Total Tayangan Halaman

Minggu, 07 Mei 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 151)




Musikal 151

Hana sedikit menyesal karena mempercepat langkahnya di koridor tadi. Begitu ia membuka pintu bangsal, ia mendapati pemandangan yang membuat matanya sakit. Bagaimana tidak, Tifa duduk di ranjang dan dilayani oleh dua pria tampan. Siapa lagi kalau bukan Adrian dan Dave. Perempuan nyentrik itu bertingkah bagaikan ratu yang menyebalkan untuk dilihat.
“Hoo, bagus sekali ya. Kamu bertingkah seolah Cleopatra sementara Riani dan Gloria bekerja keras untuk pementasan,” Hana menatap kedua pemuda itu dengan tajam. “Kalian berdua juga! Kenapa malah melayani orang menyebalkan ini? Harusnya kalian juga sibuk mempersiapkan pementasan, tahu!”
“Aku sakit, kau tahu itu’kan?” Tifa terkikik.
Hana berdecak kesal, “Jangan banyak alasan! Sekarang katakan, kenapa kamu menyuruhku datang ke sini?”
“Hahaha, sabar dong,” Tifa membetulkan posisi duduknya. “Dave, Adrian, duduklah! Ada yang mau aku katakan juga pada kalian.”
Adrian dan Dave langsung menurut. Tifa pun mulai mengatakan maksud tujuannya mengumpulkan ketiga orang ini.
“Besok aku akan menjalani kemoterapi yang kedua. Mungkin kemo yang sekali ini agak berat dan aku akan lebih lama meninggalkan Love Musical. Jadi, aku minta kalian bisa menggantikan posisiku untuk sementara ini. Tidak usah mengkhawatikan aku. Fokus saja pada latihan ini.
“Dan juga, aku minta kalian merahasiakan tentang penyakitku dari semua anggota. Mungkin selain kalian, ada satu atau dua orang yang sudah tahu mengenai penyakitku. Kuharap kalian juga memberitahu mereka untuk merahasiakan hal ini. Aku tidak mau mereka cemas dan akhirnya kehilangan fokus latihan.”
Hana bertukar pandang dengan Adrian dan Dave. Kedua pria itu terlihat tak berniat membantah kata-kata Tifa. Kalau sudah begini, Hana juga tidak bisa menolak.
“Baiklah, akan kukatakan juga pada Riani dan Gloria. Supaya mereka tidak salah bicara nantinya.”
Hana menghela napas lalu beranjak dari tempat duduknya, “Kalau sudah tak ada yang dibicarakan lagi, aku permisi dulu. Maaf, tapi memang aku masih banyak urusan.”
Tifa mengangguk, “Terima kasih, Han. Aku sangat mengandalkanmu.”
“Cih, sejak kapan kamu belajar berterima kasih?” ujar Hana sinis. “Bikin merinding saja.”
Tifa tertawa lalu ia menyuruh Adrian dan Dave mengatar Hana. Meski Hana menolak, tapi kedua pria tampan ini sudah siap mengawalnya.
“Dasar, Tifa! Padahal aku baik-baik saja. Tidak perlu diantar.”
“Dia hanya cemas padamu, Han,” ujar Dave ketika mereka menyusuri koridor rumah sakit.
“Seharusnya dia lebih mencemaskan dirinya sendiri. Bukannya besok kemo kedua? Setahuku biasanya efek samping kemo kedua lebih menyiksa.”
“Doakan saja yang terbaik,” sahut Adrian.
Mendengar jawaban kalem Adrian, Hana pun jadi tak tega bicara ketus lagi. Ia sengaja menunda langkahnya untuk memberikan nasihat.
“Kamu juga harus istirahat, Adrian. Kamu adalah pemeran utama. Biarlah Tantemu diurus oleh nenekmu atau Dave. Kalau pemeran utamanya juga jatuh sakit, lalu siapa yang akan mempertahankan pementasan ini?”
“Hana benar,” susul Dave. “Karena tidak mungkin menggunakan aku lagi sebagai pemeran utama.”
Hana menyikut perut Dave, “Aku sedang serius, Dave!”
“Aku tahu kok,” Dave terkekeh. “Kamu pulang saja dulu. Bukannya malam ini adalah waktunya nenekmu yang menjaga Tifa? Kalau nenekmu yang menjaga, saya lebih percaya. Saya juga berencana istirahat dulu.”
Adrian mengangguk sambil menghela napas, “Ya, baiklah kalau begitu. Aku akan pulang kalau nenek sudah datang.”
“Nah, itu baru benar,” Hana tersenyum. “Baiklah, aku pulang dulu. Terima kasih sudah mengantar.”
ooOoo
Rupanya kemoterapi kali ini membawa efek buruk bagi Tifa. Tidak seperti yang pertama, Tifa benar- benar roboh. Ia lebih banyak memuntahkan isi perutnya ketimbang menambah asupan gizi. Rambutnya mengalami kerontokkan hebat. Sekujur tubuhnya terasa sakit.
Meski begitu Dave tetap setia menemani. Ia bersedia membersihkan muntahan Tifa. Ia hampir tak pernah pulang jika July tak memaksa. Sungguh bukan pengorbanan kecil dari apa yang dilakukan pria itu selama ini.
Kabar tentang kondisi Tifa sampai juga ke telinga Hana dan teman-temannya. Ada perasaan tak percaya ketika Hana mendengar kabar itu. Dalam benaknya Tifa ada manusia yang sangat sehat, tapi ketika mendengar berita dari Dave, rasanya seperti mimpi.
“Benarkah begitu?” tanya Gloria saat Hana meminta ia dan Riani datang ke kantornya.
“Yang namanya kanker pasti begitu. Aku juga salut pada Tifa yang dari kemarin masih bisa bertahan,” Hana mendesah. “Tapi sekarang dia benar-benar roboh.”
“Apa Dave ada di sana?” tanya Riani.
“Ya, untung dia ada di sana. Kalau Cuma Adrian dan ibunya, kurasa mereka tak akan sanggup. Mereka berdua juga butuh dukungan. Dave datang di saat yang tepat.”
Riani menggigit bibir. Ada sesuatu yang menekan hatinya ketika mendengar jawaban Hana.
“Gimana kalau kita jenguk dia? Aku pikir dia butuh dukungan juga saat ini,” ujar Gloria.
Hana mengangguk, “Ide bagus. Baiklah, sepulang sekolah nanti kita ke sana.”
Sebenarnya Riani keberatan jika harus menemui Tifa lagi. Akhir-akhir ini rasa cemburunya semakin menjadi. Namun ia tak bisa menolak dan hanya tersenyum manis.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar