Total Tayangan Halaman

Kamis, 28 April 2016

LOVE MUSICAL Extradordinary (Musikal 3)



Musikal 3


Di sinilah Anjani berada. Di sebuah panggung kecil yang ada di sebuah kafe. Suara indahnya sedang melantunkan lagu-lagu pop yang sedang hangat saat ini. Ia bersama bandnya memang diperkejakan sebagai penghibur di kafe tersebut.

Meski sebagai saudara kembar wajah mereka tidak terlalu mirip, tapi Anjani dan Andani sama-sama memiliki suara emas. Berbeda dengan Andani yang rajin ke tempat les vokal, Anjani memilih untuk melatih suaranya dari kafe ke kafe. Ia dulu memang pernah mengikuti les vokal, tapi hanya sebentar, karena baginya pengalaman lebih penting ketimbang belajar.

Anjani dan bandnya mendapatkan sambutan hangat atas penampilannya barusan. Mereka pun turun dari panggung dan beristirahat sejenak. Seorang pelayan cantik segera menghampiri mereka dan memberikan minuman.

“ Keren seperti biasanya,” puji pelayan itu.

Anjani tersenyum, “ Terima kasih, Wen. Kamu juga cantik hari ini.”

Wenda tertawa. Anjani dan Wenda bersahabat sejak mereka masuk SMA. Wenda lebih dulu bekerja sebagai pelayan di kafe ini. Setelah tahu kalau temannya ini memiliki kualitas suara yang bagus, ia menawarkan pekerjaan sebagai vokalis dari band yang sering manggung di kafe tersebut. Anjani menyetujuinya, dan jadilah mereka bekerja sama sekarang.

Kedua sahabat itu sedang asyik bercakap-cakap, tiba-tiba keasyikan mereka dirusak oleh dua orang pelayan laki-laki yang menyeruak di antara mereka. Mereka juga teman satu sekolah Anjani dan Wenda. Laki-laki yang bertubuh jangkung bernama Ben, sedangkan lelaki dengan lengsung pipi di wajahnya bernama Kemal.

“ Waah, pembicaraan gadis-gadis. Kita boleh ikutan gak?” sapa Ben.

“ Apa kamu mau jadi gadis, Ben?” sindir Wenda. Seketika tawa Ben dan Kemal pun pecah.

Mereka berempat pun akhirnya larut dalam perbincangan mereka. Hingga seorang bartender menyodorkan mocktail di hadapan mereka.

“ Hei, antarkan ini pada artis di sana.”

“ Artis? Artis mana?” tanya Kemal.

“ Satu-satunya artis di sini, adalah Anjani dan bandnya,” Ben menepuk pundak Anjani sambil tertawa. “ Lagi pula mereka sudah dapat minumannya.”

“ Bukan, tapi gadis yang di sana,” sang bartender menunjuk seorang gadis yang mengenakan kaus merah muda.

Wenda mengikuti arah telunjuk bartender itu, seketika ia terperanjat, “ Astaga, itu’kan Fi! Bagaimana dia bisa ada di sini?”

Baik Anjani, Kemal, atau pun Ben mereka semua menatap heran pada Wenda. Mereka bertanya-tanya mengenai Fi gadis yang diberi titel “artis” itu.

“ Fi? Artis mana tuh? Aku gak pernah dengar,” sahut Ben. Sementara itu Kemal dan Anjani mengangguk tanda setuju dengan kata-kata Ben.

Wenda mengangkat bahu, “ Artis baru sih, sinetronnya lagi naik daun. Sayangnya dia lengket banget sama sensasi, dan sering masuk acara infotaiment. Bukan karena sinetronnya, tapi sensansi yang dia buat. Entah lagi digosipkan dengan artis lain, bertengkar dengan artis lain, atau sedang memamerkan barang-barang branded miliknya.”

“ Kamu tahu banyak yah?” ujar Kemal.

Well, aku sempat nonton sinetronnya. Bagus sih untuk 10 episode awal, tapi makin lama ceritanya makin ngawur. Ditambah lagi si Fi itu suka buat sensasi,” jawab Wenda. “ Eh, kalian pernah nonton sinetron Matahariku gak?”

“ Aku gak hobi sinteron,” jawab Ben. “ Dan bukan pengamat gosip.”

“ Aku juga,” sahut Anjani dan Kemal hampir bersamaan.

Wenda mencibir mereka, tapi pertengkaran kecil itu segera dilerai oleh sang bartender.

“ Sudah, sudah, kalian jangan bertengkar. Sekarang antarkan minuman ini pada gadis itu, sebelum dia buat sensasi di sini.”

“ Kemal, atau Ben saja. Aku malas,” ujar Wenda dengan nada merajuk.

“ Hei, hei, ada yang ngambek nih,” goda Ben sambil melirik Kemal yang juga cekikikan. Namun, dengan baik hati ia ambil mocktail  itu dan mengantarkannya pada meja si “artis”.

ooOoo


‘ Vakum dan perbaiki dirimu dulu. Jika tidak, kami tidak akan memakaimu selamanya!’

Fi menatap mocktail-nya dengan lesu. Mocktail merah yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan laki-laki itu ternyata tak mampu menggoda seleranya untuk minum. Pikirannya masih berotasi pada kata-kata pihak manajemen tempat ia bekerja.

Padahal sudah tiga hari ia kembali di kota kelahirannya. Namun, kata-kata menyakitkan dari pihak manajemen itu selalu terasa menyakitkan. Bagaimana tidak? Setelah beratus-ratus episode ia mainkan, tiba-tiba ia disuruh vakum. Padahal susah payah ia dapatkan peran utama pada sinetron itu, tapi dengan mudahnya mereka menyingkirkannya.

Memang bukan tanpa alasan pihak manajemen tersebut  menonaktifkannya. Beberapa bulan terakhir ia memang terlihat sangat kontrovesial di televisi. Hampir tiap hari ia muncul di pemberitaan para artis. Awalnya hanya seputar sinetronnya yang sedang naik daun, kemudian para wartawan itu meliput tentang kehidupan sehari-harinya. Fi yang terbiasa hidup mewah, memang terlihat sangat biasa ketika menunjukkan barang-barang mahal miliknya. Ternyata hal itu justru membuat masyarakat mulai tidak menyukainya. Mereka pun sering mencibir Fi di berbagai akun jejaring sosial miliknya. Tak hanya masyarakat, artis-artis lain pun juga seirng mencibirnya.

Tak terima dengan semua olok-olokkan itu, Fi pun sering membalas semua perlakuan buruk tersebut. Entah itu artis atau sekadar netizen pun ikut terkena. Oleh karena itu, ia sering diberitakan dengan perilakunya yang buruk. Di sisi lain, ada pula artis-artis lain yang ingin memanfaatkan keadaan. Terutama artis laki-laki yang baru muncul, mereka biasanya memanfaatkan momen ini untuk ajang promosi diri mereka. Para artis-artis itu sering mengaku-ngaku kalau mereka mempunyai hubungan khusus dengan Fi. Padahal terkadang Fi sendiri tidak tahu siapa artis itu.

Akibat efek sensasi yang lebih berat ketimbang prestasinya, akhirnya pihak manajemen pun terpaksa me-skors dirinya. Hal ini mereka lakukan agar nama baik Fi kembali lagi. Selain itu, mereka ingin Fi mengoreksi dirinya supaya tidak bertindak gegabah seperti kemarin. Mereka menyuruh Fi untuk kembali sekolah.

Meskipun alasan itu memang ditujukan untuk kebaikan dirinya, tapi Fi tetap saja kecewa. Ia tetap merasa sebagai pihak yang dirugikan. Pihak manajemen memberikannya waktu yang cukup lama untuk bersekolah, itu artinya semua kontrak baik di sinteron atau iklan untuknya harus diakhiri. Kalau begini, hanya Fi yang menanggung kerugian. Makanya ia sangat kesal dengan keputusan dari manajamennya itu.

Semakin lama, Fi merasa dirinya sedang menjadi pusat perhatian di kafe itu. Padahal ia sengaja datang ke sini supaya pikirannya bisa tenang. Ia kembali ke kota asalnya dengan harapan tidak ada yang mengenalinya, tapi ia pikir keputusannya itu salah. Seharusnya ia tetap di ibukota dan bersekolah di sana. Akhirnya, ia memutuskan untuk segera meninggalkan kafe itu tanpa menyentuh mocktailnya sedikit pun.


 Please comment and share


Tidak ada komentar:

Posting Komentar