Total Tayangan Halaman

Minggu, 07 Mei 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 153)




Musikal 153

Dave baru saja kembali dari rumah. Isi tasnya penuh dengan baju bersih dan beberapa perlengkapan menginap. Bahkan ada beberapa barang pesanan Tifa. Ia akan menginap tiga malam di rumah sakit menggantikan July.
“Oh, kamu sudah datang, Dave?” ujar July sambil menaruh majalah di atas meja. “Cepat betul. Tante kira kamu akan datang nanti malam.”
“Supaya Tante bisa istirahat lebih cepat,” jawab Dave. “Mau kupanggilkan taksi?”
“Tidak usah. Tante bisa sendiri. Titip Tifa ya.”
Dave mengangguk. Ia lalu mengantar July sampai ke depan pintu. Tiba-tiba saja July menggenggam tangannya sangat erat.
“Tante bersyukur ada kamu di sini. Terima kasih.”
Dave membalas genggaman July seraya tersenyum hangat, “Aku yang seharusnya senang bisa mendampingin Tifa di saat seperti ini. Terima kasih sudah mempercayakanku.”
“Rasanya kalau dia sudah sehat nanti ingin Tante kawinkan kalian berdua. Sayang, Tante sudah berjanji untuk membebaskannya dari pernikahan.”
Dave terkekeh, “Itu urusan lain. Akan kubuat dia bertekuk lutut padaku nanti.”
July tersenyum lalu ia pamit. Setelah menutup pintu Dave duduk ke sisi Tifa. Dave menumpukan dagu pada kepalan tangannya, sedangkan matanya seperti tak bosan memandangi wajah tenang Tifa ketika tidur.
“Kalau udah tidur aja kayak bidadari,” ujar Dave dengan nada mengeluh. “Coba kalau udah bangun…”
“Kalau udah bangun kenapa?”
Dave terlonjak. Ia tak menyangka kalau Tifa mendengar semua perkataannya.
“Jadi, kamu pura-pura tidur? Sejak kapan kamu bangun?”
“Sejak kalian berisik,” ujar Tifa. “Jadi, kenapa kalau aku sudah bangun? Kamu gak suka kalau aku udah bangkit kembali?”
Dave terkekeh, tapi ia tak berniat menjawab.
“Ditanya malah gak jawab,” gerutu Tifa. “Terus sekarang kamu yang mau nunggu aku? Ibu sudah pulang?”
“Bukannya kamu tadi dengar semua?” Dave balik bertanya.
Bibir Tifa kembali mengekerut. Ia mencoba menegakkan badannya. Spontan Dave menghampiri wanita itu.
“Cuma mau ke kamar mandi kok,” kilah Tifa.
“Ya, pelan-pelan atuh.”
Ketika Tifa berhasil duduk, di detik itu pula helaian rambutnya berguguran hingga membuat bantalnya penuh dengan rambut. Entah kenapa baik Tifa maupun Dave sama-sama bergeming. Dave bisa menangkap kesedihan yang tersirat di mata Tifa ketika gadis itu memandangi rambutnya yang rontok.
“Nanti kalau sudah pulang, kita potong saja ya,” Dave tersenyum menenangkan. “Jadi’kan ke kamar mandinya?”
Tifa mengangguk pelan. Ia pun memalingkan wajahnya dari bantal dan segera menuju kamar mandi. Begitu pintu kamar mandi tertutup, buru-buru Dave membersihkan bantal Tifa. Ia tak mau wanitanya itu kembali bersedih.
Namun Dave tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Tifa di dalam kubikel itu. Alih-alih buang air, ia justru memandangi tubuhnya di depan kaca wastafel. Banyak perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Kulitnya terasa kering bahkan ia bisa memperkirakan kalau massa tubuhnya juga ikut menyusut. Sekali lagi ia menyisir rambut dengan jemarinya. Seketika ratusan helai rambutnya terjun menuju gravitasi.
Hatinya sesak. Ia sudah tak sanggup menahan semua rasa sakit. Tangannya bergetar saat menggenggam pinggiran wastafel. Matanya mulai terasa pedih dan meluncurkan cairan asin di kedua belah pipinya.
‘Kenapa sekarang? Sedikit saja. Aku hanya perlu waktu sedikit saja, tapi kumohon jangan sekarang…’
“Tif, masih lama?”
Terdengar gedoran pintu, tapi Tifa masih terisak. Ketukkan pintu semakin kuat.
“Tif, jawab! Kamu baik-baik aja’kan?”
Tifa buru-buru menghapus air matanya lalu membuka pintu. Ia tahu meski skuat tenaga ia menyembunyikan tangisnya, Dave pasti akan mengetahuinya. Ia juga tahu Dave akan panik seperti sekarang.
“Tif, ka—kamu…”
“Secara fisik aku baik-baik saja, tapi tidak perasaanku saat ini. Jadi, tolong jangan tanya lagi.”
Dave menghela napas panjang. Ia menggenggam lembut kedua bahu Tifa.
“Ada yang bisa kubantu?”
“Bisa bawa aku ke tempat yang tenang?”
Dave berpikir cepat untuk mencari tempat yang dimaksud Tifa. Mumpung masih sore, ia pikir dokter tidak akan melarangnya.
“Tunggu sebentar,” Dave melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya pada Tifa. “Mau pakai kursi roda.”
Tifa hanya mengangguk. Seperti gerakan kilat, Dave langsung membuat Tifa duduk di kursi roda. Mereka meninggalkan kamar sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan perawat.
Dave mengajak Tifa menikmati angin sore di atap rumah sakit. Untungnya Dave tahu lift mana yang menuju tempat itu. Ia berharap perasaan Tifa sedikit berubah. Namun dari air mukanya, wanita itu tetap digenangi kesedihan.
“Aku bisa sendiri,” ujarnya saat mencoba mendekati pagar pembatas.
Semilir angin yang sejuk menemani mereka. Sapuannya menyentuh pipi Tifa yang mulai dibanjiri air mata. Pertama kalinya bagi Dave melihat Tifa menangis setelah 13 tahun lamanya.
“Aku akan selalu ada ketika kamu butuh aku, Tif,” ujar Dave sambil menggenggam jemari Tifa.
“Tiba-tiba aku takut mati, Dave.”
“Tidak! Kamu jangan bilang seperti itu! Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu cuma sakit bukannya mau mati?”
“Aku tahu!” isaknya. “Tapi memikirkan semua yang belum terselesaikan membuatku semakin sakit. Kenapa hidupku tidak adil seperti ini? Bukan maksudku memperparah keadaan, tapi kenapa semua kesalahan seolah berasal dariku?”
Dave menarik Tifa ke dalam pelukannya. Ia tak peduli dengan Tifa yang terkejut karena sudah di dalam dekapannya.
“Juga tidak adil padaku, Tif. Kenapa Tuhan tidak membagi sedikit saja beban itu padaku? Aku ada di sini, tapi aku tidak bisa membantu. Bukankah aku yang terlihat paling bodoh?”
Tangis Tifa semakin kencang. Tiga belas tahun ia menyembunyikan rasa sakitnya dan akhirnya tumpah dalam dekapan lelaki itu. Tifa mengeratkan jemarinya pada punggung lelaki itu. Jangan, jangan sampai lelaki ini juga harus menanggung bebannya bahkan sedikit pun.
“Kita berjuang bersama, ya?” ujar Dave dengan suara parau menahan tangis.
Tifa mengangguk pelan. Dave membelai pelan pucuk kepala gadis itu dan mendarat kecupan kecil di sana.
Tepat di saat mentari menyingsing, pandangan keduanya saling beradu. Dave mendaratkan kecupan lagi pada mata kanannya, sedangkan ibu jari lelaki itu mengusap air mata di mata kirinya. Suasana terasa semakin hangat dan mereka sama-sama tak mau melepaskan momen itu meski hanya sedetik.
Akhirnya setelah 13 tahun menunggu, untuk pertama kalinya kedua bibir itu kembali saling menyentuh. Dave memperdalam ciumannya dan Tifa membalasnya penuh gairah. Semakin panas saat jemari Tifa meremas helaian rambut Dave. Lelaki itu seolah mendaratkan kerinduannya bertubi-bertubi di bibir Tifa.
“Aku mencintaimu.”
Dua kata itu menjadi penutup ciuman panas tersebut. Dave membisikkan dengan nada yang sangat rendah dan penuh harap. Namun Tifa tak mampu membalasnya. Ia hanya menatap Dave dengan air mata yang kembali mengalir dan kembali memeluk pria itu.
‘Andai aku bisa mencintaimu kembali….’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar