasih. Kamu sampai repot-repot dorong motor aku. Aku malah jadi gak enak sama kamu.”
“ Ah, biasa aja kok, tapi kalau kamu mau terima kasih sama aku boleh kok,” Alexi melemparkan senyum termanisnya. “ Terima kasih kembali.”
Wenda bisa merasakan jantungnya mau melompat keluar saat mendapatkan senyuman itu. Ia pun buru-buru pamit sebelum Alexi bisa mendengar detak jantungnya.
“ Oke deh, see you tomorrow!”
“ Hati-hati di jalan ya. Awas banyak begal loh.”
Wenda tersenyum geli. Ia menstater motornya kemudian tancap gas. Dari balik spionnya, ia bisa melihat Alexi melambaikan tangan padanya.
Andai saja jalanan tidak terlalu macet malam ini, mungkin Wenda akan senang hati memutar stang gasnya lebih kencang. Yah, ia ingin berbagi kebahagiaannya pada dunia. Malam ini adalah malam yang indah.


Auhtor's Note:
Very late up date, i'm really sorry T.T 
please comment and share