Musikal
6
“
Kita akan buat sebuah pergelaran musikal. Drama musikal. Kita padukan antara kebudayaan lokal dan
klasik. Kisah ini bertemakan percintaan dan tragedi.”
Terlihat
lipatan di kening Riani saat membaca sinopsis drama yang ditulis oleh Tifa. Ia
mengangkat wajahnya dan menatap Tifa dengan heran.
“
Tunggu dulu, kamu yakin akan membawakan cerita ini dalam drama musikal ini?
Memangnya siapa sasaran penonton kamu?”
“
Karena drama musikal ini sebagai ajang promosi sekolah, tentu saja para
penonton yang kupancing adalah anak-anak SMP yang akan masuk SMA,” jawab Tifa.
“
Hei, bukankah cerita ini terlalu dewasa,” Riani melambai-lambaikan naskah
tersebut. “ Banyak adegan dan kata-kata yang cukup vulgar jika ditontonkan pada
anak-anak di bawah umur.”
“
Aku setuju dengan Riani,” sahut Gloria. “ Tapi aku tidak bisa memungkiri kalau
ide cerita ini bagus. Mungkin ada beberapa adegan yang harus diperhalus dan
kata-kata yang disensor.”
Tifa
membaca sepintas naskah yang ia buat. Beberapa kali ia membolak-balik halaman
tersebut. Kemudian ia mengangguk-anggukan kepalanya.
“
Mungkin kalian benar. Jadi, bagian mana yang harus kuperbaiki.”
Riani
dan Gloria mendekat. Mereka mulai mengeluarkan pendapat mereka masing-masing.
Terkadang terdengar mereka saling berdebat, tapi tak lama kemudian mereka pun
segera menyatukan pendapat mereka. Hingga akhirnya sebuah naskah yang bagus pun
mereka dapatkan.
Gloria
melirik arlojinya, “ Wah, perdebatan ini sungguh memakan waktu. Tidak terasa
kita menghabiskan waktu hampir lima jam.”
“
Kamu benar,” sahut Tifa. Ia ikut melirik arlojinya, kemudian ia bangkit seraya
merenggangkan semua tubuhnya. “ Sudah sore, aku lapar. Kalian mau aku traktir?”
“
Aku tidak akan menolak,” sahut Gloria cepat. Riani dan Tifa tertawa
berbarengan.
“
Baiklah, kita berangkat!”
ooOoo
Tifa
mengajak kedua temannya makan di salah satu restoran Italia. Sebenarnya ia
lebih memilih untuk makan di rumah makan tradisional saja. Ia masih kangen
masakan yang sering ia makan ketika kecil, tapi Riani dan Gloria pasti bosan
dan akan mengeluh. Akhirnya, ia pun terpaksa kenyang dengan spaghetti carbonara-nya.
“
Jadi, setelah ini apa yang akan kamu lakukan, Tif?” tanya Gloria.
“
Audisi, tentu saja,” jawab Tifa. “ SMA Chandra Kirana dan SMA Panji Semirang
akan berkolaborasi dalam pertunjukkan ini.”
“
Kenapa hanya dua sekolah ini saja?” sahut Riani.
“
Simpel saja. Itu semua permintaan ketua yayasan,” Tifa menyendokkan spageti
terakhirnya. “ Kedua SMA itu dari satu yayasan, bukan? Lagi pula aku tidak
mungkin melakukan sebuah pertunjukkan hanya dengan murid perempuan.”
“
Itu sebabnya kau memanggil kami berdua’kan?” tanya Riani. “ Wah, sebuah
kebetulan yang manis.”
Tifa
tidak menjawab. Ia hanya tersenyum di balik cangkir Americano-nya.
“
Wow, aku sudah tidak sabar. Ini pasti akan seru,” ujar Gloria antusias. “
Seperti di masa lalu.”
“
Tentu saja, dan kali ini akan lebih spektakuler dari yang dulu.”
“
Kamu percaya diri sekali,” sindir Riani.
“
Karena ini adalah tugas terakhirku. Aku ingin semua ini sempurna.”
Gloria
dan Riani bertukar pandang. Kata-kata Tifa terdengar aneh.
“
Apa maksudmu?” tanya Riani.
Tifa
kembali tersenyum di balik cangkir kopinya. Sebuah senyuman yang penuh makna.
Namun sayang, hanya ia yang tahu makna itu.
please comment and share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar