Musikal
3
Di
sinilah Anjani berada. Di sebuah panggung kecil yang ada di sebuah kafe. Suara
indahnya sedang melantunkan lagu-lagu pop yang sedang hangat saat ini. Ia
bersama bandnya memang diperkejakan sebagai penghibur di kafe tersebut.
Meski
sebagai saudara kembar wajah mereka tidak terlalu mirip, tapi Anjani dan Andani
sama-sama memiliki suara emas. Berbeda dengan Andani yang rajin ke tempat les
vokal, Anjani memilih untuk melatih suaranya dari kafe ke kafe. Ia dulu memang
pernah mengikuti les vokal, tapi hanya sebentar, karena baginya pengalaman
lebih penting ketimbang belajar.
Anjani
dan bandnya mendapatkan sambutan hangat atas penampilannya barusan. Mereka pun
turun dari panggung dan beristirahat sejenak. Seorang pelayan cantik segera
menghampiri mereka dan memberikan minuman.
“
Keren seperti biasanya,” puji pelayan itu.
Anjani
tersenyum, “ Terima kasih, Wen. Kamu juga cantik hari ini.”
Wenda
tertawa. Anjani dan Wenda bersahabat sejak mereka masuk SMA. Wenda lebih dulu
bekerja sebagai pelayan di kafe ini. Setelah tahu kalau temannya ini memiliki
kualitas suara yang bagus, ia menawarkan pekerjaan sebagai vokalis dari band
yang sering manggung di kafe tersebut. Anjani menyetujuinya, dan jadilah mereka
bekerja sama sekarang.
Kedua
sahabat itu sedang asyik bercakap-cakap, tiba-tiba keasyikan mereka dirusak
oleh dua orang pelayan laki-laki yang menyeruak di antara mereka. Mereka juga
teman satu sekolah Anjani dan Wenda. Laki-laki yang bertubuh jangkung bernama Ben,
sedangkan lelaki dengan lengsung pipi di wajahnya bernama Kemal.
“
Waah, pembicaraan gadis-gadis. Kita boleh ikutan gak?” sapa Ben.
“
Apa kamu mau jadi gadis, Ben?” sindir Wenda. Seketika tawa Ben dan Kemal pun
pecah.
Mereka
berempat pun akhirnya larut dalam perbincangan mereka. Hingga seorang bartender
menyodorkan mocktail di hadapan
mereka.
“
Hei, antarkan ini pada artis di sana.”
“
Artis? Artis mana?” tanya Kemal.
“
Satu-satunya artis di sini, adalah Anjani dan bandnya,” Ben menepuk pundak
Anjani sambil tertawa. “ Lagi pula mereka sudah dapat minumannya.”
“
Bukan, tapi gadis yang di sana,” sang bartender menunjuk seorang gadis yang
mengenakan kaus merah muda.
Wenda
mengikuti arah telunjuk bartender itu, seketika ia terperanjat, “ Astaga,
itu’kan Fi! Bagaimana dia bisa ada di sini?”
Baik
Anjani, Kemal, atau pun Ben mereka semua menatap heran pada Wenda. Mereka
bertanya-tanya mengenai Fi gadis yang diberi titel “artis” itu.
“
Fi? Artis mana tuh? Aku gak pernah dengar,” sahut Ben. Sementara itu Kemal dan
Anjani mengangguk tanda setuju dengan kata-kata Ben.
Wenda
mengangkat bahu, “ Artis baru sih, sinetronnya lagi naik daun. Sayangnya dia
lengket banget sama sensasi, dan sering masuk acara infotaiment. Bukan karena
sinetronnya, tapi sensansi yang dia buat. Entah lagi digosipkan dengan artis
lain, bertengkar dengan artis lain, atau sedang memamerkan barang-barang branded miliknya.”
“
Kamu tahu banyak yah?” ujar Kemal.
“
Well, aku sempat nonton sinetronnya.
Bagus sih untuk 10 episode awal, tapi makin lama ceritanya makin ngawur.
Ditambah lagi si Fi itu suka buat sensasi,” jawab Wenda. “ Eh, kalian pernah
nonton sinetron Matahariku gak?”
“
Aku gak hobi sinteron,” jawab Ben. “ Dan bukan pengamat gosip.”
“
Aku juga,” sahut Anjani dan Kemal hampir bersamaan.
Wenda
mencibir mereka, tapi pertengkaran kecil itu segera dilerai oleh sang
bartender.
“
Sudah, sudah, kalian jangan bertengkar. Sekarang antarkan minuman ini pada
gadis itu, sebelum dia buat sensasi di sini.”
“
Kemal, atau Ben saja. Aku malas,” ujar Wenda dengan nada merajuk.
“
Hei, hei, ada yang ngambek nih,” goda Ben sambil melirik Kemal yang juga
cekikikan. Namun, dengan baik hati ia ambil mocktail
itu dan mengantarkannya pada meja si
“artis”.
ooOoo
‘ Vakum dan perbaiki dirimu
dulu. Jika tidak, kami tidak akan memakaimu selamanya!’
Fi
menatap mocktail-nya dengan lesu. Mocktail merah yang baru saja diantarkan
oleh seorang pelayan laki-laki itu ternyata tak mampu menggoda seleranya untuk
minum. Pikirannya masih berotasi pada kata-kata pihak manajemen tempat ia
bekerja.
Padahal
sudah tiga hari ia kembali di kota kelahirannya. Namun, kata-kata menyakitkan
dari pihak manajemen itu selalu terasa menyakitkan. Bagaimana tidak? Setelah
beratus-ratus episode ia mainkan, tiba-tiba ia disuruh vakum. Padahal susah
payah ia dapatkan peran utama pada sinetron itu, tapi dengan mudahnya mereka
menyingkirkannya.
Memang
bukan tanpa alasan pihak manajemen tersebut
menonaktifkannya. Beberapa bulan terakhir ia memang terlihat sangat
kontrovesial di televisi. Hampir tiap hari ia muncul di pemberitaan para artis.
Awalnya hanya seputar sinetronnya yang sedang naik daun, kemudian para wartawan
itu meliput tentang kehidupan sehari-harinya. Fi yang terbiasa hidup mewah,
memang terlihat sangat biasa ketika menunjukkan barang-barang mahal miliknya.
Ternyata hal itu justru membuat masyarakat mulai tidak menyukainya. Mereka pun
sering mencibir Fi di berbagai akun jejaring sosial miliknya. Tak hanya
masyarakat, artis-artis lain pun juga seirng mencibirnya.
Tak
terima dengan semua olok-olokkan itu, Fi pun sering membalas semua perlakuan
buruk tersebut. Entah itu artis atau sekadar netizen pun ikut terkena. Oleh
karena itu, ia sering diberitakan dengan perilakunya yang buruk. Di sisi lain,
ada pula artis-artis lain yang ingin memanfaatkan keadaan. Terutama artis
laki-laki yang baru muncul, mereka biasanya memanfaatkan momen ini untuk ajang
promosi diri mereka. Para artis-artis itu sering mengaku-ngaku kalau mereka
mempunyai hubungan khusus dengan Fi. Padahal terkadang Fi sendiri tidak tahu
siapa artis itu.
Akibat
efek sensasi yang lebih berat ketimbang prestasinya, akhirnya pihak manajemen
pun terpaksa me-skors dirinya. Hal ini mereka lakukan agar nama baik Fi kembali
lagi. Selain itu, mereka ingin Fi mengoreksi dirinya supaya tidak bertindak
gegabah seperti kemarin. Mereka menyuruh Fi untuk kembali sekolah.
Meskipun
alasan itu memang ditujukan untuk kebaikan dirinya, tapi Fi tetap saja kecewa.
Ia tetap merasa sebagai pihak yang dirugikan. Pihak manajemen memberikannya
waktu yang cukup lama untuk bersekolah, itu artinya semua kontrak baik di
sinteron atau iklan untuknya harus diakhiri. Kalau begini, hanya Fi yang
menanggung kerugian. Makanya ia sangat kesal dengan keputusan dari manajamennya
itu.
Semakin
lama, Fi merasa dirinya sedang menjadi pusat perhatian di kafe itu. Padahal ia
sengaja datang ke sini supaya pikirannya bisa tenang. Ia kembali ke kota
asalnya dengan harapan tidak ada yang mengenalinya, tapi ia pikir keputusannya
itu salah. Seharusnya ia tetap di ibukota dan bersekolah di sana. Akhirnya, ia
memutuskan untuk segera meninggalkan kafe itu tanpa menyentuh mocktailnya sedikit pun.
Please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar