Musikal 126
Hana tak dapat
menahan tawanya ketika ia dan Dave berada dalam ruangan kepala sekolah. Hanya
ada mereka berdua, makanya Hana berani tertawa dengan mulut ternganga.
“Hah,
lihat’kan tadi? Lihat’kan?” Hana mencoba mengikuti gestur serta cara bicara
Dave ketika rapat tadi. “Apa tadi saya lupa menyebutkan soal ‘Blackwell Management’? Jika Bapak, Ibu
sekalian menelusuri di mesin pencari maka Anda sekalian tahu kalau saya adalah
direktur utamanya.”
Dave
ikut-ikutan tertawa.
“Aku
benar-benar mau ketawa sampai pingsan di sana tadi. Harusnya aku rekam
wajah-wajah sapi ompong mereka tadi. Rasakan, benar-benar rasakan!”
“Yaah,
sedikit sombong tak apalah,” Dave kembali menyilangkan kakinya. “Lumayan jadi shock therapy buat mereka.”
“Ahh,
benar-benar deh. Kamu buat lelucon super gila di tengah-tengah kerepotanku saat
ini.”
“Tapi
berguna toh?”
“Yap,
sangat berguna!” Hana mengacungkan jempolnya. “Tenang dan mengejutkan. Aku
pikir itu lebih berbahaya dari kegilaan Tifa.”
Dave
hanya tertawa lagi.
“Ngomong-ngomong,
apa yang akan kamu lakukan lagi?”
“Yaah,
melihat para petinggi masih meragukan kita, kupikir aku harus melanjutkan
rencana B yang sudah Tifa susun,” Dave melipat kedua tangannya di belakang
kepala. “Besok kami akan ada konferensi pers untuk meluruskan berita ini, tapi
Tifa hanya memberikan perintah improvisasi pada Adrian dan Fi.”
“Apa
cara ini akan berhasil?”
“Kita
serahkan saja pada kedua pemeran utama kita,” Dave kemudian beranjak. “Kalau
begitu aku permisi dulu. Banyak yang harus aku urus.”
“Kamu
mau ke rumah sakit?”
“Maunya
iya, tapi untuk sekarang tidak bisa. Lagi pula Tifa butuh istirahat. Baiklah,
Hana. Aku serahkan yang di sini padamu.”
Dave
menutup pintu perlahan. Ia tak langsung menuju tempat mobilnya terparkir. Ia
justru mengarahkan langkahnya ke gedung teater. Langkahnya tak terburu-buru.
Tampaknya Dave ingin menikmati suasana sore di sekolahnya dulu.
Gedung
itu tampak sepi. Padahal hari ini adalah jadwal mereka latihan dan seharusnya
gedung ini dipenuhi oleh semangat dari para anggota. Lagi-lagi gedung ini
tampak seperti pemandangan musim gugur yang kering.
Dave
mendesah panjang. Ia tak mau kejadian dulu terulang kembali. Semua rencana Tifa
dan harapan mereka semua tak boleh hilang begitu saja. Ia meraih ponsel di saku
dan mengetikkan sebuah pesan pendek.
[To : [Adrian] [ Fi] ]
[Persiapkan diri
kalian! Plan B must go on!]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar