Musikal
2
“
Kamu langsung ke kamar aku aja, Rin. Aku ambil pudingnya dulu.”
Ririn
mengangguk. Ia menuju ke kamar Andani yang ada di lantai dua. Suasana di rumah
Andani sangat sepi. Seperti biasanya kedua orang tua gadis itu pergi bekerja.
Di tengah suasana yang demikian, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang gadis
lain. Sebenarnya gadis itu tidak mengejutkannya, hanya saja Ririn tak menyangka
akan ada orang lain di sana selain mereka.
Buru-buru
Ririn mengubah ekspresi terkejutnya dengan senyuman lebar. Gadis itu adalah
saudara kembar Andani, namanya Anjani. Ririn tak terlalu akrab dengan saudara
kembar sahabatnya ini, meski mereka pernah satu SMP.
“
Hai, Jane,” sapa Ririn.
Anjani
hanya tersenyum kecil. Ia sedang memasang sneaker-nya.
Gadis itu terlihat sedang terburu-buru. Baru saja ia mau membalas sapaan Ririn,
Andani datang menyela mereka. Senyum yang ada di wajah gadis itu seketika
lenyap.
“
Loh, kamu udah pulang?” tanya Andani.
“
Aku udah mau pergi lagi,” jawab Anjani, lalu ia menoleh pada Ririn, “ Aku duluan,
Rin.”
Ririn
hanya mengangguk. Matanya mengikuti arah punggung Anjani yang semakin
menghilang. Sementara di sampingnya terdengar helaan napas Andani.
“
Diaaa… aah, menyebalkan sekali seperti itu,” gerutu Andani. Ia melenggang masuk
ke kamarnya.
“
Kamu ada masalah apa sih sama dia?” tanya Ririn sambil duduk bersila di samping
Andani, “ Perasaan waktu SMP hubungan kalian baik-baik saja.”
Andani
mengangkat bahunya, “ Entahlah, aku juga bingung. Tiba-tiba dia minta sama Papa
dan Mama kalau dia gak mau satu SMA sama kayak aku. Dia juga berhenti les vokal
dan berubah ketus begitu.”
Ririn
tersenyum kecut. Ia merasa tak enak dengan sahabatnya karena telah
mengorek-ngorek masalah pribadi. Andani tahu apa yang dirasakan oleh Ririn, ia
pun tersenyum sambil menepuk pundak gadis ini.
“
Udahlah, gak usah dipikirin. Kita nonton filmnya aja yuk.”
ooOoo
Riani
tak mengerti dengan sosok perempuan yang ada di hadapannya. Dia wanita yang
cantik, sukses, dan baru saja pulang dari luar negeri pula, tapi entah kenapa
kelakuannya seperti orang yang tidak makan satu minggu. Mulai dari pempek dengan
beraneka ukuran, martabak, belum lagi kue-kue manisnya, semua ia lahap dengan
buas. Riani hanya bisa menghela napas, untung saja semua makanan itu bukan dia
yang bayar.
“
Kamu belum jawab pertanyaanku, Tif.”
Sendok
wanita itu berhenti tepat sebelum masuk ke mulutnya, “ Pertanyaan apa?”
“
Pertanyaan kenapa kamu tahu kalau aku sedang jemput anak aku di sekolahnya.”
Tifa
terkekeh. Rupanya ia terlalu fokus dengan makanan yang terhampar di depannya.
Sehingga ia tak sadar kalau sedari tadi Riani mengajaknya bicara.
“
Gampang. Kamu’kan sering posting foto anak kamu pas lagi pakai seragam sekolah.
Kamu juga sering cantumkan lokasimu berada di media sosial. Yah, tinggal aku
cari aja nama sekolah anakmu dan cari tahu jam anakmu pulang sekolah. Mudah’kan?”
Riani
mendengus kesal, “ Tingkah lakumu malah mirip stalker.”
Tifa
kembali terkekeh. Wajar kalau Riani marah-marah padanya. Di tengah siang bolong
begini ia muncul di hadapan Riani setelah 10 tahun berpisah. Tanpa mengabarkan
akan pulang, dan tiba-tiba langsung menculik Riani berserta anaknya yang masih
kelas tiga SD. Tifa mengajak ibu dan anak itu mampir di sebuah restoran yang
menyajikan menu-menu khas Palembang.
“
Lantas apa alasanmu pulang ke sini?” tanya Riani. “ Apa ini ada kaitannya
dengan headline yang kubaca minggu
lalu?”
“
Ah, kamu sudah baca beritanya ya?” ujar Tifa sambil menyeruput es kacang merah.
“
Kenapa kamu mau pensiun dari Broadway?
Bukannya Amerika adalah panggung impianmu?”
“
Aku lelah,” jawab Tifa sambil menunggingkan senyum misterius. “ Lagi pula ada
hal penting yang harus aku urus di sini.”
“
Kamu mau buat teater sendiri di sini?”
Tifa
menggeleng. Senyum misteriusnya kembali mengembang.
“
Love Musical.”
Napas
Riani seakan tercekat di kerongkongannya. Ia menatap Tifa dengan tatapan tak
percaya. Ia bahkan tak sadar kalau mulutnya ternganga lebar.
“
Astaga, Tif. Jangan mengatakan hal yang mustahil!”
“
Apanya yang mustahil? Dengar, aku jauh-jauh datang dari Amerika memang untuk
mewujudkan sesuatu yang kau anggap mustahil itu.”
Riani
kembali mendesah panjang. Lama ia merenung. Sepertinya ia memikirkan sesuatu
yang rumit.
“
Sudah hampir 10 tahun sekolah kita telah berubah menjadi sekolah khusus
perempuan. Generasi kita adalah generasi terakhir dengan siswa campuran. Selain
itu, Love Musical juga sudah lama
dibubarkan. Makanya hal itu kubilang mustahil.”
“
Aku tahu, aku tahu. Tapi kuyakin kau belum tahu satu hal,” dengan tenang Tifa
menyendokkan es kacang merahnya. “ Aku punya beberapa teman yang terhubung
dengan yayasan sekolah. Dari merekalah aku tahu kalau sekolah khusus wanita
akan dibubarkan, dan kembali menjadi sekolah campuran.”
Riani
terperanjat, “ Eh, benarkah?”
Tifa
mengangguk, “ Selain itu akan diadakan sebuah promosi besar-besaran untuk
menarik minat siswa di luar sana untuk bergabung di sekolah tersebut. Makanya
aku mengajukan proposal pada yayasan untuk menyelenggarakan Love Musical sebagai salah satu kegiatan
promosi tersebut.”
“
Lalu hasilnya?”
“
Pakai acara nanya pula,” Tifa terkekeh. “ Jika ditolak, mana mungkin aku ada di
sini, manis.”
Riani
kembali menganga. Lambat-lambat ia tertawa sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“
Kamu… kamu benar-benar menakjubkan.”
Tifa
tertawa kecil. “ Ah, bukannya kamu yang menakjubkan.”
Riani
refleks memandang heran temannya ini.
“
Kamu jadi guru di sana’kan? Gak nyangka ternyata kamu benar-benar mengabdi pada
tempat itu.”
Giliran
Riani yang tertawa. Ternyata temannya ini benar-benar berubah menjadi stalker.
“
Ngomong-ngomong aku mengajakmu bicara seperti ini bukan tanpa alasan. Aku ingin
kamu membantuku dalam proyek ini. Soalnya cuma kamu yang mengerti tentang Love Musical, selain itu kamu juga guru
di sana’kan.”
“
Ah, sudah kuduga,” napas Riani mencelos, lalu ia mengangkat bahunya. “ Ya,
baiklah. Seperti aku punya pilihan lain saja.”
“
That’s my girl,” ujar Tifa sambil
mengacungkan jempolnya. “ Oh ya, sekarang kepala sekolah di sana siapa ya? Apa
aku mengenalnya?”
“
Kamu tentu sangat mengenalnya. Dia sahabat lama,” Riani tersenyum. “ Hana.”
Seketika
Tifa terbatuk-batuk. Sepertinya ada kacang merah yang tersangkut di
tenggorokannya. Riani bahkan sampai harus menawarkan air putih agar Tifa segera
lepas dari tersedaknya.
“
A—apa? Ha—Hana yang jadi kepala sekolah?” Tifa menarik napas panjang. “ Fuuh,
sepertinya ini menjadi lebih menarik.”
:) please comment and share :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar