Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Februari 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 125)



Musikal 125

“Dave?”
Siang itu Hana bergegas menemui para petinggi yayasan. Akan ada rapat yang disinyalir akan membahas masalah pementasan Love Musical. Di tengah irama jantungnya yang dag-dig-dug, ia berpapasan dengan seseorang yang tak pernah ia duga sebelumnya.
“Mau rapat, Han?” tanya pria bermata biru itu dengan tenang.
“Ya, tentu saja,” jawab Hana dengan nada heran. “Kamu ngapain di sini?”
“Ikut rapat, tentu saja.”
Hana melemparkan tatapan sangsi pada Dave.
“Aku tidak sedang bercanda. Aku mewakili Tifa untuk hadir di sini. Semalam salah satu petinggi yayasan menelepon dia dan mempertanyakan soal skandal video itu. Makanya mereka segera mengadakan rapat untuk membahas semuanya. Berhubung kondisi Tifa sedang tidak memungkinkan, makanya aku yang mewakili.”
“Ohh, begitu,” Hana menarik napas panjang. “Padahal videonya baru semalam tersebar. Cepat sekali sampai di tangan petinggi yayasan. Entah orang sinting mana yang melakukan itu? Niat sekali sih.”
“Ada banyak orang di luar sana yang menamai diri mereka sebagai ‘haters’ dan ingin menjatuhkan Tifa, atau Fi, atau Adrian, atau mungkin kita semua.”
“Tifa tidak ingin memperkarakan kasus ini?”
“Tidak tahu. Tapi mungkin karena kondisinya sekarang. Mungkin dia akan melakukannya nanti.”
Hana mengangguk kecil, “Ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya?”
Dave melihat arlojinya, “Sebentar lagi kemoterapi-nya dimulai. Doakan saja yang terbaik untuknya.”
Hana mengangguk seraya menarik napas panjang. Memikirkan Tifa yang sedang berjuang melawan penyakitnya, membuat Hana menjadikan hal itu sebagai dorongan agar dia mampu melawan semua gagasan yang akan membatalkan pementasan ini.
ooOoo
Para petinggi yayasan telah berkumpul. Di awal rapat mereka masih membicarakan hal-hal ringan seputar sekolah dan rencana penggabungan antara SMA Chandra Kirana dan SMA Panji Semirang. Hingga suasana mulai memanas ketika salah seorang dari mereka menyinggung tentang pementasan dan skandalnya.
“Bapak dan Ibu sekalian, kita tahu bahwa untuk menarik minat para siswa baru nanti kita akan melaksanakan pentas yang akan disutradarai oleh alumni SMA Chandra Kirana, yaitu Latifa Kusuma Ningsih.”
Jantung Hana serasa berhenti berdegup. Matanya beradu pandang dengan Dave. Inilah saatnya.
“Tapi baru saja semalam—mungkin Bapak dan Ibu sekalian tahu—bahwa kita baru saja mendapat kabar tidak menyenangkan soal pementasan tersebut. Meski kita juga semua tahu bahwa ada kemungkinan bahwa video adalah hoax, tapi tetap saja bagi saya kalau pemberitaan itu akan sangat berpengaruh pada keberhasilan pementasan itu nanti.”
Dave dan Hana menunggu dengan sabar.
“Saya sendiri memiliki keraguan pada kelanjutan pementasan ini. Oleh karena itu, saya mengumpulkan Bapak dan Ibu sekalian untuk menyampaikan pendapat Anda sekalian mengenai pementasan ini. Apakah kita akan melanjutkan pementasan ini atau tidak?”
Hana kaget bukan kepalang. Ia berpikir kalau para petinggi ini akan berdiskusi dulu mengenai masalah pementasan, tapi yang terjadi ternyata mereka langsung menjatuhkan vonis untuk dilanjutkan atau tidak.
“Terlepas dari benar atau tidak, tapi berita ini sudah merusak citra sekolah. Saya berharap kalau pementasan ini dibatalkan saja.”
Telinga Hana memanas. Sialan, orang menyebalkan bertambah lagi.
“Saya juga setuju. Untuk apa melanjutkannya lagi? Buang-buang uang saja.”
“Ya, saya setuju.”
“Saya juga.”
Hana meremas penanya erat-erat. Ia bisa merasakan pena itu bergetar dan akan remuk jika ia terlalu lama meremasnya. Emosinya bisa meledak kapan saja, tapi untungnya Dave segera menyela pembicaraan tersebut.
“Bisa saya memberikan pendapat?”
Perhatian kini tertuju pada Dave. Ada garis muka yang meragukan akan keabsahan dari pendapat si iris biru itu.
“Maaf, tapi Anda ini siapa?”
“Ah ya, maafkan saya. Saya lupa memperkenalkan diri,” Dave menenggakkan bahunya. “ Saya David Mitchell Blackwell. Saya salah satu tentor di pementasan ini. Sekaligus sebagai wakil dari Latifa karena kesehatan beliau sedang tidak memadai untuk datang. Ngomong-ngomong, saya juga alumni SMA Chandra Kirana satu tingkat dengan Latifa dan Ibu Hana.”
Beberapa pasang mata kini beralih pada Hana. Hana yang mendapat isyarat kedipan mata dari Dave langsung memasang akting jumawanya.
“Oh ya, kami memang mengundang Ibu Latifa, tapi ternyata perwakilannya yang datang. Kalau begitu silakan Pak—“
“Dave,” ujar si iris biru itu mantap.
“Ya, silakan Pak Dave.”
Dave menyilangkan kakinya dengan jari-jari tangan saling bertaut rapat, “Saya hanya ingin menyampaikan keberatan yang pasti dirasakan Latifa jika beliau hadir di sini. Mengenai pembatalan pementasan yang sudah digarap selama beberapa bulan terakhir, bukankah sangat disayangkan jika dibatalkan. Coba Anda sekalian bayangkan, bagaimana kecewanya para siswa yang menjadi anggota dan telah menjalani pelatihan ini. Banyak tenaga dan waktu yang mereka habiskan hanya demi terlaksananya pementasan ini. Lagipula sejauh ini, saya melihat antara siswa SMA Chandra Kirana dan SMA Panji Semirang sudah sangat akrab. Akan sangat sulit jika mereka dipisahkan dengan cara bubar jalan seperti ini.”
“Tapi Pak Dave, setelah skandal ini keluar, bukankah nilai positif di mata masyarakat akan berkurang. Jika itu terjadi, maka orang-orang juga akan malas untuk datang menonton dan itu sama saja buang-buang tenaga, bukan?”
“Ya, saya mengerti itu,” Dave tersenyum tenang. “Tapi kita juga tidak bisa membiarkan fakta bahwa setelah skandal ini keluar pementasan kita semakin dikenal orang. Pemberitaan di mana-mana akan semakin membuat orang penasaran dengan kelanjutan pementasan kita.
“Bukannya itu malah jadi pemberitaan buruk, ya?”
“Tidak juga. Saya masih memantau di media sosial dan komentar bernada positif masih lebih banyak.”
“Pokoknya tetap saja, Pak Dave. Kami semua berpikir bahwa kelanjutan pementasan ini akan membawa citra buruk bagi sekolah ini. Para sponsor akan menarik diri dan lama kelamaan bisa membuat sekolah ini menuju bangkrut.”
Dave menarik napas panjang, “Begini saja, Bapak, Ibu. Kami sudah menyiapkan rencana untuk membereskan skandal ini serta mengembalikan nama baik sekolah ini. Asalkan Anda sekalian bersedia untuk menahan untuk tidak membubarkan pementasan ini.”
Para petinggi yayasan itu mulai berbisik-bisik. Hana mulai harap-harap cemas. Ya, semoga saja sebagian besar dari mereka menyetujui gagasan Dave.
“Masalah sponsor juga jangan dipikirkan dulu. Saat ini saya bersedia menjadi sponsor tunggal untuk pementasan bahkan sekolah ini.”
“Ah, maaf, tapi memangnya Anda siapa? Maksud saya, apa Anda memiliki relasi dengan perusahaan besar.”
“Oh, tidak kok,” Dave terkekeh. Ia memandang Hana dan wanita itu membalasnya dengan tatapan beri—mereka—kejutan.
“Apa tadi saya lupa menyebutkan soal ‘Blackwell Management’? Jika Bapak, Ibu sekalian menelusuri di mesin pencari maka Anda sekalian tahu kalau saya adalah direktur utamanya.”

1 komentar: