Musikal
8
SMA Candra Kirana
“
Tidak’kah kamu merasa kalau Fi itu sangat sombong? Dia bahkan tidak tersenyum
pada siapa pun sejak perkenalan tadi.”
Ririn
hanya mengangkat bahunya. Andani bukan orang pertama yang berkomentar tentang
sikap buruk siswa baru di kelasnya. Semua orang berkomentar hal yang sama.
Sebenarnya Ririn juga mengiyakan pendapat mereka, tapi ia mencoba tidak peduli.
Lagi pula untuk apa membicarakan orang lain yang kita tidak ketahui.
Ririn
mengajak Andani pulang bersama. Ada yang aneh dengan para siswa. Mereka
mengerumuni semua papan pengumuman yang ada. Mereka terlihat antusias. Hal ini
mengundang rasa penasaran dari kedua sahabat ini.
“
Hei, ada apa ya?” tanya Andani pada salah satu siswa.
“
Big audition! Gila, Latifa bakalan
datang buat pentas dan mengadakan audisi di sini.”
Mata
Andani terbelalak, “ Latifa? Latifa Kusuma Ningsih?”
Siswa
itu mengangguk, “ Tentu, Latifa mana lagi yang bisa buat pertunjukkan hebat.
Hei, kalian mau ikut tidak? Aku dapat brosur dari Ibu Riani.”
Andani
dan Ririn menerima brosur tersebut. Memang benar akan ada audisi untuk
pertunjukkan teater yang akan disutradarai oleh seseorang bernama Latifa Kusuma
Ningsih. Namun, Ririn tampaknya tak seantusias Andani.
“
Memangnya Latifa Kusuma Ningsih itu siapa sih?”
“
Astaga, masa kamu gak tahu dia?” Andani menganga saat melihat Ririn menggeleng
dengan ekspresi polosnya. “ Dia itu sutradara teater terkenal di Broadway sana.
Karya-karyanya selalu menjadi tontonan nomor satu. Kerennya lagi Latifa itu
alumni sekolah kita.”
“
Really? Wow!”
Andani
mengangguk, lalu mengalihkan perhatiannya pada brosur tersebut, “ Dan sekarang
dia mau buat pertunjukkan di sekolah kita. How
amazing! Aku mau ikutan ah. Siapa tahu aku terpilih dan bisa go international dengan ini.”
Ririn
tertawa kecil mendengarnya.
“
Hei, Rin, kamu gak mau ikutan. Ikut aja yuk.”
“
Aku?” Ririn menunjuk dirinya dengan alis terangkat. “ Bercanda kamu. Kamu pikir
aku bisa apa?”
“
Kamu bisa main gitar, dan setahuku suaramu lumayan. Coba aja dulu, gak rugi
kok.”
Ririn
tertawa pahit, “ Halooo, ini audisi untuk pementasan teater, bukan Indonesian Idol. Masa cuma mengandalkan
itu aku harus pd sih?”
“
Kenapa nggak? Udahlah, kamu temenin aku audisi dan kamu harus ikut. Harus!”
ooOoo
Fi
melewati dua orang siswi yang sedang meributkan audisi. Siswi yang berambut
panjang itu memaksa si rambut ikal untuk ikut, tapi si ikal menolak dan
begitulah seterusnya. Fi mencoba tidak peduli. Ia memasang headphone-nya dan terus berjalan. Ia menghentikan langkahnya saat
sebuah kertas menempel di sol sepatunya. Fi meraih kertas itu dan membacanya
sepintas.
“
Love Musical Audition, come on join us”
“
Disutradarai oleh Latifa Kusuma Ningsih,” Fi mengeja kalimat yang ditulis
dengan font yang hampir sama besarnya
dengan judul. Tiba-tiba Fi terperanjat saat menyadari nama siapa yang ia
sebutkan. Ada sebuah ide cemerlang terlintas di pikirannya.
‘ Ini kesempatan besar untuk
menunjukkan siapa diriku sebenarnya. Aku harus ikut!’
ooOoo
“
‘Love Musical Audition’? Kita ikut ini saja, bagaimana? Lagi pula audisi balet
nasional akan banyak saingan.”
“
Benar juga. Itu ide yang bagus.”
Begitulah
kira-kira pembicaraan yang Priyanka dengar seharian ini. Sejak brosur-brosur
itu ditempelkan di papan pengumuman semua murid di sekolahnya menjadi heboh,
sampai-sampai anak-anak di klub baletnya juga ikut berisik. Itu semua gara-gara
nama Latifa Kusuma Ningsih yang terpampang di sana.
Priyanka
tahu betul siapa nama itu. Merupakan sebuah kehormatan untuk penari balet
amatir seperti ia untuk bermain dalam sebuah pementasan yang disutradarai oleh
seorang yang berkelas. Momen yang sangat jarang dan langka. Namun, ia ragu,
haruskah ia mengikuti audisi ini. Hal yang membuatnya ragu adalah jika saja ia
lulus audisi maka ia harus merelakan audisi balet nasional yang akan ia ikuti
bulan depan, dan semua usahanya selama ini akan sia-sia.
Bukan
bermaksud tinggi hati, tapi memang ia digadang-gadang sebagai kontestan
perwakilan dari sekolahnya untuk ajang nasional nanti. Jika ia saja sudah
diprediksi bisa mewakili sekolahnya, maka kemungkinan besar ia juga bisa lolos
untuk audisi Love Musical. Semua
orang memang mengakui bahwa ia memang ballerina yang hebat, dan ia pun tahu
akan kapasitasnya.
‘ Bukankah audisi ini adalah
jalan pintas menuju Broadway? Mungkin tidak ada salahnya kalau aku ambil jalan ini duluan.’
ooOoo
SMA Panji Semirang
Anjani,
Ben, Kemal, dan Wenda sedang mengerubungi selembar brosur yang ada di tangan
Kemal. Setelah membaca sampai ke titik akhir mereka saling bertukar pandang
seraya berpikir.
“
Apa kalian akan ikut?” tanya Kemal.
“
Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan panggung teater seperti ini,”
Anjani merebut brosur yang ada di tangan Kemal, lalu tersenyum sinis. “ Tapi
akan lain ceritanya kalau sekolah seberang akan ikut.”
“
Kamu bermaksud mengalahkan saudarimu itu, Jane?” ujar Wenda. “ Apa kamu yakin
dia akan ikut?”
“
Tentu saja. Aku tahu persis cita-cita orang itu,” jawab Anjani, lalu ia menatap
Wenda.
“ Bagaimana kalau kamu ikut juga, Wen? Mungkin saja orang itu akan ikut.
Dengan begitu kalian bisa membuktikan siapa yang lebih baik.”
Wenda
mendesah berat, “ Dia memang rivalku, tapi aku tidak yakin dengan kemampuanku
sekarang. Sudah lama aku tidak melakukannya, jadi aku pikir akan sulit untuk
ikut audisi ini.”
“
Kita bisa bergabung kok,” sela Ben. “ Bagaimana menurutmu, Kemal? Jika aku,
kau, dan Wenda bergabung. Kurasa kita akan jadi tim yang baik.”
“
Aku setuju,” sahut Kemal cepat. “ Ayolah, Wen, kita bergabung saja. Pasti
keren.”
Wenda
menimang-nimang tawaran dari kedua temannya. Sulit bila sudah lama tidak
melakukan hal yang akan ia lakukan nanti, tapi ini adalah kesempatan besar dan
belum tentu akan ada kesempatan berikutnya.
‘Now or never…’
“
Baiklah, aku ikut,” jawab Wenda mantap.
ooOoo
Ruang Kepala Sekolah SMA
Chandra Kirana
Hana
merasa heran dengan ketiga tamunya ini. Tifa, Riani, dan Gloria, mereka bertiga
seperti Charlie’s Angels yang siap menunggu perintah dari radio pengeras suara.
“
Aku akan mengawasi jalannya audisi nanti,” ujar Hana.
“
Bagus, itu yang memang kuharapkan,” ujar Tifa sambil mengacungkan ibu jarinya.
“ Kamu tahu, Hana. Akan ada liputan besar-besaran. Sepertinya kepala yayasan
ingin publik tahu semua.”
“
Itu gila! Aku tidak mau bertanggung jawab bila terjadi kesalahan,” bentak Hana.
Tifa
mengangkat bahunya, “ Itu memang bukan tanggung jawabmu,” kemudian ia mengajak
dua rekannya untuk keluar dari ruangan itu. “ Sudah ya, Hana. Kami sibuk.
Sampai jumpa dua minggu lagi.”
Riani
masih sempat menolehkan pandangannya pada Hana sebelum pintu ruangan itu
tertutup. Tergambar jelas kekesalan di wajah Hana setelah percakapan itu usai.
Sebenarnya Riani juga tak tega melihat Hana sekesal itu, karena bagaimana pun
juga merekalah yang merepotkan wanita itu.
“
Apa tidak apa-apa menyudutkan Hana seperti itu, Tif?” tanya Riani.
“
Siapa yang menyudutkannya? Semua yang kulakukan sesuai perintah ketua yayasan.
Aku tidak pernah memaksa siapapun, tapi kalau menyusahkan Hana kurasa memang
iya karena sekolah ini adalah tanggung jawabnya.”
Tifa
merenggangkan kedua tangannya, “ Yah, tapi aku tak mau menyusahkannya lebih
jauh lagi. Makanya aku akan berusaha sendiri untuk menyelesaikan tugas akhir
ini.”
Gloria
tersenyum sinis mendengar kata-kata Tifa, “ Kamu berkata seolah-olah doomsday tinggal menghitung hari.”
Tifa
ingin menyahut, tapi ia mengurungkannya. Ia rasa apa yang akan ia katakan belum
saatnya. Sebagai gantinya ia hanya menertawai kalimat Gloria.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar