Musikal 60
Senin lagi. Semua siswa kembali memulai aktivitasnya
di awal minggu. Terasa melelahkan, terutama anggota LM. Hari minggu yang
harusnya menjadi hari yang damai untuk tidur panjang, justru terbuang untuk
latihan. Untungnya, pelajaran Senin pagi adalah bahasa Inggris, setidaknya
bukan matematika yang membuat kepala pusing tujuh keliling.
Priyanka sepertinya
datang terlambat. Fi tidak melihatnya tadi saat upacara. Mungkin gadis itu
terkena hukuman dulu sebelum ke kelas, sehingga baru di mata pelajaran kedua
gadis itu bisa masuk. Fi baru saja mau menertawai keterlambatan gadis itu,
tetapi urung setelah melihat dandanan aneh dari gadis itu. Fi tahu kalau poni
gadis sudah cukup panjang, tetapi Priyanka tak harus membuat poninya itu
menutupi sebelah pipinya. Selain itu, Fi juga merasa ada yang aneh di wajah
gadis itu. Begitu Priyanka duduk, Fi langsung menyibak poni serta mengusap
wajah gadis itu. Seketika Priyanka mengaduh.
“ Jadi, kamu
terlambat karena pakai riasan setebal ini?” ujar Fi. “ Dan itu, astaga, lebam
apa itu?”
Priyanka cepat-cepat
merapikan poninya kembali, “ Tahu darimana aku pakai make up?”
“ Aku ini artis, Ka.
Jangan remehin aku soal make up deh.
Hei, kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa pipimu lebam begitu.”
“ Jatuh, makanya aku
pakai foundation tebal-tebal biar gak
kelihatan memarnya,” Priyanka berusaha tersenyum. “ Aku baik-baik aja kok.”
Tetap saja Fi merasa
aneh. Namun, ia urungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut karena guru mata
pelajaran selanjutnya sudah masuk.
‘ Kenapa dia berakting seolah-olah aku ini bisa ditipu?
Sudah kubilang yang jadi artis itu’kan aku.’
ooOoo
Dari lantai dua Wenda bisa melihat motor Cross Erick kembali datang menjemput
Priyanka. Hatinya kembali resah. Apalagi setelah seharian ini Wenda perhatikan
kalau gadis itu banyak menunduk. Ia seolah-olah ingin menutupi seluruh
wajahnya.
“ Hei, belum mau
pulang?” tegur Ben. “ Lihatin apa sih?”
Wenda menggendikkan
dagunya, “ Aku cemas aja sama dia.”
“ Itu Priyanka dan
pacarnya yang super rese itu’kan,” timpal Kemal. Tampaknya laki-laki itu masih
kesal pada Erick dan Priyanka. “ Udahlah, ngapain kamu mikirin dia. Bukannya
dia itu rivalmu, seharusnya kamu gak usah capek-capek mikirin orang kayak dia. Toh, kemarin aku udah tanya baik-baik,
eh, dia bilang aku gak usah ikut campur. Ya udah, terserah dia aja.”
“ Kemal benar, Wen,”
sahut Ben. “ Lagipula bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Erick itu
orangnya bar-bar. Kalau sampai kita ikut campur bisa berabe nantinya.”
Wenda bukan Kemal
atau Ben yang tidak punya korelasi dengan Priyanka dan Erick. Ia tahu benar
bagaimana masa lalu Erick dan sampai sekarang sepertinya laki-laki itu belum
berubah. Namun, ia juga tak bisa meremehkan kata-kata Ben dan Kemal. Ia
sekarang orang luar, bukan lagi teman dekat Priyanka seperti dulu.
Fi yang melintasi
ketiga orang ini tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Sebelum ketiganya
menuruni tangga, cepat-cepat Fi menahan lengan Wenda.
“ Tunggu sebentar,
aku mau tanya soal Priyanka.”
Wenda terlihat
bingung. Ia bertukar pandang dengan kedua sahabatnya. Tumben sekali gadis
angkuh ini mau berbicara dengan mereka.
“ Ada apa dengan
Priyanka?”
Fi memberikan kode
supaya mereka mencari kelas kosong untuk bicara. Ngobrol di dekat tangga
sepertinya bukan ide yang baik.
“ Kamu kok was-was
gitu? Memangnya kenapa?” tanya Ben saat melihat gelagat Fi yang
celingak-celinguk saat mereka ada di salah satu kelas kosong.
Fi menghela napas
panjang, “ Baiklah, aku melihat Priyanka hari ini menutupi luka lebam di
pipinya dengan poni dan make up.”
“ Lalu apa
hubungannya dengan kami?” tanya Kemal dengan nada malas.
“ Dia bilang itu luka
jatuh, tapi aku sangat yakin kalau itu memar bekas tamparan.”
“ Ya Tuhan!”
Ben, Fi, dan Kemal
kaget melihat reaksi Wenda yang berubah cemas. Wenda terlihat sangat panik.
“ Kenapa, Wen?” tegur
Kemal.
Wenda mengusap
wajahnya, “ Waktu kita gathering
kemarin, aku lihat Priyanka datang dengan Erick dan teman-temannya. Aku sempat
melihat kalau Erick seperti memarahinya dan setelah itu menarik Priyanka pergi.
Aku cemas dan hampir saja mengikuti mereka, tapi saat Ben mencegahku kemarin,
aku sadar kalau itu bukan ide yang bagus. Sekarang aku sangat yakin kalau luka
di wajah Priyanka itu akibat ulah Erick.”
“ Selain senior
kalian, sebenarnya Erick itu siapa dan kenapa bisa jadi pacarnya Priyanka?”
tanya Fi. Nada bicara terdengar khawatir.
“ Bisa dibilang dia
itu berandal. Waktu SMP, dia berulang kali masuk ruang BP gara-gara ketangkapan
merokok, tawuran, dan masih banyak lagi. Dia memang suka pada Priyanka, tapi
setahuku Priyanka selalu mengabaikan laki-laki itu. Sayangnya, aku gak tahu
alasan Priyanka bisa jadian sama begundal itu.”
“ Dan sekarang dia
jadi anak motor,” gumam Kemal.
“ Bukan itu intinya,
Mal,” sahut Ben. “ Saat ini yang kita khawatirkan adalah keadaan Priyanka.
Kalau kemarin si Erick itu bisa nampar Priyanka sampai lebam, apa kabar hari
ini? Bisa aja sesuatu yang lebih buruk terjadi.”
“ Ya ampuuun, aku
benar-benar cemas sekarang,” Wenda memegangi keningnya. “Kita harus bagaimana?”
“ Benar, lapor polisi
pun kita tidak punya bukti,” ujar Fi. “ Sekali pun kita punya bukti, Priyanka
pasti sudah diancam oleh Erick. Dia gak bakalan buka mulut.”
“ Sudah kubilang
sekarang dia jadi anak motor,” sahut Kemal sambil merogoh ponsel di saku
celananya. “ Kalian tunggu sebentar.”
Kemal sedikit menjauh
dari teman-temannya. Ketiga orang ini heran melihat Kemal yang sekarang justru
asyik berbicara di ponselnya.
“ Siapa yang kamu
telepon?” tanya Ben.
“ Marina, mantanku
waktu SMP. Eh, sekarang dia tambah cantik loh,” Kemal tertawa-tawa sendiri.
Namun, dalam detik berikutnya tawa itu langsung lenyap saat ia melihat ekspresi
aneh di wajah teman-temannya. Kemal berdeham di untuk meredakan suasana
canggung itu. “ Aaah, yah, Marina. Dia ini mantan—eh—maksudku, yaaa… dia ini
sekarang bergabung sama salah satu klub motor. Tadi aku sempat tanya dia soal
Erick, dan dia bilang dia kenal sama si cowok rese ini. Dia bilang bakalan sms
tempat Erick dan teman-temannya nongkrong. Yaa, kemungkinan Priyanka ada di
sana. Jadi, kalian mau pergi?”
Ben berdecak kagum, “
Waah, ke-playboy-anmu berguna juga
untuk hal seperti ini.”
“ Aku harus ke sana,”
Wenda tampak tak mengindahkan kekonyolan kedua sahabatnya. “ Aku khawatir
sekali.”
“ Kami juga akan
ikut,” ujar Kemal sambil melirik Ben. “ Kamu bakalan ke sarang penyamun, Wen.
Bahaya kalau sendirian.”
“ Aku ikut dengan
kalian,” sahut Fi. “ Rasanya tidak adil kalau aku hanya diam saja di sini.”
“ Kalau begitu, kita
harus beritahu yang lain,” ujar Ben. “ Seperti yang kamu bilang, Mal, kita akan
ke sarang penyamun. Bahaya kalau hanya berempat.”
ooOoo
“ Kamu hubungin siapa aja sih? Kok sampai sekarang
belum ada yang datang?”
Wenda berdecak kesal.
Ia pikir Ben benar-benar memanggil teman-teman mereka, tapi nyatanya hanya
mereka berempat yang tiba di tempat geng motor Erick.
“ Aku udah hubungin
teman-teman di Panji Semirang, tapi aku lupa kalau ini hari Senin. Di sekolah
kita’kan kalau hari Senin sekolahnya sampai jam lima,” ujar Ben. “ Aku juga
sudah menghubungi anak-anak Love Musical,
tapi aku juga lupa kalau anak-anak Love Musical
itu sebagian besar cewek, dan yaaah…
mungkin hanya kita berempat yang bisa menghadapi mereka.”
“ Kita bakal
dihabisin di sini,” sahut Kemal. “ Mungkin kita harus menghadapi merkea dengan
cara lain selain face to face. Ada
yang punya ide?”
Mereka saling
bertukar pandang. Sia-sia saja, ini bukan sinetron laga yang pahlawannya bisa
menang satu lawan seribu. Wenda sedikit menyesali kenapa ia tidak pernah
belajar beladiri. Andai dia punya kemampuan seperti Tifa, mungkin ia tidak
segentar ini.
“ Ben? Kamu Ben’kan?”
Mereka dikejutkan
oleh suara seorang laki-laki yang menyapa. Ben terkesiap saat melihat siapa
yang memanggil namanya.
“ Bang Aris! Ya
ampun, apa kabar, Bang?”
Ben merangkul
laki-laki yang bernama Aris itu. Dari gelagatnya, Ben seperti sudah sangat
mengenal laki-laki ini. Saat mereka mengobrol tak sengaja mata Ben tertuju pada
emblem jaket yang dikenakan Aris.
“ Bang Aris anak geng
motor di sini?”
Aris tertawa keras, “
Bukang geng motor, tapi klub motor. Kita bertarung di sirkuit, bukan di jalanan.
Iya sih, aku anak klub motor ini. Memangnya kenapa?”
“ Emm, Abang kenal
dengan anak yang namanya Erick?”
“ Erick? Hmm, ahh…”
wajah Aris terlihat tak begitu senang. “ Si troublemaker
itu. Dia lagi gak di markas sih. Ada urusan apa kalian dengan dia?”
“ Dimana biasanya
Erick nongkrong?”
Ben kaget ketika
Wenda tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. Mendengar pertanyaan Wenda,
lipatan di kening Aris bertambah.
“ Kalau gak salah
sih, Erick dengan keroconya nongkrong di Banana
Café. Biasanya Erick juga bawa cewek.”
“ Priyanka!” seru
Wenda. “ Itu pasti Priyanka. Ben, kita harus segera ke sana!”
Tiba-tiba Aris
mencegah Wenda yang terlihat panik, “ Sabar dulu, non. Lebih baik kamu gak
langsung berhadapan dengan si Erick itu. Kamu itu cewek, kamu bisa habis sama
dia.”
“ Apa ini ada
hubungannya dengan julukan ‘troublemaker’
itu?” tanya Ben.
Aris mengangguk, “
Erick itu suka buat onar. Sudah aku bilang’kan, peraturan di klub motor kami
untuk tidak bertarung di jalanan, tapi Erick suka melanggar peraturan itu. Dia
suka ngajak anak klub motor lain untuk tawuran. Ujung-ujugnya kami yang senior di
sini malah kena imbasnya. Sebenarnya ketua kami sudah mau ngeluarin dia, tapi
entah bagaimana caranya dia tetap bertahan di sini.”
Ben menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal, “ Gini, Bang. Sebenarnya cewek yang Abang bilang
sering dibawa oleh Erick itu adalah teman kami. Beberapa hari ini kami
perhatikan ada perubahan sama teman kami itu. Kami khawatir kalau Erick
melakukan hal buruk dengan dia.”
Aris menopang
dagunya, ia terlihat sedang memikirkan sebuah keputusan.
“ Gini aja, kalian
pergi dulu aja ke sana. Aku hubungi dulu ketua kami, nanti kami semua ke sana.
Kalau sudah sampai sana, tolong kalian jangan melakukan apa-apa. Ingat, Erick
itu licik dan berbahaya.”
Ben mengangguk, lalu
menyalami Aris, “ Oke, Bang. Makasih infonya.”
Aris pun berlalu. Ben
dan yang lainnya pun bersiap menuju lokasi.
“ Dia siapanya kamu,
Ben?” tanya Kemal.
“ Anggap aja kita ini
sedikit berlawanan. Kamu banyak koneksi cewek, dan aku banyak koneksi cowok,”
ujar Ben seraya menstarter motornya.
Kemal terkekeh, “
Wah, wah, lihat siapa yang cocok dengan sesame jenis?”
Ben menggerut, “ Hei,
kita lihat saja koneksi siapa yang lebih berrguna.”
Sebelum menjalankan
motornya, ia menyempatkan diri untuk menendang ban depan motor Kemal. Laki-laki
itu hanya membalasnya dengan tertawa.
ooOoo
Mereka tiba di tempat yang disebutkan Aris tadi. Erick
dan teman-temannya tidak sedang berada di dalam kafe, tetapi di halaman parkir.
Benar saja, ada Priyanka di sana. Keempat remaja ini terkejut dengan
pemandangan yang tersaji di depan mereka. Erick saat itu tak segan-segan
berteriak serta melayangkan sebuah tamparan di wajah Priyanka.
“ SUDAH AKU BILANG
JANGAN MELAWANKU!”
Erick siap menampar
untuk yang kedua kalinya. Melihat hal itu, Wenda sepertinya lupa dengan pesan
Aris untuk tidak berhadapan langsung dengan Erick. Terlalu lama kalau harus
menunggu Aris dan yang lainnya. Priyanka keburu habis saat itu juga.
Priyanka kaget saat
tamparan kedua Erick tak mendarat di wajahnya. Lebih kaget lagi saat ia melihat
Wenda berdiri di depannya sebagai tameng. Tak hanya Priyanka, Erick pun
mengurungkan perbuatannya saat Wenda berada di hadapannya.
“ Waah, Wenda. Suatu
kejutan bisa ketemu lagi, tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengobrol.
Sebaiknya kamu cepat menyingkir selagi aku meminta dengan cara yang halus.”
“ Kalau aku pergi
kamu pasti bakalan mukul Priyanka kayak tadi’kan?” jawab Wenda. “ Erick, aku
minta sama kamu apapun masalah kalian, tolong jangan berbuat kasar dengan dia.”
Erick tersenyum
sinis, “ Wenda, Wenda, kamu itu naïf banget. Kamu gak tau’kan siapa yang lagi
kamu lindungi. Dia itu sudah―”
“ Erick, cukup!” seru
Priyanka tiba-tiba. “ Wen, please.
Aku bisa hadapi ini sendiri. kamu pergi aja.”
Wenda menganga tak
percaya dengan apa yang ia dengar, “ Priyanka, kamu―”
“ Ya ampun, drama
macam apa ini. Capek-capek ditolongin kamu kok malah gitu,” sahut Kemal
menyusul bersama Ben dan Fi. Ia sempat menangkap ekspresi tidak senang di wajah
Erick. “ What’s up, bro? Ah, kali ini
aku ingat siapa dirimu.”
“ Kalian ini selalu
saja ikut campur urusanku,” Erick melipat tangannya, lalu mengerling pada
teman-temannya. “ Tapi kali ini kalian salah tempat.”
Fi refleks menarik
seragam Ben. Ia sangat takut saat melihat teman-teman Erick mendekat. Gawat,
saat ini mereka terkepung di tengah-tengah.
“ Wow, wow, kalem,
teman,” Ben mengangkat tangannya. “ Kita’kan datang dengan damai. Sangat tidak
adil bila kalian langsung mengeroyok kami.”
“ Hoo, kalian takut
sekarang?”
“ Tentu, jumlah
kalian lebih banyak, laki-laki semua pula,” jawab Ben dengan tenang.
“ Hei, apa yang kamu
lakukan?” bisik Fi.
“ Mengulur waktu
sampai Bang Aris datang,” balas Ben.
“ Tapi kalau one by one kami sanggup,” ujar Kemal.
Erick kembali
tersenyum sinis, “ Berani juga onta arab ini. Iwan, kamu yang maju!”
“ Whoops, apa itu
yang disebut leader?” tantang Kemal.
“ Kupikir kamu orang yang pemberani. Ternyata cuma orang yang suka
nyuruh-nyuruh.”
Erick tak terima
ditantang seperti itu. Ia menyuruh anak buahnya mundur. Ia melepas jaket dan
melemparnya ke sembarang arah. Dengan senyum sinisnya, ia memberi kode pada
Kemal untuk maju.
“ Hei, bukannya
kalian bilang tidak bisa berkelahi,” Fi berbisik cemas.
“ Tidak akan, kami
cuma mengulur waktu,” sahut Kemal.
“ Mengulur waktu
dengkulmu? Kalian bisa lihat’kan, Erick meradang karena kalian tantang.”
“ Tenang saja. Kita
serahkan semuanya pada Ben,” Kemal tersenyum seraya menepuk bahu sahabatnya.
“ Serahkan padaku
dengkulmu?” Ben mengomel mirip dengan yang Fi lakukan. “Kamu yang tantang dia,
kenapa malah nyuruh aku?”
“ Terus gimana? Aku
cuma bisa merayu gadis, bukan berantem.”
“ Astaga, kalian
berdua ini!” bisik Fi dengan kesal. “ Kenapa malah adu mulut di sini?”
Benar saja, di
seberang sana, Erick terlihat tak sabar. Emosinya pun bertambah besar.
“ Hei, kalian yang di
sana! Lawan aku di sini. Sekarang bukan waktunya ngerumpi!”
Ben dan Kemal seolah
tak memedulikan siapa pun. Mereka berdua terus meributkan siapa yang harus maju
melawan Erick.
“ Kemal, majulah.”
“ Enak saja, kalau
mukaku rusak gimana?”
Terus dan terus
seperti itu, sampai-sampai Erick pun dibuat gerah. Tanpa basa-basi, Erick maju
dan melayangkan tinjunya tepat ke muka Kemal.
BUUKK!
Bukannya Kemal yang
rubuh, tetapi justru Erick yang tersungkur. Ternyata Kemal sempat menghindari
serangan Erick dan langsung memberikan serangan balasan.
Semua orang yang ada
di situ dibuat kaget oleh respon Kemal. Padahal daritadi sibuk beradu mulut dengan
Ben, tahu-tahu begitu Erick memberikan serangan keadaan justru berbalik.
Herannya lagi, kedua orang itu bersikap seolah-olah tak melakukan hal aneh apa
pun.
Erick
bersungut-sungut bangkit. Sialan, pukulan Kemal kuat juga sampai-sampai hidungnya
mengeluarkan darah. Tak terima dengan pukulan itu, Erick pun membalasnya.
“ Brengsek!”
Pukulan itu kembali
melayang. Kali ini Ben dan Kemal lebih sigap. Ben segera menghindar dan Kemal
langsung mematahkan serangan Erick. Ia hantamkan sikunya tepat di tulang punggung
Erick. Dalam sekejap laki-laki itu rubuh.
“ Wah, kupikir orang
ini benar-benar jago, ternyata hanya segini saja,” Kemal tertawa sinis. “ Tahu
begitu benar-benar kusuruh Ben saja.”
Ben dan Kemal
terkekeh. Namun, di balik tubuhnya yang terebah, Erick memberikan kode pada
teman-temannya.
Kali ini Ben dan
Kemal benar-benar dalam masalah.
ooOoo
Di sisi lain, Priyanka gemetar menahan takut. Ia
meremas tangan Wenda kuat-kuat. Keringat dinginnya mengucur deras.
“ Apa kamu yakin
dengan mereka berdua?” tanya Priyanka saat melihat Ben dan Kemal sedang sibuk
adu mulut.
“ Mereka memang
bodoh, tapi aku sangat percaya dengan mereka karena mereka adalah
teman-temanku.”
Wenda sendiri tak
yakin dengan apa yang ia katakan. Namun, saat Kemal memberikan perlawanan
dengan entengnya, ia sedikit bernapas lega. Apalagi setelah melihat Erick
benar-benar rubuh. Ia merasa dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka.
Sayang, kelegaan itu
tak berlansung lama. Wenda mendengar bunyi gesekan antara benda logam dengan
aspal. Wenda menatap sekelilingnya dengan cemas. Tampaknya Erick benar-benar
akan menghabisi kedua orang itu.
ooOoo
“ Hei, sekarang bagaimana?”
Fi menarik-narik
kemeja Ben. Ia sangat panik. Di sekelilingnya sudah berkumpul laki-laki dengan
bersenjatakan tongkat baseball, ikat
pinggang kepala gear, serta kunci
inggris. Mereka semua siap melenyapkan siapa pun yang mereka lihat.
Ben dan Kemal
perlahan mundur. Mata mereka mengawasi semua gerakan teman-teman Erick. Jumlah
mereka ada tujuh dan bersenjata. Mustahil rasanya untuk bisa mengalahkan dengan
tangan kosong.
“ Fi, serahkan jaket
dan tasmu!” perintah Ben.
“ Eh, apa maksudmu?”
tanya Fi bingung.
“ Saat ini bukan
waktunya menjelaskan. Cepat berikan!”
Gertakan Ben membuat
Fi buru-buru melepaskan jaket dan tasnya. Ben menerima jaket itu dan segera
membelitkannya di tangan kiri, sementara tas Fi mungkin akan digunakan Kemal
sebagai tameng.
“ Fi, begitu aku
bilang ‘sekarang’, kamu harus berlari keluar dari sini. Jauhi Erick dan tempat
ini. Segera cari bantuan! Mengerti?” bisik Kemal.
Fi mengangguk cepat.
Jantungnya berdebar keras. Ia tak pernah mengalami situasi yang begitu
menegangkan seperti ini. Salah langkah sedikit saja, mereka semua akan berakhir
di sini.
“ SEKARANG!!!”
Fi tak membuang
waktu. Ia segera berlari sekencang mungkin. Ia sempat menoleh ke belakang. Tak
terlihat apa pun, yang ada hanyalah suara benda-benda logam yang saling beradu.
Fi berusaha menelepon
polisi. Namun, tangannya bergetar hebat. Smartphone
yang selalu ia mainkan, saat ini seperti benda bermuatan listrik jutaan
volt. Ia tak bisa mengendalikan kontrol pada tangannya.
‘ Tuhaaan, bagaimana ini?’
Fi tidak sadar kalau
di belakangnya Erick siap meremukkan tulangnya.
ooOoo
Air mata Priyanka mengalir deras. Ia tak sanggup
melihat kedua pemuda itu dikeroyok. Wenda pun sebenarnya juga tak kuat. Namun,
ia harus bisa bertahan. Kalau ia menangis sekarang, lantas siapa lagi yang
bertahan?
Tiba-tiba tangan
Priyanka terjulur ke depan. Telunjuknya gemetar menunjuk sesuatu di depan.
“ F—Fi…”
Teriakan Wenda
tertahan di ujung tenggorokannya. Lututnya terasa lemas saat tangan besar Erick
mencengkram bahu Fi. Sial, kenapa tubuhnya sekarang mati rasa.
Namun, di saat itulah
kornukopia milik Fortuna sampai ke tangan mereka.
ooOoo
Fi merasa tengkuknya ditiup hawa dingin dari Antartika.
Tubuhnya mengeras saat tangan besar Erick menggapai bahunya. Fi menutup mata
dan memasrahkan dirinya bila saat itu ia akan dihabisi oleh Erick.
Momen-momen
menyakitkan itu tak kunjung datang. Ia justru mendengar deru motor yang
diiringi sirine polisi. Bersamaan dengan itu terdengar suara letusan pistol.
Semua aktivitas
terhenti. Perlahan Fi membuka matanya. Ada sebuah pistol teracung di depan
wajahnya. Namun, lubang peluru itu tak mengarah padanya, tetapi pada laki-laki
yang ada di belakangnya. Fi hanya mampu melirikkan matanya saat Erick dibawa
paksa oleh petugas kepolisian.
Fi merasa gravitasi
menyerap kemampuan berdirinya. Hampir saja ia jatuh lemas kalau tidak segera
ditangkap oleh Aris.
“ Kamu baik-baik
saja?”
Tak ada yang lebih
disyukuri Fi saat melihat sosok Aris. Sepertinya Aris tak hanya menghubungi
ketua klub motornya, tetapi juga polisi. Begitu kesadarannya terkumpul, Fi
refleks mengalihkan pandangannya pada aksi pengeroyokan tadi.
“ Tenang saja, mereka
sudah diamankan. Kamu sendiri baik-baik saja?”
“ A—aku baik,” Fi
berusaha berdiri, kemudian ia kembali ke dalam untuk melihat keadaan. Fi
mendapati Kemal dan Ben terkapar dengan wajah babak belur.
“ Ka—kalian masih
hidup?”
“ Pertanyaan macam
itu,” Ben terkekeh sambil meringis. “ Hei, Kemal. Sudah kubilang koneksiku
lebih baik darimu’kan?”
“ Bah, tapi mereka
terlambat,” Kemal ikut tertawa.
Fi mulai paham dengan
watak kedua orang ini. Kalau mereka sudah bisa saling ejek berarti mereka
baik-baik saja. Setidaknya Fi bisa sedikit bernapas lega. Namun, syarafnya
kembali tegang saat melihat Priyanka digotong oleh beberapa petugas polisi.
“ Dia hanya pingsan
ketakutan,” ujar Wenda saat Fi mencoba menyusul Priyanka. “Dia baik-baik saja.”
Fi tidak pernah
merasa selega ini. Ia berjongkok seraya memijat tengkuknya yang sedari tadi
merasakan tegangan tinggi. Akhirnya, semua adegan beradrenalin tadi berakhir
juga.
“ Benar-benar
mengerikan. Itulah kenapa aku tidak pernah menerima tawaran di film laga.”
ooOoo
Priyanka membuka matanya. Sinar lampu ruang UGD terasa
begitu menyilaukan. Saat ia mulai menggerakkan pupil matanya, sosok pertama
yang ia jumpai adalah Fi. Gadis itu terlihat lelah, tetapi masih tersirat
kecemasan.
“ Oh, kamu sudah
bangun?” Fi bangkit dari tempat duduknya saat sorot mata Priyanka mengarah
kepadanya. “ Bagaimana perasaanmu? Ah, maksudku apa ada bagian tubuh yang
terluka atau sakit?”
Priyanka menggeleng
lemah, “ Aku baik-baik saja. Dimana yang lain? Apa mereka baik-baik saja.”
“ Terlalu baik untuk
orang yang baru saja dihajar beramai-ramai. Aku juga heran kenapa mereka bisa
bertahan saat dikeroyok tadi, dan mereka bahkan masih saling ejek ketika tubuh
mereka sudah dipenuhi luka,” Fi menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, ia
mendesah lega. “ Tapi aku bersyukur semua baik-baik saja.”
“ Apa Erick tadi
sempat melukaimu?”
Fi kembali
menggeleng, “ Hampir. Ahh, aku masih merinding kalau mengingat bagaimana
rasanya pundakku disentuh olehnya. Aku pikir Love Musical akan kehilangan aktris terbaiknya. Untunglah bantuan datang
di saat yang tepat.”
Wajah Priyanka
tertunduk dalam, “ Maafkan aku, Fi.”
“ Sudahlah, semua
sudah berakhir. Apa yang semua orang inginkan sekarang terkabul,” jawab Fi
seraya tersenyum lebar. “ Kamu sekarang bisa lepas dari Erick, sementara klub
motor tempat Erick bernaung kini bisa menjebloskannya ke penjara. Laki-laki itu
memang pembuat masalah, makanya semua orang geram padanya. Dengan adanya
kejadian ini semua orang punya alasan untuk memberikan hukuman yang pantas
padanya.”
“ Lalu dimana mereka
sekarang?”
“ Oh, maksudmu
Ironman, Captain America, dan Black Widow itu?” Fi terkekeh sendiri dengan
julukan yang ia buat. “ Mereka ada di kamar inap. Sepertinya dua superhero kita
itu butuh istirahat beberapa hari di sini. Yaah, setidaknya sampai luka mereka
cukup membaik.”
“ Aku sudah baik,”
Priyanka tiba-tiba melompat dari kasurnya. “ Antar aku ke sana.”
“ Hei, hei, sabar
dulu. Akan kuambilkan kursi rodanya.”
“ Terlalu lama, Fi,”
ujar Priyanka seraya memasang sepatunya. “ Ayo cepat!”
ooOoo
Begitu Fi dan Priyanka sampai di sana, ternyata kamar
itu sedang ramai. Ada beberapa anggota klub motor tadi dan juga petugas
kepolisian. Sepertinya polisi itu sedang mengintrograsi ketiga temannya pasal
kejadinya tadi.
“ Oh, kalian ke
sini?” tegur Aris. “ Apa kamu baik-baik saja?”
“ Apa kami akan
ditangkap polisi?” tanya Fi.
Aris terkekeh, “
Tidak. Polisi-polisi ini hanya meminta keterangan saja dari kalian. Kalian juga
nanti akan ditanyai oleh mereka, tapi kalau kalian masih lelah, kalian bisa
melapor besok.”
“ Bagaimana keadaan
mereka?” potong Priyanka tak sabar.
“ Seperti yang kalian
lihat, mereka baik-baik saja. Tidak usah
cemas,” Jjawab Aris. “ Silakan tanya sendiri bila kalian mau jawabannya.”
Fi dan Priyanka pun
langsung menghampiri Ben dan Kemal. Meski berbaring di ranjang rumah sakit
dengan wajah penuh luka, tetapi bibir mereka tak henti-hetinya mengeluarkan
lelucon, bahkan polisi yang menanyai mereka pun jadi kewalahan.
“ Priyanka!” seru
Wenda ketika ia melihat gadis itu datang. “ Kamu baik-baik saja?”
Priyanka hanya
mengangguk. Seketika polisi itu pun menanyai Priyanka yang merupakan saksi
kunci kejadian tadi.
“ Anda yang bernama
saudari Priyanka Sasmitha? Bisa Anda ikut kami ke kantor untuk menjelaskan
kronologis pengeroyokan tadi?”
“ Jangan sekarang,
Pak,” sahut Kemal sebelum Priyanka menjawab. “ Teman kami ini masih syok, dia
bahkan baru sadar. Bagaimana kalau interograsinya besok saja?”
“ Benar, Pak Polisi.
Mereka juga masih di bawah umur. Akan lebih baik jika mereka diperiksa dengan
didampingi orang tua,” timpal Aris. “ Supaya Bapak-Bapak sekalian percaya, saya
bisa menjadi penanggung jawab mereka untuk sekarang.”
Kedua polisi itu
berdiskusi, kemudian mereka mengangguk.
“ Baiklah, kalau
begitu kedua gadis ini harus melapor besok siang. Sekarang kami akan pamit,
selamat malam.”
“ Aah, tunggu, Pak
Polisi,” cegah Fi sebelum kedua polisi itu berbalik. “ Bisakah, kasus ini tidak
disebarluaskan ke publik? Maksud saya, masalah ini akan menjadi lebih besar
bila publik tahu.”
“ Lebih besar
bagaimana?” sahut salah seorang polisi itu.
“ Begini, kami
berlima ini adalah anggota teater yang akan melakukan pementasan di bawah
asuhan Latifa Kusuma Ningsih. Pementasan ini harus bersih dari skandal karena
pementasan ini bisa saja gagal dan menjadi aib di mata semua orang. Nama Latifa
Kusuma Ningsih sudah sangat akrab di telinga masyarakat,” Fi kemudian berdeham.
“Selain itu, errr, mungkin aku sedikit pamer, tapi saya juga adalah publik
figur. Belum lagi kejadian ini melibatkan klub motor tempat Erick dan
teman-temannya bernaung. Kalau skandal
ini akan menjadi sorotan media selama berbulan-bulan, dan nama baik kami semua
akan tercoreng.”
Kedua polisi itu
kembali berdiskusi, kemudian kembali mengangguk.
“ Kami mengerti.
Kalian tenang saja, tidak ada media dan masalah ini akan berjalan dengan
tertutup. Nah, ada lagi yang mau kalian sampaikan?”
Fi tesenyum, “ Tidak
ada, Pak. Terima kasih.”
Sepeninggal polisi
itu barulah mereka semua merasa sedikit tenang. Cukup lama Aris memerhatikan
Fi, kemudian ia tertawa.
“ Aaah, kamu ini
artis ya. Pantas saja aku seperti tidak asing melihatmu,” ujar Aris. “ Tapi
keputusan yang bagus. Kamu juga menyelamatkan nama baik klub motor kami. Aku
mewakili teman-teman klub motorku mengucapkan terima kasih untuk itu.”
Fi tersenyum jumawa.
Ia sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Makanya ia buru-buru meminta
kepada polisi itu agar beritanya tidak tersebar luas. Ia tahu persis bagaimana
repotnya menghadapi paparazzi yang tak kenal lelah.
“ Ma—maaf ya,
teman-teman karena aku kalian―”
“ Tidak usah pikirkan
kami,” potong Kemal. “ Menolong gadis cantik itu sudah kewajiban kami.
Benar’kan, Ben?”
“ Yaaa, benar,” sahut
Ben dengan nada sakartis. “ Tapi coba lihat wajahmu dulu. Dengan wajah bonyok
seperti itu, apa mungkin masih ada gadis yang mau denganmu?”
Kemal langsung meraba
wajahnya, “ Ah ya, benar. Aduuuh, bagaimana ini? Ahaa, tenang saja. Aku akn
bilang pada mereka kalau aku dikeroyok demi menyelamatkan temanku dan mereka
pasti akan menganggapku sebagai pahlawan. Nah, apa narasiku bagus?”
Wenda berdecak kesal,
“ Ya, bagus sekali. Enak sekali kalian bilang seperti itu pada orang lain. Apa
kalian tidak memikirkan perasaan kami tadi? Begitu tegangnya sampai kupikir
kalian akan mati. Heran juga, aku tidak pernah melihat kalian berantem
sebelumnya? Kalian belajar beladiri dimana?”
“ Sebenanrnya aku dan
Kemal justru berteman ketika kami satu perguruan pencak silat. Sudah lama
sekali, kalau tidak salah waktu SD,” Ben tersenyum mengingat kenangannya. “
Tapi kami tidak pernah memraktekkannya kalau di luar sampai hari ini.”
“ Ben benar. Seorang
pahlawan tidak perlu pamer, tapi selalu ada ketika dia dibutuhkan.”
Ben mengamini
kata-kata Kemal, lalu mereka bertukar high
five.
“ Seharusnya aku
menjuluki kalian Spongebob dan Patrick,” dumal Fi.
“ Oh ya, kurasa kita
juga harus merahasiakan ini dari Miss
Tifa dan yang lainnya. Akan repot kalau mereka sampai tahu, apalagi Miss Tifa,” ujar Wenda. “ Apalagi kita
tahu bagaimana Miss Tifa kalau sudah
beraksi’kan?”
Mereka semua
mengangguk sepakat. Tak berapa lama kemudian, orang tua mereka berdatangan. Fi,
Priyanka, dan Wenda dijemput pulang, sementara Ben dan Kemal harus menginap di
rumah sakit.
Perseteruan itu pun
berakhir dengan sejuta rahasia yang disimpan. Masih ada hal lain yang
melatarbelakangi kejadian itu. Namun, semua tak akan selesai pada hari ini.
Saat sang raja siang terbangun, maka di saat itulah semua rahasia yang pahit
akan terbongkar.
Author's Note:
Gimana, udah mirip adegan "Anak Jalanan" belum??
Tampaknya Auhtor kebanyakan nonton sinetron belakangan ini :DD
Please comment and share