Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Februari 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 128)




Musikal 128

Jantung Fi berdegup kencang. Kepalan tangannya bahkan lebih dingin dari sebongkah es. Sebentar lagi konferensi pers akan dimulai dan ia sama sekali tidak diberikan teks untuk diucapkan di depan wartawan.
Dan yang lebih penting, ia belum ada kontak dengan Adrian. Lantas apa yang harus ia ucapkan nanti?
Ia menapakkan kakinya di lobi hotel. Sesuai perjanjian, mereka akan melakukan konferensi pers di hotel tempat ia menginap. Ia masih menguasai dirinya saat ia bertemu dengan Dave. Namun, ia langsung membatu begitu ia bertatap muka dengan Adrian.
“Ha—hai,” sapa Fi kaku. Kecanggungan semakin terasa karena Adrian hanya membalas dengan anggukan saja.
“Oke, kalian sudah siap?” ujar Dave seraya menepuk bahu keduanya.
Fi menatap Adrian. Lelaki itu mengangguk lagi. Ia pun mengikuti anggukan Adrian.
“Dengar, aku harap kalian sudah mengatur dengan bijak apa yang akan kalian katakan nanti karena apa pun jawaban kalian akan menentukan kelanjutan pementasan ini.”
Adrian dan Fi mengangguk lagi.
“Bagus. Ayo, temui mereka!”
Dave membimbing keduanya menuju tempat wartawan berkumpul. Kedatangan mereka disambut dengan kilatan blitz kamera. Cahaya-cahaya itu begitu menyilaukan. Begitu Fi duduk di kursinya, ia memejamkan mata seraya merapal mantra.
‘Aku seorang aktris. Aku seorang aktris. Aku pasti bisa karena aku seorang aktris.’
“Selamat pagi, rekan-rekan wartawan,” Dave memulai acara itu. “Terima kasih sudah bersedia datang. Sekarang rekan-rekan dipersilakan untuk bertanya kepada Fi dan juga Adrian.”
“Dari Harian X. Kami ingin mendengar penjelasan tentang skandal video yang beredar kemarin. Apakah itu sungguhan atau hanya settingan belaka?”
Fi membuka matanya tepat setelah pertanyaan itu selesai diucapkan oleh sang wartawan. Di saat yang sama, Adrian tengah berdeham untuk melonggarkan tenggorokannya. Sepertinya ia masih ragu jika jawabannya bisa memengaruhi wartawan.
“Ya, itu benar.”
Jawaban Fi membuat semua wartawan memfokuskan diri padanya. Adrian hanya melirik Fi sekilas. Ia juga terkejut dengan jawaban Fi, tapi ia tidak boleh menampakkan ekspresinya.
“Jadi, benar kalau kalian punya hubungan darah?”
“Bukannya kalian baru saja mengumumkan tentang hubungan kalian sebagai sepasang kekasih?”
“Apa ternyata kalian baru mengetahui kalau kalian adalah saudara kandung?”
“Ya, maksud saya semua ini benar-benar di-setting supaya terlihat seperti asli,” jawab Fi tenang. Namun, lagi-lagi jawabannya mengundang banyak pertanyaan dari wartawan.
“Jadi, ini setting-an atau memang sungguhan?”
Fi berdeham seraya membetulkan posisi duduknya, “Jadi begini, semuanya. Kita semua tahu kalau pementasan ini dipimpin oleh seorang sutradara terkenal, Latifa Kusuma Ningsih. Beliau bukan orang biasa yang mau membuat pertunjukkan yang juga biasa-biasa saja. Untuk membuat sesuatu yang luar biasa, tentu beliau akan menguji orang-orang yang terlibat di dalamnya.
“Dalam ujian itu, kami—maksudnya, saya dan Adrian—mendapatkan tugas untuk benar-benar menjiwai peran kami di atas panggung. Oleh karena itu, kami berdua berusaha untuk berakting menjadi sepasang kekasih di luar panggung. Sepertinya pengakuan Adrian tempo hari berhasil dipercayai oleh semua orang, termasuk rekan-rekan sekalian.
“Dan tentang skandal video, itu juga bagian dari ujian. Akting saya dan Adrian diuji dengan cara demikian. Semua itu sudah diatur, bahkan Mama saya juga hadir di sana agar rencana berjalan mulus. Kami diharuskan berakting seperti kakak-adik yang terpisah, tapi dipertemukan sebagai sepasang kekasih.
“Semua itu murni hanya ujian semata. Sayangnya, kami lupa memperkirakan kalau tempat yang kami pilih terlalu banyak orang dan ternyata ada orang jahil yang merekam semua itu. Orang itu juga dengan baik hatinya menyebarkan di media sosial sehingga muncullah kehebohan seperti ini.
“Untuk itu kami menggelar konferensi pers hari ini. Kami hanya ingin meluruskan stigma miring tentang pementasan kami. Kami tidak ingin pementasan ini jadi gagal hanya karena perbuatan seseorang yang tidak bertanggung jawab. Kami juga ingin menyampaikan permintaan maaf karena telah menimbulkan kehebohan seperti ini.”
Dave tertegun. Jawaban yang sempurna, ekspresi yang tenang, serta sikap yang sangat wajar. Dave benar-benar angkat topi untuk gadis itu. Ia memang pantas mendapatkan peran utama. Tidak. Ia justru tidak lagi pantas di panggung sekecil ini. Broadway adalah tempat terbaik untuknya.
Dave mengalihkan pandangannya pada Adrian. Pemuda itu juga masih dengan sikap tenangnya. Sungguh, padahal mereka berdualah yang ada dalam kumparan masalah itu. Namun, semuanya seolah-olah hanya sandiwara. Hanya sandiwara. Begitu tirai ditutup, mereka bubar jalan.
“Lalu bagaimana sebenarnya hubungan kalian berdua?”
“Kami hanya rekan satu panggung.”
Giliran Fi yang melirik Adrian. Kali ini ialah yang harus menyembunyikan rasa kecewanya atas jawaban Adrian.
ooOoo
“Kerja bagus, anak-anak!”
Konferensi pers telah selesai. Selanjutnya mereka tinggal menunggu kelanjutan berita yang akan tersebar. Namun, Dave yakin kalau semua akan berjalan kembali seperti sebelumnya berkat jawaban Fi yang sangat bijak. Ia kembali memberikan tepukan di bahu keduanya.
“Kalian bisa istirahat sebentar. Aku ada urusan di bawah. Kalian tetap di kamar saja dan setelah itu kita akan pergi ke tempat Fi.”
Sepeninggal Dave, ternyata keadaan justru kembali memanas. Tiba-tiba saja Adrian memutar bahu Fi dengan kasar. Andai saja Fi tidak berpegangan pada kepala kursi, ia pasti sudah terpelanting.
“Apa-apaan kamu!”
“Kamu yang apa-apan?” bentak Adrian. Fi langsung membungkam mulutnya. Ia menatap Adrian nanar. Pemuda itu tak pernah sekasar itu padanya.
“Apa maksudmu hanya settingan? Jadi, maksudmu hubungan kita hanya sebatas pendongkrak popularitas?”
“Ap—astaga…” Fi meremas rambutnya. “Adrian, aku baru saja menyelamatkan nama baik semua orang. Kamu pikir aku punya ide lain supaya masalah ini selesai? Lagi pula siapa yang bilang hubungan kita hanya sebatas rekan di atas panggung?”
“Hoo, jadi kamu mau menyalahkan aku?”
Mulut Fi ternganga. Ia tak menyangka Adrian akan salah paham sampai sejauh ini. Tidakkah pemuda ini seharusnya berterima kasih karena nama baiknya, tantenya, bahkan pementasan mereka terselamatkan oleh akting Fi yang sempurna? Lantas kenapa fakta ini diputarbalikkan dan membuat Fi sebagai tersangka?
“Aku serius padamu, Fi. Kenapa kamu harus berkata demikian?”
“Aku hanya terpaksa, Adrian. Kamu pikir aku mempermaikan perasaanmu selama ini?”
Adrian memejamkan matanya. Ketika kelopak indah itu terbuka, sorot matanya berubah tajam.
“Kamu benar-benar pantas menjadi anaknya. Ibu dan anak sama-sama perusak hubungan?”
Fi terkesiap. Ia tak terima dikatakan demikian.
“Jangan bawa-bawa Mamaku. Kamu tahu apa tentang kejadian sebenarnya?”
“Aku sangat tahu,” suara Adrian memelan, tapi dengan nada menusuk. “Hanya kamu yang tidak tahu bagaimana runtuhnya keluargaku ketika menemukan ibuku tewas di tergantung di kamar. Aku tahu dan kamu yang tidak tahu.”
“Ya, aku tidak tahu. Mamaku juga tidak tahu. Dia tidak tahu kalau dia menikah dengan laki-laki yang salah!”
Saat Fi balas menyentaknya, Adrian hampir saja mendaratkan sebuah tamparan di wajah gadis itu. Namun, terlalu banyak malaikat yang mencegah itu terjadi. Sehingga tangannya yang terkepal gemetar menahan amarah.
“Baiklah, baiklah, kalau itu memang versimu. Kamu memang tidak pernah bersalah, Fi. Teruslah seperti itu, maka semua dunia akan menjadi milikmu.”
Adrian mendesah panjang.
“Ternyata kita memang lebih baik jadi rekan sepanggung. Bukan saudara, juga bukan kekasih.”
Adrian melangkah keluar dengan membawa semua perasaan kecewanya. Sulit untuk memasang wajah baik-baik saja sehingga langkah kakinya berpacu lebih cepat. Mungkin semakin cepat ia pergi, semakin cepat pula perasaan sakit itu hilang.
Kaki Fi sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya. Tangannya masih memegang kepala kursi, tapi badannya terlanjur merosot ke lantai. Sama seperti Adrian, sulit rasanya menahan lelehan cairan asin yang sudah memenuhi kantung matanya. Sekali lagi ia menangis. Menangisi cintanya yang telah kandas.
Kali ini tak ada jalan untuk kembali.

1 komentar:

  1. adrian gak ada hak buat marah =,=
    dia sendiri yang gak ada komunikasi sebelum nya
    dan fi ekting nya terlalu bagus sampe bisa setenang itu =,=

    BalasHapus