Musikal
159
Hari yang paling
ditunggu akhirnya datang juga. Kali ini Tifa memastikan dirinya tidak terlambat
untuk datang perkenalan anggota baru klub teater. Ia beserta Hana dan Gloria
bergegas menuju gedung teater seusai jam sekolah.
Namun yang tak pernah ia duga adalah pertemuannya kembali dengan sosok
pangeran beriris safir. Tifa tak bisa tak tersenyum saat bertatapan langsung
dengan pemuda itu.
“Kamu di sini juga? Mau ikut klub teater?”
Dave mengangguk dengan seringai jahil menghiasi wajahnya.
Tifa tertawa sinis, “Memangnya kamu bisa akting?”
“Wah, kamu meremehkanku. Lihat saja nanti, aku pasti langsung dapat
peran utama.”
Tawa sinis Tifa masih menghiasi, “Oh ya, kenalkan ini teman sekelasku.
Gloria dan Hana.”
Tangan Dave sempat tertahan saat bersalaman dengan Hana, “Hei, apa benar
kalian ini berteman?”
“Tentu,” Dave tersenyum, “Teman lama.”
Hana melirik heran pada Tifa, “Hebat juga relasimu, Tif.”
Tifa hanya terkekeh dan mengajak teman-temannya masuk.
ooOoo
Klub drama sekolah
mereka bernama Love Musical.
Dinamakan demikian karena pementasan mereka bernuansa musikal dan selalu saja
dalam perjalanannya ada kisah cinta yang menjadi bumbu-bumbu unik. Definisi
yang harus diingat bila nanti ada siswa lain yang bertanya mengenai pemilihan
nama.
Love Musical terdiri atas empat
divisi. Divisi pertama adalah divisi akting, yaitu divisi yang berisi aktor dan
aktris. Lalu ada divisi musik yang meliputi vokalis dan alat musik. Selanjutnya
ada divisi tari yang tentu saja berisi para penari. Divisi terakhir disebut
divisi artistik. Divisi ini adalah satu-satunya yang tidak akan pernah muncul
di atas panggung, tapi pekerjaan mereka menentukan berhasil atau tidaknya
pementasan. Divisi artistik meliputi sutradara, tim artistik, tim make up dan kostum, serta tim marketing.
Setelah pengarahan selesai, mereka langsung diminta untuk bergabung
dalam divisi masing-masing. Dave dan Hana bergabung dalam divisi akting, Gloria
berada dalam divisi musik, dan terakhir Tifa memilih divisi artistik.
Keempatnya berpisah sesuai dengan bakat masing-masing.
Tifa kembali mendapatkan teman baru dalam timnya. Seorang gadis cantik
dengan wajah agak oriental. Tatapan gadis itu mengingatkannya pada tatapan
Hana. Sinis dan menusuk. Namun, Tifa berhasil menggodanya dan mereka pun
menjalin pertemanan. Gadis itu bernama Tri Kurniati. Meski mereka satu divisi,
tetapi Tri memilih untuk berada di dalam tim make up dan kostum, sedangkan Tifa berada dalam tim sutradara.
“Tahun ini kita kedapatan aktor ganteng.”
“Percuma ganteng kalau gak kuat tahan cobaan. Apalagi pas karantina
satu.”
Para senior yang saling bergunjing itu tertawa. Tifa yang lagi-lagi tak
sengaja menguping jadi bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan karantina satu.
Kedengarannya berat sekali.
ooOoo
Ternyata memang berat.
Tiga bulan sejak latihan pertama, mereka langsung merasakan karantina.
Hanya empat hari dan tempat karantina mereka bukan di sekolah, melainkan jauh
di luar Palembang. Klub drama mereka menyewa sebuah vila yang selalu menjadi
tempat mereka karantina. Vila itu ada di Lampung dan pemiliknya disapa Pak
Wisnu. Sudah menjadi tradisi Love Musical untuk melaksanakan latihan karantina pertama
di tempat ini.
Tidak main-main latihan mereka bak tes militer. Mereka dibangunkan pukul
empat pagi dan hanya diberi waktu setengah jam untuk membersihkan diri, setelah
itu mereka langsung berlari mengelilingi vila. Suasana Lampung yang terkenal
dingin serta rasa kantuk yang berat membuat banyak anggota banyak roboh. Namun,
seperti tak mengenal ampun, mereka tetap melanjutkan sesi latihan sampai akhir.
Semua orang lelah. Semua orang sudah sampai batas untuk tak mengeluh.
Hingga puncaknya pada hari keempat mereka justru mendapatkan kejutan. Mereka
diajak berlibur di sebuah pantai dan malamnya mereka bersantai di depan api
unggun.
Kemarahan yang akan meledak dari setiap anggota baru langsung padam saat
melihat birunya air laut. Ternyata selalu ada hadiah di balik kerja keras. Jadi
begitulah yang dimaksud dengan seleksi alam. Sebenarnya latihan kemarin
dimaksudkan untuk melihat anggota mana saja yang bisa bertahan karena bekerja
dalam kelompok dalam waktu yang lama bukanlah perkara gampang. Siapa yang bisa
bertahan dalam seleksi alam maka dia yang akan medapat peran.
“Kak Laksmi gak pernah cerita soal ini sama aku,” ujar Tifa. “Kupikir
ini sengaja dirahasiakan.”
Dave hanya tersenyum simpul.
“Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu bawa aku ke sini? Bukannya semua orang
berkumpul di bawah?”
Memang benar. Ketika semua orang asik menikmati senda gurau di hadapan
api unggun, Dave mengajak Tifa untuk menikmati di tempat lain. Di teras atas
vila tersebut memang menyuguhkan pemandangan langit yang indah. Tifa terkesima
dengan keindahan itu, tapi ia tak melupakan alasan pemuda ini hanya mengajaknya
saja.
“Membicarakan hal pribadi mungkin. Entahlah, tapi aku cuma mau menikmati
suasana di sini.”
“Jawaban yang aneh,” ujar Tifa sambil bersedekap di pagar pembatas
balkon.
“…bersamamu.”
Tifa menoleh cepat.
“Aku ingin menikmatinya hanya bersamamu.”
Tifa bengong sesaat lalu ia tertawa, “Kedengarannya kamu seperti om-om
mesum.”
“Aku serius tahu!” Dave berdecak kesal.
“Iya, iya deh. Terus kenapa harus sama aku?” ujar Tifa yang masih
tertawa.
Dave mengabaikan tawa mengejek Tifa dan berkata cepat, “Karena aku cuma
mau tanya apa kamu sudah punya pacar atau belum?”
Tifa tersentak, “Kamu bilang apa barusan?”
“Aku tanya apa kamu sudah punya pacar atau belum?”
Tiba-tiba saja pertanyaan Dave jauh lebih sulit daripada tugas
logaritma. Tifa mulai merasa serba salah.
“Ke—kenapa kamu tanya itu?”
“Karena aku mau kamu jadi pacar aku.”
Tubuh Tifa mengejang. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Padahal sebelumnya
Dave tak pernah menunjukkan perhatian lebih yang mengisyaratkan kalau dia
menyukai Tifa. Selain itu, Tifa tak pernah berpikir untuk mencari pacar
sekarang karena kepalanya sudah penuh dengan kegiatan pementasan.
“Jadi, bagaimana? Apa aku diterima?
“Eh, ta—tapi—“
“Tapi kamu sudah punya pacar?” potong Dave yang membuat Tifa semakin
gugup.
“Bu—bukan itu…”
“Lalu kenapa?”
Tifa menarik napas panjang, “Begini, Dave. Aku kaget dengan pernyataanmu
barusan. Jujur aku gak siap jawab dan gak siap menjalani hubungan. Maksudku—“
“Jadi, aku ditolak?”
“Uuh, dengar dulu!” Tifa mulai gerah karena kata-katanya selalu
dipotong. “Maksudku, beri aku waktu.”
“Baiklah, besok? Tiga hari lagi? Atau minggu depan?”
Bahu Tifa melorot cepat, “Tidak secepat itu.”
“Terus kenapa? Kalau memang kamu gak mau, jangan mengulur-ulur waktu.
Jangan buat aku menggantung gak jelas.”
“Maksudku begini, kita memang sudah pernah kenal dulu, tapi itu dulu.
Aku gak kenal kamu yang sekarang dan kamu pun gak tahu bagaimana aku. Aku cuma
ingin punya lebih banyak waktu untuk saling mengenal supaya apa pun keputusan
nanti tidak akan merugikan kita berdua. Kamu ngerti’kan maksudku?”
Dave terdiam cukup lama. Kemudian terdengar helaan napas panjang.
“Baiklah, tapi sampai kapan?”
“Pementasan. Setelah pementasan selesai, aku pasti akan kasih kamu
jawaban.”
Dave mengangguk pelan, “Kuharap kamu kasih jawaban yang baik.”
Tifa tersenyum.
“Satu hal lagi! Sampai pementasan selesai, jangan biarkan ada lelaki
lain yang menikung, oke?”
Masih dengan senyumannya, Tifa menepuk bahu Dave lembut.
“Tenang saja, aku punya janji sekuat macan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar