Total Tayangan Halaman

Minggu, 07 Mei 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 152)




Musikal 152

“Tumben kamu diam aja, Ri? Lagi ada masalah?”
Riani tersentak mendengar suara Gloria. Ia bahkan tak menyadari kalau sedari tadi ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Cepat-cepat ia memasang senyum manisnya untuk menghilangkan kecurigaan.
“Gak apa-apa kok.”
Ketiganya pun sampai ke kamar Tifa. Ketika Hana mendorong pintu, pemandangan yang tak biasa pun terpampang di hadapan mereka.
Tubuh Tifa mengejang hebat. Disertai suara teriakan penuh kesakitan. Dave dan beberapa perawat berusaha memegangi tubuhnya. Tak lama kemudian ia memuntahkan isi perutnya dan setelah itu ia baru terlihat tenang. Tidak, lebih tepatnya Tifa justru lemas tak berdaya.
Ketiga temannya ini hanya bisa mematung melihat kondisi Tifa. Apa yang terjadi ternyata jauh melebihi ekspretasi mereka. Sosok Tifa yang mereka lihat barusan sangat mengerikan; tidak seperti yang selama ini mereka kenal.
“Oh, kalian datang berkunjung?”
Ketiganya terlonjak kaget ketika July muncul dari belakang. Melihat senyum July yang hangat, mereka segera mengubah ekspresi terkejut dengan senyuman.
“Kita menunggu di luar saja. Biar para perawat mengurusi ini semua.”
Mereka mengikuti July keluar. Memang sepertinya lebih baik menunggu di luar daripada harus menyaksikan kembali sesuatu yang pedih itu.
 “Maaf ya, kalian pasti terkejut melihat yang tadi.”
Mereka masih membisu.
“Dave bahkan mengusir Tante. Dia takut kalau Tante gak kuat lihatnya. Padahal yang ibunya Tifa’kan Tante.”
“Tante gak apa-apa?” Gloria akhirnya buka suara.
July menggeleng pelan, “Tante sudah biasa. Kalau pun Tante mulai merasa gak kuat, Tante tetap bertahan. Cuma Tante harapan Tifa sekarang.”
“Kami… kami cuma kaget aja tadi,” ujar Hana. “Kami harap Tante jangan tersinggung.”
July kembali tersenyum hangat. Tiba-tiba saja Gloria memeluknya. Sepertinya wanita ini justru yang tak bisa tegar.
“Aku benar-benar sedih, Tante. Benar-benar gak nyangka.”
“Makanya kita harus kuat. Tifa butuh kita semua,” July menepuk pundak Gloria.
Di saat yang bersamaan, Dave keluar dari kamar. Ia terlihat segar karena baru saja membersihkan diri. Namun wajah lelahnya tak bisa dibohongi. Lingkaran hitam di bawah matanya seolah menggambarkan bagaimana kondisi tubuh yang sebenarnya.
“Hai, kalian datang untuk menjenguk?”
“Halo, Dave. Bagaimana keadaan Tifa?” tanya Hana.
“Dia sedang istirahat dan masih dalam pengawasan suster, tapi sekarang sudah tenang kok,” Dave tersenyum. “Makanya aku disuruh bersih-bersih.”
“Syukurlah kalau begitu,” Hana melirik kedua sahabatnya. “Sepertinya dia memang harus istirahat dulu. Kalian juga harus istirahat.”
“Kami baik-baik aja kok,” sekali lagi Dave berusaha menampilkan keadaan yang baik-baik saja.
Hana dan Gloria bertukar pandang lalu keduanya mengangguk.
“Kalau begitu kami permisi dulu. Sampaikan salam kami pada Tifa,” ujar Gloria.
Hana menarik bungkusan yang Riani pegang karena wanita itu sama sekali tak menunjukkan respon apapun, “Kami punya oleh-oleh untuk Tifa, tapi kalau kalian mau juga gak apa-apa.”
“Wah, jadi merepotkan. Maaf ya, sudah capek-capek datang kalian malah gak bisa ketemu dia,” ujar Dave sambil menerima bungkusan itu.
Hana dan Gloria memeluk July sambil berpamitan. Melihat kedua temannya menunjukkan sikap santun, Riani pun ikut-ikutan memeluk July. Ia tak mau terlihat seperti perempuan yang tidak punya kesopanan.
“Kami pulang dulu,” ujar Hana.
Ketiganya membisu sepanjang perjalanan di koridor. Tenggelam dalam pikiran masing-masing sehingga tak ada yang berminat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. Hingga Hana yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti. Sontak Gloria dan Riani bingung melihat tingkah Hana yang spontan itu.
“Kenapa, Han? Ada yang ketinggalan?” tegur Gloria.
Hana berbalik dan menatap Riani dengan sinis.
“Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Tifa, Ri?”
Riani tersentak. Seketika ia diselimuti perasaan kaget dan takut. Ia takut kalau Hana membongkar isi hatinya.
“Jangan mencoba berdalih! Kamu selalu diam jika membicarakan Tifa dan Dave. Bahkan kamu memasang tampang stoic-mu ketika kita kemari, tapi matamu bersinar saat Dave menyapa kita tadi.”
“Ha—Hana, kupikir kamu salah sangka,” Gloria berusaha melerai.
“Aku gak salah, Glo, tapi aku tahu. Aku tahu apa yang terjadi bertahun-tahun lalu. Aku tahu apa yang sebenarnya yang terjadi di antara mereka. Hanya saja aku tidak tahu apa yang pernah dikatakan Tifa pada Riani sehingga orang ini masih bisa menyalakan kemarahannya di saat seperti ini.”
Riani membuang muka.
“Ri, kita semua lihat’kan tadi, bagaimana menderitanya Tifa. Dia sedang sakit, Ri. Dia berusaha melawan kematian. Kenapa kamu malah bersikap seperti ini? Apa kamu gak kasihan melihatnya?”
Riani menggigit bibir.
“Bisakah kamu melupakan apa yang dijanjikan Tifa untuk saat ini? Bisakah kamu bersimpati dulu sahabatmu? Dia sahabatmu, Ri.”
Hana sengaja menekankan kata ‘sahabat’ tersebut agar mengenai perasaan Riani. Alih-alih tersentuh, Riani justru berbalik marah.
“Apa kamu tim sukses Tifa? Kenapa semua orang harus membelanya? Dari dulu. Dari dulu! Semua orang selalu mendukungnya, tapi kenapa tidak ada yang membelaku?”
Gloria ternganga mendengar jawaban Riani, “Ri, kamu….”
“Apa yang terjadi di antara aku dan Tifa itu bukan urusan kalian!”
Riani meninggalkan kedua temannya lebih dulu. Ia mempercepat langkahnya supaya tak ada yang melihat kalau pipinya mulai dibasahi air mata.
“Kenapa lagi sih?” keluh Gloria setelah Riani meninggalkan mereka. “Kamu kenapa harus bongkar-bongkar masalah ini sekarang sih? Seolah-olah kita ini masih kekurangan masalah aja.”
“Supaya dia sadar, Glo. Sadar kalau dirinya sudah terlalu tua untuk bertingkah seperti anak-anak,” Hana menjawab dengan tenang.
“Iya, tapi’kan bisa menunggu nanti. Ini bukan saat yang tepat, Han.”
“Justru itu, ini adalah saat yang paling tepat untuk menyadarkannya karena hanya saat ini Tifa tidak bisa membelanya,” Hana tersenyum sinis. “Aku hanya ingin menyadarkannya kalau hanya satu orang yang selalu membelanya dan orang itu adalah orang yang sedang ia musuhi sekarang.”
Gloria memejamkan matanya. Ia merasa rambutnya semakin mengikal karena terlalu banyak masalah yang membelitnya.




1 komentar:

  1. setelah bagian tegang dari awal sampe akhir , bagian ini terasa kocak banget

    "Gloria memejamkan matanya. Ia merasa rambutnya semakin mengikal karena terlalu banyak masalah yang membelitnya."

    BalasHapus