Musikal
160
Langkah Tifa
melompat-lompat menghindari genangan air. Palembang baru saja diguyur hujan
lebat sehingga lubang-lubang kecil
langsung terisi air. Untungnya hujan tak berlangsung lama jadi tidak
membuat jalan-jalan kecil terendam air.
Langit masih menyisakan gerimis kecil. Namun, itu tak menyurutkan Tifa
untuk sampai ke tempat tujuan. Ia bahkan menolak nasihat ibunya untuk membawa
payung. Alasannya payung akan memperlambat gerakannya.
Selain genangan air, ia juga menghindari seorang pria yang menggunakan
payung biru. Anehnya, pria itu justru menahan lengan Tifa agar tak langsung
melewatinya. Tifa kaget dan berusaha melepaskan diri. Pemuda itu mengangkat
payung yang menutupi wajahnya. Rasa terkejut Tifa ternyata berlanjut saat ia
berpapasan dengan pria itu.
“Dave?”
“Yo!” sahutnya seraya melambaikan tangan. “Ngapain kamu di sini? Mau
nguntit rumah aku ya?”
Tifa tersentak, “Eh, rumah kamu?”
“Iya, kok kamu tahu aku tinggal di sini?”
“Bu—bukan kok. Aku juga gak tahu kalau kamu tinggal di komplek ini. Aku
ke sini mau mengunjungi kakakku.”
“Eh, kakakmu yang cantik itu? Dia tinggal di sini juga?”
Tifa mengangguk ragu.
“Jadi, kamu mau ke rumahnya? Keberatan kalau aku ikut mengantar?”
Tifa mengigit bibirnya. Ia berpikir cukup lama.
“Asal kamu janij kalau kamu gak bakal komentar aneh-aneh.”
Untuk apa juga ia komentar aneh-aneh, benak Dave. Namun, ia mengangguk
segera.
Rumah Kakaknya Tifa ternyata cukup jauh, bahkan dari rumah Dave.
Terletak di sudut belakang komplek. Sepanjang perjalanan Tifa tak banyak
bicara. Ia seperti sedang menyimpan sesuatu dalam pikirannya.
Baru saja Tifa membuka pagar, mereka langsung disambut oleh seorang
bocah laki-laki. Ia berseru riang sambil memeluk Tifa. Kalau dilihat dari
postur tubuhnya kemungkinan anak ini masih berumur empat atau lima tahun.
“Tante Tifa hari ini bawa apa?”
“Bawa pie apel. Kamu suka’kan?”
Bocah itu mengangguk semangat lalu sorot matanya berubah asing saat
bertemu pandang. Ia menarik-narik ujung baju Tifa.
“Tante, Tante, itu siapa?”
Tifa meiirik Dave ragu, “Ini teman Tante. Namanya Dave. Salam dulu gih.”
Dengan patuh bocah itu menyalami Dave, “Halo, Om. Namaku Adrian.”
Dave tersenyum seraya mengacak pucuk kepala bocah itu, “Wah, pintar.
Kamu umurnya berapa?"
“Tahun ini aku ulang tahun yang kelima, Om.”
“Mamamu mana?” potong Tifa sebelum Dave melanjukan percakapan dengan
Adrian.
“Lagi nonton TV. Yuk, Tante, kita ikutan nonton sambil makan kue.”
Adrian menarik baju Tifa agar mengikutinya. Mengingat apa yang dikatakan
Tifa sebelumnya, Dave tak memberanikan dirinya untuk ikut masuk.
“Yuk, ikut ke dalam,” ajak Tifa sambil tersenyum.
Rumah itu tak terlalu mewah, tetapi semua perabot tersusun rapi. Dave
bisa merasakan kalau kakaknya Tifa adalah tipikal ibu rumah tangga yang rajin.
Mereka bertemu dengan sang kakak di ruang tengah. Benar yang dikatakan bocah
itu kalau ibunya sedang asyik menonton televisi.
“Ibuuu, ada Tante Tifa!”
Wanita itu tersentak, tetapi terlihat senang dengan kedatangan Tifa. Ada
yang berubah setelah limat tahun Dave tak melihatnya. Wajahnya wanita itu masih
seperti dulu, tapi entah kenapa banyak sekali garis-garis halus menghiasi
wajahnya. Padahal ia yakin saat ini kakaknya Tifa itu masih berusia 20-an.
Namun, semua orang mengira kalau wanita itu sudah memasuki pertengahan usia
30-an. Selain itu, tubuhnya juga sangat kurus.
“Wah, senang kamu datang, Tif,” ujarnya sambil memeluk Tifa lalu matanya
bertemu dengan Dave. “Pacar kamu, Tif?”
Tifa buru-buru mendorong kakaknya, “Bu—bukan, enak aja! Ini Dave, Kak.
Sepupunya Kak Armandi. Ingat gak?”
Lipatan di kening Laksmi menandakan ia sedang mencoba mengingat sosok
pemuda tampan di hadapannya. Sampai akhirnya ia mengingat kenangan masa
lalunya.
“Ah ya, David’kan? Ya ampuuun, kamu gedenya ganteng bangeeet!”
Dave terkekeh, “Makasih, Kak. Kak Laksmi apa kabar?”
“Yah, pokoknya sibuk ngurusin anak dan keluarga,” Laksmi tertawa kecil.
Dave hanya balas tersenyum. Jawaban yang ambigu. Lagi-lagi ada kesan
menutupi baik dari Tifa atau pun kakaknya.
Suasana dibuat sehangat mungkin dan mungkin yang hanya merasakan
kehangatan itu hanyalah bocah bernama Adrian. Dia terus saja melahap pie
apelnya sambil sesekali mengajak Tifa bercanda. Selebihnya Dave merasakan
kepura-puraan yang digunakan kedua kakak beradik ini untuk menutupi sebuah
keadaan.
Sampai akhirnya mereka pamit. Dave menawarkan diri untuk mengantar Tifa
sampai ke depan komplek. Tifa tak menolak, tapi juga tak membuka percakapan. Sampai keduanya melewati
sebuah minimarket komplek.
“Beli minum dulu yuk. Kayaknya aku kurang minum di sana tadi.”
Dave mengiyakan dan sekali lagi Tifa tak berkeberatan ketika ditraktir.
Kemudian keduanya mengambil tempat di bangku yang disediakan di depan
minimarket tersebut.
“Pasti kamu ngerasa aneh banget tadi’kan?” Tifa akhirnya membuka suara.
“Maaf, mungkin Kakakku terkejut kalau kamu datang.”
“Apa kedatanganku menganggu?”
“Nggak kok, cuma yaah… kakakku memang agak sensitive kalau bertemu
dengan orang baru.”
Dave hanya mengangguk pelan.
Tifa mendesah panjang, “Kamu pernah tanya’kan kenapa Kakakku tidak
melanjutkan kariernya? Alasannya adalah anak kecil tadi.”
“Maksud kamu karena Kakakmu sudah lebih dulu menikah?”
“Bukan, tapi karena kakakku lebih dulu mendapatkan Adrian.”
Dave tersentak, “Eh, maksudmu kakakmu hamil duluan?” Detik berikutnya
Dave menyesal telah menanyakan pertanyaan tersebut, “Ah, maaf. Aku tidak—“
“Tidak apa. Memang kenyataannya seperti itu,” Tifa mendesah panjang.
“Makanya kakakku berhenti dan lebih memilih mengurung diri dengan alasan
mengurus Adrian. Sebenarnya aku tahu kalau kakakku masih ada keinginan untuk
kembali ke dunia teater, tapi dia sudah merasa malu.”
“Lalu ayahnya? Maksudku ayah si Adrian, apa dia bertanggung jawab?”
Tifa mengangguk kecil, “Aku cuma tidak menyangka saja kalau kakakku
melakukannya dengan kakak sepupuku sendiri.”
“Tapi bukannya kakakmu dulu pacarannya dengan Kak Armandi?”
“Begitulah, aku juga tidak mengerti kenapa Kak Laksmi mau dengan orang
itu, tapi setidaknya orang itu mau bertanggung jawab,” ujar Tifa. “Setidaknya
nama Adrian tetap mendapat nama Kusuma Nugraha.”
“Nama keluargamu?”
“Ya, kalau laki-laki akan mendapat nama Kusuma Nugraha dan kalau
perempuan Kusuma Ningsih. Kebetulan Kak Ican itu dari keluarga ayahku.”
Dave mendesah pendek, “Lalu kenapa kamu menceritakan ini padaku?”
“Tidak tahu,” Tifa menggeleng pelan. “Mungkin karena kamu sudah melihat
semuanya dan mungkin juga karena pernyataan cintamu waktu itu.”
Dave kembali tersentak, “Apa hubungannya?”
“Yaah, sejak kejadian kakakku, ayah jadi lebih protektif padaku. Beliau berpesan
untuk tidak terlalu dekat dengan laki-laki apalagi sampai ke tahap pacaran.
Beliau takut apa yang terjadi pada Kak Laksmi terjadi juga padaku.”
Dave mengangguk paham. Akhirnya ia mengerti kenapa gadis ini sulit
dimengerti ketika berbicara cinta. Kenapa gadis ini selalu menghindar ketika
ditanya mengenai perasaan. Trauma keluarganya ternyata berpengaruh besar pada
kehidupan gadis ini.
“Kalau begitu tidak usah dipikirkan,” Dave menepuk bahu Tifa. “Aku
menyukaimu supaya bisa melihatmu bahagia bersamaku. Aku tidak mau ada tekanan
dalam hubungan kita berdua. Kalau saat ini kamu tidak bisa, tidak apa-apa. Aku
harap kita akan tetap dekat seperti saat ini.
“Dan kalau seandainya kamu berubah pikiran, kamu jangan takut. Aku
menyukaimu agar aku bisa menjagamu. Aku tidak akan merusakmu seperti laki-laki
lain dan kamu bisa adukan pada ayahmu seandainya itu terjadi.”
Tifa tersenyum geli, “Terima kasih. Terima kasih dua kali.”
Kening Dave berkerut, “Kenapa dua kali?”
“Karena yang pertama kamu sudah bersabar menghadapi orang seperti aku.
Kemudian aku juga berterima kasih karena kamu mau mendengar ceritaku. Rasanya
sedikit lega sudah berbagi pada orang lain, tapi aku minta kamu rahasiakan hal
ini. Tolong, jangan ceritakan pada siapa pun.”
“Aku mengerti,” Dave menepuk dadanya. “Kamu bisa mengandalkanku.”
Tifa kembali tertawa seraya bangkit, “Ah, sudah sore. Aku harus segera
kembali. Nanti ibuku malah ngomel-ngomel. Sampai jumpa, Dave.”
“Hei, Tif!”
Tifa terpaksa memutar langkahnya karena panggilan itu. Ia mendapati Dave
tersenyum padanya.
“Kalau ada masalah ceritakan saja padaku. Aku senang bila kamu mau
berbagi.”
Tifa tidak bisa tidak tersenyum. Dave menawarkan sebuah kenyamanan yang
selama ini ia tak miliki. Rasanya ia harus memikirkan ulang tentang peryataan
cinta waktu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar