Total Tayangan Halaman

Sabtu, 30 April 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 8)



Musikal 8


SMA Candra Kirana

“ Tidak’kah kamu merasa kalau Fi itu sangat sombong? Dia bahkan tidak tersenyum pada siapa pun sejak perkenalan tadi.”

Ririn hanya mengangkat bahunya. Andani bukan orang pertama yang berkomentar tentang sikap buruk siswa baru di kelasnya. Semua orang berkomentar hal yang sama. Sebenarnya Ririn juga mengiyakan pendapat mereka, tapi ia mencoba tidak peduli. Lagi pula untuk apa membicarakan orang lain yang kita tidak ketahui.

Ririn mengajak Andani pulang bersama. Ada yang aneh dengan para siswa. Mereka mengerumuni semua papan pengumuman yang ada. Mereka terlihat antusias. Hal ini mengundang rasa penasaran dari kedua sahabat ini.

“ Hei, ada apa ya?” tanya Andani pada salah satu siswa.

Big audition! Gila, Latifa bakalan datang buat pentas dan mengadakan audisi di sini.”

Mata Andani terbelalak, “ Latifa? Latifa Kusuma Ningsih?”

Siswa itu mengangguk, “ Tentu, Latifa mana lagi yang bisa buat pertunjukkan hebat. Hei, kalian mau ikut tidak? Aku dapat brosur dari Ibu Riani.”

Andani dan Ririn menerima brosur tersebut. Memang benar akan ada audisi untuk pertunjukkan teater yang akan disutradarai oleh seseorang bernama Latifa Kusuma Ningsih. Namun, Ririn tampaknya tak seantusias Andani.

“ Memangnya Latifa Kusuma Ningsih itu siapa sih?”

“ Astaga, masa kamu gak tahu dia?” Andani menganga saat melihat Ririn menggeleng dengan ekspresi polosnya. “ Dia itu sutradara teater terkenal di Broadway sana. Karya-karyanya selalu menjadi tontonan nomor satu. Kerennya lagi Latifa itu alumni sekolah kita.”

Really? Wow!”

Andani mengangguk, lalu mengalihkan perhatiannya pada brosur tersebut, “ Dan sekarang dia mau buat pertunjukkan di sekolah kita. How amazing! Aku mau ikutan ah. Siapa tahu aku terpilih dan bisa go international dengan ini.”

Ririn tertawa kecil mendengarnya.

“ Hei, Rin, kamu gak mau ikutan. Ikut aja yuk.”

“ Aku?” Ririn menunjuk dirinya dengan alis terangkat. “ Bercanda kamu. Kamu pikir aku bisa apa?”

“ Kamu bisa main gitar, dan setahuku suaramu lumayan. Coba aja dulu, gak rugi kok.”

Ririn tertawa pahit, “ Halooo, ini audisi untuk pementasan teater, bukan Indonesian Idol. Masa cuma mengandalkan itu aku harus pd sih?”

“ Kenapa nggak? Udahlah, kamu temenin aku audisi dan kamu harus ikut. Harus!”

ooOoo

Fi melewati dua orang siswi yang sedang meributkan audisi. Siswi yang berambut panjang itu memaksa si rambut ikal untuk ikut, tapi si ikal menolak dan begitulah seterusnya. Fi mencoba tidak peduli. Ia memasang headphone-nya dan terus berjalan. Ia menghentikan langkahnya saat sebuah kertas menempel di sol sepatunya. Fi meraih kertas itu dan membacanya sepintas.

“ Love Musical Audition, come on join us”

“ Disutradarai oleh Latifa Kusuma Ningsih,” Fi mengeja kalimat yang ditulis dengan font yang hampir sama besarnya dengan judul. Tiba-tiba Fi terperanjat saat menyadari nama siapa yang ia sebutkan. Ada sebuah ide cemerlang terlintas di pikirannya.

‘ Ini kesempatan besar untuk menunjukkan siapa diriku sebenarnya. Aku harus ikut!’

ooOoo

“ ‘Love Musical Audition’? Kita ikut ini saja, bagaimana? Lagi pula audisi balet nasional akan banyak saingan.”

“ Benar juga. Itu ide yang bagus.”

Begitulah kira-kira pembicaraan yang Priyanka dengar seharian ini. Sejak brosur-brosur itu ditempelkan di papan pengumuman semua murid di sekolahnya menjadi heboh, sampai-sampai anak-anak di klub baletnya juga ikut berisik. Itu semua gara-gara nama Latifa Kusuma Ningsih yang terpampang di sana.

Priyanka tahu betul siapa nama itu. Merupakan sebuah kehormatan untuk penari balet amatir seperti ia untuk bermain dalam sebuah pementasan yang disutradarai oleh seorang yang berkelas. Momen yang sangat jarang dan langka. Namun, ia ragu, haruskah ia mengikuti audisi ini. Hal yang membuatnya ragu adalah jika saja ia lulus audisi maka ia harus merelakan audisi balet nasional yang akan ia ikuti bulan depan, dan semua usahanya selama ini akan sia-sia.

Bukan bermaksud tinggi hati, tapi memang ia digadang-gadang sebagai kontestan perwakilan dari sekolahnya untuk ajang nasional nanti. Jika ia saja sudah diprediksi bisa mewakili sekolahnya, maka kemungkinan besar ia juga bisa lolos untuk audisi Love Musical. Semua orang memang mengakui bahwa ia memang ballerina yang hebat, dan ia pun tahu akan kapasitasnya.

‘ Bukankah audisi ini adalah jalan pintas menuju Broadway? Mungkin tidak ada salahnya kalau aku ambil jalan ini duluan.’

ooOoo

SMA Panji Semirang

Anjani, Ben, Kemal, dan Wenda sedang mengerubungi selembar brosur yang ada di tangan Kemal. Setelah membaca sampai ke titik akhir mereka saling bertukar pandang seraya berpikir.

“ Apa kalian akan ikut?” tanya Kemal.

“ Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan panggung teater seperti ini,” Anjani merebut brosur yang ada di tangan Kemal, lalu tersenyum sinis. “ Tapi akan lain ceritanya kalau sekolah seberang akan ikut.”

“ Kamu bermaksud mengalahkan saudarimu itu, Jane?” ujar Wenda. “ Apa kamu yakin dia akan ikut?”

“ Tentu saja. Aku tahu persis cita-cita orang itu,” jawab Anjani, lalu ia menatap Wenda. 

“ Bagaimana kalau kamu ikut juga, Wen? Mungkin saja orang itu akan ikut. Dengan begitu kalian bisa membuktikan siapa yang lebih baik.”

Wenda mendesah berat, “ Dia memang rivalku, tapi aku tidak yakin dengan kemampuanku sekarang. Sudah lama aku tidak melakukannya, jadi aku pikir akan sulit untuk ikut audisi ini.”

“ Kita bisa bergabung kok,” sela Ben. “ Bagaimana menurutmu, Kemal? Jika aku, kau, dan Wenda bergabung. Kurasa kita akan jadi tim yang baik.”

“ Aku setuju,” sahut Kemal cepat. “ Ayolah, Wen, kita bergabung saja. Pasti keren.”

Wenda menimang-nimang tawaran dari kedua temannya. Sulit bila sudah lama tidak melakukan hal yang akan ia lakukan nanti, tapi ini adalah kesempatan besar dan belum tentu akan ada kesempatan berikutnya.

‘Now or never…’

“ Baiklah, aku ikut,” jawab Wenda mantap.

ooOoo


Ruang Kepala Sekolah SMA Chandra Kirana

Hana merasa heran dengan ketiga tamunya ini. Tifa, Riani, dan Gloria, mereka bertiga seperti Charlie’s Angels yang siap menunggu perintah dari radio pengeras suara.

“ Aku akan mengawasi jalannya audisi nanti,” ujar Hana.

“ Bagus, itu yang memang kuharapkan,” ujar Tifa sambil mengacungkan ibu jarinya. “ Kamu tahu, Hana. Akan ada liputan besar-besaran. Sepertinya kepala yayasan ingin publik tahu semua.”

“ Itu gila! Aku tidak mau bertanggung jawab bila terjadi kesalahan,” bentak Hana.

Tifa mengangkat bahunya, “ Itu memang bukan tanggung jawabmu,” kemudian ia mengajak dua rekannya untuk keluar dari ruangan itu. “ Sudah ya, Hana. Kami sibuk. Sampai jumpa dua minggu lagi.”

Riani masih sempat menolehkan pandangannya pada Hana sebelum pintu ruangan itu tertutup. Tergambar jelas kekesalan di wajah Hana setelah percakapan itu usai. Sebenarnya Riani juga tak tega melihat Hana sekesal itu, karena bagaimana pun juga merekalah yang merepotkan wanita itu.

“ Apa tidak apa-apa menyudutkan Hana seperti itu, Tif?” tanya Riani.

“ Siapa yang menyudutkannya? Semua yang kulakukan sesuai perintah ketua yayasan. Aku tidak pernah memaksa siapapun, tapi kalau menyusahkan Hana kurasa memang iya karena sekolah ini adalah tanggung jawabnya.”

Tifa merenggangkan kedua tangannya, “ Yah, tapi aku tak mau menyusahkannya lebih jauh lagi. Makanya aku akan berusaha sendiri untuk menyelesaikan tugas akhir ini.”

Gloria tersenyum sinis mendengar kata-kata Tifa, “ Kamu berkata seolah-olah doomsday tinggal menghitung hari.”

Tifa ingin menyahut, tapi ia mengurungkannya. Ia rasa apa yang akan ia katakan belum saatnya. Sebagai gantinya ia hanya menertawai kalimat Gloria.


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar