Musikal 128
Jantung Fi berdegup
kencang. Kepalan tangannya bahkan lebih dingin dari sebongkah es. Sebentar lagi
konferensi pers akan dimulai dan ia sama sekali tidak diberikan teks untuk
diucapkan di depan wartawan.
Dan
yang lebih penting, ia belum ada kontak dengan Adrian. Lantas apa yang harus ia
ucapkan nanti?
Ia
menapakkan kakinya di lobi hotel. Sesuai perjanjian, mereka akan melakukan
konferensi pers di hotel tempat ia menginap. Ia masih menguasai dirinya saat ia
bertemu dengan Dave. Namun, ia langsung membatu begitu ia bertatap muka dengan
Adrian.
“Ha—hai,”
sapa Fi kaku. Kecanggungan semakin terasa karena Adrian hanya membalas dengan
anggukan saja.
“Oke,
kalian sudah siap?” ujar Dave seraya menepuk bahu keduanya.
Fi
menatap Adrian. Lelaki itu mengangguk lagi. Ia pun mengikuti anggukan Adrian.
“Dengar,
aku harap kalian sudah mengatur dengan bijak apa yang akan kalian katakan nanti
karena apa pun jawaban kalian akan menentukan kelanjutan pementasan ini.”
Adrian
dan Fi mengangguk lagi.
“Bagus.
Ayo, temui mereka!”
Dave
membimbing keduanya menuju tempat wartawan berkumpul. Kedatangan mereka
disambut dengan kilatan blitz kamera. Cahaya-cahaya itu begitu menyilaukan.
Begitu Fi duduk di kursinya, ia memejamkan mata seraya merapal mantra.
‘Aku seorang aktris. Aku seorang aktris. Aku pasti
bisa karena aku seorang aktris.’
“Selamat
pagi, rekan-rekan wartawan,” Dave memulai acara itu. “Terima kasih sudah
bersedia datang. Sekarang rekan-rekan dipersilakan untuk bertanya kepada Fi dan
juga Adrian.”
“Dari
Harian X. Kami ingin mendengar penjelasan tentang skandal video yang beredar
kemarin. Apakah itu sungguhan atau hanya settingan
belaka?”
Fi
membuka matanya tepat setelah pertanyaan itu selesai diucapkan oleh sang
wartawan. Di saat yang sama, Adrian tengah berdeham untuk melonggarkan
tenggorokannya. Sepertinya ia masih ragu jika jawabannya bisa memengaruhi
wartawan.
“Ya,
itu benar.”
Jawaban
Fi membuat semua wartawan memfokuskan diri padanya. Adrian hanya melirik Fi
sekilas. Ia juga terkejut dengan jawaban Fi, tapi ia tidak boleh menampakkan
ekspresinya.
“Jadi,
benar kalau kalian punya hubungan darah?”
“Bukannya
kalian baru saja mengumumkan tentang hubungan kalian sebagai sepasang kekasih?”
“Apa
ternyata kalian baru mengetahui kalau kalian adalah saudara kandung?”
“Ya,
maksud saya semua ini benar-benar di-setting
supaya terlihat seperti asli,” jawab Fi tenang. Namun, lagi-lagi jawabannya
mengundang banyak pertanyaan dari wartawan.
“Jadi,
ini setting-an atau memang
sungguhan?”
Fi
berdeham seraya membetulkan posisi duduknya, “Jadi begini, semuanya. Kita semua
tahu kalau pementasan ini dipimpin oleh seorang sutradara terkenal, Latifa
Kusuma Ningsih. Beliau bukan orang biasa yang mau membuat pertunjukkan yang
juga biasa-biasa saja. Untuk membuat sesuatu yang luar biasa, tentu beliau akan
menguji orang-orang yang terlibat di dalamnya.
“Dalam
ujian itu, kami—maksudnya, saya dan Adrian—mendapatkan tugas untuk benar-benar
menjiwai peran kami di atas panggung. Oleh karena itu, kami berdua berusaha
untuk berakting menjadi sepasang kekasih di luar panggung. Sepertinya pengakuan
Adrian tempo hari berhasil dipercayai oleh semua orang, termasuk rekan-rekan
sekalian.
“Dan
tentang skandal video, itu juga bagian dari ujian. Akting saya dan Adrian diuji
dengan cara demikian. Semua itu sudah diatur, bahkan Mama saya juga hadir di
sana agar rencana berjalan mulus. Kami diharuskan berakting seperti kakak-adik
yang terpisah, tapi dipertemukan sebagai sepasang kekasih.
“Semua
itu murni hanya ujian semata. Sayangnya, kami lupa memperkirakan kalau tempat
yang kami pilih terlalu banyak orang dan ternyata ada orang jahil yang merekam
semua itu. Orang itu juga dengan baik hatinya menyebarkan di media sosial
sehingga muncullah kehebohan seperti ini.
“Untuk
itu kami menggelar konferensi pers hari ini. Kami hanya ingin meluruskan stigma
miring tentang pementasan kami. Kami tidak ingin pementasan ini jadi gagal
hanya karena perbuatan seseorang yang tidak bertanggung jawab. Kami juga ingin
menyampaikan permintaan maaf karena telah menimbulkan kehebohan seperti ini.”
Dave
tertegun. Jawaban yang sempurna, ekspresi yang tenang, serta sikap yang sangat
wajar. Dave benar-benar angkat topi untuk gadis itu. Ia memang pantas
mendapatkan peran utama. Tidak. Ia justru tidak lagi pantas di panggung sekecil
ini. Broadway adalah tempat terbaik untuknya.
Dave
mengalihkan pandangannya pada Adrian. Pemuda itu juga masih dengan sikap
tenangnya. Sungguh, padahal mereka berdualah yang ada dalam kumparan masalah
itu. Namun, semuanya seolah-olah hanya sandiwara. Hanya sandiwara. Begitu tirai
ditutup, mereka bubar jalan.
“Lalu
bagaimana sebenarnya hubungan kalian berdua?”
“Kami
hanya rekan satu panggung.”
Giliran
Fi yang melirik Adrian. Kali ini ialah yang harus menyembunyikan rasa kecewanya
atas jawaban Adrian.
ooOoo
“Kerja bagus, anak-anak!”
Konferensi
pers telah selesai. Selanjutnya mereka tinggal menunggu kelanjutan berita yang
akan tersebar. Namun, Dave yakin kalau semua akan berjalan kembali seperti
sebelumnya berkat jawaban Fi yang sangat bijak. Ia kembali memberikan tepukan
di bahu keduanya.
“Kalian
bisa istirahat sebentar. Aku ada urusan di bawah. Kalian tetap di kamar saja
dan setelah itu kita akan pergi ke tempat Fi.”
Sepeninggal
Dave, ternyata keadaan justru kembali memanas. Tiba-tiba saja Adrian memutar
bahu Fi dengan kasar. Andai saja Fi tidak berpegangan pada kepala kursi, ia
pasti sudah terpelanting.
“Apa-apaan
kamu!”
“Kamu
yang apa-apan?” bentak Adrian. Fi langsung membungkam mulutnya. Ia menatap
Adrian nanar. Pemuda itu tak pernah sekasar itu padanya.
“Apa
maksudmu hanya settingan? Jadi,
maksudmu hubungan kita hanya sebatas pendongkrak popularitas?”
“Ap—astaga…”
Fi meremas rambutnya. “Adrian, aku baru saja menyelamatkan nama baik semua
orang. Kamu pikir aku punya ide lain supaya masalah ini selesai? Lagi pula
siapa yang bilang hubungan kita hanya sebatas rekan di atas panggung?”
“Hoo,
jadi kamu mau menyalahkan aku?”
Mulut
Fi ternganga. Ia tak menyangka Adrian akan salah paham sampai sejauh ini.
Tidakkah pemuda ini seharusnya berterima kasih karena nama baiknya, tantenya,
bahkan pementasan mereka terselamatkan oleh akting Fi yang sempurna? Lantas
kenapa fakta ini diputarbalikkan dan membuat Fi sebagai tersangka?
“Aku
serius padamu, Fi. Kenapa kamu harus berkata demikian?”
“Aku
hanya terpaksa, Adrian. Kamu pikir aku mempermaikan perasaanmu selama ini?”
Adrian
memejamkan matanya. Ketika kelopak indah itu terbuka, sorot matanya berubah
tajam.
“Kamu
benar-benar pantas menjadi anaknya. Ibu dan anak sama-sama perusak hubungan?”
Fi
terkesiap. Ia tak terima dikatakan demikian.
“Jangan
bawa-bawa Mamaku. Kamu tahu apa tentang kejadian sebenarnya?”
“Aku
sangat tahu,” suara Adrian memelan, tapi dengan nada menusuk. “Hanya kamu yang
tidak tahu bagaimana runtuhnya keluargaku ketika menemukan ibuku tewas di tergantung
di kamar. Aku tahu dan kamu yang tidak tahu.”
“Ya,
aku tidak tahu. Mamaku juga tidak tahu. Dia tidak tahu kalau dia menikah dengan
laki-laki yang salah!”
Saat
Fi balas menyentaknya, Adrian hampir saja mendaratkan sebuah tamparan di wajah
gadis itu. Namun, terlalu banyak malaikat yang mencegah itu terjadi. Sehingga
tangannya yang terkepal gemetar menahan amarah.
“Baiklah,
baiklah, kalau itu memang versimu. Kamu memang tidak pernah bersalah, Fi.
Teruslah seperti itu, maka semua dunia akan menjadi milikmu.”
Adrian
mendesah panjang.
“Ternyata
kita memang lebih baik jadi rekan sepanggung. Bukan saudara, juga bukan
kekasih.”
Adrian
melangkah keluar dengan membawa semua perasaan kecewanya. Sulit untuk memasang
wajah baik-baik saja sehingga langkah kakinya berpacu lebih cepat. Mungkin
semakin cepat ia pergi, semakin cepat pula perasaan sakit itu hilang.
Kaki
Fi sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya. Tangannya masih memegang kepala
kursi, tapi badannya terlanjur merosot ke lantai. Sama seperti Adrian, sulit rasanya
menahan lelehan cairan asin yang sudah memenuhi kantung matanya. Sekali lagi ia
menangis. Menangisi cintanya yang telah kandas.
Kali
ini tak ada jalan untuk kembali.
adrian gak ada hak buat marah =,=
BalasHapusdia sendiri yang gak ada komunikasi sebelum nya
dan fi ekting nya terlalu bagus sampe bisa setenang itu =,=