Total Tayangan Halaman

Sabtu, 30 April 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 6)






Musikal 6


“ Kita akan buat sebuah pergelaran musikal. Drama musikal.  Kita padukan antara kebudayaan lokal dan klasik. Kisah ini bertemakan percintaan dan tragedi.”

Terlihat lipatan di kening Riani saat membaca sinopsis drama yang ditulis oleh Tifa. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Tifa dengan heran.

“ Tunggu dulu, kamu yakin akan membawakan cerita ini dalam drama musikal ini? Memangnya siapa sasaran penonton kamu?”

“ Karena drama musikal ini sebagai ajang promosi sekolah, tentu saja para penonton yang kupancing adalah anak-anak SMP yang akan masuk SMA,” jawab Tifa.

“ Hei, bukankah cerita ini terlalu dewasa,” Riani melambai-lambaikan naskah tersebut. “ Banyak adegan dan kata-kata yang cukup vulgar jika ditontonkan pada anak-anak di bawah umur.”

“ Aku setuju dengan Riani,” sahut Gloria. “ Tapi aku tidak bisa memungkiri kalau ide cerita ini bagus. Mungkin ada beberapa adegan yang harus diperhalus dan kata-kata yang disensor.”

Tifa membaca sepintas naskah yang ia buat. Beberapa kali ia membolak-balik halaman tersebut. Kemudian ia mengangguk-anggukan kepalanya.

“ Mungkin kalian benar. Jadi, bagian mana yang harus kuperbaiki.”

Riani dan Gloria mendekat. Mereka mulai mengeluarkan pendapat mereka masing-masing. Terkadang terdengar mereka saling berdebat, tapi tak lama kemudian mereka pun segera menyatukan pendapat mereka. Hingga akhirnya sebuah naskah yang bagus pun mereka dapatkan.

Gloria melirik arlojinya, “ Wah, perdebatan ini sungguh memakan waktu. Tidak terasa kita menghabiskan waktu hampir lima jam.”

“ Kamu benar,” sahut Tifa. Ia ikut melirik arlojinya, kemudian ia bangkit seraya merenggangkan semua tubuhnya. “ Sudah sore, aku lapar. Kalian mau aku traktir?”

“ Aku tidak akan menolak,” sahut Gloria cepat. Riani dan Tifa tertawa berbarengan.

“ Baiklah, kita berangkat!”

ooOoo


Tifa mengajak kedua temannya makan di salah satu restoran Italia. Sebenarnya ia lebih memilih untuk makan di rumah makan tradisional saja. Ia masih kangen masakan yang sering ia makan ketika kecil, tapi Riani dan Gloria pasti bosan dan akan mengeluh. Akhirnya, ia pun terpaksa kenyang dengan spaghetti carbonara-nya.

“ Jadi, setelah ini apa yang akan kamu lakukan, Tif?” tanya Gloria.

“ Audisi, tentu saja,” jawab Tifa. “ SMA Chandra Kirana dan SMA Panji Semirang akan berkolaborasi dalam pertunjukkan ini.”

“ Kenapa hanya dua sekolah ini saja?” sahut Riani.

“ Simpel saja. Itu semua permintaan ketua yayasan,” Tifa menyendokkan spageti terakhirnya. “ Kedua SMA itu dari satu yayasan, bukan? Lagi pula aku tidak mungkin melakukan sebuah pertunjukkan hanya dengan murid perempuan.”

“ Itu sebabnya kau memanggil kami berdua’kan?” tanya Riani. “ Wah, sebuah kebetulan yang manis.”

Tifa tidak menjawab. Ia hanya tersenyum di balik cangkir Americano-nya.

“ Wow, aku sudah tidak sabar. Ini pasti akan seru,” ujar Gloria antusias. “ Seperti di masa lalu.”

“ Tentu saja, dan kali ini akan lebih spektakuler dari yang dulu.”

“ Kamu percaya diri sekali,” sindir Riani.

“ Karena ini adalah tugas terakhirku. Aku ingin semua ini sempurna.”

Gloria dan Riani bertukar pandang. Kata-kata Tifa terdengar aneh.

“ Apa maksudmu?” tanya Riani.

Tifa kembali tersenyum di balik cangkir kopinya. Sebuah senyuman yang penuh makna. Namun sayang, hanya ia yang tahu makna itu.


please comment and share


Tidak ada komentar:

Posting Komentar