Total Tayangan Halaman

Minggu, 02 Juli 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 162)



Musikal 162

Sang ayah hanya bisa menghela napas saat melihat putri bungsunya sarapan terburu-buru. Entah seperti sudah menjadi ritual kalau di hari besar, putrinya itu akan bangun terlambat. Padahal sudah dibangunkan berkali-kali, tapi entah kenapa si bungsu ini tetap saja kesiangan.
“Harusnya Ibu pasang speaker orgen tunggal saja supaya Tifa gak bangun terlambat,” ujar ayahnya sambil membentangkan Koran.
“Jangan, Yah. Kasian tetangga nanti telinga mereka rusak,” jawab sang ibu dengan nada sarkas.
“Ayah sama Ibu kenapa malah belain tetangga sih,” gerutu Tifa sambil menyesap kopinya. “Aku pergi dulu deh. Nanti terlambat.”
Ibunya berdecak kesal, “Padahal sudah terlambat. Malah seolah-olah kita yang buat dia terlambat. Dasar!”
Untuk hari besarnya kali ini terasa sedikit spesial. Biasanya Tifa akan berlari-lari menuju halte untuk menunggu bus. Namun, kali ini di depan rumahnya sudah menunggu seorang pemuda dengan sepeda motor. Meski raut kesal mewarnai wajah pemuda itu, tetapi ia masih memberikan senyuman manisnya.
“Lama banget sih!” ujarnya sambil melempar helm.
Sorry....” Tifa segera bersiap di jok belakang sambil memasang helm.
Sudah tiga bulan Dave dan Tifa menjalin hubungan. Tifa pernah memperkenalkan Dave kepada ayah dan ibunya. Tanggapan yang mereka terima pun berbeda. Sang ibu terlihat setuju-setuju saja, tapi tidak dengan ayahnya. Reaksi dingin masih dilontarkan ayahnya apabila Dave berkunjung atau sekadar Tifa membicarakannya. Makanya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan diam-diam.
“Hari ini ke rumahku yuk. Orang tuaku lagi datang.”
“Eh, jadi selama ini kamu tinggal sendiri? Siapa yang ngurus kamu?”
“Lho, jadi aku belum pernah cerita ya. Aku di sini cuma tinggal sama pengurus rumah. Orang tuaku di Jakarta atau kadang-kadang pulang ke Inggris.”
Tifa mengangguk-anggukan kepalanya, “Tapi jangan lama-lama ya. Nanti orang tuaku malah ngomel kalau aku pulang telat.”
“Kamu’kan bisa buat alasan kalau kamu mampir ke rumah kakakmu.”
Tifa meninju pelan bahu Dave, “Kayaknya pas pacaran sama kamu jadi kebanyakan bohong deh.”
Dave tertawa. Kemudian ia mengarahkan sepeda motornya ke halaman parkir. Keduanya lalu menuju papan pengumuman untuk melihat daftar kelas. Hari ini adalah hari pertama mereka duduk di kelas XII. Kelas mereka diacak dan sebelum masuk ke kelas baru, semua siswa harus melihat nama mereka diletakkan di kelas yang mana.
“Tiiif… kita sekelas lagi!” seru Gloria saat mereka bertemu di dekat gerombolan murid yang sedang mengecek nama.
“Hah, serius? Waah, asyik!”
Gloria mengangguk, “Hana juga sekelas dengan kita lagi.”
Tifa semakin melonjak kesenangan. Ia dan Gloria loncat-loncat kegirangan.
“Yaah, enak banget kalian semua sekelas. Terus nasibku gimana dong?” sela Dave dengan nada kecewa.
“Kamu juga sekelas dengan kita,” sahut Hana yang tiba-tiba muncul. “Tadi aku juga barusan mengecek dan ternyata benar.”
“Weeiiisss, mantaaap,” ia langsung mengalungkan tangan di bahu Tifa. “Bisa pacaran lebih lama.”
“Huuu, dasaaar!” seru Gloria dan Hana berbarengan.
Tifa tertawa, “Kita ke kelas aja yuk.”
Mereka pun berbalik arah menuju kelas baru. Pagi itu entah kenapa Tifa merasa begitu bersemangat. Ia menceritakan bagaimana rencana-rencana yang akan ia buat untuk klub nanti. Ia bercerita dengan berjalan mundur sampai ia tak sadar kalau ada gadis sedang berdiri di belakangnya.
Tifa dan gadis itu sama-sama kehilangan keseimbangan. Untungnya Hana segera menarik Tifa, sedangkan Dave berhasil menangkap gadis itu sebelum terjatuh.
“Ya ampun, Tif. Hati-hati kenapa?” ujar Hana.
“Ah, iya. Maaf, maaf,” Tifa nyengir kuda. “Eh, kamu gak apa-apa’kan?”
Gadis itu hanya mengangguk pelan lalu ia tersenyum pada Dave, “Makasih, Dave.”
Dave balas mengangguk. Gadis itu pun segera meninggalkan keempat sahabat ini.
“Kamu kenal dia, Dave?” tanya Tifa.
“Teman sekelasku. Riani kalau gak salah namanya.”
Glora tersentak, “Riani? Riani Yulisa?”
“Kamu kenal dia juga, Glo?” Tifa bertanya lagi.
“Tahu namanya aja. Kalau gak salah dia itu penari hebat deh. Semester lalu dia menang lomba tari tingkat provinsi. Aku dengar itu dari teman-teman, tapi aku baru lihat dia barusan.”
“Oh, iya. Dia memang berbakat,” sahut Dave. “Cantik lagi.”
Tifa hanya mengangguk setuju. Namun, Dave justru tersenyum jahil.
“Kenapa? Cemburu ya?”
Kening Tifa berkerut, “Apaan sih?”
“Udaaah, kalau cemburu bilang aja,” Dave kembali mengalungkan tangannya di bahu Tifa, tapi tiba-tiba saja Hana menerobos keintiman kedua orang itu.
“Bisa kalian berhenti saling menggoda. Menyebalkan sekali!”
Mereka hanya bisa bengong melihat Hana yang terlihat jutek saat memasuki kelas.
“Kayaknya Hana lebih cemburu daripada aku,” ujar Tifa.
Ketiganya pun tertawa.
ooOoo
Namun, tawa itu tak berlangsung lama. Sesampainya di kelas Gloria dan Dave adu mulut untuk duduk di sebelah Tifa. Padahal baru hari pertama mereka jadi senior, tetapi sudah menarik perhatian orang.
“Pokoknya kali ini aku yang duduk di sebelah Tifa. Aku udah janji sama Hana kalau nanti kami sekelas lagi, aku yang duduk sama Tifa.”
“Enak aja, pacarnya Tifa’kan aku. Jadi, aku yang berhak duduk di sebelah dia.”
“Eh, dalam lingkungan sekolah gak boleh mesra-mesraan!”
“Bodo amat! Minggir!”
“Berisik banget sih!” lerai Hana. “Emangnya Tifa siapa sih bisa jadi rebutan semua orang? Bikin malu aja.”
“Lho kok bawa-bawa aku, Han? Aku’kan korban,” protes Tifa. Namun, ia segera mengatupkan bibirnya saat lirikan tajam Hana menusuknya.
“Lagian Gloria benar, Dave. Kalau jumlah kita ganjil, mungkin kamu bisa duduk sama Tifa. Masalahnya perbandingan laki-laki dan perempuan di kelas kita jumlahnya pas. Jadi, kamu gak punya alasan atau kamu bisa dicurigai sama guru. Sekarang kamu harus ngalah, Dave.”
Gloria meleletkan lidah sebagai bukti kemenanganya atas Dave. Pemuda itu merasa tak terima, tapi keputusan Hana seolah mutlak. Entah kenapa jika Hana yang menyatakan sesuatu maka hal itu tak akan terbantahkan. Hana memang jarang bicara dan selalu menggunakan logika saat ia mengatakan sesuatu. Oleh karena itu, sulit untuk membantah kata-katanya.
Dave pun berlalu dengan kerutan di wajahnya. Ketegangan itu pun akhirnya usai. Namun, baru saja Hana ingin menenggelamkan diri dalam novelnya ada suara yang kembali mengusik. Kali ini suara perempuan.
“Permisi, apa bangku di sini kosong?”
Wajah yang tak asing. Ingatan Hana tentu saja lebih kuat dari gajah. Ia ingat kalau gadis ini adalah orang yang mereka temui sebelum masuk kelas.
“Eh, kamu yang tadi’kan?” Tifa tiba-tiba memutar tubuhnya ke belakang. “Han, dia boleh duduk di sini’kan?”
“Tentu. Bangku ini’kan bukan punya ayahku.”
Tifa terkikik, “Duduk aja. Hana memang mulutnya kayak rawit,” ia kembali terkekeh saat mata Hana melotot padanya.
“Makasih,” jawab gadis itu seraya duduk.
“Tifa,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.
“Gloria,” sahut Gloria cepat.
Hana adalah orang terakhir mengulurkan tangan setelah ia mendesah panjang, “Hana.”
“Riani,” jawabnya sambil menyalami satu-persatu teman barunya.
“Oh ya, tadi kata Dave kalian ini satu kelas ya?” ujar Tifa.
Riani mengangguk.
“Dekat?”
Kali ini ia menggeleng, “Aku jarang masuk. Soalnya kemarin aku fokus ikut lomba.”
Tifa ber-oh dengan kepala terangguk-angguk. Sambil tersenyum ia kembali membalikkan badannya. Hana hanya melirik seraya kembali mendesah panjang. Ia memilih meneruskan bacaannya ketimbang mengobrol dengan teman barunya.
ooOoo
Tifa sedikit gugup saat Dave memarkir motor di halaman rumah. Baru kali ini ia bertandang ke rumah Dave. Biasanya mereka selalu bertemu di rumah kakaknya saja. Selain itu, ia juga akan bertemu dengan orang tua Dave. Entah bagaimana respon mereka. Apakah sama dingin dengan ayahnya. Kalau memang demikian, berarti siap-siap saja hubungan mereka akan segera berakhir.
“Hai, Dave!”
Mereka tersentak saat seorang wanita menyapa. Dave tersenyum lalu mengajak Tifa untuk menghampiri wanita itu.
“Hai, Mom!” balas Dave seraya menepuk lembut bahu Tifa. “Nah, ini Tifa yang sering aku ceritakan itu.”
Wanita itu menatapnya dengan senyuman yang sulit diartikan Tifa. Manis, tapi penuh selidik. Tifa pun buru-buru menyalami wanita itu.
“Siang, Tante. Saya Tifa.”
Senyuman itu berubah lebih cerah. Ia balas menepuk bahu Tifa.
“Anak yang sopan. Sudah lama Tante gak menemukan adat Indonesia saat bertemu anak muda zaman sekarang, bahkan Dave pun tidak.”
Tifa menatap Dave dan ibunya bergantian. Ia terlihat bingung.
“Salahnya kenapa kelamaan tinggal di Inggris. Di sana mana adat cium tangan,” balas Dave sambil tertawa.
Wanita itu balas tertawa, “Ayo masuk!”
Mata Tifa menangkap potret keluarga Dave yang terpajang pada dinding ruang tamu. Tifa tak menyangka kalau ayahnya Dave benar-benar keturunan kaukasid. Jantungnya semakin berdebar setelah mengetahui fakta tersebut.
“Dave, aku cuma bisa bahasa Inggris pasif,” bisiknya.
Dave terkikik geli, “Dari dulu gak bisa terus. Makanya belajar dong.”
“Aku bisa, tapi gak lancar,” gerutu Tifa. “Terus aku harus ngomong apa dong sama ayahmu?”
“Tenang aja. Bahasa Indonesia ayahku lebih fasih daripada bahasa Inggris-mu.”
“Se—serius?”
Dave hanya tersenyum geli. Akhirnya Tifa dan ayahnya Dave bertemu. Ternyata wajah ayahnya Dave persis sekali dengan yang di foto. Jantung Tifa berdebar semakin keras. Otaknya berpikir cepat; menyusun grammar yang akan ia ucapkan pada orang ini.
He—hello, go—good afternoon, Sir!”
“Oh, hai!” balas ayahnya Dave seraya tertawa. “Santai saja. Gunakan bahasa yang kamu pakai sehari-hari. Asal jangan bahasa daerah saja.”
Tifa hanya bisa nyengir kuda. Sementara Dave sekuat tenaga menahan tawanya.
“Jadi, kamu ini yang namanya Tifa, gadis yang buat Dave mabuk kepayang?”
Daddy, stop it!” seru Dave. Pipinya bersemu merah. Ia melirik Tifa takut-takut, tapi gadis itu hanya bisa melongo. Sepertinya ia tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh ayahnya.
Sementara itu tawa ayahnya Dave semakin menjadi, “Kamu kenapa jadi malu, Dave?”
Dave membuang mukanya. Untung ibunya segera datang dan melerai semuanya.
“Sudahlah, kamu membuat anak-anak ini semakin salah tingkah,” ibu melirik Tifa. “Tif, kamu mau makan malam di sini?”
Tifa menggaruk tengkuknya, “Aku sih mau aja, Tante, tapi aku belum izin sama orang tuaku. Nanti mereka malah cemas kalau aku pulang telat.”
Ada sebersit wajah kecewa di wajah ibunya Dave, tapi ia buru-buru mengaburkannya. Ia bertukar pandang dengan suaminya. Sang suami mengangguk maklum.
“Baiklah, tapi sebenarnya kami ingin sekali mengundangmu makan malam. Kami hanya ingin mengobrol lebih lama denganmu,” ujar ibu.
“Ah, maaf, tapi saya tidak bisa kalau sekarang.”
“Begini saja, bagaimana kalau Sabtu ini kami mengundangmu berserta orang tuamu untuk makan malam di sini?” ujar ayah.
Tifa berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban. Ia menatap Dave dan laki-laki itu hanya memberikan kedipan jahil.
“Hmm, akan saya tanya dulu, tapi terima kasih atas tawarannya.”
“Ngomong-ngomong, Dave. Sepertinya kamu harus meyakinkan orang tua Tifa supaya mereka mau datang ke sini. Kamu ingatkan kalau Ibu tidak terima penolakan.”
Senyum manis ibunya membuat Dave kesulitan menelan ludah. Ibunya yang tidak menerima penolakan dan ayahnya Tifa yang penuh penolakan. Tugas ini adalah tugas tersulit yang pernah ia temui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar