Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Juni 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 157)




Musikal 157

Wenda berjalan cepat. Ada kabar yang terasa memberatkan lidahnya. Ia ingin lekas sampai dan mengabarkan pada semua bahwa kabar yang ia sampaikan adalah kabar yang sangat penting.
Sesampainya di kelas ternyata teman-temannya juga sudah meributkan hal yang sama. Melihat keadaan yang memanas, Wenda pun langsung berbaur dalam keramaian itu. Ibarat api yang sudah panas, kini justru disiram bensin. Begitu banyak komentar yang terdengar pedas dari tiap bibir mereka.
Di sisi lain, Ririn yang baru akan sampai di kelas langsung dicegat oleh Alexi. Tanpa banyak bicara, pemuda itu menarik Ririn menjauh dari kelas. Ririn yang tadinya mau bertanya, jadi mengurungkan niatnya ketika melihat wajah Alexi yang begitu serius.
Alexi membawanya ke dekat kantin. Area ini terlihat lenggang di pagi hari karena belum banyak siswa yang jajan. Tempat ini bagus untuk membicarakan hal yang rahasia sebelum bel masuk berbunyi.
“Kamu sudah tahu masalahnya’kan?”
Kening Ririn berkerut, “Masalah apa?”
Miss Tifa dalam keadaan koma.”
Napas Ririn tercekat. Tak banyak orang yang tahu mengenai kabar ini, bahkan ia sendiri baru tahu dari Adrian tadi malam. Hal yang ia tahu adalah kabar ini adalah berita rahasia yang tak boleh orang tahu.
“Iya’kan?”
“Kamu tahu dari mana?”
“Semua anak membicarakannya,” Alexi merogoh ponsel di sakunya dan menunjukkannya pada Ririn. “Ada wartawan iseng yang membuat berita seperti ini. Mungkin sejak kejadian Fi, semua aktivitas kita selalu disorot oleh media.”
Ririn mendesah berat. Kenapa pula ada orang-orang iseng yang sengaja ingin merusak citra seseorang. Inilah yang Ririn benci dari dunia jurnalistik. Selalu saja sisi negatif yang ditonjolkan.
“Dari raut wajahmu sepertinya kamu sudah tahu.”
Ririn kembali mendesah, “Adrian yang memberitahuku.”
Hanya sebatas itu. Ririn tak memerincikan bahwa kejadian yang sebenarnya Adrian mendatanginya malam itu.
“Kupikir Om-mu itu,” nada suara Alexi terdengar agak kecewa.
“Kupikir Om Dave masih syok. Dia baru saja kembali dan sudah mendapati Miss Tifa dalam keadaan begitu. Makanya kabar tercepat kudapat dari Adrian.”
Alexi mengangguk pelan, “Menurutmu siapa saja yang menyimpan rahasia ini?”
“Mungkin para instruktur kita,” ujar Ririn. “Lagipula kejadiannya masih baru. Jadi kupikir berita ini mungkin akan disampaikan, tapi tidak dengan cara mendadak seperti ini.”
Giliran Alexi yang mendesah berat, “Suasana kelas jadi panas setelah kabar ini diluncurkan. Makanya lebih baik aku menginvestigasimu dulu ketimbang mereka.”
“Kamu takut kalau aku akan salah bicara?”
“Begitulah,” jawab Alexi sambil menatap Ririn. “Begini saja. Jika ada yang menanyakan perihal ini padamu, katakan saja kalau kamu juga sudah tahu. Katakan saja apa yang dikatakan Adrian, tapi secukupnya. Dan jangan bilang kalau kamu mendapat berita ini dari Adrian, katakan saja kalau kamu dapat kabar dari Om-mu itu.”
“Memangnya kenapa?”
Lidah Alexi berdecak, “Kamu mau mereka mempertanyakan hubunganmu dengan Adrian juga? Masalah akan semakin runyam kalau kamu bawa-bawa si pangeran.”
Ririn mendengus pendek. Jangankan menghadapinya, memikirkannya saja sudah runyam.
ooOoo
Meski begitu Ririn tetap mengikuti instruksi Alexi. Ia memang mengatakan yang seperlunya, tapi terbatas. Ia juga mengganti sumber kutipan Adrian menjadi nama Dave. Entah apa karena instruksi Alexi yang sempurna atau karena akting Ririn yang mampu menipu, semua orang percaya apa kata-katanya.
“Seharusnya dia bilang dari awal kalau dia mengidap penyakit yang berbahaya. Kalau sudah begini, memangnya siapa yang nafsu untuk latihan lagi?”
Pernyataan pedas itu diikuti hampir seluruh siswa. Semakin lama semakin pedas dan hal ini membuat Alexi gerah.
“Hei, beliau sedang sakit. Kenapa kita tidak mendoakannya saja agar cepat sembuh? Bukannya saling hujat begini.”
“Kita tidak menghujat, tapi kita harusnya kecewa. Pementasan ini harusnya saling terbuka bukan diawali dari ketidakjujuran.”
Alexi kembali bungkam. Ia bisa saja membalas semua kata-kata itu, tapi itu akan memboroskan energinya. Huh, entah kenapa pagi ini bel masuk lama sekali.
Ririn menangkap isyarat dari Fi. Mereka segera memisahkan diri. Pagi ini Ririn merasa adalah pagi penuh intrograsi.
“Adrian yang memberitahumu?”
Mereka berbicara di serambi kelas tetangga. Tidak terlalu jauh agar cepat masuk kelas, tapi juga tidak cukup dekat untuk dikuping oleh teman sekelasnya.
“Darimana kamu tahu?”
Fi tersenyum tipis, “Aku sudah lama belajar akting. Jadi, aku bisa tahu mana yang bohong mana yang benar.”
“Hmm, yaah. Tidak semuanya bohong kok,” Ririn menggaruk ujung hidungnya. “Aku hanya mengganti nama Adrian dengan nama Om-ku supaya tidak tidak heboh.”
“Keputusan yang bagus,” puji Fi. “Jadi, memang separah itukah keadaannya?”
Ririn mengangguk, “Dari cara Adrian menyampaikan dan ekspresinya waktu itu, kupikir keadaannya memang parah.”
Fi menarik napas panjang, “Lalu bagaimana dengan Adrian?”
Ririn membisu beberapa saat. Ia tak tahu harus mengatakan jujur atau memilih aman seperti tadi.
“Yaah, dia butuh dukungan. Dia… sangat rapuh.”
“Kamu bertemu dengannya langsung?”
Ririn hanya mengangguk.
“Kuharap kamu bisa selalu ada di sisinya. Dia sangat rapuh kalau sudah berurusan dengan masalah keluarganya.”
“Tapi kenapa aku?”
“Kamu pikir aku bisa?” Fi tersenyum sinis. “Jika aku bisa, mungkin bukan kamu yang dikabarinya lebih dulu, tapi aku.”
Ririn mendesah panjang. Keningnya berdenyut menghadapi masalah orang yang sekarang menjadi bagian dari hidupnya.
“Temani dia. Kumohon….”
Ririn hanya melirik Fi.
“Aku bersyukur jika kamu orangnya.”
Ririn menjerit dalam hati.
Seseorang tolong jauhkan aku dari masalah ini…’






2 komentar: