Total Tayangan Halaman

Minggu, 16 Juli 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 166)



Musikal 166

Untuk pertama kalinya selama tergabung dalam Love Musical, Anjani, Ben, Kemal, dan Wenda pergi karaoke. Selama ini mereka menghindari tempat karaoke karena bisa menghabiskan tenaga serta suara. Namun, karena cuti latihan yang berkepanjangan, mereka jadi punya banyak waktu luang. Setelah pertimbangan panjang, sepertinya pergi karaoke sekali tidak akan menyebabkan pita suara rusak.
Biasanya mereka hanya pergi berempat, tapi kali ini sedikit spesial. Untuk pertama kalinya pula Anjani mengajak saudaranya hang out bersama. Namun, karena mereka memilih karaoke sebagai destini pertama, Andani hanya bisa menonton. Ia masih sayang dengan pita suaranya.
“Uhh, puas juga karaoke tadi. Rasanya kayak habis buka puasa,” ujar Wenda seraya merengganggkan tubuhnya. Setelah dahaga dan lapar menyerang, mereka pun memutuskan untuk mengisi perut di salah satu kafe.
  “Iya ya, biasanya karaokean menu wajib,” Kemal menimpali.
Mereka pun melanjutkan makan sambil bercakap-cakap.
“Tapi sebenarnya gimana nasib pementasan ini ya? Masa digantung gitu aja?” ujar Andani.
“Jangankan kamu, kita yang masih aktif aja gak tahu,” sahut Wenda sambil menyendok nasi goreng. “Sayang memang, tapi kalau digantung terus aku juga jadi capek.”
“Memangnya Miss Tifa itu sakit apa sih?” timpal Ben. “Apa ini cuma gimmick aja supaya menutupi skandal Adrian kemarin?”
Andani tersentak mendengar kata-kata Ben. Biasanya pendapat Ben yang paling rasional, tapi kali ini tak seperti Ben. Apakah Ben juga sudah lelah dan terlalu kesal dengan sikap sutradara mereka yang seolah-olah menutupi semua masalah. Memang sedari awal mereka hanya terima beres segala urusan. Mereka hanya tahu latihan, latihan, dan latihan. Tidak tahu bagaimana kejadian di balik layar. Tifa memang tidak transparan, tapi tak seharusnya mereka menghakimi seperti itu.
Begitulah yang ada dalam pikiran Andani. Sayang, lidahnya tak seberani orang-orang untuk membantah Ben. Saat ini posisinya adalah orang luar yang sudah tidak ada hubungan lagi dengan pementasan.
“Tumben mulutmu judes kayak ibu-ibu, Ben.”
Andani melirik saudarinya. Namun, Anjani mengatakan dengan enteng bahkan sambil menyuapkan makanan.
“Aku cuma kesal. Aku ketua di sini, tapi aku gak tahu apa-apa. Setiap ada anak yang nanya aku jadi bingung mau jawab apa.”
‘Ternyata Ben memang kesal’, batin Andani.
“Mungkin iya, tapi kenapa kita langsung mengecap Miss Tifa dengan ribuan kesalahan, padahal ada jutaan kebaikan yang pernah dia lakukan demi kita,” kilah Anjani.
Mereka semua terdiam. Baru kali ini Anjani membela seseorang yang bukan orang terdekatnya.
“Contohnya?” ujar Kemal.
“Contohnya?” Anjani membeo lalu ia kembali menyendok makanan. “Contohnya kami berdua,” ia menunjuk dirinya lalu Andani dengan sendok.
“Kalian? Bukannya kalian baikan karena Andani sakit?” sahut Ben.
“Iya, tapi ada campur tangan Miss Tifa di sana,” tukas Anjani. “Coba pikir, apa mungkin aku akan memilih pulang saat kontes kemarin hanya karena Andani sakit? Seandainya Miss Tifa gak repot-repot mengantarkan Andani ke bandara sebelum aku pergi, mungkin sampai sekarang aku gak bakal punya perasaan sama saudaraku sendiri.
“Dan asal kalian tahu, Miss Tifa adalah orang pertama yang memberikan aku dukungan waktu itu kontes itu.”
Andani menghela napas. Syukurlah saudarinya itu mau mewakili.
“Mungkin ini di luar konteks,” tiba-tiba Kemal menyahut. “Tapi aku juga penasaran dengan kalian berdua. Kok bisa akrab secepat itu? Maksudku yaah… kalian mungkin yang lebih tahu berapa lama kalian bertengkar, tapi apa benar hanya karena kejadian itu kalian langsung akrab sepeti ini?”
“Titik puncaknya memang ketika aku sakit,” cicit Andani. Ia melirik saudarinya sembari tersenyum. “Tapi titik baliknya ketika audisi kedua untuk Anjani dan lagi-lagi karena Miss Tifa.”
Anjani hanya tersenyum sinis.
“Akan kuceritakan pada kalian rahasia yang membuat kami langsung akrab seperti ini,” dan Andani pun mulai berkisah.”
ooOoo
Setelah audisi Anjani selesai, Tifa menyempatkan diri untuk datang menjenguk Andani. Ia berbincang sebentar dengan kedua orang tua si kembar lalu orang tua mereka memberika privasi untuk Tifa dengan anak-anak gadisnya.
“Jadi, bagaimana perasaan kalian setelah audisi ini?”
Andani hanya tersenyum geli. Terlalu banyak hal yang ia rasakan sehingga sulit untuk menuliskan di papan kecil itu.
“Tapi kenapa Miss Tifa harus repot-repot seperti ini? Ada banyak orang yang bersedia untuk menggantikan posisi Andani dan belum tentu aku kembali. Anda terlalu mengambil resiko,” ujar Anjani.
Tifa menatap keduanya bergantian. Cukup lama sampai ia tersenyum lebar.
“Dulu saya juga punya saudara perempuan. Seorang kakak. Kakak yang sangat baik hati, cantik, dan berbakat. Dialah yang membuat saya jadi sebesar ini.”
“Apa dia ibunya Adrian?”
Tifa mengangguk, “Dia punya mimpi yang lebih besar dari mimpi saya. Sayang, ada sebuah kejadian yang membuatnya berhenti mengejar mimpi itu. Makanya saya berusaha untuk menggantikan posisinya meski tidak persis tepatnya.”
“Lalu hubungannya dengan kami?” sahut Anjani tak sabar.
Kali ini ia terdiam cukup lama. Hanya terdengar helaan napas berkali-kali. Kemudian matanya tampak berkaca-kaca.
“Dia meninggal bahkan sebelum menuntaskan satu dari sejuta mimpinya.”
Giliran si kembar yang terhenyak. Anjani tak lagi berani menyahut.
“Dia satu-satunya saudara yang paling saya cintai. Dia bisa menjadi sahabat dan orang tua dalam satu waktu. Kehilangannya seperti kehilang separuh hidup. Saya tak berdaya tanpanya karena salah satu mimpi saya adalah meraih mimpi kami bersama-sama.”
Air mata hampir menggenangi pelupuk matanya saat Tifa memandangi Anjani dan Andani.
“Pertama kali saya melihat kalian, saya kecewa. Kenapa ketika kalian diberikan kesempatan untuk melihat saudara sendiri, kalian justru saling membuang muka? Padahal saya bersedia untuk bertukar tempat dengan kalian, jika saya diberikan kesempatan untuk melihat kakak saya lagi.
“Makanya saya pikir lewat kesempatan ini saya ingin memberitahu pada kalian, bahwa waktu yang kalian lalui bersama saudara kalian adalah hal yang paling berharga. Jika waktu itu habis, maka terlalu banyak penyesalan yang harus kalian selesaikan sampai kalian menyusul pergi.”
Anjani melirk saudarinya. Ternyata Andani diam-diam menangis. Tak sadar saudarinya ini menggenggam tangannya erat. Untuk pertama kalinya, Anjani kembali menggenggam tangan saudarinya.
“Yah, saya tak bermaksud membuat kalian terharu dengan cerita ini,” Tifa tertawa garing kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. “Pokoknya kalian harus menyayangi saudara kalian. Tak peduli seluruh dunia itu sahabatmu, tapi tak ada rasa sayang yang lebih besar dari saudara kalian sendiri.”
Tifa tersenyum, “Kalau begitu saya pamit.”
Wanita itu melangkah pergi. Pintu berdebam pelan. Di saat yang bersamaan genggaman tangan mereka semakin erat.
ooOoo
Ben terhenyak. Wenda dan Kemal ikut larut dalam cerita pendek Andani. Kata-kata Anjani tak bisa dibantah ketika cerita itu ditutup.
“Dan bukankah Miss Tifa orang pertama yang memelukmu, Wen,” Anjani memecahkan kesunyian. “Ben dan Kemal sendiri yang bilang.”
“Yah, itu benar,” sahut Wenda sambil berdeham.
“Seharusnya saat ini kita menjenguknya. Bukankah saat ini dia sakit keras?” sahut Ben lalu ia mengacak-acak rambutnya. “Argh, kenapa aku malah berkata yang tidak-tidak? Rasanya aku bodoh sekali.”
“Atau mungkin kita yang harusnya kembali ke gedung teater?” ujar Kemal. “Entah bagaimana akhir dari sakitnya Miss Tifa, tapi meskipun dia pergi dia pasti akan menghantui kita kalau pementasan kita buruk.”
Mereka akhirnya tersenyum.
“Baiklah, besok kita semua pergi latihan!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar