Musikal
168
“Kamu mencariku?”
Andani menoleh. Senyumnya langsung mengembang saat
sosok pemuda berdarah Jepang menghampirinya. Ia yakin kalau sekarang si pemuda
tidak sedang menukar papan namanya.
“Ah, aku mau balikin tablet Senpai.”
Hiro menerima kembali tablet miliknya. Namun, ia
merasa aneh dengan gadis ini.
“Yakin cuma karena ini?”
“Ahh, ketahuan, ya,” Andani terkekeh. “Hmm, yaah…
sebenarnya aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya padaku.”
Hiro tersentak, “Maksudmu?”
“Ngg… Senpai…
apakah Senpai memiliki perasaan
khusus padaku? Melebihi batas pertemanan?”
Lama Hiro mengartikan kata-kata Andani di kepalanya,
“Apa kamu suka sama aku?”
“Oh, nggak, nggak!” sahut Andani cepat. Ia bahkan
sampai melambaikan tangan agar Hiro tak semakin salah paham. “Aku bertanya
seperti itu karena aku ingin memastikan saja perasaanmu. Aku hanya tidak ingin
ada pertengkarang di antara kalian berdua.”
“Kami?” lipatan di kening Hiro semakin menumpuk.
“Tunggu dulu, semakin lama aku semakin tidak mengerti apa maksudmu.”
Andani berdeham, “Ji—Jiro Senpai bilang, Hiro Senpai
suka padaku. Tapi beberapa hari yang lalu Jiro Senpai menyatakan perasaannya padaku.”
Akhirnya Hiro mengerti benang merah dari teka-teki
Andani. Seketika tawanya meledak bahkan ia sampai meneteskan air mata.
“Ma—maaf,” ujarnya seraya meredakan tawanya. “Jadi
begini, memang benar aku bilang begitu pada Jiro, tapi sebenarnya itu bohong.
Aku hanya ingin memancing Jiro supaya cepat-cepat mengaku padamu.”
“Tapi untuk apa?” giliran Andani yang terkena
kebingungan.
“Karena waktu kami tak banyak. Kalau kami sudah keburu
pulang, akan sulit untuk bertemu denganmu lagi. Dan Jiro bukan tipe yang mudah
berpindah ke lain hati. Selain itu, aku juga ingin membuat Jiro bahagia.”
Andani bergeming.
“Jadi, apa kamu sudah menentukan jawabannya?”
Kepala Andani menggeleng pelan, “Aku masih meragukan
saudaramu. Maksudku, aku tidak yakin dia benar-benar mau pacaran. Aku cuma
takut dia akan mempermainkanku saja.”
“Aku mengerti keraguanmu,” Hiro tersenyum bijak. “Tapi
aku bisa menjamin kalau saudaraku itu bukan orang yang tega mempermainkan
perasaan seorang gadis.”
ooOoo
Australia, 1 tahun yang
lalu
Jiro hanya tersenyum tipis pada si gadis pirang yang baru saja meminta
maaf padanya. Gadis itu padahal baru saja menyatakan perasaannya. Namun,
ternyata si gadis salah mengajak lawan bicaranya. Ia berniat mengatakan
perasaannya pada Hiro, tapi yang ia temui adalah Jiro. Tentu saja gadis itu
sangat malu dan ia segera menghilang dari hadapan Jiro. Setelah itu Jiro tak
tahu apakah gadis itu sudah menayatakan perasaan pada kembarannya. Namun,
ketika ia menceritakannya pada Hiro, saudaranya itu cukup kaget. Ia sendiri
baru tahu.
“Tapi kenapa kamu jadi kesal seperti itu?” tanya Hiro.
“Tidak apa. Aku hanya tidak mengerti kenapa
orang-orang masih susah membedakan kita padahal kita sudah cukup lama mengenal
mereka.”
“Kamu benci karena kita terlahir begitu mirip?”
“Bukan begitu. Maksudku kalau memang gadis itu
menyukaimu, harusnya dia bisa membedakan kita. Bukannya kalau suka pada
seseorang kita harus mengetahui orang itu secara keseluruhan. Kalau membedakan
kita berdua saja dia tidak bisa, nantinya dia sendiri yang susah’kan?”
Hiro hanya mengangguk setuju.
“Ngomong-ngomong kamu punya tipe gadis sendiri, Hiro?”
Hiro tersentak. Ia tak menyangka kalau saudaranya itu
tiba-tiba menanyakan hal seperti itu.
“Hmm, tipe gadis, yaa?” Hiro menggaruk-garuk ujung
dagunya. “Aku sih lebih suka gadis Asia. Menurutku mereka lebih pengertian dan
tidak terlalu suka pesta seperti perempuan bule. Aku juga suka pada gadis yang
feminim, suka pakai rok, dan berambut panjang. Kalau bisa sih, aku mau punya
pacar yang suaranya indah.”
“Wah, banyak juga syaratnya,” Jiro terkekeh dan
disahut oleh saudaranya.
“Kalau JIro?”
“Eh, aku, ya?” Jiro mendengus pendek. “Ah, sederhana
saja. Aku cuma mau dengan gadis yang bisa membedakan kita berdua dengan sekali
lihat.”
“Hm, berarti kembar, ya? Soalnya cuma orang-orang
kembar yang bisa membedakan kembar yang lain.”
“Kembar, ya, hmm,” JIro membeo sambil berpikir. “Yah,
terserah. Kembar juga boleh. Siapa tahu dia bisa mengerti perasaanku.”
Dan begitulah. Tahun demi tahun berganti. Hingga
mereka dipertemukan dengan Tifa yang membawa mereka datang ke Negara yang cukup
sering mereka kunjungi. Nama Tifa tidaklah asing di telinga mereka. Sebelumnya
mereka juga pernah bekerja sama, tapi saat itu belum ada perbincangan serius
antara mereka. Kali ini wanita itu memberikan tawaran yang tak biasa. Hiro dan
Jiro tidak bisa menolak karena meski aneh, tapi tawaran ini sangat menarik.
Pertemuan dengan anggota Love Musical menjadi lembar baru dalam hidup mereka. Di sisi lain,
Jiro merasa telah menemukan apa yang selama ini dia cari.
Gadis yang bisa membedakan mereka dengan sekali
pandang.
Sayangnya, gadis itu justru lebih condong pada
kriteria yang pernah Hiro sebutkan. Meski ia sudah berusaha untuk melakukan
pendekatan pada gadis itu bahkan ketika gadis itu mengalami musibah, tapi tetap
saja JIro merasa kalau kedekatan Hiro dengan gadis itu melebihi dirinya.
Perasaan Hiro menjadi statis. Ia tak ingin mundur, tapi ia juga terlalu takut
untuk maju.
Sebagai anggota sel yang pernah membelah dua, Hiro
bisa membaca gelagat saudaranya. Pada suatu waktu, Hiro pernah menanyakan
perihal perasaan kembarannya.
“Jiro suka sama Andani-chan?”
“Tidak juga. Bukannya dia lebih mirip dengan tipenya
Hiro,” jawab pemuda itu datar.
Ternyata benar dugaan Hiro. Dia tahu kalau Jiro
stagnan karena tidak mau harus berebut gadis ini dengannya. Namun, Jiro tak
pernah menanyakan bagaimana perasaan Hiro sebenarnya. Andani memang tipenya,
tapi bukan berarti dia harus suka.
“Tapi, yah, memang sayang kalau pacaran sekarang,”
pancing Hiro. “Nantinya juga kita akan kembali. Entah ke Aussie atau ke Tokyo.”
Kata-kata Hiro seolah berdengung di kepalanya.
Berbagai dilema muncul. Namun, ia tak bisa melepaskan pandangannya pada gadis
bersuara emas yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
“Yah, kalau memang kesempatan itu untukku, aku akan
menjaganya.”
Hiro melirik saudaranya. Baru kali ini ia mendengar
sumpah yang sangat manis.
ooOoo
Andani menunggu di halaman belakang gedung teater. Bel istirahat
sebentar lagi habis dan orang yang ia tunggu belum juga muncul. Jika bel sampai
berbunyi lebih dulu, ia bersumpah akan meninggalkan orang ini.
‘Dia selalu
mencoba minggat dari sekolah. Tunggu saja di belakang gedung teater.’
Begitulah informasi yang didapat dari Hiro. Entah
kenapa Andani tergugah setelah mendengar cerita tersebut. Jiro memang selalu
membuat hatinya ragu, tapi Hiro bukanlah pembohong ulung. Jika ia bisa percaya
pada kata-kata Hiro, itu artinya ia juga meyakinkan hatinya pada pemuda yang
tempo hari menyatakan perasaan padanya.
“Andani-chanI?”
Lamunan Andani terbuyar. Sosok yang dari kemarin
memenuhi pikirannya muncul. Jantungnya berdegup keras dan lidahnya berubah
kelu. Entah kemana menguapnya semua keberanian yang susah payah ia kumpulkan.
“Se—Senpai,
mau minggat?”
“Bukan urusanmu,” Jiro tersenyum sinis. “Kamu mau apa
di sini?”
“Aku mau bertemu denganmu.”
Jiro terperanjat, “Loh, ada apa?”
“Tentang perasaan Senpai
waktu itu.”
“Bukannya aku kasih waktu sampai pementasan usai?”
Kali ini senyuman Jiro melembut. “Tidak usah terburu-buru.”
“Aku tidak yakin bisa sampai pementasan selesai.
Memangnya Senpai mau kalau kita hanya
melewati waktu yang sebentar?”
“Ki—kita?” dahi Jiro berlipat. Ia hanya ingin
memastikan kalau kata-kata Andani itu bukan dengungan lalat.
“Kupikir kita bisa menjalaninya bersama. Sebenarnya
aku ingin mengenal Senpai dulu, tapi
itu akan memakan waktu yang lama. Makanya kupikir lebih baik mengenal Senpai lebih jauh lagi setelah kita
bersama.”
“Pacaran?”
Saat Andani mengangguk tersipu, Jiro tak bisa menahan
perasaannya. Seperti ada letusan gunung api yang memuntahkan semua isi perut
bumi. Bergemuruh dan ia tak bisa menahannya. Ia bahkan tak sadar telah memeluk
Andani sangat erat.
“Se—senpai,
kita masih di sekolah!”
“Oh, maaf,” Jiro melepaskan pelukannya. “A—aku terlalu
senang. Aku tidak menyangka kalau kamu akan menerimanya secepat itu.”
“Aku juga. Eh, maksudku, berterima kasihlah pada
saudaramu karena dialah yang meyakinkanku untuk menerimamu sekarang.”
“Eh, Hiro?” Jiro tersentak kaget.
Andani mengangguk, “Dia bilang kalau selama ini dia
cuma mau memanas-manasimu saja. Supaya Senpai
cepat-cepat menyataka perasaannya padaku.”
“Jadi, dia bohong?” Andani mengangguk lagi dan
perasaan kesal langsung menyergapi Jiro. “Ahh, sialan dia. Aku harus berhutang
maaf dan terima kasih.”
Andani tersenyum geli, “Senpai, jadi minggatnya?”
“Kupikir tidak,” ia tersenyum manja. “Masa aku mau
melewatkmu hari ini.”
“Kalau begitu ayo kembali. Barusan bel berbunyi’kan?”
“Ehem, asal kamu mau pegang tanganku.”
Andani baru tahu kalau Jiro sangat manja. Namun,
melihat wajah polosnya, Andani tak tega untuk mengabaikan uluran tangan itu.
Seperti ada voltase listrik saat kulit mereka perlahan bersentuhan, tapi entah
kenapa masing-masing tak ada yang mau melepaskan. Wajah Andani merona sementara
debaran jantung Jiro semakin tak terkontrol. Mereka berjalan malu-malu dengan
jemari yang saling bertaut.
Tampak dari jauh Hiro mengawasi mereka. Ia hanya
tersenyum tipis. Sesaat kemudian ia mendesah panjang.
‘Kali ini
biarlah kamu yang bahagia…’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar