Musikal
156
“Tifa, bangun! Jadi
pergi tidak?”
Gadis kecil itu melompat dari kasurnya. Menatap ibunya dengan tatapan
nyalang.
“Kenapa baru dibangunkan?”
Bukannya mendapatkan jawaban, gadis kecil ini justru mendapat pukulan
bantal guling dari ibunya.
“Ibu sudah membangunkanmu dari satu jam yang lalu! Sekarang kalau masih
mau protes, kita gak jadi pergi!”
Kali ini gadis itu langsung meluncur ke kamar mandi. Sang Ibu hanya
menghela napas sambil membereskan kasur si gadis.
“Sudah dibangunkan?” tanya suaminya sambil menghirup kopi.
“Sudah dari tadi. Harusnya Mas tanya sudah bangkit atau belum.”
Sang suami tertawa seraya membentangkan korannya, “Anak itu, padahal
dari seminggu yang lalu sangat bersemangat untuk hari ini. Ketika hari H, malah
bangun siang.”
“Lho, masih pada di sini? Katanya kita terlambat?”
Sang ibu berdecak, “Kita nungguin kamu, tahu!”
“Aku gak bakal lama kok,” si gadis menyambar selembar roti dan kopi dari
cangkir ayahnya.
“Eh, itu kopi ayahmu!” seru sang ibu.
“Ya sudahlah, biarkan saja,” sang ayah melipat korannya. “Sudah siap?”
“Ayeey, kapten!”
ooOoo
Laksmi melirik
arlojinya berkali-kali. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk backstage. Hanya teman-temannya yang
lalu-lalang dan tak ada yang memberinya kabar bahwa keluarganya sudah sampai.
Ia mendesah berat, takut kalau mereka datang terlambat.
“Oh, kamu sudah siap ternyata.”
Laksmi mendapati Armandi sedang tersenyum padanya. Namun wajah pemuda
itu berubah ketika melihat ekspresi kekasihnya resah.
“Ada apa?”
“Apa kamu melihat keluargaku sudah datang?”
Kening Armandi berkerut, “Ahh, aku tidak tahu.”
Laksmi mendesah berat, “Duuh, mereka ke mana sih? Sejam lagi kita acara
sudah mau mulai.”
Armandi menepuk bahu gadis itu, “Mungkin mereka terkena macet. Mereka
pasti ke sini.”
Desahan berat Laksmi kembali terdengar. Tak lama kemudian, seorang gadis
menghampiri mereka.
“Laksmi, ada keluargamu di luar.”
Akhirnya Laksmi mendesah lega, “Terima kasih ya.”
“Oh ya, orang tuamu juga ada, Arman,” gadis itu tersenyum kecil.
“Ngomong-ngomong, adik kamu lucu banget.”
Gadis itu berlalu. Laksmi menatap Armandi dengan ekspresi bingung.
“Sejak kapan kamu punya adik?”
“Adik sepupu. Itu loh, si David yang bapaknya bule. Aku pernah
cerita’kan sama kamu?”
Laksmi mengangguk paham, “Ah si David. Berapa umurnya sekarang?”
“Hmm, kalau gak salah seumuran sama adikmu deh,” ujar Arman. “Yuk, kita
temui mereka. Sekalian aja kita jodohin Tifa sama David.”
Laksmi tertawa. Keduanya pun menemui keluarga mereka yang sudah menunggu
di dekat panggung.
“Kakak!”
Melihat sang adik begitu bersemangat, Laksmi hanya bisa berdecak kesal.
“Pasti kamu bangunnya kesiangan, makanya kalian terlambat.”
“Siapa lagi,” sahut sang ibu.
Bibir gadis kecil yang dipanggil Tifa itu berkerut, “Habisnya aku
terlalu bersemangat semalam, jadinya gak bisa tidur, terus malah bangun
kesiangan.”
“Ada-ada aja kamu,” Laksmi mengacak-acak rambut Tifa.
“Selamat pagi, Tante July, Om Yudha!”
“Pagi juga, Arman,” sahut ayah kedua gadis ini. “Wah, kamu tampak sibuk
ya.”
Yudha hanya membalas dengan senyuman lalu menatap Tifa dengan tatapan
jahil, “Halo, Latifa! Pasti belum mandi ya?”
“Enak aja. Aku udah mandi tahu!”
Semua orang tertawa melihat wajah Tifa kembali berkerut-kerut.
“Oh ya, semuanya kenalkan ini sepupuku. Namanya David, tapi panggil saja
dia Dave.”
Untuk pertama kalinya Tifa dan Dave saling bertukar pandang. Iris mata
sebiru safir itu berhasil menyita perhatian Tifa sehinggga gadis yang penuh
rasa ingin tahu itu tak berhenti untuk menelisik mata itu lebih mendalam.
Sebaliknya, tatapan intens Tifa justru membuat Dave takut. Ia segera
bersembunti di balik pinggang Armandi.
“Jangan dilihatin gitu, Tif. Tuh, dia jadi takut,” omel ibunya.
Tifa menarik-narik ujung baju ibunya, “Matanya biru, Bu. Kayak bule.”
“Memang bule, Tif!” sahut Laksmi. “Duh, nih anak. Untung Dave gak ngerti
bahasa Indonesia.”
Mereka kembali tertawa. Kemudian ada yang memanggil Laksmi untuk segera
bersiap-siap.
“Aku harus ke panggung. Ibu sama Ayah langsung duduk aja, sekalian ajak
orang tuanya Armandi,” ujar Laksmi. “Dan kamu, Tif. Kalau kamu mau jalan-jalan
sama Kak Arman aja ya. Kakak gak bisa nemenin,” Laksmi melirik Arman. “Tolong
dulu ya, Man.”
Arman mengangguk, “Kamu bisa mengandalkan aku.”
Mereka pun berpisah. Tifa sudah mantap menggenggam tangan Arman, tetapi
keraguan justru terlihat dari si kecil Dave. Ia bingun harus ikut paman-bibinya
atau ikut kakaknya.
“So, wanna follow us or aunty and uncle?”
“Y—you,” cicitnya.
Armandi tersenyum lalu mengajak keduanya ke backstage. Mata Tifa langsung berbinar melihat hiruk-pikuk di sana.
Tiba-tiba saja Tifa mengulurkan tangannya pada Dave.
“Hai, aku Tifa! Kita main bareng yuk!”
Dave terlihat terkejut. Buru-buru ia bersembunyi di balik tubuh Arman.
Melihat itu Arman hanya tertawa kecil.
“She has introduced herself. Where
is your manner?”
Bocah itu mengangguk pelan. Ia pun menyambut tangan Tifa, “Da—Dave.”
Armandi kembali tersenyum. Tak lama ada yang memanggil dan menyuruhnya
untuk melakukan sesuatu.
“Kalian mainnya jangan jauh-jauh dan jangan sentuh apa pun. Kakak akan
segera kembali.”
Dave merasa sangat kehilangan saat Armandi meninggalkannya. Ternyata
kesepiannya tak berlangsung lama. ia merasakan jemarinya digenggam lembut oleh
gadis kecil yang ada di hadapannya. Senyuman hangat menyapanya saat mereka
kembali bertukar pandang.
“Let’s go!”
Entah kenapa kaki Dave seperti tertiup angin. Langkah terasa ringan
ketika gadis itu menggenggam tangannya ke sana ke mari. Mereka tak banyak
berkomunikasi. Hanya bermodalkan kata ‘let’s
go’ dan ‘come on’, keduanya sudah
seperti teman akrab.
Lima belas menit sebelum acara dimulai, Armandi berhasil menemukan mereka.
Ia meminta keduanya untuk kembali ke tempat duduk. Dengan patuh mereka kembali
pada orang tua mereka. Namun, hal yang tak mereka sadari adalah genggaman
tangan mereka belum terlepas meski mereka sudah kembali. Sengaja atau tidak,
tapi mereka didudukkan bersebelahan. Dengan begitu butuh waktu yang lama sampai
tangan mereka terlepas.
Dave yang biasa takut bertemu dengan orang baru, tetapi kali ini tidak.
Ia merasa nyaman saat Tifa menggenggam tangannya. Dave bahkan tak terlalu
menggubris drama yang sedang tayang saat itu. Ia lebih sibuk memperhatikan
gadis yang ada di sebelahnya. Satu hal yang Dave tak akan bisa lupakan adalah
ekspresi kagum gadis itu saat melihat kakaknya tampil. Dave tak pernah melihat
sinar mata seindah itu.
“Suatu saat aku akan membuat pertunjukkan seperti itu. Aku pasti akan
membawanya sampai ke Broadway.”
Dave tak mengerti apa yang diucapkan gadis itu. Diam-diam ia menyimpan
kata demi kata yang baru saja ia dengar. Ia bertekad untuk belajar bahasa lebih
serius lagi supaya ia bisa mengartikan apa yang ia simpan dalam memorinya hari
ini.
Pementasan itu berakhir. Setelah para pemain beserta kru mengucapkan
salam perpisahan, si gadis langsung berlari mengejar kakaknya.
“Kakaaaak, hebat banget! Kereeen!”
Keduanya bertukar high five.
Kemudian keduanya tertawa.
“Suatu saat kamu yang ada di sana, Tif. Nanti kita akan buat sebuah pertunjukkan
musical terhebat di sekolah ini dan akan kita bawa di panggung Broadway!”
Tifa mengangguk mantap,
“Ya, Kita akan buat sebuah pertunjukkan musical terhebat di sekolah ini dan
akan kita bawa di panggung Broadway!”
Keduanya kembali tertawa.
“Selamat ya, Laksmi. Kamu hebat banget tadi!” puji ibunya.
Laksmi memeluk ayah dan ibunya bergantian, “Terima kasih ya, kalian
semua.”
“Hai, keluarga bahagia! Mau difoto?”
Mereka tertawa saat Armandi menawarkan diri dengan kameranya. Mereka pun
segera berpose bersama dan mengabadikan kenangan itu dalam beberapa lembar
foto.
“Thank’s, Arman,” ujar Laksmi.
Armandi mengangguk lalu menoleh pada Dave yang dari tadi mengikutinya.
“Do you want take a picture too?”
Armandi mengerling jahil. “With her,
maybe?”
Dave tersipu malu saat Armandi mengodekan matanya pada Tifa, tapi ia tak
menolak. Ia tak tahu apakah kesempatan ini akan datang lagi.
“Can you ask her?”
Armandi mengangguk sambil tersenyum. Ia segera menghampiri Tifa lalu
membisikkan sesuatu. Gadis itu mengangguk kemudian berlari ke arah Dave.
“Yuk, foto bareng!”
Dave masih tak mengerti, tapi tampaknya Tifa mengajaknya untuk foto
bersama. Dave mengangguk lalu memasang pose kaku saat berdampingan dengan gadis
itu.
Gadis itu dipanggil orang tuanya setelah mereka menyelesaikan beberapa
kilatan kamera. Entah keberanian apa yang membuat Dave bisa menahan lengan
gadis itu. Dave hampir tak bisa membuka bibirnya saat gadis itu menatapnya
dengan penuh tanda tanya.
“I—I should back to Jakarta or
maybe England, bu—but I promise I will back here to meet you again.”
Kata-kata Dave terlalu cepat dan semuanya dalam bahasa Inggris. Tak
sepatah kata pun yang dimengerti Tifa. Namun, gadis itu tak mau mengecewakan si
mata biru ini. ia tersenyum seraya mengangguk.
“Oke!”
Begitulah salam terakhir mereka sampai lima tahun kemudia takdir
mempertemukan mereka kembali.
ooOoo
July menggenggam erat
sebuah bingkai foto. Di dalamnya terdapat potret keluarganya 15 tahun lalu.
Keluarganya yang masih lengkap, yang masih baik-baik saja.
“Hingga badai itu datang,” desah July seraya menaruh bingkai itu pada
meja di samping tempat tidur Tifa.
Ia menatap anaknya yang baru saja dipindahkan dari ICU ke kamar rawat
khusus. Tifa belum juga membuka matanya. Sepertinya ia masih terbawa dalam
kenangan-kenangannya terdahulu.
“Hingga badai itu datang,” ulang July. “Dan menyisakan kita yang seperti
ini.”
ooOoo
Tifa berlari-lari
cepat. Seragam sekolahnya bahkan sampai basah oleh keringat. Ia ingin lekas
sampai di rumah agar bisa memberikan kejutan selamat datang pada Laksmi.
Setelah pementasan terakhirnya, Laksmi melanjutkan kuliah di Jakarta.
Sudah setahun tahun ia tak pulang ke rumah dan sekarang ia mengabarkan kalau ia
akan kembali. Tifa tentu sabar untuk segera mendengarkan cerita perjalanan
kakaknya.
Tifa dan Laksmi terpaut usia yang cukup jauh. Ketika Laksmi kelas tiga
SMA, Tifa baru duduk di kelas lima. Meski begitu, keduanya tidak pernah
bertengkar. Tifa sedikit manja dan pemalas, tapi Laksmi selalu sabar menghadapi
adik kecilnya itu. Walau terkadang Laksmi harus mengomel karena tingkah Tifa,
tapi keduanya tak pernah saling membenci.
Laksmi adalah sumber inspirasi Tifa. Apa yang dilakukan Laksmi akan
selalu jadi apa yang dilakukan Tifa. Begitu pula ketika Laksmi bercita-cita
menjadi aktris teater, Tifa pun juga memimpikan hal yang sama. Ia harus
berusaha keras meski ia tahu ia punya
bakat akting seperti kakaknya.
‘Mungkin aku akan jadi
sutradara saja,’ begitulah Tifa menghibur dirinya.
Terlambat. Tifa melihat pintu rumahnya terbuka. Itu tandanya sang kakak
sudah tiba lebih dulu darinya. Meski begitu tanpa pikir panjang, ia langsung
menyerbu masuk.
“Kak Laksmiii!”
Laksmi menyambutnya dengan hangat. Mereka langsung bertukar kabar
layaknya dua orang yang sudah lama terpisah jauh. Hanya saja Tifa mereasa ada
yang aneh dengan keluarganya. Sang ayah langsung meninggalkan ruang tamu begitu
Tifa datang, sementara ibunya langsung menyuruhnya cepat-cepat ke kamar. Selain
itu, ada kakak sepupunya yang biasa ia sapa Mas Ican yang turut hadir di sana.
Tifa menyapanya dengan biasa, tapi tetap saja suasana terasa begitu dingin.
Desakan ibunya untuk menyuruh ke kamar membuat Tifa harus rela meninggalkan
kakaknya meski ia masih ingin temu kangen.
“Pokoknya kamu harus menikah sekarang juga! Jangan bikin aib keluarga!”
Tifa terlonjak kaget saat ia baru saja menutup pintu kamarnya. Ketika ia
berniat untuk makan siang, ia mendengar ayahnya berseru dengan intonasi yang
kuat. Seumur hidupnya ia tak pernah mendengar ayahnya mendengar ayahnya marah
seperti itu. Tifa memang bukan anak yang baik, tap ayahnya juga bukan pria
pemarah.
Langkah-langkah kecilnya mengendap-endap dan menguping pembicaraan yang
ada di ruang tamu. Situasi terasa menegangkan. Laksmi dan Ican terlihat
menunduk seperti orang pesakitan sementara ibunya berusaha menahan air matanya.
Kemarahan terpancar dari air muka ayahnya yang merah padam. Tifa merasa ada
sesuatu yang terjadi setelah kepulangan kakaknya.
“Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi istri, Yah. Umurku baru
18 tahun.”
“Lalu mau apa? Mau menunggu sampai kandunganmu besar atau sampai kamu
melahirkan?”
Napas Tifa tercekat. Kandungan? Melahirkan? Pernikahan? Tunggu, apa
maksudnya ini?
“Dan kamu, Ican. Kamu harus menikahi Laksmi pada waktu dekat ini. Om
tidak mau ada orang lain yang tahu tentang aib ini.”
Ican hanya tertunduk lebih dalam.
“Ini semua salahmu. Berani-beraninya kamu menghamili sepupumu sendiri!”
Tifa merosot ke tanah. Kakaknya hamil? Dan pelakunya adalah sepupunya
sendiri. Dunia terasa berputar cepat. Membuatnya tak sanggup berpikir kalau
badai besar telah menghampiri keluarganya.
ooOoo
July menggenggam tangan
anak bungsunya. Berharap sang anak memberikan tanda-tanda kehidupan meski hanya
sedikit. Namun, untuk kesekian kali sang anak masih di dalam mimpi panjangnya.
“Pertama kakakmu, lalu ayahmu, dan sekarang kamu pula,” lirihnya. “Apa
ini salahmu ibu, Nak? Sehingga Tuhan selalu mengambil orang-orang yang ibu
cintai.”
Air mata July mulai menetes. Genggaman tangannya bergetar.
“Ibu tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi. Ibu hanya ingin kamu
bangun, Tif. Ibu hanya butuh kamu….”
Tak ada jawaban. Hanya bedside
monitor yang menyahut pendek-pendek. Setidaknya Tifa masih bernapas. Namun,
hal itu terasa ironi bagi July.
“Bangunlah, Tifa. Ibu membutuhkanmu….”
Author's Note:
Duuh... ini blog sampai bersawang yah karena udah dua minggu ditinggalin
Author minta maaf karena sudah meninggalkan kalian selama itu
Semoga tidak terulangi lagi...
Author minta maaf karena sudah meninggalkan kalian selama itu
Semoga tidak terulangi lagi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar