Musikal 125
“Dave?”
Siang
itu Hana bergegas menemui para petinggi yayasan. Akan ada rapat yang disinyalir
akan membahas masalah pementasan Love
Musical. Di tengah irama jantungnya yang dag-dig-dug, ia berpapasan dengan
seseorang yang tak pernah ia duga sebelumnya.
“Mau
rapat, Han?” tanya pria bermata biru itu dengan tenang.
“Ya,
tentu saja,” jawab Hana dengan nada heran. “Kamu ngapain di sini?”
“Ikut
rapat, tentu saja.”
Hana
melemparkan tatapan sangsi pada Dave.
“Aku
tidak sedang bercanda. Aku mewakili Tifa untuk hadir di sini. Semalam salah
satu petinggi yayasan menelepon dia dan mempertanyakan soal skandal video itu.
Makanya mereka segera mengadakan rapat untuk membahas semuanya. Berhubung
kondisi Tifa sedang tidak memungkinkan, makanya aku yang mewakili.”
“Ohh,
begitu,” Hana menarik napas panjang. “Padahal videonya baru semalam tersebar.
Cepat sekali sampai di tangan petinggi yayasan. Entah orang sinting mana yang
melakukan itu? Niat sekali sih.”
“Ada
banyak orang di luar sana yang menamai diri mereka sebagai ‘haters’ dan ingin menjatuhkan Tifa, atau Fi, atau Adrian, atau
mungkin kita semua.”
“Tifa
tidak ingin memperkarakan kasus ini?”
“Tidak
tahu. Tapi mungkin karena kondisinya sekarang. Mungkin dia akan melakukannya
nanti.”
Hana
mengangguk kecil, “Ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya?”
Dave
melihat arlojinya, “Sebentar lagi kemoterapi-nya dimulai. Doakan saja yang
terbaik untuknya.”
Hana
mengangguk seraya menarik napas panjang. Memikirkan Tifa yang sedang berjuang
melawan penyakitnya, membuat Hana menjadikan hal itu sebagai dorongan agar dia
mampu melawan semua gagasan yang akan membatalkan pementasan ini.
ooOoo
Para petinggi yayasan
telah berkumpul. Di awal rapat mereka masih membicarakan hal-hal ringan seputar
sekolah dan rencana penggabungan antara SMA Chandra Kirana dan SMA Panji
Semirang. Hingga suasana mulai memanas ketika salah seorang dari mereka
menyinggung tentang pementasan dan skandalnya.
“Bapak
dan Ibu sekalian, kita tahu bahwa untuk menarik minat para siswa baru nanti
kita akan melaksanakan pentas yang akan disutradarai oleh alumni SMA Chandra
Kirana, yaitu Latifa Kusuma Ningsih.”
Jantung
Hana serasa berhenti berdegup. Matanya beradu pandang dengan Dave. Inilah
saatnya.
“Tapi
baru saja semalam—mungkin Bapak dan Ibu sekalian tahu—bahwa kita baru saja mendapat
kabar tidak menyenangkan soal pementasan tersebut. Meski kita juga semua tahu
bahwa ada kemungkinan bahwa video adalah hoax,
tapi tetap saja bagi saya kalau pemberitaan itu akan sangat berpengaruh pada
keberhasilan pementasan itu nanti.”
Dave
dan Hana menunggu dengan sabar.
“Saya
sendiri memiliki keraguan pada kelanjutan pementasan ini. Oleh karena itu, saya
mengumpulkan Bapak dan Ibu sekalian untuk menyampaikan pendapat Anda sekalian
mengenai pementasan ini. Apakah kita akan melanjutkan pementasan ini atau
tidak?”
Hana
kaget bukan kepalang. Ia berpikir kalau para petinggi ini akan berdiskusi dulu
mengenai masalah pementasan, tapi yang terjadi ternyata mereka langsung
menjatuhkan vonis untuk dilanjutkan atau tidak.
“Terlepas
dari benar atau tidak, tapi berita ini sudah merusak citra sekolah. Saya
berharap kalau pementasan ini dibatalkan saja.”
Telinga
Hana memanas. Sialan, orang menyebalkan bertambah lagi.
“Saya
juga setuju. Untuk apa melanjutkannya lagi? Buang-buang uang saja.”
“Ya,
saya setuju.”
“Saya
juga.”
Hana
meremas penanya erat-erat. Ia bisa merasakan pena itu bergetar dan akan remuk
jika ia terlalu lama meremasnya. Emosinya bisa meledak kapan saja, tapi
untungnya Dave segera menyela pembicaraan tersebut.
“Bisa
saya memberikan pendapat?”
Perhatian
kini tertuju pada Dave. Ada garis muka yang meragukan akan keabsahan dari
pendapat si iris biru itu.
“Maaf,
tapi Anda ini siapa?”
“Ah
ya, maafkan saya. Saya lupa memperkenalkan diri,” Dave menenggakkan bahunya. “
Saya David Mitchell Blackwell. Saya salah satu tentor di pementasan ini.
Sekaligus sebagai wakil dari Latifa karena kesehatan beliau sedang tidak
memadai untuk datang. Ngomong-ngomong, saya juga alumni SMA Chandra Kirana satu
tingkat dengan Latifa dan Ibu Hana.”
Beberapa
pasang mata kini beralih pada Hana. Hana yang mendapat isyarat kedipan mata
dari Dave langsung memasang akting jumawanya.
“Oh
ya, kami memang mengundang Ibu Latifa, tapi ternyata perwakilannya yang datang.
Kalau begitu silakan Pak—“
“Dave,”
ujar si iris biru itu mantap.
“Ya,
silakan Pak Dave.”
Dave
menyilangkan kakinya dengan jari-jari tangan saling bertaut rapat, “Saya hanya
ingin menyampaikan keberatan yang pasti dirasakan Latifa jika beliau hadir di
sini. Mengenai pembatalan pementasan yang sudah digarap selama beberapa bulan
terakhir, bukankah sangat disayangkan jika dibatalkan. Coba Anda sekalian
bayangkan, bagaimana kecewanya para siswa yang menjadi anggota dan telah
menjalani pelatihan ini. Banyak tenaga dan waktu yang mereka habiskan hanya
demi terlaksananya pementasan ini. Lagipula sejauh ini, saya melihat antara
siswa SMA Chandra Kirana dan SMA Panji Semirang sudah sangat akrab. Akan sangat
sulit jika mereka dipisahkan dengan cara bubar jalan seperti ini.”
“Tapi
Pak Dave, setelah skandal ini keluar, bukankah nilai positif di mata masyarakat
akan berkurang. Jika itu terjadi, maka orang-orang juga akan malas untuk datang
menonton dan itu sama saja buang-buang tenaga, bukan?”
“Ya,
saya mengerti itu,” Dave tersenyum tenang. “Tapi kita juga tidak bisa
membiarkan fakta bahwa setelah skandal ini keluar pementasan kita semakin
dikenal orang. Pemberitaan di mana-mana akan semakin membuat orang penasaran
dengan kelanjutan pementasan kita.
“Bukannya
itu malah jadi pemberitaan buruk, ya?”
“Tidak
juga. Saya masih memantau di media sosial dan komentar bernada positif masih
lebih banyak.”
“Pokoknya
tetap saja, Pak Dave. Kami semua berpikir bahwa kelanjutan pementasan ini akan
membawa citra buruk bagi sekolah ini. Para sponsor akan menarik diri dan lama
kelamaan bisa membuat sekolah ini menuju bangkrut.”
Dave
menarik napas panjang, “Begini saja, Bapak, Ibu. Kami sudah menyiapkan rencana
untuk membereskan skandal ini serta mengembalikan nama baik sekolah ini.
Asalkan Anda sekalian bersedia untuk menahan untuk tidak membubarkan pementasan
ini.”
Para
petinggi yayasan itu mulai berbisik-bisik. Hana mulai harap-harap cemas. Ya,
semoga saja sebagian besar dari mereka menyetujui gagasan Dave.
“Masalah
sponsor juga jangan dipikirkan dulu. Saat ini saya bersedia menjadi sponsor
tunggal untuk pementasan bahkan sekolah ini.”
“Ah,
maaf, tapi memangnya Anda siapa? Maksud saya, apa Anda memiliki relasi dengan
perusahaan besar.”
“Oh,
tidak kok,” Dave terkekeh. Ia memandang Hana dan wanita itu membalasnya dengan
tatapan beri—mereka—kejutan.
“Apa
tadi saya lupa menyebutkan soal ‘Blackwell
Management’? Jika Bapak, Ibu sekalian menelusuri di mesin pencari maka Anda
sekalian tahu kalau saya adalah direktur utamanya.”
wow the power of money
BalasHapus