Musikal 152
“Tumben kamu diam aja, Ri? Lagi ada masalah?”
Riani tersentak
mendengar suara Gloria. Ia bahkan tak menyadari kalau sedari tadi ia sibuk
dengan pikirannya sendiri. Cepat-cepat ia memasang senyum manisnya untuk
menghilangkan kecurigaan.
“Gak apa-apa kok.”
Ketiganya pun sampai
ke kamar Tifa. Ketika Hana mendorong pintu, pemandangan yang tak biasa pun
terpampang di hadapan mereka.
Tubuh Tifa mengejang
hebat. Disertai suara teriakan penuh kesakitan. Dave dan beberapa perawat
berusaha memegangi tubuhnya. Tak lama kemudian ia memuntahkan isi perutnya dan
setelah itu ia baru terlihat tenang. Tidak, lebih tepatnya Tifa justru lemas
tak berdaya.
Ketiga temannya ini
hanya bisa mematung melihat kondisi Tifa. Apa yang terjadi ternyata jauh
melebihi ekspretasi mereka. Sosok Tifa yang mereka lihat barusan sangat
mengerikan; tidak seperti yang selama ini mereka kenal.
“Oh, kalian datang
berkunjung?”
Ketiganya terlonjak
kaget ketika July muncul dari belakang. Melihat senyum July yang hangat, mereka
segera mengubah ekspresi terkejut dengan senyuman.
“Kita menunggu di
luar saja. Biar para perawat mengurusi ini semua.”
Mereka mengikuti July
keluar. Memang sepertinya lebih baik menunggu di luar daripada harus
menyaksikan kembali sesuatu yang pedih itu.
“Maaf ya, kalian pasti terkejut melihat yang
tadi.”
Mereka masih membisu.
“Dave bahkan mengusir
Tante. Dia takut kalau Tante gak kuat lihatnya. Padahal yang ibunya Tifa’kan
Tante.”
“Tante gak apa-apa?”
Gloria akhirnya buka suara.
July menggeleng
pelan, “Tante sudah biasa. Kalau pun Tante mulai merasa gak kuat, Tante tetap
bertahan. Cuma Tante harapan Tifa sekarang.”
“Kami… kami cuma
kaget aja tadi,” ujar Hana. “Kami harap Tante jangan tersinggung.”
July kembali
tersenyum hangat. Tiba-tiba saja Gloria memeluknya. Sepertinya wanita ini
justru yang tak bisa tegar.
“Aku benar-benar
sedih, Tante. Benar-benar gak nyangka.”
“Makanya kita harus
kuat. Tifa butuh kita semua,” July menepuk pundak Gloria.
Di saat yang
bersamaan, Dave keluar dari kamar. Ia terlihat segar karena baru saja
membersihkan diri. Namun wajah lelahnya tak bisa dibohongi. Lingkaran hitam di
bawah matanya seolah menggambarkan bagaimana kondisi tubuh yang sebenarnya.
“Hai, kalian datang
untuk menjenguk?”
“Halo, Dave.
Bagaimana keadaan Tifa?” tanya Hana.
“Dia sedang istirahat
dan masih dalam pengawasan suster, tapi sekarang sudah tenang kok,” Dave
tersenyum. “Makanya aku disuruh bersih-bersih.”
“Syukurlah kalau
begitu,” Hana melirik kedua sahabatnya. “Sepertinya dia memang harus istirahat
dulu. Kalian juga harus istirahat.”
“Kami baik-baik aja
kok,” sekali lagi Dave berusaha menampilkan keadaan yang baik-baik saja.
Hana dan Gloria
bertukar pandang lalu keduanya mengangguk.
“Kalau begitu kami
permisi dulu. Sampaikan salam kami pada Tifa,” ujar Gloria.
Hana menarik
bungkusan yang Riani pegang karena wanita itu sama sekali tak menunjukkan
respon apapun, “Kami punya oleh-oleh untuk Tifa, tapi kalau kalian mau juga gak
apa-apa.”
“Wah, jadi
merepotkan. Maaf ya, sudah capek-capek datang kalian malah gak bisa ketemu
dia,” ujar Dave sambil menerima bungkusan itu.
Hana dan Gloria
memeluk July sambil berpamitan. Melihat kedua temannya menunjukkan sikap
santun, Riani pun ikut-ikutan memeluk July. Ia tak mau terlihat seperti
perempuan yang tidak punya kesopanan.
“Kami pulang dulu,”
ujar Hana.
Ketiganya membisu
sepanjang perjalanan di koridor. Tenggelam dalam pikiran masing-masing sehingga
tak ada yang berminat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. Hingga Hana
yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti. Sontak Gloria dan Riani bingung
melihat tingkah Hana yang spontan itu.
“Kenapa, Han? Ada
yang ketinggalan?” tegur Gloria.
Hana berbalik dan
menatap Riani dengan sinis.
“Apa yang sebenarnya
terjadi antara kamu dan Tifa, Ri?”
Riani tersentak.
Seketika ia diselimuti perasaan kaget dan takut. Ia takut kalau Hana membongkar
isi hatinya.
“Jangan mencoba
berdalih! Kamu selalu diam jika membicarakan Tifa dan Dave. Bahkan kamu
memasang tampang stoic-mu ketika kita
kemari, tapi matamu bersinar saat Dave menyapa kita tadi.”
“Ha—Hana, kupikir
kamu salah sangka,” Gloria berusaha melerai.
“Aku gak salah, Glo,
tapi aku tahu. Aku tahu apa yang terjadi bertahun-tahun lalu. Aku tahu apa yang
sebenarnya yang terjadi di antara mereka. Hanya saja aku tidak tahu apa yang
pernah dikatakan Tifa pada Riani sehingga orang ini masih bisa menyalakan
kemarahannya di saat seperti ini.”
Riani membuang muka.
“Ri, kita semua
lihat’kan tadi, bagaimana menderitanya Tifa. Dia sedang sakit, Ri. Dia berusaha
melawan kematian. Kenapa kamu malah bersikap seperti ini? Apa kamu gak kasihan
melihatnya?”
Riani menggigit
bibir.
“Bisakah kamu
melupakan apa yang dijanjikan Tifa untuk saat ini? Bisakah kamu bersimpati dulu
sahabatmu? Dia sahabatmu, Ri.”
Hana sengaja
menekankan kata ‘sahabat’ tersebut agar mengenai perasaan Riani. Alih-alih
tersentuh, Riani justru berbalik marah.
“Apa kamu tim sukses
Tifa? Kenapa semua orang harus membelanya? Dari dulu. Dari dulu! Semua orang
selalu mendukungnya, tapi kenapa tidak ada yang membelaku?”
Gloria ternganga
mendengar jawaban Riani, “Ri, kamu….”
“Apa yang terjadi di
antara aku dan Tifa itu bukan urusan kalian!”
Riani meninggalkan
kedua temannya lebih dulu. Ia mempercepat langkahnya supaya tak ada yang
melihat kalau pipinya mulai dibasahi air mata.
“Kenapa lagi sih?”
keluh Gloria setelah Riani meninggalkan mereka. “Kamu kenapa harus
bongkar-bongkar masalah ini sekarang sih? Seolah-olah kita ini masih kekurangan
masalah aja.”
“Supaya dia sadar,
Glo. Sadar kalau dirinya sudah terlalu tua untuk bertingkah seperti anak-anak,”
Hana menjawab dengan tenang.
“Iya, tapi’kan bisa menunggu
nanti. Ini bukan saat yang tepat, Han.”
“Justru itu, ini
adalah saat yang paling tepat untuk menyadarkannya karena hanya saat ini Tifa
tidak bisa membelanya,” Hana tersenyum sinis. “Aku hanya ingin menyadarkannya
kalau hanya satu orang yang selalu membelanya dan orang itu adalah orang yang
sedang ia musuhi sekarang.”
Gloria memejamkan
matanya. Ia merasa rambutnya semakin mengikal karena terlalu banyak masalah
yang membelitnya.
setelah bagian tegang dari awal sampe akhir , bagian ini terasa kocak banget
BalasHapus"Gloria memejamkan matanya. Ia merasa rambutnya semakin mengikal karena terlalu banyak masalah yang membelitnya."