Musikal 153
Dave baru saja kembali dari rumah. Isi tasnya penuh
dengan baju bersih dan beberapa perlengkapan menginap. Bahkan ada beberapa
barang pesanan Tifa. Ia akan menginap tiga malam di rumah sakit menggantikan
July.
“Oh, kamu sudah
datang, Dave?” ujar July sambil menaruh majalah di atas meja. “Cepat betul. Tante
kira kamu akan datang nanti malam.”
“Supaya Tante bisa
istirahat lebih cepat,” jawab Dave. “Mau kupanggilkan taksi?”
“Tidak usah. Tante
bisa sendiri. Titip Tifa ya.”
Dave mengangguk. Ia
lalu mengantar July sampai ke depan pintu. Tiba-tiba saja July menggenggam
tangannya sangat erat.
“Tante bersyukur ada
kamu di sini. Terima kasih.”
Dave membalas
genggaman July seraya tersenyum hangat, “Aku yang seharusnya senang bisa
mendampingin Tifa di saat seperti ini. Terima kasih sudah mempercayakanku.”
“Rasanya kalau dia
sudah sehat nanti ingin Tante kawinkan kalian berdua. Sayang, Tante sudah
berjanji untuk membebaskannya dari pernikahan.”
Dave terkekeh, “Itu
urusan lain. Akan kubuat dia bertekuk lutut padaku nanti.”
July tersenyum lalu
ia pamit. Setelah menutup pintu Dave duduk ke sisi Tifa. Dave menumpukan dagu
pada kepalan tangannya, sedangkan matanya seperti tak bosan memandangi wajah
tenang Tifa ketika tidur.
“Kalau udah tidur aja
kayak bidadari,” ujar Dave dengan nada mengeluh. “Coba kalau udah bangun…”
“Kalau udah bangun
kenapa?”
Dave terlonjak. Ia
tak menyangka kalau Tifa mendengar semua perkataannya.
“Jadi, kamu pura-pura
tidur? Sejak kapan kamu bangun?”
“Sejak kalian
berisik,” ujar Tifa. “Jadi, kenapa kalau aku sudah bangun? Kamu gak suka kalau
aku udah bangkit kembali?”
Dave terkekeh, tapi
ia tak berniat menjawab.
“Ditanya malah gak
jawab,” gerutu Tifa. “Terus sekarang kamu yang mau nunggu aku? Ibu sudah
pulang?”
“Bukannya kamu tadi
dengar semua?” Dave balik bertanya.
Bibir Tifa kembali
mengekerut. Ia mencoba menegakkan badannya. Spontan Dave menghampiri wanita
itu.
“Cuma mau ke kamar
mandi kok,” kilah Tifa.
“Ya, pelan-pelan atuh.”
Ketika Tifa berhasil
duduk, di detik itu pula helaian rambutnya berguguran hingga membuat bantalnya
penuh dengan rambut. Entah kenapa baik Tifa maupun Dave sama-sama bergeming.
Dave bisa menangkap kesedihan yang tersirat di mata Tifa ketika gadis itu
memandangi rambutnya yang rontok.
“Nanti kalau sudah
pulang, kita potong saja ya,” Dave tersenyum menenangkan. “Jadi’kan ke kamar mandinya?”
Tifa mengangguk
pelan. Ia pun memalingkan wajahnya dari bantal dan segera menuju kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, buru-buru Dave membersihkan bantal Tifa. Ia
tak mau wanitanya itu kembali bersedih.
Namun Dave tidak tahu
apa yang sebenarnya dilakukan Tifa di dalam kubikel itu. Alih-alih buang air,
ia justru memandangi tubuhnya di depan kaca wastafel. Banyak perubahan yang
terjadi pada tubuhnya. Kulitnya terasa kering bahkan ia bisa memperkirakan
kalau massa tubuhnya juga ikut menyusut. Sekali lagi ia menyisir rambut dengan
jemarinya. Seketika ratusan helai rambutnya terjun menuju gravitasi.
Hatinya sesak. Ia
sudah tak sanggup menahan semua rasa sakit. Tangannya bergetar saat menggenggam
pinggiran wastafel. Matanya mulai terasa pedih dan meluncurkan cairan asin di
kedua belah pipinya.
‘Kenapa sekarang? Sedikit saja. Aku hanya perlu waktu
sedikit saja, tapi kumohon jangan sekarang…’
“Tif, masih lama?”
Terdengar gedoran
pintu, tapi Tifa masih terisak. Ketukkan pintu semakin kuat.
“Tif, jawab! Kamu
baik-baik aja’kan?”
Tifa buru-buru
menghapus air matanya lalu membuka pintu. Ia tahu meski skuat tenaga ia
menyembunyikan tangisnya, Dave pasti akan mengetahuinya. Ia juga tahu Dave akan
panik seperti sekarang.
“Tif, ka—kamu…”
“Secara fisik aku
baik-baik saja, tapi tidak perasaanku saat ini. Jadi, tolong jangan tanya
lagi.”
Dave menghela napas
panjang. Ia menggenggam lembut kedua bahu Tifa.
“Ada yang bisa
kubantu?”
“Bisa bawa aku ke
tempat yang tenang?”
Dave berpikir cepat
untuk mencari tempat yang dimaksud Tifa. Mumpung masih sore, ia pikir dokter
tidak akan melarangnya.
“Tunggu sebentar,”
Dave melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya pada Tifa. “Mau pakai
kursi roda.”
Tifa hanya
mengangguk. Seperti gerakan kilat, Dave langsung membuat Tifa duduk di kursi
roda. Mereka meninggalkan kamar sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan perawat.
Dave mengajak Tifa
menikmati angin sore di atap rumah sakit. Untungnya Dave tahu lift mana yang
menuju tempat itu. Ia berharap perasaan Tifa sedikit berubah. Namun dari air
mukanya, wanita itu tetap digenangi kesedihan.
“Aku bisa sendiri,”
ujarnya saat mencoba mendekati pagar pembatas.
Semilir angin yang
sejuk menemani mereka. Sapuannya menyentuh pipi Tifa yang mulai dibanjiri air
mata. Pertama kalinya bagi Dave melihat Tifa menangis setelah 13 tahun lamanya.
“Aku akan selalu ada
ketika kamu butuh aku, Tif,” ujar Dave sambil menggenggam jemari Tifa.
“Tiba-tiba aku takut
mati, Dave.”
“Tidak! Kamu jangan
bilang seperti itu! Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu cuma sakit
bukannya mau mati?”
“Aku tahu!” isaknya.
“Tapi memikirkan semua yang belum terselesaikan membuatku semakin sakit. Kenapa
hidupku tidak adil seperti ini? Bukan maksudku memperparah keadaan, tapi kenapa
semua kesalahan seolah berasal dariku?”
Dave menarik Tifa ke
dalam pelukannya. Ia tak peduli dengan Tifa yang terkejut karena sudah di dalam
dekapannya.
“Juga tidak adil
padaku, Tif. Kenapa Tuhan tidak membagi sedikit saja beban itu padaku? Aku ada
di sini, tapi aku tidak bisa membantu. Bukankah aku yang terlihat paling
bodoh?”
Tangis Tifa semakin
kencang. Tiga belas tahun ia menyembunyikan rasa sakitnya dan akhirnya tumpah
dalam dekapan lelaki itu. Tifa mengeratkan jemarinya pada punggung lelaki itu.
Jangan, jangan sampai lelaki ini juga harus menanggung bebannya bahkan sedikit
pun.
“Kita berjuang
bersama, ya?” ujar Dave dengan suara parau menahan tangis.
Tifa mengangguk
pelan. Dave membelai pelan pucuk kepala gadis itu dan mendarat kecupan kecil di
sana.
Tepat di saat mentari
menyingsing, pandangan keduanya saling beradu. Dave mendaratkan kecupan lagi
pada mata kanannya, sedangkan ibu jari lelaki itu mengusap air mata di mata
kirinya. Suasana terasa semakin hangat dan mereka sama-sama tak mau melepaskan
momen itu meski hanya sedetik.
Akhirnya setelah 13
tahun menunggu, untuk pertama kalinya kedua bibir itu kembali saling menyentuh.
Dave memperdalam ciumannya dan Tifa membalasnya penuh gairah. Semakin panas
saat jemari Tifa meremas helaian rambut Dave. Lelaki itu seolah mendaratkan kerinduannya
bertubi-bertubi di bibir Tifa.
“Aku mencintaimu.”
Dua kata itu menjadi penutup
ciuman panas tersebut. Dave membisikkan dengan nada yang sangat rendah dan penuh
harap. Namun Tifa tak mampu membalasnya. Ia hanya menatap Dave dengan air mata yang
kembali mengalir dan kembali memeluk pria itu.
‘Andai aku bisa mencintaimu kembali….’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar