Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Juni 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 156)




Musikal 156


“Tifa, bangun! Jadi pergi tidak?”
Gadis kecil itu melompat dari kasurnya. Menatap ibunya dengan tatapan nyalang.
“Kenapa baru dibangunkan?”
Bukannya mendapatkan jawaban, gadis kecil ini justru mendapat pukulan bantal guling dari ibunya.
“Ibu sudah membangunkanmu dari satu jam yang lalu! Sekarang kalau masih mau protes, kita gak jadi pergi!”
Kali ini gadis itu langsung meluncur ke kamar mandi. Sang Ibu hanya menghela napas sambil membereskan kasur si gadis.
“Sudah dibangunkan?” tanya suaminya sambil menghirup kopi.
“Sudah dari tadi. Harusnya Mas tanya sudah bangkit atau belum.”
Sang suami tertawa seraya membentangkan korannya, “Anak itu, padahal dari seminggu yang lalu sangat bersemangat untuk hari ini. Ketika hari H, malah bangun siang.”
“Lho, masih pada di sini? Katanya kita terlambat?”
Sang ibu berdecak, “Kita nungguin kamu, tahu!”
“Aku gak bakal lama kok,” si gadis menyambar selembar roti dan kopi dari cangkir ayahnya.
“Eh, itu kopi ayahmu!” seru sang ibu.
“Ya sudahlah, biarkan saja,” sang ayah melipat korannya. “Sudah siap?”
“Ayeey, kapten!”
ooOoo
Laksmi melirik arlojinya berkali-kali. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk backstage. Hanya teman-temannya yang lalu-lalang dan tak ada yang memberinya kabar bahwa keluarganya sudah sampai. Ia mendesah berat, takut kalau mereka datang terlambat.
“Oh, kamu sudah siap ternyata.”
Laksmi mendapati Armandi sedang tersenyum padanya. Namun wajah pemuda itu berubah ketika melihat ekspresi kekasihnya resah.
“Ada apa?”
“Apa kamu melihat keluargaku sudah datang?”
Kening Armandi berkerut, “Ahh, aku tidak tahu.”
Laksmi mendesah berat, “Duuh, mereka ke mana sih? Sejam lagi kita acara sudah mau mulai.”
Armandi menepuk bahu gadis itu, “Mungkin mereka terkena macet. Mereka pasti ke sini.”
Desahan berat Laksmi kembali terdengar. Tak lama kemudian, seorang gadis menghampiri mereka.
“Laksmi, ada keluargamu di luar.”
Akhirnya Laksmi mendesah lega, “Terima kasih ya.”
“Oh ya, orang tuamu juga ada, Arman,” gadis itu tersenyum kecil. “Ngomong-ngomong, adik kamu lucu banget.”
Gadis itu berlalu. Laksmi menatap Armandi dengan ekspresi bingung.
“Sejak kapan kamu punya adik?”
“Adik sepupu. Itu loh, si David yang bapaknya bule. Aku pernah cerita’kan sama kamu?”
Laksmi mengangguk paham, “Ah si David. Berapa umurnya sekarang?”
“Hmm, kalau gak salah seumuran sama adikmu deh,” ujar Arman. “Yuk, kita temui mereka. Sekalian aja kita jodohin Tifa sama David.”
Laksmi tertawa. Keduanya pun menemui keluarga mereka yang sudah menunggu di dekat panggung.
“Kakak!”
Melihat sang adik begitu bersemangat, Laksmi hanya bisa berdecak kesal.
“Pasti kamu bangunnya kesiangan, makanya kalian terlambat.”
“Siapa lagi,” sahut sang ibu.
Bibir gadis kecil yang dipanggil Tifa itu berkerut, “Habisnya aku terlalu bersemangat semalam, jadinya gak bisa tidur, terus malah bangun kesiangan.”
“Ada-ada aja kamu,” Laksmi mengacak-acak rambut Tifa.
“Selamat pagi, Tante July, Om Yudha!”
“Pagi juga, Arman,” sahut ayah kedua gadis ini. “Wah, kamu tampak sibuk ya.”
Yudha hanya membalas dengan senyuman lalu menatap Tifa dengan tatapan jahil, “Halo, Latifa! Pasti belum mandi ya?”
“Enak aja. Aku udah mandi tahu!”
Semua orang tertawa melihat wajah Tifa kembali berkerut-kerut.
“Oh ya, semuanya kenalkan ini sepupuku. Namanya David, tapi panggil saja dia Dave.”
Untuk pertama kalinya Tifa dan Dave saling bertukar pandang. Iris mata sebiru safir itu berhasil menyita perhatian Tifa sehinggga gadis yang penuh rasa ingin tahu itu tak berhenti untuk menelisik mata itu lebih mendalam. Sebaliknya, tatapan intens Tifa justru membuat Dave takut. Ia segera bersembunti di balik pinggang Armandi.
“Jangan dilihatin gitu, Tif. Tuh, dia jadi takut,” omel ibunya.
Tifa menarik-narik ujung baju ibunya, “Matanya biru, Bu. Kayak bule.”
“Memang bule, Tif!” sahut Laksmi. “Duh, nih anak. Untung Dave gak ngerti bahasa Indonesia.”
Mereka kembali tertawa. Kemudian ada yang memanggil Laksmi untuk segera bersiap-siap.
“Aku harus ke panggung. Ibu sama Ayah langsung duduk aja, sekalian ajak orang tuanya Armandi,” ujar Laksmi. “Dan kamu, Tif. Kalau kamu mau jalan-jalan sama Kak Arman aja ya. Kakak gak bisa nemenin,” Laksmi melirik Arman. “Tolong dulu ya, Man.”
Arman mengangguk, “Kamu bisa mengandalkan aku.”
Mereka pun berpisah. Tifa sudah mantap menggenggam tangan Arman, tetapi keraguan justru terlihat dari si kecil Dave. Ia bingun harus ikut paman-bibinya atau ikut kakaknya.
So, wanna follow us or aunty  and uncle?”
Y—you,” cicitnya.
Armandi tersenyum lalu mengajak keduanya ke backstage. Mata Tifa langsung berbinar melihat hiruk-pikuk di sana. Tiba-tiba saja Tifa mengulurkan tangannya pada Dave.
“Hai, aku Tifa! Kita main bareng yuk!”
Dave terlihat terkejut. Buru-buru ia bersembunyi di balik tubuh Arman. Melihat itu Arman hanya tertawa kecil.
She has introduced herself. Where is your manner?”
Bocah itu mengangguk pelan. Ia pun menyambut tangan Tifa, “Da—Dave.”
Armandi kembali tersenyum. Tak lama ada yang memanggil dan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu.
“Kalian mainnya jangan jauh-jauh dan jangan sentuh apa pun. Kakak akan segera kembali.”
Dave merasa sangat kehilangan saat Armandi meninggalkannya. Ternyata kesepiannya tak berlangsung lama. ia merasakan jemarinya digenggam lembut oleh gadis kecil yang ada di hadapannya. Senyuman hangat menyapanya saat mereka kembali bertukar pandang.
Let’s go!”
Entah kenapa kaki Dave seperti tertiup angin. Langkah terasa ringan ketika gadis itu menggenggam tangannya ke sana ke mari. Mereka tak banyak berkomunikasi. Hanya bermodalkan kata ‘let’s go’ dan ‘come on’, keduanya sudah seperti teman akrab.
Lima belas menit sebelum acara dimulai, Armandi berhasil menemukan mereka. Ia meminta keduanya untuk kembali ke tempat duduk. Dengan patuh mereka kembali pada orang tua mereka. Namun, hal yang tak mereka sadari adalah genggaman tangan mereka belum terlepas meski mereka sudah kembali. Sengaja atau tidak, tapi mereka didudukkan bersebelahan. Dengan begitu butuh waktu yang lama sampai tangan mereka terlepas.
Dave yang biasa takut bertemu dengan orang baru, tetapi kali ini tidak. Ia merasa nyaman saat Tifa menggenggam tangannya. Dave bahkan tak terlalu menggubris drama yang sedang tayang saat itu. Ia lebih sibuk memperhatikan gadis yang ada di sebelahnya. Satu hal yang Dave tak akan bisa lupakan adalah ekspresi kagum gadis itu saat melihat kakaknya tampil. Dave tak pernah melihat sinar mata seindah itu.
“Suatu saat aku akan membuat pertunjukkan seperti itu. Aku pasti akan membawanya sampai ke Broadway.”
Dave tak mengerti apa yang diucapkan gadis itu. Diam-diam ia menyimpan kata demi kata yang baru saja ia dengar. Ia bertekad untuk belajar bahasa lebih serius lagi supaya ia bisa mengartikan apa yang ia simpan dalam memorinya hari ini.
Pementasan itu berakhir. Setelah para pemain beserta kru mengucapkan salam perpisahan, si gadis langsung berlari mengejar kakaknya.
“Kakaaaak, hebat banget! Kereeen!”
Keduanya bertukar high five. Kemudian keduanya tertawa.
“Suatu saat kamu yang ada di sana, Tif. Nanti kita akan buat sebuah pertunjukkan musical terhebat di sekolah ini dan akan kita bawa di panggung Broadway!
Tifa mengangguk mantap, “Ya, Kita akan buat sebuah pertunjukkan musical terhebat di sekolah ini dan akan kita bawa di panggung Broadway!”
Keduanya kembali tertawa.
“Selamat ya, Laksmi. Kamu hebat banget tadi!” puji ibunya.
Laksmi memeluk ayah dan ibunya bergantian, “Terima kasih ya, kalian semua.”
“Hai, keluarga bahagia! Mau difoto?”
Mereka tertawa saat Armandi menawarkan diri dengan kameranya. Mereka pun segera berpose bersama dan mengabadikan kenangan itu dalam beberapa lembar foto.
Thank’s, Arman,” ujar Laksmi.
Armandi mengangguk lalu menoleh pada Dave yang dari tadi mengikutinya.
Do you want take a picture too?” Armandi mengerling jahil. “With her, maybe?”
Dave tersipu malu saat Armandi mengodekan matanya pada Tifa, tapi ia tak menolak. Ia tak tahu apakah kesempatan ini akan datang lagi.
Can you ask her?”
Armandi mengangguk sambil tersenyum. Ia segera menghampiri Tifa lalu membisikkan sesuatu. Gadis itu mengangguk kemudian berlari ke arah Dave.
“Yuk, foto bareng!”
Dave masih tak mengerti, tapi tampaknya Tifa mengajaknya untuk foto bersama. Dave mengangguk lalu memasang pose kaku saat berdampingan dengan gadis itu.
Gadis itu dipanggil orang tuanya setelah mereka menyelesaikan beberapa kilatan kamera. Entah keberanian apa yang membuat Dave bisa menahan lengan gadis itu. Dave hampir tak bisa membuka bibirnya saat gadis itu menatapnya dengan penuh tanda tanya.
I—I should back to Jakarta or maybe England, bu—but I promise I will back here to meet you again.
Kata-kata Dave terlalu cepat dan semuanya dalam bahasa Inggris. Tak sepatah kata pun yang dimengerti Tifa. Namun, gadis itu tak mau mengecewakan si mata biru ini. ia tersenyum seraya mengangguk.
“Oke!”
Begitulah salam terakhir mereka sampai lima tahun kemudia takdir mempertemukan mereka kembali.
ooOoo
July menggenggam erat sebuah bingkai foto. Di dalamnya terdapat potret keluarganya 15 tahun lalu. Keluarganya yang masih lengkap, yang masih baik-baik saja.
“Hingga badai itu datang,” desah July seraya menaruh bingkai itu pada meja di samping tempat tidur Tifa.
Ia menatap anaknya yang baru saja dipindahkan dari ICU ke kamar rawat khusus. Tifa belum juga membuka matanya. Sepertinya ia masih terbawa dalam kenangan-kenangannya terdahulu.
“Hingga badai itu datang,” ulang July. “Dan menyisakan kita yang seperti ini.”
ooOoo
Tifa berlari-lari cepat. Seragam sekolahnya bahkan sampai basah oleh keringat. Ia ingin lekas sampai di rumah agar bisa memberikan kejutan selamat datang pada Laksmi.
Setelah pementasan terakhirnya, Laksmi melanjutkan kuliah di Jakarta. Sudah setahun tahun ia tak pulang ke rumah dan sekarang ia mengabarkan kalau ia akan kembali. Tifa tentu sabar untuk segera mendengarkan cerita perjalanan kakaknya.
Tifa dan Laksmi terpaut usia yang cukup jauh. Ketika Laksmi kelas tiga SMA, Tifa baru duduk di kelas lima. Meski begitu, keduanya tidak pernah bertengkar. Tifa sedikit manja dan pemalas, tapi Laksmi selalu sabar menghadapi adik kecilnya itu. Walau terkadang Laksmi harus mengomel karena tingkah Tifa, tapi keduanya tak pernah saling membenci.
Laksmi adalah sumber inspirasi Tifa. Apa yang dilakukan Laksmi akan selalu jadi apa yang dilakukan Tifa. Begitu pula ketika Laksmi bercita-cita menjadi aktris teater, Tifa pun juga memimpikan hal yang sama. Ia harus berusaha keras meski ia tahu ia  punya bakat akting seperti kakaknya.
‘Mungkin aku akan jadi sutradara saja,’ begitulah Tifa menghibur dirinya.
Terlambat. Tifa melihat pintu rumahnya terbuka. Itu tandanya sang kakak sudah tiba lebih dulu darinya. Meski begitu tanpa pikir panjang, ia langsung menyerbu masuk.
“Kak Laksmiii!”
Laksmi menyambutnya dengan hangat. Mereka langsung bertukar kabar layaknya dua orang yang sudah lama terpisah jauh. Hanya saja Tifa mereasa ada yang aneh dengan keluarganya. Sang ayah langsung meninggalkan ruang tamu begitu Tifa datang, sementara ibunya langsung menyuruhnya cepat-cepat ke kamar. Selain itu, ada kakak sepupunya yang biasa ia sapa Mas Ican yang turut hadir di sana. Tifa menyapanya dengan biasa, tapi tetap saja suasana terasa begitu dingin. Desakan ibunya untuk menyuruh ke kamar membuat Tifa harus rela meninggalkan kakaknya meski ia masih ingin temu kangen.
“Pokoknya kamu harus menikah sekarang juga! Jangan bikin aib keluarga!”
Tifa terlonjak kaget saat ia baru saja menutup pintu kamarnya. Ketika ia berniat untuk makan siang, ia mendengar ayahnya berseru dengan intonasi yang kuat. Seumur hidupnya ia tak pernah mendengar ayahnya mendengar ayahnya marah seperti itu. Tifa memang bukan anak yang baik, tap ayahnya juga bukan pria pemarah.
Langkah-langkah kecilnya mengendap-endap dan menguping pembicaraan yang ada di ruang tamu. Situasi terasa menegangkan. Laksmi dan Ican terlihat menunduk seperti orang pesakitan sementara ibunya berusaha menahan air matanya. Kemarahan terpancar dari air muka ayahnya yang merah padam. Tifa merasa ada sesuatu yang terjadi setelah kepulangan kakaknya.
“Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi istri, Yah. Umurku baru 18 tahun.”
“Lalu mau apa? Mau menunggu sampai kandunganmu besar atau sampai kamu melahirkan?”
Napas Tifa tercekat. Kandungan? Melahirkan? Pernikahan? Tunggu, apa maksudnya ini?
“Dan kamu, Ican. Kamu harus menikahi Laksmi pada waktu dekat ini. Om tidak mau ada orang lain yang tahu tentang aib ini.”
Ican hanya tertunduk lebih dalam.
“Ini semua salahmu. Berani-beraninya kamu menghamili sepupumu sendiri!”
Tifa merosot ke tanah. Kakaknya hamil? Dan pelakunya adalah sepupunya sendiri. Dunia terasa berputar cepat. Membuatnya tak sanggup berpikir kalau badai besar telah menghampiri keluarganya.
ooOoo
July menggenggam tangan anak bungsunya. Berharap sang anak memberikan tanda-tanda kehidupan meski hanya sedikit. Namun, untuk kesekian kali sang anak masih di dalam mimpi panjangnya.
“Pertama kakakmu, lalu ayahmu, dan sekarang kamu pula,” lirihnya. “Apa ini salahmu ibu, Nak? Sehingga Tuhan selalu mengambil orang-orang yang ibu cintai.”
Air mata July mulai menetes. Genggaman tangannya bergetar.
“Ibu tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi. Ibu hanya ingin kamu bangun, Tif. Ibu hanya butuh kamu….”
Tak ada jawaban. Hanya bedside monitor yang menyahut pendek-pendek. Setidaknya Tifa masih bernapas. Namun, hal itu terasa ironi bagi July.
“Bangunlah, Tifa. Ibu membutuhkanmu….”

 Author's Note:
Duuh... ini blog sampai bersawang yah karena udah dua minggu ditinggalin
Author minta maaf karena sudah meninggalkan kalian selama itu
Semoga tidak terulangi lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar