Musikal 151
Hana sedikit menyesal karena mempercepat langkahnya di
koridor tadi. Begitu ia membuka pintu bangsal, ia mendapati pemandangan yang
membuat matanya sakit. Bagaimana tidak, Tifa duduk di ranjang dan dilayani oleh
dua pria tampan. Siapa lagi kalau bukan Adrian dan Dave. Perempuan nyentrik itu
bertingkah bagaikan ratu yang menyebalkan untuk dilihat.
“Hoo, bagus sekali
ya. Kamu bertingkah seolah Cleopatra sementara Riani dan Gloria bekerja keras
untuk pementasan,” Hana menatap kedua pemuda itu dengan tajam. “Kalian berdua
juga! Kenapa malah melayani orang menyebalkan ini? Harusnya kalian juga sibuk
mempersiapkan pementasan, tahu!”
“Aku sakit, kau tahu
itu’kan?” Tifa terkikik.
Hana berdecak kesal,
“Jangan banyak alasan! Sekarang katakan, kenapa kamu menyuruhku datang ke
sini?”
“Hahaha, sabar dong,”
Tifa membetulkan posisi duduknya. “Dave, Adrian, duduklah! Ada yang mau aku
katakan juga pada kalian.”
Adrian dan Dave
langsung menurut. Tifa pun mulai mengatakan maksud tujuannya mengumpulkan
ketiga orang ini.
“Besok aku akan
menjalani kemoterapi yang kedua. Mungkin kemo yang sekali ini agak berat dan
aku akan lebih lama meninggalkan Love
Musical. Jadi, aku minta kalian bisa menggantikan posisiku untuk sementara
ini. Tidak usah mengkhawatikan aku. Fokus saja pada latihan ini.
“Dan juga, aku minta
kalian merahasiakan tentang penyakitku dari semua anggota. Mungkin selain
kalian, ada satu atau dua orang yang sudah tahu mengenai penyakitku. Kuharap
kalian juga memberitahu mereka untuk merahasiakan hal ini. Aku tidak mau mereka
cemas dan akhirnya kehilangan fokus latihan.”
Hana bertukar pandang
dengan Adrian dan Dave. Kedua pria itu terlihat tak berniat membantah kata-kata
Tifa. Kalau sudah begini, Hana juga tidak bisa menolak.
“Baiklah, akan
kukatakan juga pada Riani dan Gloria. Supaya mereka tidak salah bicara
nantinya.”
Hana menghela napas
lalu beranjak dari tempat duduknya, “Kalau sudah tak ada yang dibicarakan lagi,
aku permisi dulu. Maaf, tapi memang aku masih banyak urusan.”
Tifa mengangguk,
“Terima kasih, Han. Aku sangat mengandalkanmu.”
“Cih, sejak kapan
kamu belajar berterima kasih?” ujar Hana sinis. “Bikin merinding saja.”
Tifa tertawa lalu ia menyuruh
Adrian dan Dave mengatar Hana. Meski Hana menolak, tapi kedua pria tampan ini
sudah siap mengawalnya.
“Dasar, Tifa! Padahal
aku baik-baik saja. Tidak perlu diantar.”
“Dia hanya cemas
padamu, Han,” ujar Dave ketika mereka menyusuri koridor rumah sakit.
“Seharusnya dia lebih
mencemaskan dirinya sendiri. Bukannya besok kemo kedua? Setahuku biasanya efek
samping kemo kedua lebih menyiksa.”
“Doakan saja yang
terbaik,” sahut Adrian.
Mendengar jawaban
kalem Adrian, Hana pun jadi tak tega bicara ketus lagi. Ia sengaja menunda
langkahnya untuk memberikan nasihat.
“Kamu juga harus
istirahat, Adrian. Kamu adalah pemeran utama. Biarlah Tantemu diurus oleh
nenekmu atau Dave. Kalau pemeran utamanya juga jatuh sakit, lalu siapa yang
akan mempertahankan pementasan ini?”
“Hana benar,” susul
Dave. “Karena tidak mungkin menggunakan aku lagi sebagai pemeran utama.”
Hana menyikut perut
Dave, “Aku sedang serius, Dave!”
“Aku tahu kok,” Dave
terkekeh. “Kamu pulang saja dulu. Bukannya malam ini adalah waktunya nenekmu
yang menjaga Tifa? Kalau nenekmu yang menjaga, saya lebih percaya. Saya juga
berencana istirahat dulu.”
Adrian mengangguk
sambil menghela napas, “Ya, baiklah kalau begitu. Aku akan pulang kalau nenek
sudah datang.”
“Nah, itu baru
benar,” Hana tersenyum. “Baiklah, aku pulang dulu. Terima kasih sudah
mengantar.”
ooOoo
Rupanya
kemoterapi kali ini membawa efek buruk bagi Tifa. Tidak seperti yang pertama,
Tifa benar- benar roboh. Ia lebih banyak memuntahkan isi perutnya ketimbang
menambah asupan gizi. Rambutnya mengalami kerontokkan hebat. Sekujur tubuhnya
terasa sakit.
Meski begitu Dave tetap setia menemani. Ia
bersedia membersihkan muntahan Tifa. Ia hampir tak pernah pulang jika July tak
memaksa. Sungguh bukan pengorbanan kecil dari apa yang dilakukan pria itu
selama ini.
Kabar tentang kondisi Tifa sampai juga ke
telinga Hana dan teman-temannya. Ada perasaan tak percaya ketika Hana mendengar
kabar itu. Dalam benaknya Tifa ada manusia yang sangat sehat, tapi ketika
mendengar berita dari Dave, rasanya seperti mimpi.
“Benarkah begitu?” tanya Gloria saat Hana
meminta ia dan Riani datang ke kantornya.
“Yang namanya kanker pasti begitu. Aku juga
salut pada Tifa yang dari kemarin masih bisa bertahan,” Hana mendesah. “Tapi
sekarang dia benar-benar roboh.”
“Apa Dave ada di sana?” tanya Riani.
“Ya, untung dia ada di sana. Kalau Cuma
Adrian dan ibunya, kurasa mereka tak akan sanggup. Mereka berdua juga butuh
dukungan. Dave datang di saat yang tepat.”
Riani menggigit bibir. Ada sesuatu yang
menekan hatinya ketika mendengar jawaban Hana.
“Gimana kalau kita
jenguk dia? Aku pikir dia butuh dukungan juga saat ini,” ujar Gloria.
Hana mengangguk, “Ide
bagus. Baiklah, sepulang sekolah nanti kita ke sana.”
Sebenarnya Riani
keberatan jika harus menemui Tifa lagi. Akhir-akhir ini rasa cemburunya semakin
menjadi. Namun ia tak bisa menolak dan hanya tersenyum manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar