Total Tayangan Halaman

Sabtu, 30 April 2016

LOVE MUSICAL Extraordonary (Musikal 9)



Musikal 9



Hari Minggu ini Ririn gunakan untuk menjelajahi sebuah toko buku di dekat rumahnya. Biasanya Ririn mampir ke sana untuk mencari buku pelajaran, novel, atau komik, tapi hari ini berbeda. Ia justru sibuk di bilik-bilik yang menyediakan buku tentang musik.

Bukannya tanpa maksud Ririn mengkhususkan hari ini untuk sibuk mencari tentang referensi musik, tapi karena desakan Andani yang mengharuskannya ikut audisi Love Musical di sekolahnya. Ririn memang suka menyanyi, tapi hanya sebatas lagu-lagu yang sedang hits atau soundtrack anime yang sering ia tonton. Jika ia harus mengadu kemampuan musikalitasnya, Ririn sebenarnya angkat tangan. Ia bukan Andani yang memang sejak kecil sudah disuapi hal-hal yang berbau musikal.

Di sinilah ia sekarang. Terpekur memandangi buku-buku referensi tentang bermusik. Sudah hampir setengah jam ia di sana, dan belum mendapatkan apa-apa. Ririn menyerah. Sebenarnya ia juga tak tahu musik yang seperti apa yang dibutuhkan dalam sebuah pertunjukkan musikal. Dari beberapa film musikal yang pernah ia tonton, biasanya dalam film itu menggunakan lagu-lagu klasik dengan alat musik yang demikian pula. Sementara ia meski memiliki suara yang cukup merdu, tapi ia hanya bermodalkan gitar akustik. Ririn bahkan tak bisa memetik melodi pada gitar akustiknya.

“ Butuh bantuan?”

Ririn pikir orang yang menegurnya hanyalah pegawai dari toko buku tersebut. Awalnya ia ingin mengabaikannya, tapi ia merasa aneh dengan orang ini. Ia tak mengenakan seragam pegawai, melainkan seragam sekolah. Setelah melihat bet sekolah yang ada di saku bajunya, Ririn baru tahu kalau orang ini berasal dari SMA Panji Semirang.

“ Kamu butuh buku apa?” tanyanya lagi.

Ririn tersentak. Ia sempat melamun saat memandangi laki-laki di hadapannya ini. Ia tidak tahu apakah laki-laki ini tampan atau tidak, karena wajahnya ditutupi kacamata yang buram dan sisiran rambut yang rapi. Tapi mungkin ia laki-laki yang ramah.

“ Ah, aku butuh buku tentang musik.”

“ Di sini semuanya buku tentang musik.”

“ Ma—maksudku buku yang mengulas tentang musik-musik yang sering digunakan saat pementasan teater.”

“ Memangnya ada buku yang seperti itu?”

Ririn mengangkat bahu, “ Entahlah, aku juga sedang mencarinya.”

Laki-laki itu mengangguk, lalu menarik sebuah buku bersampul kuning dan memberikannya pada Ririn. Terlihat ada lipatan di kening Ririn saat membaca judul dari buku itu.

“ ‘Referensi Musik Klasik’”, Ririn mendesah sambil mengembalikan buku itu ke raknya. “ Aku tidak bisa memainkan instrument musik klasik.”

Well, tapi biasanya pementasan teater menggunakan musik-musik klasik sebagai pengiringnya. Memangnya kamu mau membawakan lagu apa?”

“ Hmm, gimana yaa? Pokoknya lagu yang terkesan klasik tapi bisa kubawakan dengan gitar akustik.”

Giliran kening laki-laki itu yang berlipat. Ririn tahu permintaannya ini memang sulit dikabulkan. Ia pun hanya tertawa kecil.

“ Yah, sepertinya sulit. Sudahlah, sepertinya memang tidak ada.”

Kening laki-laki itu masih berlipat. Ririn pun berniat meninggalkan laki-laki itu, tapi seketika laki-laki itu menahannya.

“ Tunggu sebentar!” laki-laki itu dengan gesit mengambil sebuah buku yang terletak di ujung rak, lalu memberikannya lagi pada Ririn. “ Kuharap ini bisa membantu.”

“ ‘Panduan Bermusik’”, Ririn tambah tak mengerti dengan maksud laki-laki itu memberikan buku tersebut. Ia sedang mencari buku yang dapat memecahkan masalahnya, bukan menambah pusing kepala.

“ Hei, aku tidak mengerti apa mak―”

Laki-laki itu tersenyum, “ Masalah yang sulit bisa dipecahkan bila kembali ke dasar masalah tersebut.”

Wajah Ririn berubah masam, “ Maksudmu masalahku pada kemampuan bermusikku?”

“ Kurasa begitu”, ujar sambil tersenyum geli. “ Ya sudah, baca saja dulu. Siapa tahu kamu dapat inspirasi dari sini.”

Ririn mendesah lagi. Laki-laki itu tiba-tiba merebut buku yang Ririn pegang dan langsung pergi menuju kasir. Ririn yang kaget hanya bisa mengikuti kemana laki-laki itu pergi.

“ Hei, kamu mau apa?”

Laki-laki itu tak menjawab sampai ia selesai melakukan pembayaran. Kemudian ia kembali menyerahkan buku tersebut pada Ririn.

“ Sepertinya kamu gak percaya dengan apa yang aku katakan tadi. Jadi, biarlah aku yang bayar buku ini. Hitung-hitung sebagai jaminan kalau apa yang kukatakan tadi salah. Sekarang terimalah dan baca buku itu sampai habis.”

“ Aku tak mengerti, tapi baiklah,” ujar Ririn sambil menerima buku itu. “ Terima kasih.”

“ Sama-sama,” jawabnya sambil tersenyum, kemudian ia melirik arlojinya. “Baiklah, aku duluan yah. Ada kegiatan di sekolah siang ini.”

Ririn sekarang baru mengerti kenapa laki-laki itu menggunakan seragam di hari Minggu. Tunggu dulu, ia lupa menanyakan nama laki-laki itu.

ooOoo

Ririn sedang seksama membaca buku yang baru ia saja dapatkan. Baru beberapa halaman ia habiskan, tiba-tiba Andani datang tanpa diundang. Gadis itu langsung berselancar di ranjang Ririn dan merebut buku yang dipegangnya.

“ Kamu tumben baca buku beginian? Eh, ini buku baru ya? Ngapain beli? Kalo yang beginian sih banyak banget di rumahku.”

“ Buat referensi audisi Love Musical,” jawab Ririn seraya merebut kembali bukunya. “Lagi pula ini dikasih bukan beli.”

“ Oho, dikasih siapa?”

Ririn tak berniat memberi tahu siapa sebenarnya pemberi buku itu. Bisa-bisa Andani akan mengulik-ngulik tentang orang itu, dan Ririn sedang malas meladeninya.

“ Sepupuku,” jawab Ririn asal, lalu ia segera mengalihkan topik. “ Ngomong-ngomong kamu sudah dapat lagu apa yang akan kamu bawakan saat audisi nanti?”

Andani mengangguk semangat, “ The Phantom of The Opera.”

“ Eh, emang bisa? Bukannya itu lagu duet yah?”

“ Harus bisa dong. Makanya aku sekarang lagi latihan dengan giat,” ujar Andani. “Terus kamu sendiri sudah dapat referensinya?”

Ririn menggeleng, “ Aku bahkan baru baca beberapa lembar dari buku ini.”

“ Oh, begitu,” Andani mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Oh ya, gimana kalau aku kasih beberapa referensi lagu yang mungkin pas kamu bawain saat audisi nanti? Tentu aku akan sesuaikan dengan kapasitasmu.”

“ Wah, boleh juga,” seru Ririn dengan wajah berbinar. “ Makasih ya.”

Andani kembali tersenyum. Setelah itu mereka asyik mengobrol sambil menyantap puding yang dibawa oleh Andani. Sepertinya Ririn akan melupakan buku itu sesaat.

ooOoo

Ririn tak menyangka kalau referensi musik yang diberikan Andani ternyata sulit untuk dipraktekkan. Meski Andani sudah mengatakan bahwa semua lagu tersebut akan sesuai dengan kapasitasnya, tapi tetap saja Ririn merasa mustahil untuk membawakannya.

“ Aku bahkan baru sekali ini mendengarnya,” gumam Ririn.

Akhirnya ia kembali menekuri buku yang baru ia dapatkan itu. Ia tak membaca berurutan seperti tadi, ia hanya membuka-buka halaman yang menurutnya sesuai untuk memecahkan masalahnya.

“ Hmm, sepertinya di sini juga tidak jawabannya,” gumamnya lagi. “ Yang ada hanyalah bagaimana cara bermusik yang baik.”

Ririn tiba-tiba terkesiap. Ia seperti menyadari sesuatu dari kata-katanya sendiri.

“ Cara bermusik yang baik…” Ririn kembali mencari halaman yang baru saja ia baca. Ia baca berulang-ulang, sampai ia paham maksud dari tulisan tersebut. Tak lama kemudian ada segurat senyuman tergambar di wajahnya.

“ Aah, sepertinya ini yang aku cari.”


to be continued

note author: Minggu depan ada audisi Love Musical. So, prepare yourself! 

please comment and share 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar