Total Tayangan Halaman

Jumat, 16 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 77)



Musikal 77

Nadia melambaikan tangannya. Senyumnya mengembang saat melihat sosok yang ia tunggu datang. Alexi segera menghampirnya dengan napas terengah-engah.
“ Hai, apa aku terlambat datang?”
Nadia menggeleng sambil tersenyum. Matanya menjelajahi penampilan Alexi dari seperti mesin pemindai. Malam ini laki-laki itu mengenakan setelan jas bewarna merah hati lengkap dengan dasi bewarna emas. Tak lupa sepasang pantofel hitam mengkilap yang tampak serasi dengan tatanan rambut spike Alexi. Laki-laki itu benar-benar 180 derajat berbeda dengan Alexi yang ia temui tadi siang. Tak ada sisa-sisa keculunan seperti yang biasa orang-orang lihat.
“ Kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?”
“ Ganteng sih,” Nadia tertawa kecil. “ Kayak artis Korea.”
Alexi mendesah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menarik kursi, lalu memanggil seorang pelayan. Mereka berdua sepakat memesan sirloin steak untuk makan malam mereka.
Well, aku benar-benar pangling tadi siang. Hampir aja aku gak kenal kamu. Kok bisa-bisanya kamu dandan seculun itu? Padahal kalau kamu ambil sedikit aja gaya kamu kayak malam ini, aku yakin gadis-gadis di sekolahmu pasti bakal jejeritan.”
“ Gak penting. Aku cuma mau menarik perhatian seorang saja.”
“ Oooow…” Nadia menopang dagu pada tumpukkan jarinya seraya tersenyum jahil. “ Apa gadis itu sudah kamu temukan?”
“ Sudah,” Alexi mendesah panjang. Ia membuang pandangan ke jendela yang ada di sampingnya. “ Tapi aku belum mendapatkannya.”
Nadia baru saja akan membuka mulutnya, tapi pertanyaannya harus ia kembali telan karena di saat yang bersamaan seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Begitu pelayan itu pergi, Alexi lebih dulu menyerbu steak-nya.
“ Kamu gak tanya aku kenapa aku ke sini?”
“ Aku tahu pasti kamu sendiri yang bakal bilang,” Alexi yang sedang mengiris daging tersenyum usil. “ Iya’kan?”
“ Curaaang,” Nadia memajukan bibirnya. “ Hm, tapi iya sih, aku memang ada tujuan ke sini. Jadi gini, aku diundang ke acara peresmian cabang perusahaan. Perusahaan ini adalah promotorku, mau gak mau aku harus datang dong. Nah, mereka memintaku tampil di acara itu. Berhubung aku ingat kamu ada di sini, aku mau ngajak kamu duet. Waktu aku bilang ke mereka, mereka bilang sih oke. Gimana, kamu mau’kan, Al?”
Refleks, Alexi meletakkan pisau dan garpunya. Ia menatap Nadia cukup lama.
“ Kamu pikir aku mau?”
Nadia ikut-ikutan meletakkan pisau dan garpunya, hanya saja dengan cara yang lebih cantik. Ia kembali menumpukkan jemarinya lalu menopangkan dagunya di sana. Kali ini dengan senyuman yang manis.
“ Kamu pikir bisa menolak aku?”
Alexi mendesah panjang. Dari dulu ia tak pernah tahan dengan senyuman itu. Ia kembali mengiris daging. Terlalu lama menatap senyum itu, bisa-bisa ia terhisap dalam rayuannya.
“ Berhentilah menatapku seperti itu, Nadia. Kamu tahu aku paling benci melihat caramu merayuku seperti itu?”
“ Jadi, sekarang kamu sudah bisa membenci aku, Al? Dan, hei, siapa yang sedang merayumu di sini?”
Alexi berdecak kesal, “ Baiklah, tak ada yang membencimu di sini. Tapi harus kukatakan padamu, kalau aku sekarang sudah punya pacar. Jadi, aku mungkin akan membawanya ke sana.”
Nadia tersentak, “ Eh, bukannya kamu bilang belum mendapatkannya?”
“ Loh, bukan berarti aku gak punya pacar’kan?” Alexi menatapnya sinis. “Pokoknya kalau aku gak boleh bawa dia, aku gak mau ikut.”
Nadia menghela napas panjang, “ Okee, you win, playboy. Lagian aku juga penasaran dengan pacarmu itu. Dia lebih cantik dari aku’kan?”
Tawa geli Nadia membuat Alexi semakin panas, “ Sure, lihat saja nanti.”
ooOoo
Sayang, Alexi kena batunya.
Pagi ini ia berpikir keras untuk menemukan cara atau lebih tepatnya seorang gadis yang akan ia bawa ke acara peresmian itu. Tentu saja ia membual semalam. Sampai saat ini ia belum punya pacar, bahkan teman dekat wanita pun hanya sebatas anak-anak LM. Namun, ia tidak mungkin mundur setelah ia mengatakan hal seyakin itu pada Nadia. Pasti gadis itu langsung tahu kalau ucapan Alexi semalam hanya dusta belaka.
“ Al, bantuin aku dong!”
Suara itu menyadarkan Alexi dari lamunannya. Ia lupa kalau sekarang ia sedang mengikuti pelajaran olahraga dan tadi Wenda memintanya membantu membawakan beberapa bola voli. Ia terlalu lama melamun sampai gadis itu menegurnya.
“ Ada masalah, Al? Dari tadi aku perhatikan kamu kayak bengong terus.”
“ Gak bisa disebut masalah sih,” ujar Alexi seraya memungut bola voli. “ Tapi gak bisa disebut gak ada masalah juga.”
Wenda terkekeh, “ Kamu ngomong apa sih? Aku gak ngerti.”
Tiba-tiba Ririn muncul dari balik pintu gudang, “ Hei, sudah belum? Pak Guru nyuruh kalian cepat.”
‘ Ah, apa gadis ini saja ya?’
“ Sori, Rin. Habisnya Alexi dari tadi bengong melulu.”
Ririn berjongkok dan membantu kedua temannya memungut bola voli. Sesaat ia dan Alexi saling bertukar pandang. Hanya sebentar karena detik berikutnya ia langsung berdiri dengan tangan yang dipenuhi bola voli.
Sejenak Alexi berpikir untuk membawa Ririn saja ke acara itu. Gadis itu mungkin bisa mengerti kalau Alexi menjelaskan situasinya. Sayang, akhir-akhir ini mood gadis itu sepertinya kurang baik. Ia selalu saja menghindar dari bila Alexi mendekatinya. Alexi mengira karena efek latihan yang terlalu membebani gadis itu. Entalah, gadis itu berubah menjadi misterius sekarang.
“ Ngeliatin Ririn sampai segitunya, Al,” Wenda menyenggol bahu Alexi sehingga bola yang dipegang laki-laki itu terjatuh. “ Ups, sori, Al.”
Alexi tak berkomentar. Ia hanya memungut bola tersebut dan membawanya ke lapangan. Sementara itu Wenda masih mengekorinya.
“ Al, kamu marah ya?”
“ Marah? Karena bola tadi? Ah, gak apa-apa kok,” Alexi mendesah panjang. “ Aku cuma mikirin masalah kecil aku tadi.”
“ Oh ya, kenapa kamu gak cerita aja sama aku?”
Alexi mendesah lagi, “ Aku gak tahu apakah aku bisa ceritain ini sama kamu. Lagi pula nanti kamu pasti bakal ketawain aku.”
“ Aku janji gak bakal ketawa kok!” Wenda mengacungkan jarinya membentuk angka dua. “ Tapi ceritain ya.”
ooOoo
“ Kamu ingat Nadia’kan?”
Wenda mengangguk pelan. Tentu saja, siapa yang bisa lupa dengan wajah cantik dengan kaki panjang nan mulus milik gadis itu. Hanya saja Wenda tak menyangka kalau keresahan di wajah Alexi disebabkan oleh pertemuan mereka kemarin.
Laki-laki itu menarik napas panjang. Ia dan Wenda sengaja menepi dari rombongan kelas yang sedang berolahraga. Meski kemungkinan teman-temannya menguping sangat tipis, tapi tetap saja Alexi kebingungan untuk melanjutkan ceritanya.
“ Aku gak tahu harus dari mana ceritanya,” ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “ Intinya aku dan Nadia sudah lama berteman dan—dan—dan―”
“ Dan?” potong Wenda tak sabar.
“ Dan aku pernah suka dia,” Alexi mendesah panjang. Ada sedikit kelegaan setelah ia mengatakan sesuatu yang sudah ia pendam selama ini.
Sesak. Wenda merasa ada sebuah anak panah yang lepas dari busur dan menancap tepat di hatinya. Ia pikir saingan hanya si kutu buku Ririn, tapi ternyata ia menemukan pesaing yang tak akan pernah bisa ia kalahkan.
“ Tapi itu dulu kok. Sekarang aku udah move on.
Alis Wenda saling bertaut. ‘Bernarkah?’
“ Sayangnya, aku pernah bilang perasaan aku sama dia terus ditolak. Dia memang bilang kalau aku dan dia cocoknya berteman saja, dan sampai sekarang pertemanan kami masih utuh. Setelah peristiwa itu aku dan dia berpisah sampai sekarang dan baru bertemu lagi kemarin.”
Tunggu dulu! Alexi ditolak sama Nadia? Wenda merasa kepala sedikit pusing. Bisa-bisanya Nadia menolak Alexi yang rupanya sempurna bak pangeran. Padahal sampai saat ini bisa dibilang Wenda sedang mengemis-ngemis cinta pada laki-laki ini.
“ Semalam Nadia minta aku untuk duet dengannya di acara peresmian sebuah perusahaan. Sebenarnya aku malas ikut, tapi aku susah cari alasan untuk nolak dia. Gak tahu kenapa semalam aku malah keceplosan kalau aku sudah punya pacar dan aku bakal pergi kalau aku boleh bawa pacar aku ke acara itu. Di luar dugaan Nadia ternyata setuju dan sekarang mau gak mau aku harus cari cewek yang mau pura-pura jadi pacar aku.”
‘ Jadi pacar Alexi?’
“ Tadinya aku pikir untuk ajak Ririn, tapi akhir-akhir ini dia kayak ngejauh gitu dari aku,” Alexi terkekeh pelan. “ Lagi pula aku gak yakin dia mau aku ajak bersandiwara.”
“ Aku mau, Al.”
Alexi menoleh cepat. Sampai-sampai ia menyangka lehernya akan patah karena putaran tiba-tiba itu. Ia mendapatkan senyuman manis dari gadis itu.
“ Jadi, pacarmu. Aku mau kok.”
Alexi berdeham, “ Maksudku cuma pura-pura.”
“ I—iya, maksudku juga itu.”
Just one night loh. Kamu gak apa-apa aku akui sebagai pacar di malam itu?”
‘ Selamanya juga aku rela kok’.  Wenda mengulum senyumnya. Hampir saja ia mengucapkan teriakan hatinya.
“ Gak apa kok. Aku janji bakalan jadi pacar yang baik.”
Alexi kembali mendesah lega. Mendung di wajahnya mulai sirna. Ia kembali tersenyum seperti biasanya.
Thank’s banget, Wen. Aku benar-benar tertolong.”
Alexi menepuk bahu Wenda sambil tertawa kecil. Sentuhan kecil dibahunya bergetar hingga ke hatinya. Wenda benar-benar tak sabar menanti malam itu.
“ Ah ya, sepertinya kita harus mengatur skenarionya. Nadia akan curiga kalau dia bertanya-tanya tentang hubungan kita dan jawaban kita berbeda.”
Wenda mengangguk semangat. Alexi pun mulai mengarang kisah-kasih nan romantisnya.
“ Jadi, ceritanya kita udah saling suka sejak….”
ooOoo
Tak hanya mengarang cerita, tapi Alexi benar-benar telah mempersiapkan semuanya. Sepulang sekolah Alexi mengajak Wenda pergi ke sebuah butik dan memilihkan sebuah gaun yang pas digunakan Wenda saat acara nanti.
Meskipun Wenda juga suka belanja, tapi ia tak pernah membeli gaun. Apalagi kalau gaun untuk acara resmi seperti ini. Ia sempat bingung saat Alexi membiarkan memilih gaun yang ia suka. Selain itu, harga yang tertera di label tak main-main mahalnya.
“ Ka—kamu yakin bakal beliin aku gaun di sini?”
“ Iyaa,” Alexi menyahut dengan mata dan tangan yang fokus memilih-milih gaun. “Wen, kamu suka warna hijau tosca gak?”
“ Eh—eh, i—iya.”
Alexi mengangguk, lalu menarik sebuah gaun satin selutut bewarna hijau tosca. Gaun itu jauh dari kesan seksi, tapi Wenda sangat yakin gadis mana pun yang mengenakannya pasti akan terlihat manis.
“ Gimana, kamu suka gak?”
Wenda terlalu terpana dengan gaun itu. Ia hanya bisa mengangguk pelan.
“ Kalau gitu kamu coba dulu deh. Kalau kurang cocok, nanti kita cari lagi.”
Alexi mengangsurkan gaun itu. Wenda pun beringsut menuju kamar ganti. Saat ia mematut di cermin, entah mengapa ia merasa sangat senang. Ia tak sabar untuk memamerkannya pada Alexi.
Tepat seperti dugaan Wenda. Alexi memberikan senyuman terbaiknya saat Wenda muncul dari balik tirai ruang ganti.
“ Wah, ternyata mataku gak salah. Nih, pasangannya.”
Sebuah sepatu kaca, eh, hanya sepatu hak sedang bewarna perak. Dalam hati Wenda mengacungi jempol pada selera fashion Alexi.
“ Eh, ngomong-ngomong kamu bisa dandan’kan?”
“ Pasti dong,” jawab Wenda mantab. Kalau pertanyaan ini Wenda bisa menjamin pratiknya nanti. Sebab ia sudah sering berdandan ketika ia masih tampil sebagai balerina.
Good! Kalau gitu aku bakalan yakin banget gaun dan sepatu itu bakalan cocok banget sama kamu.”
Wenda mengulum senyumnya. ‘ Kamu akan, pasti, dan harus terpesona denganku nanti’.
“ Acaranya hari Minggu malam Senin nanti. Jam tujuh nanti aku jemput, oke?”
“ Pakai sepeda?”
Alexi terkekeh, “ Pakai taksilah. Bisa-bisa nyangkut baju kamu.”
Wenda ikut tertawa. Namun, tawanya seketika tertelan saat Alexi menyerahkan kartu kredit pada seorang pramuniaga. Wenda yakin kartu kredit itu pasti untuk membayar gaun dan sepatu itu. Namun, ia masih tak mengerti kenapa laki-laki seumurannya sudah memiliki kartu kredit.
Apakah Alexi memang sekaya itu? Lalu siapa sebenarnya Alexi itu?

 please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar