Total Tayangan Halaman

Minggu, 30 Juli 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 167)




Musikal 167

Ben tak langsung pulang ke rumah setelah itu. Ia lebih suka menghabiskan harinya di rumah Wenda. Awalnya ia bersama Kemal, tapi panggilan darurat mengharuskan Kemal pulang lebih dulu. Lalu di sinilah Ben sekarang, tanpa ada niatan untuk segera beranjak.
“Setelah dengar cerita Andani tadi, rasanya aku bersalah banget ya nuduh Miss Tifa kayak gitu. Mereka benar, kita sekarang menghakiminya tanpa melihat jasa-jasa yang dulu pernah dia lakukan demi kita.”
Wenda tersenyum kecil. Baru kali ini ia mendengar keluhan frustasi Ben. Laki-laki yang terkenal tenang itu ternyata bisa goyah juga.
“Kamu gak salah kok. Kita semua berpikir begitu, tapi sekarang kita sudah menyadari. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”
Ben mendesah berat.
“Oh, ayolah, ketua,” Wenda meninju pelan bahu Ben. “Kamu harus semangat dong. Tugas kita makin berat loh. Kita harus meyakinkan anak-anak supaya mereka mau kembali latihan. Ingat, seorang ketua yang goyah tidak akan membawa kembali teman-temannya!”
Kali ini tarikan napas Ben terdengar dalam dan panjang. Ia menganggukkan kepalanya.
“Ya, aku harus kuat,” ia tersenyum pada Wenda. “Thank’s ya.”
Wenda mengangguk lalu keduanya tenggelam dalam kesunyian.
“Hmm, kayaknya aku pulang dulu deh. Udah malam dan besok aku harus memulai misi. Salam buat mamamu ya.”
Wenda kembali mengangguk seraya mengantar Ben sampai di depan pagar. Ketika Ben hampir saja memasukkan perseneling, Wenda buru-buru menahannya.
“Ada apa, Wen?” ujar Ben seraya membuka kaca helmnya.
“Ng… itu… tentang pernyataanmu waktu itu.”
Suara Wenda yang mencicit memaksa Ben untuk mematikan mesin motornya. Ia tak melepas helm, tapi memandang gadis ini dengan tanda tanya.
“Hmm, aku sudah memikirkannya. Hmm, kupikir… tidak ada salahnya untuk menjalani dulu bersamamu.”
Ben tersentak. Ia melepas helmnya seraya turun dari motor.
“Ka—kamu serius, Wen? Aku gak salah dengar’kan?”
Wenda menggeleng pelan, “Aku sudah berpikir masak-masak dan sebelum hatiku berkata lain, kuputuskan untuk mengatakannya sekarang.”
Ben berusaha menahan agar ia tak berloncatan seperti supoter bola. Namun, ekspresi wajahnya tak bisa menipu. Ia terlihat begitu senang.
“Ya ampun, Wen. Aku bahkan sudah ikhlas kalau seandainya kamu gak nerima aku.”
Wenda berdeham. Ada senyuman usil menyeringai,  “Ohh, jadi kamu mau tetap kita temenan aja, gitu?”
“Yah, yah, jangan dong!” Ben langsung panik. Ia langsung meraih tangan Wenda dan menggenggamnya. “Kita baru jadian beberapa menit yang lalu, masa langsung bubar? Tapi, eh, kita beneran jadian’kan?”
Sekali lagi Wenda mengangguk mantap, “Ya, kita jadian.” Ia dapat mendengar Ben kata ‘yesss’ mendesis dari bibir Ben.
“Hmm, aku jadi gak mau pulang, tapi aku harus pulang,” Ben mencubit pipi Wenda seraya mengedipkan mata. “Aku pulang dulu ya, Beb.”
Kali ini Wenda harus menahan tawanya ketika Ben mengubah nama panggilannya. Ia tak bisa berkata-kata dan hanya melambaikan tangan ketika motor Ben meraung di jalanan.
ooOoo
Wenda juga masih tak percaya kalau ia mengatakan keputusannya saat itu. Meski sebelumnya ia terlihat tenang, tapi jantungnya tak bisa bersandiwara. Entah kenapa Ben tak menyadarinya, tapi ia berani bersumpah kalau degupan jantungnya bahkan lebih keras daripada dentuman nuklir Korea Utara.
Sejak pertama Ben mengatakan isi hatinya dan setelah ciuman pertama mereka, Wenda berdusta jika ia tak memikirkan Ben sama sekali. Belum lagi bujukan Anjani dan Kemal yang semakin menggoyahkan hatinya.
Memang tak ada yang salah dengan Ben. Dia tampan, punya banyak bakat, selalu bisa diandalkan, dan terlebih dia mempunyai perhatian padanya. Hanya saja terlalu banyak waktu yang dihabiskan dalam lingkaran persahabatan membuatWenda meragu untuk mengubah status mereka. Ia takut Ben akan berubah. Ia takut akan bertengkar seperti sepasang kekasih dan akhirnya mereka akan berpisah.
Intinya Wenda takut kehilangan sosok Ben. Dia memang serakah.
Tapi semakin lama dipikirkan, justru semakin menggantung. Ben tak lagi mengumbar-umbar perasaannya. Anjani dan Kemal juga tak lagi mendesak. Belum lagi banyak permasalahan yang mereka hadapi, membuat jarak antara mereka berdua semakin melebar. Sikap manis yang selalu Ben tunjukkan semakin lama semakin pudar. Mungkin karena pemuda itu kehilangan rasa percaya diri mengenai balasan untuk perasaannya. Wenda mengerti semua itu dan sebelum semua itu menjadi hambar, ia membulatkan tekadnya untuk membalas perasaan Ben.
Wenda juga telah memperhitungkan risiko yang akan timbul jika persahabatan mereka akan berubah jalur. Namun, ia tepis semua keraguan itu. Percuma jika hanya terus berpikir dan tanpa melakukan aksi karena tak ada orang yang bertahan dengan perasaan yang terus-menerus digantung. Oleh karena itu, ia memberanikan diri untuk selangkah lebih maju.
Lebih baik terus mendapatkannya dengan cara yang berbeda daripada harus benar-benar kehilangan, bukan?
ooOoo
Jika Wenda sudah mendapatkan jawaban pasti, maka lain halnya dengan Andani. Sampai saat ini ia masih belum bisa menjawab pernyataan Jiro tempo hari. Lebih tepatnya ia belum memastikan kalau dirinya benar-benar jatuh cinta pada pemuda Jepang itu.
Sebenarnya keadaan Andani dan Wenda tak jauh berbeda. Mereka tiba-tiba mendapat pernyataan cinta dari orang terdekat mereka, kemudian karena berbagai alasan orang tersebut justru menjaga jarak. Namun, Wenda sedikit beruntung. Setidaknya ia sudah mengenal baik-buruk Ben lebih lama. Selain itu, Wenda dan Ben selalu bersama karena mereka satu kelas. Keadaan berbeda itu yang dirasakan Andani. Ia baru mengenal Jiro ketika pemuda itu beserta saudaranya bergabung dalam Love Musical. Mereka tak terlalu banyak mengobrol selain membicarakan masalah latihan. Setelah itu Andani vakum karena sakitnya dan pembicaraan mereka tidak berkembang hingga Jiro menyatakan perasaannya. Perasaan Andani mulai terombang-ambing.
Apakah lebih baik ditolak saja? Toh ia tak kenal ini, tapi rasa bersalah pasti akn menghantuinya. Tidak ada yang salah dengan pemuda itu. Ia pemuda yang baik meski jahilnya keterlaluan. Dan sebenarnya Jiro sudah sering menunjukkan sikap sukanya pada, hanya saja Andani suka menghindar. Jiro memang suka usil, makanya Andani tidak pernah menganggapnya serius.
Lalu  haruskah ia menerima pemuda itu? Kalau demikian berarti permasalahan kembali ke poin pertama. Ia tak kenal Jiro. Dia memang tahu cerita Jiro dan Hiro di balik layar, tapi selebihnya ia tak tahu. Seandainya terjadi sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu pemuda itu, Andani pasti tidak tahu harus melakukan apa. Lalu jika mengesampingkan poin awal, masih ada yang memberatkan Andani untuk menerima pemuda itu. Setelah pementasan berakhir bukankah pemuda itu akan kembali ke Negara asalnya. Lantas bagaimana hubungan mereka? LDR tanpa kepastian?
Bingung berpikiran sendirian, ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Anjani. Ternyata saudarinya itu baru saja akan mengetuk pintu kamarnya. Mereka sama-sama terkejut. Namun, Anjani lebih dulu mengambil alih obrolan.
“Aku baru mau nyamperin kamu. Ada hot news!”
Andani terpaksa menunda curahan hatinya.
“Tahu gak? Wenda sama Ben udah jadian!”
“Eh, kapan?” Andani tak bisa tak terkejut mendengar berita ini.
“Barusan. Fiuuh, usaha aku dan Kemal gak sia-sia.”
Andani hanya mengangguk-angguk. Ternyata kembarannya dapat membaca keadaan.
“Kamu tadi kayaknya mau ke kamar aku. Ada yang mau kamu omongin?”
Tarikan napas Andani terdengar panjang dan berat, “Sebenarnya aku cerita tentang Jiro Senpai.”
“Kamu masih bingung mau jawab apa?”
Andani mengangguk sementara Anjani tertawa geli.
“Kayaknya pertimbangan kamu banyak banget deh. Memangnya apa sih bikin kamu berat terima Jiro Senpai?”
“Intinya sih aku gak terlalu kenal dengan dia. Lagi pula kalau seandainya kami pacaran nanti, pasti kami LDR. Masa baru pacaran langsung pisah?”
Kepala Anjani mengangguk-angguk. Keningnya berkerut tanda berpikir.
“Daripada kelamaan mikir, kenapa kamu gak coba jalanin dulu aja? Kalau memang dia serius, hubungan kalian bakalan awet-awet aja kok, mau sejauh apa pun jarak kalian.”
“Tapi masa hubungan dimulai dari coba-coba? Memangnya minyak kayu putih?”
Tawa Anjani pecah, “Ya ampuuun, An. Aku bilang jalani, bukan coba-coba. Biarkan semuanya mengalir. Jangan mikir yang terlalu jauh. Nikmati saja waktu kebersamaan kalian setelah itu terserah waktu yang menjawab.”
Andani kembali mendesah panjang, tapi kali ini ia merasa kejanggalan dalam hatinya sedikit terbuka. Kata-kata saudaranya akan ia ingat baik-baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar