Musikal 150
Para siswa diperbolehkan pulang cepat setelah
pembersihan massal usai. Mereka bubar jalan setelah mendapat pengarahan Hana di
lapangan upacara. Sama seperti yang lain, Ririn juga berniat langsung pulang ke
rumah. Hari ini tidak latihan, jadi ia memilih untuk istirahat di rumah.
Andani lebih memilih
pulang bersama saudarinya. Mungkin ia mau bercerita panjang pada Anjani
mengenai kejadian di ruang kepala sekolah tadi. Ririn selalu tersenyum geli
saat mengingat kejadian itu.
“Mau pulang bareng?”
Suara itu. Ah, tanpa
perlu menoleh ia pasti tahu siapa yang selalu menawarinya pulang bareng. Si
pianis yang selalu menyembunyikan matanya di balik lensa super tebal.
“Boleh saja.”
Alexi tersenyum,
“Tapi aku mau ke mampir di minimarket depan gerbang rumahmu, keberatan?”
Ririn menggeleng
sambil tersenyum. Sejurus kemudian ia sudah meluncur di sadel belakang bersama
Alexi. Tak banyak pembicaraan saat di perjalanan bahkan ketika di minimarket. Ririn
memutuskan untuk berjalan saja ketika Alexi akan mengantarnya dari minimarket
menuju rumahnya. Ririn pun akhirnya membuka pembicaraan di antara mereka.
“Kamu tahu, tadi Jiro
Senpai mendatangiku dan Andani.
kemudain dia nembak Andani.”
“Serius? Terus diterima
gak?”
“Hmm, belum sih.
Andani minta waktu, tapi untungnya Jiro Senpai
mau sabar.”
“Wah, hebat betul
Jiro Senpai!”
Ririn mengangguk,
“Ya, aku jadi kagum sama dia.”
“Kamu suka dia?”
“Eh, bukan itu
maksudku. Aku cuma kagum dengan orang-orang seperti Jiro Senpai.”
“Seperti Jiro Senpai?” tanya Alexi dengan alis
terangkat.
“Ya, orang-orang yang
berani mengakui perasaan mereka padahal orang yang mereka suka belum tentu
membalas, “ Ririn tesenyum. “ Seperti oom-ku yang mengejar Miss Tifa atau kisah Fi dan Adrian yang dulu.”
Langkah Alexi
terhenti. Tatapannya juga ikut berhenti memandang yang lain. Hanya tertuju pada
gadis di depannya.
“Kalau itu kamu
sendiri, apa kamu akan suka ditembak seperti itu?”
Ririn ikut
mengurungkan langkahnya. Ia menatap Alexi heran.
“Memangnya ada yang
mau sama aku?”
“Kalau ada
bagaimana?”
Pipi Ririn merona. Ia
buru-buru menundukkan kepala sambil menggaruk ujung hidungnya. Baru kali ini
tatapan Alexi seolah menerobos pikirannya yang terdalam. Maka dari itu ia harus
menghindari menatap langsung laki-laki ini.
“Tentu saja aku
senang, tapi aku juga tidak tahu harus jawab apa.”
Ririn memaling
wajahnya. Ia malu karena suaranya terdengar bergetar akibat malu. Angin
berhembus dan membelai poni ikalnya. Helaian rambut di keningnya ikut terangkat
sehingga menampakkan bekas luka yang dulu pernah ia pamerkan.
Alexi menghela napas,
“Sudahlah, aku tadi cuma iseng bertanya.”
Pemuda berkacamata
ini berjalan lebih dulu. Ririn yang kaget karena Alexi yang mendahuluinya pun
buru-buru ikut menyusul.
“Apa kamu sudah orang
kamu suka?” tanya Alexi lagi.
“Adrian,” Ririn
tertawa geli. “Tapi itu dulu.”
“Sekarang?”
“Tidak tahu.
Sejujurnya aku dulu pernah berpikir kalau Adrian dan Fi berpisah, tapi bukan
dengan cara yang seperti ini loh. Yah, berharap saja kalau Fi selingkuh dan
ketahuan Adrian. Kemudian Adrian menyadari siapa yang sebenarnya menyukainya.
Hahaha, aku dulu bodoh ya.”
Ririn menghelapa
napas, “Tapi kalau kejadiannya seperti sekarang, aku justru tidak berani
meminta perasaan Adrian. Rasanya aku kotor sekali jika harus merebut Adrian
dengan situasi seperti sekarang.”
Alexi hanya
menganggguk.
“Kalau kamu?”
“Nadia,” Alexi
tersenyum kecut. “Tapi sebelum dia pergi ke Paris. Sekarang aku sudah berpindah
hati.”
“Oh ya, sama siapa?”
Langkah Alexi kembali
terhenti dan menatap Ririn dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.
Ririn tersentak
kaget, “Ke—kenapa?”
“Kita sudah sampai.”
Ririn gelagapan
melihat pagar rumahnya tinggal lima meter dari ia berdiri.
“Oh, i—iya. Terima
kasih sudah mengantar.”
Kali ini Alexi tak
melepaskan tatapan lembut itu. Tak hanya itu, Alexi juga mendaratkan usapan lembut
di pucuk kepala Ririn.
“Setelah pementasan ini
selesai akan kuberitahu siapa orang yang kusuka itu. Sekarang aku pulang dulu.”
Ririn bahkan belum sempat
mengucapkan salam perpisahan. Punggung Alexi meluncur cepat di atas sadel sepedanya.
Meninggalkan Ririn yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Tangan Ririn meraba dada
kirinya. Sama yang seperti Andani katakan tadi. Jantungnya seperti akan meledak.
Author's Note:
HAPPY ANNIVERSARY!!!!!
Ya ampuuuuun.... Author gak nyangka udah setahun anak Author tumbuh besar.
Setahun penuh perjuangan, uhuhuhu...
Author akan berusaha untuk lebih baik lagi, supaya tidak mengecewakan kalian semua, readers-ku yang baik hati.
Terima kasih sudah mampir sejauh ini. I LOVE YOU
