Musikal 124
Dave menghentikan
mobilnya di depan pintu masuk rumah sakit. Ia hanya menurunkan Adrian dan Fi.
Kemudian ia bergegas untuk pergi ke tempat lain.
“Kalian
langsung temui Tifa. Saya masih ada urusan lain. Ingat, jangan sampai ada orang
yang memperhatikan kalian!”
Setelah
mobil Dave berlalu, Adrian dan Fi langsung menuju kamar Tifa. Suasana canggung
menyelimuti ketika mereka berjalan berdua. Koridor bangsal yang sepi pun
membuat kecanggungan itu semakin terasa.
“Apa
sudah ada wartawan yang menemuimu?”
Fi
tersentak saat Adrian lebih dulu menyapanya. Suara tedengar gemetar saat
menjawab.
“Be—belum,
tapi kuharap tidak ada ada.”
Keadaan
kembali sunyi.
“Ba—bagaimana
keadaanmu?”
“Tidak
begitu baik,” kemudian Adrian terdiam beberaa saat. “Apalagi setelah kejadian
itu.”
Fi
mengurungkan niatnya untuk bercakap-cakap lagi. Mereka pun akhirnya sampai di
bangsal Tifa. ternyata wanita itu seorang diri di kamar tanpa ada yang
menemani.
“Dimana
Nenek?”
“Tante
suruh dia keluar dulu,” Tifa membetulkan posisi duduknya. “Aku sudah tahu apa
yang terjadi. Sayang, aku tidak bisa bebrbuat banyak karena sebentar lagi
kemoterapiku akan dimulai.”
Kemoterapi? Fi
terkejut saat mendengar kata itu terlintar dari bibir Tifa.
“Tunggu!
Apa maksud Miss kemoterapi? Memangnya
anda sakit apa?”
Tifa
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malas rasanya menjelaskan penyakitnya
berulang-ulang.
“Kanker
perut, stadium dua lanjutan.”
Sejenak
Fi merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia menoleh cepat pada Adrian, tapi
pemuda itu justru membuang pandangannya. Sama seperti Tifa, malas rasanya kalau
harus menjelaskan situasi ini berulang-ulang.
“Sidahlah,
Fi. Bukan itu yang harus kamu cemaskan sekarang, tapi masalah kalian berdua
sendiri,” tegas Tifa. “Dengar, aku sudah mengatur jadwal konferensi pers besok
siang. Kenpaa besok? Karena kita harus lihat dulu perkembangan kabar ini. jika
memang sampai membahayakan pementasan kita, maka konferensi per situ harus
dilaksanakan. Jika tidak, maka kita biarkan saja berita ini. Anggap saja ini
hanya gosip belaka
“Untuk
saat ini kalian harus bersembunyi dulu dari kejaran media. Carilah temoat yang
aman. Untuk Adrian, aku sarankan kamu menginap dulu di rmah Dave. Jangan di
sini, karena itu akan membuat kabar [penyakitku ikut tersebar. Dan untukmu Fi,
aku harap kamu bisa menginap di salah satu rumah temanmu.”
“Apa
yang harus kami katakan pada konferensi pers nanti?” tanya Adrian.
“Ah,
maaf. Tante belum berpikir sampai ke sana, tapi kalian ini aktor’kan, pemeran
utama pula. Tante yakin kalan bisa berimprovisasi di depan wartawan nanti.”
Tak
sengaja Fi dan Adrian beradu pandang. Mereka seolah mencari jawaban di wajah
mereka masing-masing. Di tengah keheningan itu tiba-tiba pintu bangsal di
ketuk. Kemudian muncullah seorang perawat.
“Nona
Latifa. Lima belas menit lagi kita akan mulai kemoterapinya. Harap segera
bersiap.”
Setelah
mengiyakan perkataan perawat itu, Tifa pun kembali membicarakan masalah mereka.
“Baiklah,
persiapan akan dilakukan oleh Dave. Kalian tunggu saja kabar darinya. Ingat,
jangan pernah angkat Hp kalian kecuali itu dari orang tua atau Dave, atau jika
perlu ganti saja nomor dan beritahu orang-orang yang penting saja.
“Dan
terakhir, semoga berhasil.”
Pintu
bangsal kembali terbuka. Kali ini ada beberapa perawat yang masuk dengan sebuah
troli yang penuh obat-obatan. Tampaknya mereka akan segera menyiapkan sesi
kemoterapi tersebut. Fi dan Adrian pun diminta menunggu di luar.
“Adrian?
Bagaimana Tantemu?”
Perhatian
Adrian dan Fi teralih oleh kedatangan seorang wanita tua. Adrian senang melihat
kedatangan wanita yang ternyata adalah neneknya.
“Sebentar
lagi kemoterapinya dimulai. Kami disuruh menunggu di luar.”
July
mengangguk lalu matanya beralih pada sosok Fi yang dari tadi hanya diam. Entah
kenapa tatapan July seolah ingin menelisik wajah Fi lebih dalam. Fi pun jadi
salah tingkah dibuatnya.
“Kamu
anaknya Ican’kan?”
Baik
Fi maupun Adrian, keduanya sama-sama terkejut. Mereka tak mengerti kenapa July
bisa tahu meski hanya sekali lihat.
“Saya
ingin bicara denganmu.” Matanya mengerling pada Adrian. “Kamu tunggu di sini
ya. Kalau ada apa-apa, hubungi Nenek.”
Adrian
terlihat ragu, tapi ia tak bisa menolak. Ia pun merelakan Fi pergi bersama
neneknya.
ooOoo
Tentu saja Fi tidak
bisa menolak permintaan itu. Jantungnya berdegup kencang. Otaknya berpikir
keras. Mencoba menerka-nerka apa yang akan mereka bicarakan. Apa dia akan
dihakimi lagi, seperti Tifa menghakiminya? Atau dia akan dipermalukan di depan
umum, seperti saat ini? Namun, apa pun itu Fi sudah menyiapkan diri. Toh semua orang sudah tahu aib-nya.
July
mengajaknya berbincang di kafetaria. Tak ada tanda-tanda emosi yang akan
meledak dari wanita ini. ia bahkan menawari Fi untuk memesan teh hangat. Namun,
tenangnya sikap July semakin memperbesar prasangka buruk di benak Fi.
“Bagaimana
kabarmu? Dan ibumu juga?”
“Ti—tidak
begitu baik,” Fi menelan ludahnya dengan susah payah. “Ada banyak yang terjadi
belakangan ini, tapi Mama saya baik-baik saja.”
July
menarik napas panjang, “Sudah lama sekali saya tidak melihat kalian. Pertama
dan terakhir adalah ketika namamu berubah.”
Fi
tersentak, “Na—nama saya diubah?”
“Ya,
apa Selvi tidak memberitahumu?” Sudut bibir July tertarik sedikit saat melihat
Fi menggelengkan kepalanya. “ Hmm, wajar Selvi tak memberitahumu karena itu
adalah permintaan egois saya dulu.”
Fi
merasa ada satu rahasia lagi akan terkuak. Jantungnya berpacu semakin cepat.
“Waktu
kami tahu kalau Ican ternyata sudah menikah dan mempunyai anak, kami semua marah.
Apalagi ketika Ican membawa Selvi dan kamu yang masih bayi ke rumah. Di saat
itu saya tidak bisa menahan amarah saya. Makanya saya memutuskan melarang Ican
menggunakan nama belakang yang sama dengan keluarga kami yang lainnya.”
“Maksudnya?”
tanya Fi dengan bibir tergigit.
“Mungkin
kamu tidak tahu, tapi Ican dan Laksmi serta Tifa adalah sepupu. Ican memiliki
nama belakang ‘Kusuma Nugraha’ sama seperti Adrian. Menurut garis keturunan
ayah Tifa, untuk anak laki-laki diberi nama belakang ‘Kusuma Nugraha’ dan yang
perempuan adalah ‘Kusuma Ningsih’. Makanya sebelum kami mengetahui kalau kamu
juga anak Ican, nama aslimu adalah Firdayanti Kusuma Ningsih.
“Tapi
kami semua tidak menerima hal itu. Bagi kami, kamu hanyalah anak hasil
perbuatan gelap antara orang tuamu. Apalagi waktu itu kami masih berkabung atas
kematian Laksmi. Waktu itu juga Ican mengatakan ada kemungkinan kalau Laksmi
bunuh diri akibat stres setelah mengetahui kalau Ican dan Selvi berselingkuh.
Makanya saya tidak mengizinkan nama ‘Kusuma Ningsih’ melekat pada namamu.”
Tiba-tiba
saja Fi menjadi geram mendengar penjelasan itu. Darahnya mendidih sampai ke
ubun-ubun.
“Tapi
Mama saya tidak melakukannya dengan sengaja! Dia juga tidak mau jadi perusak
rumah tangga orang!”
July
menarik napas, “Tenanglah, saya hanya membicarakan masa lalu. Saat ini saya
tidak akan menyalahkan siapa pun.”
Fi
membuang wajahnya.
“Saat
itu memang saat-saat yang panas. Tidak ada yang tahu siapa yang benar siapa
yang salah. Semua saling menyalahkan dan mendendam. Tapi seiring waktu berlalu,
saya mulai berpikir kalau tetap menyalahkan kalian tidak akan membuat Laksmi
hidup kembali. Keadaan juga tidak akan menjadi lebih baik. Makanya saya mencoba
memaafkan apa yang sudah terjadi, meski sulit merelakan Laksmi pergi dengan
cara seperti itu.
“Tidak
apa. Saya sudah menerima kamu dan ibumu dalam keluarga saya. Sayang, kejadian
ini sungguh di luar kuasa saya. Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi
padamu dan Adrian. Saya tahu, kamu dan Adrian pasti banyak mengalami masalah.”
Mata
Fi terasa panas. Lelehan air sudah memenuhi kantung air matanya.
“Dan
masalah Tifa, saya harap kamu mengerti. Kehilangan kakak dan ayah dalam waktu
berdekatan tentu akan merubah watak seseorang. Meski saya tidak menyukai sifat
pendendamnya, tapi saya juga tidak bisa menyalahkannya. Saya juga akan berusaha
membujuk Tifa agar tidak terlalu membenci kalian lagi.”
Terdengar
kaki kursi berderak. Fi tak terlalu mengindahkan July yang sudah beranjak.
Kepalanya terlalu berkelut dengan permasalahan dan hatinya masih bergumul dalam
emosi. Tanpa sadar air matanya meleleh menuju gravitasi. Ia baru menyadari
ketika July menepuk lembut bahunya.
“Kuatkan
dirimu. Masih banyak hal yang masih harus kamu hadapi,” July lalu tersenyum
lembut. “Ngomong-ngomong, kamu boleh memanggilku Nenek.”
Kalimat
terakhir July bagaikan angin segar di musim panas. Begitu menyejukkan
sampai-sampai Fi tak kuasa melepas isaknya. Ternyata Tuhan masih mengirimkannya
orang baik ketika seluruh dunia memusuhinya.
“Te—terima
kasih, Nek.”
sedikit kaget ..
BalasHapuskirain pas ketemu tifa bakalan kena sembur lagi
eh ternyata gak =D
penasaran , gimana mereka menyikapi berita yg udah terlanjur menyebar
author pelit =,= cuma 2 chap aja
ngmg2 semakin lama gaya penulisan author semakin hidup (y)
baca ini setelah selesai beres2 kamar , sekalian buat nemenin malem minggu dengn sepiring pempek hahahahaha