Musikal
167
Ben tak langsung pulang
ke rumah setelah itu. Ia lebih suka menghabiskan harinya di rumah Wenda.
Awalnya ia bersama Kemal, tapi panggilan darurat mengharuskan Kemal pulang
lebih dulu. Lalu di sinilah Ben sekarang, tanpa ada niatan untuk segera
beranjak.
“Setelah dengar cerita Andani tadi, rasanya aku bersalah banget ya nuduh
Miss Tifa kayak gitu. Mereka benar,
kita sekarang menghakiminya tanpa melihat jasa-jasa yang dulu pernah dia
lakukan demi kita.”
Wenda tersenyum kecil. Baru kali ini ia mendengar keluhan frustasi Ben.
Laki-laki yang terkenal tenang itu ternyata bisa goyah juga.
“Kamu gak salah kok. Kita semua berpikir begitu, tapi sekarang kita
sudah menyadari. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”
Ben mendesah berat.
“Oh, ayolah, ketua,” Wenda meninju pelan bahu Ben. “Kamu harus semangat
dong. Tugas kita makin berat loh. Kita harus meyakinkan anak-anak supaya mereka
mau kembali latihan. Ingat, seorang ketua yang goyah tidak akan membawa kembali
teman-temannya!”
Kali ini tarikan napas Ben terdengar dalam dan panjang. Ia menganggukkan
kepalanya.
“Ya, aku harus kuat,” ia tersenyum pada Wenda. “Thank’s ya.”
Wenda mengangguk lalu keduanya tenggelam dalam kesunyian.
“Hmm, kayaknya aku pulang dulu deh. Udah malam dan besok aku harus
memulai misi. Salam buat mamamu ya.”
Wenda kembali mengangguk seraya mengantar Ben sampai di depan pagar.
Ketika Ben hampir saja memasukkan perseneling, Wenda buru-buru menahannya.
“Ada apa, Wen?” ujar Ben seraya membuka kaca helmnya.
“Ng… itu… tentang pernyataanmu waktu itu.”
Suara Wenda yang mencicit memaksa Ben untuk mematikan mesin motornya. Ia
tak melepas helm, tapi memandang gadis ini dengan tanda tanya.
“Hmm, aku sudah memikirkannya. Hmm, kupikir… tidak ada salahnya untuk
menjalani dulu bersamamu.”
Ben tersentak. Ia melepas helmnya seraya turun dari motor.
“Ka—kamu serius, Wen? Aku gak salah dengar’kan?”
Wenda menggeleng pelan, “Aku sudah berpikir masak-masak dan sebelum
hatiku berkata lain, kuputuskan untuk mengatakannya sekarang.”
Ben berusaha menahan agar ia tak berloncatan seperti supoter bola.
Namun, ekspresi wajahnya tak bisa menipu. Ia terlihat begitu senang.
“Ya ampun, Wen. Aku bahkan sudah ikhlas kalau seandainya kamu gak nerima
aku.”
Wenda berdeham. Ada senyuman usil menyeringai, “Ohh, jadi kamu mau tetap kita temenan aja,
gitu?”
“Yah, yah, jangan dong!” Ben langsung panik. Ia langsung meraih tangan
Wenda dan menggenggamnya. “Kita baru jadian beberapa menit yang lalu, masa
langsung bubar? Tapi, eh, kita beneran jadian’kan?”
Sekali lagi Wenda mengangguk mantap, “Ya, kita jadian.” Ia dapat
mendengar Ben kata ‘yesss’ mendesis dari bibir Ben.
“Hmm, aku jadi gak mau pulang, tapi aku harus pulang,” Ben mencubit pipi
Wenda seraya mengedipkan mata. “Aku pulang dulu ya, Beb.”
Kali ini Wenda harus menahan tawanya ketika Ben mengubah nama
panggilannya. Ia tak bisa berkata-kata dan hanya melambaikan tangan ketika
motor Ben meraung di jalanan.
ooOoo
Wenda juga masih tak
percaya kalau ia mengatakan keputusannya saat itu. Meski sebelumnya ia terlihat
tenang, tapi jantungnya tak bisa bersandiwara. Entah kenapa Ben tak
menyadarinya, tapi ia berani bersumpah kalau degupan jantungnya bahkan lebih
keras daripada dentuman nuklir Korea Utara.
Sejak pertama Ben mengatakan isi hatinya dan setelah ciuman pertama
mereka, Wenda berdusta jika ia tak memikirkan Ben sama sekali. Belum lagi
bujukan Anjani dan Kemal yang semakin menggoyahkan hatinya.
Memang tak ada yang salah dengan Ben. Dia tampan, punya banyak bakat,
selalu bisa diandalkan, dan terlebih dia mempunyai perhatian padanya. Hanya
saja terlalu banyak waktu yang dihabiskan dalam lingkaran persahabatan
membuatWenda meragu untuk mengubah status mereka. Ia takut Ben akan berubah. Ia
takut akan bertengkar seperti sepasang kekasih dan akhirnya mereka akan
berpisah.
Intinya Wenda takut kehilangan sosok Ben. Dia memang serakah.
Tapi semakin lama dipikirkan, justru semakin menggantung. Ben tak lagi
mengumbar-umbar perasaannya. Anjani dan Kemal juga tak lagi mendesak. Belum
lagi banyak permasalahan yang mereka hadapi, membuat jarak antara mereka berdua
semakin melebar. Sikap manis yang selalu Ben tunjukkan semakin lama semakin
pudar. Mungkin karena pemuda itu kehilangan rasa percaya diri mengenai balasan
untuk perasaannya. Wenda mengerti semua itu dan sebelum semua itu menjadi
hambar, ia membulatkan tekadnya untuk membalas perasaan Ben.
Wenda juga telah memperhitungkan risiko yang akan timbul jika
persahabatan mereka akan berubah jalur. Namun, ia tepis semua keraguan itu.
Percuma jika hanya terus berpikir dan tanpa melakukan aksi karena tak ada orang
yang bertahan dengan perasaan yang terus-menerus digantung. Oleh karena itu, ia
memberanikan diri untuk selangkah lebih maju.
Lebih baik terus mendapatkannya dengan cara yang berbeda daripada harus
benar-benar kehilangan, bukan?
ooOoo
Jika Wenda sudah
mendapatkan jawaban pasti, maka lain halnya dengan Andani. Sampai saat ini ia
masih belum bisa menjawab pernyataan Jiro tempo hari. Lebih tepatnya ia belum
memastikan kalau dirinya benar-benar jatuh cinta pada pemuda Jepang itu.
Sebenarnya keadaan Andani dan Wenda tak jauh berbeda. Mereka tiba-tiba
mendapat pernyataan cinta dari orang terdekat mereka, kemudian karena berbagai
alasan orang tersebut justru menjaga jarak. Namun, Wenda sedikit beruntung.
Setidaknya ia sudah mengenal baik-buruk Ben lebih lama. Selain itu, Wenda dan
Ben selalu bersama karena mereka satu kelas. Keadaan berbeda itu yang dirasakan
Andani. Ia baru mengenal Jiro ketika pemuda itu beserta saudaranya bergabung
dalam Love Musical. Mereka tak terlalu
banyak mengobrol selain membicarakan masalah latihan. Setelah itu Andani vakum
karena sakitnya dan pembicaraan mereka tidak berkembang hingga Jiro menyatakan
perasaannya. Perasaan Andani mulai terombang-ambing.
Apakah lebih baik ditolak saja? Toh
ia tak kenal ini, tapi rasa bersalah pasti akn menghantuinya. Tidak ada
yang salah dengan pemuda itu. Ia pemuda yang baik meski jahilnya keterlaluan.
Dan sebenarnya Jiro sudah sering menunjukkan sikap sukanya pada, hanya saja
Andani suka menghindar. Jiro memang suka usil, makanya Andani tidak pernah
menganggapnya serius.
Lalu haruskah ia menerima pemuda
itu? Kalau demikian berarti permasalahan kembali ke poin pertama. Ia tak kenal
Jiro. Dia memang tahu cerita Jiro dan Hiro di balik layar, tapi selebihnya ia
tak tahu. Seandainya terjadi sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu pemuda
itu, Andani pasti tidak tahu harus melakukan apa. Lalu jika mengesampingkan
poin awal, masih ada yang memberatkan Andani untuk menerima pemuda itu. Setelah
pementasan berakhir bukankah pemuda itu akan kembali ke Negara asalnya. Lantas
bagaimana hubungan mereka? LDR tanpa kepastian?
Bingung berpikiran sendirian, ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar
Anjani. Ternyata saudarinya itu baru saja akan mengetuk pintu kamarnya. Mereka
sama-sama terkejut. Namun, Anjani lebih dulu mengambil alih obrolan.
“Aku baru mau nyamperin kamu. Ada hot
news!”
Andani terpaksa menunda curahan hatinya.
“Tahu gak? Wenda sama Ben udah jadian!”
“Eh, kapan?” Andani tak bisa tak terkejut mendengar berita ini.
“Barusan. Fiuuh, usaha aku dan Kemal gak sia-sia.”
Andani hanya mengangguk-angguk. Ternyata kembarannya dapat membaca
keadaan.
“Kamu tadi kayaknya mau ke kamar aku. Ada yang mau kamu omongin?”
Tarikan napas Andani terdengar panjang dan berat, “Sebenarnya aku cerita
tentang Jiro Senpai.”
“Kamu masih bingung mau jawab apa?”
Andani mengangguk sementara Anjani tertawa geli.
“Kayaknya pertimbangan kamu banyak banget deh. Memangnya apa sih bikin
kamu berat terima Jiro Senpai?”
“Intinya sih aku gak terlalu kenal dengan dia. Lagi pula kalau
seandainya kami pacaran nanti, pasti kami LDR. Masa baru pacaran langsung
pisah?”
Kepala Anjani mengangguk-angguk. Keningnya berkerut tanda berpikir.
“Daripada kelamaan mikir, kenapa kamu gak coba jalanin dulu aja? Kalau
memang dia serius, hubungan kalian bakalan awet-awet aja kok, mau sejauh apa
pun jarak kalian.”
“Tapi masa hubungan dimulai dari coba-coba? Memangnya minyak kayu
putih?”
Tawa Anjani pecah, “Ya ampuuun, An. Aku bilang jalani, bukan coba-coba. Biarkan
semuanya mengalir. Jangan mikir yang terlalu jauh. Nikmati saja waktu
kebersamaan kalian setelah itu terserah waktu yang menjawab.”
Andani kembali mendesah panjang, tapi kali ini ia merasa kejanggalan
dalam hatinya sedikit terbuka. Kata-kata saudaranya akan ia ingat baik-baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar