Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Februari 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 127)




Musikal 127

Hana menghempaskan tubuhnya di sofa. Akhirnya pekerjaan di sekolah selesai. Sayangnya, masih banyak pekerjaan lain yang menunggunya. Meski ia sudah sampai di rumah, tapi pikirannya masih terkurung dalam ruangan kepala sekolah tadi.
Ia tak pernah selelah ini sebelumnya. Bukan, bukan fisiknya yang lelah, tapi otaknya yang lelah akibat memikirkan kelanjutan dari pementasan ini. Entah kenapa ia merasa perjalanan pementasan ini justru akan semakin memburuk. Hana takut kalau itu benar-benar terjadi. Namun, kata-kata Dave tadi juga ikut membayangi benaknya.
Kita serahkan saja pada kedua pemeran utama kita
Benarkah itu? Bisakah mereka? Seberapa besar efek yang akan ditimbulkan setelah konferensi pers nanti? Berkali-kali Hana memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nanti.
Hanya saja sekeras apa pun Hana memikirkan spekulasinya, hal itu tidak akan berpengaruh langsung padanya. Ia lupa siapa yang akan menanggung semua akibat dari peristiwa ini atau bisa dibilang yang akan merasakan langsung. Ya, seseorang yang sekarang sedang terbaring di ranjang pesakitan.
Hana melirik ponselnya, kemudian matanya beralih pada jam di dinding. Mungkin belum terlalu larut untuk menelepon orang itu. Segera Hana pun menghubungi orang tersebut.
“Halo?”
Hana tersentak karena nada suara orang tersebut tidak terdengar seperti orang sakit, “Ah, hei. Belum tidur?”
Sebentar lagi. Pengaruh obatnya selalu membuatku mual. Aku jadi susah tidur.
Hana menarik napas panjang. Ada jeda yang cukup lama sebelum ia melanjutkan percakapan.
“Bagaimana keadaanmu?”
Kembali hening.
Tidak begitu baik kurasa. Terlalu banyak masalah yang harus aku selesaikan sementara aku terbaring tak berdaya di sini.
Hana kembali menarik napas panjang, “Apa rencana B-mu itu akan berhasil?”
Itu tergantung jawaban mereka besok.
Hening lagi.
“Tapi yaah… apa pun yang terjadi besok, kamu jangan mati dulu. Kalau tidak, aku akan mengejarmu sampai ke alam baka.”
Terdengar tawa lepas dari ujung telepon. Hana tak bisa menahan senyumnya  karena jika orang yang ada di ujung telepon ini masih bisa tertawa berarti situasi masih terkendali.
“Cepatlah sehat dan selesaikan semua hutangmu itu.”
Aku tahu. Aku tidak akan pergi lagi… seperti dulu.
Seperti dulu. Entah kenapa dua kata itu terdengar seperti alunan musik sedih saat Tifa mengucapkannya dengan nada ragu. Hana buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya, Tif. Kamu tahu bagaimana Dave menghadapi para petinggi itu? Ya ampun, aku….”
ooOoo
Tifa baru bisa berbaring tenang setelah kembali dari kamar kecil. Perutnya seakan tak mau terisi apa pun. Meski hanya sedikit air, tapi perutnya terus menolak.
Ponselnya berdering ketika ia mencoba memicingkan mata. Nama ‘Hana’ yang terpampang di layar seperti memberi angin segar padanya.
“Halo?”
Ah, hei. Belum tidur?
Tifa nyengir. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas dan dia sedang menelepon orang sakit, tapi masih bertanya sudah tidur apa belum. Tifa merasa teman-temannya sudah tak waras.
“Sebentar lagi. Pengaruh obatnya selalu membuatku mual. Aku jadi susah tidur.”
Terdengar helaan napas Hana disusul dengan kebisuan di antara pembicaraan mereka. Tifa menduga Hana sedang berpikir-pikir tentang hal apa yang harus mereka bicarakan tanpa menyinggung perasaannya.
Bagaimana keadaanmu?”
Bagaimana keadaannya, Tifa sendiri tidak tahu. Di satu sisi tubuhnya memaksa untuk beristirahat, tapi di sisi lain semangatnya masih membara untuk melakukan ini-itu.
“Tidak begitu baik kurasa. Terlalu banyak masalah yang harus aku selesaikan sementara aku terbaring tak berdaya di sini.
Apa rencana B-mu itu akan berhasil?”
“Itu tergantung jawaban mereka besok.”
Nada suaranya yang terdengar ragu membuat jeda yang cukup panjang. Ya, tentu saja ada keraguan yang menyelip di hati Tifa kala ia memikirkan hari esok.
Tapi yaah… apa pun yang terjadi besok, kamu jangan mati dulu. Kalau tidak, aku akan mengejarmu sampai ke alam baka.”
Ini baru namanya teman. Teman yang datang menghibur ketika kita sedang dalam masalah. Teman bukanlah orang yang datang menabur garam ketika kita terluka. Dan Tifa tak bisa menahan tawanya.
Cepatlah sehat dan selesaikan semua hutangmu itu.”
Hutang. Ya, hutangnya pada seseorang. Hutangnya pada orang banyak. Hutang yang datang dari masa lalu. Hana benar, ia belum boleh menyerah sekarang. Ia belum melunasi hutangnya.
“Aku tahu. Aku tidak akan pergi lagi… seperti dulu.
Dua kata terakhir terasa berat diucapkan oleh Tifa. Dua kata terakhir memang ikrar janji yang diteguhkan Tifa selama ini. Ikrar yang membawanya lepas dari bayang-bayang kelam masa lalu.
Tapi seperti yang dikatakan Tifa, Hana memang temannya yang paling baik. Wanita itu tak lagi membahas masalah yang sedang mereka hadapi, tapi langsung mengalihkan ke topik lain. Sepertinya Hana tahu persis, jika pembicaraan tadi diteruskan maka Tifa akan terbawa dalam stres-nya. Saat ini Tifa harus jauh-jauh dari stres bila ingin penyakitnya cepat sembuh.
Lagi-lagi tawa Tifa membahana. Cerita Hana mengenai peforma Dave ketika menghadiri rapat para petinggi yayasan membuat perutnya tergelitik hebat. Bisa-bisanya Dave melawa di tengah masalah yang sedang membelit mereka.
Sepertinya ini sudah sangat larut. Tidurlah! Sampai jumpa lagi.”
“Heh, sepertinya kamu tahu diri,” Tifa terkekeh. Tak lama dari itu sambungan telepon mereka terputus.
Kini Tifa berada dalam keheningannya lagi. Besok. Ya, besok. Dave sudah memberitahunya kalau mereka akan menjalankan rencana B. Itu artinya semua kelanjutan cerita ini berada di tangan Adrian dan Fi.
Ingin rasanya Tifa menahan kelopak matanya. Sayang, kebutuhan biologis ternyata lebih kuat. Akhirnya ia jatuh dalam lelapnya mimpi. Namun, ada harapan yang terucap untuk hari setelah sang surya menampakkan dirinya nanti.
‘Tolong, biarkan tirai panggung itu terbuka untukku lagi. Hanya sekali. Sekali ini saja.”


Author’s Note:
Kira-kira di ending Tifa bakalan bertahan atau nggak??? Hmm… Author juga masih lempar koin nih, hahaha

1 komentar:

  1. sukses ngakak di bagian ini
    “Tapi yaah… apa pun yang terjadi besok, kamu jangan mati dulu...."

    BalasHapus