Total Tayangan Halaman

Minggu, 11 Juni 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 158)




Musikal 158

“Tifa, cepat bangun!”
Kini gadis remaja itu melompat bangun. Ia menatap ibunya dengan tatapan nyalang.
“Kenapa baru dibangunkan?”
Sekali lagi, gadis ini bukannya mendapat jawaban lengkap, melainkan pukulan bantal guling yang menerpa.
“Ibu sudah membangunkanmu dari tadi. Kalau tidak mau bangun juga mending gak usah sekolah sekalian!”
Detik berikutnya gadis itu sudah terbang ke kamar mandi. Sementara itu ibunya turun ke ruang makan.
“Sudah dibangunkan?” tanya sang ayah sambil membolak-balikkan Koran. “Anak itu punya kebiasaan bangun telat kalau sudah hari H.”
“Memangnya apa yang dia pikirkan sih?” gerutu ibunya. “Ini’kan hari pertamanya masuk SMA.”
“Kalian membicarakanku?” ujar si gadis seraya menyambar kopi ayahnya.
“Eiits, itu kopi ayahmu! Ini kopimu,” seru ibunya.
Si gadis tersenyum senang, “Pagi yang menyenangkan. Makasih, Bu.”
“Lebih menyenangkan kalau kamu sarapan lebih cepat lagi, Tif,” tegur ayahnya. “Atau kamu mau hari pertamamu telat?”
Si gadis melirik arloji lalu menepuk dahinya. Ia menghabiskan kopinya dalam satu tegukan, mengeluh panas, dan segera menyambar tasnya.
“Aku pergi dulu!”
“Tifa, sarapan dulu!” ujar ibunya.
“Tadi’kan sudah,” si gadis mengedipkan mata seraya melambaikan tangan. “Daah, Ayah. Daah, Ibu!”
“Udah SMA juga masih gak berubah,” gerutu ibunya sambil membereskan meja makan.
Sang ayah membentangkan Koran, “Masih mending begitu toh. Daripada kakaknya.”
Entah mengapa ucapan suaminya langsung menusuk di hati. July tak berniat melanjutkan percakapan. Hatinya masih sakit jika mengenang peristiwa lima tahun silam.
ooOoo
Suasana pagi itu cukup ramai. Setelah upacara penerimaan siswa baru, mereka semua mulai memasuki kelas masing-masing. Semua terasa baru dan asing bagi anak-anak kelas X. Begitu pula dengan Tifa. atanya memandang ke sana ke mari untuk mencari titik tempat duduk yang nyaman. Hingga ia menemukan sebuah bangku yang masih kosong yang bersebelahan dengan gadis rambut ekor kuda. Tifa mengamati wajah gadis itu dari kejauhan karena gadis itu terasa familier di benaknya.
“MIranti Yohana?”
Gadis kuncir kuda itu menoleh, “Ya?”
Senyum Tifa mengembang, “Aah, ternyata benar kamu. Gak nyangka ternyata aku satu kelas dengan juara satu umum. Ngomong-ngomong, aku boleh duduk di sini?”
“Asal kamu tahu, aku gak bakal ngasih contekan kalau ulangan nanti,” ujarnya dengan senyuman sinis.
Bukannya tersinggung, Tifa justru tertawa terbahak-bahak sambil meletakkan tasnya. Kemudian ia mengulurkan tangan, “Sarkas yang bagus. Oh ya, namaku Tifa, tapi panggil saja Tifa.”
“Wah, gak nyangka ternyata ada paham sarkas di sini,” di luar dugaan gadis ekor kuda ini tersenyum manis seraya menyambut uluran tangan Tifa. “Panggil aku Hana.”
“Lho, bukannya nama kamu Miranti?”
“Cih, aku benci nama itu. Pokoknya awas kamu panggil aku dengan nama itu!”
Tifa tertawa, “Ngomong-ngomong, Han. Kamu ikut eskul apa?”
“Entahlah, aku tidak terlalu tertarik dengan kegiatan ekstrakulikuler. Aku lebih suka ikut bimbingan belajar.”
“Dasar orang jenius,” Tifa kembali terkekeh, “Kalau aku sih bakalan ikut klub drama. Eh, kenapa kamu gak ikutan aja. Seru lho!”
“Tapi aku gak punya pengalaman di bidang akting.”
“Gak masalah. Nanti kita semua bakalan diajari. Bukannya kamu suka belajar?”
Kata-kata Tifa mulai merasuki pikiran Hana. Persuatif yang diberikan Tifa ternyata membuat Hana merasa ditantang dan Hana tidak suka ditantang.
“Hmm, aku akan coba, tapi kalau sampai nilai aku turun, aku gak mau ikutan lagi.”
Tifa mengancungkan ibu jarinya, “Senang rasanya langsung dapat teman.”
“Apa kalian sedang membicarakan tentang klub?” tiba-tiba gadis ikal di depan mereka ikut bergabung, “Namaku Gloria.”
“Hai, aku Tifa dan ini Hana,” ujar Tifa. “Apa kamu berniat masuk klub drama juga?”
“Tadinya aku mau masuk klub paduan suara, tapi kudengar di klub drama juga sedang mencari seorang solois. Kupikir aku akan ikut mendaftar.”
“Wah, bagus! Semakin banyak semakin baik.”
“Bukannya semakin banyak yang ikut akan dieleminasi saat audisi?” ujar Hana.
“Tidak ada proses audisi yang ada cuma seleksi alam. Siapa yang bertahan dia yang akan mendapatkan peran,” ujar Tifa.
“Kamu kayaknya tahu banyak,” sahut Gloria.
Tifa mengangguk, “Kakakku dulu alumni di sini dan dia juga ikut klub teater. Aku sangat ingin seperti kakakku dulu.”
“Wah, sepertinya kakakmu aktor yang hebat,” komentar Hana. “Apa kamu mau jadi aktor juga?”
Tifa menggeleng sambil tersenyum, “Aku mau jadi sutradara.”
“Lho, memangnya kenapa?”
“Soalnya aktingku buruk.”
ooOoo
Ketika istirahat ketiga sahabat baru ini berpisah. Hana ingin ke perpustakaan, Gloria masih mau berkumpul dengan teman-teman SMP-nya, sedangkan Tifa memilih untuk mengisi perutnya di kantin.
“Eh, tahun ini sekolah kita kedapatan orang bule lho.”
“Iya, tadi aku dengar adik-adik tingkat heboh. Katanya ada murid bule.”
“Aku sudah lihat tadi. Gak blonde sih, tapi matanya biruuu bangeeet.”
Percakapan senior perempuannya terdengar begitu jelas. Tifa yang tadinya tidak peduli, justru mengetahui semua isi perbincangan mereka. Meski begitu, Tifa memilih fokus pada mie ayam yang ada di hadapannya.
Masih ada waktu beberapa menit sebelum bel masuk. Tifa memutuskan untuk berkeliling sekolah. Siapa tahu ia bisa menemukan jalan pintas untuk kabur kalau sedang classmeeting. Ketika ia baru saja melintasi toilet laki-laki, ia berpapasan dengan pemuda.
“Kamu Tifa’kan?”
Ada perasaan yang berbeda saat Tifa bertatap wajah dengan pemuda ini. Postur tubuhnya tidak seperti anak kelas X pada umumnya. Jauh lebih tinggi, bahkan jika ia menyamar sebagai anak kuliahan orang pasti percaya. Dari caranya menatap Tifa, orang ini sepertinya sudah lama mengenalnya. Hal yang paling menyedot perhatian Tifa adalah bola matanya yang sebiru safir.
‘Aku sudah lihat tadi. Gak blonde sih, tapi matanya biruuu bangeeet.’
Ia jadi teringat dengan ocehan seniornya di kantin tadi. Namun, ia masih tak bisa menebak kenapa orang ini sampai tahu namanya.
“Iya, kamu siapa ya?”
“Masa kamu gak kenal aku? Kita pernah main bareng lho dulu.”
Tifa menggaruk-garuk kepalanya. Kenapa orang ini malah memberinya teka-teki. Tifa selalu ingat siapa saja teman bermainnya, tapi ia tak pernah merasa punya teman dengan iris sebiru itu. Ia pasti mengingatnya jika ada orang yang mempunyai ciri khas yang kuat seperti dia.
“Hmm, masih belum ingat? Baiklah, aku kasih petunjuk,” pemuda itu berdeham. “Lima tahun lalu. Di pementasan terakhir kakakmu dan kita bermain bersama.”
Ingatan Tifa langsung menembus masa lampau. Roda-roda memorinya bekerja lebih cepat dari yang sebelumnya. Usahanya mulai membuahkan hasil. Namun, masih ada ingatan yang tertutup kabut.
“Aku ini sepupunya Kak Armandi.”
Kriiiing….
Tepat di saat yang bersamaan, Tifa bagaikan tersadar oleh blitz kamera. Di saat itulah ia mengingat sosok anak kecil yang juga bermata biru, mengingat apa yang sudah terjadi, dan mengingat sebuah nama.
“Dave!”
Dan pemuda itu melengkungkan senyumnya.
ooOoo
Bel pulang berbunyi. Kelas-kelas kembali berisik dengan rencana-rencana sepulang sekolah atau pembicaraan yang terpotong saat istirahat tadi. Namun, kelas yang paling heboh adalah kelas Tifa. Kehebohan ini terjadi karena seorang pemuda beriris biru berdiri di depan pintu kelas. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang.
“Wah, wah, apa dia siswa yang dari tadi dibicarakan oleh semua orang?” Gloria memutar tubuhnya ke belakang, “Hei, hei, apa kalian tahu tentang orang itu?”
“Dia temanku.”
Sontak perhatian Gloria dan Hana langsung tertuju pada Tifa.
“Se—serius?” ujar Gloria.
“Hmm, mungkin bisa dibilang kenalan juga. Kami pernah bertemu sewaktu kecil.”
“Terus kenapa dia ada di sini?” sahut Hana.
“Menungguku mungkin. Soalnya tadi kami rencana pulang bareng.”
Untuk kedua kalinya Gloria dan Hana terkejut. Tifa hanya tertawa menanggapinya.
“Sudah ya, aku pulang duluan.”
Mata Gloria dan Hana bergerak seirama dengan mata anak-anak perempuan yang lainnya. Pandangan iri dan heran mengikuti langkah Tifa dan Dave. Hanya Hana yang lebih dulu sadar dari semua orang.
“Wah, hebat dia. Di hari pertamanya sudah debut bersama seorang cowok ganteng,” ujar Gloria.
Hana tersenyum sinis, “Dan tadi dia bilang aktingnya buruk. Kalau sampai bisa menyembunyikan fakta mengejutkan seperti ini, aku jadi tidak percaya.”
ooOoo
Tifa berusaha mengabaikan tatapan orang-orang. Meski begitu tetap saja ada bisik-bisik yang terdengar dan membuat telinga panas. Rasanya ia baru masuk sehari dan sejauh ini ia tak berniat untuk menjadi pusat perhatian.
“Padahal aku belum debut jadi aktris, tapi kok rasanya kayak selebriti deh dilihat banyak orang. Huuuf, nyesel deh jalan sama kamu.”
Dave tersentak, “Yah, jangan dong. Udah sekian tahun kita gak pernah ketemu, masa kamu nyesal jalan sama aku?”
“Aku cuma bercanda,” Tifa terkekeh. “Kok kamu cepat benar mengenaliku pas kita ketemu tadi. Padahal kita udah lama gak ketemu lho.”
Dave tersenyum seraya merogoh dompetnya. Lalu mengeluarkan sesuatu yang ternyata adalah selembar foto.
“Dikasih Kak Arman dan masih kusimpan sampai sekarang.”
Tifa tak percaya pemuda ini masih menyimpan foto mereka saat itu. Tawa Tifa pecah saat melihat kenangan masa lalu. Rambutnya sangat berantakan meski ia ingat pagi sebelum mereka berangkat ibunya sempat menyisirkan dengan rapi. Sementara Dave terlihat aneh. Matanya bukan mengarah pada kamera, tapi melirik padanya.
“Kamu gak sadar kamera apa? Kenapa kamu malah lirik-lirik aku? Aku malah baru sadar sekarang.”
Dave hanya tersenyum seraya menyimpan kembali foto tersebut.
“Tapi itukan foto lima tahun lalu. Mungkin aja muka aku sudah berubah. Aku masih heran sama ingatan kamu dan hei, kamu sudah bisa bahasa Indonesia?”
“Kamu gak berubah kok. Makanya aku cepat mengenali kamu. Lagi pula ingatanku memang seperti gajah,” Dave terkekeh. “Hmm, sejak pertemuan terakhir kita, aku langsung belajar bahasa Indonesia dengan ibuku.”
“Lho ibumu orang Indonesia?”
“Ya, ayahku yang orang Inggris. Makanya aku dapat warisan mata ini,” Dave menunjuk matanya.
Tifa hanya mengangguk paham.
“Oh ya, bagaimana kabar Kakakmu yang cantik itu? Apa dia sudah jadi aktris terkenal?”
“Ah, dia sudah keluar dari dunia panggung.”
“Eh, kenapa? Padahal aktingnya keren sekali loh.”
Tifa mendesah panjang. Ia menatap Dave sambil tersenyum. Namun, senyumannya seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
“Masalah pribadi.”
Giliran Dave yang mengangguk. Ia mengerti kalau Tifa sedang tak ingin membahas tentang kakaknya.
“Tapi kamu masih tetap ikut klub drama’kan?”
Tifa mengangguk, tapi detik berikutnya ia tersentak heran, “Hei, dari mana kamu tahu aku bakalan ikut klub drama?”
Well, aku memang gak ngerti apa yang kamu katakan waktu itu, tapi aku ingat sekali bagaimana ekspresimu saat melihat pementasan. Kelihatan sekali kamu sangat berambisi jadi bagian dari klub drama sekolah ini.”
Tatapan Tifa cukup lama mendarat di wajah Dave hingga pemuda itu kebingungan sendiri. Sejurus kemudian Tifa tertawa terbahak-bahak.
“Ingatanmu itu memang seperti gajah, Dave.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar