Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Februari 2017

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 126)




Musikal 126

Hana tak dapat menahan tawanya ketika ia dan Dave berada dalam ruangan kepala sekolah. Hanya ada mereka berdua, makanya Hana berani tertawa dengan mulut ternganga.
“Hah, lihat’kan tadi? Lihat’kan?” Hana mencoba mengikuti gestur serta cara bicara Dave ketika rapat tadi. “Apa tadi saya lupa menyebutkan soal ‘Blackwell Management’? Jika Bapak, Ibu sekalian menelusuri di mesin pencari maka Anda sekalian tahu kalau saya adalah direktur utamanya.”
Dave ikut-ikutan tertawa.
“Aku benar-benar mau ketawa sampai pingsan di sana tadi. Harusnya aku rekam wajah-wajah sapi ompong mereka tadi. Rasakan, benar-benar rasakan!”
“Yaah, sedikit sombong tak apalah,” Dave kembali menyilangkan kakinya. “Lumayan jadi shock therapy buat mereka.”
“Ahh, benar-benar deh. Kamu buat lelucon super gila di tengah-tengah kerepotanku saat ini.”
“Tapi berguna toh?”
“Yap, sangat berguna!” Hana mengacungkan jempolnya. “Tenang dan mengejutkan. Aku pikir itu lebih berbahaya dari kegilaan Tifa.”
Dave hanya tertawa lagi.
“Ngomong-ngomong, apa yang akan kamu lakukan lagi?”
“Yaah, melihat para petinggi masih meragukan kita, kupikir aku harus melanjutkan rencana B yang sudah Tifa susun,” Dave melipat kedua tangannya di belakang kepala. “Besok kami akan ada konferensi pers untuk meluruskan berita ini, tapi Tifa hanya memberikan perintah improvisasi pada Adrian dan Fi.”
“Apa cara ini akan berhasil?”
“Kita serahkan saja pada kedua pemeran utama kita,” Dave kemudian beranjak. “Kalau begitu aku permisi dulu. Banyak yang harus aku urus.”
“Kamu mau ke rumah sakit?”
“Maunya iya, tapi untuk sekarang tidak bisa. Lagi pula Tifa butuh istirahat. Baiklah, Hana. Aku serahkan yang di sini padamu.”
Dave menutup pintu perlahan. Ia tak langsung menuju tempat mobilnya terparkir. Ia justru mengarahkan langkahnya ke gedung teater. Langkahnya tak terburu-buru. Tampaknya Dave ingin menikmati suasana sore di sekolahnya dulu.
Gedung itu tampak sepi. Padahal hari ini adalah jadwal mereka latihan dan seharusnya gedung ini dipenuhi oleh semangat dari para anggota. Lagi-lagi gedung ini tampak seperti pemandangan musim gugur yang kering.
Dave mendesah panjang. Ia tak mau kejadian dulu terulang kembali. Semua rencana Tifa dan harapan mereka semua tak boleh hilang begitu saja. Ia meraih ponsel di saku dan mengetikkan sebuah pesan pendek.
[To : [Adrian] [ Fi] ]
[Persiapkan diri kalian! Plan B must go on!]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar