Musikal
166
Untuk pertama kalinya
selama tergabung dalam Love Musical,
Anjani, Ben, Kemal, dan Wenda pergi karaoke. Selama ini mereka menghindari
tempat karaoke karena bisa menghabiskan tenaga serta suara. Namun, karena cuti
latihan yang berkepanjangan, mereka jadi punya banyak waktu luang. Setelah
pertimbangan panjang, sepertinya pergi karaoke sekali tidak akan menyebabkan
pita suara rusak.
Biasanya mereka hanya pergi berempat, tapi kali ini sedikit spesial.
Untuk pertama kalinya pula Anjani mengajak saudaranya hang out bersama. Namun, karena mereka memilih karaoke sebagai
destini pertama, Andani hanya bisa menonton. Ia masih sayang dengan pita
suaranya.
“Uhh, puas juga karaoke tadi. Rasanya kayak habis buka puasa,” ujar
Wenda seraya merengganggkan tubuhnya. Setelah dahaga dan lapar menyerang,
mereka pun memutuskan untuk mengisi perut di salah satu kafe.
“Iya ya, biasanya karaokean menu
wajib,” Kemal menimpali.
Mereka pun melanjutkan makan sambil bercakap-cakap.
“Tapi sebenarnya gimana nasib pementasan ini ya? Masa digantung gitu aja?”
ujar Andani.
“Jangankan kamu, kita yang masih aktif aja gak tahu,” sahut Wenda sambil
menyendok nasi goreng. “Sayang memang, tapi kalau digantung terus aku juga jadi
capek.”
“Memangnya Miss Tifa itu sakit
apa sih?” timpal Ben. “Apa ini cuma gimmick
aja supaya menutupi skandal Adrian kemarin?”
Andani tersentak mendengar kata-kata Ben. Biasanya pendapat Ben yang
paling rasional, tapi kali ini tak seperti Ben. Apakah Ben juga sudah lelah dan
terlalu kesal dengan sikap sutradara mereka yang seolah-olah menutupi semua
masalah. Memang sedari awal mereka hanya terima beres segala urusan. Mereka
hanya tahu latihan, latihan, dan latihan. Tidak tahu bagaimana kejadian di
balik layar. Tifa memang tidak transparan, tapi tak seharusnya mereka
menghakimi seperti itu.
Begitulah yang ada dalam pikiran Andani. Sayang, lidahnya tak seberani
orang-orang untuk membantah Ben. Saat ini posisinya adalah orang luar yang
sudah tidak ada hubungan lagi dengan pementasan.
“Tumben mulutmu judes kayak ibu-ibu, Ben.”
Andani melirik saudarinya. Namun, Anjani mengatakan dengan enteng bahkan
sambil menyuapkan makanan.
“Aku cuma kesal. Aku ketua di sini, tapi aku gak tahu apa-apa. Setiap
ada anak yang nanya aku jadi bingung mau jawab apa.”
‘Ternyata Ben memang
kesal’,
batin Andani.
“Mungkin iya, tapi kenapa kita langsung mengecap Miss Tifa dengan ribuan kesalahan, padahal ada jutaan kebaikan yang
pernah dia lakukan demi kita,” kilah Anjani.
Mereka semua terdiam. Baru kali ini Anjani membela seseorang yang bukan
orang terdekatnya.
“Contohnya?” ujar Kemal.
“Contohnya?” Anjani membeo lalu ia kembali menyendok makanan. “Contohnya
kami berdua,” ia menunjuk dirinya lalu Andani dengan sendok.
“Kalian? Bukannya kalian baikan karena Andani sakit?” sahut Ben.
“Iya, tapi ada campur tangan Miss
Tifa di sana,” tukas Anjani. “Coba pikir, apa mungkin aku akan memilih pulang
saat kontes kemarin hanya karena Andani sakit? Seandainya Miss Tifa gak repot-repot mengantarkan Andani ke bandara sebelum
aku pergi, mungkin sampai sekarang aku gak bakal punya perasaan sama saudaraku
sendiri.
“Dan asal kalian tahu, Miss
Tifa adalah orang pertama yang memberikan aku dukungan waktu itu kontes itu.”
Andani menghela napas. Syukurlah saudarinya itu mau mewakili.
“Mungkin ini di luar konteks,” tiba-tiba Kemal menyahut. “Tapi aku juga
penasaran dengan kalian berdua. Kok bisa akrab secepat itu? Maksudku yaah…
kalian mungkin yang lebih tahu berapa lama kalian bertengkar, tapi apa benar
hanya karena kejadian itu kalian langsung akrab sepeti ini?”
“Titik puncaknya memang ketika aku sakit,” cicit Andani. Ia melirik
saudarinya sembari tersenyum. “Tapi titik baliknya ketika audisi kedua untuk
Anjani dan lagi-lagi karena Miss
Tifa.”
Anjani hanya tersenyum sinis.
“Akan kuceritakan pada kalian rahasia yang membuat kami langsung akrab
seperti ini,” dan Andani pun mulai berkisah.”
ooOoo
Setelah audisi Anjani selesai, Tifa menyempatkan diri untuk datang
menjenguk Andani. Ia berbincang sebentar dengan kedua orang tua si kembar lalu
orang tua mereka memberika privasi untuk Tifa dengan anak-anak gadisnya.
“Jadi, bagaimana perasaan kalian setelah audisi ini?”
Andani hanya tersenyum geli. Terlalu banyak hal yang
ia rasakan sehingga sulit untuk menuliskan di papan kecil itu.
“Tapi kenapa Miss
Tifa harus repot-repot seperti ini? Ada banyak orang yang bersedia untuk
menggantikan posisi Andani dan belum tentu aku kembali. Anda terlalu mengambil
resiko,” ujar Anjani.
Tifa menatap keduanya bergantian. Cukup lama sampai ia
tersenyum lebar.
“Dulu saya juga punya saudara perempuan. Seorang
kakak. Kakak yang sangat baik hati, cantik, dan berbakat. Dialah yang membuat
saya jadi sebesar ini.”
“Apa dia ibunya Adrian?”
Tifa mengangguk, “Dia punya mimpi yang lebih besar
dari mimpi saya. Sayang, ada sebuah kejadian yang membuatnya berhenti mengejar
mimpi itu. Makanya saya berusaha untuk menggantikan posisinya meski tidak
persis tepatnya.”
“Lalu hubungannya dengan kami?” sahut Anjani tak
sabar.
Kali ini ia terdiam cukup lama. Hanya terdengar helaan
napas berkali-kali. Kemudian matanya tampak berkaca-kaca.
“Dia meninggal bahkan sebelum menuntaskan satu dari
sejuta mimpinya.”
Giliran si kembar yang terhenyak. Anjani tak lagi
berani menyahut.
“Dia satu-satunya saudara yang paling saya cintai. Dia
bisa menjadi sahabat dan orang tua dalam satu waktu. Kehilangannya seperti
kehilang separuh hidup. Saya tak berdaya tanpanya karena salah satu mimpi saya
adalah meraih mimpi kami bersama-sama.”
Air mata hampir menggenangi pelupuk matanya saat Tifa
memandangi Anjani dan Andani.
“Pertama kali saya melihat kalian, saya kecewa. Kenapa
ketika kalian diberikan kesempatan untuk melihat saudara sendiri, kalian justru
saling membuang muka? Padahal saya bersedia untuk bertukar tempat dengan
kalian, jika saya diberikan kesempatan untuk melihat kakak saya lagi.
“Makanya saya pikir lewat kesempatan ini saya ingin
memberitahu pada kalian, bahwa waktu yang kalian lalui bersama saudara kalian
adalah hal yang paling berharga. Jika waktu itu habis, maka terlalu banyak
penyesalan yang harus kalian selesaikan sampai kalian menyusul pergi.”
Anjani melirk saudarinya. Ternyata Andani diam-diam
menangis. Tak sadar saudarinya ini menggenggam tangannya erat. Untuk pertama
kalinya, Anjani kembali menggenggam tangan saudarinya.
“Yah, saya tak bermaksud membuat kalian terharu dengan
cerita ini,” Tifa tertawa garing kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
“Pokoknya kalian harus menyayangi saudara kalian. Tak peduli seluruh dunia itu
sahabatmu, tapi tak ada rasa sayang yang lebih besar dari saudara kalian
sendiri.”
Tifa tersenyum, “Kalau begitu saya pamit.”
Wanita itu melangkah pergi. Pintu berdebam pelan. Di
saat yang bersamaan genggaman tangan mereka semakin erat.
ooOoo
Ben terhenyak. Wenda dan Kemal ikut larut dalam cerita pendek Andani.
Kata-kata Anjani tak bisa dibantah ketika cerita itu ditutup.
“Dan bukankah Miss
Tifa orang pertama yang memelukmu, Wen,” Anjani memecahkan kesunyian. “Ben dan
Kemal sendiri yang bilang.”
“Yah, itu benar,” sahut Wenda sambil berdeham.
“Seharusnya saat ini kita menjenguknya. Bukankah saat
ini dia sakit keras?” sahut Ben lalu ia mengacak-acak rambutnya. “Argh, kenapa
aku malah berkata yang tidak-tidak? Rasanya aku bodoh sekali.”
“Atau mungkin kita yang harusnya kembali ke gedung
teater?” ujar Kemal. “Entah bagaimana akhir dari sakitnya Miss Tifa, tapi meskipun dia pergi dia pasti akan menghantui kita
kalau pementasan kita buruk.”
Mereka akhirnya tersenyum.
“Baiklah, besok kita semua pergi latihan!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar