Total Tayangan Halaman

Minggu, 11 Juni 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 159)




Musikal 159

Hari yang paling ditunggu akhirnya datang juga. Kali ini Tifa memastikan dirinya tidak terlambat untuk datang perkenalan anggota baru klub teater. Ia beserta Hana dan Gloria bergegas menuju gedung teater seusai jam sekolah.
Namun yang tak pernah ia duga adalah pertemuannya kembali dengan sosok pangeran beriris safir. Tifa tak bisa tak tersenyum saat bertatapan langsung dengan pemuda itu.
“Kamu di sini juga? Mau ikut klub teater?”
Dave mengangguk dengan seringai jahil menghiasi wajahnya.
Tifa tertawa sinis, “Memangnya kamu bisa akting?”
“Wah, kamu meremehkanku. Lihat saja nanti, aku pasti langsung dapat peran utama.”
Tawa sinis Tifa masih menghiasi, “Oh ya, kenalkan ini teman sekelasku. Gloria dan Hana.”
Tangan Dave sempat tertahan saat bersalaman dengan Hana, “Hei, apa benar kalian ini berteman?”
“Tentu,” Dave tersenyum, “Teman lama.”
Hana melirik heran pada Tifa, “Hebat juga relasimu, Tif.”
Tifa hanya terkekeh dan mengajak teman-temannya masuk.
ooOoo
Klub drama sekolah mereka bernama Love Musical. Dinamakan demikian karena pementasan mereka bernuansa musikal dan selalu saja dalam perjalanannya ada kisah cinta yang menjadi bumbu-bumbu unik. Definisi yang harus diingat bila nanti ada siswa lain yang bertanya mengenai pemilihan nama.
Love Musical terdiri atas empat divisi. Divisi pertama adalah divisi akting, yaitu divisi yang berisi aktor dan aktris. Lalu ada divisi musik yang meliputi vokalis dan alat musik. Selanjutnya ada divisi tari yang tentu saja berisi para penari. Divisi terakhir disebut divisi artistik. Divisi ini adalah satu-satunya yang tidak akan pernah muncul di atas panggung, tapi pekerjaan mereka menentukan berhasil atau tidaknya pementasan. Divisi artistik meliputi sutradara, tim artistik, tim make up dan kostum, serta tim marketing.
Setelah pengarahan selesai, mereka langsung diminta untuk bergabung dalam divisi masing-masing. Dave dan Hana bergabung dalam divisi akting, Gloria berada dalam divisi musik, dan terakhir Tifa memilih divisi artistik. Keempatnya berpisah sesuai dengan bakat masing-masing.
Tifa kembali mendapatkan teman baru dalam timnya. Seorang gadis cantik dengan wajah agak oriental. Tatapan gadis itu mengingatkannya pada tatapan Hana. Sinis dan menusuk. Namun, Tifa berhasil menggodanya dan mereka pun menjalin pertemanan. Gadis itu bernama Tri Kurniati. Meski mereka satu divisi, tetapi Tri memilih untuk berada di dalam tim make up dan kostum, sedangkan Tifa berada dalam tim sutradara.
“Tahun ini kita kedapatan aktor ganteng.”
“Percuma ganteng kalau gak kuat tahan cobaan. Apalagi pas karantina satu.”
Para senior yang saling bergunjing itu tertawa. Tifa yang lagi-lagi tak sengaja menguping jadi bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan karantina satu. Kedengarannya berat sekali.
ooOoo
Ternyata memang berat.
Tiga bulan sejak latihan pertama, mereka langsung merasakan karantina. Hanya empat hari dan tempat karantina mereka bukan di sekolah, melainkan jauh di luar Palembang. Klub drama mereka menyewa sebuah vila yang selalu menjadi tempat mereka karantina. Vila itu ada di Lampung dan pemiliknya disapa Pak Wisnu. Sudah menjadi tradisi Love Musical  untuk melaksanakan latihan karantina pertama di tempat ini.
Tidak main-main latihan mereka bak tes militer. Mereka dibangunkan pukul empat pagi dan hanya diberi waktu setengah jam untuk membersihkan diri, setelah itu mereka langsung berlari mengelilingi vila. Suasana Lampung yang terkenal dingin serta rasa kantuk yang berat membuat banyak anggota banyak roboh. Namun, seperti tak mengenal ampun, mereka tetap melanjutkan sesi latihan sampai akhir.
Semua orang lelah. Semua orang sudah sampai batas untuk tak mengeluh. Hingga puncaknya pada hari keempat mereka justru mendapatkan kejutan. Mereka diajak berlibur di sebuah pantai dan malamnya mereka bersantai di depan api unggun.
Kemarahan yang akan meledak dari setiap anggota baru langsung padam saat melihat birunya air laut. Ternyata selalu ada hadiah di balik kerja keras. Jadi begitulah yang dimaksud dengan seleksi alam. Sebenarnya latihan kemarin dimaksudkan untuk melihat anggota mana saja yang bisa bertahan karena bekerja dalam kelompok dalam waktu yang lama bukanlah perkara gampang. Siapa yang bisa bertahan dalam seleksi alam maka dia yang akan medapat peran.
“Kak Laksmi gak pernah cerita soal ini sama aku,” ujar Tifa. “Kupikir ini sengaja dirahasiakan.”
Dave hanya tersenyum simpul.
“Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu bawa aku ke sini? Bukannya semua orang berkumpul di bawah?”
Memang benar. Ketika semua orang asik menikmati senda gurau di hadapan api unggun, Dave mengajak Tifa untuk menikmati di tempat lain. Di teras atas vila tersebut memang menyuguhkan pemandangan langit yang indah. Tifa terkesima dengan keindahan itu, tapi ia tak melupakan alasan pemuda ini hanya mengajaknya saja.
“Membicarakan hal pribadi mungkin. Entahlah, tapi aku cuma mau menikmati suasana di sini.”
“Jawaban yang aneh,” ujar Tifa sambil bersedekap di pagar pembatas balkon.
“…bersamamu.”
Tifa menoleh cepat.
“Aku ingin menikmatinya hanya bersamamu.”
Tifa bengong sesaat lalu ia tertawa, “Kedengarannya kamu seperti om-om mesum.”
“Aku serius tahu!” Dave berdecak kesal.
“Iya, iya deh. Terus kenapa harus sama aku?” ujar Tifa yang masih tertawa.
Dave mengabaikan tawa mengejek Tifa dan berkata cepat, “Karena aku cuma mau tanya apa kamu sudah punya pacar atau belum?”
Tifa tersentak, “Kamu bilang apa barusan?”
“Aku tanya apa kamu sudah punya pacar atau belum?”
Tiba-tiba saja pertanyaan Dave jauh lebih sulit daripada tugas logaritma. Tifa mulai merasa serba salah.
“Ke—kenapa kamu tanya itu?”
“Karena aku mau kamu jadi pacar aku.”
Tubuh Tifa mengejang. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Padahal sebelumnya Dave tak pernah menunjukkan perhatian lebih yang mengisyaratkan kalau dia menyukai Tifa. Selain itu, Tifa tak pernah berpikir untuk mencari pacar sekarang karena kepalanya sudah penuh dengan kegiatan pementasan.
“Jadi, bagaimana? Apa aku diterima?
“Eh, ta—tapi—“
“Tapi kamu sudah punya pacar?” potong Dave yang membuat Tifa semakin gugup.
“Bu—bukan itu…”
“Lalu kenapa?”
Tifa menarik napas panjang, “Begini, Dave. Aku kaget dengan pernyataanmu barusan. Jujur aku gak siap jawab dan gak siap menjalani hubungan. Maksudku—“
“Jadi, aku ditolak?”
“Uuh, dengar dulu!” Tifa mulai gerah karena kata-katanya selalu dipotong. “Maksudku, beri aku waktu.”
“Baiklah, besok? Tiga hari lagi? Atau minggu depan?”
Bahu Tifa melorot cepat, “Tidak secepat itu.”
“Terus kenapa? Kalau memang kamu gak mau, jangan mengulur-ulur waktu. Jangan buat aku menggantung gak jelas.”
“Maksudku begini, kita memang sudah pernah kenal dulu, tapi itu dulu. Aku gak kenal kamu yang sekarang dan kamu pun gak tahu bagaimana aku. Aku cuma ingin punya lebih banyak waktu untuk saling mengenal supaya apa pun keputusan nanti tidak akan merugikan kita berdua. Kamu ngerti’kan maksudku?”
Dave terdiam cukup lama. Kemudian terdengar helaan napas panjang.
“Baiklah, tapi sampai kapan?”
“Pementasan. Setelah pementasan selesai, aku pasti akan kasih kamu jawaban.”
Dave mengangguk pelan, “Kuharap kamu kasih jawaban yang baik.”
Tifa tersenyum.
“Satu hal lagi! Sampai pementasan selesai, jangan biarkan ada lelaki lain yang menikung, oke?”
Masih dengan senyumannya, Tifa menepuk bahu Dave lembut.
“Tenang saja, aku punya janji sekuat macan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar