Musikal 77
Nadia melambaikan tangannya. Senyumnya mengembang saat
melihat sosok yang ia tunggu datang. Alexi segera menghampirnya dengan napas
terengah-engah.
“ Hai, apa aku
terlambat datang?”
Nadia menggeleng
sambil tersenyum. Matanya menjelajahi penampilan Alexi dari seperti mesin
pemindai. Malam ini laki-laki itu mengenakan setelan jas bewarna merah hati
lengkap dengan dasi bewarna emas. Tak lupa sepasang pantofel hitam mengkilap
yang tampak serasi dengan tatanan rambut spike
Alexi. Laki-laki itu benar-benar 180 derajat berbeda dengan Alexi yang ia temui
tadi siang. Tak ada sisa-sisa keculunan seperti yang biasa orang-orang lihat.
“ Kamu kenapa
ngeliatin aku kayak gitu?”
“ Ganteng sih,” Nadia
tertawa kecil. “ Kayak artis Korea.”
Alexi mendesah seraya
menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menarik kursi, lalu memanggil seorang
pelayan. Mereka berdua sepakat memesan sirloin
steak untuk makan malam mereka.
“ Well, aku benar-benar pangling tadi
siang. Hampir aja aku gak kenal kamu. Kok bisa-bisanya kamu dandan seculun itu?
Padahal kalau kamu ambil sedikit aja gaya kamu kayak malam ini, aku yakin
gadis-gadis di sekolahmu pasti bakal jejeritan.”
“ Gak penting. Aku
cuma mau menarik perhatian seorang saja.”
“ Oooow…” Nadia
menopang dagu pada tumpukkan jarinya seraya tersenyum jahil. “ Apa gadis itu
sudah kamu temukan?”
“ Sudah,” Alexi
mendesah panjang. Ia membuang pandangan ke jendela yang ada di sampingnya. “
Tapi aku belum mendapatkannya.”
Nadia baru saja akan
membuka mulutnya, tapi pertanyaannya harus ia kembali telan karena di saat yang
bersamaan seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Begitu pelayan itu
pergi, Alexi lebih dulu menyerbu steak-nya.
“ Kamu gak tanya aku
kenapa aku ke sini?”
“ Aku tahu pasti kamu
sendiri yang bakal bilang,” Alexi yang sedang mengiris daging tersenyum usil. “
Iya’kan?”
“ Curaaang,” Nadia
memajukan bibirnya. “ Hm, tapi iya sih, aku memang ada tujuan ke sini. Jadi
gini, aku diundang ke acara peresmian cabang perusahaan. Perusahaan ini adalah
promotorku, mau gak mau aku harus datang dong. Nah, mereka memintaku tampil di
acara itu. Berhubung aku ingat kamu ada di sini, aku mau ngajak kamu duet.
Waktu aku bilang ke mereka, mereka bilang sih oke. Gimana, kamu mau’kan, Al?”
Refleks, Alexi
meletakkan pisau dan garpunya. Ia menatap Nadia cukup lama.
“ Kamu pikir aku
mau?”
Nadia ikut-ikutan
meletakkan pisau dan garpunya, hanya saja dengan cara yang lebih cantik. Ia
kembali menumpukkan jemarinya lalu menopangkan dagunya di sana. Kali ini dengan
senyuman yang manis.
“ Kamu pikir bisa
menolak aku?”
Alexi mendesah
panjang. Dari dulu ia tak pernah tahan dengan senyuman itu. Ia kembali mengiris
daging. Terlalu lama menatap senyum itu, bisa-bisa ia terhisap dalam rayuannya.
“ Berhentilah
menatapku seperti itu, Nadia. Kamu tahu aku paling benci melihat caramu
merayuku seperti itu?”
“ Jadi, sekarang kamu
sudah bisa membenci aku, Al? Dan, hei, siapa yang sedang merayumu di sini?”
Alexi berdecak kesal,
“ Baiklah, tak ada yang membencimu di sini. Tapi harus kukatakan padamu, kalau
aku sekarang sudah punya pacar. Jadi, aku mungkin akan membawanya ke sana.”
Nadia tersentak, “
Eh, bukannya kamu bilang belum mendapatkannya?”
“ Loh, bukan berarti
aku gak punya pacar’kan?” Alexi menatapnya sinis. “Pokoknya kalau aku gak boleh
bawa dia, aku gak mau ikut.”
Nadia menghela napas
panjang, “ Okee, you win, playboy.
Lagian aku juga penasaran dengan pacarmu itu. Dia lebih cantik dari aku’kan?”
Tawa geli Nadia
membuat Alexi semakin panas, “ Sure,
lihat saja nanti.”
ooOoo
Sayang, Alexi kena batunya.
Pagi ini ia berpikir
keras untuk menemukan cara atau lebih tepatnya seorang gadis yang akan ia bawa
ke acara peresmian itu. Tentu saja ia membual semalam. Sampai saat ini ia belum
punya pacar, bahkan teman dekat wanita pun hanya sebatas anak-anak LM. Namun,
ia tidak mungkin mundur setelah ia mengatakan hal seyakin itu pada Nadia. Pasti
gadis itu langsung tahu kalau ucapan Alexi semalam hanya dusta belaka.
“ Al, bantuin aku
dong!”
Suara itu menyadarkan
Alexi dari lamunannya. Ia lupa kalau sekarang ia sedang mengikuti pelajaran
olahraga dan tadi Wenda memintanya membantu membawakan beberapa bola voli. Ia
terlalu lama melamun sampai gadis itu menegurnya.
“ Ada masalah, Al?
Dari tadi aku perhatikan kamu kayak bengong terus.”
“ Gak bisa disebut
masalah sih,” ujar Alexi seraya memungut bola voli. “ Tapi gak bisa disebut gak
ada masalah juga.”
Wenda terkekeh, “
Kamu ngomong apa sih? Aku gak ngerti.”
Tiba-tiba Ririn
muncul dari balik pintu gudang, “ Hei, sudah belum? Pak Guru nyuruh kalian
cepat.”
‘ Ah, apa gadis ini saja ya?’
“ Sori, Rin. Habisnya
Alexi dari tadi bengong melulu.”
Ririn berjongkok dan
membantu kedua temannya memungut bola voli. Sesaat ia dan Alexi saling bertukar
pandang. Hanya sebentar karena detik berikutnya ia langsung berdiri dengan
tangan yang dipenuhi bola voli.
Sejenak Alexi
berpikir untuk membawa Ririn saja ke acara itu. Gadis itu mungkin bisa mengerti
kalau Alexi menjelaskan situasinya. Sayang, akhir-akhir ini mood gadis itu sepertinya kurang baik.
Ia selalu saja menghindar dari bila Alexi mendekatinya. Alexi mengira karena
efek latihan yang terlalu membebani gadis itu. Entalah, gadis itu berubah
menjadi misterius sekarang.
“ Ngeliatin Ririn
sampai segitunya, Al,” Wenda menyenggol bahu Alexi sehingga bola yang dipegang
laki-laki itu terjatuh. “ Ups, sori, Al.”
Alexi tak
berkomentar. Ia hanya memungut bola tersebut dan membawanya ke lapangan.
Sementara itu Wenda masih mengekorinya.
“ Al, kamu marah ya?”
“ Marah? Karena bola
tadi? Ah, gak apa-apa kok,” Alexi mendesah panjang. “ Aku cuma mikirin masalah
kecil aku tadi.”
“ Oh ya, kenapa kamu
gak cerita aja sama aku?”
Alexi mendesah lagi,
“ Aku gak tahu apakah aku bisa ceritain ini sama kamu. Lagi pula nanti kamu
pasti bakal ketawain aku.”
“ Aku janji gak bakal
ketawa kok!” Wenda mengacungkan jarinya membentuk angka dua. “ Tapi ceritain
ya.”
ooOoo
“ Kamu ingat Nadia’kan?”
Wenda mengangguk
pelan. Tentu saja, siapa yang bisa lupa dengan wajah cantik dengan kaki panjang
nan mulus milik gadis itu. Hanya saja Wenda tak menyangka kalau keresahan di
wajah Alexi disebabkan oleh pertemuan mereka kemarin.
Laki-laki itu menarik
napas panjang. Ia dan Wenda sengaja menepi dari rombongan kelas yang sedang
berolahraga. Meski kemungkinan teman-temannya menguping sangat tipis, tapi
tetap saja Alexi kebingungan untuk melanjutkan ceritanya.
“ Aku gak tahu harus
dari mana ceritanya,” ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “ Intinya
aku dan Nadia sudah lama berteman dan—dan—dan―”
“ Dan?” potong Wenda
tak sabar.
“ Dan aku pernah suka
dia,” Alexi mendesah panjang. Ada sedikit kelegaan setelah ia mengatakan
sesuatu yang sudah ia pendam selama ini.
Sesak. Wenda merasa
ada sebuah anak panah yang lepas dari busur dan menancap tepat di hatinya. Ia
pikir saingan hanya si kutu buku Ririn, tapi ternyata ia menemukan pesaing yang
tak akan pernah bisa ia kalahkan.
“ Tapi itu dulu kok.
Sekarang aku udah move on.”
Alis Wenda saling
bertaut. ‘Bernarkah?’
“ Sayangnya, aku
pernah bilang perasaan aku sama dia terus ditolak. Dia memang bilang kalau aku
dan dia cocoknya berteman saja, dan sampai sekarang pertemanan kami masih utuh.
Setelah peristiwa itu aku dan dia berpisah sampai sekarang dan baru bertemu
lagi kemarin.”
Tunggu dulu! Alexi
ditolak sama Nadia? Wenda merasa kepala sedikit pusing. Bisa-bisanya Nadia
menolak Alexi yang rupanya sempurna bak pangeran. Padahal sampai saat ini bisa
dibilang Wenda sedang mengemis-ngemis cinta pada laki-laki ini.
“ Semalam Nadia minta
aku untuk duet dengannya di acara peresmian sebuah perusahaan. Sebenarnya aku
malas ikut, tapi aku susah cari alasan untuk nolak dia. Gak tahu kenapa semalam
aku malah keceplosan kalau aku sudah punya pacar dan aku bakal pergi kalau aku
boleh bawa pacar aku ke acara itu. Di luar dugaan Nadia ternyata setuju dan
sekarang mau gak mau aku harus cari cewek yang mau pura-pura jadi pacar aku.”
‘ Jadi pacar Alexi?’
“ Tadinya aku pikir
untuk ajak Ririn, tapi akhir-akhir ini dia kayak ngejauh gitu dari aku,” Alexi
terkekeh pelan. “ Lagi pula aku gak yakin dia mau aku ajak bersandiwara.”
“ Aku mau, Al.”
Alexi menoleh cepat.
Sampai-sampai ia menyangka lehernya akan patah karena putaran tiba-tiba itu. Ia
mendapatkan senyuman manis dari gadis itu.
“ Jadi, pacarmu. Aku
mau kok.”
Alexi berdeham, “
Maksudku cuma pura-pura.”
“ I—iya, maksudku
juga itu.”
“ Just one night loh. Kamu gak apa-apa aku
akui sebagai pacar di malam itu?”
‘ Selamanya juga aku rela kok’. Wenda mengulum
senyumnya. Hampir saja ia mengucapkan teriakan hatinya.
“ Gak apa kok. Aku
janji bakalan jadi pacar yang baik.”
Alexi kembali
mendesah lega. Mendung di wajahnya mulai sirna. Ia kembali tersenyum seperti
biasanya.
“ Thank’s banget, Wen. Aku benar-benar
tertolong.”
Alexi menepuk bahu
Wenda sambil tertawa kecil. Sentuhan kecil dibahunya bergetar hingga ke
hatinya. Wenda benar-benar tak sabar menanti malam itu.
“ Ah ya, sepertinya
kita harus mengatur skenarionya. Nadia akan curiga kalau dia bertanya-tanya
tentang hubungan kita dan jawaban kita berbeda.”
Wenda mengangguk
semangat. Alexi pun mulai mengarang kisah-kasih nan romantisnya.
“ Jadi, ceritanya
kita udah saling suka sejak….”
ooOoo
Tak hanya mengarang cerita, tapi Alexi benar-benar telah
mempersiapkan semuanya. Sepulang sekolah Alexi mengajak Wenda pergi ke sebuah
butik dan memilihkan sebuah gaun yang pas digunakan Wenda saat acara nanti.
Meskipun Wenda juga
suka belanja, tapi ia tak pernah membeli gaun. Apalagi kalau gaun untuk acara
resmi seperti ini. Ia sempat bingung saat Alexi membiarkan memilih gaun yang ia
suka. Selain itu, harga yang tertera di label tak main-main mahalnya.
“ Ka—kamu yakin bakal
beliin aku gaun di sini?”
“ Iyaa,” Alexi
menyahut dengan mata dan tangan yang fokus memilih-milih gaun. “Wen, kamu suka
warna hijau tosca gak?”
“ Eh—eh, i—iya.”
Alexi mengangguk,
lalu menarik sebuah gaun satin selutut bewarna hijau tosca. Gaun itu jauh dari
kesan seksi, tapi Wenda sangat yakin gadis mana pun yang mengenakannya pasti
akan terlihat manis.
“ Gimana, kamu suka
gak?”
Wenda terlalu terpana
dengan gaun itu. Ia hanya bisa mengangguk pelan.
“ Kalau gitu kamu
coba dulu deh. Kalau kurang cocok, nanti kita cari lagi.”
Alexi mengangsurkan
gaun itu. Wenda pun beringsut menuju kamar ganti. Saat ia mematut di cermin,
entah mengapa ia merasa sangat senang. Ia tak sabar untuk memamerkannya pada
Alexi.
Tepat seperti dugaan
Wenda. Alexi memberikan senyuman terbaiknya saat Wenda muncul dari balik tirai
ruang ganti.
“ Wah, ternyata
mataku gak salah. Nih, pasangannya.”
Sebuah sepatu kaca,
eh, hanya sepatu hak sedang bewarna perak. Dalam hati Wenda mengacungi jempol
pada selera fashion Alexi.
“ Eh, ngomong-ngomong
kamu bisa dandan’kan?”
“ Pasti dong,” jawab
Wenda mantab. Kalau pertanyaan ini Wenda bisa menjamin pratiknya nanti. Sebab
ia sudah sering berdandan ketika ia masih tampil sebagai balerina.
“ Good! Kalau gitu aku bakalan yakin
banget gaun dan sepatu itu bakalan cocok banget sama kamu.”
Wenda mengulum
senyumnya. ‘ Kamu akan, pasti, dan harus
terpesona denganku nanti’.
“ Acaranya hari
Minggu malam Senin nanti. Jam tujuh nanti aku jemput, oke?”
“ Pakai sepeda?”
Alexi terkekeh, “
Pakai taksilah. Bisa-bisa nyangkut baju kamu.”
Wenda ikut tertawa.
Namun, tawanya seketika tertelan saat Alexi menyerahkan kartu kredit pada
seorang pramuniaga. Wenda yakin kartu kredit itu pasti untuk membayar gaun dan
sepatu itu. Namun, ia masih tak mengerti kenapa laki-laki seumurannya sudah
memiliki kartu kredit.
Apakah Alexi memang sekaya
itu? Lalu siapa sebenarnya Alexi itu?
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar