Total Tayangan Halaman

Kamis, 28 April 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 2)






Musikal 2

“ Kamu langsung ke kamar aku aja, Rin. Aku ambil pudingnya dulu.”

Ririn mengangguk. Ia menuju ke kamar Andani yang ada di lantai dua. Suasana di rumah Andani sangat sepi. Seperti biasanya kedua orang tua gadis itu pergi bekerja. Di tengah suasana yang demikian, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang gadis lain. Sebenarnya gadis itu tidak mengejutkannya, hanya saja Ririn tak menyangka akan ada orang lain di sana selain mereka.

Buru-buru Ririn mengubah ekspresi terkejutnya dengan senyuman lebar. Gadis itu adalah saudara kembar Andani, namanya Anjani. Ririn tak terlalu akrab dengan saudara kembar sahabatnya ini, meski mereka pernah satu SMP.

“ Hai, Jane,” sapa Ririn.

Anjani hanya tersenyum kecil. Ia sedang memasang sneaker-nya. Gadis itu terlihat sedang terburu-buru. Baru saja ia mau membalas sapaan Ririn, Andani datang menyela mereka. Senyum yang ada di wajah gadis itu seketika lenyap.

“ Loh, kamu udah pulang?” tanya Andani.

“ Aku udah mau pergi lagi,” jawab Anjani, lalu ia menoleh pada Ririn, “ Aku duluan, Rin.”

Ririn hanya mengangguk. Matanya mengikuti arah punggung Anjani yang semakin menghilang. Sementara di sampingnya terdengar helaan napas Andani.

“ Diaaa… aah, menyebalkan sekali seperti itu,” gerutu Andani. Ia melenggang masuk ke kamarnya.

“ Kamu ada masalah apa sih sama dia?” tanya Ririn sambil duduk bersila di samping Andani, “ Perasaan waktu SMP hubungan kalian baik-baik saja.”

Andani mengangkat bahunya, “ Entahlah, aku juga bingung. Tiba-tiba dia minta sama Papa dan Mama kalau dia gak mau satu SMA sama kayak aku. Dia juga berhenti les vokal dan berubah ketus begitu.”

Ririn tersenyum kecut. Ia merasa tak enak dengan sahabatnya karena telah mengorek-ngorek masalah pribadi. Andani tahu apa yang dirasakan oleh Ririn, ia pun tersenyum sambil menepuk pundak gadis ini.

“ Udahlah, gak usah dipikirin. Kita nonton filmnya aja yuk.”

ooOoo


Riani tak mengerti dengan sosok perempuan yang ada di hadapannya. Dia wanita yang cantik, sukses, dan baru saja pulang dari luar negeri pula, tapi entah kenapa kelakuannya seperti orang yang tidak makan satu minggu. Mulai dari pempek dengan beraneka ukuran, martabak, belum lagi kue-kue manisnya, semua ia lahap dengan buas. Riani hanya bisa menghela napas, untung saja semua makanan itu bukan dia yang bayar.

“ Kamu belum jawab pertanyaanku, Tif.”

Sendok wanita itu berhenti tepat sebelum masuk ke mulutnya, “ Pertanyaan apa?”

“ Pertanyaan kenapa kamu tahu kalau aku sedang jemput anak aku di sekolahnya.”

Tifa terkekeh. Rupanya ia terlalu fokus dengan makanan yang terhampar di depannya. Sehingga ia tak sadar kalau sedari tadi Riani mengajaknya bicara.

“ Gampang. Kamu’kan sering posting foto anak kamu pas lagi pakai seragam sekolah. Kamu juga sering cantumkan lokasimu berada di media sosial. Yah, tinggal aku cari aja nama sekolah anakmu dan cari tahu jam anakmu pulang sekolah. Mudah’kan?”

Riani mendengus kesal, “ Tingkah lakumu malah mirip stalker.

Tifa kembali terkekeh. Wajar kalau Riani marah-marah padanya. Di tengah siang bolong begini ia muncul di hadapan Riani setelah 10 tahun berpisah. Tanpa mengabarkan akan pulang, dan tiba-tiba langsung menculik Riani berserta anaknya yang masih kelas tiga SD. Tifa mengajak ibu dan anak itu mampir di sebuah restoran yang menyajikan menu-menu khas Palembang.

“ Lantas apa alasanmu pulang ke sini?” tanya Riani. “ Apa ini ada kaitannya dengan headline yang kubaca minggu lalu?”

“ Ah, kamu sudah baca beritanya ya?” ujar Tifa sambil menyeruput es kacang merah.

“ Kenapa kamu mau pensiun dari Broadway? Bukannya Amerika adalah panggung impianmu?”

“ Aku lelah,” jawab Tifa sambil menunggingkan senyum misterius. “ Lagi pula ada hal penting yang harus aku urus di sini.”

“ Kamu mau buat teater sendiri di sini?”

Tifa menggeleng. Senyum misteriusnya kembali mengembang.

Love Musical.

Napas Riani seakan tercekat di kerongkongannya. Ia menatap Tifa dengan tatapan tak percaya. Ia bahkan tak sadar kalau mulutnya ternganga lebar.

“ Astaga, Tif. Jangan mengatakan hal yang mustahil!”

“ Apanya yang mustahil? Dengar, aku jauh-jauh datang dari Amerika memang untuk mewujudkan sesuatu yang kau anggap mustahil itu.”

Riani kembali mendesah panjang. Lama ia merenung. Sepertinya ia memikirkan sesuatu yang rumit.

“ Sudah hampir 10 tahun sekolah kita telah berubah menjadi sekolah khusus perempuan. Generasi kita adalah generasi terakhir dengan siswa campuran. Selain itu, Love Musical juga sudah lama dibubarkan. Makanya hal itu kubilang mustahil.”

“ Aku tahu, aku tahu. Tapi kuyakin kau belum tahu satu hal,” dengan tenang Tifa menyendokkan es kacang merahnya. “ Aku punya beberapa teman yang terhubung dengan yayasan sekolah. Dari merekalah aku tahu kalau sekolah khusus wanita akan dibubarkan, dan kembali menjadi sekolah campuran.”

Riani terperanjat, “ Eh, benarkah?”

Tifa mengangguk, “ Selain itu akan diadakan sebuah promosi besar-besaran untuk menarik minat siswa di luar sana untuk bergabung di sekolah tersebut. Makanya aku mengajukan proposal pada yayasan untuk menyelenggarakan Love Musical sebagai salah satu kegiatan promosi tersebut.”

“ Lalu hasilnya?”

“ Pakai acara nanya pula,” Tifa terkekeh. “ Jika ditolak, mana mungkin aku ada di sini, manis.”

Riani kembali menganga. Lambat-lambat ia tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ Kamu… kamu benar-benar menakjubkan.”

Tifa tertawa kecil. “ Ah, bukannya kamu yang menakjubkan.”

Riani refleks memandang heran temannya ini.

“ Kamu jadi guru di sana’kan? Gak nyangka ternyata kamu benar-benar mengabdi pada tempat itu.”

Giliran Riani yang tertawa. Ternyata temannya ini benar-benar berubah menjadi stalker.

“ Ngomong-ngomong aku mengajakmu bicara seperti ini bukan tanpa alasan. Aku ingin kamu membantuku dalam proyek ini. Soalnya cuma kamu yang mengerti tentang Love Musical, selain itu kamu juga guru di sana’kan.”

“ Ah, sudah kuduga,” napas Riani mencelos, lalu ia mengangkat bahunya. “ Ya, baiklah. Seperti aku punya pilihan lain saja.”

That’s my girl,” ujar Tifa sambil mengacungkan jempolnya. “ Oh ya, sekarang kepala sekolah di sana siapa ya? Apa aku mengenalnya?”

“ Kamu tentu sangat mengenalnya. Dia sahabat lama,” Riani tersenyum. “ Hana.”

Seketika Tifa terbatuk-batuk. Sepertinya ada kacang merah yang tersangkut di tenggorokannya. Riani bahkan sampai harus menawarkan air putih agar Tifa segera lepas dari tersedaknya.

“ A—apa? Ha—Hana yang jadi kepala sekolah?” Tifa menarik napas panjang. “ Fuuh, sepertinya ini menjadi lebih menarik.”


:) please comment and share :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar