CERPEN
Cantik Tak
Cantik
Kutatap semua peralatan make up-ku yang ada di atas meja rias. Mulai dari perona pipi yang
jumlahnya setengah lusin, pensil alis dan garis mata yang bergerumul dalam
sebuah gelas kaca, kuas-kuas beraneka bentuk, hingga perona mata dan lipstik
yang warnanya sudah melebihi pelangi. Belum lagi krim-krim penyamar noda dari
berbagai merek. Kupikir ini sudah bukan meja rias, tapi jualan kosmetik.
Kemudian kupatut wajahku di cermin. Mau kubuat apa
wajah ini. Menor seperti tante-tante atau elegan bak selebriti Hollywood?
Entahlah, mana yang cocok, yang jelas aku punya, aku bisa, dan aku harus tampil
cantik.
Cantik. C-A-N-T-I-K. Kata itu sudah aku pelajari sejak
aku belajar membaca. Namun, makna cantik baru kudapatkan setelah bertahun-tahun
aku berusaha menjadi cantik. Cantik bukan hanya sekadar kata sifat, tapi juga
kata benda.
Banyak orang yang jatuh karena cantik. Banyak juga
orang yang menjatuhkan dirinya karena cantik. Semua orang ingin cantik. Entah
itu kecantikan atau wanita cantik.
Aku lupa kapan terakhir aku tak cantik. Seingatku aku
masih belia. Belum mengenal dunia apalagi derita. Aku bahagia. Langkah kakiku
terasa ringan saat melangkah. Sampai aku heran kenapa semua orang
berlomba-lomba untuk tampil cantik. Memoles ini, memoles itu. Menurutku itu
topeng, tapi mereka bilang itu cantik.
Dulu aku tak mengerti cantik.
Lalu aku mencoba mempercantik diri. Mereka bilang
cantik itu dari dalam diri. Aku menjadi orang yang baik hati. Menolong sana,
menolong sini. Sampai akhirnya kebaikkan hatiku dimanfaatkan orang lain. Mereka
datang di saat senag dan hilang di saat sedih. Aku ditinggalkan karena aku tak
cantik.
Aku muak dengan hati yang cantik.
Akhirnya wajah ini kupermak juga. Beli kosmetik ini,
beli kosmetik itu. Aku pun menjadi primadona kala itu. Kaum adam silih berganti
menghampiri. Aku bagai bunga yang dikelilingi lebah. Aku kembali bahagia.
Senyumku selalu mengembang tiap kali kaki melangkah.
Aku pun jadi cantik.
Namun, cantik ini membuatku jadi serakah. Halal,
haram, hantam. Aku tak peduli bila itu milik orang lain. Selama aku bisa
mendapatkan dengan kecantikkanku, kenapa tidak? Salah sendiri jadi tidak
cantik! Sudah tahu dunia ini kejam. Terlalu kejam untuk orang yang tidak
cantik.
Aku benar-benar lupa dengan hati yang cantik.
Mungkin ini sudah batas akhir aku mencari makna
cantik. Aku muak, muak dengan semua kata cantik. Kulemparkan semua alat sulap
cantikku yang ada di meja. Semua terserak di lantai. Mengadah padaku seolah
bertanya, kenapa kami di sini?
Hanya tersisa satu di sana. Dengan semua amarahku,
kugoreskan saja dari pipi kanan menuju pipi kiri. Masih kurang. Kubuat tiga
garis melintang di keningku. Terakhir, kupanjangkan garis senyumku.
Sempurna. Kini aku terlihat cantik. Dengan semua warna
merah yang menyelimuti wajahku. Inilah kencatikkan yang selama ini aku
dambakan.
Namun, warna merah itu menetes deras. Nyeri terasa.
Kulirik tangan kananku. Ternyata aku memegang pecahan kaca. Aku tertawa. Sangat
keras dan untuk pertama kalinya aku tertawa sekeras ini.
Ironi, bukan?
Palembang
12.19 A.M.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar