Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Mei 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 154)




Musikal 154

Bukan kali pertama bagi Tifa mengalami bangun pagi seperti ini. Sebelumnya terjadi di apartemen dan sekarang di rumah sakit. Hanya saja kali ini ia tidak terbangun dalam dekapan Dave, tetapi laki-laki itu tertidur sambil memeluk tangannya. Tifa heran bagaimana bisa lelaki itu tidur dengan posisi yang bisa membuat pinggang pegal? Semalam suntuk hanya agar genggaman mereka tidak terlepas.
Tifa menggigit bibirnya. Ia tidak akan lupa kejadian senja itu. Kala bibir mereka bersentuhan bagai dua kutub magnet yang saling bertemu. Ia sendiri sampai heran kenapa ia bisa begitu terlena. Padahal selama ini ia mati-matian agar tidak masuk dalam pesona lelaki itu. Mungkinkah karena suasana atau sihir misterius dari sepasang mata biru itu. Tidak, sudah berapa kali Tifa terjebak dalam situasi yang sama dan selama itu pula ia bertahan.
Mungkin karena perasaannya yang tersampaikan…
Bahkan sampai saat ini ia masih terbawa perasaan. Jemarinya yang bebas dari genggaman Dave, justru gatal sekali ingin menyentuh pucuk kepala lelaki itu. Tifa tak bisa menahan hasratnya. Tak hanya pucuk kepala, tapi jari-jari Tifa semakin menjelajahi wajah lelaki itu.
“Tertangkap kau!”
Tifa tersentak. Meski Dave baru bangun tidur, tapi genggaman tangannya sangat kuat. Tifa tak bisa melepaskan tangan nakalnya dan sekarang ia tertangkap basah. Ah, sial. Andai dia bisa menahan bisikan setan yang nakal.
“Jadi, seperti inikah caramu menyapaku di pagi hari?”
“Bisa kamu lepaskan tanganku?”
“Asal kita bisa mengulangi apa yang terjadi kemarin.”
Tifa berdecak kesal, “Jangan bercanda! Darahnya akan mengalir di selang tahu.”
Dave tersenyum jahil. Ia memang melepaskan tangan Tifa, tapi ia juga berhasil mendaratkan kecupan kecil di kening wanita itu. Tifa merengut, tapi sekali lagi senyuman jahil itu kembali meredakan amarahnya.
“Bibir kamu itu suka parkir sembarangan ya?” omel Tifa.
“Bukan, tapi dia sudah tahu di mana tempat parkir yang tepat.”
Bibir Tifa kembali mengkerut. Namun, Dave menanggapi ekspresi cemberut Tifa seperti sinar mentari pagi. Ia mengacak-acak rambut wanita itu dan meninggalkannya ke kamar mandi. Hal itu membuat Tifa semakin kesal.
Tepat setelah Dave masuk ke kamar mandi, pintu kamarnya terbuka. Tifa mengira kalau itu ibunya, ternyata yang datang adalah Adrian. Wajahnya terlihat segar, seperti baru habis mandi.
“Tante sendirian aja?”
“Orang yang menungguku sedang di kamar mandi,” sahut Tifa sambil berusaha menegakkan tubuhnya. Melihat tantenya berusaha bangun, Adrian langsung menyambut. “Pagi sekali datangnya?”
“Ada yang mau aku diskusikan soal pementasan,” ujar Adrian.
Tak berapa lama kemudian, Dave keluar dari kamar mandi. Melihat Tifa yang bersiap turun dari ranjang, ia buru-buru membantu meski Adrian saja sudah cukup.
“Aku bisa sendiri,” Tifa menepis tangan Adrian dan Dave. “Kalau Hana melihat kalian seperti ini lagi bisa-bisa dia pingsan.”
Akhirnya Tifa ke kamar mandi seorang diri. Adrian dan Dave hanya bisa mengelus dada.
“Benar-benar keras kepala,” gerutu Dave. “Eh, tumben sepagi ini kamu sudah datang?”
“Tiba-tiba ingin saja,” Adrian tersenyum lalu ia tersentak saat melihat Tifa muncul.
“Hei, kalian aku—“
Kata-kata Tifa menggantung selamanya karena pada detik berikutnya pemandangan di sekitar menggelap. Gravitasi terasa lebih berat dan semakin menghisapnya. Bersamaan dengan itu nyeri di perutnya semakin terasa. Semua itu tak berlangsung lama karena hal terakhir yang bisa ia lakukan adalah mendengar Adrian dan Dave meneriakkan namanya.
Kedua pria itu terserang kepanikkan tinggi. Dave langsung memangku kepala Tifa sementara Adrian berusaha menyadarkannya.
“Tante, Tante…. Sadar, Tante!”
“Panggil suster, Adrian! Cepat!”
Adrian meraih tombol pemanggil perawat terdekat. Saking paniknya ia bahkan tak sadar kalau menekan tombol itu sekuat tenaga. Setelah itu ia membantu Dave membopong Tifa ke tempat tidur. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan. Padahal baru saja mereka berbincang santai, tapi sekarang mereka mendapat morning shock.
Petugas medis langsung bergerak cepat. Mereka segera memasang berbagai macam selang ke tubuh Tifa. Adrian dan Dave bisa merasakan detik-detik penuh ketegangan.
“Cepat hubungin Dokter Edo! Bawa pasien ke ruang ICU!”
Komando dari suster kepala itu menyadarkan Dave. ICU? Tentu saja ruang itu teruntuk orang-orang yang mempunyai harapan hidup tipis. Itu artinya Tifa sedang berjuang untuk hidup matinya.
“Tunggu, Suster! Sebenarnya apa yang terjadi?”
Di tengah kesibukannya, suster itu tak bisa mengabaikan keingintahuan Dave. Ia mendesah cepat agar nada bicaranya terdengar tidak tegang.
“Kami belum bisa memastikannya. Hanya dokter yang boleh membuat diagnosis, tapi untuk saat ini pasien dalam keadaan darurat.”
“Segawat apa, Suster?”
“Kami belum tahu. Ada baiknya sekarang wali pasien ikut menemani ke ruang ICU. Supaya segera mendapat kabar dari dokter.”
Meski pikiran Dave sedang kacau, ia harus tetap tenang. Jika ia panik maka tak akan ada yang bisa berpikir jernih. Ia yakin saat ini Adrian juga merasakan hal yang sama.
“Kamu saja yang ikut ke sana. Biar Om yang urus di sini. Segera hubungi nenekmu!”
Adrian hanya mengangguk sekali untuk menuruti semua perintah itu. Pagi hari yang tenang itu berubah menjadi kode merah pertanda bahaya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar