Total Tayangan Halaman

Sabtu, 24 September 2016

LOVE MUSICAL Extaordinary (Musikal 79)



Musikal 79



Wenda baru saja mendudukkan pantatnya di kursi. Seketika Ben dan Kemal yang sudah lebih dulu datang langsung mendekatkan ke wajah Wenda. Gadis itu kaget sekaligus bingung akibat tingkah aneh kedua temannya ini.
“ Ya ampuuun, Wen. Kecentilan amat sih!” ejek Ben.
“ Tahu nih. Pagi-pagi udah menor aja kayak tante-tante,” sahut Kemal.
Wenda mengerutkan hidungnya. Heran, memangnya salah kalau dia sedikit berdandan hari ini. Wenda sengaja melakukannya karena hari ini ia akan pergi bersama Alexi menemui Nadia, dan dia tidak mau kalah cantik dengan gadis itu. Dia memang belum memberitahu siapa pun perihal hubungan asmara palsunya bersama Alexi. Meski begitu, kata-kata Kemal menurutnya memang berlebihan. Ia hanya menggunakan liptin dan sedikit mempertebal bedaknya.
“ Hei, Jane. Ke sini deh! Lihat, apa yang beda dari si Wenda.”
Anjani yang baru saja tiba langsung patuh pada kata-kata Kemal. Refleks, ia mengamati wajah Wenda secara detail. Merasa diperhatikan, Wenda langsung mengalihkan wajahnya. Anjani mengangguk-angguk saat ia mendapatkan simpulan dari pengamatannya.
“ Kamu pakai lipstik?”
Liptin,” koreksi Wenda.
Anjani mengangguk lagi, “ Tumben. Ngapain kamu pake-pake begituan?”
“ Itu juga yang kita mau tanyain, Jane,” sahut Ben.
“ Berisik deh! Gak bisa lihat orang cantik dikit apa?”
Wenda sudah tak tahan lagi. Ia bergegas meninggalkan teman-temannya. Saking terburu-burunya, ia hampir saja menabrak Ririn yang baru mau masuk kelas. Gadis ikal itu terlihat bingung. Ia memperhatikan langkah Wenda yang begitu cepat, lalu pandangannya beralih pada ketiga sahabat Wenda yang tiba-tiba berubah senyap. Ririn tak berniat bertanya. Namun, ia tetap pasang telinga pada setiap ucapan yang akan keluar dari bibir Anjani, Ben, dan Kemal.
“ Kayaknya kita keterlaluan deh,” Anjani lebih dulu membuka suara. Nada bicaranya terdengar menyesal. “ Lagian kalian juga gak harus segitunya tadi. Memangnya salah kalau dia sedikit dandan?”
Ben mengangkat bahu, “ Kita cuma gak biasa aja lihat dia semenor itu kalau ke sekolah.”
“ Munafik, padahal kalian juga senang kalau lihat cewek cantik,” tukas Anjani.
“ Kita memang suka godai cewek cantik, tapi kita gak suka kalau kawan kita digodain orang karena sok cantik,” sahut Kemal sambil melipat tangan di belakang kepala. “ Iya gak, Ben?”
Ben kembali mengangkat bahu.
Anjani mendesah panjang, “ Aku susul Wenda dulu deh. Bentar lagi masuk.”
Ririn yang sudah dari tadi datang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ia mengangguk pelan. Tampaknya keempat sahabat itu sedang mengalami konflik kecil. Ia tak melihat jelas wajah Wenda tadi, tapi kalau dari penuturan Ben dan Kemal mungkin dandanan Wenda memang berlebihan.
Sudahlah, Ririn tak mau ikut campur masalah mereka. Saat ia mengangkat wajahnya dari buku, matanya berpapasan pada sosok Alexi yang baru saja menaruh tas di meja. Terlambat bagi Ririn untuk tidak bertemu pandang dengan laki-laki itu.
“ Pagi!” sapanya seraya tersenyum.
“ Hm, pagi,” Ririn buru-buru mengalihkan pandangannya pada buku yang ia pegang.
“ Oh ya, Rin. Kamu sudah―”
Terlambat, Ririn sudah lebih dulu memasang headset di telinganya. Kata-kata Alexi hanya mengantung di udara. Tampaknya gadis itu sedang tak ingin diganggu. Alexi pun langsung membalikkan badannya. Ada terselip perasaan kecewa di dalam hatinya.
ooOoo
Sesuai perkiraan Anjani, ia menemukan Wenda sedang ngambek di dalam toilet. Saat menyadari kedatangannya, gadis itu langsung memalingkan wajahnya.
“ Kamu nangis, Wen?”
“ Siapa juga yang nangis!” Wenda melipat tangannya di depan dada.
“ Syukur deh, kalau gitu,” Anjani bersandar pada wastafel. “ Ahh, ya, maaf deh soal yang tadi. Kita memang keterlaluan, tapi kita gak maksud ngejek kamu. Kita cuma… cuma… yaa… gak biasa aja lihat kamu dandan ke sekolah.”
“ Biasakanlah. Aku bakal begini terus nantinya.”
Anjani mendesah pendek, “ Oh ya? Buat apa?”
Wenda tak menyahut. Alih-alih ia menjawab pertanyaan Anjani, jemarinya malah memainkan ujung rambut. Melihat tingkah laku Wenda, tampaknya Anjani paham akan sesuatu.
Are you falling in love with someone? Jangan bilang dia dari kelas kita.”
Kali ini Wenda tak bisa menyembunyikan senyumnya, dan Anjani cukup cepat untuk melihat senyuman itu.
What? Serius, Wen? Siapa, Wen? Kalian udah pernah kencan?”
“ Belum, tapi nanti,” Wenda ikut bersandar di wastafel. “ Dia… Alexi.”
Anjani terkesiap, “ Eh, Alexi? Si culun itu?”
“ Dia gak culun kok. Dia―”
‘…. aku minta kamu jangan cerita-cerita sama siapapun tentang muka aku tanpa kacamata ya….’
“ Dia kenapa, Wen?”
Wenda menggeleng cepat. Hampir saja ia keceplosan.
“ Pokoknya dia gak kayak tampangnya deh. Dia baik dan juga pengertian. Makanya aku suka dia.”
Anjani kembali mengangguk, “ Okee, aku terima alasan itu. Terus kamu bisa kencan dengan dia itu gimana ceritanya?”
Kali ini Wenda tersenyum malu-malu. Ia pun menceritakan semua perjanjiannya dengan Alexi yang ia buat tempo hari. Untuk kedua kalinya Anjani kembali terkejut.
“ Astaga, Wen. Kamu serius? Berarti Alexi cuma mau manfaatin kamu doang dong.”
“ Yaaa, kedengarannya memang sejahat itu sih, tapi aku gak masalah kok. Lagian siapa tahu selama kencan pura-pura kita dia justru berbalik suka sama aku. Selalu ada kemungkinan kayak gitu’kan?”
Anjani mengerucutkan bibirnya, “ Kamu kebanyakan nonton drama Korea, Wen. Kalau kamu cuma mau nolongin Alexi sih gak apa-apa, tapi kalau sampai kebawa perasaan, aku takut nantinya kamu yang bakal kecewa.”
“ Maksudmu Alexi gak suka sama aku?”
Anjani mengangkat bahu, “ Mana aku tahu. Coba kamu telaah lagi deh. Alexi minta kamu buat jadi pacar pura-pura dia, supaya dia terlihat udah move on dari si Nadia. Itu artinya dia justru belum move on dari si Nadia. Gimana kalau seandainya Alexi malah balik ke si Nadia itu sedangkan kamu udah terlalu terbang kebawa perasaan? Wen, aku cuma gak mau kamu patah hati gara-gara kebodohan kecil begini.”
Wenda mengehela napas panjang, “ Makanya dari sekarang aku belajar dandan. Supaya Alexi bisa melihat kalau aku juga bisa sejajar dengan si Nadia itu. Lagipula aku udah cukup bahagia sudah bisa jadi pacar dia”
“ Tapi, Wen. Itu’kan cuma pura-pura”
“ Stop! Aku menyukainya dan aku menyukai apa yang aku lakukan sekarang!”
Bola mata Anjani berputar 180 derajat, “ Kupikir Alexi itu sukanya sama Ririn.”
And stop talk about her!”
Anjani terpana. Wajah Wenda terlihat lebih marah daripada saat ia diejek soal dandanannya. Anjani pun langsung mengunci bibirnya rapat-rapat. Namun, ia tak bisa membiarkan cerita Wenda sampai di sini saja. Ben dan Kemal juga harus tahu.
ooOoo
Bukan maksud hati Ririn untuk membuat Alexi merasa tidak diacuhkan seperti itu. Ia masih bisa melihat punggung Alexi yang terlihat kecewa. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa saat ia teringat percakapannya dengan Wenda tempo hari.
“ Ohh, gitu ya. Gimana kalau Alexi bilang sesuatu yang bersifat pribadi sama kamu, kamu kasih tahu aku?”
Ririn mengangguk ragu, “ Oke-oke aja, tapi aku gak janji dalam waktu dekat ini ya.”
“ Gak masalah. Aku akan selalu menunggu.”
Ririn kembali melahap mie-nya. Entah kenapa mie ayam itu tiba-tiba terasa hambar di lidahnya.
“ Eh, Rin. Aku bisa minta tolong satu hal lagi gak?”
Tangan Ririn berhenti menyuap mie. Ada perasaan aneh merayapi pikirannya saat Wenda akan mengatakan permintaannya.
“ Sebenarnya ini cukup menggelikan, tapi aku pengen kamu ngejauh sedikit dari Alexi selama aku pdkt sama dia. Bisa gak?”
“ Memangnya kenapa?”
Wenda tersenyum kecil, “ Habisnya aku pengen Alexi lebih dekat sama aku.”

Ririn ingat saat itu ia mengangguk setuju. Sayang, sekarang ia menyesali keputusannya waktu itu atau mungkin ia tak harus secuek ini pada Alexi. Ia lupa kalau Andani sedang tak ada di sisinya dan sekarang ia harus menjauh dari Alexi. Meskipun sekarang ia sedikit dekat dengan Priyanka, tapi gadis itu masih takut-takut mendekati Ririn. Mungkin ia tak mau menjadi bahan gosip bila mereka terlalu dekat. Sekarang ia tak memiliki teman untuk dia berbagi cerita.
Ririn menghela napas panjang. Pelajaran biologi yang ia sukai terasa begitu membosankan kali ini. Tak satu pun catatan di papan tulis yang ia catat, gerakan tangannya hanya mencoret-coret asal di bukunya.
Untungnya sesi pelajaran itu tak berlangsung lama. Bel istirahat berhasil menyelamatkan Ririn dari kebosanannya. Namun, seketika ia sadar, tak ada yang bisa ia ajak mengobrol atau makan di kantin. Meski begitu ia tetap menyeret langkahnya untuk keluar dari kelas.
Ririn memikirkan pilihan antara ke perpustakaan atau mampir ke kelas lamanya (kelas sebelum ia masuk ke kelas khusus LM). Mungkin ia bisa bertukar cerita dengan teman-teman lamanya. Namun, langkahnya terhenti saat ia menuju ke kelas lamanya. Ia justru memutar kakinya menuju tempat lain. Ia tahu tempat mana yang lebih menerimanya saat ini.
Tempat itu berada di lantai dua, tepat di ujung koridor lantai dua. Tidak banyak orang yang melintas, tapi bukan berarti itu adalah ruangan terpencil. Dulu sebelum Ririn bergabung di LM, ia adalah anggota paling aktif di klub ini. Begitu Ririn sampai di depan ruangan itu, matanya menatap plang yang terpasang di bagian atas pintu.
KLUB KORAN
Ririn mendorong pintu bercat coklat itu. Seketika aroma kertas dan tinta menyeruak di udara. Suara musik pop mengalun lembut dan terdengar juga beberapa orang sedang bercakap-cakap. Meski begitu suasana terasa tetap nyaman dan tenang.
“ Hai, semua.”
Para gadis ada di sana sontak menghentikan aktivitas. Mata mereka berbinar saat melihat sosok Ririn menyapa mereka.
“ Ririn!”
“ Ya ampun, udah lama banget kamu gak mampir ke sini!”
Dan sederet pertanyaan lain yang harus Ririn jawab satu persatu. Namun, Ririn sangat menyukai ketika dirinya ada di sini. Tempat dimana ia bisa mengeluarkan semua kreativitas dan inspirasi hanya lewat tulisan. Tak perlu capek-capek pemanasan atau latihan. Mungkin ia harus berburu berita ke luar, memaksa beberapa orang untuk membeberkan rahasia, atau berada dalam tekanan ketika sudah deadline, tapi itulah membuatnya selalu nyaman berada di lingkungn ini.
“ Kamu kayaknya sibuk banget ya, Rin. Sampai-sampai kamu kurusan,” ujar Dela, wakil ketua klub Koran.
Ririn tak kuasa menarik salah satu sudut bibirnya. Teringat kemarin kostum yang dibuatkan khusus untuknya ternyata kedodoran.
“ Latihan kami berat banget. Apalagi kami cuma diberi waktu istirahat cuma dua hari. Belum lagi aktingku yang selalu dibilang payah. Aah, siapa coba yang gak kurus kalau digituin terus.”
Para anggota klub Koran meringis mendengar cerita Ririn.
“ Terus hari ini kamu latihan juga?”
Ririn menggeleng, “ Latihanku kemarin dan besok.”
“ Ohh, gitu,” ujar Mirna, si ketua klub Koran. “ Padahal aku baru mau wawancarain sutradara kalian. Soalnya tiap mau aku temui dia selalu gak ada di tempat.”
“ Yah, sekarang beliau juga lagi gak ada di sini. Beliau baru pulang minggu depan.”
Mirna mendengus kesal, “ Duuh, padahal banyak banget yang nungguin artikelnya.”
“ Nanti aku hubungin Kak Mirna deh kalau Miss Tifa udah balik,” ujar Ririn. “ Oh ya, sekarang kalian sibuk apa?”
“ Kebetulan hari ini aku ada janji wawancara sama DJ Pon-pon,” sahut Dela.
“ DJ Pon-pon? Oh, DJ radio yang cakep itu yah?” sahut anggota yang lain.
“ Ikutan dong,” suara anggota saling sahut menyahut. Dela pun menyerah seraya mengangkat tangan.
“ Oke, oke, tapi kalian jangan pada noraknya kalau udah ketemu dia. Entar jejeritan kayak alayers lagi,” Dela terkekeh, lalu menatap Ririn. “ Kamu capek gak, Rin? Kalau nggak, kamu boleh ikut kok.”
Mata Ririn berbinar saat mendapat ajakan itu, “ Serius, Kak? Waaah, mau banget.”
“ Oke deh, kita semua ikut ke sana!”
ooOoo
Ririn sudah lama tidak bersemangat seperti ini. Ia seperti mendapat panggilang jiwa. Jam pelajaran terakhir terasa begitu lama sampai-sampai ia tahan lagi untuk mengakhirinya.
Begitu bel pulang menjerit, Ririn dengan sigap membereskan peralatan tulisnya. Ia melangkah cepat begitu pintu kelas terbuka. Saking cepatnya ia bahkan sampai berselisih jalan dengan Alexi. Entah kenapa laki-laki itu justru berputar ke belakang, bukannya bergegas pulang.
Ririn mengalah, ia bergeser ke kiri, tapi laki-laki ikut melangkah ke kiri. Ia berpindah ke kanan, tapi laki-laki juga ke kanan. Ririn mendesah tak sabar. Akhirnya, ia melangkah masuk ke tempat duduknya dan keluar lewat lorong yang lainnya.
Secepat kilat Ririn memacu langkahnya ke kelas Dela. Si wakil ketua itu cukup kaget saat Ririn sudah tiba lebih dulu dari yang lain.
“ Cepat amat, Rin?” Dela terkekeh. “ Tenang aja, kamu gak bakal kami tinggalin kok. Oh iya, aku lupa kasih tahu kamu. Berhubung banyak yang ikut, kita jadi pinjam mobilnya Mirna. Nanti mamanya Mirna bakalan jemput. Kita tunggu aja di tempat parkir.”
Ia dan Dela pun akhirnya menuju tempat parkir. Di sana teman-temannya sudah berkumpul. Sedang asyik menunggu, tiba-tiba saja mata Ririn menangkap sosok Alexi sedang berada di sana juga. Terlambat bagi Ririn untuk menghindar karena laki-laki itu sudah melihatnya dan sekarang berjalan menghampirinya.
“ Kayaknya mau jalan bareng? Girls party, huh?”
Ririn mengangguk kaku, “ Sebenarnya kami cuma mau mencari berita sama-sama.”
“ Ooh, jadi mereka klub Koran tempatmu dulu?”
Alis Ririn terkunci. Rasa-rasanya yang tahu fakta bahwa ia adalah mantan klub Koran cuma Andani, Anjani, Wenda, dan mungkin Ben serta Kemal. Memangnya kapan ia bercerita pada Alexi tentang klub Koran.
“ Al, kamu bisa bantu aku?”
Alexi dan Ririn sama-sama menoleh. Suara itu berasal dari Wenda yang sedang mendorong motornya. Tampaknya ia butuh bantuan untuk mengeluarkan motornya yang terhalang oleh motor lain. Di sisi lain, terlihat sebuah mobil hitam yang membunyikan klakson. Ririn menduga mobil itu adalah mobil Mirna.
“ Kayaknya kamu harus urus masalahmu,” ujar Ririn. “ Aku juga sudah harus pergi.”
“ Hei, Rin,” Alexi tanpa sengaja menahan lengan Ririn sehingga gadis itu berhenti melangkah. “ Ah, maaf. Kita bisa ngobrol lagi’kan nanti?”
“ Kita akan bertemu lagi nanti,” perlahan Ririn melepaskan tangan Alexi. “ Bye.
Wenda memanggil lagi. Mau tak mau Alexi pun melangkah pergi. Ririn pun segera berbalik. Keduanya pun berpisah dengan cara yang kurang manis.

Author's Note:
Kyaaah....fanart baru dari EKA MARINDA, makasih yah beeeeb.... cinta segilima-nya makin berasaaaaa gigiiiit 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar