Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Agustus 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 177)



Musikal 177

Murni bunuh diri. Tak bekas kekerasan lain di tubuhnya. Keluarga ini pun hanya bisa pasrah kalau putri tertua mereka harus meninggal dengan cara yang demikian. Berita sudah tersebar luas. Orang-orang semakin banyak berdatangan. Namun, hanya segelintir orang yang bertahan hingga di pemakaman.
Tifa masih memeluk gundukan tanah merah dengan tangisan yang tiada berhenti. Dave dan beberapa sahabatnya berusaha membujuknya pulang, tapi gadis itu masih berduka di atas pusara kakaknya.
“Tif, ayo pulang.”
Suara berat sang ayah menggugah hatinya. Dengan dibantu teman-temannya, ia bangkit dan meninggalkan makam kakaknya. Ia masih menoleh ke belakang sesekali. Berat rasanya meninggalkan kakaknya sendirian di sana.
Duka masih menyelimuti keluarga ini meski hari-hari telah berlalu. Walaupun kedua orang Tifa sudah bersikap seperti biasa, tetapi tidak dengan anak bungsunya. Tifa memilih mengurung diri di kamar dan absen sekolah selama hampir seminggu. Sepertinya dari semua orang yang kehilangan Laksmi, dialah yang paling terguncang.
Tifa tidak makan dan hanya minum sedikit air. Ia hanya keluar dari kamar jika sang ayah sudah meneriakinya dari luar. Kalau pun ia makan, itu hanya di depan orang tuanya saja dan tidak sampai satu sendok. Ia lebih banyak melamun di meja makan sambil mengaduk-aduk piringnya kemudian kembali ke kamar.
Dave yang merasa cemas karena absenya Tifa akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah gadis itu. Sang ayah sedang pergi bekerja dan hanya ada ibunya yang sedang mengasuh Adrian. Air mukanya tampak muram saat menyapa Dave.
“Bujuklah dia, Dave. Ibu jadi khawatir.”
Dave mengangguk dan segera menuju kamar Tifa. kamar gadis itu tidak terkunci karena sang ayah sudah menyita ketika gadis itu sedang keluar. Dave mendapati gadis itu sedang telungkup di atas ranjang. Padahal seminggu yang lalu gadis itu masih terlihat segar, tapi sekarang ia terlihat sangat layu bahkan mulai mengurus. Dave duduk di tepi ranjang seraya membelai rambut gadis itu.
Tifa merespon hanya dengan lirikan. Ia tidak mengusir Dave, tapi tidak juga mengindakhkan kedatangan pemuda itu.
“Kamu sudah makan, Tif?”
“Aku gak mau makan,” bisiknya.
Dave cukup terkejut karena Tifa mau menjawab. Namun, jawaban negatif tak membuatnya menjadi tenang. Ia tak berani membujuk lebih jauh.
Tiba-tiba Adrian menyerobot masuk. Ia berguling di samping Tifa seraya menarik-narik ujung baju tantenya.
“Tanteee, aku lapaaar. Buatin nasi goreng.”
Buru-buru Dave menjauhkan Adrian dari Tifa. Bisa gawat kalau sampai tantrum Tifa keluar.
“Tantenya istirahat dulu. Nasi gorengnya dibuatin sama nenek aja ya.”
“Nenek lagi ke rumah sebelah,” gerutu Adrian. Ia kembali menarik-narik ujung baju Tifa. “Tanteee, buatin dong.”
‘….Adrian sekarang adalah tanggung jawabmu….’
Kata-kata kakaknya membuat Tifa mengumpulkan segenap tenaganya untuk bangkit. Ia boleh saja menyiksa diri, tapi tidak dengan anak ini. Sebelum kakaknya pergi, ia sudah menitipkan bocah ini padanya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan tanggung jawab itu.
Dave berhasil menangkap tubuh Tifa yang limbung. Sepertinya Tifa mulai terkena anemia karena tidak makan selama berhari-hari. Akibatnya ketika ia bangun tiba-tiba, keseimbangan tubuhnya tidak mantap.
“Mau ke mana kamu, Tif?”
“Ke dapur. Buatin nasi goreng.”
Dave mendesah berat, “Oke, kita ke dapur, tapi biar aku saja yang masak.”
“Memangnya Om bisa masak?” ujar Adrian.
“Bisa dong,” Dave terkekeh seraya meletakkan lengan Tifa di pundaknya. “Adrian, kamu duluan saja ke dapur. Om bantu Tantemu dulu. Dia lagi gak enak badan.”
Untungnya Adrian tak protes. Ia langsung melesat ke dapur dan duduk manis di meja makan. Tak lama kemudian Dave sampai dan mendudukkan Tifa di sebelah Adrian. Tifa sangat kuyu bahkan ia tak bisa menolak gagasan Dave.
Dave dengan cekatan mengolah bahan mentah menjadi sepiring nasi goreng yang lezat. Melihat Dave yang berusaha untuk menenangkan Adrian, muncul rasa bersalah pada diri Tifa. Ia merasa malu karena dengan tubuhnya yang lemah ia jadi tidak bisa mengurus Adrian dengan baik. Ia pun memantapkan tekad untuk membuat dirinya lebih baik agar ia bisa menjaga Adrian seperti pesan kakaknya.
“Dave, aku mau makan.”
Kalimat itu adalah kalimat paling menyenangkan yang pernah Dave dengar. Apa pun akan ia lakukan agar kalimat itu bisa keluar dari bibir gadis itu.
“Tapi aku mau minum kopi juga.”
Sebenarnya permintaan kedua Tifa cukup berbahaya. Ia takut akan efek sampingnya nanti. Namun, menolak permintaan kedua sama saja membatalkan permintaan pertama. Oleh karena itu, Dave hanya bisa mengiyakan.

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 176)



Musikal 176

Tifa akhirnya siuman. Ia mendapati Dave sedang menunggu di sampingnya. Wajah pemuda itu tampak khawatir, tapi ia sedikit senang saat mengetahui Tifa sudah sadar.
“Tif, kamu—“
“Kak Laksmi!” Tifa berseru dengan kedua tangan yang mencengkram bahu Dave. Matanya terlihat panik. “Kak Laksmi, Dave! Di—dia….”
Tifa memang tak melanjutkan kata-katanya. Namun, Dave juga tak berniat menyambung kalimat rumpang itu. Ia hanya menundukkan kepalanya, tapi hal itulah yang membuat Tifa kembali histeris.
“Gak mungkin, gak mungkin, GAK MUNGKIiiiN…”
“Tifa!” Dave mengguncang bahu gadis itu pelan agar sadar. “A—aku tahu ini berat, tapi kumohon tenanglah.”
Tifa terisak. Matanya mulai berkaca-kaca, “Kamu pikir aku bisa tenang? Dave, yang aku lihat itu Kak Laksmi. Kak Laksmi gantung diri!”
Dave berniat mengatakan sesuatu, tapi mengurungkannya. Ia sadar kalau kata-katanya hanya akan menambah luka pada gadis ini. Di saat itulah pintu kamar tersebut terbuka lalu muncul sosok ayah Tifa. Melihat ayahnya Tifa masuk, Dave beringsut mundur. Dalam hatinya ia berterima kasih pada ibunya yang mau dimintai tolong.
Sang ayah langsung memeluk anak gadisnya erat-erat. Tangis Tifa pun pecah. Dave pun lagi-lagi hanya bisa menundukkan kepala.
“Kakakmu pasti berpikir kalau Ayah adalah orang yang paling jahat sedunia. Dia pergi juga karena kesalahan Ayah.”
“Kenapa Kak Laksmi harus pergi, Yah?” suara Tifa terdengar sesegukan.
Di tengah suasana yang mengharu-biru, tiba-tiba saja bocah  laki-laki yang sedari tadi tertidur di sebelah Tifa terbangun. Ia merasakan suasana yang aneh. Tante dan kakeknya saling berpelukan dan menangis. Dave adalah orang pertama menyadari Adrian bangun.
“Ad—Adrian…”
Tifa dan ayahnya tersentak. Rasanya tangis Tifa ingin meledak lebih kuat dari ini. Ia tak tahu harus bagaimana mengatakan kejadian yang sebenarnya pada bocah ini. ia terlalu kecil mengetahui bahwa ibunya pergi dengan cara yang mengenaskan.
Tifa hany bisa memeluk bocah yang kebingungan itu.
ooOoo
Adrian berada dalam pelukan neneknya selama proses identifikasi TKP dilakukan. Banyak tetangga yang datang juga polisi yang hilir mudik. Bocah lugu itu hanya bisa menatap heran pada orang-orang yang lalu-lalang di rumahnya. Banyak orang-orang yang menangis, bahkan tantenya tak luput mengucurkan air mata.
Tiba-tiba beberapa orang melintas di hadapannya dengan membawa tandu. Di atas tandu itu tubuh ibunya terbaring kaku. Ekspresi sang ibu terlihat sangat aneh bahkan mengerikan. Lidahnya terjulur dan matanya terbelalak. Ciri khas orang yang tewas karena gantung diri.
Saking mengerikannya Adrian bahkan sampai memalingkan muka dan memeluk neneknya erat-erat. Ia tak yakin itu adalah ibunya karena ibunya tak punya wajah semengerikan itu. Namun, gaun yang dipakai wanita itu adalah pakaian ibunya pakai saat terakhir ia lihat. Apakah itu hantu? Ataukah hantu itu mencuri baju ibunya? Atau mungkin hantu itu telah mengubah wajah ibunya?
Tandu itu dibawa masuk ke sebuah mobil putih. Pada bagian belakang mobil itu terdapat tulisan “AMBULANS” dengan tinta hijau. Kemudian mobil itu membunyikan sesuatu yang memekakkan telinga yang ia tahu nantinya kalau bunyi itu adalah bunyi sirine.
Ibunya menghilang seiring berlalunya bunyi-bunyian itu. Adrian merasa itulah kali terakhir ia melihat ibunya. Sepertinya bunyi-bunyian itu adalah hantu yang mengubah wajah ibunya hingga terlihat mengerikan dan bunyi-bunyian itulah yang membawa ibunya pergi. Adrian merasa takut. Ia takut kalau suatu saat bunyi-bunyian itu akan mengubah dirinya jadi seperti ibunya.
Adrian menutup telinganya rapat-rapat dan bersumpah tak mau mendengar bunyi itu selamanya.

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 175)



Musikal 175

July menunggu kedua anak itu dengan gelisah. Sejauh ini tak ada tanda-tanda bahaya terdengar. Cucunya masih tertidur lelap dan tidak menyadari apa yang terjadi. Hingga suara jeritan kuat terdengar dari dalam.
July bergegas menuju arah suara tersebut. Ia berlari-lari menaiki tangga dengan Adrian yang masih dalam gendongannya. Setelah jeritan itu terdengar suara Dave sedang memanggil-manggil nama anaknya. Tak ada yang terluka. Namun, ada yang telah tiada.
Tepat di hadapannya. Sang putri sulung yang dulu pernah menjadi kebanggan keluarganya sudah terbujur kaku dengan seutas tali tambang melilit lehernya. July merosot ke lantai. Kepalanya terasa pusing. Ia hampir ikut pingsan. Namun, beban tubuh Adrian seolah membuatnya untuk terus terjaga.
“Tante, Tante gak apa-apa?” Dave langsung beralih ketika melihat July yang hampir pingsan.
“Ya Tu—Tuhan, La—Laksmi….”
Dave dalam posisi yang serba salah. Tifa pingsan lalu ibunya syok berat. Ia harus berpikir cepat. Pertama ia harus menaruh Adrian di tempat yang aman. Untungnya bocah itu sama sekali tidak terganggu tidurnya. Dave meraih Adrian yang masih dipeluk oleh July dan membawanya ke kamar sebelah. Begitu Dave kembali, air mata July sudah membanjiri wajahnya. Dave berusaha membantu July berdiri, tapi gravitasi wanita itu lebih kuat. Akhirnya ia membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya.
“Kenapa… kenapa Laksmi….”
Dave tahu apa yang harus ia lakukan, tapi ia tak tahu apa yang harus ia katakan agar wanita ini bisa tenang. Ia hanya bisa diam dan mengeratkan pelukannya. Sampai July menarik sendiri tubuhnya.
“Te—telepon polisi,” July merogoh-rogoh tas kecilnya lalu memberikan sebuah buku saku pada Dave. “Dan ini, telepon ayahnya Tifa. Biar Tifa dan Adrian Tante yag urus.”
Kepala Dave mengangguk lalu ia meluncur cepat menuju pesawat telepon. Ia menelepon polisi dengan lancar, tetapi ketika hendak menekan nomor ayahnya Tifa jemari Dave berubah kaku. Bukan karena ia takut, tetapi karena ia tak tahu harus menyampaikan berita ini pada pria itu.
‘Halo, Om. Ini aku Dave. Cepat pulang, anakmu Laksmi tewas gantung diri.’
Yang benar saja, keluh dave. Di tengah kebimbangannya, ia pun teringat dengan ibunya yang belum kembali ke Jakarta. Ia segera menelepon rumahnya dan berharap ibunya punya saran yang baik.
“Halo?”
Dave bersyukur karena ibunya mengangkat setelah deringan pertama, “Halo, Mom. Ini aku Dave. Aku sangat membutuhkan bantuanmu saat ini?”
“Hei, ada apa? Kenapa panik begitu.”
“I—itu…” Dave mengutuki dirinya yang tak bahkan tak bisa berkata-kata pada ibunya sendiri mengenai kasus ini. “Laksmi, kakak Tifa, di rumahnya ada musibah.”
“Perampokan? Oh, apa kamu sekarang ada di rumahnya?”
“Bukan, itu… maksudku, Kak Laksmi tewas bunuh diri.”
“Oh, Tuhaaan….” Suara ibunya Dave terdengar kacau.
Mom, bisa bantu aku? Bisa tolong teleponkan ayahnya? Aku takut dia tidak akan percaya dengan ucapanku. Saat ini Tifa pingsan dan ibunya syok. Aku butuh bantuanmu.”
“Ya, ya, sebutkanlah nomornya. Nanti aku akan menyusul ke sana.”
Dave menyebutkan sederet nomor yang ada di buku saku tersebut. Sebelum ia menutup telepon ia mengucapkan terima kasih pada ibunya. Kemudian ia kembali berlari ke lantai dua, untuk melihat kondisi Tifa dan ibunya serta TKP agar tak disentuh oleh siapa pun.
Masalah ini akan semakin runyam.

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 174)



Musikal 174

Entah kenapa hari itu July ingin sekali berkunjung ke rumah anak sulungnya. Ia berharap bisa bermain dengan cucunya sampai sore. Namun, ia tak menyangka ternyata ia bertemu dengan si bungsu yang baru pulang dan membawa serta Adrian.
“Lho, kenapa Adrian bisa sama kamu?”
“Lho, kok Ibu bisa di sini?”
“Ibu cuma mau mengunjungi kakakmu,” July mendesah kesal. “Terus sekarang jawab pertanyaan Ibu. Kenapa Adrian bisa kamu yang bawa?”
Tifa tertawa cengengesan, “Tadi Kakak datang ke sekolah terus nitipin Adrian soalnya dia mau pergi katanya.”
“Kok ke kamu sih?” July terlihat heran. “Kenapa gak sama Ibu aja?”
“Mana aku tahu?” sahut Tifa sambil membetulkan tubuh Adrian yang tertidur. “Eh, Dave, kalau kamu mau pulang silakan kok. Makasih ya, udah mengantar.”
“Beneran nih? Kamu gak mau aku bantuin gendong Adrian?”
“Gak apa-apa. Adrian gak berat kok,” meski Tifa menyahut demikian, tapi Dave tetap saja mengambilalih Adrian dari Tifa.
“Tif, mana kunci rumah Laksmi?”
“Kunci? Kakak gak ngasih tuh.”
Kening July kembali berlipat heran, “Gimana sih? Masa nitipin anak gak nitipin kunci? Memangnya dia sudah ada di rumah?”
Tifa mengangangkat bahu, “Kita cek dulu aja deh.”
Ketiga masuk ke perkarangan rumah Laksmi. July mengetuk pintu seraya memanggil-manggil nama anaknya. Namun, tak ada jawaban. Ketika Tifa iseng membuka gagang pintu, seketika mereka berubah tegang. Pintu itu ternyata tidak dikunci.
Dave langsung menyerahkan Adrian pada Tifa, “Kalian tunggu di sini. Biar aku yang cek ke dalam.”
“Aku ikut! Bahaya kalau cuma kamu sendiri,” sahut Tifa seraya mengalihkan Adrian pada ibunya. Dengan cepat sang ibu menahan lengannya.
“Hati-hati, Tif. Siapa tahu perampok bersenjata.”
Tifa mengangguk cepat lalu ia menyusul di belakang Adrian. Keduanya menyusuri kamar tamu terlebih dahulu. Kosong. Kemudian ke kamar mandi. Kosong juga. Ke ruang keluarga dan dapur. Kedua tempat itu pun sama-sama kosong. Mereka sedikit bernapas lega, tapi ketegangan kembali muncul saat mata mereka mengarah pada tangga.
“Di lantai dua ada ruang apa aja, Tif?”
“Kamar Kak Laksmi dan Kak Ican, kamar Adrian, terus kamar mandi, dan balkon.”
Dave mengangguk. Ia memberikan instruksi agar Tifa lebih waspada kemudian mereka berpencar. Tifa ke kamar kakaknya sementara Dave mengecek kamar Adrian. Dave kembali memberi kode agar mereka membuka pintu secara serentak.
Dave hanya mendapati kamar yang kosong. Ia mendesah lega.
“Di sini kosong, Tif!”
Tak ada sahutan. Seketika Dave diselimuti kegelisahan. Jangan-jangan perampok itu langsung menahan Tifa. Dave melebarkan langkah agar segera sampai ke kamar sebelah.
Tifa baik-baik saja. Ia tidak ditahan perampok dan tidak ada perampok di sana. Namun, gadis itu membeku seperti patung. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Ia bahkan tak merespon ketika Dave memanggil-manggil namanya. Tatapannya terpaku ke atas.
Dave mengikuti arah mata Tifa. Ia baru sadar apa yang ada di hadapan mereka ternyata justru lebih mengerikan ketimbang ancaman perampok bersenjata. Meski yang mereka lihat tidak menyerang mereka, tetapi hal itu mampu memberikan syok pada siapa pun yang melihatnya.
Sesosok wanita bergaun indah berwarna biru. Namun, tubuh dan ekspresi wajahnya menghapus semua keindahan gaun itu. Tergantung kaku dan berayun-ayun di hadapan mereka. Tak ada lagi desah napas. Tak ada lagi denyut nadi.
Wanita itu adalah Laksmi yang tewas gantung diri.
Tifa menjerit sekuat tenaga hingga akhirnya ia pingsan.




Minggu, 13 Agustus 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 173)




Musikal 173

Hari Selasa adalah hari di mana semua anggota klub harus mengosongkan semua jadwal, kecuali untuk kegiatan klub. Terutama untuk mereka yang sudah duduk di kelas tiga. Hanya di hari ini mereka bisa mengosongkan waktu di sela-sela kesibukan mereka untuk mempersiapkan ujian kelulusan. Bahkan latihan Sabtu malam pun terpaksa diganti dengan Minggu pagi karena mereka juga harus menghemat tenaga untuk belajar.
Ketika mereka semua sedang latihan serius, tiba-tiba mereka kedatangan tamu yang tak diduga. Mereka semua terkejut, terutama Tifa karena tamu kejutan itu adalah sang kakak. Kedatangan Laksmi membawa suasana baru apalagi dengan kehadiran Adrian yang membuat semua orang gemas. Tifa pun dengan bersemangat memperkenalkan kakaknya pada semua anggota, bahwa sang kakak adalah aktris terbaik yang pernah Love Musical miliki.
“Aku gak nyangka Kakak akan datang ke sini,” ujar Tifa ketika mereka sedang beristirahat.
“Kakak gak ganggu latihan kalian’kan?”
Tifa menggeleng cepat, “Kami justru senang ada alumni hebat yang mau datang berkunjung.”
“Ah, bisa aja kamu,” Laksmi tertawa. “Sebenarnya Kakak mau minta tolong sama kamu. Kakak mau pergi lama dan Kakak mau titipin Adrian sama kamu. Bisa?”
“Tentu. Titipin aja dia sama aku.”
“Gak bakal ganggu kamu’kan?”
“Tenang aja. Adrian’kan anaknya nurut, apalagi sama Tantenya.”
 “Makasih ya, Tif.”
Laksmi kembali tersenyum kemudian ia memeluk Tifa. Pelukan Laksmi yang begitu erat membuat Tifa sedikit heran, tetapi ia tak terlalu menanggapi.
“Kamu yang paling kakak andalkan,” bisik Laksmi. “Love Musical dan Adrian sekarang adalah tanggung jawabmu. Kakak yakin kamu pasti bisa. Kakak sayang kamu.”
“Kakak ngomong apa sih?” Tifa tertawa seraya melepaskan pelukannya. “Tapi aku juga sayang Kakak kok. Oh ya, Kak, aku punya kabar gembira loh.”
Lipatan di kening Laksmi seolah bertanya pada sang adik.
“Ayah bilang, kalau Kakak datang saat pertunjukkan terakhirku, Kakak dibolehkan untuk main ke rumah,” ujar Tifa riang lalu memain-mainkan lengan kakaknya. “Makanya Kakak datang yah. Yah, yah, yah, datang yah.”
“Akan Kakak usahkan.”
Tifa bersorak senang.
Laksmi menatap Tifa cukup lama lalu melambaikan tangannya.
“Kakak pergi ya. Sampai jumpa.”
Tifa melambai dengan semangat. Semakin lama punggung sang kakak semakin tak terlihat. Entah kenapa Tifa sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri meski Laksmi sudah pergi. Hingga Adrian menarik-narik tangannya.
“Kak, dipanggil sama teman-temannya tuh.”
Tifa menatap keponakannya. Ia tersenyum lalu mengajak Adrian masuk.
ooOoo
“Pak, putri Anda meminta masuk.”
Suara sang sekretaris menggema lewat interkom. Pramudya Kusuma Nugraha menekan tombol pada interkom tersebut agar terhubung dengan sang sekretaris.
“Putriku yang mana?”
“Latifa, Pak.”
“Suruh dia masuk.”
Pintu terbuka dan ternyata yang hadir bukan Tifa, tetapi putri sulungnya. Senyum tipis Laksmi mengisyaratkan agar ayahnya tak usah merasa canggung ketika ia berada di sana.
“Maaf, sudah mengganggu waktumu, Yah. Ada hal yang ingin kubicarakan.”
Sang ayah tak mungkin mengusir anaknya tiba-tiba. Ia juga tak mau semua karyawan tahu mengenai permasalahan anaknya.
“Duduklah,” ujarnya. “Tidak membawa Adrian?”
“Dia sudah kutitipkan di tempat yang kupercaya.”
Pram mengangguk. Namun, anak sulungnya tak kunjung mengutarakan apa yang akan dibicarakan. Ia sedang memiah-milah kata dengan resah.
“Ada masalah apa?”
“Ah, tidak sebenarnya aku….” Laksmi menarik napas dalam-dalam. “Aku… aku hanya ingin minta maaf pada Ayah atas semua perbuatanku selama ini.”
Kening sang ayah berkerut.
“Aku tahu, aku telah mengecewakan Ayah dan Ibu dengan semua perbuatanku. Tidak hanya mimpi kalian, tapi mimpiku juga telah kuhancurkan. Maaf, karena telah gagal menjadi anak yang baik. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kebanggaan keluarga. Sekali lagi aku minta maaf….”
Entah apa yang Pram mimpikan semalam hingga tiba-tiba anak sulungnya datang dan mengucapkan ribuan kata maaf. Amarah itu masih ada, tetapi jika melihat seorang wanita meminta maaf dengan mata yang berkaca-kaca seperti ini, hati pria mana yang tidak runtuh? Apalagi itu adalah anaknya sendiri.
“Kamu baik-baik saja, Laksmi? Apa ada masalah di rumah?”
Laksmi hanya menggeleng pelan.
Pram mendesah panjang, “Setelah bertahun-tahun Ayah juga masih tidak percaya kalau kamu memutuskan untuk hidup berdua dengan laki-laki itu. Dari dulu laki-laki itu memang sudah suka padamu, tapi bukannya kamu juga dari dulu sudah menolaknya. Lantas kenapa kamu justru melakukan hal itu hingga berakhir seperti ini?”
Laksmi hanya membisu.
“Kita semua tahu kalau ayahnya Ican itu punya banyak istri dan tidak menutup kemungkinan Ican juga berlaku seperti itu. Karena itulah kamu menolaknya mati-matian dulu,” Pram memijat pangkal hidungnya. “Ayah tidak tahu apa yang mengubahmu, tapi ya sudahlah, ini jadi bagian dari hidupmu. Kamu harus berjuang untuk menghadapinya.”
“Ayah juga tidak bisa lama-lama marah padamu, Laksmi.”
Ada secercah sinar kebahagiaan saat Laksmi mendengar kalimat terakhir ayahnya. Ia tidak bisa lebih bersyukur lagi setelah tahu kalau sang ayah masih sayang padanya.
“Aku tahu Ayah adalah Ayah terbaik yang pernah ada,” Laksmi tesenyum lembut. “Terima kasih.”
“Datanglah saat adikmu pentas nanti. Dia selalu cemberut karena kamu tidak pernah hadir. Kamu idola terbesarnya.”
Lagi-lagi Laksmi hanya tersenyum kemudian ia beranjak bangkit.
“Kalau begitu aku pulang dulu. Senang bertemu Ayah hari ini. Sampai jumpa.”
Pram tak bisa mencegah kepergian anaknya. Ia hanya pulang, tapi entah kenapa Pram melihat punggung anaknya begitu lelah. Seperti ada beban berat yang dipanggul olehnya. Pram hanya bisa berdoa agar anak sulungnya itu baik-baik saja.
ooOoo
Laksmi tiba di rumahnya. Setelah semua yang ia rencanakan terlaksana ia ingin beristirahat di kamar. Semua persiapan sudah selesai. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menyetel kumpulan Beethoven kesukaannya.
Semua terasa damai. Hatinya tak akan goyah dengan keputusan yang sudah ia ambil. Karena beban di hatinya akan hilang setelah semua ini berakhir.
Semua akan berakhir….
Semua akan hilang….
Selamat tinggal.

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 172)




Musikal 172

“Jadi, kapan pementasanmu itu, Tif?”
Sang ayah membentangkan Koran. Keluarganya ini sedang menikmati sarapan pagi di hari minggu. Tak seperti hari minggu biasanya, kali ini Tifa bangun lebih awal. Ia sengaja karena latihan teater mereka yang biasanya dilaksanakan pada Sabtu malam berubah menjadi Minggu pagi. Semua anggota klub sepakat mengingat ujian akhir semakin dekat.
“Akhir April atau awal Mei, Yah. Pastinya setelah ujian akhir dulu.”
“Hmm, pokoknya kamu jangan terlalu fokus dengan pementasan. Ingat, ujianmu menentukan universitas mana yang kamu pilih.”
Tifa mengangguk, “Ngerti, Yah.” Ia melirik ayahnya takut-takut, “Ayah dan Ibu bakal datang’kan?”
“Sejak kapan kami melewatkan pementasanmu, Tif?” tanya Ibunya yang baru saja kembali dari dapur.
Cengiran di pipi Tifa melebar, tapi beberapa saat kemudian wajahnya kembali serius, “Gak apa-apa’kan kalau Kak Laksmi juga datang?”
“Memangnya dia pernah datang?”
Tifa menggigit bibirnya. Matanya melirik sang ibu dengan sedih. Namun, sang ibu hanya bisa mendesah pelan.
“Dia janji kali ini bakalan datang kok.”
“Oh,” sahut ayahnya sambil melebarkan korannya. “Kalau dia sampai datang, dia boleh main ke sini.”
Tifa terperanjat. Ia bahkan sampai menarik Koran ayahnya, “Serius, Yah?”
“Tapi di harus datang,” sang ayah merebut kembali korannya.
Tifa melirik ibunya senang. Wajahnya ibunya pun berubah secerah senyum Tifa.
“Dia pasti datang. Dia sudah janji.”
ooOoo
“Semangat banget. Padahal udah siang nih.”
“Habisnya aku senaaaang banget,” Tifa meremas kuat lengan Dave. “Kamu tahu, Ayahku bakalan menginzinkan Kak Laksmi main ke rumah kalau dia nonton pementasan ini.”
“Wah, pantas,” Dave melepaskan cengkraman tangan Tifa sambil meringis. “Tapi gak pake nerkam juga kali.”
Tifa terkekeh.
“Tapi dia pasti datang’kan?”
“Datang dong. Dia sudah janji sama aku.”
“Syukurlah,” Dave mengusap lembut kepala Tifa. Gadis itu hanya bisa tersenyum.
Namun, tak semua orang senang pada hari itu. Dari kejauhan ada seseorang yang menatap pasangan itu dengan tatapan iri. Semakin mesra kedua orang itu bercengkrama, semakin terbakar pula hatinya.
Riani masih ingat bagaimana pementasan terakhir mereka yang berakhir dengan sangat sukses. Begitu tirai ditutup, Dave tak malu-malu memeluk Tifa bahkan mendaratkan ciuman di kening gadis itu. Kejadiannya begitu cepat karena itu mungkin tak semua orang menyaksikannya, tapi Riani bisa melihat jelas apa yang dilakukan keduanya. Tak ayal ingatan itu terus-terusan menghantuinya. Hatinya terasa sakit bila mengingat hal itu.
Dan sekali lagi di siang ini. Apa pun yang dilakukan Dave pada Tifa semuanya membuat Riani tak suka. Ia tak suka Dave berbicara pada Tifa, tertawa bersama Tifa, atau menyentuh Tifa. Namun, jika ia mengungkapkan perasaannya sekarang, mungkin ia akan dicap sebagai gadis yang menyebalkan. Ia akan jadi bahan perundungan selama siswa waktu di sekolahnya. Dave dan Tifa sudah dinobatkan sebagai pasangan abadi di sekolah dan ia hanya partikel kecil dari lingkaran hubungan keduannya. Tak akan bisa memisahkan, bahkan menyentuhnya pun tidak.
Riani hanya bisa memalingkan muka.