Musikal
163
:Hmmm, Sabtu ini?”
Dave sengaja menyimpan tangannya di balik punggun agar tak ada yang
melihat sekeras apa ia meremas telapak tangannya. Ia begitu gugup ketika
berhadapan dengan ayahnya Tifa. Kalau ia boleh memilih, ia lebih suka
berhadapan dengan bajak laut ketimbang si bapak kumis ini.
“Kita pergi saja. Lagi pula ini undangan resmi dari orang tuanya. Tidak
enak kalau kita tidak datang.”
‘Nice mama!’ batin Dave berseru
saat ibunya Tifa membelanya. Namun, Pak Kumis masih bergeming. Ia memberikan
tatapan menusuk yang mampu menguraikan semua keberanian Dave.
“Hmm, baiklah. Lagi pula hanya makan malam.”
Rasanya Dave ingin meloncat ke langit ke tujuh saat mendapat
persetujuan. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati.
“Te—terima kasih. Orang tua saya pasti senang sekali.”
“Hmm, Yah. Kak Laksmi diajak juga’kan?”
Dave melirik sebal pada Tifa. Dari tadi ia berusaha beretorika agar Pak
Kumis terbujuk, tapi anaknya hanya diam saja. Giliran mendapat persetujuan,
baru dia mau bicara.
“Kenapa kita harus ajak ‘dia’?” ayah sengaja mengucapkan kata ‘dia’
dengan nada yang berbeda.
“Rumah Kak Laksmi dan Dave’kan berdekatan. Kita ajak mereka juga ya.”
“Kamu pikir keluarganya Dave restoran gratis. Kenapa kita harus ajak
orang ramai-ramai?” tukas ayahnya.
Wajah Tifa seketika tertunduk. Ia menyembunyikan perasaan kesal dan
sedih di sana.
“Tidak masalah kok, Om. Kami senang jika bisa mengundang kalian semua.
Lagi pula saya suka dengan Adrian.”
Ayahnya mendesah berat. Ekspresinya terlihat lebih kesal daripada Tifa.
“Ya, ya, ya, terserah. Kamu saja yang ajak,” ujarnya sembari berlalu.
Kesenyapan langsung menguasai ruangan. Tifa masih bergumul dalam
kekesalan, sementara Dave bingung harus bicara apa.
“Kami akan datang,” sang ibu memecahkan keheningan. “Terima kasih atas
undangannya. Sampaikan salam kami pada orang tuamu ya.”
Dave mengangguk semangat, “Pasti, Tante.”
ooOoo
“Udahan dong betenya,
Tif. Dari pagi tadi muka kamu tuh aseeem melulu. Orang-orang yang lihat kamu
ikutan kecut tahu.”
Tifa menghela napas, “Habisnya ayah sih! Kok jawabanya gitu banget.”
Dave menggaruk tengkuknya karena bingung. Sudah seharian ini Tifa
menekuk wajahnya. Hana dan Gloria pun sampai segan untuk menegurnya. Bahkan
saking kesalnya, Tifa sampai menghabiskan tiga susu kotak tanpa sadar.
“Masalah Kakakmu itu?”
“Apalagi?” ujar Tifa gusar. “Kok ayah sekarang lebih kejam dari
sebelumnya sih? Seolah-olah Kak Laksmi itu orang luar. Kak Laksmi memang pernah
salah, tapi gak perlu disalahin terus-terusan dong!”
“Ayahmu kayaknya masih marah dengan kakakmu, ya?”
“Dia bahkan belum pernah menemui Kak Laksmi lagi sejak pernikahannya,”
ujar Tifa seraya menusuk kotak susu keempat. “Ayah sepertinya sudah mencoret
Kak Laksmi dari daftar keluarga. Ia bahkan tak mau membahas Kak Laksmi di depan
siapa pun, termasuk aku dan Ibu. Aku sedih banget, Dave. Padahal dulu Kak
Laksmi itu adalah anak kebanggaan ayah, tapi sejak kejadian itu entah kenapa
ayah benar-benar murka. Sampai-sampai ayah pernah bilang padaku kalau aku tidak
apa-apa tidak sebaik Laksmi, tapi jangan sampai rusak seperti dia.”
Tifa mendesah panjang, “Aku sedih banget, Dave. Apa gak ada cara supaya
ayah gak marah lagi sama Kak Laksmi?”
“Pasti ada,” Dave menepuk pelan bahu Tifa. “Mungkin sekarang belum
ketemu atau bukan momen yang pas.”
Tifa hanya mengangguk ringan. Dave pun mengajak Tifa kembali ke kelas.
Ketika keduanya melewati toilet wanita, mereka tak sengaja bertabrakan dengan
seseorang yang baru saja keluar. Baik keduanya ataupun gadis itu sama-sama
terkejut dan lebih terkejut lagi saat mereka menyadari kalau orang tersebut
adalah Riani.
Gadis itu berusaha menghindari keduanya. Namun, sebelum Riani sempat
melewatinya, Tifa sempat menangkap ekspresi sendu di wajah gadis itu. Ia berani
bersumpah kalau melihat mata Riani yang merah dan berair persis seperti orang
habis menangis. Tifa juga lebih cepat menahan Riani sebelum gadis itu melewati
mereka.
“Kamu kenapa, Ri? Kamu habis nangis?”
Riani menggeleng dengan kepala tertunduk. Berusaha menyembunyikan
ekspresi wajahnya yang tak biasa. Dave yang tadinya tak acuh, kini ikut-ikutan
menyelidik wajah gadis itu.
“Ri, sekarang bilang sama aku, siapa yang udah bikin kamu nangis? Siapa,
Ri? Biar aku hajar itu orang!”
Gelengan Riani semakin kuat. Dave pun berusaha menahan Tifa.
“Kamu sabar dulu dong. Kita dengarkan Riani dulu. Jangan main hajar
sembarangan.”
“I—itu benar,” ujar Riani pelan. “A—aku punya masalah pribadi dan bukan
karena digangggu orang lain.”
Tifa mengangguk paham. Emosinya pun perlahan surut.
“Kalau begitu masalah apa yang membuatmu sampai nangis seperti itu?”
sahut Dave sambil tersenyum. “Mau berbagi bersama kami?”
Siapa sangka kalau senyuman Dave meluluhkan keraguan hati Riani. Ia
menganggukkkan kepalanya saat diajak Tifa dan pemuda tersebut.
ooOoo
“Harusnya ini bukan
masalah besar, hanya saja waktunya yang tidak tepat,” Riani memulai ceritanya.
“Kakiku terkilir kemarin dan minggu depan aku ada perlombaan tingkat nasional.”
Tifa dan Dave bertukar pandang lalu keduanya mengangguk paham.
“Maaf, sudah membuat kalian khawatir. Benar aku menangis karena aku
kesal sekaligus sedih tidak bisa mengikuti lomba tersebut. Aku merasa ini
kesempatan besar, tapi karena hal sepele kemarin aku tidak bisa ikut serta.”
Tifa mendesah berat, “Sebenarnya kami yang harusnya minta maaf. Ini
pasti masalah berat buatmu, tapi kami malah memaksamu bercerita dan tidak
memberikan solusi apa pun.”
Riani tersenyum kecil, “Tidak apa. Berbagi dengan kalian sudah
meringankan bebanku. Terima kasih ya.”
“Tentu saja. Itulah gunanya teman,” Tifa tersenyum seraya menggenggam
erat tangan Riani. “Oh ya, kalau kamu butuh teman cerita kamu bisa datang
padaku atau Dave. Kami siap mendengarkan.”
Riani mengangguk semangat.
“Eh, kamu’kan sekarang nganggur, gimana kalau kamu ikutan klub teater?”
ujar Tifa. “Kami punya divisi tari dan kebetulan kami kekurangan anggota di
divisi tari.”
“Memangnya boleh? Aku’kan sudah kelas XII, bukannya kalau mau ikutan
harus dari kelas X?”
“Siapa bilang?” sahut Dave. “Semua bisa ikutan kok. Asal kamu bersedia
mengikuti camp pelatihan yang
menyebalkan.”
“Camp pelatihan yang
menyebalkan?” tanya Riani dengan ekspresi heran.
Dave dan Tifa kompak terkekeh.
“Pokoknya kamu bersedia ikut dan mau berkerja sama. Selama kamu setuju,
maka kamu adalah anggota,” ujar Tifa. “Jadi, bagaimana? Kamu mau ikut’kan?”
Riani menimang-nimang tawaran tersebut. Terdengar menjanjikan, tetapi
tetap meragukan. Sepertinya ia butuh waktu untuk menjawabnya.
“Aku akan pikir-pikir lagi. Nanti aku akan hubungi kalian lagi.”
“Minggu depan kami mulai latihan pertama untuk semester ini. Kalau mau
lihat-lihat saja boleh kok,” ujar Tifa.
Riani mengangguk ragu.
“Datang saja,” Dave mengedipkan matanya. “Kami terbuka untuk siapa pun.”
Entah kenapa kali ini Riani mengangguk mantap. Sepertinya kedipan kecil
itu membuat gadis ini tersipu malu.
ooOoo
Hari yang ditunggu pun
tiba. Tifa berpakaian lebih rapi dari biasanya. Ia bahkan setuju saat ibunya
menyuruh memakai rok putih dengan atasan blus merah muda. Padahal biasanya ia
lebih suka memakai celana selutut dengan kaus belel, tapi kali ini ia tak membantah
sedikit pun. Ia tak mau terlihat kucel di depan keluarga Dave.
Hatinya yang berdebar-debar sedari rumah seketika berubah senyap tatkala
ayahnya tak memberhentikan mobil di depan rumah kakaknya. Padahal ia berjanji
akan mengajak kakaknya ikut serta.
“Kita gak kelewatan rumah Kak Laksmi, Yah?”
“Laksmi bilang dia gak enak badan,” jawab ayahnya dingin.
Bibir Tifa mengerucut tak setuju, “Masa sih? Memangnya separah itu
sampai gak bisa ikut? Kenapa gak Adrian saja yang diajak?”
“Siapa yang mau menangani anak kecil di sana nanti?” tukas ayahnya.
“Aku bisa!” balas Tifa tak mau kalah.
“Sudahlah, kalian berdua ini,” lerai ibunya. “Sepulang dari sana nanti
kita mampir saja sebentar ke rumah Laksmi. Lagi pula Ayah sudah lama tidak
bertemu dengannya, bukan?”
Sang ayah tak membantah atau pun mengiyakan. Ia hanya fokus pada kemudi.
Keluarga ini membisu hingga mereka sampai di rumah Dave. Ketegangan sedikit
mencair ketika melihat Dave yang langsung menyambut mereka.
Orang tua Tifa pun berkenalan dengan orang tua Dave. Obrolan berlangsung
hangat dan makan malam pun berjalan lancar. Tidak ada aura dingin yang
dipancarkan ayah Tifa jika sedang bertemu dengan Dave. Sepertinya sang ayah
mulai memberikan lampu hijau pada hubungan Dave dan putrinya.
Dave harus berterima kasih pada ibunya yang sudah merencanakan makan
malam ini. Ia selalu menceritakan perihal Tifa pada orang tuanya tiap ada
kesempatan. Begitu pula dengan hambatan percintaannya. Akhirnya sang ibu
menyarankan agar diadakan acara makan malam untuk meluruhkan hati ayah Tifa.
Ternyata rencana itu berhasil.
Sesaat sebelum keluarga Tifa pulang, Dave sempat mendekati gadis itu dan
membisikkan sesuatu yang membuat pipi Tifa merona merah.
“Kamu cantik banget malam ini.”
Tifa tak akan pernah melupakan pujian itu. Untuk pertama kalinya ia
sangat bersyukur karena telah menuruti kata-kata ibunya. Mungkin jika lain kali
Dave mengajaknya berkencan, ia harus meminta wejangan lagi dari ibunya.
Keluarga Tifa pun berpamitan. Gelak tawa masih terasa sampai semua pintu
mobil tertutup. Tepatnya setelah Tifa menagih janji ayahnya.
“Ayah gak lupa’kan?”
Tak ada sahutan, tetapi sang ayah tetap membelokkan mobilnya ke rumah
Laksmi. Adrian segera berlarian menyambut mereka. Laksmi menunggu keluarganya
di depan pintu. Wajahnya terlihat selalu menunduk apalagi saat bertatapan
dengan ayahnya.
“Kak, Kakak baik-baik saja?”
Laksmi tak mengerti kenapa Tifa bertanya dengan nada khawatir. Namun,
saat ia bertatapan dengan ayahnya, ia merasa sepertinya sang ayah tadinya
berusaha agar Tifa tak bertemu dengannya dan membuat seribu alasan. Ia pun
segera paham.
“Sudah mendingan,” Laksmi berusaha berakting senatural mungkin. “Ayo
masuk dulu.”
“Ya, kebetulan Ayah mau ke toilet.”
Lagi-lagi sebuah kode. Ia tahu kalau ayahnya tak pernah sudi untuk
mampir ke rumahnya apalagi sampai mau meminjam toilet. Pasti ayahnya ingin
bicara empat mata dengannya. Benar saja, sang ayah ternyata sudah menunggunya
di dalam.
“Apa kalian baru saja dari berpergian bersama?” Laksmi berusaha membuka
percakapan.
“Kami baru saja dari rumah pacarnya Tifa. Kami diundang ke acara makan
malam.”
Ironis. Laksmi tahu kalau rumah Dave tak jauh dari rumahnya dan Tifa
pasti ingin mengajaknya pergi, tapi sang ayah sengaja tak mengajaknya.
Sepertinya sang ayah tak mau mengenalkan dirinya pada dunia.
“Ohh, begitu. Pasti kalian bersenang-senang,” Laksmi berusaha menahan
agar suaranya tak bergetar.
“Dengar, Laksmi. Ayah berharap mulai sekarang kamu jangan terlalu dekat
dengan Tifa. Kamu adalah kesalahan terbesar Ayah dan Tifa juga tidak boleh menjadi
kesalahan juga. Mungkin kamu akan tersinggung dan marah, tapi ini langkah besar
yang harus Ayah tempuh. Masa depan Tifa masih terlalu panjang.”
“Menurut Ayah, apa aku ini membawa pengaruh buruk bagi Tifa?” mata
Laksmi mulai berair setelah mendengar pernyataan ayahnya. Ia tak dapat
mengontrol lagi nada suaranya.
“TIfa selalu mengikutimu apa pun yang kamu lakukan dan melihat kondisimu
sekarang bukan tidak mungkin Tifa juga akan mengikutinya. Ayah—“
“Yah, kenapa Ayah tidak mengerti aku?” potong Laksmi. Tangisnya sekarang
pecah. “Sebegitunya jeleknya aku di mata Ayah, sampai-sampai aku tak boleh lagi
berhubungan dengan adikku sendiri. Ayah benar-benar tega.”
Sang ayah tak menyahut. Namun, tatapannya tetap merasa dialah yang
benar.
“Kalau begitu, aku minta sekarang Ayah angkat kaki dari sini. Pergilah!”
ujarnya lirih.
Tanpa membantah, sang ayah segera meninggalkan Laksmi yang berurai air
mata. Ia pun menemui keluarganya yang sedang asyik bermain dengan cucunya.
“Ayo kita pulang! Sudah terlalu larut.”
“Eh, cepat sekali?” ujar Tifa. “Kak Laksmi gimana?”
“Kepalanya pusing lagi dan barusan dia tidur lagi.”
Ibu hanya bisa mendesah berat. Suaminya memang pembohong ulung. Entah
sampai kapan suaminya itu bisa membohongi kondisi keluarganya.
“Aku mau pamit dulu sama Kak Laksmi,” Tifa buru-buru menuju kamar
kakaknya.
“Dia sudah tidur, Tif!” seru ayahnya.
“Sebentar aja,” balas Tifa tanpa menghentikan langkahnya.
Ia pun mendapati kakaknya sudah terbaring di tempat tidur dengan posisi
membelakangi pintu. Tifa pun sedikit segan untuk mendekat.
“Kak, Kakak sudah tidur?”
“Kalian sudah mau pulang?” sahut Laksmi tanpa menoleh. “Kalian pulang
saja. Maaf tidak bisa mengantar. Kepala kakak pusing.”
Tifa mendesah pendek. Ia pun naik ke atas ranjang dan memeluk punggung
kakaknya.
“Aku gak tahu apa yang ayah bicarakan dengan kakak tadi, tapi apa pun
itu aku akan selalu di samping kakak,” Tifa menguatkan pelukannya. “Gak ada
yang bisa misahin kita berdua meski itu ayah sekali pun.”
Laksmi mengelus lengan adiknya. Ia berusaha menahan air matanya lalu
berbalik menghadap adiknya.
“Pulanglah. Jangan sampai membuat ayah marah.”
Tifa tersenyum, “Besok aku akan mampir lagi.”
Laksmi mengangguk pelan, “Nanti ceritakan tentang makan malam tadi ya.”
Bibir Tifa tersenyum lebar. Ia pun berpamitan dan meninggalkan kakaknya.
Bersamaan dengan pintu yang tertutup rapat, air mata Laksmi pun mengalir deras.
Dalam kesendirian, ia tak bisa lagi menutupi kesedihannya dengan akting
sempurna seperti tadi. Meski ia kesal dengan ayahnya, tapi ia tak menyangkal
kalau ia mirip dengan ayahnya.
Sama-sama berbohong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar