Total Tayangan Halaman

Minggu, 30 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 150)




Musikal 150



Para siswa diperbolehkan pulang cepat setelah pembersihan massal usai. Mereka bubar jalan setelah mendapat pengarahan Hana di lapangan upacara. Sama seperti yang lain, Ririn juga berniat langsung pulang ke rumah. Hari ini tidak latihan, jadi ia memilih untuk istirahat di rumah.
Andani lebih memilih pulang bersama saudarinya. Mungkin ia mau bercerita panjang pada Anjani mengenai kejadian di ruang kepala sekolah tadi. Ririn selalu tersenyum geli saat mengingat kejadian itu.
“Mau pulang bareng?”
Suara itu. Ah, tanpa perlu menoleh ia pasti tahu siapa yang selalu menawarinya pulang bareng. Si pianis yang selalu menyembunyikan matanya di balik lensa super tebal.
“Boleh saja.”
Alexi tersenyum, “Tapi aku mau ke mampir di minimarket depan gerbang rumahmu, keberatan?”
Ririn menggeleng sambil tersenyum. Sejurus kemudian ia sudah meluncur di sadel belakang bersama Alexi. Tak banyak pembicaraan saat di perjalanan bahkan ketika di minimarket. Ririn memutuskan untuk berjalan saja ketika Alexi akan mengantarnya dari minimarket menuju rumahnya. Ririn pun akhirnya membuka pembicaraan di antara mereka.
“Kamu tahu, tadi Jiro Senpai mendatangiku dan Andani. kemudain dia nembak  Andani.”
“Serius? Terus diterima gak?”
“Hmm, belum sih. Andani minta waktu, tapi untungnya Jiro Senpai mau sabar.”
“Wah, hebat betul Jiro Senpai!”
Ririn mengangguk, “Ya, aku jadi kagum sama dia.”
“Kamu suka dia?”
“Eh, bukan itu maksudku. Aku cuma kagum dengan orang-orang seperti Jiro Senpai.”
“Seperti Jiro Senpai?” tanya Alexi dengan alis terangkat.
“Ya, orang-orang yang berani mengakui perasaan mereka padahal orang yang mereka suka belum tentu membalas, “ Ririn tesenyum. “ Seperti oom-ku yang mengejar Miss Tifa atau kisah Fi dan Adrian yang dulu.”
Langkah Alexi terhenti. Tatapannya juga ikut berhenti memandang yang lain. Hanya tertuju pada gadis di depannya.
“Kalau itu kamu sendiri, apa kamu akan suka ditembak seperti itu?”
Ririn ikut mengurungkan langkahnya. Ia menatap Alexi heran.
“Memangnya ada yang mau sama aku?”
“Kalau ada bagaimana?”
Pipi Ririn merona. Ia buru-buru menundukkan kepala sambil menggaruk ujung hidungnya. Baru kali ini tatapan Alexi seolah menerobos pikirannya yang terdalam. Maka dari itu ia harus menghindari menatap langsung laki-laki ini.
“Tentu saja aku senang, tapi aku juga tidak tahu harus jawab apa.”
Ririn memaling wajahnya. Ia malu karena suaranya terdengar bergetar akibat malu. Angin berhembus dan membelai poni ikalnya. Helaian rambut di keningnya ikut terangkat sehingga menampakkan bekas luka yang dulu pernah ia pamerkan.
Alexi menghela napas, “Sudahlah, aku tadi cuma iseng bertanya.”
Pemuda berkacamata ini berjalan lebih dulu. Ririn yang kaget karena Alexi yang mendahuluinya pun buru-buru ikut menyusul.
“Apa kamu sudah orang kamu suka?” tanya Alexi lagi.
“Adrian,” Ririn tertawa geli. “Tapi itu dulu.”
“Sekarang?”
“Tidak tahu. Sejujurnya aku dulu pernah berpikir kalau Adrian dan Fi berpisah, tapi bukan dengan cara yang seperti ini loh. Yah, berharap saja kalau Fi selingkuh dan ketahuan Adrian. Kemudian Adrian menyadari siapa yang sebenarnya menyukainya. Hahaha, aku dulu bodoh ya.”
Ririn menghelapa napas, “Tapi kalau kejadiannya seperti sekarang, aku justru tidak berani meminta perasaan Adrian. Rasanya aku kotor sekali jika harus merebut Adrian dengan situasi seperti sekarang.”
Alexi hanya menganggguk.
“Kalau kamu?”
“Nadia,” Alexi tersenyum kecut. “Tapi sebelum dia pergi ke Paris. Sekarang aku sudah berpindah hati.”
“Oh ya, sama siapa?”
Langkah Alexi kembali terhenti dan menatap Ririn dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.
Ririn tersentak kaget, “Ke—kenapa?”
“Kita sudah sampai.”
Ririn gelagapan melihat pagar rumahnya tinggal lima meter dari ia berdiri.
“Oh, i—iya. Terima kasih sudah mengantar.”
Kali ini Alexi tak melepaskan tatapan lembut itu. Tak hanya itu, Alexi juga mendaratkan usapan lembut di pucuk kepala Ririn.
“Setelah pementasan ini selesai akan kuberitahu siapa orang yang kusuka itu. Sekarang aku pulang dulu.”
Ririn bahkan belum sempat mengucapkan salam perpisahan. Punggung Alexi meluncur cepat di atas sadel sepedanya. Meninggalkan Ririn yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Tangan Ririn meraba dada kirinya. Sama yang seperti Andani katakan tadi. Jantungnya seperti akan meledak.

Author's Note:
HAPPY ANNIVERSARY!!!!!
Ya ampuuuuun.... Author gak nyangka udah setahun anak Author tumbuh besar. 
Setahun penuh perjuangan, uhuhuhu...
Author akan berusaha untuk lebih baik lagi, supaya tidak mengecewakan kalian semua, readers-ku yang baik hati.
Terima kasih sudah mampir sejauh ini. I LOVE YOU
 

1 komentar:

  1. semoga next update semakin kenceng wkwkwkw

    author gimana tifa-dave penasaran :D

    BalasHapus