Musikal
177
Murni bunuh diri. Tak
bekas kekerasan lain di tubuhnya. Keluarga ini pun hanya bisa pasrah kalau
putri tertua mereka harus meninggal dengan cara yang demikian. Berita sudah
tersebar luas. Orang-orang semakin banyak berdatangan. Namun, hanya segelintir
orang yang bertahan hingga di pemakaman.
Tifa masih memeluk gundukan tanah merah dengan tangisan yang tiada
berhenti. Dave dan beberapa sahabatnya berusaha membujuknya pulang, tapi gadis
itu masih berduka di atas pusara kakaknya.
“Tif, ayo pulang.”
Suara berat sang ayah menggugah hatinya. Dengan dibantu teman-temannya,
ia bangkit dan meninggalkan makam kakaknya. Ia masih menoleh ke belakang
sesekali. Berat rasanya meninggalkan kakaknya sendirian di sana.
Duka masih menyelimuti keluarga ini meski hari-hari telah berlalu. Walaupun
kedua orang Tifa sudah bersikap seperti biasa, tetapi tidak dengan anak
bungsunya. Tifa memilih mengurung diri di kamar dan absen sekolah selama hampir
seminggu. Sepertinya dari semua orang yang kehilangan Laksmi, dialah yang
paling terguncang.
Tifa tidak makan dan hanya minum sedikit air. Ia hanya keluar dari kamar
jika sang ayah sudah meneriakinya dari luar. Kalau pun ia makan, itu hanya di
depan orang tuanya saja dan tidak sampai satu sendok. Ia lebih banyak melamun
di meja makan sambil mengaduk-aduk piringnya kemudian kembali ke kamar.
Dave yang merasa cemas karena absenya Tifa akhirnya memutuskan untuk datang
ke rumah gadis itu. Sang ayah sedang pergi bekerja dan hanya ada ibunya yang
sedang mengasuh Adrian. Air mukanya tampak muram saat menyapa Dave.
“Bujuklah dia, Dave. Ibu jadi khawatir.”
Dave mengangguk dan segera menuju kamar Tifa. kamar gadis itu tidak
terkunci karena sang ayah sudah menyita ketika gadis itu sedang keluar. Dave
mendapati gadis itu sedang telungkup di atas ranjang. Padahal seminggu yang
lalu gadis itu masih terlihat segar, tapi sekarang ia terlihat sangat layu
bahkan mulai mengurus. Dave duduk di tepi ranjang seraya membelai rambut gadis
itu.
Tifa merespon hanya dengan lirikan. Ia tidak mengusir Dave, tapi tidak
juga mengindakhkan kedatangan pemuda itu.
“Kamu sudah makan, Tif?”
“Aku gak mau makan,” bisiknya.
Dave cukup terkejut karena Tifa mau menjawab. Namun, jawaban negatif tak
membuatnya menjadi tenang. Ia tak berani membujuk lebih jauh.
Tiba-tiba Adrian menyerobot masuk. Ia berguling di samping Tifa seraya
menarik-narik ujung baju tantenya.
“Tanteee, aku lapaaar. Buatin nasi goreng.”
Buru-buru Dave menjauhkan Adrian dari Tifa. Bisa gawat kalau sampai
tantrum Tifa keluar.
“Tantenya istirahat dulu. Nasi gorengnya dibuatin sama nenek aja ya.”
“Nenek lagi ke rumah sebelah,” gerutu Adrian. Ia kembali menarik-narik
ujung baju Tifa. “Tanteee, buatin dong.”
‘….Adrian sekarang
adalah tanggung jawabmu….’
Kata-kata kakaknya membuat Tifa mengumpulkan segenap tenaganya untuk
bangkit. Ia boleh saja menyiksa diri, tapi tidak dengan anak ini. Sebelum
kakaknya pergi, ia sudah menitipkan bocah ini padanya. Ia tidak boleh
menyia-nyiakan tanggung jawab itu.
Dave berhasil menangkap tubuh Tifa yang limbung. Sepertinya Tifa mulai
terkena anemia karena tidak makan selama berhari-hari. Akibatnya ketika ia
bangun tiba-tiba, keseimbangan tubuhnya tidak mantap.
“Mau ke mana kamu, Tif?”
“Ke dapur. Buatin nasi goreng.”
Dave mendesah berat, “Oke, kita ke dapur, tapi biar aku saja yang
masak.”
“Memangnya Om bisa masak?” ujar Adrian.
“Bisa dong,” Dave terkekeh seraya meletakkan lengan Tifa di pundaknya.
“Adrian, kamu duluan saja ke dapur. Om bantu Tantemu dulu. Dia lagi gak enak
badan.”
Untungnya Adrian tak protes. Ia langsung melesat ke dapur dan duduk
manis di meja makan. Tak lama kemudian Dave sampai dan mendudukkan Tifa di
sebelah Adrian. Tifa sangat kuyu bahkan ia tak bisa menolak gagasan Dave.
Dave dengan cekatan mengolah bahan mentah menjadi sepiring nasi goreng
yang lezat. Melihat Dave yang berusaha untuk menenangkan Adrian, muncul rasa
bersalah pada diri Tifa. Ia merasa malu karena dengan tubuhnya yang lemah ia
jadi tidak bisa mengurus Adrian dengan baik. Ia pun memantapkan tekad untuk
membuat dirinya lebih baik agar ia bisa menjaga Adrian seperti pesan kakaknya.
“Dave, aku mau makan.”
Kalimat itu adalah kalimat paling menyenangkan yang pernah Dave dengar.
Apa pun akan ia lakukan agar kalimat itu bisa keluar dari bibir gadis itu.
“Tapi aku mau minum kopi juga.”
Sebenarnya permintaan kedua Tifa cukup berbahaya. Ia takut akan efek
sampingnya nanti. Namun, menolak permintaan kedua sama saja membatalkan
permintaan pertama. Oleh karena itu, Dave hanya bisa mengiyakan.