Tifa
membuka matanya. Baru saja seorang pramugari membangunkannya dan mengatakan
bahwa pesawat yang ia tumpangi telah sampai di tempat tujuan. Tifa
mengucek-ngucek matanya, dan mengusahakan agar pupilnya dapat beradaptasi
dengan cahaya di sekitarnya. Ia bangkit paling akhir setelah semua penumpang
turun.
‘Bandara
Sultan Mahmud Badaruddin II’
Wanita
ini merentangkan kedua tangannya. Seluruh saraf di kulitnya mulai merasakan
hangatnya matahari Palembang. Aroma olahan ikan seolah-olah menerpa indara
penciumannya, padahal saat ini ia sedang berada di parkiran taksi yang jauh
dari tempat penjualan makanan, tapi hidung wanita ini sepertinya memiliki
kemampuan penciuman yang setara dengan hiu kala mencium darah.
Taksi
yang ia tumpangi mulai melintasi kota Palembang. Beberapa tahun ia tinggalkan
kota ini ternyata sudah banyak perubahan. Mulai dari adanya fly over, underpass, bahkan mall-mall yang mulai berdiri di
sana-sini. Ia ingat Palembang tak pernah semacet ini saat terakhir ia
tinggalkan.
“
Satu pertunjukkan lagi sebelum semua ini berakhir,” Tifa bergumam sambil
mendesah panjang. “ Yah… sebelum semua ini berakhir.”
ooOoo
SMA Chandra Kirana
Bel
pertanda waktu pulang berdering. Kebanyakan siswa kala itu mengucapkan syukur
ketika bel itu dibunyikan. Mereka baru saja menyelesaikan ujian tengah
semester, dan bel pulang pertanda bahwa ujian mereka telah selesai.
“
Huaaah, akhirnya selesai jugaaa,” keluh Andani sambil merenggangkan tubuhnya. “
Aku lelah sekali.”
Ririn
hanya tersenyum melihat kelakuan temannya. Sementara itu tangannya sibuk
merapikan alat tulis.
“
Kamu jadi ke rumah’kan?” tanya Andani.
“
Sure, aku udah bawa filmnya,” jawab
Ririn sambil mengangguk.
Andani
mengacungkan ibu jarinya, “ Good! Aku
udah siapin puding spesial di rumah.”
“
Jadi, kamu semalaman cuma buat puding? Gak belajar?” tanya Ririn sambil
tertawa. “ Kayaknya nilai kamu bakalan anjlok nih.”
“
Idiih, jangan dooong,” rajuk Andani. “ Aku belajar juga kali.”
Tawa
canda mereka masih berlanjut. Mereka terlalu seru mengobrol hingga tak sadar
kalau mereka hampir saja menabarak seorang gadis.
“
Ah, maaf,” ujar Andani.
Gadis
itu tersenyum simpul, “ Iya, maaf juga.”
Andani
dan Ririn masih terpaku di tempat, sementara gadis tadi sudah mendahului
mereka. Tampaknya ia akan menuju ruangan klub balet.
“
Dia… cantik ya,” komentar Ririn.
Andani
tersentak, “ Ah, siapa? Oh, gadis tadi. Yaa, wajar kalau kamu bilang begitu,
dia’kan anak balet.”
“
Kamu tahu dia?”
Andani
mengangguk, “ Namanya Priyanka, dia anak klub balet. Dia salah satu ballerina
berbakat dari sekolah kita.”
Ririn
hanya mengangkat bahu. Ia kurang tahu tentang anak-anak dari klub balet. Namun,
sorot matanya masih tertinggal pada ruangan klub balet, hingga Andani
menyadarkannya dan mengajaknya pulang.
:) Please comment and share :)

Gak kebayang si widung jd balerina :D:D
BalasHapuspejamkan mata dan coba bayangkanlah :D
Hapus