Total Tayangan Halaman

Minggu, 09 Juli 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 164)




Musikal 164

Riani baru saja sampai di sekolah. Ia mendapati Gloria yang datang lebih awal dengan wajah yang mengerut. Mungkin wanita itu sedang menyimpan masalah besar.
“Pagi, Glo!”
“Oh, hai, Ri,” ia tersentak seraya mengubah posisi duduknya. “Pagi juga.”
“Ada apa? Pagi-pagi sudah merengut seperti itu.”
Gloria mendesah berat, “Aku sedang memikirkan tentang pementasan. Kemarin beberapa anak menanyakan padaku mengenaik kelanjutan pementasan kita. Aku jadi bingung harus menjawab bagaimana.”
Sebenarnya Gloria tidak sendiri. Riani juga merasakan apa yang dirasakan Gloria. Sejujurnya ia juga mempertanyakan hal ini. Entah bagaimana kelanjutan pementasan yang sudah setengah jalan ini.
“Bagaimana kalau kita rapatkan juga bersama Hana dan Dave atau teman-teman kita yang terlibat lainnya? Kupikir kita harus segera menemukan solusinya,” ujar Riani.
“Ya, itu ide yang bagus,” Gloria menopang dagunya dengan sebelah tangan. “Tapi rasanya sayang kalau pementasan ini sampai dibatalkan. Sudah banyak hal yang dikorbankan. Harapanku juga sangat tinggi pada acara ini.”
Riani mengangguk setuju.
“Tapi akhir-akhir ini Hana juga sering gak ada di tempat. Kalau aku tanya sama wakil-wakilnya, mereka bilang dia ada pertemuan di luar. Aku telepon dia, tapi gak pernah diangkat. Aku frustasi deh.”
“Meski dari awal Hana kurang setuju dengan pementasan ini, tapi Hana gak mungkin cuci tangan gitu aja,” sahut Riani. “Apa menurutmu Hana sedang merencakan sesuatu?”
Gloria mengangkat bahu, “Aku malah lebih  mengharapkan rencanamu.”
ooOoo
“Rin, pulang bareng, yuk!” ajak Andani.
Ririn tersenyum kecil, “Sorry, An. Aku ada urusan. Jadi, belum bisa langsung pulang.”
“Ohh, gitu,” Andani mengangguk. “Oke, deh. Nanti malam aku chat.”
Ririn mengangguk seraya melambaikan tangan pada Andani. Ketika ia hendak bangkit dari tempat duduk, Alexi segera menghampiri.
“Mau ke mana?” matanya mengarah pada tas besar yang akan dijinjing Ririn. “Mau kabur dari rumah?”
Ririn kaget mengetahui mata Alexi yang cekatan melihat barang bawaannya atau bisa juga Alexi sudah memperhatikannya dari pagi tadi.
“Oh, aku mau ke rumah sakit. Tadi malam Om Dave berpesan minta dibawakan baju ganti.”
Alexi mengangguk kecil, “Boleh aku ikut? Sepertinya itu berat.”
“Tidak terlalu sih,” Ririn tersenyum lagi. “Tapi kamu boleh ikut.”
ooOoo
“Sebenarnya ini pertama kali aku menjenguk Miss Tifa,” ujar Ririn ketika mereka berdua melintasi koridor rumah sakit.
“Oh, kupikir kamu sudah pernah,” ada nada terkejut dalam kalimat Alexi.
Ririn menggeleng. Namun, ketika ia baru akan melanjutkan kalimatnya, mereka berdua berpapasan dengan Adrian.
“Rin, kamu datang?” mata Adrian langsung berbinar ketika bertatapan dengan si gadis ikal, tapi ia langsung segera menyadari kalau gadis itu tak datang sendiri. “Kamu juga datang, Al?”
“Ah, iya. Aku datang menjenguk, tapi tujuan utamaku ke sini untuk mengantarkan baju Om-ku,” sahut Ririn. “Kamu lagi mau pergi?”
“Cuma mau ambil jaket di mobil, tapi itu bisa nanti saja. Ayo, aku antar kalian!”
Ririn dan Alexi mengikuti langkah Adrian meninggalkan lobi. Sebelum naik lift, Alexi sempat memperhatikan sebuah piano yang diletakkan di tengah-tengah lobi rumah sakit. Ia sedikit bingung dengan keberadaan piano itu. Apakah akan dimainkan untuk menghibur pengunjung rumah sakit atau hanya sebagai pajangan?
Pikiran itu lenyap saat lift berdenting dan mereka sudah sampai di lantai tempat Tifa dirawat. Ternyata Dave sedang menelepon di luar kamar. Begitu melihat kedatangan mereka, buru-buru Dave mengakhiri pembicaraanya.
“Wah, terima kasih, Rin. Jadi merepotkanmu,” ujar Dave lalu ia melirik Alexi. “Terima kasih ya sudah mau menemani keponakanku.”
Alexi mengangguk dengan senyum tipis.
“Gak apa, Om. Lagi pula kami juga belum pernah jenguk Miss Tifa,” sahut Ririn.
“Apa ada perkembangan?” tanya Alexi.
Dave menggeleng pelan, “Belum. Sepertinya dia masih pulas bermimpi.”
Suasana terasa hening setelah Dave mengatakan hal itu.
“Eh, kalian tadi bilang mau jenguk’kan?” Adrian memecahkan kesunyian. “Silakan masuk.”
Ririn dan Alexi menapaki ruang tempat Tifa terbaring. Suasana terasa sangat-sangat sunyi. Hanya alunan bedside monitor yang memenuhi ruangan itu. Kemudian mereka melihat secara langsung kondisi Tifa saat ini.
Untuk pertama kalinya, Ririn melihat seseorang yang biasanya tampil energik berubah menjadi sosok yang tidak berdaya. Satu saja perangkat rumah sakit itu dilepas, mungkin ia harus tidur selamanya. Padahal terakhir kali Ririn melihatnya, sosok Tifa masih baik-baik saja. Namun, hanya dalam hitungan hari tubuh wanita itu berubah kurus kering, bahkan rambutnya menipis. Hati siapa yang tidak terenyuh melihat Tifa saat ini.
Ririn melirik Alexi. Pemuda itu menundukkan kepalanya dengan mata terpejam. Sepertinya si kacamata ini sedang khusuk berdoa. Ririn pun segera memanjatkan doa. Keduanya tak bisa terlalu lama di dalam, maka mereka pun segera menemui Adrian dan Dave di luar.
Baru saja Ririn menutup pintu terdengar suara petir yang cukup keras. Diiringi dengan tumpahan air hujan yang deras. Sepertinya mustahil untuk pulang saat ini.
“Wah, hujannya langsung deras,” komentar Ririn. “Kira-kira bakalan lama gak ya?”
Alexi menatap Ririn, “Kayaknya kita harus tunggu dulu.”
Ririn mengangguk.
“Aku bawa mobil,” tiba-tiba saja Adrian menepuk dahinya. “Oh iya, hujan deras. Kalau ke parkiran sekarang, basah kuyup juga.”
“Sudahlah, tunggu saja dulu,” ujar Dave. “Kalau kalian lapar, ada kantin di dalam rumah sakit.”
“Iya, Om. Kita tunggu saja dulu.”
“Eh, kita keliling rumah sakit saja yuk. Biar kalian tidak bosan,” ujar Adrian.
Alexi dan Ririn menyetujui rencana tersebut. Meskipun terdengar konyol, tapi ide itu lebih baik ketimbang menghabiskan baterai smartphone sampai hujan berhenti. Selain itu, rumah sakit ini juga baru direnovasi sehingga mengundang perhatian pengunjung untuk menilik lebih jauh.
Suasana semakin sepi. Mungkin karena hari semakin sore atau karena derasnya hujan sehingga membuat aktivitas rumah sakit semakin sedikit. Mereka pun bebas melenggang ke sana ke mari.
“Boleh aku tanya sesuatu?” ujar Alexi. “Di lantai dasar tadi aku melihat ada piano. Apa piano itu boleh dipakai atau hanya sebagai hiasan?”
Kening Adrian berkerut memikirkan jawabannya, “Entahlah, tapi selama aku menginap di sini aku tidak pernah mendengar atau melihat seseorang memainkan piano itu.”
“Mungkin dipakai untuk acara khusus. Seperti ulang tahun rumah sakit atau apalah,” Ririn ikut berkomentar. “Rasanya terlalu mahal menggunakan piano sebagai pajangan.”
“Bisa jadi,” Adrian menunggingkan senyum ramahnya. “Bagaimana kalau kita lihat piano itu?”
Keduanya kembali menyetujui rencana Adrian. Tepat sebelum lift yang mereka tunggu datang Alexi kembali bertanya.
“Boleh aku tahu bagaimana sebenarnya kondisi sutradara kita?”
Refleks Adrian mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Napasnya terdengar berat. Ririn merasakan ketegangan itu. Namun, ia hanya berani melirik Adrian yang berdiri di tengah.
“Bukannya tadi kamu sudah lihat sendiri?”
“Aku hanya melihat, tapi aku ingin tahu bagaimana penjelasan yang sebenarnya.”
Pintu lift terbuka. Sayangnya lift tersebut sudah terisi beberapa orang sehingga tak memungkinkan Adrian untuk memberikan penjelasan. Namun, ia tetap bungkam meski mereka sudah berada di depan piano yang dituju.
“Jangan salah sangka. Aku hanya ingin membantu,” ujar Alexi. “Kamu tahu, anak-anak sudah mulai meragukan Tantemu. Mereka semua bertanya-tanya mengenai kelanjutan pementasan kita.”
Helaan napas Adrian lebih berat dari sebelumnya, “Andai aku juga punya jawabannya.”
Kali ini Ririn memberanikan diri untuk menatap langsung wajah Adrian. Terlihat air muka pemuda itu berubah sendu.
“Dokter juga tidak bisa memastikan kapan Tanteku bisa sadar.”
Hening. Ririn hanya bisa menatap kedua pemuda itu bergantian. Jika ekspresi Adrian terlihat sedih, jsutru berbeda dengan pancaran wajah Alexi. Ia tak menampilkan ekspresi apa-apa. Matanya hanya menatap datar pada piano yang ada di depannya.
“Aku turut sedih mengenai Tantemu,” Alexi memecah keheningan.
“Terima kasih. Ah, aku harusnya bertanggung jawab pada pementasan ini. Maaf, aku terlalu sibuk mengurusi dia sampai-sampai pementasan kita jadi terbengkalai. Mulai besok aku akan mengurus semuanya.”
Adrian mendesah pendek, “A—aku beli minuman dulu.”
Pemuda itu berbalik dan dengan cepat meninggalkan kedua orang itu. Ririn menatap kepergian Adrian bingung lalu ia menoleh pada Alexi.
“A—Alexi—“
“Susul dia, Rin!”
Ririn tersentak. Alexi menoleh padanya seraya tersenyum lembut.
“Susul dia. Saat ini dia lebih membutuhkanmu.”
Ririn masih ragu. Namun, akhirnya ia memutar langkahnya dan mengejar Adrian. Seperti ada gravitasi yang kuat, semakin lama langkah Ririn semakin cepat menyusul pemuda itu.
Alexi langsung memalingkan wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kuat sampai kepalanya tertunduk. Baru saja dadanya terasa sempit sehingga ia harus mengambil oksigen sebanyak mungkin.
‘Apa yang sedang kau pikirkan, bodoh!’
Alexi mengedarkan pandangannya ke semua penjuru lobi. Tidak terlalu banyak orang. Hanya para customer service, beberapa orang perawat, dan petugas kebersihan. Ia mengangguk sendiri. Mungkin tidak masalah kalau ia membuat sedikit gangguan di sini.
Ia membuka tali pembatas piano itu. Dengan santainya ia duduk di balik piano tersebut. Membuka penutupnya dan menyentuh lembut tuts-tuts hitam putih. Perhatian orang-orang mulai tertuju padanya kemudian nada pertama pun dimainkan.
ooOoo
Ririn mendapati Adrian sedang menyandarkan keningnya pada kaca jendela. Ia gunakan tangannya sebagai pembatas agar embun jendela tak langsung menyentuh kulit dan juga agar orang-orang tak tahu kalau dia sedang menangis.
“Adrian…” panggil Ririn hati-hati. Buru-buru Adrian membalikkan badannya dan dilihat dari gerakannya ia seperti sedang menghapus air matanya. Ririn berdeham untuk menghilangkan gugup, “Hei, a—aku minta maaf jika Alexi tadi keterlaluan. Dia tidak tahu kalau itu akan menyinggung perasaanmu. Aku harap kamu tidak terlalu mengambil hati karena kejadian tadi.”
Adrian menggeleng, “Tidak. Aku tak menyalahkannya. Aku sedih karena aku memikirkan Tanteku….
“Aku sangat takut kehilangannya….”
Meski Ririn tak bisa melihat langsung bagaimana ekspresi Adrian saat ini, tapi merasa kalau Adrian mencoba tegar saat berhadapan dengannya. Namun, suaranya yang bergetar membuat Ririn bisa membayangkan sendiri bagaimana sedihnya Adrian saat ini.
“Aku hanya punya dia saat ini. Yah, memang saat ini aku masih punya seorang nenek, tapi bagiku dia sudah seperti ibuku sendiri. Aku pernah kehilangan ibu satu kali dan aku tak mau kehilangan ibuku lagi.”
Kalimat terakhir Adrian berhasil menyentuh perasaan Ririn. Air matanya mengalir bahkan tanpa ia sadari. Tak ada yang tahu sampai Adrian mendengar isaknya. Spontan pemuda itu berbalik dan mendapati Ririn yang sudah berurai air mata. Seketika ia panik.
“Rin, kamu ke—kenapa?”
Ririn menggeleng dengan kepala tertunduk. Suaranya mendadak serak.
“A—aku tidak tahu, ta—tapi tiba-tiba saja aku teringat semua kejadian yang pernah kamu lalui. Di situlah aku mulai sedih. Aku hanya tidak menyangka kalau kamu sudah mengalami hidup yang begitu berat. A—aku….”
Ririn tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia terlalu larut dalam tangisnya. Adrian hanya bisa tersenyum lembut seraya menghapus air mata gadis itu.
“Maaf, sudah membuatmu sedih. Aku baik-baik saja.”
“Bagaimana mungkin kamu bilang kamu baik-baik saja setelah barusan aku lihat kamu menangis seperti tadi? Kamu memang pandai berakting. Wajar kalau kamu dapat peran utama tanpa audisi.”
Adrian tak bisa tidak tertawa. Kenapa gadis ini jadi menggemaskan. Gadis itu marah, menangis, tapi kata-kata yang keluar dalam bentuk satire. Namun, Adrian berusaha agar tawanya tidak terlalu lebar. Ia takut kalau gadis ini akan semakin melankolis. Ia menundukkan bahunya agar sepantar dengan gadis itu dan memegang kedua bahu si gadis.
“Sudah, sudah, tidak usah menangis lagi. Aku mungkin tidak baik-baik saja, tapi aku tidak mau membuat orang bersedih karena masalahku,” Adrian mencoba menemukan arah bola mata gadis itu. Ketika mata mereka saling bertemu, Adrian kembali tersenyum, “Terima kasih karena sudah menangis menggantikanku.”
Ririn mengangguk kaku. Detik berikutnya ia tersadar dalam pelukan Adrian. Pelukan pemuda itu terasa erat dan hangat. Meski awalnya ragu-ragu, tapi akhirnya Ririn membalas pelukan itu.
“Kamu orang paling baik yang pernah aku temui. Sungguh orang yang merugi saja yang melewatkanmu.”
Ririn meninju kecil tulang rusuk pemuda itu, “Ya, dan kamu salah satunya.”
Kali ini Adrian benar-benar tertawa. Air mata Ririn sudah mongering, tapi tak seorang pun dari mereka yang melepaskan pelukan itu sampai Adrian menyadari sesuatu.
“Apa ini benar atau perasaanku saja? Itu suara piano’kan?”
Ririn tersentak dan langsung melepaskan pelukannya. Astaga…
“ALEXI!” seru keduanya bersamaan.
Adrian menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ya, ya, pasti dia. Pantas saja dia tanya-tanya soal piano. Jangan-jangan dia memang gatal mau main piano.”
Ririn tak begitu yakin dengan pernyataan Adrian barusan. Namun melodi yang dimainkan pemuda itu begitu larut dalam kesedihan dan penyesalan. Adrian menyadari perubahan di wajah Ririn. Gadis itu tampak gelisah dan pikirannya terganggu akibat alunan piano tersebut.
“Pergilah. Kamu pasti mau melihatnya berbuat onar’kan?”
“Hei!” bibir Ririn mengerucut tak suka.
Tawa Adrian kembali pecah, “Benar’kan? Sekarang waktunya kamu pergi atau keburu satpam yang menyudahi semua ini.”
Masih ada keraguan di mata Ririn dan Adrian perlu meyakinkannya sekali lagi.
“Aku baik-baik saja. Saat ini dia mungkin ingin kamu mendatanginya.”
Sekali lagi Ririn memutar balik kakinya. Masuk ke dalam medan magnet yang berseberangan. Entah sampai kapan hatinya bermain ping-pong seperti ini.
Semakin jauh langkah gadis itu, senyum Adrian pun mulai memudar. Adrian memalingkan wajahnya dan memilih menatap jendela tempat ia bersandar tadi. Hujan telah berhenti dan menyisakan ribuan titik air pada lapisan luar kaca.
Pikiran Adrian langsung kembali pada percakapan mereka barusan. Ada kata-kata yang justru menjadi bumerang dan menancap di hatinya sehingga hatinya menjadi perih.
“Orang yang merugi ya, huh.”
Adrian tersenyum sendiri. Sebuah senyuman yang terasa getir.
“Apa bisa aku kembali menjadi orang yang beruntung seperti waktu itu?”
ooOoo
Napas Ririn terengah-engah saat ia sampai di tempat Alexi. Sepertinya hari ini dia terlalu banyak berlari dan itu membuat ulu hatinya sakit. Ternyata ketika ia sampai orang-orang sudah mengelilingi Alexi. Ririn berusaha menyelip di antara kerumunan itu agar bisa berdiri di posisi paling depan.
Baru kali ini Ririn begitu terpesona melihat Alexi bermain piano. Padahal ratusan kali ia melihatnya baik ketika latihan atau ketika mereka sedang berdua saja. Namun ia tak bisa memalingkan perhatiannya sedetik pun saat ini. Alexi benar-benar memesona dengan piano rumah sakit itu.
Dentingan terakhirnya disambut dengan tepuk tangan oleh seluruh pengujung dan staf rumah sakit. Mereka meminta Alexi memainkannya sekali lagi, tapi Alexi menolak halus. Ia tak mau kalau permainan keduanya harus diakhiri oleh penangkapan satpam.
Ririn berdeham saat Alexi menghampirinya. Ia harus terlihat normal dan jangan sampai Alexi tahu kalau ia termangu menyaksikan penampilan pemuda itu.
“Itu tadi… Desember’kan?”
Alexi mengangguk.
“Hmm, rasanya sedikit berbeda dari yang terakhir aku dengar. Rasanya kali ini agak… hmm… agak sedih ya.”
“Masa sih?” Alexi tersenyum. “Ah, bagaimana Adrian?”
“Eh, uh, di—dia baik-baik saja,” Ririn tak menduga kalau Alexi langsung membelokkan pembicaraan.
“Hujan sudah berhenti. Mau pulang sekarang?”
Ririn mengangguk cepat, “Bi—biar aku telepon saja Oom-ku. Kalau mau balik ke atas dulu nanti terlalu lama.”
Alexi kembali mengangguk dan membiarkan Ririn sedikit menjauh saat menelepon Om-nya. Ketika Ririn tengah dalam pembicaraan, Alexi menangkap jelas sosok Adrian yang baru saja tiba. Pemuda itu tidak menyapa, mendekat pun tidak. Ia hanya berdiri di kejauhan, tapi Alexi yakin kalau tatapan matanya tertuju padanya.
Hawa panas mulai terasa saat kedua orang ini saling beradu pandang. Adrian dengan aura pangerannya, sedangkan Alexi dengan tatapan dingin. Tak ada yang mengutarakan isi hati masing-masing, tapi masing-masing tahu apa isi hati mereka.
“Eh, aku udah pamit sama Om-ku. Yuk, kita pulang!”
Hanya suara Ririn yang mampu meredakan pertarungan tersembunyi tersebut. Untungnya dia tak tahu kalau dia baru saja melewatkan pertarungan panas tersebut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar