Musikal 127
Hana menghempaskan
tubuhnya di sofa. Akhirnya pekerjaan di sekolah selesai. Sayangnya, masih
banyak pekerjaan lain yang menunggunya. Meski ia sudah sampai di rumah, tapi
pikirannya masih terkurung dalam ruangan kepala sekolah tadi.
Ia tak
pernah selelah ini sebelumnya. Bukan, bukan fisiknya yang lelah, tapi otaknya
yang lelah akibat memikirkan kelanjutan dari pementasan ini. Entah kenapa ia
merasa perjalanan pementasan ini justru akan semakin memburuk. Hana takut kalau
itu benar-benar terjadi. Namun, kata-kata Dave tadi juga ikut membayangi
benaknya.
‘Kita serahkan saja pada kedua pemeran utama
kita’
Benarkah
itu? Bisakah mereka? Seberapa besar efek yang akan ditimbulkan setelah
konferensi pers nanti? Berkali-kali Hana memikirkan kemungkinan yang akan
terjadi nanti.
Hanya
saja sekeras apa pun Hana memikirkan spekulasinya, hal itu tidak akan
berpengaruh langsung padanya. Ia lupa siapa yang akan menanggung semua akibat
dari peristiwa ini atau bisa dibilang yang akan merasakan langsung. Ya,
seseorang yang sekarang sedang terbaring di ranjang pesakitan.
Hana
melirik ponselnya, kemudian matanya beralih pada jam di dinding. Mungkin belum
terlalu larut untuk menelepon orang itu. Segera Hana pun menghubungi orang
tersebut.
“Halo?”
Hana
tersentak karena nada suara orang tersebut tidak terdengar seperti orang sakit,
“Ah, hei. Belum tidur?”
“Sebentar lagi. Pengaruh obatnya selalu
membuatku mual. Aku jadi susah tidur.”
Hana
menarik napas panjang. Ada jeda yang cukup lama sebelum ia melanjutkan percakapan.
“Bagaimana
keadaanmu?”
Kembali
hening.
“Tidak begitu baik kurasa. Terlalu banyak
masalah yang harus aku selesaikan sementara aku terbaring tak berdaya di sini.”
Hana
kembali menarik napas panjang, “Apa rencana B-mu itu akan berhasil?”
“Itu tergantung jawaban mereka besok.”
Hening
lagi.
“Tapi
yaah… apa pun yang terjadi besok, kamu jangan mati dulu. Kalau tidak, aku akan
mengejarmu sampai ke alam baka.”
Terdengar
tawa lepas dari ujung telepon. Hana tak bisa menahan senyumnya karena jika orang yang ada di ujung telepon
ini masih bisa tertawa berarti situasi masih terkendali.
“Cepatlah
sehat dan selesaikan semua hutangmu itu.”
“Aku tahu. Aku tidak akan pergi lagi… seperti
dulu.”
Seperti dulu.
Entah kenapa dua kata itu terdengar seperti alunan musik sedih saat Tifa
mengucapkannya dengan nada ragu. Hana buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Oh
ya, Tif. Kamu tahu bagaimana Dave menghadapi para petinggi itu? Ya ampun,
aku….”
ooOoo
Tifa baru bisa
berbaring tenang setelah kembali dari kamar kecil. Perutnya seakan tak mau
terisi apa pun. Meski hanya sedikit air, tapi perutnya terus menolak.
Ponselnya
berdering ketika ia mencoba memicingkan mata. Nama ‘Hana’ yang terpampang di
layar seperti memberi angin segar padanya.
“Halo?”
“Ah, hei. Belum tidur?”
Tifa
nyengir. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas dan dia sedang menelepon
orang sakit, tapi masih bertanya sudah tidur apa belum. Tifa merasa
teman-temannya sudah tak waras.
“Sebentar
lagi. Pengaruh obatnya selalu membuatku mual. Aku jadi susah tidur.”
Terdengar
helaan napas Hana disusul dengan kebisuan di antara pembicaraan mereka. Tifa
menduga Hana sedang berpikir-pikir tentang hal apa yang harus mereka bicarakan
tanpa menyinggung perasaannya.
“Bagaimana keadaanmu?”
Bagaimana
keadaannya, Tifa sendiri tidak tahu. Di satu sisi tubuhnya memaksa untuk
beristirahat, tapi di sisi lain semangatnya masih membara untuk melakukan
ini-itu.
“Tidak
begitu baik kurasa. Terlalu banyak masalah yang harus aku selesaikan sementara
aku terbaring tak berdaya di sini.”
“Apa rencana B-mu itu akan berhasil?”
“Itu
tergantung jawaban mereka besok.”
Nada
suaranya yang terdengar ragu membuat jeda yang cukup panjang. Ya, tentu saja
ada keraguan yang menyelip di hati Tifa kala ia memikirkan hari esok.
“Tapi yaah… apa pun yang terjadi besok, kamu
jangan mati dulu. Kalau tidak, aku akan mengejarmu sampai ke alam baka.”
Ini
baru namanya teman. Teman yang datang menghibur ketika kita sedang dalam
masalah. Teman bukanlah orang yang datang menabur garam ketika kita terluka.
Dan Tifa tak bisa menahan tawanya.
“Cepatlah sehat dan selesaikan semua hutangmu
itu.”
Hutang.
Ya, hutangnya pada seseorang. Hutangnya pada orang banyak. Hutang yang datang
dari masa lalu. Hana benar, ia belum boleh menyerah sekarang. Ia belum melunasi
hutangnya.
“Aku
tahu. Aku tidak akan pergi lagi… seperti dulu.”
Dua
kata terakhir terasa berat diucapkan oleh Tifa. Dua kata terakhir memang ikrar
janji yang diteguhkan Tifa selama ini. Ikrar yang membawanya lepas dari
bayang-bayang kelam masa lalu.
Tapi
seperti yang dikatakan Tifa, Hana memang temannya yang paling baik. Wanita itu
tak lagi membahas masalah yang sedang mereka hadapi, tapi langsung mengalihkan
ke topik lain. Sepertinya Hana tahu persis, jika pembicaraan tadi diteruskan
maka Tifa akan terbawa dalam stres-nya. Saat ini Tifa harus jauh-jauh dari
stres bila ingin penyakitnya cepat sembuh.
Lagi-lagi
tawa Tifa membahana. Cerita Hana mengenai peforma Dave ketika menghadiri rapat
para petinggi yayasan membuat perutnya tergelitik hebat. Bisa-bisanya Dave
melawa di tengah masalah yang sedang membelit mereka.
“Sepertinya ini sudah sangat larut. Tidurlah!
Sampai jumpa lagi.”
“Heh,
sepertinya kamu tahu diri,” Tifa terkekeh. Tak lama dari itu sambungan telepon
mereka terputus.
Kini
Tifa berada dalam keheningannya lagi. Besok. Ya, besok. Dave sudah
memberitahunya kalau mereka akan menjalankan rencana B. Itu artinya semua
kelanjutan cerita ini berada di tangan Adrian dan Fi.
Ingin
rasanya Tifa menahan kelopak matanya. Sayang, kebutuhan biologis ternyata lebih
kuat. Akhirnya ia jatuh dalam lelapnya mimpi. Namun, ada harapan yang terucap
untuk hari setelah sang surya menampakkan dirinya nanti.
‘Tolong, biarkan tirai panggung itu terbuka untukku
lagi. Hanya sekali. Sekali ini saja.”
Author’s
Note:
Kira-kira
di ending Tifa bakalan bertahan atau nggak??? Hmm… Author juga masih lempar
koin nih, hahaha
sukses ngakak di bagian ini
BalasHapus“Tapi yaah… apa pun yang terjadi besok, kamu jangan mati dulu...."