Musikal 154
Bukan kali pertama bagi Tifa mengalami bangun pagi
seperti ini. Sebelumnya terjadi di apartemen dan sekarang di rumah sakit. Hanya
saja kali ini ia tidak terbangun dalam dekapan Dave, tetapi laki-laki itu
tertidur sambil memeluk tangannya. Tifa heran bagaimana bisa lelaki itu tidur
dengan posisi yang bisa membuat pinggang pegal? Semalam suntuk hanya agar
genggaman mereka tidak terlepas.
Tifa menggigit
bibirnya. Ia tidak akan lupa kejadian senja itu. Kala bibir mereka bersentuhan
bagai dua kutub magnet yang saling bertemu. Ia sendiri sampai heran kenapa ia
bisa begitu terlena. Padahal selama ini ia mati-matian agar tidak masuk dalam
pesona lelaki itu. Mungkinkah karena suasana atau sihir misterius dari sepasang
mata biru itu. Tidak, sudah berapa kali Tifa terjebak dalam situasi yang sama
dan selama itu pula ia bertahan.
Mungkin karena
perasaannya yang tersampaikan…
Bahkan sampai saat
ini ia masih terbawa perasaan. Jemarinya yang bebas dari genggaman Dave, justru
gatal sekali ingin menyentuh pucuk kepala lelaki itu. Tifa tak bisa menahan
hasratnya. Tak hanya pucuk kepala, tapi jari-jari Tifa semakin menjelajahi
wajah lelaki itu.
“Tertangkap kau!”
Tifa tersentak. Meski
Dave baru bangun tidur, tapi genggaman tangannya sangat kuat. Tifa tak bisa
melepaskan tangan nakalnya dan sekarang ia tertangkap basah. Ah, sial. Andai
dia bisa menahan bisikan setan yang nakal.
“Jadi, seperti inikah
caramu menyapaku di pagi hari?”
“Bisa kamu lepaskan
tanganku?”
“Asal kita bisa
mengulangi apa yang terjadi kemarin.”
Tifa berdecak kesal,
“Jangan bercanda! Darahnya akan mengalir di selang tahu.”
Dave tersenyum jahil.
Ia memang melepaskan tangan Tifa, tapi ia juga berhasil mendaratkan kecupan kecil
di kening wanita itu. Tifa merengut, tapi sekali lagi senyuman jahil itu
kembali meredakan amarahnya.
“Bibir kamu itu suka
parkir sembarangan ya?” omel Tifa.
“Bukan, tapi dia
sudah tahu di mana tempat parkir yang tepat.”
Bibir Tifa kembali
mengkerut. Namun, Dave menanggapi ekspresi cemberut Tifa seperti sinar mentari
pagi. Ia mengacak-acak rambut wanita itu dan meninggalkannya ke kamar mandi.
Hal itu membuat Tifa semakin kesal.
Tepat setelah Dave
masuk ke kamar mandi, pintu kamarnya terbuka. Tifa mengira kalau itu ibunya,
ternyata yang datang adalah Adrian. Wajahnya terlihat segar, seperti baru habis
mandi.
“Tante sendirian
aja?”
“Orang yang
menungguku sedang di kamar mandi,” sahut Tifa sambil berusaha menegakkan
tubuhnya. Melihat tantenya berusaha bangun, Adrian langsung menyambut. “Pagi
sekali datangnya?”
“Ada yang mau aku
diskusikan soal pementasan,” ujar Adrian.
Tak berapa lama
kemudian, Dave keluar dari kamar mandi. Melihat Tifa yang bersiap turun dari
ranjang, ia buru-buru membantu meski Adrian saja sudah cukup.
“Aku bisa sendiri,”
Tifa menepis tangan Adrian dan Dave. “Kalau Hana melihat kalian seperti ini
lagi bisa-bisa dia pingsan.”
Akhirnya Tifa ke
kamar mandi seorang diri. Adrian dan Dave hanya bisa mengelus dada.
“Benar-benar keras
kepala,” gerutu Dave. “Eh, tumben sepagi ini kamu sudah datang?”
“Tiba-tiba ingin
saja,” Adrian tersenyum lalu ia tersentak saat melihat Tifa muncul.
“Hei, kalian aku—“
Kata-kata Tifa
menggantung selamanya karena pada detik berikutnya pemandangan di sekitar
menggelap. Gravitasi terasa lebih berat dan semakin menghisapnya. Bersamaan
dengan itu nyeri di perutnya semakin terasa. Semua itu tak berlangsung lama
karena hal terakhir yang bisa ia lakukan adalah mendengar Adrian dan Dave
meneriakkan namanya.
Kedua pria itu terserang
kepanikkan tinggi. Dave langsung memangku kepala Tifa sementara Adrian berusaha
menyadarkannya.
“Tante, Tante….
Sadar, Tante!”
“Panggil suster,
Adrian! Cepat!”
Adrian meraih tombol
pemanggil perawat terdekat. Saking paniknya ia bahkan tak sadar kalau menekan
tombol itu sekuat tenaga. Setelah itu ia membantu Dave membopong Tifa ke tempat
tidur. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan. Padahal baru saja mereka
berbincang santai, tapi sekarang mereka mendapat morning shock.
Petugas medis
langsung bergerak cepat. Mereka segera memasang berbagai macam selang ke tubuh
Tifa. Adrian dan Dave bisa merasakan detik-detik penuh ketegangan.
“Cepat hubungin
Dokter Edo! Bawa pasien ke ruang ICU!”
Komando dari suster
kepala itu menyadarkan Dave. ICU? Tentu saja ruang itu teruntuk orang-orang
yang mempunyai harapan hidup tipis. Itu artinya Tifa sedang berjuang untuk
hidup matinya.
“Tunggu, Suster!
Sebenarnya apa yang terjadi?”
Di tengah
kesibukannya, suster itu tak bisa mengabaikan keingintahuan Dave. Ia mendesah
cepat agar nada bicaranya terdengar tidak tegang.
“Kami belum bisa
memastikannya. Hanya dokter yang boleh membuat diagnosis, tapi untuk saat ini
pasien dalam keadaan darurat.”
“Segawat apa,
Suster?”
“Kami belum tahu. Ada
baiknya sekarang wali pasien ikut menemani ke ruang ICU. Supaya segera mendapat
kabar dari dokter.”
Meski pikiran Dave
sedang kacau, ia harus tetap tenang. Jika ia panik maka tak akan ada yang bisa
berpikir jernih. Ia yakin saat ini Adrian juga merasakan hal yang sama.
“Kamu saja yang ikut
ke sana. Biar Om yang urus di sini. Segera hubungi nenekmu!”
Adrian hanya
mengangguk sekali untuk menuruti semua perintah itu. Pagi hari yang tenang itu
berubah menjadi kode merah pertanda bahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar